Category: Uncategorized

  • Adakah Situasi Ketika Aturan Tidak Perlu Ditegakkan?

    Kasihan ibu saya. Ketika kami mulai masuk sekolah menengah atas, ada karakter khas yang muncul di dalam diri kedua anaknya. ‘Iseng!!’ Ya, saya dan kakak sering terlibat masalah karena keisengan kami di masa remaja.

    Kami tidak pernah berniat jahat. Gak ingin menyakiti siapapun. Hanya ingin mencoba sesuatu yang baru, penasaran dan bersikap spontan. Tapi kadang-kadang berakhir dengan melanggar aturan yang ada, dan sesudah itu seperti pelanggar aturan yang lain, kami kena hukum.

    Kakak saya, berumur dua tahun lebih tua dari saya. Tentu dia lebih dahulu berhadapan dengan para penegak hukum di sekolah: guru-guru. Seingat saya dia pertama kali diskors karena main lempar-lemparan makanan di dalam kelas. Skorsing ke-dua dia terima karena refleksnya menyikut salah satu guru, yang konon dia sangka temannya sendiri. *terus emang kalau temannya sendiri boleh disikut? pembelaan diri yang lemah … hehehe

    Penyebab skorsing pertama saya bisa dibilang lebih ringan. Hanya karena main volley, saya terkena skors. Soalnya saya main volley di mata pelajaran matematika. Mau dibilang apa? Saya seneng sekali main volley di jaman itu.

    Saya bisa lebih menerima alasan kenapa guru-guru memberikan skorsing ke-dua. Pada waktu itu saya tidak sengaja membakar separuh ruang OSIS menggunakan lem Aica Aibon. Demi Allah, itu ketidaksengajaan. Saya bukan seorang pyromania.

    Pagi itu, setelah upacara serah terima pengurus OSIS kepada pengurus baru, saya mendapati diri bosan menunggu pengurus-pengurus OSIS yang lain. Lalu saya menemukan sekaleng kecil lem cair Aibon tergeletak di samping saya. Entah kenapa, saya langsung membuka kaleng kecil tersebut dan tidak sengaja mencium aroma uap khas yang keluar dari dalamnya. Walaupun di luar kaleng ada tulisan ‘Flammable‘, mudah terbakar.  Entah kenapa, saya malah penasaran. “Jika lem ini mudah terbakar, apakah berarti uapnya juga mudah terbakar?” Tanpa berpikir panjang saya meminjam sebuah lighter, memegang kaleng kecil itu dengan tangan kiri dan melewat-lewatkan api lighter di atas kaleng lem Aibon yang separuh terbuka dengan tangan kanan.

    Kejadian selanjutnya terjadi di luar dugaan. Saya berhasil membuktikan bahwa uap Aibon ternyata mudah terbakar. Ketika mulai terbakar dia mengeluarkan bunyi ledakan kecil ‘BLUP!!!’ yang membuat saya kaget. Refleks, tangan kiri saya langsung melempar kaleng kecil yang menyala tersebut. Kaleng berwarna kuning tersebut jatuh satu meter dari kaki kaki saya. Sebagian lemnya yang merah menyala tumpah di atas karpet yang melapisi ruang OSIS.

    Api tidak mungkin menyala tanpa oksigen”, pikiran itu langsung terlintas di kepala saya. Saya langsung mengambil sebuah makalah tebal dari atas meja yang langsung ditutupkan ke atas kaleng yang menganga. Sialnya saya tidak mampu menutup kaleng tersebut dengan cukup rapat karena terganjal oleh tutup kaleng yang masih tergantung di sebagian sisi atas kaleng. Alih-alih apinya padam, yang saya dapati adalah sebuah kaleng yang tetap menyala dan sebuah makalah yang terbakar api.

    Salah seorang teman baik saya kemudian datang menolong. “Minggir, Ben. Yang penting kita keluarin aja dulu kalengnya dari dalam ruang OSIS!” Masuk diakal! Seluruh ruang OSIS memang tertutup karpet murah berwarna abu-abu. Mudah sekali terbakar. Lebih baik api dijauhkan dahulu dari karpet ruang OSIS. Satu detik kemudian dia menendang kaleng panas tersebut ke arah pintu yang berjarak sekitar 5 meter. Tendangannya hampir akurat. Kaleng tersebut menyentuh daun pintu dan tergeletak hanya beberapa centimeter dari ambang pintu.

    Yang tidak terpikir oleh kami berdua adalah dalam perjalannya melambung ke arah pintu, sebagian lem dari dalam kaleng tsb berceceran membentuk garis putus-putus yang justru membakar karpet di bawahnya –persis seperti jejeak Napalm Bomb. Satu tendangan lagi akhirnya berhasil mengeluarkan kaleng dari dalam ruangan. Kembali, sialnya, sebagian sepatu-sepatu yang parkir di luar ruangan malah menjadi korban selanjutnya. To make it worse, kaki yang digunakan untuk menendang kaleng oleh teman saya pun terkena tumpahan lem yang membakar celana panjang dan kakinya. Wahhh … repot lah.

    Setelah akhirnya kami berhasil memadamkan karpet ruang OSIS yang rusak dimakan api, saya dijewer oleh guru olahraga menuju ruang wakil kepala sekolah. Saya sebenarnya cukup kenal dengan wakil kepala sekolah, karena saya beberapa jam yang lalu masih menjabat sebagai wakil ketua OSIS. Baru beberapa jam saya meletakan jabatan dan seharusnya dengan elegan ikut menghadiri rapat serah terima jabatan di ruangan -yang sayangnya, tidak sengaja saya nyalakan dengan api. Pak Wakasek hanya bisa geleng-geleng kepala. Dia sempat berkata, “Ben, kamu ini gak rela ya turun dari jabatan OSIS?” Duhhhh …. Gak lucu pak … emangnya saya sengaja apa membakar ruang OSIS? Well, sengaja atau tidak sengaja, saya harus hadapi konsekuensinya. Dua hari di-skors dan dipanggil orang tuanya.

    Tentang orang tua yang dipanggil guru, sebenarnya ‘masalah dan tidak masalah’ untuk saya. Semua anak pasti gemetar ketika harus memberikan surat panggilan dari sekolah. Tapi bapak-Ibu saya terbilang sabar menghadapi konsekuensi keisengan anaknya. Terutama karena saya memiliki track record yang masilh lebih baik dibandingkan kakak saya.

    Sekitar dua tahun sebelum tragedi terbakarnya ruang OSIS, kakak saya sempat berulah yang membuatnya di-skors ke-tiga kalinya! *whatt? ke-tiga kalinya?

    Penyebabnya pun bukan suatu yang membahayakan atau berdampak fatal bagi siapapun –seperti penggunaan narkoba atau tawuran –atau membakar ruang OSIS … hehehe. Mau tahu penyebabnya? Kakak saya tertangkap menggunakan payung saat upacara bendera di hari senin. *Jiahhhh … gak keren banget. Setahu saya sih sebenarnya bukan hanya dia yang sempat berpayung pada saat upacara tersebut. Jadi kayaknya payung tersebut sempat berpindah-pindah tangan selama upacara. *kejadian detailnya harus dikonfirmasi pada alumni-alumni sekolah di Bulungan tahun 92. Tapi mungkin kakak saya lah yang memang saat itu harus menanggung konsekuensi paling berat, karena dia lah yang tertangkap tangan sedang memegang payung oleh gurunya di tengah lapangan.

    Mengetahui anakanya terancam dikeluarkan dari sekolah, Ibu saya tentu kalang kabut. Sekolah memang bisa sangat kejam. Sekolah tidak peduli apakah pelanggaran yang dilakukan berat atau ringan, yang pasti skors ke-tiga berarti juga skors selamanya. Aturan adalah aturan. Melanggar aturan berarti harus siap menerima konsekuensinya. Kakak saya harus menerima surat pemecatan, dan dikeluarkan satu minggu sebelum EBTANAS (UN, kalau sekarang sih).

    Saya ingat sekali betapa repotnya ibu saya, ditengah sibuknya bekerja di Jakarta yang hiruk pikuk penuh macet, dia harus pula bolak-balik ke sekolah berusaha menyelamatkan anaknya dari takdir gelap.

    Berdebat dengan pihak sekolah merupakan hal yang berat. Sekolah sering kali keberatan memberikan pengecualian dalam penegakan sebuah aturan. Sekolah selalu khawatir bila mereka membuat pengecualian maka nanti akan menjadi preseden buruk di mata siswa yang lain. Sekolah punya muka juga untuk diselamatkan.

    Namun ibu saya kenal baik anakanya. Di luar kenakalannya, kakak saya punya banyak sekali potensi yang tidak bisa mekar di dalam kelas. Akan berakibat buruk jika kakak saya hidup terlalu lama di lingkungan yang tidak bisa memekarkan potensi-potensi itu. Untuk ibu saya, kakak saya harus lulus di tahun itu dan melanjutkan ke sekolah yang dia inginkan. Mengulang kelas tiga di sekolah lain sebagai veteran (anak yg tidak naik kelas) hanya akan merusak rasa percaya dirinya.

    Ibu saya bercerita pada saya, malam hari setelah keputusan dari sekolah akhirnya dikeluarkan. Saat itu ibu saya harus berhadapan dengan guru BP (Bimbingan dan Konseling) sekaligus Kepala Sekolah. Sekolah tetap bersikeras bahwa kakak saya tidak bisa diberikan pengecualian. Walaupun berjarak hanya seminggu dari hari terakhir sekolah, kakak saya harus menerima surat pemecatan, pindah sekolah dan mengulang kelas tiga di sekolah lain.

    Untungnya ibu saya bukan tipe mudah menyerah di hadapan kesulitan. Walaupun sulit dia harus memberikan usaha terakhirnya demi anaknya yang memang agak nakal. Dia dihadapkan pada dua pilihan: (satu) ajari anaknya tentang jiwa ksatria dengan menyuruh anaknya untuk siap menerima konsekuensi hukum dari tindakannya; atau (dua) selamatkan anaknya saat ini, lalu ajari dia tentang jiwa ksatria, dengan memperlihatkan bahwa hukum harus ditegakkan dalam usaha mewujudkan kebaikan.

    Bagi ibu saya pilihannya jelas, kebaikan harus menjadi alasan setiap hukuman. Mungkin bagi ibu saya, yang seluruh pendidikan menengah, S1 dan S2-nya dihabiskan mempelajari dunia pendidikan, aturan dan hukum hanyalah salah satu alat untuk mendidik –bukan satu-satunya. Masih banyak alat pendidikan efektif yang lain yang bisa digunakan sesuai situasi dan kondisi. Misalnya penghargaaan (reward), panutan (role modeling), refleksi, dan sebagainya.

    Kata-kata terakhir ibu saya pada pihak sekolah kurang lebih seperti ini “Anak kami bersalah dan tidak boleh diperlakukan spesial. Tapi bapak dan ibu guru duduk di sini karena tugas mulia untuk mendidik setiap anak -termasuk anak kami. Jika anak kami dipecat satu minggu sebelum ujian akhir dan harus merasakan pahitnya mengulang masa kelas tiga di sekolah lain sebagai anak baru, kira-kira pendidikan seperti apa yang kita ajarkan kepada dia? Bahwa hidup itu kejam? Tidak kah itu hanya akan membuat cermin dirinya pecah? Bisakah kita memberikan hukuman yang akan berdampak baik bagi dirinya? Bukan karena dia spesial, tapi karena tugas utama kita adalah mendidik -bukan menghukum.”

    Alhamdulilah, sekolah akhirnya menemukan hukuman yang lebih baik bagi masa depan kakak saya. Dia akhirnya mendapatkan hukuman skors satu minggu penuh. Dia tidak boleh menghadiri kegiatan belajar sampai waktu ujian EBTANAS tiba. Dia lulus dengan nilai biasa saja. Satu tahun kemudian dia terbang ke luar negeri dengan mendapatkan beasiswa ratusan juta rupiah dari sebuah maskapai penerbangan -dan pulang kembali ke negara ini dengan sebuah titel bergengsi “Top Academic”. Setahu saya, sejak itu kakak saya belum pernah di-skors lagi, oleh siapapun, di manapun. Dia sekarang salah satu orang paling disiplin yang saya kenal. Hidup memang aneh. Terima kasih, ibu-bapak guru. Thanks a lot, Mom.

