Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start writing!
Author: ombenben@gmail.com
-
Juz Amma Hafalan: Tap and Swipe Download Link
Assalamulaikum.
Saat ini aplikasi Juz Amma Hafalan: Tap & Swipe by Samsam Tech. masih dalam fase review di Google Play Store. Kami meminta maaf karena ternyata review Google Play Store-nya memakan waktu sangat lama dikarenakan kondisi pandemi Covid-19 yang ternyata mempengaruhi kinerja reviewer Google Play yang rupanya dikerjakan oleh manusia.
Alternatifnya, bagi Om, Tante, Kakak dan Adik yang ingin mencoba aplikasi versi tester, tanpa menunggu versi verified Google Play, dapat men-download dan meng-install-nya dengan mengikuti tutorial di bawah:
- Instal aplikasi browser ‘Opera Mini dari Google Play’. *Samsam sudah ujicoba, ternyata Opera Mini adalah browser yang paling tinggi keberhasilannya dalam menginstall aplikasi dari luar Google Play.
- Klik link download dari Google Drive ini: http://bit.ly/juz-amma-hafalan-tester
- Di halaman Google Drive tekan tombol ‘Download’, tanpa perlu melakukan sign in.
- Jika ada peringatan bahwa Google Drive tidak bisa scan virus, tekan saja tombol ‘Download anyway’. Samsam jamin aplikasi ini tidak mengandung virus.
- Lalu tekan pilihan download untuk melanjutkan proses download.
- Beri izin Opera Mini untuk menyimpan file instalasi ke dalam HP dengan menekan tombol ‘Allow’
- Tunggu sampai semua file sebesar kurang lebih 50 MB terdownload dari server
- Lanjutkan instalasi dengan menekan tombol ‘Package Installer’
- Opera Mini akan meminta izin agar bisa melakukan instalasi dari luar Google Play Store. Lanjutkan dengan menekan tombol ‘Settings’
- Berikan izin dengan menekan tombol di samping tulisan ‘Allow from this source’. Tekan sampai tombolnya berwarna biru
- Tekan tobol ‘Install’ untuk memulai proses instalasi
- Ketika instalasi selesai, tekan tombol ‘Open’
- Selamat! Instalasi aplikasi Juz Amma Hafalan: Tap & Swipe versi tester selesai.
Jangan lupa untuk memberikan feedback pengalaman anda atau anak-anak anda dalam menggunakan aplikasi ini ke email Kang Samsam –di samudraaziz@gmail.com.
Feedback ini akan menjadi masukan sangat berharga untuk proses development aplikasi Juz Amma Hafalan: Tap & Swipe, agar final release version-nya bisa sebaik dan senyaman mungkin digunakan.
Terima kasih, Om – Tante & Adik-adik π
Preview Juz Amma Hafalan: Tap & Swipe Versi Tester -
Kenapa Saya Katsaridaphobia?
Setiap orang itu unik –so they say. Tapi jangan juga kemudian jadi lebay, dalam rangka embaracing keunikan diri, lalu kita mencoba segala macam tes kepribadian di internet. Dari yang level psikotest terstandar, level tes cocoklogi –bahkan tes kepribadian level algoritma undian— dites tiga kali, keluar tiga hasil berbeda. Abdul Absurd itu namanya!
Karena sebenarnya sejak kecil kita sudah tahu kok bahwa kita itu unik.
Sepupu-sepupu saya sering bilang, “Si Benben mah gak akan mau ada di satu ruangan dengan kecoa. Kecoanya terbang, dia bakal ikut terbang”. Sepupu-sepupu saya yang lain sepertinya gak ada tuh yang katsaridaphobia seperti saya.
Saya memang fobia kecoa. Saya memang begitu.
Guru Kimia SMA, sekaligus wali kelas saya, pernah menawarkan sebuah deal, “Kamu mau jadi ketua kelas? Syaratnya duduk paling depan dekat pintu. Setiap saya datang ke kelas, kamu pastikan kapur sudah tersedia di depan. Nanti saya jamin kamu tidak akan pernah saya suruh mengerjakan soal Kimia di papan tulis sepanjang tahun. Mau?”. Dalam satu detik, kata “mau!” melucur keluar dari mulut saya.
I love good deals indeed. Saya memang begitu.
Saya yakin teman-teman juga punya keunikan masing-masing. Silahkan di-list sendiri deh. Saya yakin list-nya akan panjang. Sebagian akan terasa negatif. Sebagian lagi mungkin positif.
Well, posistif atau negatif sangat tergantung dari kaca mata siapa yang melihat juga sih. Seorang cewek remaja yang kurang independent mungkin melihat dirinya melihat sebagai orang yang tidak mandiri. Sementara seorang pemuda yang beruntung, melihat ini sebagai perempuan yang butuh bahu sandaran –romantis! Pas sama yang dia cari.
Being dependent –justru membawa jodoh untuk cewek remaja ini.
Berdasarkan pengalaman saya yang hari ini sudah lebih dari setengah umurnya bokap, –selain sudut pandang, ada hal lain yang berhubungan erat sama keunikan kamu. Apa coba?
Waktu! Keunikan diri kita itu tumbuh bersama waktu. Ketika keunikan-keunikan kita ini tumbuh, karakter diri kita ikut terbentuk. Ikut matang.
Keunikan kamu itu adalah garis start yang diberikan oleh Tuhan kamu. Setiap orang diberi garis start yang masing-masing berbeda.
Bagaimana dengan garis finishnya? Garis finish-nya, kamu yang tentukan sendiri. Allah itu cuman menilai bagaimana kamu menjalani proses dari garis start (yang Dia tentukan) ke garis finish (yang kamu tentukan).
Apakah kamu memberi tantangan dengan membuat garis finish yang jauh sekalian?
Apakah kamu sepanjang berlari, tidak lupa lihat kiri-kanan dan menyapa dan senyum pada pelari lain?
Apakah kamu sambil jalan santai memanfaatkan waktu dengan melempar biji dan benih-benih pepohonan sepanjang jalan?
Apakah kamu pilih jalan yang naik turun membuat betis kamu jadi atletis,
atau kamu putuskan jalan kaki saja?
Atau bahkan marah-marah, berusaha memindahkan garis start ke depan —agar garis startnya sama dengan teman kamu yang anak orang kaya.Teman yang terakhir ini, belum mengerti bahwa yang bisa diubah adalah garis finishnya –gimana cara kita berlari dan what we do while we’re running.
Bukan garis start-nya. Garis start kamu adalah unik punya kamu. Terima aja. Toh kalau mau jujur, hampir semua orang bilang garis start dia kurang maju ke depan.
