Blog

  • Rasio Kelahiran Bayi Laki-laki dan Perempuan. Siapa yang ngatur?

    Rasio perbandingan kelahiran bayi laki-laki dan perempuan di seluruh dunia adalah 101:100. Jadi ada satu anak laki-laki lebih banyak dibandingkan anak perempuan pada setiap 101 kelahiran. Tentu saja, ini tidak berlaku di keluarga saya, perbandingan di keluarga saya sih 3:0 … 🙂

    Btw, hal ini juga tidak berlaku sama rata di seluruh dunia. Di Eropa, Amerika dan Australia lebih banyak populasi perempuan, sementara di dataran Asia ada lebih banyak laki-laki. Indonesia adalah satu dari sedikit negara yg populasinya dianggap seimbang/sama banyak. *) jadi gak banyak alasan utk menjomblo 😉

    Walau lebih banyak lahir bayi laki-laki, ternyata perempuan umumnya lebih panjang umur. Sehingga di golongan manula rasionya justru terbalik, lebih banyak jumlah perempuan.

    Para peneliti menemukan bahwa ternyata laki-laki lebih sering mengidap penyakit seperti tekanan darah tinggi dan jantung. Lalu tentu saja populasi laki-laki akan menurun setiap terjadi perang. Menariknya adalah ada beberapa hasil penelitian yg menunjukkan bahwa wanita akan lebih banyak melahirkan bayi laki-laki pada saat perang. Seakan-akan ada semacam ‘kesadaran kolektif’, untuk kembali menyeimbangkan proporsi laki-laki dan perempuan.

    Banyak hal lain yg bisa mengubah proporsi ini. Misalnya naiknya temperatur lingkungan yang cenderung akan menaikkan kelahiran bayi laki-laki. Sementara rupanya ekonomi negara yg maju akan memperbanyak kelahiran bayi perempuan. Aneh ya ?

    Sampai sekarang rupanya para peneliti belum bisa menjelaskan secara pasti kenapa proporsi (kurang lebih) 50:50 itu selalu terjaga. Jelas bahwa jumlah kromosom X dan Y yang seimbang pada mamalia memiliki peran. Tapi kenapa proporsinya agak berbeda pada setiap ras, negara, bahkan pada masa dan situasi2 tertentu? Siapa yang ngatur?

    *) edisi baca Wikipedia di malam senin
    *) Repost status Fb tahun lalu

  • Anugerah Teman Yang Nakal

    Belakangan ini saya dan istri sedang menimbang-nimbang apakah akan memasukkan Si Sulung Samsam ke SMP negeri atau ke SMP swasta. Di satu sisi SMP swasta menjanjikan lingkungan yang lebih steril, fasilitas yang lebih baik dan rasio guru-murid yang lebih kecil, sementara di sisi lain SMP negeri dengan segala macam kelebihan dan kekurangannya -juga menjanjikan lingkungan pergaulan yang lebih luas dan beragam. Sebenarnya kami cenderung memilih sekolah negeri, karena kami berpikir bahwa sudah saatnya Samsam memiliki pergaulan yang lebih beragam. Tetap dengan rasa was-was juga : “Pergaulan remaja Bandung sekarang seperti apa ya?”. Sehingga tercetuslah nasihat istri saya pada si Sulung “Nanti kalau Samsam sudah SMP, berteman dengan teman-teman yang baik-baik ya!” Seketika itu saya mengiyakan nasihat istri saya. Walau kemudian memori saya langsung melayang pada masa-masa SMP dan SMA saya di Jakarta. Apa iya, dulu saya punya teman-teman yang baik-baik? Coba diingat-ingat dulu. Hmmm…

    Ternyata iya. Kebanyakan teman saya ternyata adalah anak baik-baik. Saya punya beberapa sahabat dan teman dekat -dan kebanyakan dari mereka memang anak baik. Errr … kalau dibilang baik banget-banget sih enggak juga … mereka nakal juga. Tetap saja kita sering coret-coret grafiti di belakang kursi supir bajaj, nulis rumus kebetan di meja sekolah atau beberapa kali bolos sekolah demi maen gak jelas. Tapi masih batas normal anak remaja lah. *iya gituh?

    Saya ini besar di dua kota yang kontras. Sampai kelas 4 SD saya besar di Kota Bandung era mid 80s. Bersekolah di sekolah swasta yang penuh disiplin dengan latar belakang kota yang sejuk, nyaman dan aman. Sejak kelas 5 SD sampai lulus SMA, saya tumbuh dewasa di Jakarta. Saat itu, mulailah babak kehidupan saya di sekolah negeri kota metropolitan, yang panas, penuh emosi, modern dan heterogen.

    Beda dengan teman-teman SD di Bandung yang homogen, di mana saya kenal baik sampai kakak-adik dan ibu-bapaknya. (wajar sih, karena mereka tetangga rumah saya juga). Teman-teman di Jakarta lebih heterogen dan berasal dari latar belakang keluarga yang sangat berbeda dengan saya. Di Jakarta saya punya beragam teman -dari yang bapaknya pemulung, sampai yang bapaknya petinggi PSSI. Campur aduk dalam sebuah kelas bagai pasar tumpah yang membuat kangen.

    Dari semua teman di Jakarta, saya punya dua orang teman yang sampai sekarang tetap terasa spesial. Dua teman saya ini mungkin masuk definisi nakal dalam kamus umum bahasa indonesia. Dua-duanya sempat jadi teman baik saya. Dua-duanya ditakutin sama teman-teman satu sekolah. Dua-duanya juga ikut mengajari saya tentang apa sebenarnya artinya seorang teman.

    Ketika duduk di bangku SMP, ada seorang siswa tinggi besar yang umurnya pun (konon) lebih tua dari pada kebanyakan teman sekelas. Rex namanya (saya gak pake nama sebenarnya ya, tapi teman-teman saya pasti tahu siapa dia lah). Waktu saya belum punya kumis, dia sudah punya kumis tipis agak lebat. Waktu kaki saya masih mulus, bulu kaki dia sudah mulai ikal-ikal keriting. Waktu saya masih takut sama preman pasar, dia udah ditakutin sama preman pasar. Hebat enggak?

    Suatu siang dia bilang sama saya, “Ben, lu besok maen ke rumah gue ya. Gue minta diajarin matematika -sambil maen Nintendo. Okeh?” Saya gak berani nolak, tinggi saya cuman 75% tinggi dia. “Rumah lu emang di mana Rex? Gimana caranya ke rumah lu?” jawab saya. Dengan gaya yang enteng dia bilang, “Elu naek aja 610, terus turun di Pasar Blok A”. Saya masih bingung, jadi nanya lagi, “Dari situ rumah lu arahnya ke mana?” Si Rex masih dengan enteng bilang, “Ahhh … lu tanya-tanya aja di sono. Susah amet!”

    Besoknya saya beneran naik bis Metro Mini S610 dan turun di depan Pasar Blok A. Kurus, bingung, keringetan, pakai celana pendek biru, berkulit putih dan agak sipit, membuat saya kurang nyaman celingukan di depan pasar. Dan hal yang saya takutkan pun terjadi. Seorang yang kayaknya preman langsung bentak saya, “WOOY, sini luh!” Waduuuh … belum apa-apa udah kelihatan kalau saya bukan orang daerah situ. Jadi dengan agak gemeteran saya samperin si Abang serem yang lagi duduk-duduk bareng empat orang temannya yang penampakannya semi-serem juga. “Mau ke mana luh luntang-lantung di sini?” lanjut dia. Refleks saya menjawab, “Maap, Bang. Gue nyari rumahnya Bang Rex.” Tumben-tumbenan saya nyebut Rex pakai kata sandang Bang, tapi kayaknya emang pas dalam situasi seperti itu saya nyebut semua orang sebagai Abang. “Heeeh? Nyari Bang Rex? Emang lu kenal sama Si Rex?” kata si Abang. “Iya, Bang. Gue temen sekolah Bang Rex. Gue disuruh maen ke rumahnya”, aku saya.

    Si Abang langsung nunjuk salah satu temennya, mungkin anak buahnya, lalu bilang “Tuh, denger enggak lu. ‘Ni anak nyari Bang Rex. Anterin sonoh!” Saat itu juga salah satu dari mereka berdiri bilang “Ikutin gue, nyok!” dan saya pun diantarkan sampai ke depan pintu rumah sekitar 200 meter di belakang pasar. “Pantesan Rex gak merasa perlu kasih alamat lengkap rumahnya, semua orang di sekitar pasar kenal sama dia”, pikir saya membatin.

    Rex ternyata emang serius minta diajarin pelajaran matematika. Dia sebenernya pinter, cuman kayaknya lebih seneng kalau belajar gak sendirian. Adanya teman kan membuat jauh lebih betah. Bisa jadi juga, ngeliat situasi pergaulan keras di sekitar rumahnya, maka Rex memilih lebih baik ‘mengimpor’ teman belajar dari lingkungan sekolah. Padahal, dari total ‘waktu belajar’  yang kita lakukan, sebenernya kita tetap cuman 50% belajar -sisanya, sesuai janji Rex, kita maen Nintendo .. hohoho 🙂

    Yang unik dari belajar di rumahnya Rex adalah selingannya. Tiap beberapa jam ada aja temennya Rex yang gedor-gedor pintu manggil Rex. Pernah suatu saat, begitu Rex buka pintu rumahnya, terlihat salah satu temannya yang tinggi gede, meringgis sambil bilang,”Rex, gue minta madu doong!” Rex, yang kayaknya udah biasa kedatengan tamu macam ini langsung berseloroh, “Alaaaah … lu ditato lagi?”. Sambil meringis dia memperlihatkan tato naga yang terlihat masih bengkak ,”neeeeh … Keren gak, Rex?”. Rex langsung berjalan masuk ke kamarnya, lalu mengambil madu yang diminta oleh teman bertato naga tadi. Badan Rex emang gede, tapi kalau lagi mengobati teman, dia halus kayak perawat. Madu yang diambilnya segera dilumurkan tipis di atas permukaan tato naga yang meradang tadi. Si Tato Naga lalu pergi sambil tidak lupa berterima kasih pada Rex ,”Makasih madunya, Rex!”

    Respon Rex selanjutnya selalu membekas di hati saya. Alih-alih bilang terima kasih seperti biasa, Rex berseloroh, “Makasih .. makasih, aje lo. Kerjaan lo ditato mulu … sekali-kali sholat sonoh!” .. hahaha .. Rex emang spesial. Kalau dilihat dari luar, badan tinggi-gede, bulu tebal dan kata-katanya yang ‘terlalu’ terus terang bisa membuat orang percaya bahwa dia preman tulen. Bukan, bro. Kita harus habiskan waktu yang lama dengan teman-teman seperti ini untuk bener-bener mengerti siapa mereka. Rex itu anak pinter yang dibungkus body tank baja. Rex itu preman sholeh, jagoan pasar lokal pun suatu saat akan mulai sholat kalau lama bergaul dengan Rex. Satu hal yang saya suka dari ‘tank baja’ macam Rex adalah tidak ada teman yang terlalu baik dan terlalu buruk untuk dibantu. Dalam situasi seperti apapun, seorang teman layak dapat bantuan dia -itu kode etiknya.

    Lain dengan jaman SMP, di masa SMA saya sudah cukup lama beradaptasi dengan kehidupan ibukota. Saya sudah terbiasa berteman dengan siapa saja; dari yang paling baik sampai yang paling nakal, dari yang  fun to be around sampai yang paling ngeselin, dari yang susah bayar uang sekolah sampai anak direktur bank yang kebanyakan mobil, dari teman yang sudah mulai sholat sunat -sampai yang gak pernah kelihatan sholat. They are all good friends, lepas dari latar belakang masing-masing.

    Di kelas 2 SMA saya dapat rejeki gak disangka-sangka. Saya yang, mulai kenal main, mulai naksir cewek, dan mulai malas belajar, -mendapatkan teman sebangku yang langka. Dia seorang veteran (*anak yang gak naik kelas) berbadan pendekar a.k.a pendek dan kekar. Anaknya lucu, sekaligus ditakuti sama murid satu sekolahan. Namanya Zig (bukan nama asli lagi, tapi semua teman saya pasti tahu juga).

    Walaupun kita baru kenal, ternyata kita kemudian menjadi teman sebangku yang kompak. Kita bahkan sempat naksir cewek yang sama … hehehe .. kompak. Prestasi akademik dua anak yang duduk di bangku pojok belakang ini sama-sama parah. Saya sering bolos sekolah dengan alasan sibuk dengan kegiatan OSIS dan Zig sering bolos sekolah dengan alasan … gak tau apa deh 😀 Tapi prinsipnya sama, kita gak cukup belajar di kelas dan terpaksa mengandalkan keberhasilan ulangan harian dari nasib bagus dan jawaban ujian yang berseliweran dari otak orang lain.

    Saya ingat suatu hari Zig datang ke kelas dengan kedua mata merah. “Wadoh. Jangan-jangan semalem dia mabok nih” pikir saya. Zig begitu duduk langsung memohon pada saya untuk jaga kandang. Maksudnya adalah untuk membangunkan dia kalau guru memutuskan untuk jalan-jalan sampai ke wilayah kita di pojok belakang kelas. Kebetulan mata pelajaran pertama hari itu adalah PMP (Bagi yg tidak merasakan jaman Pak Harto, PMP itu singkatan dari Pendidikan Moral Pancasila, yes?). Memang biasanya Guru PMP lebih sering ngajar di sekitar papan tulis, jarang-jarang beliau jalan-jalan sampai ke belakang. Jadi saya bilang pada Zig, “Udah lu sana tidur. Nanti gue bangunin kalau pak Guru nyamperin kemari.”

    Tidak disangka-sangka, hari itu beliau memutuskan untuk memeriksa PR essay dengan memberikan paraf di buku PR masing-masing -sambil berkeliling ke seluruh meja. Semua anak segera mengeluarkan buku PR berwarna kuning yang sering disebut buku Kokur alias Ko-Kurikuler. Not me. Saya masih panik. Saya harus membangunkan Zig yang tidur pulas, dan kalaupun dia bisa dibangunkan, belum tentu dia sudah mengerjakan PR. Saya tepok-tepok pahanya, dia tetap tertidur. Saya injak kakinya, dia tetap pulas. Padahal guru sudah semakin dekat. Akhirnya saya sikut rusuknya. Blegg! Zig langsung bangun kebingungan, “Ada apaan, Ben?”. Setengah berbisik saya bilang ,”Tuh, si bapak lagi keliling kelas mau kasih paraf PR essay PMP. Elu ngerjain PR PMP, kagak?” Dengan kepala yang sepertinya masih berat dia malah bilang ,”PR PMP? Buku kokur PMP aja gue gak bawa …”

    Jiaaaah …. bakalan kena masalah nih kita, pikir saya. TAPI. Nah ini nih …. teman-teman yang katanya ‘nakal’ biasanya justru sangat kaya solusi dalam keterpepetan. They are the master of improvisation! Zig saat itu tiba-tiba nanya ,”Ben, lu punya buku kokur lagi enggak?”. Bingung merespon saya cuman bisa bilang, “Enggak. Gak punya. Tapi cobain cari di dalam laci. Biasanya suka ada yang ketinggalan buku di dalem laci meja, kan?” *maklum sekolah negeri pagi-sore. Zig langsung merogoh-rogohkan tangannya ke dalam meja, dan … beruntungnya … sebuah buku kuning, entah punya siapa, memang ada di dalamnya. Dia langsung buka-buka halaman dalam buku kuning itu, lalu bergumam “Ya… lumayan lah”.