    ———-

    foto diambil dari : www.moroccoworldnews.com

  • Anugerah Teman Yang Nakal

    Belakangan ini saya dan istri sedang menimbang-nimbang apakah akan memasukkan Si Sulung Samsam ke SMP negeri atau ke SMP swasta. Di satu sisi SMP swasta menjanjikan lingkungan yang lebih steril, fasilitas yang lebih baik dan rasio guru-murid yang lebih kecil, sementara di sisi lain SMP negeri dengan segala macam kelebihan dan kekurangannya -juga menjanjikan lingkungan pergaulan yang lebih luas dan beragam. Sebenarnya kami cenderung memilih sekolah negeri, karena kami berpikir bahwa sudah saatnya Samsam memiliki pergaulan yang lebih beragam. Tetap dengan rasa was-was juga : “Pergaulan remaja Bandung sekarang seperti apa ya?”. Sehingga tercetuslah nasihat istri saya pada si Sulung “Nanti kalau Samsam sudah SMP, berteman dengan teman-teman yang baik-baik ya!” Seketika itu saya mengiyakan nasihat istri saya. Walau kemudian memori saya langsung melayang pada masa-masa SMP dan SMA saya di Jakarta. Apa iya, dulu saya punya teman-teman yang baik-baik? Coba diingat-ingat dulu. Hmmm…

    Ternyata iya. Kebanyakan teman saya ternyata adalah anak baik-baik. Saya punya beberapa sahabat dan teman dekat -dan kebanyakan dari mereka memang anak baik. Errr … kalau dibilang baik banget-banget sih enggak juga … mereka nakal juga. Tetap saja kita sering coret-coret grafiti di belakang kursi supir bajaj, nulis rumus kebetan di meja sekolah atau beberapa kali bolos sekolah demi maen gak jelas. Tapi masih batas normal anak remaja lah. *iya gituh?

    Saya ini besar di dua kota yang kontras. Sampai kelas 4 SD saya besar di Kota Bandung era mid 80s. Bersekolah di sekolah swasta yang penuh disiplin dengan latar belakang kota yang sejuk, nyaman dan aman. Sejak kelas 5 SD sampai lulus SMA, saya tumbuh dewasa di Jakarta. Saat itu, mulailah babak kehidupan saya di sekolah negeri kota metropolitan, yang panas, penuh emosi, modern dan heterogen.

    Beda dengan teman-teman SD di Bandung yang homogen, di mana saya kenal baik sampai kakak-adik dan ibu-bapaknya. (wajar sih, karena mereka tetangga rumah saya juga). Teman-teman di Jakarta lebih heterogen dan berasal dari latar belakang keluarga yang sangat berbeda dengan saya. Di Jakarta saya punya beragam teman -dari yang bapaknya pemulung, sampai yang bapaknya petinggi PSSI. Campur aduk dalam sebuah kelas bagai pasar tumpah yang membuat kangen.

    Dari semua teman di Jakarta, saya punya dua orang teman yang sampai sekarang tetap terasa spesial. Dua teman saya ini mungkin masuk definisi nakal dalam kamus umum bahasa indonesia. Dua-duanya sempat jadi teman baik saya. Dua-duanya ditakutin sama teman-teman satu sekolah. Dua-duanya juga ikut mengajari saya tentang apa sebenarnya artinya seorang teman.

    Ketika duduk di bangku SMP, ada seorang siswa tinggi besar yang umurnya pun (konon) lebih tua dari pada kebanyakan teman sekelas. Rex namanya (saya gak pake nama sebenarnya ya, tapi teman-teman saya pasti tahu siapa dia lah). Waktu saya belum punya kumis, dia sudah punya kumis tipis agak lebat. Waktu kaki saya masih mulus, bulu kaki dia sudah mulai ikal-ikal keriting. Waktu saya masih takut sama preman pasar, dia udah ditakutin sama preman pasar. Hebat enggak?

    Suatu siang dia bilang sama saya, “Ben, lu besok maen ke rumah gue ya. Gue minta diajarin matematika -sambil maen Nintendo. Okeh?” Saya gak berani nolak, tinggi saya cuman 75% tinggi dia. “Rumah lu emang di mana Rex? Gimana caranya ke rumah lu?” jawab saya. Dengan gaya yang enteng dia bilang, “Elu naek aja 610, terus turun di Pasar Blok A”. Saya masih bingung, jadi nanya lagi, “Dari situ rumah lu arahnya ke mana?” Si Rex masih dengan enteng bilang, “Ahhh … lu tanya-tanya aja di sono. Susah amet!”

    Besoknya saya beneran naik bis Metro Mini S610 dan turun di depan Pasar Blok A. Kurus, bingung, keringetan, pakai celana pendek biru, berkulit putih dan agak sipit, membuat saya kurang nyaman celingukan di depan pasar. Dan hal yang saya takutkan pun terjadi. Seorang yang kayaknya preman langsung bentak saya, “WOOY, sini luh!” Waduuuh … belum apa-apa udah kelihatan kalau saya bukan orang daerah situ. Jadi dengan agak gemeteran saya samperin si Abang serem yang lagi duduk-duduk bareng empat orang temannya yang penampakannya semi-serem juga. “Mau ke mana luh luntang-lantung di sini?” lanjut dia. Refleks saya menjawab, “Maap, Bang. Gue nyari rumahnya Bang Rex.” Tumben-tumbenan saya nyebut Rex pakai kata sandang Bang, tapi kayaknya emang pas dalam situasi seperti itu saya nyebut semua orang sebagai Abang. “Heeeh? Nyari Bang Rex? Emang lu kenal sama Si Rex?” kata si Abang. “Iya, Bang. Gue temen sekolah Bang Rex. Gue disuruh maen ke rumahnya”, aku saya.

    Si Abang langsung nunjuk salah satu temennya, mungkin anak buahnya, lalu bilang “Tuh, denger enggak lu. ‘Ni anak nyari Bang Rex. Anterin sonoh!” Saat itu juga salah satu dari mereka berdiri bilang “Ikutin gue, nyok!” dan saya pun diantarkan sampai ke depan pintu rumah sekitar 200 meter di belakang pasar. “Pantesan Rex gak merasa perlu kasih alamat lengkap rumahnya, semua orang di sekitar pasar kenal sama dia”, pikir saya membatin.

    Rex ternyata emang serius minta diajarin pelajaran matematika. Dia sebenernya pinter, cuman kayaknya lebih seneng kalau belajar gak sendirian. Adanya teman kan membuat jauh lebih betah. Bisa jadi juga, ngeliat situasi pergaulan keras di sekitar rumahnya, maka Rex memilih lebih baik ‘mengimpor’ teman belajar dari lingkungan sekolah. Padahal, dari total ‘waktu belajar’  yang kita lakukan, sebenernya kita tetap cuman 50% belajar -sisanya, sesuai janji Rex, kita maen Nintendo .. hohoho 🙂

    Yang unik dari belajar di rumahnya Rex adalah selingannya. Tiap beberapa jam ada aja temennya Rex yang gedor-gedor pintu manggil Rex. Pernah suatu saat, begitu Rex buka pintu rumahnya, terlihat salah satu temannya yang tinggi gede, meringgis sambil bilang,”Rex, gue minta madu doong!” Rex, yang kayaknya udah biasa kedatengan tamu macam ini langsung berseloroh, “Alaaaah … lu ditato lagi?”. Sambil meringis dia memperlihatkan tato naga yang terlihat masih bengkak ,”neeeeh … Keren gak, Rex?”. Rex langsung berjalan masuk ke kamarnya, lalu mengambil madu yang diminta oleh teman bertato naga tadi. Badan Rex emang gede, tapi kalau lagi mengobati teman, dia halus kayak perawat. Madu yang diambilnya segera dilumurkan tipis di atas permukaan tato naga yang meradang tadi. Si Tato Naga lalu pergi sambil tidak lupa berterima kasih pada Rex ,”Makasih madunya, Rex!”

    Respon Rex selanjutnya selalu membekas di hati saya. Alih-alih bilang terima kasih seperti biasa, Rex berseloroh, “Makasih .. makasih, aje lo. Kerjaan lo ditato mulu … sekali-kali sholat sonoh!” .. hahaha .. Rex emang spesial. Kalau dilihat dari luar, badan tinggi-gede, bulu tebal dan kata-katanya yang ‘terlalu’ terus terang bisa membuat orang percaya bahwa dia preman tulen. Bukan, bro. Kita harus habiskan waktu yang lama dengan teman-teman seperti ini untuk bener-bener mengerti siapa mereka. Rex itu anak pinter yang dibungkus body tank baja. Rex itu preman sholeh, jagoan pasar lokal pun suatu saat akan mulai sholat kalau lama bergaul dengan Rex. Satu hal yang saya suka dari ‘tank baja’ macam Rex adalah tidak ada teman yang terlalu baik dan terlalu buruk untuk dibantu. Dalam situasi seperti apapun, seorang teman layak dapat bantuan dia -itu kode etiknya.

    Lain dengan jaman SMP, di masa SMA saya sudah cukup lama beradaptasi dengan kehidupan ibukota. Saya sudah terbiasa berteman dengan siapa saja; dari yang paling baik sampai yang paling nakal, dari yang  fun to be around sampai yang paling ngeselin, dari yang susah bayar uang sekolah sampai anak direktur bank yang kebanyakan mobil, dari teman yang sudah mulai sholat sunat -sampai yang gak pernah kelihatan sholat. They are all good friends, lepas dari latar belakang masing-masing.

    Di kelas 2 SMA saya dapat rejeki gak disangka-sangka. Saya yang, mulai kenal main, mulai naksir cewek, dan mulai malas belajar, -mendapatkan teman sebangku yang langka. Dia seorang veteran (*anak yang gak naik kelas) berbadan pendekar a.k.a pendek dan kekar. Anaknya lucu, sekaligus ditakuti sama murid satu sekolahan. Namanya Zig (bukan nama asli lagi, tapi semua teman saya pasti tahu juga).

    Walaupun kita baru kenal, ternyata kita kemudian menjadi teman sebangku yang kompak. Kita bahkan sempat naksir cewek yang sama … hehehe .. kompak. Prestasi akademik dua anak yang duduk di bangku pojok belakang ini sama-sama parah. Saya sering bolos sekolah dengan alasan sibuk dengan kegiatan OSIS dan Zig sering bolos sekolah dengan alasan … gak tau apa deh 😀 Tapi prinsipnya sama, kita gak cukup belajar di kelas dan terpaksa mengandalkan keberhasilan ulangan harian dari nasib bagus dan jawaban ujian yang berseliweran dari otak orang lain.

    Saya ingat suatu hari Zig datang ke kelas dengan kedua mata merah. “Wadoh. Jangan-jangan semalem dia mabok nih” pikir saya. Zig begitu duduk langsung memohon pada saya untuk jaga kandang. Maksudnya adalah untuk membangunkan dia kalau guru memutuskan untuk jalan-jalan sampai ke wilayah kita di pojok belakang kelas. Kebetulan mata pelajaran pertama hari itu adalah PMP (Bagi yg tidak merasakan jaman Pak Harto, PMP itu singkatan dari Pendidikan Moral Pancasila, yes?). Memang biasanya Guru PMP lebih sering ngajar di sekitar papan tulis, jarang-jarang beliau jalan-jalan sampai ke belakang. Jadi saya bilang pada Zig, “Udah lu sana tidur. Nanti gue bangunin kalau pak Guru nyamperin kemari.”

    Tidak disangka-sangka, hari itu beliau memutuskan untuk memeriksa PR essay dengan memberikan paraf di buku PR masing-masing -sambil berkeliling ke seluruh meja. Semua anak segera mengeluarkan buku PR berwarna kuning yang sering disebut buku Kokur alias Ko-Kurikuler. Not me. Saya masih panik. Saya harus membangunkan Zig yang tidur pulas, dan kalaupun dia bisa dibangunkan, belum tentu dia sudah mengerjakan PR. Saya tepok-tepok pahanya, dia tetap tertidur. Saya injak kakinya, dia tetap pulas. Padahal guru sudah semakin dekat. Akhirnya saya sikut rusuknya. Blegg! Zig langsung bangun kebingungan, “Ada apaan, Ben?”. Setengah berbisik saya bilang ,”Tuh, si bapak lagi keliling kelas mau kasih paraf PR essay PMP. Elu ngerjain PR PMP, kagak?” Dengan kepala yang sepertinya masih berat dia malah bilang ,”PR PMP? Buku kokur PMP aja gue gak bawa …”

    Jiaaaah …. bakalan kena masalah nih kita, pikir saya. TAPI. Nah ini nih …. teman-teman yang katanya ‘nakal’ biasanya justru sangat kaya solusi dalam keterpepetan. They are the master of improvisation! Zig saat itu tiba-tiba nanya ,”Ben, lu punya buku kokur lagi enggak?”. Bingung merespon saya cuman bisa bilang, “Enggak. Gak punya. Tapi cobain cari di dalam laci. Biasanya suka ada yang ketinggalan buku di dalem laci meja, kan?” *maklum sekolah negeri pagi-sore. Zig langsung merogoh-rogohkan tangannya ke dalam meja, dan … beruntungnya … sebuah buku kuning, entah punya siapa, memang ada di dalamnya. Dia langsung buka-buka halaman dalam buku kuning itu, lalu bergumam “Ya… lumayan lah”.