Dalam kasus katsaridaphobia, saat ini saya sudah cukup bangga dengan keberhasilan saya berada di satu ruangan yang sama dengan kecoa tanpa berkeringat dingin. Bahkan beberapa bulan yang lalu saya sudah bisa memegang sungut kecoa dan mengangkatnya. Masih kecoa yang mati, tentunya.
Tahu apa yang membuat saya berusaha berubah? Saya diberi rejeki 3 orang anak laki-laki sejak 16 tahun yang lalu. Being a male katsaridaphobic is one thing. But raising three boys to be three katsaridaphobic men too? No way! Jadi saya sudah 16 tahun pura-pura berani sama kecoa.
Ada saatnya di depan anak saya yang masih kecil, ketika kecoa lewat –langsung saya injak pakai kaki telanjang. Anak saya melihat muka bapaknya, melihat ke arah kaki saya, lalu pergi meneruskan main dengan mainannya.
Setelah dia pergi, saya berlari ke kamar mandi dan mencuci kaki saya selama 5 menit dengan air sabun. Mual dan berkeringat dingin.
Di umur segini, being katsaridaphobic mengajari saya bahwa saya bisa menembus rasa takut saya. Jika perlu –jika saya mau.
—–
Entah kenapa saya juga adalah orang yang senang dengan good deals. Mungkin karena sejak mulai kenal fashion, saya tidak punya uang cukup untuk tampil gaya dengan uang maksimal.
Jadi ketika teman-teman saya mengejar-ngejar branded items di showroom international brand, saya memilih belanja baju ke factory outlet –sampai sekarang. Alasannya jelas, ada cukup banyak juga good branded items di FO yang didiskon cukup tinggi di sana. Good Deals! Sikat!
Jadi walaupun bukan anak pengusaha, saya punya modal lumayan untuk jadi pengusaha; the nose for good deals
Hidung pencari peluang ini saya kembangkan dua puluh tahun terakhir dengan banyak ngobrol, berbicara, minta diajari dan dimentori sama pengusaha-pengusaha senior yang hidung dagangnya lebih sensitif daripada doberman.
And it works, Sob! Ternyata anak pegawai negeri juga bisa jadi pengusaha.
—–
Keunikan diri kita, dengan kelebihan dan kekurangannya di mata kita, rupanya hadir dengan tujuan tertentu.
Seperti tiga tentara yang dipercayakan dengan tiga senjata yang berbeda; sebilah pisau, sebuah pistol laras pendek dan sebuah senapan laras panjang. Mereka semua musti menemukan misi terbaik yang dapat mereka selesaikan. Seefektif mungkin. Dengan manfaat maksimal.
Sampai waktunya habis.
—–
Terima kasih atas ucapan ulang tahun dan do’a-do’anya teman-teman. Semoga do’a-do’anya membawa kebaikan pada kita semua dan bangsa yang sedang digigiti virus ini.
Bandung, 8 Mei 2020.
Birthday Blues Boy -
Kebaya Among Tamu, Rejeki Datang Tepat Waktu dan Tepat Jumlah
Seminggu sebelum nikah, saya sempat pusing gara-gara belum melunasi baju among tamu yang mau dipakai untuk pernikahan nanti.
Lupakan gaji di awal bulan. Status saya saat itu adalah pengusaha muda yang baru saja merugi gara-gara sebuah force majeur level nasional. Jangankan ngambil prive atau pinjaman ke perusahaan, soal gaji karyawan aja masih belum kelihatan hilalnya.
Senin pagi itu saya sedang mikir, “Apakah saya perlu pinjam uang, ya?”. Tapi kalau pinjam uang, bayarnya gimana. Wong sebenarnya income usaha di bulan itu saja turun 75%.
Saya mandi sepagi mungkin dengan maksud mau melangkahkan kaki ke mana saja. Mungkin mengunjungi kantor teman atau kenalan. Siapa tahu dapat proyek pendek atau super soft loan.
Tepat sebelum keluar pintu, Nokia 3310 saya mengeluarkan dering monophonic-nya. Ternyata, Pak Umar, bekas pembimbing Tugas Akhir saya menelepon.
Angkat.. Jangan.. 3x
Sudah lama saya tidak ketemu beliau. Kangen juga. Tapi, hari itu sudah niat mau mencari pinjaman uang atau nyari proyek kecil jangka pendek. Duh… Angkat enggak, ya? Mendingan nyari duit aja kali, ya?
“Sudahlah. Angkat dulu aja teleponnya. Takut dibilang gak sopan”, ada bisikan di dalam hati.
“Halo, Ben”, ada suara kebapakan di ujung sana.
Sesudah menanyakan kabar, beliau minta saya datang ke kampus. “Ada yang mau dibicarakan”.
Kepala saya kurang setuju. Saya sedang butuh uang, bukan butuh bicara. Jadi saya mencoba ngeles, “Boleh saya ke kampusnya nanti, Pak? Mungkin 1-2 minggu lagi?”.
Tapi Pak Umar keukueh, “Hari ini saja, Ben. Saya tunggu di ruang dosen, ya”.
Pak Umar ini salah satu dosen favorit saya. Saya menikmati setiap obrolan dengan beliau. Tapi kembali, saya sedang butuh uang saat itu. Bukan butuh bicara.
Jadi walaupun kaki saya langkahkan ke arah kampus. Hati dan mulut saya kompak ngedumel bersama.
Ya sudah lah. Gak sopan menolak ajakan silaturahmi orang tua.
—Di ruang dosen pak Umar duduk sendiri. Sambil melambaikan tangannya ke arah saya, dia tersenyum dan bertanya, “Ke mana saja kamu, Ben? Lama enggak main ke kampus”.
Saya gak berani cerita bahwa saya sedang kurang uang dan mau menikah seminggu lagi. Jadi saya jawab secukupnya saja, “Saya ada di sekitar Bandung aja, pak. Ngurusin usaha”.
Begitulah kalau dosen Baby Boomers dan (mantan) mahasiswa Gen X Indonesia bertemu. Untuk beberapa waktu, kami berbasa-basi dan ngobrol ngalor-ngidul khas generasi pra-digital.
β
Walau sebenarnya tidak terlalu lama, sih. Tapi sebagai orang yang sedang merasa kekurangan waktu dan uang, bagi saya waktu terasa berjalan terlalu cepat.
β
Sedikit-sedikit saya melihat ke arah jam tangan. Takut kelamaan ngobrol. Bagaimana pun jatuh tempo pembayaran kebaya among tamu sudah di depan mata –dan uang untuk membayarnya masih misterius.
β
Pernah ‘kan merasakan pengen pamit dari sebuah pertemuan, tapi hati bilang “sabar… sabar.. ntar dibilang gak sopan?”.
β
Nah, itulah perasaan saya.
