Category: Uncategorized

  • Hello world!

    Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start writing!

  • Cara Paling Mudah (dan murah) Belajar Bahasa Inggris

    Sejak Si Sulung Samsam kecil, ada kebiasaan khas yang kita lakukan di rumah. Yaitu melarang anak-anak nonton acara TV berbahasa Indonesia. Acara TV pertama yang mereka kenal harus program pendidikan berbahasa Inggris.

    Teletubbies, Pocoyo, In the Night Garden dan Magic English adalah acara favorit Samsam kecil.

    Sakti mah penonton Channel CeeBeeBies dan Disney Junior; Dibo the Gift Dragon, Pororo, Chuggington, dsb.

    Kalau Arix sekarang senengnya Channel Baby First TV; Friendly Jack, Ookiis World, dan teman-temannya.

    Yes, kadang orang tuanya bisa kena penyakit bosen akut. Karena Acara-acara itu sebenarnya muter-muter aja -diulang-ulang sampai musiknya terngiang-ngiang terbawa tidur. Jadi ‘ear worm’, kalo kata SpongeBob mah.

    Apalagi di jaman Samsam, kita masih pakai CD/DVD, belum pakai TV Kabel. Jadi harus manual gonta-ganti keping dan manual rewind/fast forward.

    Tapi sebenarnya semuanya terbayar dengan kondisi sekarang di mana anak-anak biasa ngobrol bahasa Inggris di rumah. Jadi gak perlu ngeluarin budget extra untuk kursus bahasa éggrés.

    Ada ‘side effect’-nya sih. Sakti waktu masuk TK lebih lancar bahasa Inggrisnya dari pada bahasa Indonesia 😅. Well, sekarang mah sudah bagusan Bahasa Indonesianya, sih.

    Tapi side effect segitu masih bisa ditoleransi lah. Karena Samsam beberapa kali jadi juara Story Telling sejak SD. Dan sejak kelas 7 sudah empat kali diminta gurunya jadi asisten guru dalam mengajar bahasa Inggris di SMP.

    Sakti sering melakukan riset kecil-kecilan di YouTube untuk menamakan karakter gambarnya, yang entah kenapa, selalu harus dalam bahasa Inggris. Mungkin menurut dia terdengar cool.

    Arix kayaknya bakalan punya masalah yang sama dengan Sakti, karena sekarang belepotan nyampur-nyampur bahasa. “Wah, ada machine!”… “Where’s Nini pergi, Papah?”

    Bagusnya belajar via TV adalah mereka ‘less worry about grammar’ dan lebih lepas ketika berbicara.

    Duh, seandainya ada banyak program TV kartun berbahasa sunda. Kayaknya saya bakalan sukses juga ngajarin mereka jadi trilingual.

  • Satu Tahun Lagi Ganti Walikota, Bandung!

    Saya tidak akan menyalahkan warga sih kalau mereka tidak sadar bahwa (mungkin) kita harus cari walikota baru sebentar lagi. Saya juga hampir tidak sadar, kalau tidak karena salah satu kawan baik saya tiba-tiba teriak-teriak sambil ngibar-ngibar bendera semapur SOS. 

    Saya pikir teman saya ini ada benarnya. Pilkada Jabar akan berlangsung di bulan Februari 2018. Berarti pendaftaran kandidatnya sekitar September 2017. Sekarang sudah September 2016. Tinggal setahun lagi kompetisi level propinsi akan dimulai.

    Di sisi lain, walikota kita yang punya cukup banyak prestasi, terlalu ‘seksi’ di mata partai-partai politik: level propinsi –bahkan level nasional. Belajar dari sejarah Pilkada di Indonesia sebelum-sebelumnya, saya nebak, saat ini kemunginan besar Walikota Bandung sedang dipaksa berpikir keras melayani tawaran-tawaran untuk naik ke panggung yang lebih tinggi. Partai Politik mana yang tidak tertarik pada follower Twitter, Instagram dan Facebook Kang Emil yang berjuta-juta?

    Walau dalam urusan prestasi, Kang Emil masih setengah jalan: banyak janjinya yang sudah terwujud -tapi banyak juga yang belum terlihat ujungnya. Tetap, dalam hitungan politik, walikota kita ini adalah kartu as plus kartu raja. Black Jack!

    Akan seperti apakah respon dosen ITB kita ini terhadap tawaran, dorongan, tarikan dari orang-orang di sekelilingnya ? Saya tidak tahu. Hanya Kang Emil yang tahu dan berhak menjawab. Sebagai warga biasa, sebenarnya saya berharap Kang Emil akan melanjutkan periode ke-2 di Bandung terlebih dahulu. Dua periode di Kota Bandung bagaikan berguru dua kali pada seorang seorang guru kimia yang killer tapi juara. Kota Bandung memang kawah candradimuka yang bagus untuk membentuk seorang pemimpin yang kita tunggu-tunggu di masa depan, bahkan mungkin untuk level yang lebih tinggi.

    Ingin rasanya cuek dan bersikap tidak peduli. Sayangnya walau ini keputusan orang lain, tapi efeknya ke mana-mana. Pilihan dia nanti, akan berpengaruh pada hidup saya : kualitas jalan raya yang saya lewati ke kantor, jumlah pohon hijau yang tumbuh di dalam Kota Bandung, kualitas dan gaji guru-guru sekolah negeri anak sulung saya, tingkat kolusi di kelurahan dekat rumah saya, mimpi saya tentang monorel melintas Bandung dan lainnya.

    Enam bulan yang lalu, ketika Kang Emil menegaskan bahwa dia tidak akan masuk ke dalam persaingan Pilkada DKI Jakarta, ada beberapa alasan yang dia kemukakan. Ini katanya :

    ————–

    “Pertimbangan tugas saya belum selesai pada periode pertama.

    “Saat ini dirinya hanya ingin fokus mewujudkan mimpi-mimpinya untuk kota kelahirannya.”

    “Saya sudah mendengarkan masukan, melakukan survei internal, termasuk meminta pendapat keluarga. Akhirnya, saya memutuskan untuk fokus mengurus Bandung,” tutupnya.