    “Terus mau lu apain itu buku? Buat PR sekarang? Masih sempat gituh?” kata saya. Jawaban Zig benar-benar out of the box, “Gak usah. Biar langsung diparaf aja. Si Bapak kan cuman lewat sambil paraf doang … lagian kacamata dia tebal kan?”. Luar biasa. Itu ide yang NEKAD. Mengandalkan guru yang kacamatanya tebal, Zig mau mencoba membuat si Bapak memberikan paraf di buku PR entah milik siapa -tepat di halaman berisikan essay yang gak nyambung.

    Pak Guru terus mengelilingi kelas sambil memberikan parafnya di buku kokur setiap anak. Akhirnya beliau berdiri di hadapan saya. “Mana buku kamu?” katanya. Saya asongkan buku Ko-Kurikuler saya. Sambil tetap berdiri beliau melihat ke halaman yang terbuka lalu memberikan paraf di pojok kanan. Sesudah itu beliau melihat ke arah Zig, “Buku kamu?”. Zig menyodorkan ‘bukunya’ di atas meja, “Ini, pak”. Beliau melihat ke dalam buku selama dua-tiga detik, selama dua-tiga detik juga kita berdua menahan nafas. Gak disangka-sangka … sret-sret-sreeet … Beliau akhirnya membubuhkan parafnya di atas essay gak jelas tsb. Spektakuler! It works!

    Tumbuh dewasa di lingkungan sekolah negeri di Jakarta memang pengalaman yang tidak biasa. Terlalu banyak cerita jika harus disadur ke dalam sebuah blog. In the end, saya sendiri akhirnya merasa berhutang budi pada semua teman-teman dan sahabat saya di saat remaja, yang baik dan yang nakal, -termasuk Rex dan Zig. Saya tidak pernah menyesal memiliki teman anak-anak seperti kalian. Mungkin Si Sulung Samsam pun butuh tumbuh dewasa di sekeliling manusia seperti kalian.

    “Bisa jadi kreativitas kita saat ini adalah kekonyolan muda yang telah tumbuh dewasa.”

    “Bisa jadi keberanian kita saat ini adalah kenekatan masa muda yang mulai jelas alasannya.”

    “Bisa jadi kebijaksanaan kita saat ini adalah kebodohan masa remaja yang akhirnya menemukan formulanya.”

    —————-

    Rumah Nini, Bandung, 11 Oktober 2015

  • Siapa yang masih ingat? Waktu kita masih Egois dan Jujur

    Begitu Wali Kelas menyinggung topik sakral itu, semua teman sekelas langsung diam, kebanyakan murid menunduk ke bawah, tidak ada yang mau melihat langsung ke mata Sang Wali Kelas. Tentu saja di antara teman sekelas, tidak ada yang mau ketiban tanggung jawab menjadi ketua kelas. Saya pun sama, langsung ambil buku dan corat-coret di halaman tengah, pokoknya gak mau kelihatan menonjol dan berharap tidak akan dikutuk sebagai pemimpin satu tahun ke depan. Akhirnya seperti biasa, Wali Kelas terpaksa menunjuk seorang insan terpilih yang (kurang) beruntung.

    Itu drama yang terjadi waktu saya masih SD. Waktu itu kita semua masih egois -tapi jujur. Cukup egois untuk tidak mau direpotkan sama urusan orang lain. Tapi juga cukup jujur untuk mengakui bahwa kita tidak cukup baik untuk menjadi pemimpin orang lain.

    Drama yang terjadi hari ini berbeda sama sekali. Anak-anak SD itu sudah dewasa. Mulai dari yang umur 20an sampai yang 50an, ramai-ramai ingin menjadi pemimpin. Anak-anak yang dulu tidak mau memimpin kelasnya ini, sekarang ingin menjadi pemimpin rakyat. Mereka bahkan akan terlegitimasi sebagai orang yang dipilih melalui pemilihan umum. Dipilih oleh rakyat. Kemajuan!

    Mungkin kita sudah berubah. Mungkin kita tidak lagi egois : kita sudah mau direpotkan urusan orang lain. Mungkin juga karena kita sudah tidak jujur : pantas gak pantas memimpin, bukan lagi masalah. Yang penting memimpin. Karena memimpin … ada bayarannya.

    Selamat datang 2017. Oh, asiknya jaman SD dahulu.

  • Pencarian Tuhan seorang Salman Al-Farisi r.a.

    Salman Al Farisi r.a. adalah orang Persia dengan postur tubuh tinggi besar dan tampan. Di sekolah kita belajar mengenainya sebagai Pahlawan Perang Khandaq: orang yang mengusulkan pembangunan parit pertahanan yang berhasil menghalau serangan pasukan Quraisy dan Ghathfan menuju Madinah. True! Tapi pernahkah kita bertanya-tanya bagaimana ceritanya orang Persia ini bisa berada di Madinah untuk membela Nabi?

    Ia berasal dari desa Ji’, daerah Isfahan (Iran), 1500 kilometer di sebelah timur laut Madinah. Di era itu, desanya dihuni oleh orang-orang beragama Majusi -para penyembah api. Ayah Salman adalah salah satu tetua agama Majusi. Bahkan, Salman sendiri adalah penjaga api peribadahan yang tidak boleh mati. Maklum, namanya juga anak tetua.

    Namun hidayah Allah SWT memang datang kepada siapa saja -di mana saja. Dalam perjalanan menuju ladang milik ayahnya, Salman tidak sengaja melewati sebuah gereja Nasrani dan tiba-tiba tertarik mengamati para pendeta yang sedang sembahyang di dalamnya. Sepanjang hari dia memperhatikan cara mereka beribadah, dan bertanya ini-itu pada orang-orang nasrani di sana. Ia penasaran dengan asal-usul dari mana agama ini berasal. Mereka menjawab, ‘Dari negeri Syam’. *Syam adalah sebutan lama untuk daerah yang sekarang kita kenal sebagai Lebanon, Palestina, Syiria dan Jordania. -sekitar 1000 km di sebelah barat desanya.

    Ini lebih baik dari agama Majusi yang kuanut selama ini’, katanya dalam hati. Sepulangnya dari sana, segera ia memberitahuukan kabar ini pada ayahnya, ‘Ayah, aku melewati suatu kaum yang sedang sembahyang di sebuah gereja. Aku tertarik pada cara sembahyang mereka. Menurutku agama mereka lebih baik daripada agama kita’. Tentu saja langsung terjadi perdebatan sengit antara mereka, yang berakhir dengan dikurungnya Salman.

    Beberapa waktu kemudian, dengan bantuan teman-teman nasraninya, Salman berhasil melepaskan diri dari kurungan dan melarikan diri ke Syam bersama sebuah rombongan kafilah dari Syam. Sesampainya di sana, ia tidak menunda-nunda waktu, langsung bertanya,’ Siapa ahli agama di sini?‘ Mereka menjawab, ‘Uskup, pengurus gereja‘. Ia segera menemuinya, belajar, sembahyang dan menjadi pelayan gereja. Sayangnya kebetulan uskup yang dia temui ternyata bukan orang yang baik. Uskup ini mengumpulkan uang sedekah yang kemudian malah digunakan untuk keperluan pribadinya. Namun hal ini tidak menjadi masalah berlarut-larut untuk Salman, karena tidak lama kemudian sang uskup meninggal dunia dan digantikan oleh seorang uskup baru yang lebih taat beragama, lebih mencintai akhirat, dan lebih zuhud dari dunia.

    Selama beberapa lama Salman berguru kepada uskup zuhud ini sampai akhirnya sang uskup meninggal dunia. Sebelum meninggal dunia, Salman yang sedang dalam misi mencari Tuhan, masih sempat menanyakan, ‘Sepeninggal tuan nanti, kepada siapa saya harus belajar? Apa yang harus aku perbuat?’. Uskup tua itu menjawab, ‘Anakku, aku tidak mengenal seorang pun di dunia yang menunaikan agama sepertiku, kecuali satu orang. Dia tinggal di Mosul’.

    Mosul terletak di Irak utara, sekitar 800 km dari Syam. Pergilah Salman ke sana, berguru pada pendeta di Mosul sampai pendeta tersebut tutup usia. Sebelum meninggal, pendeta Mosul ini menyuruh Salman untuk meneruskan pelajarannya dengan berguru pada seorang ahli ibadah di Nasibin. Dan berlanjutlah perjalanan spiritual Salman di sana sampai ahli ibadah tersebut juga meninggal dunia. Dari sana ia diperintahkan untuk berguru kepada seorang laki-laki di Amuria, Romawi. Sambil berguru, dia memenuhi kebutuhan sehari-harinya dengan berternak sapi dan kambing.

    Salman belajar banyak dari diri lelaki itu sampai akhirnya lelaki tua ini mendekati ajalnya. Sebelum meninggal dunia, Salman menanyakan kepadanya ‘Kepada siapa lagi aku harus belajar?‘. Namun ia menjawab, ‘Anakku, aku tidak tahu seorang pun yang masih setia di atas jalan yang kami tempuh, hingga aku memerintahkanmu untuk mengikutinya. Namun, saat ini tiba masanya diutusnya seorang nabi yang membawa risalah Nabi Ibrahim a.s. yang lurus. Ia akan hijrah ke suatu tempat yang ditumbuhi kurma dan terletak di antara dua bebatuan hitam. Jika engkau mampu pergi ke sana, lakukanlah. Ia mempunyai tanda-tanda yang jelas. Ia tidak menerima sedekah, tapi menerima hadiah. Sementara dipundaknya terdapat nada kenabian. Jika engkau melihatnya, pasti kau akan mengenalinya.

    Salman kemudian menukarkan sapi-sapi dan kambing-kambingnya pada sebuah kafilah dari Jazirah Arab, dengan syarat mereka mau mengikutkan dirinya dalam perjalanan ke Jazirah Arab. Kafilah arab ini menyetujuinya dan membawanya serta. Malangnya, setibanya di daerah Wadil Qura’, sekitar 12 km sebelum Madinah, orang-orang arab ini malah menjualnya sebagai budak pada seorang Yahudi di sana. Sejak itu, Salman kehilangan kemerdekaannya dan berstatus menjadi seorang budak. Bayangkan! Putra Tetua Esfahan, penjaga api abadi peribadatan kaum Majusi dari Persia, akhirnya terdampar di jazirah arab tanpa kemerdekaan.

    Beruntunglah Salman, rupanya semua kesialnnya, sebenarnya tidak lebih dari pada campur tangan Allah SWT. Karena majikan Yahudinya kemudian menjual dirinya pada pengusaha Yahudi lain dari Bani Quraizah yang tinggal di Madinah. Salman memiliki firasat baik ketika dirinya tiba di Madinah. ‘Demi Allah, sejak melihat negeri ini, aku yakin inilah negeri yang diceritakan pendeta kepadaku.’ Oleh karena itu Salman menahan diri dan terus bekerja di perkebunan kurma Bani Quraizah, menunggu hijrahnya Nabi seperti yang dikatakan oleh guru pendetanya di Amuria.

    Akhirnya hari itu datang juga. Nabi Muhammad SAW tiba dari perjalanan hijrahnya dan singgah di Quba, tidak jauh di pinggiran Madinah. Saat itu Salman sedang berada di atas pohon kurma, ketika datang sepupu majikannya yang membawa kabar, ‘Celakalah Bani Qailah. Mereka berkerumun mengelilingi seorang laki-laki di Quba. Ia datang dari Makkah dan mengaku sebagai nabi.‘ Badan Salman bergetar hebat, hampir saja ia terjatuh dari pohon kurma menimpa majikannya. Dengan terburu-buru dia bertanya, ‘Apa yang tuan katakan? Ada berita apa?’ Yang langsung dijawab tuannya dengan sebuah pukulan keras dan bentakan ‘Apa urusanmu dengan masalah ini? Pergi! Kembali bekerja!’.