β
Eh tapi, tiba-tiba mantan pembimbing saya ini bilang, “Ben. Ini kenapa saya panggil kamu ke kampus”. Sambil mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
β
“Kamu masih ingat proyek Senayan?”. Beliau merujuk pada sebuah proyek yang kami kerjakan bertahun-tahun lalu. Saking lamanya, saya sudah menganggap proyek ini going ghoib.
β
“Ini punya kamu. Maaf, Ben. Proses finalisasinya lama sekali baru beres”.
β
Yang membuat saya deg-degan, ditangannya ada sebuah amplop bertuliskan nama saya.
Proyek lama? Amplop? Isinya pasti ‘itu’ dong?Ya Allah. Hatur nuhun sudah mengirim Pak Umar nelepon saya pagi ini.
Walau sebagai anak muda yang gengsinya gede. Saya gak mau buka amplop itu di depan Pak Umar. Takut kelihatan butuh duit-nya.
Tapi waktu Pak Umar meminta saya tanda tangan di samping nama saya –angkanya bukan kebetulan.
Ahaha…. Alhamdulillah… Jumlahnya pas banget dengan tagihan kebaya among tamu nanti. Lebih dikit!
β
Emang rejeki mah gak ada yang kecepetan, gak ada yang telat. Ketika saatnya datang –akan hadir lewat jalannya sendiri.Kerasa banget, ikhtiar itu sebenarnya syarat aja. Dia mah akan memilih pintu dan jalannya sendiri.
Ya Allah. Dirimu tahu sekali pelajaran apa yang saya butuhkan untuk memulai keluarga baru kami.
Dan kemarin, gak kerasa udah 17 tahun lewat keluarga ini dimulai. Mudah-mudahan rezeki kami tetap datang melewati jalan-jalan yang Dia tentukan. Tepat saatnya. Tepat tempatnya. Tepat gunanya.
Aamiin Ya Rabbalalamin.
—Love you, Mi Familia β€οΈ
-
Pernah Jatuh Cinta Pada Karya Sendiri?
Saya pernah. Kali pertama adalah ketika saya menggambar seorang Onna Bugeisha –Samurai Perempuan– di halaman belakang buku les saya.
β
Karya ini buah kerja tangan dan hati seorang anak muda. Ini sebuah contoh karya baper luar biasa.Ketika gambarnya selesai, halaman belakang buku itu berubah menjadi halaman favorit saya.
β
Seperti orang jatuh cinta, saya sering memandangi gambar samurai perempuan itu dan berharap akan bertemu di dunia nyata.
β Maklum, namanya juga remaja.
Sejak itu saya belum pernah jatuh cinta lagi pada hasil gambar saya. Mungkin karena saya makin dewasa. Mungkin juga karena saya tidak pernah bisa menggambar seindah dulu lagi.
β
Tapi kalau ‘karya usaha’ saya boleh masuk hitungan, saya sebenarnya sudah pernah dua kali jatuh cinta pada karya saya lagi.
β
Yang satu namanya Mahanagari. Bukan seorang wanita, tapi secantik perempuan dari masa lalu. Semua kekaguman saya pada sejarah dan budaya Kota Bandung, saya gambarkan menjadi konsep tanda mata kota yang teramat cantik.
β
Si cantik Mahanagari pun, pada zamannya, mekar bagai sekuntum bunga di Kota Kembang. Dia mendapatkan sebuah tempat spesial di hati warga Kota Bandung ini.
β
Tidak bisa digambarkan. Tidak perlu logika. Itulah cinta masa muda.
β
Namun namanya juga cinta masa muda, kembang cinta kami harus bertemu masa perpisahannya.
β
Saking cintanya saya pada Mahanagari, ketika harus berpisah dengannya, tiga malam terasa gundah menyiksa.
Tapi di saat itu, saya harus belajar mencintai sesuatu yang baru. Belajar agar cinta bisa membawa dirimu –dan dia– terbang lebih tinggi. Seperti cinta ayah pada anaknya.
β
Kali ini saya berniat membesarkan seorang anak yg tangguh. Seorang anak yang akan disegani oleh dunia.
β
Untuk itu, dia tidak lagi akan saya besarkan sendiri saja. Kali ini cinta saya harus bertemu logika.
β
Maka untuknya, saya berikan guru-guru yang terbaik. Biarlah setiap tangan guru-guru itu yang membentuk wajahnya. Badannya. Tangannya. Kakinya.
β
Cita-citanya adalah menjadikan nusantara sebagai rumahnya, dan menjadikan dunia sebagai taman bermain -serta ruang berkaryanya.
β
Bulan ini, lima tahun sudah usianya. Selamat ulang tahun Torch
β
Fly like an angel. Make your life a miracle.
Foto diambil dari retweet Raditya Dhika. Salah seorang influencer yang pertama kali menjadi SobaTorch di tahun-tahun awalnya
-
Apa Saja Brand Fashion asal Indonesia dengan Traffic Website Ranking Paling Tinggi di Nusantara?
Hasil pemeringkatan ini mungkin akan agak mengagetkan bagi generasi X, apalagi bagi Baby Boomers, tapi bagi Millenials mungkin hasilnya akan lebih masuk di akal dan lebih terprediksi.
Bagaimanapun, setiap generasi biasanya memiliki preferensi brand yang berbeda. Yang tentunya sangat dipengaruhi juga oleh kebiasaan dan pola belanja setiap generasi.
Prilaku Baby Boomers, Gen X dan Millenial Ketika Berbelanja
Bagi Baby Boomers, kekuatan sebuah brand sangat dipengaruhi oleh keberadaan offline store dari setiap brand. “Showroomnya di mana?” –adalah pertanyaan kunci untuk membuka dompet generasi ini. Untuk kebanyakan dari mereka, membeli produk pakaian di internet tanpa memegang bahan/materialnya adalah sebuah hal yang hampir tidak mungkin terjadi.
Wajar, karena mereka-mereka ini baru mengenal internet ketika mereka berumur 40-50 tahun. Selama separuh hidupnya, yang mereka kenal sebagai membeli baju, membeli sepatu, membeli tas dan sejenisnya, adalah aktivitas yang melibatkan menyentuh bahan, mencoba fitting-nya dan berbicara dengan penjualnya.
Generasi selanjutnya, Generasi X, sebenarnya lebih fleksibel. Generasi X muda sudah mengenal internet ketika mereka masih kuliah. Sementara Generasi X yang lebih tua mulai menggunakan internet ketika mereka mulai bekerja dan bahkan ada yang baru mengenal internet ketika mereka sudah duduk sebagai middle-manager.
Sehingga konsumen dari generasi ini cenderung memiliki budaya berbelanja yang hybrid, seperti browsing di internet ketika mencari pakaian –tapi tetap membelinya di showroom fisik.