    ——– *sumber : kompas.com (link di bawah)

    Berarti :

    1. Kang Emil akan berusaha menyelesaikan masa jabatan periode pertamanya (tidak disebut-sebut tentang periode ke-dua)
    2. Di periode pertama dia akan fokus mewujudikan mimpi-mimpinya untuk Kota Bandung.
    3. Dia mendengarkan masukan, di antaranya melalui survey internal dan pendapat keluarganya.

    Ah …. sudahlah, saya bukan pengamat politik. Saya tidak bisa membaca hati orang, apalagi meramal takdir Kota Bandung.

    Bandung harus mulai berpikir dan bersiap-siap. Dalam satu tahun ke depan salah satu dari kenyataan ini akan terjadi :
    (1) Ridwan Kamil mungkin akan tetap di Bandung dua periode.
    (2) Ridwan Kamil akan melaju ke Jawa Barat (atau Indonesia?)
    (3) Ridwan Kamil akan kembali menjadi arsitek.

    Jika memang yang terjadi adalah kemungkinan ke (2) dan (3). Maka …

    Siapakah yang akan menjadi Walikota Bandung selanjutnya?
    Maukah (dan mampukah) kita mencari (lagi) calon Walikota lain yang (juga) layak untuk kota Bandung?
    Atau kita mau berikan lagi haknya kepada calon-calon reguler dari partai-partai politik Kota Bandung?

    Jujur, yang saya khawatirkan adalah —jika orangnya akan itu-itu lagi.  *berita angin memang mengatakan bahwa beberapa kandidat parpol yang kalah dalam pilkada 2013 sudah bersiap-siap kembali untuk mecalonkan diri di pilkada depan. 

    *ada pendapat? 

    http://regional.kompas.com/read/2016/02/29/10551161/Alasan.Ridwan.Kamil.Tak.Akan.Ikut.Pilkada.DKI.2017?utm_source=RD&utm_medium=inart&utm_campaign=khiprd

  • Johann Ludwig Bruckhardt, Penemu Kota Tua Petra yang Dimakamkan Sebagai Seorang Muslim

    Pernah mendengar tentang Kota Tua Petra di Jordania? Ternyata ada cerita unik tentang seorang petualang muda yang jalan hidupnya agak ke-‘Indiana2 Jones’-an <<kata yang aneh untuk menggambarkan petualang muda pemberani yang super niat dalam petualangannya.

    Namanya Johann Ludwig Burckhardt, lahir tanggal 24 November 1784 di Lausanne, Switzerland. Ia berasal dari keluarga Basel, keluarga pedagang sutra yang terpandang. Semasa muda, Burckhardt sempat bersekolah di dua universitas di Jerman; Universitas Leipzig dan Universitas Gottigen.

    Pada tahun 1806, pada umur 22 tahun, Burckhardt pindah ke Inggris untuk melamar sebagai pegawai negeri, namun tidak berhasil. Ia justru mendapatkan pekerjaan di Kantor African Association (Inggris) -dalam sebuah proyek ekspedisi perbaikan Sungai Niger, Afrika.

    Pada saat itu tidak ada rute perjalanan langsung dari daerah Afrika Utara ke pedalaman Afrika. Sehingga untuk dapat sampai ke sana dia harus melewati perjalanan darat dari Kairo ke Timbuktu. Sebagai persiapan, dia mengambil kuliah di Universitas Cambridge -mempelajari bahasa arab, sains dan pengobatan. Agar lebih afdhol, dia juga membiasakan diri mengenakan pakaian arab muslim dalam kesehariannya. *niat bangeeet

    Burckhardt meninggalkan Inggris menuju Syiria tiga tahun kemudian di tahun 1809. Dalam perjalanan melalui jalur Laut Mediterania, ia singgah di Malta, di mana dia mendengear tentang seseorang bernama Dr. Seetzen yang terbunuh dalam pencarian legenda kota yang hilang -bernama Petra.

    Sesampainya di Syria, Burckhardt memulai penyamarannya dengan mengganti namanya menjadi Shiekh Ibrahim bin Abdallah. Tragisnya walau sudah menyamar sebagai orang arab, berkali-kali dia tetap dirampok oleh orang-orang yang sebenarnya dibayar untuk memberikan proteksi baginya.

    Akhirnya dia memutuskan untuk hidup dan belajar menjadi seorang muslim di Aleppo selama dua tahun, agar dapat berbaur lebih baik dengan orang-orang arab. Setelah cukup fasih dalam budaya arab dan praktek ibadah islam, ia mengetes samarannya langsung di tiga tempat; Lebanon, Palestina dan Transjordan (wilayah sekitar perbatasan Yordania dengan Palestina sekarang).

    Tahun 1812, pada umur 28 tahun, dengan kemampuan bahasa Arab, pengetahuan budaya arab dan dalam samaran sebagai muslim yang lebih baik, Burckhardt meninggalkan Aleppo menuju Kairo.

    Tiba di Wilayah Kerak, Burckhardt meminta perlindungan gubernur setempat, Gubernur bergelar Seikh Yusuf kemudian memintanya untuk meninggalkan semua barang kepemilikannya yang berharga sebelum melanjutkan perjalanannya. Dia diberi seorang penunjuk jalan oleh Sang Gubernur. Sayangnya penunjuk jalan tersebut ternyata seorang bandit. Burckhard kembali dirampok oleh penunjuk jalannya sendiri –dan ditinggalkan di tengah padang pasir.

    Untungnya Burckhardt berhasil menemukan pertolongan dari sebuah klan kaum Badui di sana. Burckhardt a.k.a Syeikh Ibrahim kemudian melanjutkan perjalanannya ke arah selatan dengan bantuan penunjuk jalan baru.

    Dalam perjalanan menuju Teluk Aqaba, Burckhardt mendengar isu tentang situs yang menurut legenda adalah makam Nabi Harun, saudara Nabi Musa. Pada saat itu dia berada di daerah bernama ‘Arabia Petrea’, wilayah bekas taklukan Romawi.