    Salman kembali bekerja sambil menunggu hari petang. Sesudah itu dia mengumpulkan apa yang dimilikinya lalu berangkat ke Quba, 4 km di utara pusat kota Madinah. Dia memberanikan diri menemui orang yang mengaku nabi dan sehabat-sahabatnya. Dia kemudian memberikan kurma miliknya sambil berkata, ‘Kalian adalah orang asing yang tentu membutuhkan bantuan. Saya punya makanan yang saya siapkan untuk sedekah. Setelah mendengar keadaan kalian, saya pikir kalian layak menerimanya.’ Lalu dia menyuguhkan makanannya di hadapan tamu-tamu itu. Lalu Rasulullah berkata pada para sahabatnya, ‘Makanlah dengan menyebut nama Allah’. Namun dia sendiri diam -tidak menyentuh kurma-kurma tersebut. Salman langsung berpikir, ‘Demi Allah, ini suatu tanda yang disebutkan pendetanya: Dia tidak memakan sedekah.’

    Esok harinya Salman datang kembali membawa kembali buah kurma. Kali ini dia memberikan kurma tersebut sambil berkata, ‘Aku melihat Tuan tidak makan sedekah. Aku mempunyai sedikit makanan, dan aku akan merasa tersanjung jika kuberikan sebagai hadiah untuk Tuan.’ Kali itu Rasulullah bersabda pada para sahabatnya, ‘Makanlah dengan menyebut nama Allah’ –lalu makan bersama mereka. ‘Demi Allah, ini tanda kedua. Dia mau memakan hadiah’, pikir Salman.

    Selang beberapa lama, akhirnya Salman mendapatkan kesempatan untuk membuktikan tanda ke-3 yang dikatakan gurunya. Saat itu Nabi sedang berada di Pemakaman Baqi’. Beliau memakai dua helai kain, yang digunakan sebagai sarung dan baju. Sesudah mengucapkan salam, Salman langsung berputar berusaha melihat pundak Nabi mencari tanda kenabian yang dibicarakan oleh gurunya. Rupanya Nabi Muhammad SAW, mengerti maksud Salman. Beliau langsung menyingsingkan kain yang menutupi pundaknya. Dan di sana, tepat seperti kata gurunya, terlihat tanda tersebut. Salman Al-Farisi menangis dan memeluk Nabi, lalu terduduk dan menceritakan kisah hidupnya pada Rasulullah. Saat itu juga dia masuk Islam.

    Statusnya sebagai budak menghalanginya untuk ikut berperang dalam Perang Badar dan Perang Uhud. Nabi Muhammad kemudian menyarankannya untuk membuat ‘Mukatabah‘ (perjanjian memerdekakan budak oleh majikannya), yang kemudian ditebus oleh sahabat-sahabat rasul. Sejak itulah Salman mulai memperlihatkan kejeniusannya dalam taktik dan strategi. Dimulai dengan strategi penggalian parit dalam Perang Khandaq -lalu perang-perang lain selanjutnya.

    Salman Al-Farisi r.a adalah salah satu sahabat Rasul yang diberikan umur panjang. Kepandaiannya dalam ilmu dan strategi, hanya bisa diimbangi dengan sifat zuhud dan kesederhanaannya. Setelah Islam berhasil mencapai kejayaannya, Salman diangkat menjadi gubernur Madain, di mana dia menolak untuk mengambil gajinya yang sebesar 4.000 – 6.000 dirham per tahun. Dia memilih menghidupi dirinya dengan menganyam keranjang pelepah kurma dengan keuntungan 2 dirham per hari -itu pun dia sisihkan 1 dirham per hari sebagai sedekah.

    Sebagai orang yang menyaksikan banyak kematian guru-gurunya, Salman Al-Farisi sungguh memiliki akhir hayat yang indah. Ketika sakit menjelang ajal, ia meminta istrinya untuk mengambil hartanya yang berharga. Apakah barang itu? Rupanya harta berharga tersebut adalah seikat kesturi yang diperolehnya saat Penaklukan Jalula (sebuah daerah di Iraq) dari tangan Persia. Barang itu sengaja ia simpan untuk wewangian saat wafat nanti. Dia meminta istrinya untuk mencampurkan kesturi tersebut ke dalam air di dalam cangkir, lalu memercikkan air kesturi tersebut di sekelilingnya. Kali itu ia berkata, ‘Percikkanlah air ini di sekelilingku. Sekarang hadir di hadapanku makhluk Allah yang tiada dapat makan, tetapi gemar wewangian!’

    Tidak lama kemudian ruhnya berpisah dengan jasadnya -meninggalkan dunia. Perjalannya mencari agama yang lurus telah berakhir. Dia memenuhi janjinya untuk bertemu dengan Rasullullah dan kedua sahabatnya, Abu Bakar dan Umar. Untuk mempertanggungjawabkan kehidupannya di hadapan Sang Pencipta yang selalu dia cari sepanjang umur hidupnya di dunia.

    ———————————————-

    ditulis ulang dari kitab
    Rijal Haula Al Rasul

    Khalid Muhammad Khalid

     

  • Negara Nazi di Nias dan Tentara KNIL penjaga Sang Proklamator : Pengingat Bahwa Dunia Tidak Hitam-Putih

    Tahukan anda bahwa pernah ada kudeta NAZI di Indonesia di tahun 1942? Tidak lama sih, hanya selama hampir satu bulan saja -itu juga hanya di Pulau Nias. Rosihan Anwar pernah menuliskannya di buku Petite Histoire Indonesia jilid I. Jadi ceritanya begini. Setelah Negeri Belanda diserang penerjun payung NAZI tanggal 10 Mei 1940, pemerintahan Hindia Belanda segera mengamankan semua orang Jerman yang diketahui tinggal di wilayah Nusantara.

    Jangan salah, di wilayah Hindia Belanda memang banyak perantau Jerman mencari peruntungan. Mereka hidup berdampingan dengan orang eropa lain, dengan berprofesi sebagai dokter, pengusaha, manajer, guru sekolah, dan sebagainya. Kok bisa? Ya bisa lah. Tidak selamanya Belanda dan Jerman itu musuhan kan? Lagipula untuk para ‘perantau’ eropa ini, yang penting, mereka bisa hidup mendapatkan rejeki dengan tenang. Sebagian mencari uang, sementara sebagian lagi mencari ilham. Seperti Walter Spies, sang Pelukis yang sudah lama tinggal di Bali.

    Anyway, tidak peduli apakah orang Jerman di sini adalah pendukung Adolf Hitler atau justru musuhnya, semua orang Jerman ditangkapi dan diinternir. Bisa jadi, tentara KNIL Hindia Belanda saat itu harus menahan dokter giginya sendiri atau guru sekolah anaknya. Pada saat darurat perang, tampaknya sulit membedakan kawan dan lawan. Jadi yang penting semua diinternir dahulu. Yah … Mau diapain lagi? Itulah yang namanya perang.

    Poros ABCD (American, British, Chinese and Dutch) kemudian menyepakati bahwa sebagian tahanan Hindia Belanda akan dikirimkan ke koloni Inggris di India lewat jalur laut. Sayangnya, nasib kurang baik menimpa sebagian tahanan yang dikirimkan menggunakan kapal penumpang ‘Van Imhoff‘ pada tanggal 19 Maret 1942. Dalam perjalanan dari Sibolga menuju India, kapal laut ini dibom oleh pesawat pengintai Angkatan Laut Jepang. Apesnya, kapten kapal dan para penjaga tahanan malah kabur dengan hanya menitipkan kunci-kunci kamar kepada beberapa pemimpin interniran Jerman. Emangnya gampang mencocokkan kunci dan pintu kamar di dalam kapal yang sedang tenggelam? 

    Alhasil beberapa hari kemudian, hanya sekitar 65 interniran Jerman yang berhasil mencapai pantai-pantai Pulau Nias. Sisanya tenggelam ke dasar laut bersama Van Imhoff. Walter Spies, sang pemusik dan pelukis dari Bali, adalah salah satu korbannya.

    Seluruh interniran Jerman ini kemudian disekap di tangsi Gunung Sitoli oleh sekitar 40 orang polisi lapangan Hindia Belanda di Nias. Tapi penahanan mereka ini tidak berlangsung lama. Seminggu kemudian, dengan bekerja sama dengan para penjaga yang tidak puas, mereka berhasil meloloskan diri, menyerang balik polisi Belanda, dan memenangkan pertempuran. Giliran polisi-polisi Belanda lah yang berbalik diinternir oleh tahanannya sendiri. Kudeta telah terjadi di Nias.

    Mulai saat itulah Pulau Nias secara resmi berada di bawah kekuasaan Jerman. Mereka mengangkat seorang bernama Fischer untuk menjadi “Perdana Menteri” dan seorang dokter asal Bandung bernama Heidt untuk menjadi pemimpin mereka. Fischer bahkan berinisiatif membuat sebuah insinye (lencana) Swastika NAZI di Pulau Nias -tanda bahwa pulau tersebut berada di bawah kekuasaan sang Fuhrer.

    Barulah dua puluh hari kemudian, tanggal 17 April 1942, tentara Jepang datang untuk mengambil alih kekuasaan dari pemerintahan NAZI ‘dadakan’ tersebut -kemudian mengamankan sebagian orang Jerman ke tanah Jepang. Pasukan Jepang ini disambut dengan bendera-bendera, gerebang kehormatan dan lagu Indonesia Raya. Rakyat bersuka ria dengan datangnya bangsa penolong dari timur.

    Really??? Hanya butuh waktu beberapa bulan saja bagi rakyat Nias untuk menyadari bahwa ternyata sang penolong akan menjelma menjadi horror terburuk dalam sejarah Bangsa Indonesia. Belanda dan Jepang ternyata sama saja. Mereka masing-masing punya agenda sendiri, dan rakyat Nias adalah obyeknya -bukan pemeran utama.

    Anyway, Saya sangat tertarik dengan karakter dr. Heidt. Sehingga saya paksain cari tahu sedikit tentang si pemimpin interim NAZI di Nias tersebut. Soalnya kok aneh, ada dokter bisa jadi pemimpin kudeta NAZI? Sebuah kebetulan kah? Betulkah jaman doeloe ada seorang bernama dokter Heidt di Bandoeng?

    Tidak lama mencari, saya menemukan jawabannya di buku telepon Bandoeng (Telefoongids Bandoeng) terbitan tahun 1936. Ternyata memang ada seorang dokter yang tinggal di Bandung bernama Heidt. Nama lengkapnya Dr. K. Heidt. Dia rupanya dokter ahli THT yang tinggal di Burgemeester Kehrweg No 15, dekat tempat tinggal walikota. Dan menurut almarhum Rosihan Anwar, dia memang anggota partai NAZI Jerman. Bisa jadi dokter THT terpandang di Bandung tersebut, sejak lama merangkap sebagai mata-mata NAZI. Oh, keren banget kalau dijadikan film. Apalagi sejarah mencatat, dokter Heidt membunuh dirinya sendiri empat bulan setelah kudeta NAZI di Nias. Dalam pesan terakhirnya, dia mengatakan bahwa ‘dia tidak kuat lagi menahan rasa kesepian.’ Wah ….Tragis Banget! Kalau kejadian ini terjadi di tahun 2015, bisa kita bayangkan hebohnya headline di Vi** News, Piyu****, RM*L, Tole**n dan media-media gosip setara. 😀

    Sepenggal sejarah Nazi di Nias ini sering megingatkan saya akan sulitnya melihat kehidupan sebagai sesuatu yang hitam-putih. Manusia tidak pernah hitam-putih. Sehingga sejarah yang ditinggalkannya juga jarang berwarna hitam putih. Dalam kehidupan nyata, jagoan tidak pernah tampan sempurna, penjahat tidak selalu terlihat bengis. Menyimpulkan sesuatu secara kontas: black and white, sering kali akhirnya membuat kita gigit jari belakangan.

    Kejadian ini juga pernah terjadi pada seorang tentara KNIL muda yang ditempatkan di Bandung pada dekade terakhir kekuasaaan Koloni Belanda di Indonesia. Saya kenal dia secara tidak sengaja. Saat itu saya sedang jadi kuncen pameran foto dan pemutaran video Bandoeng Tempo Doeloe. Sesudah menonton film dokumenter bersama pengunjung lain, seorang kakek-kakek bule tiba-tiba mendekati saya sambil berkata “I probably killed your grand father, I was a dutch soldier back then.” Kaget saya dibuatnya. Ada kakek-kakek mengaku bahwa dia membunuh Aki Emon almarhum. “Ah ngaco nih bule. Kakek saya memang seorang TNI di jaman revolusi, tapi beliau meninggal waktu saya kelas 4 SD. Kakek saya yang mungkin membunuh komandan kamu“, gumam saya di dalam hati yang agak tersinggung.