Atau karakter khas lain seperti baru berani membeli di internet, setelah pembelian pertama yang sukses dilakukan di showroom fisik. Maklum, saat mereka mulai berbelanja di internet, layanan e-commerce yang ada, baru berupa platform setengah e-commerce seperti FJB Kaskus dan Grup-grup Blackberry. Di mana isu utama saat itu adalah keamanan dari penipuan belanja online.
Generasi Millenials, di lain pihak sudah mengenal internet ketika mereka masih sekolah. Saat mereka mulai bekerja dan mulai membelanjakan gaji-gaji pertama mereka, platform e-commerce di Indonesia sudah memiliki fitur keamanan dan pembayaran yang jauh lebih mumpuni. Tingkat kepercayaan mereka pada transaksi digital jauh lebih tinggi daripada generasi-generasi sebelumnya, dan sifat khas mereka yang sering mager –malas gerak– adalah kunci transformasi ke arah pelayanan belanja dengan cara digital di masa depan.
Kepercayaan konsumen millenials yang tinggi pada transaksi digital ini acap kali sulit dimengerti beberapa pengusaha dari generasi sebelumnya. Banyak di antara pengusaha ini kebingungan ketika mereka terganggu (ter-disrupt) oleh ribuan brand-brand fashion baru yang muncul di media-media sosial, marketplace dan website-website brand-brand yang relatif masih muda.
Bagi milenials, keberadaan showroom dari sebuah brand, tidak selalu relevan dengan keputusan mereka dalam berbelanja. Tingkat kepercayaan pada sebuah brand tidak lagi menempel pada keberadaan showroom –hal ini dapat digantikan juga dengan review yang positif dari konsumen lain, jaminan pembayaran dan retur barang yang mudah, dan sebagainya.
Hal inilah yang membuat beberapa brand fashion dengan pandai memanfaatkan momen, dengan membangun website-website yang kuat -dan mendatangkan puluhan ribu, ratusan ribu bahkan jutaan konsumen ke website-nya dalam setahun.
Siapa saja merek-merek fashion yang sukses melakukannya?
Penggunaan Tools Similar Web untuk Mengukur Kualitas Webstore
Pemeringkatan ini disusun oleh saya berdasarkan pengukuran yang dilakukan oleh sebuah situs pengukur rangking website di internet bernama similarweb.
Similar web digunakan untuk mengkalkulasikan jumlah pengunjung unik sebuah situs (monthly unique visitor) dengan jumlah halaman yang dikunjungi (page view) dari sebuah website. Hasil kombinasi dua hal ini kemudian digunakan oleh similarweb untuk menyusun ranking per bulan dari semua situs yang diukur berdasarkan tiga kategori; ranking global, ranking negara dan ranking kategori.
Saat ini 5 situs dengan ranking paling tinggi (ranking 1 sampai dengan 5) di Indonesia adalah google.com, youtube.com, facebook.com, tribunnews.com dan instagram.com.
Indonesia sendiri adalah rumah dari jutaan website yang beroperasi setiap harinya –dari total 1,72 milyar website yang online di seluruh dunia.
Sebagian dari website ini berbentuk berbentuk webstore, atau toko online mandiri –bukan toko online di marketplace. Situs jenis ini dibangun untuk berdagang retail pakaian/apparels dengan mencoba menkonversi sekian persen traffic yang datang ke situsnya menjadi penjualan.
Agar bekerja efektif, webstore-webstore ini berusaha mendatangkan puluhan ribu, ratusan ribu sampai jutaan visit per bulan agar bisa menghasilkan revenue yang signifikan. Sebagai patokan kasar, sebuah situs yang bisa mendatangkan ratusan ribu visit per bulan, biasanya sudah dapat membukukan penjualan bernilai ratusan juta rupiah per bulan melalui webstore-nya sendiri.
Tools dan Metode Pengukuran
Untuk menyusun tulisan ini, saya hanya mengambil pemeringkatan situs berdasarkan wilayah negara (Indonesia), dan hanya untuk situs-situs merek fashion androgini.
Saya belum memasukan situs-situs brand khusus wanita dan brand muslimah sebagai sample. Alasannya karena sepertinya brand-brand wanita dan brand-brand pakaian muslimah tampaknya lebih baik disusun dalam liga yang terpisah, mengingat begitu banyaknya brand wanita yang bersaing dan kemungkinan besar tidak akan berpotongan konsumennya dengan brand androgini yang diukur saat ini.
Sebuah diclaimer juga, pengukuran ini dilakukan oleh saya dengan keterbatasan wawasan saya tentang brand e-commerce yang saya kenal. Bisa jadi masih banyak brand-brand lain yang belum saya ukur. Jika tampaknya ada situs brand fashion yang saya harus ukur, silahkan tuliskan alamat situsnya di kolom komentar. Insyaalah akan saya ukur dalam pengukuran selanjutnya.
Oh iya, saat ini saya juga hanya mengukur sebuah brand yang kelahirannya paling lama di era tahun 2000-an. Hal ini untuk membatasi lingkup pengukuran agar tidak terlalu lebar. Serta untuk melihat apakah brand-brand perintis fashion independen di era itu, yang biasa kita sebagai merek distro, masih tetap bersaing dengan kompetitor barunya yang lebih tech-enabled.
Saya juga sebenarnya melakukan pengukuran untuk cukup banyak brand lain. Tetapi jika ternyata ranking website-nya secara nasional tidak masuk ke peringkat minimal 30.000 di Indonesia, maka saya tidak menuliskannya di sini. Karena ranking di atas 30.000 nasional bisa jadi berarti brand tersebut memiliki website, tapi tidak/belum/baru saja membangun brand di atas kekuatan website tersebut. *Asal domain dan servernya di bayar dan brand-nya tetap berdagang secara offline, sebenarnya sebuah brand fashion masih mungkin punya ranking situs antara 30.000 – 200.000 secara nasional
Perlu saya jabarkan, agar tidak tertukar, bahwa:
- Cara membaca urutan Ranking itu seperti urutan ranking di sekolah. Semakin kecil berarti semakin baik. Website dengan ranking 10.300 berarti lebih baik daripada website dengan ranking 12.400.
- Sementara Jumlah Traffic (pengunjung website) kebalikannya. Semakin banyak yang datang berarti semakin baik. Website dengan traffic 100.000 per bulan, berarti lebih baik daripada website dengan traffic 50.000 per bulan.