    “Terus mau lu apain itu buku? Buat PR sekarang? Masih sempat gituh?” kata saya. Jawaban Zig benar-benar out of the box, “Gak usah. Biar langsung diparaf aja. Si Bapak kan cuman lewat sambil paraf doang … lagian kacamata dia tebal kan?”. Luar biasa. Itu ide yang NEKAD. Mengandalkan guru yang kacamatanya tebal, Zig mau mencoba membuat si Bapak memberikan paraf di buku PR entah milik siapa -tepat di halaman berisikan essay yang gak nyambung.

    Pak Guru terus mengelilingi kelas sambil memberikan parafnya di buku kokur setiap anak. Akhirnya beliau berdiri di hadapan saya. “Mana buku kamu?” katanya. Saya asongkan buku Ko-Kurikuler saya. Sambil tetap berdiri beliau melihat ke halaman yang terbuka lalu memberikan paraf di pojok kanan. Sesudah itu beliau melihat ke arah Zig, “Buku kamu?”. Zig menyodorkan ‘bukunya’ di atas meja, “Ini, pak”. Beliau melihat ke dalam buku selama dua-tiga detik, selama dua-tiga detik juga kita berdua menahan nafas. Gak disangka-sangka … sret-sret-sreeet … Beliau akhirnya membubuhkan parafnya di atas essay gak jelas tsb. Spektakuler! It works!

    Tumbuh dewasa di lingkungan sekolah negeri di Jakarta memang pengalaman yang tidak biasa. Terlalu banyak cerita jika harus disadur ke dalam sebuah blog. In the end, saya sendiri akhirnya merasa berhutang budi pada semua teman-teman dan sahabat saya di saat remaja, yang baik dan yang nakal, -termasuk Rex dan Zig. Saya tidak pernah menyesal memiliki teman anak-anak seperti kalian. Mungkin Si Sulung Samsam pun butuh tumbuh dewasa di sekeliling manusia seperti kalian.

    “Bisa jadi kreativitas kita saat ini adalah kekonyolan muda yang telah tumbuh dewasa.”

    “Bisa jadi keberanian kita saat ini adalah kenekatan masa muda yang mulai jelas alasannya.”

    “Bisa jadi kebijaksanaan kita saat ini adalah kebodohan masa remaja yang akhirnya menemukan formulanya.”

    —————-

    Rumah Nini, Bandung, 11 Oktober 2015

  • Siapa yang masih ingat? Waktu kita masih Egois dan Jujur

    Begitu Wali Kelas menyinggung topik sakral itu, semua teman sekelas langsung diam, kebanyakan murid menunduk ke bawah, tidak ada yang mau melihat langsung ke mata Sang Wali Kelas. Tentu saja di antara teman sekelas, tidak ada yang mau ketiban tanggung jawab menjadi ketua kelas. Saya pun sama, langsung ambil buku dan corat-coret di halaman tengah, pokoknya gak mau kelihatan menonjol dan berharap tidak akan dikutuk sebagai pemimpin satu tahun ke depan. Akhirnya seperti biasa, Wali Kelas terpaksa menunjuk seorang insan terpilih yang (kurang) beruntung.

    Itu drama yang terjadi waktu saya masih SD. Waktu itu kita semua masih egois -tapi jujur. Cukup egois untuk tidak mau direpotkan sama urusan orang lain. Tapi juga cukup jujur untuk mengakui bahwa kita tidak cukup baik untuk menjadi pemimpin orang lain.

    Drama yang terjadi hari ini berbeda sama sekali. Anak-anak SD itu sudah dewasa. Mulai dari yang umur 20an sampai yang 50an, ramai-ramai ingin menjadi pemimpin. Anak-anak yang dulu tidak mau memimpin kelasnya ini, sekarang ingin menjadi pemimpin rakyat. Mereka bahkan akan terlegitimasi sebagai orang yang dipilih melalui pemilihan umum. Dipilih oleh rakyat. Kemajuan!

    Mungkin kita sudah berubah. Mungkin kita tidak lagi egois : kita sudah mau direpotkan urusan orang lain. Mungkin juga karena kita sudah tidak jujur : pantas gak pantas memimpin, bukan lagi masalah. Yang penting memimpin. Karena memimpin … ada bayarannya.

    Selamat datang 2017. Oh, asiknya jaman SD dahulu.

  • Pencarian Tuhan seorang Salman Al-Farisi r.a.

    Salman Al Farisi r.a. adalah orang Persia dengan postur tubuh tinggi besar dan tampan. Di sekolah kita belajar mengenainya sebagai Pahlawan Perang Khandaq: orang yang mengusulkan pembangunan parit pertahanan yang berhasil menghalau serangan pasukan Quraisy dan Ghathfan menuju Madinah. True! Tapi pernahkah kita bertanya-tanya bagaimana ceritanya orang Persia ini bisa berada di Madinah untuk membela Nabi?

    Ia berasal dari desa Ji’, daerah Isfahan (Iran), 1500 kilometer di sebelah timur laut Madinah. Di era itu, desanya dihuni oleh orang-orang beragama Majusi -para penyembah api. Ayah Salman adalah salah satu tetua agama Majusi. Bahkan, Salman sendiri adalah penjaga api peribadahan yang tidak boleh mati. Maklum, namanya juga anak tetua.

    Namun hidayah Allah SWT memang datang kepada siapa saja -di mana saja. Dalam perjalanan menuju ladang milik ayahnya, Salman tidak sengaja melewati sebuah gereja Nasrani dan tiba-tiba tertarik mengamati para pendeta yang sedang sembahyang di dalamnya. Sepanjang hari dia memperhatikan cara mereka beribadah, dan bertanya ini-itu pada orang-orang nasrani di sana. Ia penasaran dengan asal-usul dari mana agama ini berasal. Mereka menjawab, ‘Dari negeri Syam’. *Syam adalah sebutan lama untuk daerah yang sekarang kita kenal sebagai Lebanon, Palestina, Syiria dan Jordania. -sekitar 1000 km di sebelah barat desanya.

    Ini lebih baik dari agama Majusi yang kuanut selama ini’, katanya dalam hati. Sepulangnya dari sana, segera ia memberitahuukan kabar ini pada ayahnya, ‘Ayah, aku melewati suatu kaum yang sedang sembahyang di sebuah gereja. Aku tertarik pada cara sembahyang mereka. Menurutku agama mereka lebih baik daripada agama kita’. Tentu saja langsung terjadi perdebatan sengit antara mereka, yang berakhir dengan dikurungnya Salman.

    Beberapa waktu kemudian, dengan bantuan teman-teman nasraninya, Salman berhasil melepaskan diri dari kurungan dan melarikan diri ke Syam bersama sebuah rombongan kafilah dari Syam. Sesampainya di sana, ia tidak menunda-nunda waktu, langsung bertanya,’ Siapa ahli agama di sini?‘ Mereka menjawab, ‘Uskup, pengurus gereja‘. Ia segera menemuinya, belajar, sembahyang dan menjadi pelayan gereja. Sayangnya kebetulan uskup yang dia temui ternyata bukan orang yang baik. Uskup ini mengumpulkan uang sedekah yang kemudian malah digunakan untuk keperluan pribadinya. Namun hal ini tidak menjadi masalah berlarut-larut untuk Salman, karena tidak lama kemudian sang uskup meninggal dunia dan digantikan oleh seorang uskup baru yang lebih taat beragama, lebih mencintai akhirat, dan lebih zuhud dari dunia.

    Selama beberapa lama Salman berguru kepada uskup zuhud ini sampai akhirnya sang uskup meninggal dunia. Sebelum meninggal dunia, Salman yang sedang dalam misi mencari Tuhan, masih sempat menanyakan, ‘Sepeninggal tuan nanti, kepada siapa saya harus belajar? Apa yang harus aku perbuat?’. Uskup tua itu menjawab, ‘Anakku, aku tidak mengenal seorang pun di dunia yang menunaikan agama sepertiku, kecuali satu orang. Dia tinggal di Mosul’.

    Mosul terletak di Irak utara, sekitar 800 km dari Syam. Pergilah Salman ke sana, berguru pada pendeta di Mosul sampai pendeta tersebut tutup usia. Sebelum meninggal, pendeta Mosul ini menyuruh Salman untuk meneruskan pelajarannya dengan berguru pada seorang ahli ibadah di Nasibin. Dan berlanjutlah perjalanan spiritual Salman di sana sampai ahli ibadah tersebut juga meninggal dunia. Dari sana ia diperintahkan untuk berguru kepada seorang laki-laki di Amuria, Romawi. Sambil berguru, dia memenuhi kebutuhan sehari-harinya dengan berternak sapi dan kambing.

    Salman belajar banyak dari diri lelaki itu sampai akhirnya lelaki tua ini mendekati ajalnya. Sebelum meninggal dunia, Salman menanyakan kepadanya ‘Kepada siapa lagi aku harus belajar?‘. Namun ia menjawab, ‘Anakku, aku tidak tahu seorang pun yang masih setia di atas jalan yang kami tempuh, hingga aku memerintahkanmu untuk mengikutinya. Namun, saat ini tiba masanya diutusnya seorang nabi yang membawa risalah Nabi Ibrahim a.s. yang lurus. Ia akan hijrah ke suatu tempat yang ditumbuhi kurma dan terletak di antara dua bebatuan hitam. Jika engkau mampu pergi ke sana, lakukanlah. Ia mempunyai tanda-tanda yang jelas. Ia tidak menerima sedekah, tapi menerima hadiah. Sementara dipundaknya terdapat nada kenabian. Jika engkau melihatnya, pasti kau akan mengenalinya.

    Salman kemudian menukarkan sapi-sapi dan kambing-kambingnya pada sebuah kafilah dari Jazirah Arab, dengan syarat mereka mau mengikutkan dirinya dalam perjalanan ke Jazirah Arab. Kafilah arab ini menyetujuinya dan membawanya serta. Malangnya, setibanya di daerah Wadil Qura’, sekitar 12 km sebelum Madinah, orang-orang arab ini malah menjualnya sebagai budak pada seorang Yahudi di sana. Sejak itu, Salman kehilangan kemerdekaannya dan berstatus menjadi seorang budak. Bayangkan! Putra Tetua Esfahan, penjaga api abadi peribadatan kaum Majusi dari Persia, akhirnya terdampar di jazirah arab tanpa kemerdekaan.

    Beruntunglah Salman, rupanya semua kesialnnya, sebenarnya tidak lebih dari pada campur tangan Allah SWT. Karena majikan Yahudinya kemudian menjual dirinya pada pengusaha Yahudi lain dari Bani Quraizah yang tinggal di Madinah. Salman memiliki firasat baik ketika dirinya tiba di Madinah. ‘Demi Allah, sejak melihat negeri ini, aku yakin inilah negeri yang diceritakan pendeta kepadaku.’ Oleh karena itu Salman menahan diri dan terus bekerja di perkebunan kurma Bani Quraizah, menunggu hijrahnya Nabi seperti yang dikatakan oleh guru pendetanya di Amuria.

    Akhirnya hari itu datang juga. Nabi Muhammad SAW tiba dari perjalanan hijrahnya dan singgah di Quba, tidak jauh di pinggiran Madinah. Saat itu Salman sedang berada di atas pohon kurma, ketika datang sepupu majikannya yang membawa kabar, ‘Celakalah Bani Qailah. Mereka berkerumun mengelilingi seorang laki-laki di Quba. Ia datang dari Makkah dan mengaku sebagai nabi.‘ Badan Salman bergetar hebat, hampir saja ia terjatuh dari pohon kurma menimpa majikannya. Dengan terburu-buru dia bertanya, ‘Apa yang tuan katakan? Ada berita apa?’ Yang langsung dijawab tuannya dengan sebuah pukulan keras dan bentakan ‘Apa urusanmu dengan masalah ini? Pergi! Kembali bekerja!’.

    Salman kembali bekerja sambil menunggu hari petang. Sesudah itu dia mengumpulkan apa yang dimilikinya lalu berangkat ke Quba, 4 km di utara pusat kota Madinah. Dia memberanikan diri menemui orang yang mengaku nabi dan sehabat-sahabatnya. Dia kemudian memberikan kurma miliknya sambil berkata, ‘Kalian adalah orang asing yang tentu membutuhkan bantuan. Saya punya makanan yang saya siapkan untuk sedekah. Setelah mendengar keadaan kalian, saya pikir kalian layak menerimanya.’ Lalu dia menyuguhkan makanannya di hadapan tamu-tamu itu. Lalu Rasulullah berkata pada para sahabatnya, ‘Makanlah dengan menyebut nama Allah’. Namun dia sendiri diam -tidak menyentuh kurma-kurma tersebut. Salman langsung berpikir, ‘Demi Allah, ini suatu tanda yang disebutkan pendetanya: Dia tidak memakan sedekah.’

    Esok harinya Salman datang kembali membawa kembali buah kurma. Kali ini dia memberikan kurma tersebut sambil berkata, ‘Aku melihat Tuan tidak makan sedekah. Aku mempunyai sedikit makanan, dan aku akan merasa tersanjung jika kuberikan sebagai hadiah untuk Tuan.’ Kali itu Rasulullah bersabda pada para sahabatnya, ‘Makanlah dengan menyebut nama Allah’ –lalu makan bersama mereka. ‘Demi Allah, ini tanda kedua. Dia mau memakan hadiah’, pikir Salman.

    Selang beberapa lama, akhirnya Salman mendapatkan kesempatan untuk membuktikan tanda ke-3 yang dikatakan gurunya. Saat itu Nabi sedang berada di Pemakaman Baqi’. Beliau memakai dua helai kain, yang digunakan sebagai sarung dan baju. Sesudah mengucapkan salam, Salman langsung berputar berusaha melihat pundak Nabi mencari tanda kenabian yang dibicarakan oleh gurunya. Rupanya Nabi Muhammad SAW, mengerti maksud Salman. Beliau langsung menyingsingkan kain yang menutupi pundaknya. Dan di sana, tepat seperti kata gurunya, terlihat tanda tersebut. Salman Al-Farisi menangis dan memeluk Nabi, lalu terduduk dan menceritakan kisah hidupnya pada Rasulullah. Saat itu juga dia masuk Islam.