    Tapi rasa tersinggung di hati saya tidak bertahan lama. Kakek ini memang terlihat tua, tapi masih cukup sehat untuk jalan sendiri dan bercerita sambil sesekali berkelakar. Dia kemudian nyerocos dalam bahasa Inggris. Dia bilang bahwa dia termasuk tentara asli dari Nederland yang dikirimakan ke Hindia Belanda. Berbeda dengan Belanda Indies, yang kulitnya putih tapi lahir di nusantara, bule asli Belanda cenderung lebih sombong dan merendahkan Inlander. Mereka menganggap bahwa semua Inlander adalah bodoh dan tidak berpendidikan. Jadi tidak mungkin lah mereka membiarkan sebuah negara bernama Indonesia merdeka. Siapa, orang bodoh, yang sanggup mengelola pemerintahan sebuah negara seluas ini?

    Kakek ganteng ini pada akhirnya mengaku bahwa dia mungkin salah. Ada satu orang Inlander yang berhasil mengubah persepsinya tentang kemampuan Bangsa Indonesia untuk mengelola negaranya sendiri. Waktu masih muda, dia kebetulan ditugaskan di Bandung untuk menjaga seorang tahanan politik. Tapol yang satu ini langganan masuk penjara, sekaligus langganan minta diantarkan buku ke dalam sel tahanan. Orangnya masih muda dan bisa berbicara beberapa bahasa dunia. Awalnya dia bingung, “Kok ada Inlader bisa sangat lancar berbahasa Belanda sekaligus lebih lancar berbahasa Inggris daripada dirinya yang orang eropa?

    Ternyata sebabnya adalah, berbeda dengan tentara muda yang jarang baca buku, Si Inlander kayaknya sudah pernah baca segala macam buku dengan berbagai topik yang pernah dituliskan manusia. Orang ini kutu buku merangkap singa podium. Walau sama-sama ganteng, secara intelektual, si kulit putih merasa lebih inferior dibandingkan si kulit coklat. Di dalam lingkungan sel penjara itu, dunia sudah terbalik.

    Soekarno is something“, dia bilang. Mereka berdua akhirnya sering berbicara di kala senggang. Soekarno yang umurnya lebih tua dan juga lebih berpengalaman, akhirnya sering ‘mengajari’ tentara muda ini tentang kehidupan dan dunia. Sebagai orang yang jarang membaca buku, tentara muda ini akhirnya menganggap sang tapol menjadi teman belajarnya. Tapol ganteng inilah yang kemudian meyakinkan si tentara muda bahwa Bangsa Indonesia layak diberikan kesempatan untuk merdeka. …. ckckckck …..Saya kagum, begitulah cara Soekarno meyakinkan lawannya -begitulah cara Soekarno memerdekakan Indonesia.

    Di akhir pembicaraan, kakek penjaga Soekarno ini bilang sesuatu yang menggelikan, “You know what? What I admire most about Soekarno is his taste of women. You HAVE TO listen to a man with a good taste of women.” *Pengen guling-guling saya mendengarnya. Dua bangsa ini lagi perang, sementara dua orang ini malah berbagi selera kecengan. Dunia memang tidak hitam putih. Orang yang ‘melihat’ dunia dengan kaca mata hitam-putih, mungkin ‘merasakan’ rasa ‘hitam-putih’ juga di hatinya. Gak mau ah.

    ———————————————

    *) Tulisan ini ditulis untuk anak-anak saya; Samudra (yang suka curi-curi baca blog saya), Sakti yang baru mulai belajar membaca, dan Arix yang kayaknya baru lima tahun lagi bisa baca. Santai aja, boys! The world is full of colors! Be Good, Enjoy it!

    *) Gambar becandaan “I was thinking of making the world black and white, then I thought ….. naaah” dipinjam dari www.quotespictures.com

  • JODOH ITU JOROK

    “Da kumaha atuh, nu ngarana jodoh mah jorok (Ya gimana lagi, yang namanya Jodoh itu Jorok *sundanesse)” kata kang Yerry Primadi suatu pagi ketika kita ngobrol tentang betapa tidak bisa diprediksinya suatu hal bernama ‘Jodoh’.

    Saya sendiri tidak pernah habis pikir bagaimana hati dua manusia bisa saling tarik menarik. Sampai-sampai sering membuat rasio kita ikutan reses, seperti anggota Dewan yang terhormat. Ada juga yang bilang bahwa semua orang sebenarnya pandai, kecuali di hadapan lembar ujian dan di hadapan kekasih. Akuilah … pernah terjadi juga sama kita semua kan?

    Saya pernah keceplosan menebak jodoh seorang teman. Ceritanya suatu hari, seorang teman baik saya pernah menelepon, menanyakan apakah saya punya teman yang bekerja di suatu kantor media terkenal di Jakarta. Kebetulan dia baru diterima di sana dan akan segera mulai bekerja. Saya bilang,”Oh iya, ada. Saya kenal Bang F. Dia kerja di sana juga”. Teman saya lalu minta dikenalkan. Entah kenapa saya kemudian nyeletuk #offside,”Eh, beneran lu mau dikenalin? Soalnya kayaknya berbahaya nih. Dia tipe lu banget. Jangan2 nanti lu jadian… hehehe”. …. Ternyata beberapa bulan kemudian mereka mengirimi saya undangan pernikahan. Betulan! Gak bohong.

    Bulan Oktober 2014 lalu,saya kenalan sama seorang pengusaha yang membuat situs perjodohan yang memilik algoritma kecocokan berdasarkan profil psikologi masing-masing member. Saking salutnya saya sama usahanya Razi Thalib​, malam harinya saya posting tentang situs tsb, www.setipe.com, di wall saya. Maksudnya sih iseng aja, karena sebenernya kabanyakan teman seangkatan saya udah pada menikah. Saya cuman sempat komen, sebaiknya jangan dipakai untuk cari istri ke-2 ya 🙂 Taunya di akhir bulan Desember, seorang sahabat lama saya, nulis pesan di timeline FB. Bunyinya kurang lebih, “Ben dateng ya ke pernikahan gue bulan Januari”. Ternyata sahabat lama saya ini beneran ngeklik tautan yang saya posting, membuat profil di sana, Kenalan sama orang -yang ternyata jodohnya! Dan nikah di bulan Januari 2015. Ajaib kan?

    Lebih ajaib lagi adalah cerita teman saya. Dia bilang kakak perempuannya nikah dengan laki-laki yang sebelumnya bertengkar di gedung parkir, gara-gara masalah parkiran mobil. Walau pertemuan pertama mereka adalah ‘pertengkaran’, ternyata lanjut ke pelaminan. Spektakuler, bukan?

    Memang sih, saya juga setuju sama pendapat yang menyarankan agar mencari jodoh sebaiknya di tempat-tempat yang baik. Di pengajian, di masjid, di kampus, di komunitas sosial, dll. Tapi ya kadang-kadang belahan diri kita muncul di tempat-tempat yang tidak terduga. Di luar skenario ideal! Kadang bukan cuman tempatnya yang tidak ideal. Situasi juga tidak ideal. Lebih parah lagi, si Jodoh nya pun tampak tidak ideal. Tapi percaya deh, tidak ada perempuan yang ideal untuk diri kita. Kita gak bisa ‘indent’ tipe perempuan ideal kepada Yang Maha Pencipta. Perempuan bukan Avanza. Kalau sayang sama perempuan, berarti harus siap ‘membangun’ dia seperti kita membangun motor klasik kesayangan. Bedanya sama motor klasik? Perempuan akan balik membangun kita. Begitu kurang lebih pengalaman saya. Tapi sayangya saya gak punya motor klasik. Jadi mungkin kurang bisa dipercaya nasihatnya.

    Gak terasa, hari ini saya dan Fanny​ genap 12 tahun menikah. Tadi siang saya belikan anak-anak satu box pizza besarr, karena kita gak mungkin merayakan ulang tahun pernikahan kali ini di luar rumah. 3 dari 5 anggota keluarga kami, termasuk si bayi Arix, masih harus di-‘karantina’ karena matanya diserang infeksi virus sejak tiga minggu yang lalu.

    Sambil makan Pizza, saya menjelaskan apa itu ‘anniversary’, yaitu peringatan hari pernikahan Mamah dan Papah. Kita juga jelaskan bahwa ibu dan bapaknya, berbeda dengan mereka yang saudara sedarah, sebelumnya adalah sepasang orang yang tidak saling kenal. Kita bertemu sesudah besar. Lalu memutuskan untuk hidup bersama dengan menikah. Si Samsam ngangguk, dia sudah cukup besar untuk mengerti konsep ‘menikah’. Si Sakti yang baru 5 tahun, kayaknya ngangguk-ngangguk karena tidak ingin diganggu. Untuk dia, pizza mungkin lebih menarik daripada obrolan soal pernikahan.

    Tiga puluh menit kemudian, Samsam dan Sakti ketawa-ketawa sambil membawa laptopnya ke depan saya yang sedang mengetik. Rupanya, setelah saya dan ibunya cerita tentang hari pernikahan kita, mereka sepakat mau membuatkan hadiah ‘kartu anniversary’ pakai CorelDraw. Yang membuat saya ketawa terbahak-bahak adalah gambar di pojok kiri. Si Samsam menggambarkan angkot hijau dengan gambar hati di atasnya. Rupanya saya udah kecolongan menceritakan di mana dulu kita berdua bertemu. Wahahaha … gak ideal banget tempatnya! Ah, sudahlah. Insyaallah yang penting bahagia lalu nanti masuk surga 😀

    ————————————–

  • Kalau bukan karena ibuku, mungkin pesawat itu sudah …..

    Saya yakin, puluhan penumpang pesawat Foker 28 itu pasti berpegangan erat pada pegangan kursi masing-masing. Pasti tidak banyak orang yang sempat berpikir jernih untuk segera mengambil posisi menunduk darurat seperti yang digambarkan di leflet penerbangan yang terselip di depan kursi masing-masing. Anak-anak kecil pasti meringis menahan tangis -membuat kusut suasana yang sebenarnya sudah kalut tanpa tangisan mereka. Dan detik-detik itu, semua orang tua di dalam pesawat pasti merasakan perasaan terburuk yang pernah ada di hati mereka : perasaan tidak berdaya untuk menyelamatkan nyawa anak-anaknya.

    Kecelakaan seperti ini memang tidak terduga. Cuaca saat itu cukup terang. Pesawat melayang gentle menuju runway. Ban menyentuh aspal tanpa hentakan yang berlebihan. Dalam skala 1:10, mungkin pendaratan itu layak diberi nilai 8. Penumpang-penumpang yang muslim, mungkin sudah melafalakan hamdalah di ujung lidahnya. Tapi beberapa detik kemudian terjadi bunyi patahan yang luar biasa keras yang diiringi dengan getaran hebat pada badan badan pesawat. Hamdallah di ujung lidah mungkin dengan cepat berubah menjadi seruan takbir.

    Tidak ada orang yang bakal menyangka bahwa ban pesawat yang baru saja menyentuh bandar udara Hasanudin Ujung Pandang itu bakal patah. Bukan meletus. Patah! Ban kanan pesawat buatan Belanda ini patah pada batang penyangganya. Yang membuat keadaan lebih buruk adalah -patahan ban yang ukurannya hampir sebesar mobil kecil ini kemudian mencelat ke belakang -merusak mesin kanan pesawat dan kembali memantul ke depan dan merusak ‘flaps‘ kanan pesawat (bagian sayap pesawat yang bisa bergerak naik turun). Dengan rusaknya mesin kanan dan flaps kanan pesawat, maka kemampuan pengereman pesawat bisa dikatakan tinggal separuhnya.

    Tapi cerita mereka belum berakhir. Nyawa mereka masih menggantung di lengan takdir Allah SWT -dan usaha dua orang yang duduk di kursi paling depan : Sang Pilot dan Co-Pilot. Kedua orang ini tahu sekali tanggung jawab yang disandarkan di bahu setiap penerbang. Mereka tahu, hanya mereka yang bisa membuat perbedaan pada akhir cerita ini.

    This is the moment. Ratusan kredit yang dilahap di dalam sekolah penerbang, puluhan jam simulator yang melelahkan, dan pengalaman yang terkumpul dari ratusan jam terbang di dalam kokpit -akhirnya akan menentukan putus tidaknya nyawa puluhan orang yang duduk tidak berdaya di belakang. Are they good enough? I don’t know.