———–3rd League Websites

Saya memasukkan website-website dengan ranking antara 20.000 – 30.000 nasional ke dalam liga ini. Hasilnya cukup mengagetkan, di liga #3 ini ternyata berisi campuran brand fashion yang relatif baru dengan brand-brand-brand lain yang lebih senior –tapi tidak cukup kuat ranking websitenya. Perbandingannya hampir 50:50
Umur domain brand-brand starter ini cukup muda, antara 2-7 tahun. Sementara brand-brand yang lebih senior memiliki domain website berumur 12-15 tahun. Artinya brand-brand baru ini berhasil menyusul ranking website brand-brand seniornya dalam kurun waktu 2-7 tahun.
Website-website ini adalah: wadezig.com, mensrepublic.id, maskoolin.com, waltswallet.com, unkl347.com, schofficial.com, porteegoods.com, serta breycompany.com
Similarweb tidak bisa menampilkan secara detil jumlah kunjungan visitor unik per bulan semua situs-ini. Namun mengambil kesimpulan dari beberapa situs yang sedikit lebih tinggi rankingnya, kunjungan pada situs-situs liga #3 ini rata-rata masih di bawah 20.000 pengunjung per bulan. Sebuah angka yang menunjukkan bahwa ada cukup banyak pengunjung datang ke situs-situs ini. Namun jumlahnya masih masuk kategori kecil untuk ukuran situs e-commerce brand Indonesia, dan supply datanya belum cukup stabil untuk dianalisa datanya oleh layanan ranking website di dunia
Dari data-data yang ditampilkan oleh similarweb, terlihat brand-brand starter di liga ini sudah melakukan aktivitas digital marketing berbayar melalui sosial media, namun masih menggunakan anggaran yang relatif kecil.
Sementara brand-brand yang lebih senior justru terlihat tidak memainkan metode-metode digital marketing yang berbayar untuk memperbanyak traffic ke situsnya. Lalu bagaimana caranya website-website brand senior ini dapat menarik pengunjung yang jumlahnya ribuan sampai dua puluh ribu per bulan? Jawabannya adalah kekuatan brand.
Brand-brand yang berumur sekitar 20 tahunan yang masuk ke liga ini, sebenarnya sudah memiliki market yang mereka tumbuhkan sejak lebih dari 10 tahun yang lalu. Ini terlihat dari jumlah instagram followers mereka sudah mencapai angka 200K – 300K. Sayangnya, modal followers mereka yang sudah ratusan ribu ini terlihat tidak bisa diaktivasi untuk memperkuat traffic ke situs mereka masing-masing. Walau tampaknya mereka masih memiliki penjualan offline yang cukup signifikan.
2nd League Websites

Liga #2 ini terlihat berbeda dengan liga di bawahnya. Brand-brand yang bermain di liga ini memiliki peringkat website 10.000 – 20.000 nasional. Menariknya di liga ini akan ditemukan lebih banyak brand starter berumur 2-7 tahun dibandingkan brand yang lebih senior. Sampai saat ini saya hanya menemukan 3 brand yang umur domain websitenya di atas 10 tahun.
Mereka adalah tees.co.id, livehaf.com, maternaldisaster.com, hijacksandals.com, reclays.id, wellborncompany.com, nahproject.com, tufshoes.com, erigostore.co.id, screamous.com, guteninc.com dan nokha.co
Data-data di similarweb menunjukkan bahwa para starter brand ini menggunakan biaya yang sudah mulai agak besar untuk aktivasi digital marketing mereka. Kebanyakan sudah menjadikan social media advertising secara reguler dan dijadikan sebuah backbone bagi pertumbuhan brand-nya.
Di antara mereka ada juga dua brand senior yang sudah mengubah metode marketingnya menjadi lebih digital-based, dengan menggunakan layanan-layanan dari agregator iklan, situs yang berteknologi tinggi, dan layanan tech-lain. Terlihat dua brand ini pun cukup sukses dalam melakukannya.
Situs-situs mereka, baik yang starter ataupun yang senior, dikunjungi antara 20K sampai 120K visitor per bulannya. Pengunjung situs mereka masih terlihat naik turun setiap bulannya. Bisa jadi inilah yang membuat situs mereka tidak bisa tembus di ranking under 10.000 website nasional.
1st League Websites

Di liga paling tinggi, website-website dengan ranking di bawah ranking 10.000 nasional, terlihat justru brand-brand starter lah yang mendominasi. Semua brand yang menduduki liga ini secara konsisten mendatangkan 100K – 500K unique visitor per bulan.
Brand-brand jenis ini jelas telah memiliki sistem teknologi yang baik di belakangnya, seperti:
- Website dengan UX yang baik
- Website dengan kemampuan analisa data yang realtime
- Sistem pembayaran digital yang beragam
- Metode Digital Marketing yang berjalan baik
- Budget Ads yang tinggi dengan pertumbuhan yang baik
- Meng-update konten-konten secara regular dengan arah branding yang jelas, baik di website dan di kanal-kanal sosial medianya
- Sistem manajemen stok dan logistik yang sudah mulai rapih
- Produk yang berkualitas baik, sehingga mendapatkan nilai customer retention yang baik
- Perencanaan finansial yang sudah baik, termasuk penggunaan fintech dalam pembiayaan pertumbuhannya
- dll
Mereka adalah (secara acak): nama-indonesia.com, ciptaloka.com, sepatucompass.com, bro.do, torch.id, geoff-max.com, visvalbags.com, matoa-indonesia.com dan iwearzule.com
Hebatnya, mereka semua mencapai Liga 1 Website Brand Fashion Nasional, hanya dalam tempo 3 sampai 7 tahun saja.
Ini menunjukkan bahwa brand-brand ini sudah memiliki DNA Tech-Enabled Local Brands / TEL Brands. Sebuah pertemuan metode lean startup dengan digital marketing untuk Brand Lokal.
Memang ada satu brand sepatu di liga ini yang umurnya sudah 20 tahunan. Selama belasan tahun brand ini menjual produknya melalui kanal penjualan offline, dan tumbuh lambat sebagai sebuah brand. Tapi brand ini beberapa tahun yang lalu, melakukan sebuah leap of faith, dengan membuat kampanye branding digital yang sangat baik. Hasilnya dalam tempo waktu singkat, didukung kemampuan produksinya yang sudah veteran, dia segera masuk ke Liga 1 Website Brand Fashion Nasional.
Ini pun menjadi sebuah pembuktian dari teori Eric Reis yang mengatakan bahwa (a) metode Lean Startup tidak hanya bisa digunakan oleh sebuah perusahaan startup baru, tapi juga perusahaan lama yang ingin menciptakan inovasi-inovasi baru yang marketnya tumbuh cepat. (b) metode ini dapat dilakukan bukan hanya untuk perusahan pure tech –tapi juga tech-enabled (creative) industries.