    Statusnya sebagai budak menghalanginya untuk ikut berperang dalam Perang Badar dan Perang Uhud. Nabi Muhammad kemudian menyarankannya untuk membuat ‘Mukatabah‘ (perjanjian memerdekakan budak oleh majikannya), yang kemudian ditebus oleh sahabat-sahabat rasul. Sejak itulah Salman mulai memperlihatkan kejeniusannya dalam taktik dan strategi. Dimulai dengan strategi penggalian parit dalam Perang Khandaq -lalu perang-perang lain selanjutnya.

    Salman Al-Farisi r.a adalah salah satu sahabat Rasul yang diberikan umur panjang. Kepandaiannya dalam ilmu dan strategi, hanya bisa diimbangi dengan sifat zuhud dan kesederhanaannya. Setelah Islam berhasil mencapai kejayaannya, Salman diangkat menjadi gubernur Madain, di mana dia menolak untuk mengambil gajinya yang sebesar 4.000 – 6.000 dirham per tahun. Dia memilih menghidupi dirinya dengan menganyam keranjang pelepah kurma dengan keuntungan 2 dirham per hari -itu pun dia sisihkan 1 dirham per hari sebagai sedekah.

    Sebagai orang yang menyaksikan banyak kematian guru-gurunya, Salman Al-Farisi sungguh memiliki akhir hayat yang indah. Ketika sakit menjelang ajal, ia meminta istrinya untuk mengambil hartanya yang berharga. Apakah barang itu? Rupanya harta berharga tersebut adalah seikat kesturi yang diperolehnya saat Penaklukan Jalula (sebuah daerah di Iraq) dari tangan Persia. Barang itu sengaja ia simpan untuk wewangian saat wafat nanti. Dia meminta istrinya untuk mencampurkan kesturi tersebut ke dalam air di dalam cangkir, lalu memercikkan air kesturi tersebut di sekelilingnya. Kali itu ia berkata, ‘Percikkanlah air ini di sekelilingku. Sekarang hadir di hadapanku makhluk Allah yang tiada dapat makan, tetapi gemar wewangian!’

    Tidak lama kemudian ruhnya berpisah dengan jasadnya -meninggalkan dunia. Perjalannya mencari agama yang lurus telah berakhir. Dia memenuhi janjinya untuk bertemu dengan Rasullullah dan kedua sahabatnya, Abu Bakar dan Umar. Untuk mempertanggungjawabkan kehidupannya di hadapan Sang Pencipta yang selalu dia cari sepanjang umur hidupnya di dunia.

    ———————————————-

    ditulis ulang dari kitab
    Rijal Haula Al Rasul

    Khalid Muhammad Khalid

     

  • SAYANG BANDUNG, SABAR DAN ILMU IKHLAS

    Suatu hari Ustad Aam Amirudin pernah berkata, “Salah satu cara untuk menafsirkan surat Al Ashr adalah dengan melihatnya sebagai kewajiban kita untuk nasihat-menasehati antar sesama manusia dalam kebaikan dan kebenaran. Dengan syarat, jika ingin menasihati manusia lain maka : kira harus punya kesabaran. Tidak mungkin kita bisa menasehati tanpa rasa sabar di hati; hati yang dinasehati –dan terutama hati yang menasehati”.

    Ayat ini susah dimengerti oleh saya sampai akhirnya saya mendekati umur kepala 4. *mohon dicatat, mendekati –belum kepala 4 …. Memang menjelang kepala 4 ini sudah lebih banyak jenis manusia yang saya hadapi. Mendekati kepala 4 pula, saya harus menjadi bagian dari sebuah bangsa yang masuk masa akil baliq dalam pergaulan via internet. Betul kan? Internet banyak dipakai di Indonesia tahun 2000an, kebanyakan kita buka akun facebook mulai 2008 an, maka bisa dikatakan umur kita di “internet” adalah 15 tahun. Umur ketika pandai dan (terlalu) percaya diri menjadi satu –jadilah sifat jamak bernama ‘ngeselin’. Akhirnya Internet memang menjadi tempat yang bagus untuk belajar sabar.

    Lepas dari kenyataan sejarah bahwa saya adalah salah satu orang yang mendukung Kang Emil untuk mencalonkan diri menjadi kandidat Walikota Bandung 2013-2018, saya kan tetap saja warga kota biasa yang suka kratak-kritik. Sehingga ketika kebetulan ada waktu ketemu sama Kang Emil setelah satu tahun pemerintahannya, saya sempat mengkritik dia. Saya bilang ke dia, “Akang teh kurang banyak melibatkan orang-orang pintar Bandung untuk membantu akang dalam memperbaiki kota Bandung. Kan ada banyak orang pintar di kota ini teh. Di kampus-kampus pabalatak tuh orang pinternya, sok atuh diajakan. Jangan sampai akang jadi terlihat solo karir begitu.”

    Kang Emil itu kan gak terlalu putih ya. Jadi kalau dia ‘mikir’ (dan ‘merasa’) dengan keras -dia suka berubah warna agak ungu. *atau bisa jadi karena kita selalu ngobrol malam hari, jadi emang gelap (hehe .. punten ah, kang. Hereuy). Sebenarnya wajar kalau Kang Emil berubah warna jadi agak ungu, malam itu dia sengaja datang ke acara mantan-mantan relawan kampanyenya, dia datang untuk diberi masukan. Jadilah belasan kritik harus dia terima secara bertubi-tubi selama dua jam penuh. Menanggapi kritikan saya, dia akhirnya menjawab, “Saya tuh sekarang sebenarnya lagi belajar ilmu yang sulit. Ilmu Ikhlas. Ternyata itu sulit sekali. Percaya deh, Ben. Saya bukannya tidak mengajak orang-orang pintar ini. Tapi ternyata tidak semua orang mau masuk membantu pemerintah –dengan segala konsekwensinya. Banyak orang baik dan pintar pada akhirnya tidak tahan dengan tantangan dan konsekuensinya. Sebaliknya, justru sejak dulu orang-orang nakal sangat pandai mencari peluang ini-itu dalam pemerintahan. Saya sendiri butuh waktu banyak untuk mengubah pola kerja birokrasi. Sistem yang sudah berlaku berdekade-dekade tidak bisa diubah dalam satu tahun. Makanya, sok atuh ajakain orang-orang pandai dan baik untuk mau bersusah-susah bantuin pemerintah. Jangan biarkan orang itu-itu lagi yang jadi kontraktor pemerintah, konsultan pemerintah, dan sebagaianya.”

    Yang saya tangkap dari jawaban Kang Emil saat itu adalah bahwa tidak banyak orang yang mau bekerja dengan pemerintahan karena tingkat “kesulitannya” yang agak tinggi. Mungkin masalah bahwa pegawai negeri yang masih kurang cepat kerjanya, masalah masih ada aja oknum yang minta kick back, dsb. Saya tidak terlalu memperhatikan kalimat pertama dia : “Saya lagi belajar ilmu ikhlas.” Tapi saya gak terlalu perhatian pada topik itu. Saya berpikir bahwa kerjaan walikota adalah kerjaan teknis. Pecahkan masalah teknisnya, then the problem is ‘no more’.

    Beberapa bulan berselang, mungkin karena kepepet, Kang Emil mengkontak saya. Malam hari itu  dia bilang bahwa ada masalah di Kota Bandung yang butuh bantuan orang-orang kreatif. Dia curhat sedikit, dia menganggap Diskominfo harus dibantu. Metode komunikasi yang dilakukan oleh diskominfo masih kurang gigit –padahal komunikasi publik Kota Bandung perlu segera digenjot. Kang Emil punya banyak rencana pembangunan infrastruktur yang akan ‘mengagetkan’ orang Bandung secara kultur. Misalnya, dia sedang berupaya habis-habisan agar Bandung dalam masa jabatannya harus punya koridor Monorel yang fungsinya mengurangi kemacetan. Tapi sama seperti di negara-negara berkembang lain yang baru membangun fasilitas transportasi masal, maka ‘budaya buruk’ adalah hambatan utama.

    Bener juga sih. Saya pernah dengar cerita dari teman saya yang orang Singapura, bahwa salah satu alasan di sana tidak boleh dagang permen karet adalah karena pernah ada kejadian di mana sistem MRT se-Singapura mandeg beberapa menit -gara-gara ada orang yang menaruh sisa permen karet di sensor optik salah satu pintu MRT. (Jika satu sensor malfungsi maka satu pintu tidak akan tertutup, jika satu pintu tidak tertutup maka satu kereta tidak akan jalan, jika satu kereta mogok maka semua kereta di Singapura gak mau maju –the wonder of automation).

    Kebayang enggak ‘abuse’ terhadap monorel di tangan orang Bandung yang terkenal karena keisengannya: Jemur baju di tiang monorel –biar lebih deket sama matahari, buka pintu monorel pake obeng lalu duduk di pintu – ‘da hareudang’, atau rambu-rambu di koridor monorel digambar ulang pakai pilox dengan alasan gambarnya kurang indah … hehehe. Gegar budaya dalam merespons teknologi dan sistem baru semacam itu lah.

    Kang Emil menyimpulkan bahwa ada beberapa isu yang urgent banget. Bukannya yang lain tidak penting, tapi isu-isu ini adalah masalah yang mendesak dan perlu dibantu pembentukan budayanya melalui komunikasi massa yang terencana. Sebut saja ; kebersihan, disiplin lalu lintas, pedagang kaki lima, kemacetan dan sebagainya. Untuk menegakan budaya disiplin di Bandung, Kang Emil berencana memberlakukan Perda-perda yang sebenarnya sudah ada dari era sebelumnya, namun tidak pernah ditegakkan. Misalnya mengenai denda bagi warga yang buang sampah sembarangan. Kang Emil perlu orang-orang kreatif membantu memikirkan masalah komunikasi massanya agar penegakkan perda ini tidak dinilai sebagai sesuatu yang negatif oleh publik.

    Duh, ini mah pekerjaan berat euy. Sebenarnya agak malas, tapi kami pun gak tega kalau membiarkan diskominfo menanggung beban ini. Maka kita coba panggil orang-orang kreatif Bandung lewat sebuah panggilan di Twitter. Gak disangka, dari target cuman 20-30 orang, ternyata terkumpul 80 orang yang merespons siap membantu. Awalnya kita pikir ini hal yang luar biasa, tapi ternyata me-manage ide orang sebanyak itu justru malah sulit. Idenya terbang kesana kemari. Kurang efektif.

    Maka kita putuskan untuk mencoba memulai dari tim yang kecil saja agar lebih bisa diorganisir dan terarah idenya. Jika tim ini bisa menemukan ‘form’ bekerjanya, maka kita baru akan perluas jangkauan dan perbesar tim-nya. Untung di Bandung memang pabalatak orang pinternya. Beberapa orang yang siap meluangkan sebagian waktu mulai melakukan riset dan proses kreatif sebagai eksperimen Kampanye Iklan Layanan Masyarakat (ILM) yang dibuat oleh masyarakat sendiri.

    Tim ini diisi oleh anak-anak muda (mahasiswa, mahasiswi dan praktisi) di bidang komunikasi, desain dan beberapa orang dengan keahlian lain. Ketuanya pun anak muda, kami yang agak senior menempatkan diri menjadi pembimbing mereka. Akhirnya setelah beberapa bulan berkumpul, berpikir, mengembangkan ide dan bekerja, mereka sepakat untuk mencoba mengeksekusi strategi komunikasinya. Sebuah rangkaian ide yang kalau menurut saya sangat bagus. Eksperimental banget -tapi bagus.

    Konsepnya begini, sebelum kita mengarahkan orang untuk mulai mengolah sampah dengan benar, maka kita harus mengingatkan warga untuk disiplin ketika berurusan dengan sampahnya sendiri. Walau sebagian kalangan sudah mulai mengenalkan metode pengelolaan sampah yang modern (which is good dan sangat kami dukung), sebagian besar orang Bandung tetap harus diingatkan tentang hal yang mendasar: membuang sampah pada tempatnya.

    Masalahnya adalah kata “Jagalah kebersihan”, “Kebersihan adalah sebagian dari Iman”, dan sejenisnya sudah mulai berubah menjadi sebuah ‘kanji’. Kanji yang semua orang akhirnya tidak mengerti apa artinya –atau lebih tepatnya ‘diabaikan’. Faktanya di Bandung  bertebaran tulisan ‘jagalah kebersihan’… tapi di bawahnya teuteup aja sampah bertebaran. Artinya stopping power kalimat dan grafis tersebut sudah ‘tidak ngerem’. Perlu dipikirkan desain dengan ‘stopping power’ yang baru dan lebih mengena kepada target kampanye.

    Target kampanye fase pertama adalah anak-anak muda, dengan alasan :

    1. anak muda termasuk yang banyak buang sampah sembarangan
    2. selagi masih muda, lebih mudah diubah ‘habbit’nya,
    3. mereka pengguna sosial media yang aktif, jadi biaya kampanye bisa ditekan seminim mungkin.

    Dari sekian banyak skenario, akhirnya dipilih satu yang agak nyeleneh tapi tampak akan efektif. Skenarionya adalah kita coba cari figur orang Bandung yang akan lebih didengar oleh si target kampanye. Ide ini kemudian berkembang karena mulai juga terpikir bahwa setiap orang memiliki ‘figur didengarkan’ yang berbeda-beda. Remaja laki-laki lebih mendengarkan masukan remaja perempuan, begitu juga sebaliknya. Suami lebih segan pada istrinya dibandingkan pada satpol PP. Preman gak takut sama Pak RT tapi biasanya takut sama ibunya sendiri. Bobotoh gak takut sama wasit, tapi segan pada striker Persib, dan sebagainya.

    Otomatis jika mengikuti pola pikir ini maka kampanye akan cukup panjang dan memerlukan banyak desain dan dana. Nah …. masalahnya kita tidak punya cukup uang. Tawaran bantuan dana dari Kang Emil kita tolak halus dengan beberapa alasan: seperti masih adanya ‘gap’ komunikasi dengan diskominfo Bandung, yang membuat kami tidak bisa mempercayakan eksekusi kampanye pada mereka. Juga karena Iklan ini sangat eksperimental dan melibatkan metode ‘crowd-sourcing’. Jadi punya resiko yang tinggi. Dana APBD dipakai metode komunikasi eksperimental? Kalau di luar negeri mungkin ini hal biasa. Di Indonesia? Duh gak kebayang konsekuensi politiknya. Di sini banyak politisi yang ganjen, bow. Gak deh, kami putuskan biar kita eksekusi sebagian dulu saja dengan uang hasil patungan kantong kita sendiri. Anggap aja nyumbang untuk mengubah pola pikir dan prilaku warga Bandung. Kami tahu dengan nilai dana relatif sedikit, belum banyak yang bisa berubah tapi setidaknya kami bisa mempelajari banyak hal dari respons target kampanye terhadap iklan tersebut.