    What I do know is : Tuhan Maha Pemurah. Hari itu, semua penumpang dititipkan pada dua orang terbaik-Nya. Sang Pilot dan Co-Pilot, dengan koordinasi yang mengagumkan, melakukan all the things ‘humanly possible’ untuk menyelamatkan jiwa semua manusia yang berada di pesawatnya. Mereka memutar balik arah putaran mesin yang tersisa, mengalihkan daya dorong mesin ke arah belakang. Sambil bersama-sama mengembangkan flaps untuk menambah daya henti pesawat. Dua orang ini memang layak duduk di kursi depan pesawat.

    Tapi ada satu hal lain yang juga membuat kisah ini lebih ngilu untuk dikenang. Pangkal batangan ban di sayap kanan yang menghujam aspal, memaksa pesawat membelok ke arah kanan -keluar dari runway. Di satu sisi, sisa patahan ini secara langsung membantu pesawat mengurangi kecepatannya, di sisi lain justru mengarahkan pesawat langsung ke arah menara komunikasi airport. Gawat! “Pesawat dengan ban patah menabrak menara komunikasi di Ujung Pandang.” begitu mungkin headline terburuk yang bisa saja diterbitkan esok harinya.

    Anyway, saya tidak ingat cerita selanjutnya. Kejadian ini terjadi belasan tahun yang lalu. Sudah agak lupa saya dengan detailnya. Yang jelas, headline ‘Pesawat menabrak tower’ itu tidak pernah dicetak. Yang ada adalah berita di RCTI tentang pesawat yang keluar dari runway dan berhenti beberapa puluh meter di depan menara bandara. “Wogh”, komentar saya malam itu. “Serem banget.” Anehnya pada pagi harinya, berita ini tidak muncul lagi di stasiun TV manapun. Begitu juga di berita siang dan sore. Aneh. Ada apa?

    Cerita ini menjadi lebih jelas ketika Si Co-Pilot pulang ke rumah ibunya dua hari kemudian.. Kebetulan saya juga sedang menginap di sana. Kaget juga saya, ketika kakak saya pulang ke rumah dengan tatapan mata yang agak kosong. Dia berkata dengan nada lurus, “Pesawat Arry hampir nabrak menara …..” Lalu dia masuk kamar mandi, ganti baju, kemudian makan malam sambil bercerita sepotong-sepotong tentang kecelakaan di Ujung Pandang. Dengkul saya ikut lemas. Ternyata pesawat yang saya lihat di TV kemarin adalah pesawat kakak saya.

    Saya masih sempat menemani kakak saya selama beberapa hari sesudah kecelakaan. Dia cerita bahwa semua kru pesawat tersebut di-grouded beberapa bulan kedepan. Semua kru juga harus bolak-balik ke psikolog perusahaan. Harus dipastikan bahwa tidak ada trauma menetap sebelum mereka semua mulai boleh terbang kembali. Saya bahkan sempat bertanya ,”Lu yakin mau terbang lagi?” Dia jawab .”Iya lah. Tapi nanti. Kalau udah diijinkan lagi. Sekarang sih istirahat dulu aja.” Kemudian saya berubah wujud menjadi tong sampah sementara untuk dia. Segala macam cerita menyeramkan dan istilah penerbangan dia guyurkan ke saya. Waduhh … epicscary. Menariknya, semakin sering saya mendengarkan dia, semakin saya yakin bahwa kakak saya adalah pilot yang luar biasa. Untung pesawat di Ujung Pandang itu dia yang bawa. Di tangan orang lain, mungkin menara di Ujung Pandang itu harus dibangun ulang. Well … selamat-tidak-selamat sih di tangan Allah. Tapi jalan keselamatan kadang-kadang dilewatkan Allah lewat manusia-manusia macam kakak saya ini.

    Tahu tidak? Seumur hidupnya, kakak saya ini cuman pernah punya satu cita-cita. Sejak dia dibelikan komik ‘Tanguy and Laverdure‘ oleh bapak saya (itu loh komik pilot militer perancis yang ganteng tea), dia sudah menentukan karirnya : kalau gede mau jadi pilot. Sejak itu pula Ibu saya tidak pernah mengijinkan dia makan permen terlalu banyak. Tidak seperti saya yang gerahamnya bolong-bolong -gigi dia mulus kayak menara gading. Kalau dia malas sikat gigi, Ibu saya selalu ngancam dengan kalimat “masih mau jadi pilot?”

    Dan emang dia kelihatan berbakat urusan terbang-terbangan ini. Saya adalah saksi bakat terpendamnya. Saya pernah melihat dia mendaratkan sebuah pesawat stealth dari Rusia sampai ke Balkan, dengan mesin yang rusak parah -tentu saja ini terjadi di dalam game simulasi komputer F117A. Jauh banget lah sama saya. Saya sih pakai mesin bagus aja ‘stall‘ melulu. Gak bakat.

    Pada dasarnya dia itu pintar, tapi juga nakal. Dia pernah di-skors tiga kali selama masa SMA. Satu -karena lempar-lempar makanan di dalam ruang kelas, dua -karena menyikut guru di lapangan basket (kata dia sih gak sengaja, *tau’ deh) dan yang ketiga karena pakai payung ketika upacara bendera (menurut saya sih ide jenius, tapi ternyata gak boleh menurut aturan sekolah). Dasar katro, eweuh gawe mun ceuk urang sunda mah. Tapi rekor skorsing dia yg luar biasa itu juga yang membuat saya dianggap sebagai anak yang lebih bageur dalam keluarga (saya cuman pernah di-skors dua kali jaman SMA -masih lebih baik). Ibu saya sabar sekali ya 🙂

    Ketika lulus SMA, tentu dia langsung melamar ke sekolah penerbang ternama milik pemerintah Indonesia. Dan benar saja, semua tes dia lewati dengan sukses. Singkat kata, dia akhirnya dapat surat penerimaan dari sekolah idamannya.

    Tapi bukan Indonesia kalau semua berjalan mulus -tanpa bumbu. Tiba-tiba dia dihubungi sekolahnya, lalu diminta untuk ikut satu tes lain. Tentu dia protes, kan dia sudah dapat surat penerimaan sekolah -kenapa juga harus dites lagi? Dengan mengkel, kakak saya datang ke tes ‘tambahan’ itu. Tes-nya culun : dia disuruh jalan lurus mengikuti garis di lantai. Sesudah itu disuruh pulang. Dia langsung punya firasat buruk, mana mungkin tes terakhir justru paling mudah. Pasti ada apa-apa.

    Benar saja. Beberapa hari kemudian dia diberi kabar bahwa dia tidak jadi diterima di sekolah sana tanpa alasan yang jelas. Kakak saya sangat terpukul. Dia memang tidak pernah mengakuinya, tapi saya bisa lihat dari cahaya di matanya. Berulang kali dia menelepon ke pejabat di departemen perhubungan untuk menanyakan alasan kenapa dia dicoret dari calon siswa penerbang. Semua menolak menjawab. Intinya keputusan sudah dibuat oleh negara. Kamu terima saja, boy! Begitulah kehidupan di jaman pak Harto. Piye kabare, Pa?

    Melihat anaknya hancur pelan-pelan, Ibu saya tidak bisa tinggal diam. Dia membuat surat pengaduan yang dialamatkan pada menteri perhubungan. Dia minta dibuatkan endorsement dari uwak saya yang sebenarnya pejabat pemerintah juga. Orang main kayu harus dilawan pakai kayu juga, -khas Orde Baru. Kali ini giliran ibu saya yang datang menghubungi pejabat departemen perhubungan. Dia mengancam, kalau dephub tidak bisa menjelaskan alasan mengapa anaknya ditolak, maka surat komplain ini akan langsung dikirimkan ke pak menteri. Karena diancam, akhirnya orang departemen perhubungan itu membuka alasan sebenarnya kenapa tiba-tiba muncul tes susulan dan perihal beberapa siswa yang tiba-tiba digugurkan dari penerimaan di sekolah penerbang itu. Alasannya adalah karena kakak saya tidak punya ‘backing’! Kemudian dia memperlihatkan buku yang berisi list calon siswa yang diterima, ada beberapa ‘tanda bintang’ pada beberapa nama di sana. Tanda bahwa nama itu titipan pejabat! Ohhh …. ini dia yang menyebabkan tiba-tiba kakak saya (dan beberapa calon siswa lain) ditendang keluar. Dia malah berkata begini ke ibu saya,”Aduuh … ibu kalau ibu punya backing begini (sambil menunjuk surat dari uwak saya), kenapa ibu tidak bilang dari awal.”

    Ibu saya yang sabar itu akhirnya naik pitam. Bapak Dephub itu diberi kuliah. “Keterlaluan. Saya kecewa pada Dephub. Anak-anak yang melamar di sekolah bapak itu adalah orang-orang yang suatu saat bertanggung jawab terhadap nyawa ribuan orang yang akan mereka terbangkan. Lalu bapak di sini memilih mereka berdasarkan berapa banyak bintang yang mem-backing anak tersebut? Bukan berdasarkan kemampuan dan kepantasan setiap siswa? Apa bapak tidak merasa bertanggung jawab juga terhadap nyawa penumpang pesawat di Indonesia? Keterlaluan!” Karena tidak puas atas jawaban Dephub, Ibu saya justru meyakinkan pada pejabat dephub tersebut bahwa surat kepada menteri justru harus diberikan, karena alasan dephub justru sangat tidak bisa diterima akal.

    Jelas saat itu, praktek backing membacking ini adalah sesuatu yang jamak terjadi di sana. Ancaman ibu saya membuat ‘si oknum’ kalang kabut. Dia memohon-mohon agar surat tersebut tidak perlu sampai ke tangan menteri. Dia mencoba memberikan solusi bagi kakak saya. Kakak saya akan dicarikan cara agar dapat untuk ikut test sekolah penerbang di tempat lain. Tapi berarti kakak saya harus mengikuti tes penerbang dari tahap awal lagi : tes bahasa inggris dan sebagainya. Ibu saya akhirnya memilih opsi kedua. Sebagai seorang ibu, dia merasa berkewajiban memberikan peluang yang adil bagi anaknya. Kebetulan ternyata ada tes penerbang lain di bawah sebuah perusahaan nasional. Mungkin ini akan lebih memberikan peluang yang adil untuk kakak saya.

    Benar saja, seperti karakter favoritnya -Tanguy, dia lewati semua tes penerbang tanpa tanpa masalah berarti. Dia kemudian berhak mendapatkan beasiswa puluhan ribu dolar untuk bersekolah di sebuah penerbang bergengsi di New Zealand. Dia lulus tepat waktu di sana. Mantan anak SMA yang terlalu sering di-skors itu menjelma menjadi murid teladan di bidangnya. Dia meraih predikat ‘Top Academic‘ and ‘2nd Best Flyers‘ di angkatannya. Pulang ke Indonesia dia langsung terikat kontrak 5 tahun dengan maskapai yang membiayainya sekolah ke NZ.

    Beberapa tahun kemudian dia duduk di kursi paling depan pesawat Fokker 28 menuju Ujung Pandang. Tuhan memilih dua orang terbaiknya untuk menghadapi takdir pahit hari itu. Dibutuhkan dua orang dengan kemampuan di atas rata-rata untuk menyelamatkan puluhan orang di kursi penumpang. Dibutuhkan orang yang mencintai pekerjaannya untuk dapat mengubah akhir cerita penerbangan itu. Bukan soerang anak pejabat teras atau orang dengan sebuah tanda bintang membacking namanya. Alhamdulillah, terima kasih Ibuku sayang. Kalau bukan karena kekerasan hati dirimu, mungkin … pagi itu headline berita koran-koran di Indonesia akan jauh lebih memilukan hati.

    —————

    ditulis untuk keluarga saya yang fabulous: bapak saya yang tenang tapi menghanyutkan, ibu saya : pegawai negeri yang benci korupsi -dan kakak saya yang mengajari saya cara untuk berkeras kepala: suatu hal yang dulu sulit saya lakukan.

    PS :

    *) hasil investigasi resmi menyebutkan batang ban pesawat naas tersebut patah diakibatkan ‘metal fatique’ / kelelahan metal. Kesalahan ada pada ground maintenance yang lalai mengganti batangan yang sudah lemah.

    *) berita kecelakaan ini hanya sempat masuk RCTI malam harinya. Semua kantor berita lain berhasil ditutup mulutnya oleh pemerintahan saat itu. Hal yang tidak mungkin terjadi di era sekarang. Bersyukurlah!