Mari Berternak Zebra Untuk Indonesia
Para TEL Brands di Liga #1 sudah menunjukkan bahwa saat ini omset ratusan juta, bahkan milyaran per bulan, mungkin sekali dicapai oleh industri-industri kreatif dalam waktu di bawah 5 tahun.
Bahkan dengan potensi market nasional yang luas, pertumbuhan ekosistem yang sehat, serta kemungkinan yang semakin terbuka untuk melakukan cross-border marketing bagi brand lokal –jelas alternatif pengembangan startup tidak lagi selalu harus terpaku pada perburuan belasan unicorn.
Berternak ribuan startup zebra, menjadi sebuah alternatif yang sangat menarik dan masuk akal bagi Indonesia yang berlimpah akan ide kreatif dan memiliki jutaan bakat entrepreneur yang sedang tumbuh.
Toh, sebuah situs ritel fashion/apparel tidak membutuhkan untuk menjadi situs ranking 1-10 nasional, tapi cukup dengan webstore peringkat ribuan nasional.
Website peringkat 1.000-10.000 nasional pun biasanya sudah menghasilkan omset puluhan/ratusan milyar per tahun. Artinya ada puluhan ribu spot potensial yang siap untuk diklaim oleh entrepreneur-entrepreneur kreatif Indonesia.
Ini juga kenapa sebabnya pemerintah harus mulai memberikan perhatian yang besar bagi pengembangan TEL Brands: Tech-Enabled Local Brands, beserta ekosistemnya. *Btw, TEL Brands adalah istilah yang tidak ada acu an akademiknya, saya baru saja membuatnya ketika menulis blog ini.
Saya pribadi melihat pemerintahan yang lalu, terlalu fokus dalam racing arena unicorn. Yang terbukti secara faktual, ketika mereka berukuran unicorn, justru sebagian besar sahamnya sudah berpindah kepada pemilik-pemilik dari negera lain.
TEL Brands yang berkarakteristik startup zebra (apa itu zebra startup? click here) bisa menjadi sebuah pendekatan alternatif dalam pemanfaatan teknologi dan kreativitas bangsa ini. Membesarkan startup, tanpa kehilangan potensi pajak dan tetap memperkuat devisa negara.
Mudah-mudahan Pak Wishnutama, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang baru, bisa memiliki visi yang jauh lebih beragam dan tajam untuk dunia ekonomi kreatif Indonesia yang tech-enabled.
Ben Wirawan
Co-Founder & CEO of Torch.id
~menyambut 20 tahun menjadi pekerja kreatif di Indonesia -
Apa itu Startup?
“A startup is a human institution designed to create a new product or service under conditions of extreme uncertainty”
Itu definisi ‘startup’ yang dituliskan oleh Akang Guru Eric Reis dalam bukunya; The Lean StartupMenurut Bro Reis, ‘startup’ tidak ada urusannya dengan usia tua atau muda para pendirinya, bidang tech atau bukan, –bahkan usaha baru atau established ones
Yang penting usaha tersebut memenuhi tiga komponen ini:
> institusi manusia (bukan institusi jin, bukan juga manusia penyendiri)
> yang sedang menciptakan produk atau layanan baru
> di bawah kondisi ekstrim yang tidak menentuDua komponen pertama saja (institusi manusia + menciptakan produk/layanan baru), sudah mencoret banyak sekali jenis-jenis usaha yang kita kenal dari kategori startup
Komponen ke-tiga; beroperasi di bawah kondisi ekstrim tertentu, bakalan mencoret sebagian besar usaha yang tersisa
Tapi, apa juga faedahnya ‘berusaha di kondisi ekstrim’?
Well, ini akan membawa kita pada sebuah teori di buku lain ‘The Blue Ocean Strategy’ -tulisan Pak Kim dan Bu Mauborgne
Dalam lingkungan berkondisi ekstrim, tidak akan banyak organisme (atau organisasi) lain yang bisa bertahan hidup
Lingkungan minim persaingan (usaha) ini, diibaratkan sebagai ‘Samudra Biru’ oleh para penulis teorinya
Lingkungan penuh disrupsi, kemajuan teknologi yang cepat, data yang super banyak, pilihan bisnis model yang bebas, baru dan sulit diukur –justru akan membunuh sebagian besar usaha manusia
Tapi tidak untuk startups!
Kalau kita, di antara semua manusia, berhasil menemukan cara ‘how to breath under the sea. Then it is only logical, that we will be king, prince and princess of men under the ocean’
Kurang lebih begitu analoginya
So, mau belajar nafas dalam air? Banyak-banyaklah bergaul dengan hiu
Itu kenapa @torch.id kemarin membuat TorchTalk: Meet The CEO
Biar hiu-hiu ketemu hiu-hiu lain –dan anak-anak hiu π
-
Indonesia Good Design Selection Award for Torch Arrafa
Alhamdulillah. Puji syukur pada Sang Maha Pencipta. Torch Arrafa: Sendal Haji dan Umrah Legendaris karya Abah Boy Yanyan, berhasil mendapatkan Penghargaan tertinggi Desain Produk Industri Indonesia.

Award IGDS (Indonesia Good Design Selection) 2019 ini diberikan kepada Produk, Desainer dan Perusahaan/Industri yang berkontribusi dalam peningkatan kualitas produk industri nasional yang dapat mendorong kesuksesan bisnis, pengalaman yang lebih baik melalui pemecahan masalah strategis, berbasis pengembangan produk dan inovasi desain berkesinambungan. << ini kata website-nya π
Ini adalah penghargaan IGDS kami yang ke-2, setelah 10 tahun yang lalu, kami juga menyabet award ini melalui tangan dingin Hanafi Salman dengan desain packaging Mahanagari. Yang juga sangat ikonik.
Langsung teringat kejadian ketika saya terjatuh tidak jauh dari Masjidil Haram, gara-gara sendal jepit saya terinjak jamaah umrah lain dari arah belakang.
Kecelakaan kecil ini, saya bawa pulang ke Bandung, sebagai sebuah PR desain bersama Om Boy dan Hanafi di sebuah ruang R&D kecil di ujung timur Kota Bandung.
Ustadz Budi Prayitno pun turut kami sibukkan untuk membantu memberi nasihat dalam proses perancangannya. Maklum, tiga desainer di Kantorch, tidak cukup yakin dengan hukum-hukum yang mengikat sebuah alas kaki untuk ibadah.
Setelah prototipe entah ke berapa, mungkin ke-6 atau ke-7, kami putuskan untuk mulai memproduksi sendal haji dan umrah ini.
Kami berharap sumbangan inovasi tiga murid dan pengagum Pak Imam Buchori Zainuddin dan Almarhum Pak Primadi Tabrani ini– bakal membantu kenyamanan dan keamanan para tamu Allah SWT nun jauh di semenanjung Arabia sana.