    Singkat kata tibalah waktunya kita memproduksi Iklan Layanan Masyarakat ini. Setelah beberapa draft ide selesai divisualisasikan, maka waktunya untuk pemotretan. Beberapa mahasiswa dan mahasiswi Bandung dikontak untuk menjadi model. Mereka bersedia melakukannya secara pro bono (gak dibayar)–mereka juga sayang Bandung. Dicari sekian set wording yang di rasa cocok untuk menyentil hati kaum muda.

    pemuda pemudi sayang bandung sedang photo shoot
    pemuda pemudi sayang bandung sedang photo shoot

    Berhubung dana patungan kita tidak banyak, kita sepakat hanya akan meluncurkan dulu satu Billboard sebagai pemancing. Semua karakter lain akan kita keluarkan secara bertahap sesuai dengan dana tambahan yang bisa kita dapatkan dari hasil patungan. Sebuah cara unik disiapkan untuk mengakali gaung 1 billboard yang jelas terbatas. Teman-teman muda @SayangBandung punya cara. Yaitu dengan melibatkan para pembaca Iklan untuk juga menjadi pembuat iklan tandingan dalam bentuk ‘Meme’. Bagi yang tidak familiar dengan Meme mungkin definisi ini bisa membantu >> ‘Meme : a humorous image, video, piece of text, etc. that is copied (often with slight variations) and spread rapidly by Internet users.’ Tujuannya agar ‘messege utama’ akan secara viral tersebar pada publik. Keinginan membuat meme ini harus muncul secara natural, jadi tidak boleh diiming-imingi oleh hadiah dan sejenisnya. Otomatis, iklan pancingan pertama harus sangat ‘nendang’ agar keinginan berpartisipasi dari publik lahir secara natural dan massal.

    Pemilihan desain final bukan hal yang mudah, setiap orang memiliki pendapat dan ‘set values’ yang berbeda. Debat sana-sini yang nyaris gak berujung. Nyaris –tapi ada kok ujungnya. Sebuah desain final akhirnya dipilih dan siap dicoba diluncurkan. Iklan dengan bintang si Iis dipilih menjadi iklan pemancing. Iklan pertama ini bukan hanya harus bisa membuat orang malu membuang sampah sembarangan dan memberitahu bahwa akan diberlakukan denda dari Pemkot, tapi juga harus sukses memancing keinginan orang lain untuk membuatkan versi meme-nya di Internet.

    Desain iklannya cukup sederhana. Didesain sengaja sebagai ‘spoof’ (versi humor) dari iklan kosmetik –tujuannya agar tidak terlihat sebagai rambu larangan (yang tidak disukai orang). Di dalamnya digambarkan seorang mahasiswi bernama Iis (agak dandan seperti dalam iklan kosmetik) yang berkata ,”Pilih mana, bayar denda karena nyampah atau traktir aku?” Maksudnya kalau punya uang lebih baik dipakai nraktir teman atau pacar, daripada menghabiskan uang untuk bayar denda –makanya jangan buang sampah sembarangan. Jika diperhatikan, dalam kalimat ini ada dua bagian yang dapat dipenggal: (1) Bayar denda karena nyampah (2) atau traktir aku. Nah bagian pertama ‘bayar denda’ sengaja dibuat fixed, dan bagian kedua ‘traktir aku’ sengaja dibuat mengambang –biar bisa ‘dimainkan’ oleh ‘publik’ menjadi meme-meme baru. Biar rame!

    Iis sayang bandung

    Tidak lupa di beberapa tempat ada bagian-bagian yang non-editable. Seperti bagian berwarna ungu di bawah yang bertuliskan “Buang sampah sembarangan mengakibatkan denda hingga 50 juta rupiah. Buanglah sampah pada tempatnya” –sebagai pesan utama. Lalu ada juga, logo pemkot Bandung (biar kelihatan ini serius, bukan bohong2an) dan ada logo Sayang Bandung. BTW, komunitas ini sengaja menamakan dirinya ‘Sayang Bandung’ agar tidak terlalu rigid dan eksklusif. Siapapun boleh dong sayang sama Bandung, tul?

    Ketika hari H datang, kawan-kawan @SayangBandung mulai memasang Billboard (yang hanya satu buah), dan mengajak beberapa teman untuk mulai membuat meme-nya. Dengan bermodal partisipasi hanya beberapa teman komunitas, ombak meme #SayangBandung mulai pecah. Puluhan meme muncul tanpa diorkestrasi. Meme #SayangBandung is going Viral! *Silahkan ketikkan ‘sayang bandung’ di google, teman2 akan mengerti maksud saya.

    Sampai saat ini mungkin sudah lebih dari seratus meme berkeliaran di internet mengajak warga kota untuk tidak membuang sampah sembarangan. Berbeda dengan Bekasi yang (sayangnya) justru di-bully melalui Meme, Bandung justru terbantu oleh munculnya budaya Meme di Indonesia.  Alhamdulillah, sebagian besar tanggapan publik terhadap kampanye ini adalah positif.

    chuck norris selalu pertama di dunia meme
    chuck norris selalu pertama di dunia meme

     

    geleng-geleng kepala untuk ide netizen yang ini. kepikiran aja euy
    geleng-geleng kepala untuk ide netizen yang ini. kepikiran aja euy

     

    karena menyasar anak muda, kadang2 saya pun gak nyambung sama buatan anak-anak muda sekarang ini. Tapi ini hip untuk mereka sendiri.
    karena menyasar anak muda, kadang2 saya pun gak nyambung sama buatan anak-anak muda sekarang ini. Tapi ini hip untuk mereka sendiri.
    komunitas anime adalah salah satu yang paling rajin posting meme #SayangBandung
    kalangan anime adalah salah satu yang paling rajin posting meme #SayangBandung

     

    sumbangan mad dog version, serem :)
    mad dog version, serem 🙂

     

    yang ini lucu banget :D
    yang ini lucu banget 😀

     

    edisi juki *salut sama yang buat
    edisi juki *salut sama yang buat

     

    banyak banget tokoh yang dibuatkan meme-nya oleh para netizen, termasuk melody JKT 48
    banyak bgt tokoh yang dibuatkan meme-nya oleh para netizen, -termasuk melody JKT48

     

    kebetulan peluncuran ILM #SayangBandung bareng sama final ISL. Jadi banyak pemain persib muncul 'membintangi' meme
    kebetulan peluncuran ILM #SayangBandung bareng sama final ISL. Jadi banyak pemain persib muncul ‘membintangi’ meme

     

    pengusaha pun ikutan membuat meme #SayangBandung
    pengusaha pun ikutan membuat meme #SayangBandung

     

    edisi jurig, mungkin untuk tukang buang sampah yang percaya klenik
    edisi jurig, mungkin untuk tukang buang sampah yang percaya klenik

     

    ada yang menggunakan momen #SayangBandung untuk mencarikan dana bagi anak yatim. pandai!
    ada yang menggunakan momen #SayangBandung untuk mencarikan dana bagi anak yatim. pandai!

     

    ada warga-warga yang meminta dikirimi file #SayangBandung untuk dicetak di lingkungan masing2 dengan uang masing2
    ada warga-warga yang meminta dikirimi file #SayangBandung untuk dicetak di lingkungan masing2 dengan uang masing2

     

    warga yang lebih ngerti ilmu setting tidak lupa ikutan eksis juga di lingkungannya
    warga yang lebih ngerti ilmu setting tidak lupa ikutan eksis juga di lingkungannya

     

    karakter kang asep muncul sesudah Iis. Sayang Bandung Universe sebenarnya dikonsep lebih luas dengan lebih banyak karakter. Tapi keterbatasan dana membuat kita harus eksekusi satu per satu
    karakter kang asep muncul sesudah Iis. Sayang Bandung Universe sebenarnya dikonsep lebih luas dengan lebih banyak karakter. Tapi keterbatasan dana membuat kita harus eksekusi satu per satu

    Banyak review positif muncul di media. Bahkan seseorang (I don’t know who) memposting thread mengenai iklan layanan masyarakat #SayangBandung dan berhasil menjadi Hot Thread Kaskus sepanjang 70 halaman. *Di sana koleksi meme-nya lebih lengkap silahkan mampir ke sana >> http://www.kaskus.co.id/thread/5458ebe032e2e6f36e8b4576/kumpulan-meme-kampanye-sayang-bandung

    hot thread sayang bandung di kaskus
    hot thread sayang bandung di kaskus

    Tapi bukannya tidak ada kejadian yang negatif, namanya juga kampanye eksperimental. Beberapa meme yang muncul dari publik ada menggunakan politisi sebagai tokoh sentralnya. Lucu sih, tapi kami tidak suka juga kampanye kebersihan digunakan sebagai alat perang saudara. Ada juga seorang pembuat meme yang rupanya mencomot foto seseorang model tanpa izin, dan kebetulan model tersebut keberatan. Untungnya akhirnya dua pihak tersebut dapat berkomunikasi dan kemudian berbaikan. Itu sebabnya, sejak awal kita cukup aktif mengawal jalannya kampanye ‘crowd sourcing’ ini di Internet, jika ada varian kampanye yang kami anggap negatif, kami berusaha ‘timpa’ dengan kampanye yang lebih positif. Agar arah kampanye ini tetap terjaga.

    Belajar dari respons publik Iklan Layanan Masyarakat fase I, sebenar komunitas Sayang Bandung bermaksud untuk mulai menyiapkan kampanye lanjutannya. Meneruskan kampanye kebersihan dengan menggunakan karakter-karakter lain yang sudah disiapkan, kampanye mitigasi bencana kebakaran dengan ide kreatif yang sama sekali berbeda dengan kampanye kebersihan, membantu komunitas lain dalam mendesain dan merancang sebuah sistem penukaran sampah rumah tangga menjadi tabungan/beasiswa, dan ide lain.

    Tapi belakangan, ada hal yang kami tidak sangka-sangka. Munculnya protes dari beberapa orang di halaman Fb yang menganggap bahwa iklan original ‘Iis’ adalah iklan yang sexist –merendahkan perempuan. Ini agak mengagetkan bagi kami. Karena setidaknya 5 orang di antara kami, anggota komunitas kecil ini, adalah perempuan. Kami tentu beranggapan bahwa jika iklan ini sexist, teman-teman perancang yang perempuan sudah memprotes (setidaknya memberi masukan) sejak awal.

    Setelah saya baca puluhan caci maki dan beberapa kritik di wall tersebut, saya mulai mengerti bahwa masalah utama adalah ‘persepsi’. Paduan antara figur perempuan cantik dan kalimat ‘Pilih mana, bayar denda karena nyampah atau traktir aku’ yang di kalangan target kampanye (anak muda) diterjemahkan sebagai ‘Jangan sampai kena denda karena nyampah. Kalau punya uang lebih baik nraktir teman atau pacar’ –ternyata bisa dipersepsikan berbeda di kalangan lain. Kalangan warga lain yang lebih concern mengenai gender equality, ada yang menterjemahkannya sebagai ‘perempuan bisa dipakai untuk pengganti membayar denda’. DUH…, sebagai orang yang dibesarkan oleh seorang ibu yang berkarir cukup tinggi dan ayah yang jago memasak -di situ kadang saya merasa sedih. Iya gituh saya ini sexist?

    Persepsi memang bagaikan karet gelang, it shrink and stretch, tergantung dari latar belakang orang yang melihatnya. Saya coba mengevaluasi situasi dengan melihat beberapa kasus persepsi.

    1. Masih ingat kan kasus clothing Indonesia Salvo_ID yang meyablon kalimat ‘Washing Instruction. Give this jersey to your woman. Its her job’. Hampir semua orang yang saya kenal, termasuk saya, menganggap bahwa Salvo_ID bener-bener keterlaluan. Walau persepsi tentu saja ibarat karet, dalam kasus Salvo_ID yang menggunakan bahasa Inggris dan menjual kaosnya di Indonesia, menurut saya ini adalah keputusan yang 90% bloopers. Gak bijak. Bagaimana menurut orang Arab Saudi? I don’t know, they have their own values. Tapi kembali, iklan ini ada di Indonesia dan berbahasa Inggris pula. Publik Indonesia dan orang yang berbicara bahasa Inggris harus menjadi perhatian utama. Dalam hal persepsi  ‘perempuan sebagai tukang cuci’, nampaknya kebanyakan orang Indonesia, Inggris dan Amerika satu pandangan. Kompak!
    2. Iklan rokok A Mild pun kemarin sempat bermasalah. Iklannya menggambarkan dua orang pemuda pemudi yang bergandengan dengan posisi kepala sangat berdekatan dengan wording ‘Mula-mula mau lama lama mau. Go Ahead’. Iklan ini pun langsung diprotes keras kebanyakan orang-orang yang saya kenal. Kebanyakan orang langsung mempersepsikan bahwa ini artinya “Go Ahead, dia mula mula malu tapi lama lama juga mau. Cium aja!”. Persepsi seperti ini jelas bertabrakan dengan nilai kebanyakan orang indonesia yang tidak menganggap seksualitas boleh dipertontonkan sevulgar itu. Bloopers? Saya pikir iya. Tapi saya juga berpikir bahwa dalam kasus iklan yang kedua, orang-orang Inggris dan Amerika tidak akan sepakat dengan orang Indonesia. Betul?

    Jadi memang adalah sesuatu pekerjaan tidak mudah untuk memperdebatkan (apalagi menyamakan) sebuah persepsi di antara orang-orang yang berlatar belakang berbeda. Never the less, membicarakannya adalah hal yang perlu. Oleh sebab itu, saya sepakat untuk bertemu dan berdiskusi dengan teman-teman yang mengkritik minggu besok (29/3/2015).

    Saya tidak pernah takut pada kopi darat. Dalam posisi apapun, yang namanya good old kopi darat lebih sering membawa output positif. Yang saya agak takut adalah kopi internet –apalagi sosial media. Kebanyakan penduduk dari bangsa yang sedang ‘Akil Baliq Internet’ ini rupanya gak sadar bahwa dirinya sedang akil baliq. Punya anak remaja? Atau masih ingat masa remaja? Ketika segala macam kita tabrak. Meja ditabrak, pintu dibanting, aturan diinjak. Pokoknya ‘gue’ adalah central of the universe. What I thik is what matter. What you think doesn’t matter.