  • Samudra of My Own: note of an ‘unprepared father to be’

    I did quite well coping with the fact that my wife was pregnant and I have to prepare everything for the coming of our baby. We even bought two books on the subject of Pregnancy and Raising a Baby. I felt so much better when I finished reading those two books. Well, the Internet also help a lot. I can’t imagine how my father looked for such information in his time (or maybe he didn’t? .. being a very quiet and a calm man that he is).
    I think as my self as “an unprepared father to be”, because until the doctor said that my wife’s pregnant -I never really prepared anything for it. I virtually had no savings for the baby, I had no insurance, not to mention that I understand nothing about pregnancy and a pregnant wife -and the worst part is that in Indonesia you are on your own when it come to these things. The state doesn’t provide you with an insurance or a social security service (Indonesia’s State Insurance Policy/ the BPJS is finally available for general public 9 years after I had my first son, Red.), and nobody will believe me if I declare myself poor (a university graduate who drives a car declare himself as a poor? who’s gonna buy that?). Because the fact is I ain’t poor – I just forgot to save .. he he he .. sadly, I think most of us (father to be) did -most of us are “unprepared father to be”.Thanks God that I’m a fast learner and a good money saver. So I was able catch up and go to the doctor every single month for the next eight months. And also, bought nice expensive milk for my pregnant wife (which she resent .. ha ha).

    Here’s the picture of the baby in its second month

    Here is the USG picture of my baby in its second month Medical Encyclopedia wrote:  In this month, the heart starts to pump and the nervous system (including the brain and spinal cord) begins to develop. The 1 in (2.5 cm) long fetus has a complete cartilage skeleton, which is replaced by bone cells by month's end. Arms, legs and all of the major organs begin to appear. Facial features begin to form.

    Medical Encyclopedia wrote:
    In this month, the heart starts to pump and the nervous system
    (including the brain and spinal cord) begins to develop.
    The 1 in (2.5 cm) long fetus has a complete cartilage skeleton,
    which is replaced by bone cells by month’s end.
    Arms, legs and all of the major organs begin to appear. Facial features begin to form.

    That afternoon, it was the second time we saw our baby using that USG device -can you see the head (green) and the eyes (picture in the right)?. He is about the size of my thumb and I saw him swimming freely. My God, what a wonderful sight! We celebrate the moment by “makan sate ayam” (having indonesian chicken satay) before going back home. It was the best chicken satay I ever had.

    Talking about satay .. satay is a grilled sticked meat , much like a shaslick, which my wife would love to have anytime during her first three months pregnancy. Indonesian called these first three months as “bulan-bulan ngidam”. They are the harder months in having a pregnant wife. Woman’s sense of smell became so sensitive that they can smell steamed rice from hundreds of meters away -and saying that it stinks (rice? stinks? oh please!). Many of them don’t want to eat at all, luckily my wife wasn’t suffering to much from this “ngidam”symptoms. Every now and then she would refuse to eat anything except chicken satay, and satay became our regular diet. Thanks God that satay is a meal full of nutrition and protein, though I think it has too much carbon, but all and all I don’t have to worry too much about nutrition for my baby. Of course the doctor did give some food supplement and vitamins for her -which sometimes I also like to take (which made me gain about 8 kilograms in 8 months .. ).

    Here is the picture of his third month
    See him sitting there? (photo on the left)
    Medical Encyclopedia wrote: By now, the fetus has grown to 4 in (10 cm) and weighs a little more than an ounce (28 g). Now the major blood vessels and the roof of the mouth are almost completed, as the face starts to take on a more recognizably human appearance. Fingers and toes appear. All the major organs are now beginning to form; the kidneys are now functional and the four chambers of the heart are complete.
    Medical Encyclopedia wrote:
    By now, the fetus has grown to 4 in (10 cm) and weighs a little more than an ounce (28 g).
    Now the major blood vessels and the roof of the mouth are almost completed,
    as the face starts to take on a more recognizably human appearance. Fingers and toes appear.
    All the major organs are now beginning to form;
    the kidneys are now functional and the four chambers of the heart are complete.

    In this third month, somehow the lady doctor was able to see what I couldn’t. That afternoon after looking briefly to the USG monitor she said ,”Well, sir. It’s a he”. I wouldn’t lie by saying I wasn’t delighted. I was always wanted a son for my first child, although at the same time I was also saying to everybody that it doesn’t matter to me whether it was going to be a boy or a girl -I guess every parents wouldn’t want to be seen disappointed if they found out that the child they’re going to have is not in the sex they expected ( i had a hard time writing this in English, but you got what i meant , do you?). And don’t get me wrong, I’d love a little girl too -I guess. But I felt I would be a better father if I had a baby boy first -at least I know what a boy would love to play with his father. Did I mention that I only had a big brother in my family? That, i guess, had something to do with my wish to have a baby boy as my first child.

    the forth month
    Medical Encyclopedia wrote: The fetus begins to kick and swallow, although most women still can't feel the baby move at this point. Now 4 oz (112 g), the fetus can hear and urinate, and has established sleep-wake cycles. All organs are now fully formed, although they will continue to grow for the next five months. The fetus has skin, eyebrows, and hair.
    Medical Encyclopedia wrote:
    The fetus begins to kick and swallow, although most women still can’t feel the baby move at this point.
    Now 4 oz (112 g), the fetus can hear and urinate, and has established sleep-wake cycles.
    All organs are now fully formed, although they will continue to grow for the next five months.
    The fetus has skin, eyebrows, and hair.
    The baby was so much bigger in its forth month. If you look hard enough you could see his face silhouette in the USG print above. I remember trying to feel its kick and punch on my wife’s tummy. It was a bit hard since it was still too weak to be felt by an outside hands, but his mother was able to feel it -and just knowing it was kicking its mother made me feel super.
    On his fourth month we held a “syukuran empat bulanan”. It is a custom of Indonesian muslim to thank God for blowing His holy spirit into the baby’s body. We believe he’s finally a human being at the time -a person with a body and a soul which I should give the same respect I gave to other human being. I also remember that I had to lead the prayer my self since I had nobody else to do it for me. Man, I fell like a father already!

    The fifth month

    Medical Encyclopedia wrote: Now weighing up to a 1 lb (454 g) and measuring 8–12 in (20–30 cm), the fetus experiences rapid growth as its internal organs continue to grow. At this point, the mother may feel her baby move, and she can hear the heartbeat with a stethoscope
    Medical Encyclopedia wrote:
    Now weighing up to a 1 lb (454 g) and measuring 8–12 in (20–30 cm),
    the fetus experiences rapid growth as its internal organs continue to grow.
    At this point, the mother may feel her baby move,
    and she can hear the heartbeat with a stethoscope
    We could see his spine and I felt that he is big enough to have a conversation with his father. We talked about the world, about Indonesia, about happy we are for him, and about how cruel life could be. I never knew if he could hear my voice -or he could understand what I was saying, for that matter. But I guess I needed to talk to him. Well, we all talked to cats or dogs once in a while – and that doesn’t make you a “cuckoo”, right?

    The sixth month
    Medical Encyclopedia wrote: Even though its lungs are not fully developed, a fetus born during this month can survive with intensive care. Weighing 1–1.5 lb (454–681 g), the fetus is red, wrinkly, and covered with fine hair all over its body. The fetus will grow very fast during this month as its organs continue to develop.
    Medical Encyclopedia wrote:
    Even though its lungs are not fully developed,
    a fetus born during this month can survive with intensive care.
    Weighing 1–1.5 lb (454–681 g), the fetus is red, wrinkly,
    and covered with fine hair all over its body.
    The fetus will grow very fast during this month as its organs continue to develop.

    It was our first time to see his face -close up (see green area on above picture). “Is he going to look like me or like his mother?”, that’s the first thing that came up into my mind. Is there going to be another person who look just like me in the world? I beginning to feel excited and yet so relax. This pregnancy thing turned up to be a joyride after all. After six months, the fetus had grown much stronger that we didn’t have to worry too much about miscarriage and stuff like that. I also feel that the baby had really became a part of the family and I kinda got used to all these things.

    the seventh month
    Medical Encyclopedia wrote: There is a better chance that a fetus born during this month will survive. The fetus continues to grow rapidly, and may weigh as much as 3 lb (1.3 kg) by now. Now the fetus can suck its thumb and look around its watery womb with open eyes.
    Medical Encyclopedia wrote:
    There is a better chance that a fetus born during this month will survive.
    The fetus continues to grow rapidly, and may weigh as much as 3 lb (1.3 kg) by now.
    Now the fetus can suck its thumb and look around its watery womb with open eyes.

    My son had grown so big that he wouldn’t fit into the USG monitor -all you’d see in the monitor is one big mass of something which is constantly moving. Doctor Sophie her self seemed to be interested in measuring the size of the baby’s head for some reason. I believe the baby was supposed to had developed some sort of intelligence by then, because whenever I press my finger on my wife’s tummy -he’d kick or punch back (my very first lessons on self defense technique to him If somebody is pushing you around -kick him back! .. ha ha ha)

    The Eight Month
    Medical Encyclopedia wrote: Growth continues but slows down as the baby begins to take up most of the room inside the uterus. Now weighing 4–5 lbs (1.8–2.3 kg) and measuring 16–18 in (40–45 cm) long, the fetus may at this time prepare for delivery next month by moving into the head-down position.
    Medical Encyclopedia wrote:
    Growth continues but slows down
    as the baby begins to take up most of the room inside the uterus.
    Now weighing 4–5 lbs (1.8–2.3 kg) and measuring 16–18 in (40–45 cm) long,
    the fetus may at this time prepare for delivery next month by moving into the head-down position.

    Doctor Sophie predicted that my wife was going to give birth to my son in her eight and a half month of her pregnancy. This is due to the medical history of her mother and her sister who also gave birth during their 8,5 month of their pregnancy. Meaning that I must prepare everything by the eight month .. a.k.a baby stuff shopping week! First of all, we created a long list of baby’s needs: clothes, hats, socks, mittens, shoes, blankets, pillows, bed sheets, milk bottles, diapers, and so on and so on. Then we went to the nearest baby shop and buy those stuff on the list. The good thing is we didn’t find to much problem shopping since we are both aren’t shopaholic -we did it fast and accurate 🙂

    A much bigger problem is choosing which hospital for the delivery.Doctor Sophie gave us a list of hospitals for us to choose -complete with the price list, list of practicing doctors, etc. All good ones are of course expensive while choosing a cheap one somehow would be a bit risky (so we thought -we’re so rookies!). We did some survey directly to some of the hospital to make sure that what they wrote on the brochures are true and updated. Finally we chose Hermina Mother and Baby Hospital which was the closest one to our house. It was a brand new hospital where doctor Sophie also practice as a gynecologist. After all the preparation was set, all we needed to do was to wait -but waiting was probably the most exhausting and brain-draining activity of all. I wish I could skipped the waiting if I had to do all over again. I just couldn’t wait to meet my Baby Samudra!

  • KETIKA SAYA TAKUT MEMEGANG AL QURAN

    Untuk saya, Masjid Nabawi di Madinah memberikan suatu memori yang tidak mudah dilupakan. Menginjaknya untuk pertama kali saja sudah membuat hati saya leyur seperti es krim yang dipandangi terlalu lama. Imajinasi saya tentang pengorbanan Nabi dan sahabatnya menegakkan agama yang saya peluk, terlalu besar untuk hati saya yang kecil ini. Wajar kalau air mata saya sering membasahi karpet hijau tempat saya sujud. Ah biarlah … muslim tinggi besar dari Afrika pun sering saya lihat menyapu matanya kalau berdoa di sana. “Kalau mau merasakan sifat Ar Rahman dan Ar Rahim dari Allah SWT, berlama-lamalah di dalam Masjid Nabawi”, itu kesimpulan singkat saya tentang the Great Green Mosque.

    Tapi saya punya satu kenangan personal lain di dalamnya. Di masjid itulah saya pernah merasa terlalu kotor untuk memegang Al Quran. Jangankan untuk memegang dan membaca Al Quran di dalamnya, untuk memasuki pintu masjid saja saya sempat merasa tidak layak. Hehe … dasar manusia.

    Ya, selama hampir satu jam, saya sempat takut melewati gerbang Nabawi. Satu jam itu adalah satu jam yang luar biasa menyiksa bagi saya. Satu jam penuh perasaan bodoh, sombong, dan bingung. Baru pertama kali saya merasa sekecil itu.