Namun ternyata benar: ‘good design does not always sell itself’. Kenyataan di lapangan, ‘Good designer must learn selling, marketing and branding –himself’.
Yah begitulah kenyatannya! π
Karena ternyata, kebanyakan agen-agen sendal menolak menjualkan sendal ini dan berkata, “Ini sendal apaan? Sendal gunung? Bukan, ya?”. “Kalau konsumen kami gak pernah ada yang cari sendal umroh, sih. Paling juga cari sendal gunung, Mas”.
Agen travel umrah dan haji pun tidak kalah pesimis. “Wah.. jualan sendal mah bukan wilayah kami, kang.’
Well… Kepepet adalah motivasi terbaik bagi entreprneur sejak masa saudagar masih berdagang dengan naik unta. Mentok di kanal penjualan sana-sini, membuat kita memaksa diri belajar metode penjualan canggih pada adik kelas kami; Fikri Pii Gustin
Tidak disangka, jalan inilah yang rupanya sedang disiapkan untuk kami oleh Yang Maha Kaya. Kami dikenalkan pada ilmu canggih bernama Digital Marketing –yang rupanya adalah sahabat baru yang ditunggu-tunggu oleh para inovator.
Singkat kata, alhamdulillah, akhirnya Torch Arrafa benar-benar kejadian menjadi sahabat para jama’ah umrah dan haji dari Indonesia.
Tidak hanya di masjid-masjid di Arabia dan di Indonesia, –di surau-surau, di kantor-kantor dan bahkan di mall-mal, sendal (yang dulunya) tidak laku ini kemudian jadi penanda gaya yang sangat nyata.
Ada sebuah kenyamanan dan kebanggaan terlihat dari para penggunanya.
Om Ben, Abah Boy dan Uda Han pun ikut bahagia dibuatnya.
Tapi mendapatkan sebuah award resmi seperti ini memang beda rasanya. Seakan mendapatkan restu, bahwa di zaman ini: orang-orang yang berpikir beda sudah bukan masuk kategori masalah negara –justru pemecah masalah negara.
Terima kasih, All. Para SobaTorch yang setia dan kami cinta. Do’akan kami segera haji pake sendal Torch Arrafa π πβ€οΈπ
-
Sulitnya Memilih Angle Pengukuran PDB dan PDRB Ekonomi Kreatif
Awal bulan lalu saya diminta Diskominfo Jabar untuk menjadi narasumber di acara konsultasi regional PDRB (Pendapatan Domestik Regional Bruto) – Jawa Bali Nusa Tenggara, di Cirebon.
Tiga ratus ASN dari berbagai kota dan kabupaten berkumpul di sana. Kebanyakan dari dinas-dinas yang berhubungan dengan pengukuran PDB/PDRB; seperti BPS, Bappeda, Diskominfo, dll
Terus ngapain saya ada di sana? Kan biasanya saya suka menolak jadi pembicara di sebuah seminar, kalau saya tidak merasa punya kompetensi atau punya urusan ngobrol di sana.
Tapi ternyata tema Konsultasi Regional tahun ini adalah ‘Ekonomi Kreatif dalam Akselerasi Pembangunan Ekonomi Digital’.
Wah, sayang kalau dilewatkan. Soalnya belakangan saya menemukan data-data BPS terkait ekonomi kreatif yang menurut saya berpotensi menimbulkan pembuatan kebijakan yang salah di daerah-daerah.
Masa?
Oke, kita mulai dari depan dulu ya. Indonesia adalah salah satu negara yang mengukur output PDB industri yang tidak mengandalkan sumber daya alam, ke dalam 16 sub-sektor Industri.
Industri-industri yang mengandalkan kemampuan ‘kreasi sumber daya manusia’ ini sering kita sebut sebagai ‘Industri Kreatif’.
Mulai tahun 2016, Bekraf dan BPS berusaha mengukur angka produktifitas sub-sektor industri kreatif dalam publikasi PDB (Nasional) dan PDRB (Regional) Ekonomi Kreatif. Niatnya baik, agar pemerintah punya pegangan data awal dan fokus dalam pengembangan industrinya.
Tapi sepertinya angle pengukurannya kurang pas. Terasa aneh jika dilihat oleh pelaku industri kreatif seperti saya.
Gambar di bawah ini adalah tabel PDRB Ekonomi Kreatif Jawa Barat per sub-sektor. Terlihat di sana ada 3 sub-sektor industri yang menghasilkan 90% PDRB Jabar; kuliner, fashion dan kriya.

Arsitektur, penerbitan, TV dan radio jika digabungkan hanya menghasilkan 7% output produktifitas
Sepuluh sub-sektor lain DKV, desain produk, desain interior, visual arts, fotografi, film, animasi, video, performing arts, biro Iklan, musik, apps dan game developer –hanya menyumbangkan 3% pada PDRB Jabar.
Really?
Memang kita bisa merasakan sih bahwa sumbangan kuliner, fashion dan kriya di Jawa Barat memang tinggi. Tenaga kerja yang terlibat di sini pun terasa masif.
Tapi apakah ke sepuluh sub-sektor lain ini memang tidak seproduktif itu?
Saya menghargai usaha mengukur produk domestik bruto industri kreatif yang dilakukan Bekraf dan BPS ini. Tapi ini bisa jadi angka-angka yang berbahaya, jika ditelan bulat-bulat oleh pemerintah di daerah-daerah.
Misalnya jika pemda, pemkot dan pemkab, memutuskan penyusunan budget sesuai prosentase output produk bruto-nya saja.
Nanti mayoritas budget akan dianggarkan untuk industri kuliner, fashion dan kriya -yang menyumbang 90% kontribusi PDRB.
Sementara anggaran pengembangan sub-sektor desain produk, DKV, video, musik, video, fotografi, dll secukupnya saja. Toh, tidak menghasilkan sumbangan PDRB yang signifikan.
Wow, bahaya. Karena kenyataannya, ke 16 sub-sektor ini tidak pernah bekerja masing-masing dalam menjalankan bisnisnya.
Dalam proses penciptaan nilai dan produk di industri-industri kreatif, mereka saling berinteraksi, saling mengisi, dan menciptakan jaringan kerja sama antar pekerja kreatif.
Mereka masing-masing memberi input nilai dalam setiap proses; dari mulai analisa data, pendesainan produk, branding, marketing sampai akhirnya produk terjual secara berkelanjutan.
Lihat gambar di bawah. Sebuah contoh posisi sub-sektor lain bagi industri Fashion.

Bisa dilihat di sana, semua sub-sektor yang menurut pengukuran menyumbangkan PDRB yang rendah, sebenarnya kedudukannya sangat vital untuk industri fashion.