    Inilah yang terjadi dalam ‘kopi internet’. Sering banget kan kita menemukan komentar-komentar kasar di internet tuh. Paling parah adalah kometar di media-media komersial yang paling suka mengadu domba pembacanya. Satu-satunya hal yang lebih buruk daripada beritanya adalah kolom komentarnya yang beramai ramai ‘memukuli si pesakitan’ –kasar dan tidak punya arah.

    Kebiasaan berkomentar keras dan menyakitkan ini sudah bukan eksklusif milik media komersial, tapi sudah mulai masuk ke wilayah privat kita: di wall Fb kita, di timeline Twitter kita, dan entah di mana lagi. Kita ini sudah menjadi bangsa yang melakukan katarsis –dengan cara menyakiti orang lain menggunakan keyboard.

    Dalam kasus kritik di wall FB terhadap kampanye Iis @SayangBandung, selain kritik-kritik yang layak dijadikan masukan -tentu saja noise politik langsung masuk ke dalamnya. Maklum inisiatif #SayangBandung bersinggungan sedikit dengan Walikota Bandung. Padahal semua konsep kreatif, pemilihan model, wording, dan ide kreatif -bisa dikatakan mandiri dilakukan oleh anggota komunitas. Keterlibatan Walikota Bandung hanya pada menyadari bahwa ada kebutuhan Iklan Layanan Masyarakat yang lebih kreatif dan efektif. Bahkan tidak ada dana satu rupiah pun yang berasal dari dana pemerintah atau rakyat. Kecuali kalau kita, yang membuat dan yang menyumbang, disebut rakyat juga.

    Words is mightier than sword. Begitu kan ramai digaungkan ketika kejadian #JeSuisCharlie? Jadi semua orang sudah tahu walaupun hanya gabungan kata-kata, sebuah kalimat jika diniatkan pedas maka sakitnya bisa lebih parah dari belati.

    • “… walikota tapi mentalnya mirip stand up komedian kelas teri …” ,
    • “Stop buang sampah kreatif ala seksis”,
    • “Sama sekali tidak kreatif –hentikan!”.
    • “Jangan hamburkan uang rakyat untuk membuat kampante tidak kreatif seperti ini”
    • Ada pula orang Surabaya yang langsung membandingkan Kang Emil dengan Ibu Risma (*for what?)
    • dan banyak noise lain yang diketikkan lebih sebagai katarsis bukan dengan niat demi kepentingan bersama.

    Saya jadi mikir, perlu setajam itukah kita dalam menyampaikan kritik dan menuliskan pikiran kita di sosial media? Sampai kita menghilangkan prinsip dasar lain yang sama pentingnya, yaitu ‘Jangan menyakiti orang lain’.

    You know what, walaupun sudah menjadi resiko profesinya, sedikit banyak, seorang desainer (muda) akan sakit hatinya ketika karyanya dikatakan ‘sampah’. Sakitnya dijuluki ‘pembuat sampah kreatif’ bagi desainer itu kurang lebih sama dengan menjuluki ‘tidak becus ngurus anak’ bagi seorang ayah atau seorang ibu. Pernahkah kita berpikir ke sana?

    Tidak perlu kan saya gambarkan sakitnya dijuluki membuang-buang uang rakyat, padahal justru kita menyisihkan pendapatan pribadi untuk kepentingan orang lain? #SakitnyaTuhDiSini #NunjukHatiDanDompet

    Pernah terbayang enggak kalau anak pertamanya Kang Emil (yang sudah SMP) tiba tiba membuka FBnya dan membaca komentar Fb yang mengatakan bahwa bapaknya adalah walikota dengan mental mirip stand up komedian kelas teri? *Di mana bisa kita ambil nilai positif dari kritik seperti ini?

    Cara kita memberikan kritik kadang sudah kayak orang yang lupa bahwa SEMUA manusia punya hati. Percaya deh prinsip ini: “Kitik positif pun akan berasa seperti racun ketika yang disasar adalah hatinya  –bukan tindakannya.” Prinsip di atas ternyata sudah banyak dilupakan oleh kita ketika kita mengkritik seseorang –apakah itu bawahan, atasan, pemimpin -apalagi orang yang kita tidak kenal. Apalagi di sosial media.

    Tarik nafassssss ….. ffffffffff. Sahabat-sahabatku fellow indonesians, saya langsung ingat jawaban Kang Emil tahun lalu ketika saya memberikan kritik pada metodenya..” “Saya tuh sekarang sebenarnya lagi belajar ilmu yang sulit. Ilmu Ikhlas. Ternyata itu sulit sekali ……” Wah … rupanya di jaman akil baliq internet, kehidupan seperti inilah yang dialami oleh Kang Emil, Pak Ahok, Pak Jokowi, Bu Risma dan Pak Prabowo setiap hari setiap detik.

    Jadi malu, jangan-jangan kita ini tidak lebih dari rakyat yang menuntut pemimpin yang santun mengayomi, sementara kita, -sopan pun tak kenal, apalagi santun.

    Akhirnya, menjelang kepala 4 ini saya baru bener-bener mengerti apa maksud surat Al Ashr “ …..sesungguhnya  manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati dalam kebenaran dan nasehat menasehati dalam kesabaran.”

    Kepada teman-teman pemuda pemudi @SayangBandung, maju terus. Mari kita belajar dari apapun yang dilemparkan kehidupan ke muka kita. JFK pernah berkata, “There are risk and cost of an action. But they are far less, than the long range risk –of comfortable inaction.’

    Kepada teman-teman yang telah memberikan kritiknya dengan baik pada kami, saya ucapkan terima kasih yang amat dalam.

    Kepada teman-teman yang melontarkan caci-makinya dengan tajam, saya paham bahwa kami -begitu juga Kang Emil amat jauh dari sempurna. Tapi tolong yakinkan pada saya bahwa walikota yang sekarang ini tidak labih baik daripada walikota-walikota 15 tahun terakhir. Kalau teman-teman berhasil meyakinkan saya, mungkin … hanya mungkin …. tahun 2018 kita kembalikan saja Bandung pada pemimpin-pemimpin yang lama *tolong jangan diamini

     

  • Negara Nazi di Nias dan Tentara KNIL penjaga Sang Proklamator : Pengingat Bahwa Dunia Tidak Hitam-Putih

    Tahukan anda bahwa pernah ada kudeta NAZI di Indonesia di tahun 1942? Tidak lama sih, hanya selama hampir satu bulan saja -itu juga hanya di Pulau Nias. Rosihan Anwar pernah menuliskannya di buku Petite Histoire Indonesia jilid I. Jadi ceritanya begini. Setelah Negeri Belanda diserang penerjun payung NAZI tanggal 10 Mei 1940, pemerintahan Hindia Belanda segera mengamankan semua orang Jerman yang diketahui tinggal di wilayah Nusantara.

    Jangan salah, di wilayah Hindia Belanda memang banyak perantau Jerman mencari peruntungan. Mereka hidup berdampingan dengan orang eropa lain, dengan berprofesi sebagai dokter, pengusaha, manajer, guru sekolah, dan sebagainya. Kok bisa? Ya bisa lah. Tidak selamanya Belanda dan Jerman itu musuhan kan? Lagipula untuk para ‘perantau’ eropa ini, yang penting, mereka bisa hidup mendapatkan rejeki dengan tenang. Sebagian mencari uang, sementara sebagian lagi mencari ilham. Seperti Walter Spies, sang Pelukis yang sudah lama tinggal di Bali.

    Anyway, tidak peduli apakah orang Jerman di sini adalah pendukung Adolf Hitler atau justru musuhnya, semua orang Jerman ditangkapi dan diinternir. Bisa jadi, tentara KNIL Hindia Belanda saat itu harus menahan dokter giginya sendiri atau guru sekolah anaknya. Pada saat darurat perang, tampaknya sulit membedakan kawan dan lawan. Jadi yang penting semua diinternir dahulu. Yah … Mau diapain lagi? Itulah yang namanya perang.

    Poros ABCD (American, British, Chinese and Dutch) kemudian menyepakati bahwa sebagian tahanan Hindia Belanda akan dikirimkan ke koloni Inggris di India lewat jalur laut. Sayangnya, nasib kurang baik menimpa sebagian tahanan yang dikirimkan menggunakan kapal penumpang ‘Van Imhoff‘ pada tanggal 19 Maret 1942. Dalam perjalanan dari Sibolga menuju India, kapal laut ini dibom oleh pesawat pengintai Angkatan Laut Jepang. Apesnya, kapten kapal dan para penjaga tahanan malah kabur dengan hanya menitipkan kunci-kunci kamar kepada beberapa pemimpin interniran Jerman. Emangnya gampang mencocokkan kunci dan pintu kamar di dalam kapal yang sedang tenggelam? 

    Alhasil beberapa hari kemudian, hanya sekitar 65 interniran Jerman yang berhasil mencapai pantai-pantai Pulau Nias. Sisanya tenggelam ke dasar laut bersama Van Imhoff. Walter Spies, sang pemusik dan pelukis dari Bali, adalah salah satu korbannya.

    Seluruh interniran Jerman ini kemudian disekap di tangsi Gunung Sitoli oleh sekitar 40 orang polisi lapangan Hindia Belanda di Nias. Tapi penahanan mereka ini tidak berlangsung lama. Seminggu kemudian, dengan bekerja sama dengan para penjaga yang tidak puas, mereka berhasil meloloskan diri, menyerang balik polisi Belanda, dan memenangkan pertempuran. Giliran polisi-polisi Belanda lah yang berbalik diinternir oleh tahanannya sendiri. Kudeta telah terjadi di Nias.

    Mulai saat itulah Pulau Nias secara resmi berada di bawah kekuasaan Jerman. Mereka mengangkat seorang bernama Fischer untuk menjadi “Perdana Menteri” dan seorang dokter asal Bandung bernama Heidt untuk menjadi pemimpin mereka. Fischer bahkan berinisiatif membuat sebuah insinye (lencana) Swastika NAZI di Pulau Nias -tanda bahwa pulau tersebut berada di bawah kekuasaan sang Fuhrer.

    Barulah dua puluh hari kemudian, tanggal 17 April 1942, tentara Jepang datang untuk mengambil alih kekuasaan dari pemerintahan NAZI ‘dadakan’ tersebut -kemudian mengamankan sebagian orang Jerman ke tanah Jepang. Pasukan Jepang ini disambut dengan bendera-bendera, gerebang kehormatan dan lagu Indonesia Raya. Rakyat bersuka ria dengan datangnya bangsa penolong dari timur.

    Really??? Hanya butuh waktu beberapa bulan saja bagi rakyat Nias untuk menyadari bahwa ternyata sang penolong akan menjelma menjadi horror terburuk dalam sejarah Bangsa Indonesia. Belanda dan Jepang ternyata sama saja. Mereka masing-masing punya agenda sendiri, dan rakyat Nias adalah obyeknya -bukan pemeran utama.

    Anyway, Saya sangat tertarik dengan karakter dr. Heidt. Sehingga saya paksain cari tahu sedikit tentang si pemimpin interim NAZI di Nias tersebut. Soalnya kok aneh, ada dokter bisa jadi pemimpin kudeta NAZI? Sebuah kebetulan kah? Betulkah jaman doeloe ada seorang bernama dokter Heidt di Bandoeng?

    Tidak lama mencari, saya menemukan jawabannya di buku telepon Bandoeng (Telefoongids Bandoeng) terbitan tahun 1936. Ternyata memang ada seorang dokter yang tinggal di Bandung bernama Heidt. Nama lengkapnya Dr. K. Heidt. Dia rupanya dokter ahli THT yang tinggal di Burgemeester Kehrweg No 15, dekat tempat tinggal walikota. Dan menurut almarhum Rosihan Anwar, dia memang anggota partai NAZI Jerman. Bisa jadi dokter THT terpandang di Bandung tersebut, sejak lama merangkap sebagai mata-mata NAZI. Oh, keren banget kalau dijadikan film. Apalagi sejarah mencatat, dokter Heidt membunuh dirinya sendiri empat bulan setelah kudeta NAZI di Nias. Dalam pesan terakhirnya, dia mengatakan bahwa ‘dia tidak kuat lagi menahan rasa kesepian.’ Wah ….Tragis Banget! Kalau kejadian ini terjadi di tahun 2015, bisa kita bayangkan hebohnya headline di Vi** News, Piyu****, RM*L, Tole**n dan media-media gosip setara. 😀

    Sepenggal sejarah Nazi di Nias ini sering megingatkan saya akan sulitnya melihat kehidupan sebagai sesuatu yang hitam-putih. Manusia tidak pernah hitam-putih. Sehingga sejarah yang ditinggalkannya juga jarang berwarna hitam putih. Dalam kehidupan nyata, jagoan tidak pernah tampan sempurna, penjahat tidak selalu terlihat bengis. Menyimpulkan sesuatu secara kontas: black and white, sering kali akhirnya membuat kita gigit jari belakangan.

    Kejadian ini juga pernah terjadi pada seorang tentara KNIL muda yang ditempatkan di Bandung pada dekade terakhir kekuasaaan Koloni Belanda di Indonesia. Saya kenal dia secara tidak sengaja. Saat itu saya sedang jadi kuncen pameran foto dan pemutaran video Bandoeng Tempo Doeloe. Sesudah menonton film dokumenter bersama pengunjung lain, seorang kakek-kakek bule tiba-tiba mendekati saya sambil berkata “I probably killed your grand father, I was a dutch soldier back then.” Kaget saya dibuatnya. Ada kakek-kakek mengaku bahwa dia membunuh Aki Emon almarhum. “Ah ngaco nih bule. Kakek saya memang seorang TNI di jaman revolusi, tapi beliau meninggal waktu saya kelas 4 SD. Kakek saya yang mungkin membunuh komandan kamu“, gumam saya di dalam hati yang agak tersinggung.

    Tapi rasa tersinggung di hati saya tidak bertahan lama. Kakek ini memang terlihat tua, tapi masih cukup sehat untuk jalan sendiri dan bercerita sambil sesekali berkelakar. Dia kemudian nyerocos dalam bahasa Inggris. Dia bilang bahwa dia termasuk tentara asli dari Nederland yang dikirimakan ke Hindia Belanda. Berbeda dengan Belanda Indies, yang kulitnya putih tapi lahir di nusantara, bule asli Belanda cenderung lebih sombong dan merendahkan Inlander. Mereka menganggap bahwa semua Inlander adalah bodoh dan tidak berpendidikan. Jadi tidak mungkin lah mereka membiarkan sebuah negara bernama Indonesia merdeka. Siapa, orang bodoh, yang sanggup mengelola pemerintahan sebuah negara seluas ini?