    Kalau tidak salah itu adalah hari kedua saya di Madinah. Sama seperti muslim lain di sana, kerjaan saya adalah keluar masuk masjid, sholat, mengaji, baca al quran, dan memanjatkan doa pada Sang Pengasih. Perlu saya akui bahwa saya termasuk orang yang ngajinya selow. Pelan karena memang tidak terlalu pandai. Sampai Ashar sore itu, sesudah hampir dua hari di sana, saya baru mengaji sampai surat Al Baqoroh ayat 91. Tapi saya sangat menikmati setiap ayat yang saya baca. Saya sering mengaji menggunakan Al Quran yang banyak tersedia di dalam masjid, lalu saya baca artinya di dalam Aplikasi iQuran di dalam handphone saya. Tidak lupa saya bookmark ayat terakhir yang saya baca di dalam HP, agar sesudah sholat nanti saya tahu musti melanjutkan ke ayat berapa.

    Mulai hari kedua, memang saya sering datang lebih cepat ke masjid agar bisa mengaji dan sholat di shaf-shaf depan, di lokasi Masjid Nabawi yang asli, di samping Raudhah. Rasanya memang beda jika sholat menghadap langsung ke mimbar di mana dulu Nabi Muhammad SAW mengimami muslim-muslim pertama -empat belas abad yang lalu.

    Sayangnya sore itu saya agak terlambat datang ke Masjid. Walau waktu maghrib masih agak lama, rupanya shaf-shaf di samping Raudhah sudah penuh jamaah yang lain. Seharusnya saya berhenti di sana dan shalat di shaf-shaf tengah. Tapi rupanya saya masih terlalu nakal untuk tau diri, ngalah, lalu sholat di shaf yang kosong. Si Benben ini malah merangsek ke depan, lalu berdiri di dekat tiang-tiang penyangga masjid, menunggu dan berharap nanti ketika Azan berkumandang akan ada ruang sedikit untuk sholat di antara jamaah lain yang lebih dulu berada di sana.

    Semakin mendekati waktu maghrib, saya baru sadar bahwa itu adalah ide buruk. Semakin sore-semakin banyak orang yang datang. Bahkan ketika Adzan Maghrib berkumandang, saya lihat semua shaf penuh tanpa menyisakan ruang shalat untuk diri saya -di shaf manapun. “Waduh gawat”’ pikir saya. Kalau begini ceritanya, saya harus segera keluar dari masjid. Soalnya begitu imam takbiratul ihram, maka ruang-ruang sujud di depan jamaah lain haram untuk saya injak. Tergopoh-gopohlah saya berjalan cepat menuju pintu keluar, berharap di luar pasti ada ruang untuk satu jamaah lain.

    PRAKKKK! Malang sekali saudara-saudara. Kaki kanan saya yang setengah berlari ternyata menendang sesuatu di hadapan seorang jamaah yang nampaknya berasal dari Turki. Tidak tanggung-tanggung, saya menendang Al Quran dan buku-buku lain miliknya. Duh …. hati saya menciut..ut..ut.. ut. Sebenarnya muslim turki itu cukup baik hati untuk memaafkan saya yang panik meminta maaf sambil membantu mengumpulkan kitab-kitabnya yang berserakan. Bukan! Hati saya bukan menciut karena takut pada si Turki. Hati saya nyaris raib dari badan, karena saya merasa bersalah menendang Kitabullah di dalam Masjid Nabawi. Dan itu semua terjadi karena saya memaksa ingin shalat di shaf depan. Padahal saya ingat sekali ajaran guru agama saya dulu: bahwa sebenarnya Nabi Muhammad tidak menyukai prilaku seorang muslim yang telat tapi sok ingin sholat di shaf depan.

    Akhirnya dengan hati galau, saya sholat di dekat pintu kanan depan Masjid Nabawi. Masya Allah, gak tenang hati saya selama shalat maghrib itu. Terbayang terus Al Quran yang saya tendang. Sehingga sesudah shalat maghrib, saya melipir keluar masjid dan duduk di teras kanan Masjid. Saya sumuk sendirian di antara orang-orang lain yang shalat, berdoa dan mengaji di teras. Mau shalat sunah gak khusyu, mau berdoa gak fokus, mau ngaji malah takut megang Al Quran –merasa gak layak. Sempat terpikir untuk kembali ke hotel, tapi saya urungkan niat karena tidak lama lagi kan waktunya shalat isya.

    Mungkin bagi orang lain, kelakuan saya ini menggelikan. ‘Toh saya gak sengaja nendang Al Quran, biasa aja atuh laah. Jangan Lebay’. Tapi bro, gak tau kenapa, rasa bersalah itu asli. Kayak diri kita tertangkap basah nabrakin mobil kita ke pager rumah presiden. Akhirnya saya celingak celinguk gak jelas, ngeliatin orang lain shalat dan berdoa –sambil mengutuki diri sendiri.

    Lama memperhatikan orang lain shalat, akhirnya saya sadar sendiri. Saya kan sedang berada di rumah Allah SWT. Allah yang mengundang saya ke sana. Gak mungkin saya berada di sana, kalau bukan karena izinNya. Kalau berbuat salah sama tuan rumah, yang harus dilakukan si tamu ya sederhana …. minta maaf sama yang punya rumah. Langsung saya buka HP. Buka www dot google dot com, lalu ngetik ‘Shalat Taubat’.

    Setelah shalat taubat 6 rakaat dan sujud agak lama, saya baru berani masuk kembali ke dalam masjid, walau memang masih agak gamang sedikit. Saya duduk tidak jauh dari tempat saya menendang Al Quran sebelumnya. Terbayang lagi insiden saat maghrib tadi. Tapi ah sudahlah … saya sudah shalat taubat, mungkin Allah SWT sudah memaafkan saya. Sambil menunggu Adzan Isya, lebih baik saya meneruskan mengaji lagi. Jadi saya mendekati rak di tiang masjid dan mengambil salah satu Al Quran yang ada di sana.

    Pada saat itulah terjadi ‘kebetulan yang luar biasa’. Setiap Al Quran punya pita bookmark, kan? Nah, saya refleks membuka Al Quran tsb dengan membuka halaman yang ditandai pita bookmark. Seperti biasa, saya juga membuka applikasi iQuran di HP saya untuk mencari bookmark ayat terakhir yang saya baca sesudah shalat ashar (sepanjang maghrib kan saya gak berani pegang Al Quran). Ternyata … ‪#‎JengJeng‬ … bookmark di aplikasi iQuran (HP) dan bookmark di Al Quran (yang entah sebelumnya dibaca oleh siapa), menunjukkan ayat yang sama. Yaitu ayat terakhir yang saya baca sesudah shalat Ashar : Al Baqoroh ayat 91!

    Mungkin saja sih itu kebetulan: kebetulan orang yang sebelumnya mengaji menggunakan Al Quran tsb juga berhenti di Al Baqoroh 91 (woow, kebetulan satu banding sejuta). Tapi jelas, ‘kebetulan’ itu membuat hati saya lega. Seakan-akan Allah SWT lah yang langsung memberi tanda kepada saya untuk terus mengaji dan tidak perlu merasa tidak layak untuk membaca Al Quran -seberapa rendahpun saya menilai diri saya.

    Subhanallah, Alhamdulillah. Terima kasih, Ya Ghofur. Gak akan lagi saya maju-maju ke shaf depan di masjid kalau datang terlambat. Apalagi pakai tendang-tendang Al Quran segala. Bantu saya agar lebih rajin baca Al Quran, Ya Rabb. Aamiin.

    —————-
    cerita ini ditulis gara-gara ngobrol malam dengan adikku Diana Novianty. Maafkan belum pernah cerita tentang kejadian ini sama istriku Fanny Bratakusuma

  • MALAIKAT AJA DIMUSUHIN SAMA IBLIS

    Bulan belakangan ini beberapa kali diskusi sama seorang pejabat teras negara yang menduduki ‘hot seat’ -yang kayaknya gak bakal nyaman bagi sebagian besar orang. Maklum dulunya kursi itu diduduki orang yang sering jadi bulan-bulanan bully warga republik sosmed nusantara.

    Dia, dulunya adalah direktur dari perusahaan-perusahaan besar di republik, jadi kerjanya ngebut, komunikasinya lancar-egaliter dan cepat sekali membuat keputusan. Plus dengan latar belakang sebagai orang Bandung, orang ini lumayan kreatif pula. Maka di suatu rapat, saya iseng nanya ,”Pak apa gak khawatir dengan segala inisiatif (positif) bapak, malah nanti bapak diserang kanan-kiri sama orang-orang yang lembam? Itu loh orang-orang yang gak suka sama perubahan. Orang-orang yang tidak puas”.

    Si dia nyengir. Saya ikutan nyengir, berusaha se-level sama orang yang nyengir. Lalu dia bilang bahwa sebagai pejabat publik dengan ratusan juta orang bergantung pada dirinya, maka dia harus bekerja berdasarkan prinsip ‘THE GREATEST GOOD for THE GREATEST NUMBER’. Wah bapak ini ‘sekolah’-nya mirip saya! Kita sama-sama belajar ilmu turunan dari Utilitarianism (http://en.wikipedia.org/wiki/Utilitarianism).

    Saya sih belajar ilmu turunan praktisnya, namanya Anthropometri dan Ergonomi. Bapak ini bukan desainer, jadi mungkin belajar ilmu turunan yang lain, mungkin legislasi atau prinsip moral.Utilitarianism jadi fondasi dari ilmu perancangan produk yang akan dipakai oleh orang banyak (random people). Contoh : Kursi di dalam bis! Benda ini akan dipakai oleh segala jenis orang; laki-laki, perempuan, anak SD-SMP-SMA, nenek-nenek, mahasiswa yang sedang galau, pemain basket yang super jangkung, dan berbagai jenis manusia lain dengan segala ukuran dan kelakuannya. Lalu muncul satu pertanyaan dasar antropometris-ergonomis: “Berapa seharusnya tinggi kursi bis tersebut?”. Kalau saya buat tinggi, nanti anak SD gak bisa naik ke atasnya dong? Kalau saya buat pendek agar anak SD nyaman, kasihan om-om yang atlet basket tadi dong? Kalau dibuat warna hijau terang polkadot pasti anak TK akan lebih bahagia, tapi buruh pabrik yang naik bis yang sama mungkin akan men-demo saya (lebay gini gw). Enggak lah, buruh pabrik masih kalah banyak demo kok sama koki masak wink emotikon

    Intinya hampir tidak mungkin membuat one design for all. Jadi ilmu ergonomi dan antropometri mensyaratkan kita melakukan studi mengenai siapa sebenarnya pengguna yang akan paling banyak/sering duduk di atas kursi bis itu. Setelah dapat prosentase/jumlah pengguna, baru kita menentukan tinggi rancangan kursi menggunakan prinsip ‘the greatest good for the greatest number’ -dalam ergonomi diatur dalam bentuk ‘percentile’.
    Misalnya kalau memang banyak anak sekolah yang pakai, maka kita bisa rancang agar kursi ini agak pendek. Sehingga anak sekolah bisa duduk di atasnya tanpa kakinya menggantung, ibu-ibu masih cukup nyaman juga, bahkan pemain basket (walau tidak terlalu nyaman) tetap bisa duduk di atasnya dengan kaki agak nyelonjor. Bisa sih kita pakai sistem adjustable, tapi itu bis nanti harganya bakal selangit. Tetep aja si desainer akan dicaci maki DPRD dan republik sosmed … heheh.

    Prinsip Utilitarianism juga dipergunakan dalam legislasi, pembuatan hukum. Kebayang kan kalau hukum harus memuaskan semua orang? Kapan jadinya? Setebel apa kitabnya? Maka prinsip The Greatest Good of The Greatest Number (terpaksa) harus dipakai. (Tetap) untuk kemudian disempurnakan agar lebih banyak orang lagi yang mendapatkan kebaikan dari undang-undang tersebut. Tapi …. ya butuh waktu untuk sampai ke sana.

    Kebali ke pertanyaan awal, bagaimana kalau ada orang-orang yang tidak puas dan memprotes kebijakan atau rancangan yang (belum) sempurna tersebut? Ini jawaban bapak pejabat teras, ”Selama saya berniat baik, saya harus berani membuat keputusan dan menggerakan pembangunan, pasti akan ada orang yang tidak setuju pada saya. Tapi gak apa-apa lah, Malaikat aja dimusuhin sama Iblis, kok”. Wahahahah …sepakat, pak. Jangan sampai kritikan-kritikan yang pedas membuat kita berhenti berbuat baik. Belum tentu juga semua yang kritik itu niatnya baik. Kita nih manusia, do our best aja lah.