    Hal ini mengingatkannya pada legenda kota yang hilang, yang ia dengar waktu singgah di Malta. Namun rahasia keberadaan kota legenda ini sangat dijaga oleh kaum Badui di sekitar gurun. Tidak sembarangan orang diperbolehkan untuk masuk ke dalamnya.

    Dengan bermodalkan identitas arab muslimnya, dia mengatakan pada penunjuk jalannya bahwa dia hendak mengurbankan seekor kambing bagi Nabi Harun. Akhirnya dia diantar melalui sebuah lembah batu yang panjang, dan pada tanggal 22 Agustus 1812 dia menjadi orang barat pertama yang melihat Kota Kuno Petra.

    —“Sebuah mauseoleum kosong terlihat. Suasana dan keindahan yang sengaja dibangun untuk memberikan impresi yang menggetarkan bagi pejalan yang tiba sesudah menyusuri sebuah lembah yang dalam dan temaram -selama setengah jam.
    Orang-orang lokal menyebut monumen ini Kaszr Faraoun atau Kastil Firaun; dan pura-pura menganggap tempat ini adalah tempat tinggal sang pangeran. Padahal sebenarnya tempat ini lebih tepat dikatakan sebagai makam sang pangeran, dan bangunan teragung di tempat ini adalah tempat menaruh harta kekayaan kota, yang berhasil menjadi monumen kehebatan penguasa-penguasanya.”
    —-
    Demikian tertulis dalam buku yang ia tulis kemudian: “Travels in Syria and the Holy Land.”

    Dia tidak dapat tinggal lama di kota kuno tersebut karena takut penyamarannya terbongkar. Ia menuliskan keberadaan kota kuno ini dalam catatannya, lalu meneruskan perjalanannya melalui gurun Transjordan dan Semenanjung Sinai.

    Burckhardt tiba di Kairo tanggal 4 September 1812, 8 bulan setelah dia meninggalkan Aleppo. Dia memutuskan untuk tinggal selama 4 bulan di Kairo sambil ‘menunggu’ rombongan karavan lewat yang menuju Sahara ke arah barat Afrika. Ketika tidak kunjung muncul karavan menuju ke Sahara, dia memutuskan untuk berangkat ke arah selatan menyusuri pinggiran sungai Nil menggunakan keledai ke arah Dongola, Sudan.

    Dia pergi meninggalkan Kairo di bulan Januari 1813. Namun seratus mil sebelum Dongola, Burckhardt kembali dirampok. *banyak sekali perampok saat itu, yaaa!

    Beruntungnya, pada bulan Maret 1813 sebelum tiba di Dongola, Burckhardt secara tidak sengaja menemukan Kuil Agung Ramses II (Kuil Abu Simbel) yang terkubur di bawah pasir . Setelah bersusah payah beberapa lama untuk menemukan pintu masuk kuil, akhirnya ia menyerah. Ia kemudian mengirimkan surat pada seorang rekannya, Giovanni Belzoni, mengenai temuannya ini. Belzoni kemudian datang dan berhasil menemukan pintu masuk ke dalam kuil pada tahun 1817. Burckhart sendiri meneruskan perjalannnya ke Dongola.

    Peta Perjalanan Bruckhardt

    Ketiba tiba di Shendi, Sudan. Burckhardt tidak belok ke arah barat menuju Niger sesuai dengan misinya. Dia malah mendapatkan ide untuk berhaji ke Makkah. Ia beralasan bahwa hal ini perlu dilakukan agar identitasnya sebagai seorang muslim semakin meyakinkan. Karena penduduk yang tinggal di sekitar sungai Niger adalah orang-orang beragama islam.

    Alih-alih berbelok ke barat, dia malah berbelok ke timur di sekitar Ethiopia, kemudian menyeberangi Laut Merah menuju jazirah Arab.

    Ia tiba di Jeddah pada tanggal 18 Juli 1814, setahun lebih setelah dia meninggalkan Abu Simbel. Di arabia Burckhardt terserang sakit disentri untuk pertama kalinya. Kabar baiknya, ia berhasil mendapatkan izin untuk memasuki Tanah Haram setelah dia berhasil membuktikan keislamannya pada penguasa setempat.

    Selama beberapa bulan, ia tinggal di Mekah dan melakukan ibadah haji. Ia menuliskan tata cara ibadah haji dalam sebuah jurnal, yang kemudian menjadi acuan seorang penjelajah barat lain, Richard Burton, dalam menjelajah tanah suci di kemudian hari.

    Tampaknya Burkhardt mulai tertarik kepada budaya Islam. Dia malah meneruskan perjalannya menuju Madinah, semakin menjauhi daerah Niger yang menjadi tujuan awalnya. Di Madinah ia kembali terserang disentri dan harus beristirahat menyembuhkan diri selama tiga bulan.

    Sesembuhnya dari disentri, Burckhardt memutuskan untuk kembali ke utara, menuju Kairo melalui Semenanjung Sinai melalui jalan darat. Ia tiba di Sinai dalam keadaan dehidrasi berat, nyaris tidak selamat.

    Tapi rupanya rejeki Burckhardt masih baik. Ia berhasil kembali ke Kairo pada tanggal 24 Juni 1815. Tiga setengah tahun setelah dia meninggalkan Aleppo.

    Kemudian Ia memutuskan untuk tinggal di Kairo selama 2 tahun, sambil menuliskan jurnal perjalannya. Dia masih sempat mengunjungi Alexandria dan Gunung Sinai -sambil menunggu karavan yang akan membawanya ke tujuan semula –Sungai Niger. Sayangnya sebelum karavannya berangkat, Burckhardt kembali menderita disentri.

    Kali ini rejekinya sudah habis. Ia meninggal pada tanggal 15 Oktober 1817, sebelum dia genap berumur 33 tahun. Dia dimakamkan sebagai seorang Muslim di dalam sebuah makam yang bertuliskan nama Islamnya: Syeikh Ibrahim bin Abdallah.