    Kakek ganteng ini pada akhirnya mengaku bahwa dia mungkin salah. Ada satu orang Inlander yang berhasil mengubah persepsinya tentang kemampuan Bangsa Indonesia untuk mengelola negaranya sendiri. Waktu masih muda, dia kebetulan ditugaskan di Bandung untuk menjaga seorang tahanan politik. Tapol yang satu ini langganan masuk penjara, sekaligus langganan minta diantarkan buku ke dalam sel tahanan. Orangnya masih muda dan bisa berbicara beberapa bahasa dunia. Awalnya dia bingung, “Kok ada Inlader bisa sangat lancar berbahasa Belanda sekaligus lebih lancar berbahasa Inggris daripada dirinya yang orang eropa?

    Ternyata sebabnya adalah, berbeda dengan tentara muda yang jarang baca buku, Si Inlander kayaknya sudah pernah baca segala macam buku dengan berbagai topik yang pernah dituliskan manusia. Orang ini kutu buku merangkap singa podium. Walau sama-sama ganteng, secara intelektual, si kulit putih merasa lebih inferior dibandingkan si kulit coklat. Di dalam lingkungan sel penjara itu, dunia sudah terbalik.

    Soekarno is something“, dia bilang. Mereka berdua akhirnya sering berbicara di kala senggang. Soekarno yang umurnya lebih tua dan juga lebih berpengalaman, akhirnya sering ‘mengajari’ tentara muda ini tentang kehidupan dan dunia. Sebagai orang yang jarang membaca buku, tentara muda ini akhirnya menganggap sang tapol menjadi teman belajarnya. Tapol ganteng inilah yang kemudian meyakinkan si tentara muda bahwa Bangsa Indonesia layak diberikan kesempatan untuk merdeka. …. ckckckck …..Saya kagum, begitulah cara Soekarno meyakinkan lawannya -begitulah cara Soekarno memerdekakan Indonesia.

    Di akhir pembicaraan, kakek penjaga Soekarno ini bilang sesuatu yang menggelikan, “You know what? What I admire most about Soekarno is his taste of women. You HAVE TO listen to a man with a good taste of women.” *Pengen guling-guling saya mendengarnya. Dua bangsa ini lagi perang, sementara dua orang ini malah berbagi selera kecengan. Dunia memang tidak hitam putih. Orang yang ‘melihat’ dunia dengan kaca mata hitam-putih, mungkin ‘merasakan’ rasa ‘hitam-putih’ juga di hatinya. Gak mau ah.

    ———————————————

    *) Tulisan ini ditulis untuk anak-anak saya; Samudra (yang suka curi-curi baca blog saya), Sakti yang baru mulai belajar membaca, dan Arix yang kayaknya baru lima tahun lagi bisa baca. Santai aja, boys! The world is full of colors! Be Good, Enjoy it!

    *) Gambar becandaan “I was thinking of making the world black and white, then I thought ….. naaah” dipinjam dari www.quotespictures.com

  • JODOH ITU JOROK

    “Da kumaha atuh, nu ngarana jodoh mah jorok (Ya gimana lagi, yang namanya Jodoh itu Jorok *sundanesse)” kata kang Yerry Primadi suatu pagi ketika kita ngobrol tentang betapa tidak bisa diprediksinya suatu hal bernama ‘Jodoh’.

    Saya sendiri tidak pernah habis pikir bagaimana hati dua manusia bisa saling tarik menarik. Sampai-sampai sering membuat rasio kita ikutan reses, seperti anggota Dewan yang terhormat. Ada juga yang bilang bahwa semua orang sebenarnya pandai, kecuali di hadapan lembar ujian dan di hadapan kekasih. Akuilah … pernah terjadi juga sama kita semua kan?

    Saya pernah keceplosan menebak jodoh seorang teman. Ceritanya suatu hari, seorang teman baik saya pernah menelepon, menanyakan apakah saya punya teman yang bekerja di suatu kantor media terkenal di Jakarta. Kebetulan dia baru diterima di sana dan akan segera mulai bekerja. Saya bilang,”Oh iya, ada. Saya kenal Bang F. Dia kerja di sana juga”. Teman saya lalu minta dikenalkan. Entah kenapa saya kemudian nyeletuk #offside,”Eh, beneran lu mau dikenalin? Soalnya kayaknya berbahaya nih. Dia tipe lu banget. Jangan2 nanti lu jadian… hehehe”. …. Ternyata beberapa bulan kemudian mereka mengirimi saya undangan pernikahan. Betulan! Gak bohong.

    Bulan Oktober 2014 lalu,saya kenalan sama seorang pengusaha yang membuat situs perjodohan yang memilik algoritma kecocokan berdasarkan profil psikologi masing-masing member. Saking salutnya saya sama usahanya Razi Thalib​, malam harinya saya posting tentang situs tsb, www.setipe.com, di wall saya. Maksudnya sih iseng aja, karena sebenernya kabanyakan teman seangkatan saya udah pada menikah. Saya cuman sempat komen, sebaiknya jangan dipakai untuk cari istri ke-2 ya 🙂 Taunya di akhir bulan Desember, seorang sahabat lama saya, nulis pesan di timeline FB. Bunyinya kurang lebih, “Ben dateng ya ke pernikahan gue bulan Januari”. Ternyata sahabat lama saya ini beneran ngeklik tautan yang saya posting, membuat profil di sana, Kenalan sama orang -yang ternyata jodohnya! Dan nikah di bulan Januari 2015. Ajaib kan?

    Lebih ajaib lagi adalah cerita teman saya. Dia bilang kakak perempuannya nikah dengan laki-laki yang sebelumnya bertengkar di gedung parkir, gara-gara masalah parkiran mobil. Walau pertemuan pertama mereka adalah ‘pertengkaran’, ternyata lanjut ke pelaminan. Spektakuler, bukan?

    Memang sih, saya juga setuju sama pendapat yang menyarankan agar mencari jodoh sebaiknya di tempat-tempat yang baik. Di pengajian, di masjid, di kampus, di komunitas sosial, dll. Tapi ya kadang-kadang belahan diri kita muncul di tempat-tempat yang tidak terduga. Di luar skenario ideal! Kadang bukan cuman tempatnya yang tidak ideal. Situasi juga tidak ideal. Lebih parah lagi, si Jodoh nya pun tampak tidak ideal. Tapi percaya deh, tidak ada perempuan yang ideal untuk diri kita. Kita gak bisa ‘indent’ tipe perempuan ideal kepada Yang Maha Pencipta. Perempuan bukan Avanza. Kalau sayang sama perempuan, berarti harus siap ‘membangun’ dia seperti kita membangun motor klasik kesayangan. Bedanya sama motor klasik? Perempuan akan balik membangun kita. Begitu kurang lebih pengalaman saya. Tapi sayangya saya gak punya motor klasik. Jadi mungkin kurang bisa dipercaya nasihatnya.

    Gak terasa, hari ini saya dan Fanny​ genap 12 tahun menikah. Tadi siang saya belikan anak-anak satu box pizza besarr, karena kita gak mungkin merayakan ulang tahun pernikahan kali ini di luar rumah. 3 dari 5 anggota keluarga kami, termasuk si bayi Arix, masih harus di-‘karantina’ karena matanya diserang infeksi virus sejak tiga minggu yang lalu.

    Sambil makan Pizza, saya menjelaskan apa itu ‘anniversary’, yaitu peringatan hari pernikahan Mamah dan Papah. Kita juga jelaskan bahwa ibu dan bapaknya, berbeda dengan mereka yang saudara sedarah, sebelumnya adalah sepasang orang yang tidak saling kenal. Kita bertemu sesudah besar. Lalu memutuskan untuk hidup bersama dengan menikah. Si Samsam ngangguk, dia sudah cukup besar untuk mengerti konsep ‘menikah’. Si Sakti yang baru 5 tahun, kayaknya ngangguk-ngangguk karena tidak ingin diganggu. Untuk dia, pizza mungkin lebih menarik daripada obrolan soal pernikahan.

    Tiga puluh menit kemudian, Samsam dan Sakti ketawa-ketawa sambil membawa laptopnya ke depan saya yang sedang mengetik. Rupanya, setelah saya dan ibunya cerita tentang hari pernikahan kita, mereka sepakat mau membuatkan hadiah ‘kartu anniversary’ pakai CorelDraw. Yang membuat saya ketawa terbahak-bahak adalah gambar di pojok kiri. Si Samsam menggambarkan angkot hijau dengan gambar hati di atasnya. Rupanya saya udah kecolongan menceritakan di mana dulu kita berdua bertemu. Wahahaha … gak ideal banget tempatnya! Ah, sudahlah. Insyaallah yang penting bahagia lalu nanti masuk surga 😀

    ————————————–

  • Kalau bukan karena ibuku, mungkin pesawat itu sudah …..

    Saya yakin, puluhan penumpang pesawat Foker 28 itu pasti berpegangan erat pada pegangan kursi masing-masing. Pasti tidak banyak orang yang sempat berpikir jernih untuk segera mengambil posisi menunduk darurat seperti yang digambarkan di leflet penerbangan yang terselip di depan kursi masing-masing. Anak-anak kecil pasti meringis menahan tangis -membuat kusut suasana yang sebenarnya sudah kalut tanpa tangisan mereka. Dan detik-detik itu, semua orang tua di dalam pesawat pasti merasakan perasaan terburuk yang pernah ada di hati mereka : perasaan tidak berdaya untuk menyelamatkan nyawa anak-anaknya.

    Kecelakaan seperti ini memang tidak terduga. Cuaca saat itu cukup terang. Pesawat melayang gentle menuju runway. Ban menyentuh aspal tanpa hentakan yang berlebihan. Dalam skala 1:10, mungkin pendaratan itu layak diberi nilai 8. Penumpang-penumpang yang muslim, mungkin sudah melafalakan hamdalah di ujung lidahnya. Tapi beberapa detik kemudian terjadi bunyi patahan yang luar biasa keras yang diiringi dengan getaran hebat pada badan badan pesawat. Hamdallah di ujung lidah mungkin dengan cepat berubah menjadi seruan takbir.

    Tidak ada orang yang bakal menyangka bahwa ban pesawat yang baru saja menyentuh bandar udara Hasanudin Ujung Pandang itu bakal patah. Bukan meletus. Patah! Ban kanan pesawat buatan Belanda ini patah pada batang penyangganya. Yang membuat keadaan lebih buruk adalah -patahan ban yang ukurannya hampir sebesar mobil kecil ini kemudian mencelat ke belakang -merusak mesin kanan pesawat dan kembali memantul ke depan dan merusak ‘flaps‘ kanan pesawat (bagian sayap pesawat yang bisa bergerak naik turun). Dengan rusaknya mesin kanan dan flaps kanan pesawat, maka kemampuan pengereman pesawat bisa dikatakan tinggal separuhnya.

    Tapi cerita mereka belum berakhir. Nyawa mereka masih menggantung di lengan takdir Allah SWT -dan usaha dua orang yang duduk di kursi paling depan : Sang Pilot dan Co-Pilot. Kedua orang ini tahu sekali tanggung jawab yang disandarkan di bahu setiap penerbang. Mereka tahu, hanya mereka yang bisa membuat perbedaan pada akhir cerita ini.

    This is the moment. Ratusan kredit yang dilahap di dalam sekolah penerbang, puluhan jam simulator yang melelahkan, dan pengalaman yang terkumpul dari ratusan jam terbang di dalam kokpit -akhirnya akan menentukan putus tidaknya nyawa puluhan orang yang duduk tidak berdaya di belakang. Are they good enough? I don’t know.

    What I do know is : Tuhan Maha Pemurah. Hari itu, semua penumpang dititipkan pada dua orang terbaik-Nya. Sang Pilot dan Co-Pilot, dengan koordinasi yang mengagumkan, melakukan all the things ‘humanly possible’ untuk menyelamatkan jiwa semua manusia yang berada di pesawatnya. Mereka memutar balik arah putaran mesin yang tersisa, mengalihkan daya dorong mesin ke arah belakang. Sambil bersama-sama mengembangkan flaps untuk menambah daya henti pesawat. Dua orang ini memang layak duduk di kursi depan pesawat.

    Tapi ada satu hal lain yang juga membuat kisah ini lebih ngilu untuk dikenang. Pangkal batangan ban di sayap kanan yang menghujam aspal, memaksa pesawat membelok ke arah kanan -keluar dari runway. Di satu sisi, sisa patahan ini secara langsung membantu pesawat mengurangi kecepatannya, di sisi lain justru mengarahkan pesawat langsung ke arah menara komunikasi airport. Gawat! “Pesawat dengan ban patah menabrak menara komunikasi di Ujung Pandang.” begitu mungkin headline terburuk yang bisa saja diterbitkan esok harinya.

    Anyway, saya tidak ingat cerita selanjutnya. Kejadian ini terjadi belasan tahun yang lalu. Sudah agak lupa saya dengan detailnya. Yang jelas, headline ‘Pesawat menabrak tower’ itu tidak pernah dicetak. Yang ada adalah berita di RCTI tentang pesawat yang keluar dari runway dan berhenti beberapa puluh meter di depan menara bandara. “Wogh”, komentar saya malam itu. “Serem banget.” Anehnya pada pagi harinya, berita ini tidak muncul lagi di stasiun TV manapun. Begitu juga di berita siang dan sore. Aneh. Ada apa?

    Cerita ini menjadi lebih jelas ketika Si Co-Pilot pulang ke rumah ibunya dua hari kemudian.. Kebetulan saya juga sedang menginap di sana. Kaget juga saya, ketika kakak saya pulang ke rumah dengan tatapan mata yang agak kosong. Dia berkata dengan nada lurus, “Pesawat Arry hampir nabrak menara …..” Lalu dia masuk kamar mandi, ganti baju, kemudian makan malam sambil bercerita sepotong-sepotong tentang kecelakaan di Ujung Pandang. Dengkul saya ikut lemas. Ternyata pesawat yang saya lihat di TV kemarin adalah pesawat kakak saya.

    Saya masih sempat menemani kakak saya selama beberapa hari sesudah kecelakaan. Dia cerita bahwa semua kru pesawat tersebut di-grouded beberapa bulan kedepan. Semua kru juga harus bolak-balik ke psikolog perusahaan. Harus dipastikan bahwa tidak ada trauma menetap sebelum mereka semua mulai boleh terbang kembali. Saya bahkan sempat bertanya ,”Lu yakin mau terbang lagi?” Dia jawab .”Iya lah. Tapi nanti. Kalau udah diijinkan lagi. Sekarang sih istirahat dulu aja.” Kemudian saya berubah wujud menjadi tong sampah sementara untuk dia. Segala macam cerita menyeramkan dan istilah penerbangan dia guyurkan ke saya. Waduhh … epicscary. Menariknya, semakin sering saya mendengarkan dia, semakin saya yakin bahwa kakak saya adalah pilot yang luar biasa. Untung pesawat di Ujung Pandang itu dia yang bawa. Di tangan orang lain, mungkin menara di Ujung Pandang itu harus dibangun ulang. Well … selamat-tidak-selamat sih di tangan Allah. Tapi jalan keselamatan kadang-kadang dilewatkan Allah lewat manusia-manusia macam kakak saya ini.

