Bisnis itu Kuncinya adalah Bertanya

Barusan di meja makan, ibu saya bilang, “Waktu kamu masih kecil, kamu tuh penakut, cengeng juga … pokoknya susah banget deh diurusnya. Kenapa kamu sekarang beranian jadi pengusaha, ya? Bukannya usaha itu stres mikirin segala sesuatu sendirian, Ben?” Wah, pertanyaan dewa ini. Saya terpaksa jawab dengan ajaran seorang dewa lagi. Dia mentor saya di kala…

Ketika Sila ke-3 Menjadi Taruhannya

Saya dahulu pernah jadi relawan tim kampanye politik di sebuah kota. Dalam ketegangan musim kampanye, pernah suatu kali kami berdebat keras di dalam kantor salah satu DPD partai politik, karena saya mendapati di meja rapat terdapat beberapa skrip kampanye negatif bergeletakan. Siap untuk disebarkan –menyerang istri petahana yang mengajukan diri menjadi calon walikota. Teman-teman parpol…

Business Pivot. Kalau perlu, kenapa harus takut? Part (I)

Kemarin-kemarin saya sempat ingin juga ikut-ikutan posting foto saya sekarang dan sepuluh tahun yang lalu untuk meramaikan 10 Years Challange yang sedang ramai di feed dan timeline. Tapi ternyata kalau dilihat-lihat, dalam kurun waktu sepuluh tahun, gak banyak juga yang berubah selain tambahan rata-rata satu kilogram berat badan dan lima lembar uban per tahun. Ada…

Arrafa untuk Resi Raksasa

‘Mas Yang Terbelakang’ adalah salah satu julukan yang diberikan kepada saya oleh salah seorang guru fisika di masa SMA dulu. Kalimat ini benar-benar bersayap. Memiliki dua arti –yang kalau dipikir-pikir– keduanya ada benarnya. Benar, saya memang duduk di baris paling belakang di kelas. Benar juga, saya sering termangu tidak tahu harus menuliskan apa ketika diminta…

I chose not to leave my friend then, I won’t leave my leader today

Dearest Kang Tisna Sanjaya, Tenang, kang. Saya bisa menegaskan bahwa jawabannya adalah ‘No’. Saya tidak meninggalkan Kang Emil, atau kebalikannya. Lepas dari perbedaan pendapat atau pilihan-pilihan hidup, bagi saya, dia tetap seorang sahabat sekaligus pemimpin. I chose not to leave my friend alone in 2013, and I won’t leave my leader today. Insya Allah. Jadi…

Niat Sederhana Yang Dibayar Cash oleh Yang Maha Mendengar

Hari ini kantor saya kedatangan teman-teman baru yang dikenalkan oleh sahabat lama saya, Helmy. Teman-teman ini, Ari dan Dena, rupanya dosen dan mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB yang seminggu lagi akan berangkat ke Lombok untuk memberikan art therapy pada anak-anak korban gempa di sana. Awalnya, semua sederhana saja. Mereka mengajak Torch untuk memberikan…

“Elu sih enak, punya masa depan. Lah gue gimana?”

Bulu kuduk saya berdiri bersamaan dengan berdirinya belasan anak-anak STM di sekeliling saya. Berdasarkan pengalaman, jika mereka berdiri bersamaan, artinya saya dalam bahaya. Itu saja yang saya mengerti. Entah apa yang ada di kepala saya siang itu. Melintas blok M mall siang hari bersama lima orang teman saya. Padahal harusnya saya tahu bahwa melintas tempat…

To Read is To Listen

Sebulan terakhir ini ada tiga ‘buku’ yang sedang saya coba baca sampai selesai. Yang satu, The Great of Two Umars, adalah sebuah buku fisik karangan seorang penulis dari Bandung, kelahiran Cianjur –lulusan IAIN Sunan Gunung Jati; Kang Fuad Abdurrahman. Dibaca sedikit-sedikit sebelum tidur. Sekarang tinggal sedikit lagi, satu bab terakhir; meninggalnya Khalifah Umar bin Abdul…

Dear Friends, Pikun itu bukan karena tua.

Di perjalanan kereta menuju Bandung beberapa hari yang lalu, salah seorang sahabat saya mengirimkan sebuah pesan pendek. “Kang Ben, tolongin. Mamah aku sudah tidak bisa ngenalin anaknya lagi. Gimana atuuh? Masih bisa disembuhkan tidak yaaa …”, -lengkap dengan emotikon-emotikon menangis yang menyertainya. Emotikon-emotikon itu juga pernah menjadi ikon perasaan saya lebih dari satu tahun yang…

Umar ibn Abdul Aziz: “Rakyatmu adalah lawanmu di hari kiamat nanti.”

Pandai-pandailah bersikap dalam tahun politik nanti. Jaga lidah dan jemari kita. Jangan sampai ambisi para pemimpin yang mengejar kekuasaan, membawa kita lebih dekat pada kehinaan tempat kembali. Kita bisa belajar sedikit pada segmen pidato politik pertama Umar ibn Abdul Aziz ketika diangkat sebagai khalifah: —– “Beramallah untuk akhirat, niscaya Allah mencukupkan urusan dunia kalian. Perbanyaklah…

Ilmu Ikhlas Si Burung Biru

Sebut saja namanya Mr. Baik. Dia dahulu adalah seorang pegawai swasta di sebuah kontraktor di Jakarta. “Ya namanya kontraktor, kalau lagi rame, penghasilannya besar, Mas”. “Tapi yah begitu, namanya pekerjaan. Begitu perusahaan mulai berat di tahun 1997, saya mulai merasa bakal ada yang salah. Dan akhirnya saya kena PHK juga”. “Selama tiga bulan saya tidak…

Seberapa yakin kita pada niat kita sendiri, Netijen?

Dari semua yang ibu ajarkan ke saya, salah satu pelajaran paling awal yang beliau berikan adalah sebuah kalimat pendek, “Benben tidak boleh berbohong, ya”. Walaupun tampak sederhana, tidak berbohong adalah amalan pasif yang sulit sekali untuk dilakukan. Masih segar dalam ingatan, bagaimana saya yang masih kecil, ngumpet-ngumpet pulang ke rumah, lari masuk ke kamar mandi,…