    ——
    ~originally written for torch.id (18/4/2016)


    PS : Kalau tidak familiar dengan kota-kota dan wilayah yang diceritakan di atas, silahkan lihat peta perjalanannya di peta google maps yang saya buat di sini >> https://www.google.com/maps/d/u/1/edit?authuser=1&mid=125psD0ZFe4X74MCFYpGg_U15iIc

     

  • Kesulitan mengenali Tuhan gara-gara Atrophy

    Saya baru disadarkan barusan bahwa ‘atrophy’ (melemahnya fungsi tubuh karena kurang dipakai) adalah sifat dasar ciptaan Allah SWT.

    Misalnya kita memutuskan untuk tiduran selama satu tahun dan tidak berjalan sedikitpun, maka satu tahun kemudian kita tidak akan mampu berjalan lagi.
    Mau lebih ekstrim? Coba tutup mata kita selama setahun, lalu lihat apa yang terjadi ketika kita akhirnya membuka tutup mata kita setahun kemudian.

    Tersadarkan hal ini saja sudah membuat merinding. Berapa banyak bakat dan kemampuan kita yang terbuang percuma karena kita putuskan tidak mau mengembangkannya. Karena malas, hoream, lagi PeWe, lagi tanggung nangkep pokemon, dsb 🙂

    Hal ini berlaku bagi semua ciptaan-Nya yang di dunia fisik atau pun dunia spiritual. Artinya … kalau kita terlalu lama tidak mengasah kemampuan mengenali kebesaran Allah di sekeliling kita, maka suatu saat kita akan kehilangan sama sekali kemampuan untuk mengenali Tuhan kita. If you don’t use it. You’ll loose it.

    Na’udzubillah.

    *)gambar pinjam dari http://neuromuscular.wustl.edu/pathol/sma.htm

  • Ajaklah Semua Orang di Rumah Kita untuk Bermimpi

    Prinsipnya sederhana. Orang tidak boleh berhenti bermimpi dan mengejar cita-citanya. Dahulu, hal itu yang terus saya katakan pada perempuan mungil yang masih remaja itu.

    Dia datang sebagai seorang ABG yang putus sekolah karena harus mendahulukan keperluan keluarga dan adik-adiknya. Oleh karena itu dia berhenti bersekolah lalu merantau ke Jakarta untuk membantu adik dan orang tuanya.

    Tapi kebaikan hati dan kepandaian seseorang tidak dapat ditutupi, bahkan oleh tabir ketidakmampuan. Waktu kami ajak dia untuk pindah ke Bandung, kami sudah melihat cahaya kecil itu. Oleh sebab itu, walau kami pun dulu masih muda dan juga masih juga mengejar cita-cita, kami tetap berusaha mendengarkan dan menumbuhkan mimpinya.

    Sebenarnya kami hanya bisa membantu menyekolahkan seadanya, tapi anak ini memang tidak mudah menanggalkan cita-citanya. Hebatnya, di saat yang sama dia tidak mau menggadaikan integritasnya.

    Suatu saat menjelang ujian penting, dia terlihat galau luar biasa. Ketika kami tanyakan padanya, dia bilang gurunya menawarkan kunci jawaban untuk semua pertanyaan ujian esok hari. Rupanya hampir semua teman sekolahnya sudah menerima dan siap menggunakannya kertas ampuh serba tahu itu : bocoran dari pak guru.

    “Saya harus bagaimana?”, tanyanya.

    “Menurut kamu sendiri bagaimana?”, saya balik bertanya.

    “Saya bingung. Kalau tidak dipakai kunci jawaban saya takut tidak lulus. Tapi saya tidak sampai hati untuk pakai kunci jawaban. Seumur hidup saya tidak pernah curang seperti itu”, jawabnya.

    “Ya, sudah. Gak perlu mulai main curang kalau begitu. Buang saja lah kunci jawabannya” kata saya. “Percaya diri saja. Insya Allah, dengan begitu jika kamu lulus, kamu tidak akan mempertanyakan kemampuan diri kamu seumur hidup. Seandainya kamu pakai kunci jawaban itu, kalaupun lulus, seumur hidup kamu akan mempertanyakan kemampuan diri kamu sendiri. Dan itu adalah beban berat yang harus kamu tanggung ke depan.”

    Ternyata semua baik-baik saja. Memang dia tidak perlu secarik kertas sakti pembunuh kepercayaan diri itu. Bahkan beberapa waktu kemudian dia cukup percaya diri untuk mengatakan bahwa dia ingin ikut ujian masuk program Pendidikan Anak Usia Dini di Universitas Pendidikan Indonesia. Dia ingin jadi guru, seperti cita-cita ibunya yang belum pernah tercapai.

    Entah kenapa, sebenarnya kami yakin bahwa dia akan mampu lulus ujian masuk universitas. Yang kami agak tidak yakin adalah : bagaimana membiayai sekolahnya. Tapi ya sudahlah, yang penting niat dulu -pikir kami. Yang penting lulus dulu lah. Soal bayaran kuliah, kita pikirkan nanti.

    Tentang bayaran kuliah … ternyata itu skenario lain. Skenario saya ‘untuk membantu menyekolahkannya’ ternyata adalah bagian dari skenario yang lebih besar. Skenario Sang Pemilik Kehidupan. Skenario Sang Pemilik Ilmu.

    Suatu pagi, Pak Ichary, tetangga depan rumah saya memanggil saya dari halamannya.

    “Mas Ben”, sapanya ramah.

    “Iya, Pak.”

    “Saya dengar, Si Mamay diterima di UPI ya, Mas?”

    “Betul Pak. Hebat dia. Sekarang kita malah sedang bingung bagaimana mengurus biayanya”, kata saya jujur.

    “Wah. Sudah lah. Bagian Mas Ben sih sudah beres. Sekarang ini jadi urusan saya” katanya ringan.

    “Maksudnya, pak?”

    “Biar saya yang carikan beasiswa untuk dia.”

    “Serius?”, ujar saya yang agak sulit percaya. Masih ada orang sebaik ini di dunia, rupanya.

    Pak Ichary yang dosen UNPAD memiliki jaringan yang mumpuni dalam urusan pencarian beasiswa dan dana kuliah. Jauh di atas jaringan yang kami miliki. Oleh sebab itu kami ikhlaskan si mahasiswi baru untuk keluar dari rumah kami -dan meneruskan perjalanannya. Seperti juga orang tuanya, kami harus memberikan ruang untuk bekerjanya takdir.