    Tahu tidak? Seumur hidupnya, kakak saya ini cuman pernah punya satu cita-cita. Sejak dia dibelikan komik ‘Tanguy and Laverdure‘ oleh bapak saya (itu loh komik pilot militer perancis yang ganteng tea), dia sudah menentukan karirnya : kalau gede mau jadi pilot. Sejak itu pula Ibu saya tidak pernah mengijinkan dia makan permen terlalu banyak. Tidak seperti saya yang gerahamnya bolong-bolong -gigi dia mulus kayak menara gading. Kalau dia malas sikat gigi, Ibu saya selalu ngancam dengan kalimat “masih mau jadi pilot?”

    Dan emang dia kelihatan berbakat urusan terbang-terbangan ini. Saya adalah saksi bakat terpendamnya. Saya pernah melihat dia mendaratkan sebuah pesawat stealth dari Rusia sampai ke Balkan, dengan mesin yang rusak parah -tentu saja ini terjadi di dalam game simulasi komputer F117A. Jauh banget lah sama saya. Saya sih pakai mesin bagus aja ‘stall‘ melulu. Gak bakat.

    Pada dasarnya dia itu pintar, tapi juga nakal. Dia pernah di-skors tiga kali selama masa SMA. Satu -karena lempar-lempar makanan di dalam ruang kelas, dua -karena menyikut guru di lapangan basket (kata dia sih gak sengaja, *tau’ deh) dan yang ketiga karena pakai payung ketika upacara bendera (menurut saya sih ide jenius, tapi ternyata gak boleh menurut aturan sekolah). Dasar katro, eweuh gawe mun ceuk urang sunda mah. Tapi rekor skorsing dia yg luar biasa itu juga yang membuat saya dianggap sebagai anak yang lebih bageur dalam keluarga (saya cuman pernah di-skors dua kali jaman SMA -masih lebih baik). Ibu saya sabar sekali ya 🙂

    Ketika lulus SMA, tentu dia langsung melamar ke sekolah penerbang ternama milik pemerintah Indonesia. Dan benar saja, semua tes dia lewati dengan sukses. Singkat kata, dia akhirnya dapat surat penerimaan dari sekolah idamannya.

    Tapi bukan Indonesia kalau semua berjalan mulus -tanpa bumbu. Tiba-tiba dia dihubungi sekolahnya, lalu diminta untuk ikut satu tes lain. Tentu dia protes, kan dia sudah dapat surat penerimaan sekolah -kenapa juga harus dites lagi? Dengan mengkel, kakak saya datang ke tes ‘tambahan’ itu. Tes-nya culun : dia disuruh jalan lurus mengikuti garis di lantai. Sesudah itu disuruh pulang. Dia langsung punya firasat buruk, mana mungkin tes terakhir justru paling mudah. Pasti ada apa-apa.

    Benar saja. Beberapa hari kemudian dia diberi kabar bahwa dia tidak jadi diterima di sekolah sana tanpa alasan yang jelas. Kakak saya sangat terpukul. Dia memang tidak pernah mengakuinya, tapi saya bisa lihat dari cahaya di matanya. Berulang kali dia menelepon ke pejabat di departemen perhubungan untuk menanyakan alasan kenapa dia dicoret dari calon siswa penerbang. Semua menolak menjawab. Intinya keputusan sudah dibuat oleh negara. Kamu terima saja, boy! Begitulah kehidupan di jaman pak Harto. Piye kabare, Pa?

    Melihat anaknya hancur pelan-pelan, Ibu saya tidak bisa tinggal diam. Dia membuat surat pengaduan yang dialamatkan pada menteri perhubungan. Dia minta dibuatkan endorsement dari uwak saya yang sebenarnya pejabat pemerintah juga. Orang main kayu harus dilawan pakai kayu juga, -khas Orde Baru. Kali ini giliran ibu saya yang datang menghubungi pejabat departemen perhubungan. Dia mengancam, kalau dephub tidak bisa menjelaskan alasan mengapa anaknya ditolak, maka surat komplain ini akan langsung dikirimkan ke pak menteri. Karena diancam, akhirnya orang departemen perhubungan itu membuka alasan sebenarnya kenapa tiba-tiba muncul tes susulan dan perihal beberapa siswa yang tiba-tiba digugurkan dari penerimaan di sekolah penerbang itu. Alasannya adalah karena kakak saya tidak punya ‘backing’! Kemudian dia memperlihatkan buku yang berisi list calon siswa yang diterima, ada beberapa ‘tanda bintang’ pada beberapa nama di sana. Tanda bahwa nama itu titipan pejabat! Ohhh …. ini dia yang menyebabkan tiba-tiba kakak saya (dan beberapa calon siswa lain) ditendang keluar. Dia malah berkata begini ke ibu saya,”Aduuh … ibu kalau ibu punya backing begini (sambil menunjuk surat dari uwak saya), kenapa ibu tidak bilang dari awal.”

    Ibu saya yang sabar itu akhirnya naik pitam. Bapak Dephub itu diberi kuliah. “Keterlaluan. Saya kecewa pada Dephub. Anak-anak yang melamar di sekolah bapak itu adalah orang-orang yang suatu saat bertanggung jawab terhadap nyawa ribuan orang yang akan mereka terbangkan. Lalu bapak di sini memilih mereka berdasarkan berapa banyak bintang yang mem-backing anak tersebut? Bukan berdasarkan kemampuan dan kepantasan setiap siswa? Apa bapak tidak merasa bertanggung jawab juga terhadap nyawa penumpang pesawat di Indonesia? Keterlaluan!” Karena tidak puas atas jawaban Dephub, Ibu saya justru meyakinkan pada pejabat dephub tersebut bahwa surat kepada menteri justru harus diberikan, karena alasan dephub justru sangat tidak bisa diterima akal.

    Jelas saat itu, praktek backing membacking ini adalah sesuatu yang jamak terjadi di sana. Ancaman ibu saya membuat ‘si oknum’ kalang kabut. Dia memohon-mohon agar surat tersebut tidak perlu sampai ke tangan menteri. Dia mencoba memberikan solusi bagi kakak saya. Kakak saya akan dicarikan cara agar dapat untuk ikut test sekolah penerbang di tempat lain. Tapi berarti kakak saya harus mengikuti tes penerbang dari tahap awal lagi : tes bahasa inggris dan sebagainya. Ibu saya akhirnya memilih opsi kedua. Sebagai seorang ibu, dia merasa berkewajiban memberikan peluang yang adil bagi anaknya. Kebetulan ternyata ada tes penerbang lain di bawah sebuah perusahaan nasional. Mungkin ini akan lebih memberikan peluang yang adil untuk kakak saya.

    Benar saja, seperti karakter favoritnya -Tanguy, dia lewati semua tes penerbang tanpa tanpa masalah berarti. Dia kemudian berhak mendapatkan beasiswa puluhan ribu dolar untuk bersekolah di sebuah penerbang bergengsi di New Zealand. Dia lulus tepat waktu di sana. Mantan anak SMA yang terlalu sering di-skors itu menjelma menjadi murid teladan di bidangnya. Dia meraih predikat ‘Top Academic‘ and ‘2nd Best Flyers‘ di angkatannya. Pulang ke Indonesia dia langsung terikat kontrak 5 tahun dengan maskapai yang membiayainya sekolah ke NZ.

    Beberapa tahun kemudian dia duduk di kursi paling depan pesawat Fokker 28 menuju Ujung Pandang. Tuhan memilih dua orang terbaiknya untuk menghadapi takdir pahit hari itu. Dibutuhkan dua orang dengan kemampuan di atas rata-rata untuk menyelamatkan puluhan orang di kursi penumpang. Dibutuhkan orang yang mencintai pekerjaannya untuk dapat mengubah akhir cerita penerbangan itu. Bukan soerang anak pejabat teras atau orang dengan sebuah tanda bintang membacking namanya. Alhamdulillah, terima kasih Ibuku sayang. Kalau bukan karena kekerasan hati dirimu, mungkin … pagi itu headline berita koran-koran di Indonesia akan jauh lebih memilukan hati.

    —————

    ditulis untuk keluarga saya yang fabulous: bapak saya yang tenang tapi menghanyutkan, ibu saya : pegawai negeri yang benci korupsi -dan kakak saya yang mengajari saya cara untuk berkeras kepala: suatu hal yang dulu sulit saya lakukan.

    PS :

    *) hasil investigasi resmi menyebutkan batang ban pesawat naas tersebut patah diakibatkan ‘metal fatique’ / kelelahan metal. Kesalahan ada pada ground maintenance yang lalai mengganti batangan yang sudah lemah.

    *) berita kecelakaan ini hanya sempat masuk RCTI malam harinya. Semua kantor berita lain berhasil ditutup mulutnya oleh pemerintahan saat itu. Hal yang tidak mungkin terjadi di era sekarang. Bersyukurlah!

  • Samudra of My Own: note of an ‘unprepared father to be’

    I did quite well coping with the fact that my wife was pregnant and I have to prepare everything for the coming of our baby. We even bought two books on the subject of Pregnancy and Raising a Baby. I felt so much better when I finished reading those two books. Well, the Internet also help a lot. I can’t imagine how my father looked for such information in his time (or maybe he didn’t? .. being a very quiet and a calm man that he is).
    I think as my self as “an unprepared father to be”, because until the doctor said that my wife’s pregnant -I never really prepared anything for it. I virtually had no savings for the baby, I had no insurance, not to mention that I understand nothing about pregnancy and a pregnant wife -and the worst part is that in Indonesia you are on your own when it come to these things. The state doesn’t provide you with an insurance or a social security service (Indonesia’s State Insurance Policy/ the BPJS is finally available for general public 9 years after I had my first son, Red.), and nobody will believe me if I declare myself poor (a university graduate who drives a car declare himself as a poor? who’s gonna buy that?). Because the fact is I ain’t poor – I just forgot to save .. he he he .. sadly, I think most of us (father to be) did -most of us are “unprepared father to be”.Thanks God that I’m a fast learner and a good money saver. So I was able catch up and go to the doctor every single month for the next eight months. And also, bought nice expensive milk for my pregnant wife (which she resent .. ha ha).

    Here’s the picture of the baby in its second month

    Here is the USG picture of my baby in its second month Medical Encyclopedia wrote:  In this month, the heart starts to pump and the nervous system (including the brain and spinal cord) begins to develop. The 1 in (2.5 cm) long fetus has a complete cartilage skeleton, which is replaced by bone cells by month's end. Arms, legs and all of the major organs begin to appear. Facial features begin to form.

    Medical Encyclopedia wrote:
    In this month, the heart starts to pump and the nervous system
    (including the brain and spinal cord) begins to develop.
    The 1 in (2.5 cm) long fetus has a complete cartilage skeleton,
    which is replaced by bone cells by month’s end.
    Arms, legs and all of the major organs begin to appear. Facial features begin to form.

    That afternoon, it was the second time we saw our baby using that USG device -can you see the head (green) and the eyes (picture in the right)?. He is about the size of my thumb and I saw him swimming freely. My God, what a wonderful sight! We celebrate the moment by “makan sate ayam” (having indonesian chicken satay) before going back home. It was the best chicken satay I ever had.

    Talking about satay .. satay is a grilled sticked meat , much like a shaslick, which my wife would love to have anytime during her first three months pregnancy. Indonesian called these first three months as “bulan-bulan ngidam”. They are the harder months in having a pregnant wife. Woman’s sense of smell became so sensitive that they can smell steamed rice from hundreds of meters away -and saying that it stinks (rice? stinks? oh please!). Many of them don’t want to eat at all, luckily my wife wasn’t suffering to much from this “ngidam”symptoms. Every now and then she would refuse to eat anything except chicken satay, and satay became our regular diet. Thanks God that satay is a meal full of nutrition and protein, though I think it has too much carbon, but all and all I don’t have to worry too much about nutrition for my baby. Of course the doctor did give some food supplement and vitamins for her -which sometimes I also like to take (which made me gain about 8 kilograms in 8 months .. ).

    Here is the picture of his third month
    See him sitting there? (photo on the left)
    Medical Encyclopedia wrote: By now, the fetus has grown to 4 in (10 cm) and weighs a little more than an ounce (28 g). Now the major blood vessels and the roof of the mouth are almost completed, as the face starts to take on a more recognizably human appearance. Fingers and toes appear. All the major organs are now beginning to form; the kidneys are now functional and the four chambers of the heart are complete.
    Medical Encyclopedia wrote:
    By now, the fetus has grown to 4 in (10 cm) and weighs a little more than an ounce (28 g).
    Now the major blood vessels and the roof of the mouth are almost completed,
    as the face starts to take on a more recognizably human appearance. Fingers and toes appear.
    All the major organs are now beginning to form;
    the kidneys are now functional and the four chambers of the heart are complete.

    In this third month, somehow the lady doctor was able to see what I couldn’t. That afternoon after looking briefly to the USG monitor she said ,”Well, sir. It’s a he”. I wouldn’t lie by saying I wasn’t delighted. I was always wanted a son for my first child, although at the same time I was also saying to everybody that it doesn’t matter to me whether it was going to be a boy or a girl -I guess every parents wouldn’t want to be seen disappointed if they found out that the child they’re going to have is not in the sex they expected ( i had a hard time writing this in English, but you got what i meant , do you?). And don’t get me wrong, I’d love a little girl too -I guess. But I felt I would be a better father if I had a baby boy first -at least I know what a boy would love to play with his father. Did I mention that I only had a big brother in my family? That, i guess, had something to do with my wish to have a baby boy as my first child.

    the forth month
    Medical Encyclopedia wrote: The fetus begins to kick and swallow, although most women still can't feel the baby move at this point. Now 4 oz (112 g), the fetus can hear and urinate, and has established sleep-wake cycles. All organs are now fully formed, although they will continue to grow for the next five months. The fetus has skin, eyebrows, and hair.
    Medical Encyclopedia wrote:
    The fetus begins to kick and swallow, although most women still can’t feel the baby move at this point.
    Now 4 oz (112 g), the fetus can hear and urinate, and has established sleep-wake cycles.
    All organs are now fully formed, although they will continue to grow for the next five months.
    The fetus has skin, eyebrows, and hair.
    The baby was so much bigger in its forth month. If you look hard enough you could see his face silhouette in the USG print above. I remember trying to feel its kick and punch on my wife’s tummy. It was a bit hard since it was still too weak to be felt by an outside hands, but his mother was able to feel it -and just knowing it was kicking its mother made me feel super.
    On his fourth month we held a “syukuran empat bulanan”. It is a custom of Indonesian muslim to thank God for blowing His holy spirit into the baby’s body. We believe he’s finally a human being at the time -a person with a body and a soul which I should give the same respect I gave to other human being. I also remember that I had to lead the prayer my self since I had nobody else to do it for me. Man, I fell like a father already!