Tanpa desainer produk dan DKV yang kreatif, tanpa fotografer yang mumpuni, tanpa video-video iklan yang menggigit, tanpa startup pembuat App/system yang maju –lupakan pertumbuhan eksponensial dari industri fashion.
It’s an ecosystem, sir. Kita tidak mungkin tidak menyirami rerumputan di halaman depan rumah, hanya karena rumput kita tidak kunjung berbuah seperti pohon jambu di atasnya.
Sepakat, ya?
Tentu saja, kita juga tidak perlu memaksakan pengembangan industri video, app, musik, dst, di kota-kabupaten masing-masing ketika sebenarnya bisa kita sourcing dari kota/kabupaten, propinsi atau negara lain.
Kembali…. It’s an ecosystem, sir. Yang penting tumbuh sehat dan connected.
—
PS: Terima kasih untuk teman-teman di BPS yang menanggapi masukan saya dengan sangat positif. Ke depannya, mari kita cari cara mengukur yang angle-nya lebih pas.
-
Harga Sebuah Kesehatan
Sudah hampir tiga minggu sejak Iki harus masuk ICU karena infeksi bakteri di paru-parunya. Mudah-mudahan tadi malam adalah malam terakhir kita harus menginap di rumah sakit ini.
Belasan hari menginap di ruang tunggu ICU bersama keluarga-keluarga yang berjuang mendampingi bagian hidupnya yang sedang kritis, mengingatkan diri saya bahwa banyak hal yang kita kurang hargai dalam setiap detik kehidupan.
Sebuah zat bernama albumin, yang dalam keadaan sehat akan diproduksi tubuh secara alami. Rupanya adalah sebuah nikmat seharga dua juta per hari, jika kita harus membelinya dari kasir apotek.
God gives you for free.
Nafas, yang sampai tiga minggu yang lalu tidak pernah saya hitung seberapa sering saya hisap. Ternyata paling tidak bernilai 500 rupiah per menit, atau sekitar kurang lebih 25 rupiah per hisap, jika kita harus lakukan dengan bantuan mesin.
God never charge you a dime for it.
—-
Semoga kami masuk ke dalam keluarga-keluarga yang masih diberikan nikmat umur yang bermanfaat di dunia ini. Bisa pulang ke rumah dengan senyum dan perasaan bahagia di dalam hati.
Karena tidak sedikit, teman-teman kami, yang membayar sewa tempat tidur di sini sebagai tempat tidur terakhirnya di dunia.
Ternyata di ruang ICU, saya melihat sendiri bahwa ada banyak sebab dan alasan untuk check-out dari dunia ini. Tidak harus selalu berhubungan dengan umur yang tua, atau pun badan yang sehat.
Seorang kakek sehat berumur 86 tahun dari Indramayu, setelah empat hari di sini, akhirnya harus ‘pulang ke rumah selanjutnya’ akibat sebuah truk menyeruduk dari belakang ketika dia bersepeda.
Sementara takdir berbeda menjadi jalan bagi seorang kakek berumur 88 tahun yang tetap kembali pulang ke rumahnya di Bandung, lepas dari beberapa kali dia keluar masuk ruang ICU di sini.
Saya melihat sendiri kegigihan sepasang suami istri yang mendampingi bayi ke-3 nya yang lahir dengan kelainan jantung. Satu bulan di NICU, hanya untuk kemudian mengikhlaskan sebuah takdir bahwa –si kecil suatu saat akan menggandeng tangan ayah ibunya– tapi bukan di bumi ini.
Dunia ini memang bukan surga bagi pencari keadilan. Saya ikut menangis dalam hati ketika melihat seorang ayah terpaksa memindahkan anaknya –seorang calon sarjana– yang terkena radang selaput otak ke rumah sakit yang lebih kecil di dekat rumahnya, di tenggara Kota Bandung. Ayah ibunya terpaksa melakukan itu karena karena beban biaya ICU yang sudah mendekati seratus juta, padahal keluarga ini membiayai hidup hanya dari warung martabak di dekat rumahnya.
Semoga Allah SWT mendengar dan mengabulkan do’a-do’a ayah ibunya, yang saya dengar lirih setiap malam di ruang tunggu dan di masjid kecil tak jauh dari rumah sakit ini.
—
Kemarin Iki bertanya pada saya, “Bennnn β¦. Nini mana?”
“Di rumah, Ki”, jawab saya.
“Rumah mana?”, katanya seperti orang bingung
“Rumah Dangdeur”, kata saya
Muka Iki terlihat bingung
“Iki inget rumah Dangdeur, kan?” kembali saya bertanya
“Ahhh .β¦ lupa β¦. Enggak inget”, jawabnya
Obrolan selanjutnya membuat saya agak terhenyak. Mungkin karena Iki sempat kehilangan kesadaran waktu di ICU, sekarang rupanya Iki tidak ingat di mana dia tinggal.
Dia lupa juga bahwa di rumah, tinggal juga si Keltie dan si Mango –kucing cantik dan kelinci gondrong penghuni halaman belakang.
Iki malah sebelumnya sempat mengucapkan terima kasih pada Bi Tetty, adik iparnya yang sudah meninggal 3 tahun yang lalu.
“Kiβ¦. Iki inget enggak kemarin Iki ada di ruang ICU selama 2 minggu?”, akhirnya saya harus mengkonfirmasi.
“Hah? Engaaak β¦. “, katanya
“Jadi yang terakhir Iki ingat apa, Ki?”
Dia diam sesaat lalu menjawab, “Iki mah ingetnya tidur nyenyaaaak sekaliβ¦ tidur enak”.
Saya sekarang tidak berani menggerutu pada takdir. Sudah terlalu banyak nikmat yang Allah berikan pada kami. Insyaallah hari ini kami akhirnya diizinkan pulang dan melanjutkan pengobatan Iki dengan pengobatan rawat jalan.
Mudah-mudahan lupanya Iki ini sementara saja. Mungkin juga, lebih baik Iki memang lupa hari-harinya di dalam ICU. Mungkin itu lebih baik untuknya.
Untuk saya, mungkin kebalikannya. Saya harus selalu ingat hari-hari ini. Hari-hari yang mengajarkan pada saya tentang mukjizat-mukjizat yang setiap hari Allah berikan dalam sebuah badan yang sehat.
Seperti albumin gratis dan nafas yang lapang yang Dia berikan setiap detik.
Alhamdulillah. Terima kasih atas do’a-do’a dan perhatian yang saudara-saudara dan teman-teman berikan pada keluarga kami tiga minggu belakangan ini.
Itu rezeki lain yang kami harus syukuri; keluarga dan teman baik yang penuh perhatian setiap saat.
Sun dan salim,
Benben