    Pak Ichary kemudian memberikan ‘modal awal’ untuk si mahasiswi baru ini: sebuah tanggung jawab, pekerjaan yang bisa menjadi dasar untuk menggantung cita-cita. Di luar itu saya tahu, dia harus tetap membanting tulang, menyeimbangkan kuliah dan bekerja. Dari mulai mengajar mengaji sampai jaga toko dia lakoni. Dia memang pandai mengaji, dan untungnya dia sudah punya jam terbang cukup tinggi untuk urusan jaga toko. Sejak remaja dia sering membantu kami menjaga toko MahaNagari di Cihampelas Walk.

    Singkat cerita, si mahasiswi berhasil mewujudkan cita-cita dirinya dan ibunya. Dimulai dari mengajari anak sulung saya mengaji di rumah, sekarang dia adalah Ibu Guru di sekolah anak saya. Dengan sebuah kelas penuh anak didik, yang menjadi tanggung jawabnya.

    Minggu lalu kami diundang sebuah acara pernikahan di Serang. Pernikahan ini spesial untuk kami. Soalnya yang berdiri di pelaminan adalah guru anak kami. Seorang guru yang kami tahu cerita hidupnya. Di sampingnya berdiri seorang dokter gigi yang kemudian menjadi pengemban tanggung jawab selanjutnya.

    Mamay Maesa Rafilah, “Semoga keluarga kalian sakinah mawadah warahmah. Semoga sejak saat ini tidak ada lagi generasi penerus di keluarga kalian yang putus sekolah.” Aamiiin.

    Mungkin ini cara kerja Takdir. Untuk bisa berbuat baik itu ternyata hanya butuh ‘niat baik’. Lalu ikhtiar. Dan yang namanya ‘ikhtiar’, sebenarnya adalah istilah ‘jamak’ alias ‘keroyokan’. Allah SWT itu ‘tangan’-Nya banyak. Kita mungkin salah satunya. Sendirian, kita mungkin tidak bisa berbuat banyak. Kesamaan niat baiklah yang akan menghubungkan tangan-tangan ini.

    Jadi, jika suatu saat ada ‘anak lain’ yang datang ke rumah kita. Jangan lupa, tanyakan apa cita-citanya.

    Dan bagi yang cita-citanya belum tercapai. Never give up. Kata John Lennon, “A dream you dream alone is only a dream. A dream you dream together is reality.”

  • Penaklukan Palestina di jaman Umar bin Khattab ra.

    Pasukan Islam telah tiba di sisi kota kuno itu dan melangsungkan pengepungan kota sepanjang musim dingin. Khalifah Umar memerintahkan Abu Ubaidah, Khalid dan Mu’awiyah, yang telah berhasil menaklukkan seluruh wilayah Suriah dan pesisir Levantina, untuk segera bertolak ke Yerusalem dan bergabung dengan pasukan Amr.

    Di balik benteng, di dalam gereja, panglima Artavon dan Patriach Sophroinus, uskup agung gereja Yerusalem, tengah berdebat sengit. Artavon bersikeras menginginkan Yerusalem tetap dipertahankan dari penaklukan pasukan Islam, sekalipun harus mengobarkan peperangan di dalam kota suci itu. Sementara Sophorinus menganggap bahwa pendudukan orang-orang Islam adalah penjelmaan dari kekuasaan yang dikirimkan untuk untuk mengakhiri kekuasaan orang-orang Bizantium. Sophorinus lebih memilih bernegosiasi dan menyerahkan Yerusalem kepada pihak Islam dengan jalan damai.

    Orang-orang yang berkumpul di gereja dan mengikuti jalannya perdebatan akhirnya lebih mengamini pendapat sang uskup. Mereka setuju jika Yerusalem diserahkan dengan jalan damai. Maka, salah seorang utusan dikirim untuk menemui pihak Islam di luar benteng. Utusan itu datang membawa syarat-syarat penyerahan kota, yaitu tidak akan ada pengangkatan senjata, diizinkan sisa-sisa pasukan Bizantium untuk berangkat ke Mesir, dan penyerahan Yerusalem diterima secara langsung oleh pemimpin tertinggi Islam, yaitu Khalifah Umar. Abu Ubaidah menerima syarat-syarat tersebut. Ia pun mengundang Khalifah Umar ke Yerusalem untuk menerima penyerahan kota tersebut.

    Saat itu, Umar berada di Jabiyah, di selatan Damaskus untuk sebuah pengaturan administratif. Perutusan Abu Ubaidah dari Yerusalem datang menghadap Umar, menyampaikan undangan dan pesan-pesan, untuk kemudian segera kembali dengan membawa surat dari Sang Khalifah. Dalam surat itu Umar menulis:


    Bismillahirrahmannirrahim.

    Ini adalah jaminan yan telah diberikan oleh hamba Allah, Umar, pemimpin umat beriman, kepada penduduk Yerusalem. Bahwa ia telah memberi jaminan mengenai keamanan untuk jiwa mereka, untuk harta mereka, untuk gereja-gereja dan salib mereka, untuk sakit dan sehatnya kota, serta untuk ibadah mereka. Gereja tidak akan ditempati oleh orang-orang Muslim, juga tidak akan pernah dirusak, tidak boleh ada satu pun yang dikurangi dari dalam gereja itu atau dari lingkungan sekitarnya, baik salib, harta benda, dan semua harta milik mereka. Mereka tidak akan dipaksa untuk beralih memeluk agama Islam, dan tidak akan ada pula orang Yahudi yang hidup bersama mereka di Yerusalem*(1).

    Penduduk Yerusalem harus membayar jizyah*(2) sebagaimana penduduk kota lainnya. Mereka juga harus mengeluarkan orang-orang Bizantium dan para perampok. Para penduduk Yerusalem yang ingin pergi keluar kota dengan membawa serta harta mereka, meninggalkan gereja dan salib mereka, maka keselamatan mereka akan dijamin sampai tempat tujuan. Para pendududk desa boleh tinggal di kota jika mereka menginginkannya, dengan ketentuan harus membayar jizyah sebagaimana warga lainnya. Mereka yang mau pergi, silahkan pergi bersama orang-orang Bizantium, dan mereka yang ingin kembali, silahkan kembali ke keluarga masing-masing. Jizyah mereka tidak boleh ditarik sebelum masa panen.