    The fifth month

    Medical Encyclopedia wrote: Now weighing up to a 1 lb (454 g) and measuring 8–12 in (20–30 cm), the fetus experiences rapid growth as its internal organs continue to grow. At this point, the mother may feel her baby move, and she can hear the heartbeat with a stethoscope
    Medical Encyclopedia wrote:
    Now weighing up to a 1 lb (454 g) and measuring 8–12 in (20–30 cm),
    the fetus experiences rapid growth as its internal organs continue to grow.
    At this point, the mother may feel her baby move,
    and she can hear the heartbeat with a stethoscope
    We could see his spine and I felt that he is big enough to have a conversation with his father. We talked about the world, about Indonesia, about happy we are for him, and about how cruel life could be. I never knew if he could hear my voice -or he could understand what I was saying, for that matter. But I guess I needed to talk to him. Well, we all talked to cats or dogs once in a while – and that doesn’t make you a “cuckoo”, right?

    The sixth month
    Medical Encyclopedia wrote: Even though its lungs are not fully developed, a fetus born during this month can survive with intensive care. Weighing 1–1.5 lb (454–681 g), the fetus is red, wrinkly, and covered with fine hair all over its body. The fetus will grow very fast during this month as its organs continue to develop.
    Medical Encyclopedia wrote:
    Even though its lungs are not fully developed,
    a fetus born during this month can survive with intensive care.
    Weighing 1–1.5 lb (454–681 g), the fetus is red, wrinkly,
    and covered with fine hair all over its body.
    The fetus will grow very fast during this month as its organs continue to develop.

    It was our first time to see his face -close up (see green area on above picture). “Is he going to look like me or like his mother?”, that’s the first thing that came up into my mind. Is there going to be another person who look just like me in the world? I beginning to feel excited and yet so relax. This pregnancy thing turned up to be a joyride after all. After six months, the fetus had grown much stronger that we didn’t have to worry too much about miscarriage and stuff like that. I also feel that the baby had really became a part of the family and I kinda got used to all these things.

    the seventh month
    Medical Encyclopedia wrote: There is a better chance that a fetus born during this month will survive. The fetus continues to grow rapidly, and may weigh as much as 3 lb (1.3 kg) by now. Now the fetus can suck its thumb and look around its watery womb with open eyes.
    Medical Encyclopedia wrote:
    There is a better chance that a fetus born during this month will survive.
    The fetus continues to grow rapidly, and may weigh as much as 3 lb (1.3 kg) by now.
    Now the fetus can suck its thumb and look around its watery womb with open eyes.

    My son had grown so big that he wouldn’t fit into the USG monitor -all you’d see in the monitor is one big mass of something which is constantly moving. Doctor Sophie her self seemed to be interested in measuring the size of the baby’s head for some reason. I believe the baby was supposed to had developed some sort of intelligence by then, because whenever I press my finger on my wife’s tummy -he’d kick or punch back (my very first lessons on self defense technique to him If somebody is pushing you around -kick him back! .. ha ha ha)

    The Eight Month
    Medical Encyclopedia wrote: Growth continues but slows down as the baby begins to take up most of the room inside the uterus. Now weighing 4–5 lbs (1.8–2.3 kg) and measuring 16–18 in (40–45 cm) long, the fetus may at this time prepare for delivery next month by moving into the head-down position.
    Medical Encyclopedia wrote:
    Growth continues but slows down
    as the baby begins to take up most of the room inside the uterus.
    Now weighing 4–5 lbs (1.8–2.3 kg) and measuring 16–18 in (40–45 cm) long,
    the fetus may at this time prepare for delivery next month by moving into the head-down position.

    Doctor Sophie predicted that my wife was going to give birth to my son in her eight and a half month of her pregnancy. This is due to the medical history of her mother and her sister who also gave birth during their 8,5 month of their pregnancy. Meaning that I must prepare everything by the eight month .. a.k.a baby stuff shopping week! First of all, we created a long list of baby’s needs: clothes, hats, socks, mittens, shoes, blankets, pillows, bed sheets, milk bottles, diapers, and so on and so on. Then we went to the nearest baby shop and buy those stuff on the list. The good thing is we didn’t find to much problem shopping since we are both aren’t shopaholic -we did it fast and accurate 🙂

    A much bigger problem is choosing which hospital for the delivery.Doctor Sophie gave us a list of hospitals for us to choose -complete with the price list, list of practicing doctors, etc. All good ones are of course expensive while choosing a cheap one somehow would be a bit risky (so we thought -we’re so rookies!). We did some survey directly to some of the hospital to make sure that what they wrote on the brochures are true and updated. Finally we chose Hermina Mother and Baby Hospital which was the closest one to our house. It was a brand new hospital where doctor Sophie also practice as a gynecologist. After all the preparation was set, all we needed to do was to wait -but waiting was probably the most exhausting and brain-draining activity of all. I wish I could skipped the waiting if I had to do all over again. I just couldn’t wait to meet my Baby Samudra!

  • KETIKA SAYA TAKUT MEMEGANG AL QURAN

    Untuk saya, Masjid Nabawi di Madinah memberikan suatu memori yang tidak mudah dilupakan. Menginjaknya untuk pertama kali saja sudah membuat hati saya leyur seperti es krim yang dipandangi terlalu lama. Imajinasi saya tentang pengorbanan Nabi dan sahabatnya menegakkan agama yang saya peluk, terlalu besar untuk hati saya yang kecil ini. Wajar kalau air mata saya sering membasahi karpet hijau tempat saya sujud. Ah biarlah … muslim tinggi besar dari Afrika pun sering saya lihat menyapu matanya kalau berdoa di sana. “Kalau mau merasakan sifat Ar Rahman dan Ar Rahim dari Allah SWT, berlama-lamalah di dalam Masjid Nabawi”, itu kesimpulan singkat saya tentang the Great Green Mosque.

    Tapi saya punya satu kenangan personal lain di dalamnya. Di masjid itulah saya pernah merasa terlalu kotor untuk memegang Al Quran. Jangankan untuk memegang dan membaca Al Quran di dalamnya, untuk memasuki pintu masjid saja saya sempat merasa tidak layak. Hehe … dasar manusia.

    Ya, selama hampir satu jam, saya sempat takut melewati gerbang Nabawi. Satu jam itu adalah satu jam yang luar biasa menyiksa bagi saya. Satu jam penuh perasaan bodoh, sombong, dan bingung. Baru pertama kali saya merasa sekecil itu.

    Kalau tidak salah itu adalah hari kedua saya di Madinah. Sama seperti muslim lain di sana, kerjaan saya adalah keluar masuk masjid, sholat, mengaji, baca al quran, dan memanjatkan doa pada Sang Pengasih. Perlu saya akui bahwa saya termasuk orang yang ngajinya selow. Pelan karena memang tidak terlalu pandai. Sampai Ashar sore itu, sesudah hampir dua hari di sana, saya baru mengaji sampai surat Al Baqoroh ayat 91. Tapi saya sangat menikmati setiap ayat yang saya baca. Saya sering mengaji menggunakan Al Quran yang banyak tersedia di dalam masjid, lalu saya baca artinya di dalam Aplikasi iQuran di dalam handphone saya. Tidak lupa saya bookmark ayat terakhir yang saya baca di dalam HP, agar sesudah sholat nanti saya tahu musti melanjutkan ke ayat berapa.

    Mulai hari kedua, memang saya sering datang lebih cepat ke masjid agar bisa mengaji dan sholat di shaf-shaf depan, di lokasi Masjid Nabawi yang asli, di samping Raudhah. Rasanya memang beda jika sholat menghadap langsung ke mimbar di mana dulu Nabi Muhammad SAW mengimami muslim-muslim pertama -empat belas abad yang lalu.

    Sayangnya sore itu saya agak terlambat datang ke Masjid. Walau waktu maghrib masih agak lama, rupanya shaf-shaf di samping Raudhah sudah penuh jamaah yang lain. Seharusnya saya berhenti di sana dan shalat di shaf-shaf tengah. Tapi rupanya saya masih terlalu nakal untuk tau diri, ngalah, lalu sholat di shaf yang kosong. Si Benben ini malah merangsek ke depan, lalu berdiri di dekat tiang-tiang penyangga masjid, menunggu dan berharap nanti ketika Azan berkumandang akan ada ruang sedikit untuk sholat di antara jamaah lain yang lebih dulu berada di sana.

    Semakin mendekati waktu maghrib, saya baru sadar bahwa itu adalah ide buruk. Semakin sore-semakin banyak orang yang datang. Bahkan ketika Adzan Maghrib berkumandang, saya lihat semua shaf penuh tanpa menyisakan ruang shalat untuk diri saya -di shaf manapun. “Waduh gawat”’ pikir saya. Kalau begini ceritanya, saya harus segera keluar dari masjid. Soalnya begitu imam takbiratul ihram, maka ruang-ruang sujud di depan jamaah lain haram untuk saya injak. Tergopoh-gopohlah saya berjalan cepat menuju pintu keluar, berharap di luar pasti ada ruang untuk satu jamaah lain.

    PRAKKKK! Malang sekali saudara-saudara. Kaki kanan saya yang setengah berlari ternyata menendang sesuatu di hadapan seorang jamaah yang nampaknya berasal dari Turki. Tidak tanggung-tanggung, saya menendang Al Quran dan buku-buku lain miliknya. Duh …. hati saya menciut..ut..ut.. ut. Sebenarnya muslim turki itu cukup baik hati untuk memaafkan saya yang panik meminta maaf sambil membantu mengumpulkan kitab-kitabnya yang berserakan. Bukan! Hati saya bukan menciut karena takut pada si Turki. Hati saya nyaris raib dari badan, karena saya merasa bersalah menendang Kitabullah di dalam Masjid Nabawi. Dan itu semua terjadi karena saya memaksa ingin shalat di shaf depan. Padahal saya ingat sekali ajaran guru agama saya dulu: bahwa sebenarnya Nabi Muhammad tidak menyukai prilaku seorang muslim yang telat tapi sok ingin sholat di shaf depan.

    Akhirnya dengan hati galau, saya sholat di dekat pintu kanan depan Masjid Nabawi. Masya Allah, gak tenang hati saya selama shalat maghrib itu. Terbayang terus Al Quran yang saya tendang. Sehingga sesudah shalat maghrib, saya melipir keluar masjid dan duduk di teras kanan Masjid. Saya sumuk sendirian di antara orang-orang lain yang shalat, berdoa dan mengaji di teras. Mau shalat sunah gak khusyu, mau berdoa gak fokus, mau ngaji malah takut megang Al Quran –merasa gak layak. Sempat terpikir untuk kembali ke hotel, tapi saya urungkan niat karena tidak lama lagi kan waktunya shalat isya.

    Mungkin bagi orang lain, kelakuan saya ini menggelikan. ‘Toh saya gak sengaja nendang Al Quran, biasa aja atuh laah. Jangan Lebay’. Tapi bro, gak tau kenapa, rasa bersalah itu asli. Kayak diri kita tertangkap basah nabrakin mobil kita ke pager rumah presiden. Akhirnya saya celingak celinguk gak jelas, ngeliatin orang lain shalat dan berdoa –sambil mengutuki diri sendiri.

    Lama memperhatikan orang lain shalat, akhirnya saya sadar sendiri. Saya kan sedang berada di rumah Allah SWT. Allah yang mengundang saya ke sana. Gak mungkin saya berada di sana, kalau bukan karena izinNya. Kalau berbuat salah sama tuan rumah, yang harus dilakukan si tamu ya sederhana …. minta maaf sama yang punya rumah. Langsung saya buka HP. Buka www dot google dot com, lalu ngetik ‘Shalat Taubat’.

    Setelah shalat taubat 6 rakaat dan sujud agak lama, saya baru berani masuk kembali ke dalam masjid, walau memang masih agak gamang sedikit. Saya duduk tidak jauh dari tempat saya menendang Al Quran sebelumnya. Terbayang lagi insiden saat maghrib tadi. Tapi ah sudahlah … saya sudah shalat taubat, mungkin Allah SWT sudah memaafkan saya. Sambil menunggu Adzan Isya, lebih baik saya meneruskan mengaji lagi. Jadi saya mendekati rak di tiang masjid dan mengambil salah satu Al Quran yang ada di sana.

    Pada saat itulah terjadi ‘kebetulan yang luar biasa’. Setiap Al Quran punya pita bookmark, kan? Nah, saya refleks membuka Al Quran tsb dengan membuka halaman yang ditandai pita bookmark. Seperti biasa, saya juga membuka applikasi iQuran di HP saya untuk mencari bookmark ayat terakhir yang saya baca sesudah shalat ashar (sepanjang maghrib kan saya gak berani pegang Al Quran). Ternyata … ‪#‎JengJeng‬ … bookmark di aplikasi iQuran (HP) dan bookmark di Al Quran (yang entah sebelumnya dibaca oleh siapa), menunjukkan ayat yang sama. Yaitu ayat terakhir yang saya baca sesudah shalat Ashar : Al Baqoroh ayat 91!

    Mungkin saja sih itu kebetulan: kebetulan orang yang sebelumnya mengaji menggunakan Al Quran tsb juga berhenti di Al Baqoroh 91 (woow, kebetulan satu banding sejuta). Tapi jelas, ‘kebetulan’ itu membuat hati saya lega. Seakan-akan Allah SWT lah yang langsung memberi tanda kepada saya untuk terus mengaji dan tidak perlu merasa tidak layak untuk membaca Al Quran -seberapa rendahpun saya menilai diri saya.

    Subhanallah, Alhamdulillah. Terima kasih, Ya Ghofur. Gak akan lagi saya maju-maju ke shaf depan di masjid kalau datang terlambat. Apalagi pakai tendang-tendang Al Quran segala. Bantu saya agar lebih rajin baca Al Quran, Ya Rabb. Aamiin.

    —————-
    cerita ini ditulis gara-gara ngobrol malam dengan adikku Diana Novianty. Maafkan belum pernah cerita tentang kejadian ini sama istriku Fanny Bratakusuma