    Jika mereka membayar pajak menurut ketentuannya, maka apa yang sesungguhnya tertera di dalam surat ini adalah perjanjian Allah, di bawah tanggung jawab Nabi, sang khalifah, dan juga orang-orang mukmin.

    Surat tersebut ditandatangani Umar ibn al-Khattab sendiri dengan tiga orang saksi, yaitu Khalid ibn al-Walid, Amr ibn al-Ash dan Muawiyah ibn Abu Sufyan.

    Kabar kedatangan Khalifah Umar ke Yerusalem telah tersebar ke seluruh pelosok kota itu. Semua menantinya dengan sukacita. Umar berangkat dari Jabiyah dengan menunggang unta. Saat Umar datang , semua khalayak terkejut -terutama para penduduk kota. Mereka tak dapat berkata apa-apa. Hati mereka hanya bergumam. Uskup agung Sophronius menyambut kedatangan sang khalifah itu dengan salam penuh takzim. Lalu, kepada penduduk, ia berkata dengan mata bergetar, dengan suara yang parau, “Lihatlah sungguh ini adalah kesahajaan dan kegetiran yang telah dikabarkan oleh Danial sang Nabi*(3) ketika ia datang ke tempat ini.”

    Semua sejarawan mencatat peristiwa ini. Pemimpin terbesar umat Islam itu datang ke Yerusalem tanpa iring-iringan pasukan atau ajudan. Ia datang dengan menuntun seekor unta dan hanya ditemani Aslam, mawla-nya yang setia dan telah dibebaskan. Umar juga tidak mengenakan pakaian kebesaran dan kemegahan layaknya para kaisar penakluk. Umar hanya memakai jubah yang sudah lusuh dan banyak jahitan. Ia juga hanya membawa perbekalan makanan ala kadarnya; sekantong gandum, sekantong kurma, sebuah piring kayu, sebuah kantong air dari kulit, dan selembar tikar untuk beribadah.

    Khalifah Umar lalu diajak Uskup Sophronius berkeliling ke temat-tempat suci di sepanjang kota. Saat waktu zuhur tiba, Uskup Sophronius membukakan Gereja Makam Suci, kiblat dan tempat tersuci umat Kristen, lalu mempersilahkan Khalifah Umar melaksanakan shalat di dalam gereja. Tawaran kehormatan itu disambut dengan baik oleh Umar, tapi ia menolak, “Jika saya mendirikan shalat di dalam gereja ini, saya khawatir orang-orang Islam nantinya akan menduduki gereja ini dan menjadikannya masjid.”

    Khalifah Umar lalu keluar dari gereja, meminta ditunjukkan tempat reruntuhan Kuil Sulaiman. Uskup Sophronius menunjukkkan tempat itu, yang ternyata kotor tertimbun sampah. Bersama beberapa sahabat lainnya, Khalifah Umar membersihkan sendiri tempat tersebut, lalu menggariskan sebuah tapak untuk dijadikan tempat Shalat. Di tempat itu pulalah Khalifah Umar memerintahkan agar dibangun masjid yang kelak dikenal dengan Masjid Umar.

    Penaklukan Yerusalem menandai selesainya serangkaian penaklukan Islam atas seluruh wilayah Suriah dan Palestina, di samping Yordania dan pesisir Levantina. Penaklukan tersebut mengakhiri kekuasaan Yunani-Romawi yang telah bercokol di wilayah tersebut selama beberapa abad. Sejak saat itu pula, seluruh wilayah tersebut berada di bawah kekuasaan Islam.

    —***—

    * Saya kutip dari buku yang sedang saya baca: ‘Umar Ibn Khattab’. Penerbit Zaman, 2014. Karya Dr. Mustafa Murad, Guru Besar Universitas Al-Azhar, Kairo. Silahkan dibeli bukunya. Tapi jangan beli ke saya, saya mah enggak dagang buku, cuman dagang tas dan kaos … hehehe
    Dikutip tanpa minta izin ke penerbit, tapi kembali saya sarankan beli bukunya sesudah ini, ya. Di Togamas Bandung diskon 10% … *ahaha .. Baek banget gue … promosi toko orang. Sundul, Gan 🙂

    *foto diambil dari weheartit.com


    Saya berikan keterangan sedikit tentang beberapa hal yang sebelumnya juga menjadi pertanyaan di dalam benak saya:

    *(1) Tentang klausul: “… dan tidak akan ada pula orang Yahudi yang hidup bersama mereka di Yerusalem.”
    Kalimat ini adalah respon Khalifah Umar atas permintaan penduduk Jerusalem. Saat itu penduduk Jerusalem sangat membenci orang-orang Yahudi. Orang-orang Yahudi sebelumnya membunuhi tawanan Kristen di wilayah Persia. Sampai ada riwayat yang menyebutkan, Umar menjamin tidak ada Yahudi yang lewat dan bermalam di Jerusalem.
    Dalam tinjauan sejarah, wilayah Galileia (Hebron, Tiberias, Nazaret) memang banyak ditempati orang Samiria, keturunan Yahudi yang telah bercampur dengan bangsa-bangsa pendatang (Suriah, Persia, Yunani dan Romawi). Orang-orang Yahudi murni, Judea, menganggap orang Samiria itu najis serta dihinggapi roh dan penyakit buruk. Itulah penyebab utama prasangka buruk Judea kepada al-Masih, seorang nabi dari Nazaret. Konflik Kristen-Yahudi sedikit banyak tumbuh dari prasangka ini.

    *(2) Jizyah: adalah jaminan khusus yang dibayarkan oleh penduduk yang tidak beragama Islam tetapi hidup dalam wilayah Islam. Jizyah hanya mengikat kepada laki-laki baligh (dewasa), berakal dan mampu secara ekonomoi. Tidak boleh dikenakan kepada perempuan, anak-anak, orang miskin dan orang gila. Yang tidak mampu justru akan mendapatkan nafkah dari negara –beragama apapun dia.
    Jizyah ada kadar dan ukurannya. Di setiap wilayah Islam besarnya berbeda tergantung kemampuan ekonomi wilayah tersebut. Secara umum, untuk kategori kaya (kelas atas) ditetapkan sebasar 4 dinar (4 x 4,25 gram emas) atau 17 gram emas, atau senilai Rp 8.500.000 (jika 1 gram=Rp 500.000). Yang masuk kategori sedang (kelas menengah) ditetapkan 2 Dinar atau 8,50 gram emas, atau senilai Rp 4.250.000. Yang masuk kategori mampu, tetapi di bawah kelas menengah, ditetapkan 1 Dinar atau 4,25 gram emas, atau senilai Rp. 2.125.000. Juga harus dicatat, bahwa jizyah hanya dipungut sekali dalam setahun. Itu pun tidak boleh dipungut lebih dari kadar yang telah ditetapkan di atas.
    Ini tidak berarti bahwa tidak ada pungutan negara pada penduduk yang beragama Islam. Penduduk muslim terikat dengan semua jenis zakat yang berlaku dalam ajaran Islam.

    *(3) Uskup agung Sophronius pada saat itu mengacu pada ayat ramalan penghancuran Yerusalem : “Ketika kamu, oleh karena itu, akan melihat kekejian pemusnahan, yang diucapkan oleh Daniel sang Nabi, mengenai penghancuran Yerusalem, pada waktu itu kamu akan berdiri di tempat kudus, barang siapa membaca biarlah dia mengerti.”


    Wallahu A’lam Bishawab. Dan hanya Allah yang mengetahui sebenar-benarnya.

  • Kenaikan Passing Grade yang tidak masuk akal dalam PPDB Kota Bandung

    Bener kata seorang temen, katanya saya akan lebih peduli sama sistem pendidikan nasional ketika anak tertua saya mulai bersinggungan dengan sistem PPDB.

    Terlepas dari sebenernya anak saya sudah kami daftarkan duluan di sekolah swasta, tetap saja PPDB ini membuat otak saya bekerja lebih keras untuk mengerti logikanya. Maklum, hampir tiga dekade saya gak pernah memikirkan urusan daftar mendaftar sekolah tingkat menengah. Begitu kembali berurusan dengan hal ini, ternyata banyak yang sudah berubah.

    Satu hal yang membuat saya kaget adalah ‘standar nilai bagus’ alias ‘passing grade’.

    Ada dua situs yang saya kunjungi untuk mengetahui passing grade untuk masuk ke SMP negeri di Kota Bandung :
    (1) https://bicarapassinggrade.wordpress.com/…/passing-grade-s…/
    (2) http://www.fauzanalfi.com/…/passing-grade-smp-di-ppdb-kota…/

    Saya makin terkaget-kaget setelah data-data dari dua situs tsb saya entry manual ke microsoft excel.
    *catatan : sesuai kebutuhan anak, saya hanya mengentry nilai-nilai dari SMPN 1 s/d SMPN 15 –dan SMPN 26, karena lokasinya dekat dengan rumah saya.

    Hasilnya saya terkagum-kagum bercampur bingung begitu melihat passing grade SMP 2, 5, 8 dan 14 yang semuanya di atas nilai rata2 nilai 9,25. Dalam skala 0-10, statistically speaking, orang-orang bernilai 9,25 berarti jenius toh? Gimana rasanya bersekolah di sekolah yang isinya orang jenius semua?

    Sebaran jumlah siswa per nilai

    Tahu berapa nilai rata-rata passing grade ke-16 sekolah di Bandung yang saya entry datanya? Fantastik sekali >> 8,90. Whoaaa … Saya langsung mengambil folder dokumen tua saya, lalu melihat apakah NEM saya jaman dulu cukup untuk bersekolah di Bandung masa kini.

    Ternyata tidak cukup. Rata-rata Nilai Ebtanas Murni saya hanya 8,37. Padahal 29 tahun yang lalu saya berjuang super keras untuk mendapatkan nilai sebesar itu. Sepanjang kelas 6 saya harus bersekolah mulai jam 7 pagi sampai larut malam. Saya masih ingat, jaman dulu mendapat nilai rata-rata 8,00 sudahpencapaian luar biasa. Kita tidak pernah bermimpi mendapat nilai rata-rata 9. Kita pikir nilai segitu hanya untuk dewa dan orang jenius saja.

    Saya jadi curiga, sebenarnya apa yang terjadi dengan standar nilai anak-anak SD ini. Apakah generasi saya memang gak terlalu pintar? Benarkah anak-anak ini memang jenius-jenius muda? Kalau memang iya, berarti Bandung setiap tahun meluluskan ribuan orang jenius ke jenjang pendidikan menengah. Itukah faktanya?Tabel Passing Grade 2008 2015

    Kecurigaan saya bukan tanpa data. Ternyata nilai rata-rata passing grade sekolah di Bandung tidak selalu setinggi ini. Delapan tahun yang lalu (2008), rata-rata passing grade sekolah-sekolah ini hanya 7,74. Anehnya di tahun 2009 terjadi loncatan ke angka 8,43. Lalu sesudah itu passing grade rata-rata ini cenderung naik dan tiba di angka 8,90 di tahun 2015. Kalau tren kenaikan ini terjadi terus, mungkin sepuluh tahun lagi passing grade per mata pelajaran sekolah-sekolah di Bandung akan berada di 9,90.Passing Grade per Nilai Mata Kuliah

    Ah … gak normal .. pasti ada yang salah. Ada yang tahu apa salahnya?

  • Sejarah dan asal kata Kebayoran (lama dan baru)

    Sebagai (mantan) anak Kebayoran Baru, saya jadi geli sendiri baca buku Pak Rachmat Ruchiyat : ‘Asal Usul Nama Tempat di Jakarta’.

    Ternyata nama Kebayoran berasal dari kata ‘kebayuran’ yang artinya tempat penimbunan batang kayu bayur. Pohon bayur adalah sejenis kayu yang baik untuk dijadikan bahan bangunan karena daya tahannya yang kuat terhadap serangan rayap.
    *anak Bandung jangan ketawa … ini bukan ‘bayur’ yang lu pikirin 🙂

    Kayu-kayu gelondongan yang dihasilkan dari tempat yang dulu masih berupa hutan ini, dikirimkan ke Batavia melalui Kali Krukut dan Kali Grogol dengan cara dihanyutkan.
    *agak susah membayangkan bahwa Kebayoran dan Batavia itu dulu adalah dua kota yang berbeda …. dan …. lebih susah lagi membayangkan Blok M adalah hutan ….

    Anyway, setelah saya google dikit ternyata Kali Krukut itu sungai yang mengalir melewati sisi jalan Prapanca, Kebalen, Plaza Semanggi lalu Tanah Abang. Kalau Kali Grogol itu yang ada di belakang PIM lalu ke Gandaria, Senayan lalu ke Grogol. Berarti jaman dulu sungai-sungai ini lebar dan dalam, sehingga bisa dialiri oleh kayu gelondongan.

    Sekitar tahun 1938 di kawawan Kebayoran direncanakan akan dibangun sebuah bandar udara internasional. Tapi gak jadi karena keburu pecah perang dunia II. Sesudah WW II, di tengah-tengah perang kemerdekaan, sekitar tahun 1949, Belanda masih sempat berinisiatif membuat Kota Satelit sebesar 730 hektar yang dirancang untuk dihuni 100.000 jiwa. Nah .. dibangunlah kota satelit bernama Kota Baru Kebayoran.
    *Kalau Kebayoran Baru itu kota satelit, BSD apaan ya? Galaksi lain kah? hahaha ..

    Sampai awal masa kemerdekaan, Kebayoran masih dipimpin oleh seorang wedana dengan wilayah yang luas –sampai Ciputat, bro. Bagi yang gak tau, Wedana itu adalah jabatan di bawah Bupati. Wedana Kebayoran ini bertanggung jawab langsung pada Bupati Meester Cornelis (Jatinegara).
    Oh Iya, Meester Cornelis ini juga awalnya adalah kota satelitnya Batavia. *jadi kebayoran itu … kota satelitnya kota satelit? *gak kebayang ah 🙂

    ~salam dari Bandung untuk teman-teman masa remaja di Ibu Kota

  • Nasihat Ibunda Ridwan Kamil pada anaknya (2013)

    Saya terikat sebuah janji pada salah satu pemimpin saya. Dia dahulu meminta saya untuk bisa menepuk-nepuk bahunya sebagai teman, jika ada suatu saat dirinya dirundung susah dalam mengemban jabatannya sebagai walikota.

    Saya tidak tahu apakah saat ini dia sedang susah. We haven’t talk for a while. Tapi saya tahu, ada banyak pihak yang sedang menyusahkan pikirannya. Oknum-oknum partai yang rakus sedang memaksakan kepentingan politik dan memaksanya untuk bersaing memperebutkan posisi politik yang lebih tinggi. Padahal saya pribadi sih yakin-seyakin-yakinnya bahwa tidak lain yang dikejar politisi ini hanya kuasa dan uang.

    Kang M Ridwan Kamil, saya tidak bisa menepuk-nepu bahu akang saat ini. Tapi saya punya suatu hal yang lebih baik -sebuah memori dari tahun 2013. Tepukan di bahu dan do’a dari orang paling suci untuk akang. Silahkan diresapkan lagi. Semoga bisa menjadi pengingat dan penguat hati.

    Bagi teman-teman yang lain yang juga membaca. Semoga jadi pengingat juga. Watawa saubil haq, watawa saubil sabr : Nasehat menasihati dalam kebenaran. Nasehat-menasehati dalam kesabaran.

     

     

    ================

    Ibunda (Ma’ci), 2013 :

    “Ridwan Kamil lahir di Bandung, digedekeun di Bandung, Sakola di Bandung, dan berarti harus berbakti pada masyarakat Bandung.”

    “Yang penting bersihkan hati, luruskan niat, dan niat itu semata-mata ibadah kepada Allah. Di manapun pada posisi apapun maka semua itu adalah harus merupakan sarana ibadah.”

    “Kalau sudah menetapkan suatu niat, lurus niat dan baik, buleudkeun hate, kemudian Tawakal kepada Allah.”

    “Walikota sebenarnya bukan suatu udagan atau harus diudag-udag sehingga tikokoroseh, tapi yang harus dicari adalah kemuliaan di sisi Allah. Siapapun kita, pada posisi apapun kita, yang harus kita cari adalah kemuliaan di sisi Allah.”

    “Potensi yang ada padanya, ilmu yang ada padanya, apapun yang Allah anugerahkan kepadanya -bisa dibagikan kepada yang lainnya.”

    “Emil tetap menjadi anak mamah. Insya Allah Mamah ngawidian, ngaridhoan.”

    “Emil dan saya adalah manusia biasa, bisa salah dan lupa. Dan sebaiknya kedah silih geuingkeun, wattawwa shobil haq wattawa shobil sabr. Ulah diantepkeun lamun salah. Kalau baik barangkali didukung. Bukan tidak mungkin ada kesalahan atau kekhilafan, jangan dibiarkan. Supaya tidak berlanjut kesalahan tersebut.”

    “Mudah-mudahan ia tetap anak mamah yang terbiasa beribadah. Dan suka sangat berbagi.”

    “Semoga seluruh warga Bandung ini akan masuk ke tempat yang benar dan kemudian akan masuk ke lingkungan yang lebih benar lagi.”

    “Kalaulah nanti Emil dikersakeun ku Allah menjadi walikota, semoga Allah memberikan kekuatan dari sisi Allah dan menolong untuk bisa melaksanakan tugasnya. Dan ulah ngobral janji. Tapi ngajak ka sararea warga Bandung, ‘Hayu Bandung the urang beresihan! … karena itu adalah kerja bersama’.”

    ==========
    video courtesy of Primus Pandumudita