Author: ombenben@gmail.com

  • Apakah Startup Brand e-commerce Harus Punya Website dan Jualan di Website?

    Tadi di #AkademiInstagram ada peserta yang nanya, “Apakah punya website untuk jualan itu wajib?”

    Saya jawab, “Tentu saja tidak. Yang wajib mah sholat 5 waktu” šŸ˜Ž

    Tapi kalau kamu tidak mau membangun dan mengaktivasi website sejak awal. Maka di mana kita akan mengumpulkan data-data feedback setiap transaksi? Ini pertanyaan raksasanya

    Jadi gini, Sob. Transaksi digital itu punya kelebihan yang sangat mendasar -yang membedakannya dengan transaksi offline

    Yaitu ketika transaksi terjadi maka ada dua feedback yang akan didapat oleh sebuah brand e-commerce

    (satu) uang… Ini penting! –tapi biasa ini mah. Transaksi offline juga menghasilkan uang, ‘kan?

    (dua) data (lots of them) …. nah ini lebih penting. Ini hanya didapat ketika kamu bertransaksi secara digital

    Banyaknya data yang terkumpul sangat tergantung dari platform apa yang kamu pilih dalam bertransaksi dengan konsumen

    Contoh, kalau kita dagang & closing via WhatsApp. Maka kita akan mendapatkan data; nomor telepon konsumen, nama konsumen, alamat rumah/kantor, dan mungkin nomor rekening konsumen

    Kalau kita closing via Marketplace, maka kita (seller) akan mendapatkan -kurang lebih- data seperti di atas. Mirip lah

    Nah.. website/webstore itu dirancang untuk mendapatkan dan menganalisa jauh lebih banyak data lagi

    Kita bisa menganalisa:

    Konsumen menyukai barang yang mana, kalau dia suka barang A, apakah dia juga sempat melirik produk B dan D di webstore. Berarti sebulan lagi, kenapa tidak sekalian ditawari barang B dan D lewat iklan via feed IG-nya?

    Jam berapa sebenarnya kecenderungan konsumen beli barang kita? Jadi kita bisa atur, berapa orang CS shift 1 dan berapa orang CS shift 2

    Kalau si Jon sering beli barang kita, apakah tetangga dia se-RT atau sekelurahan sering juga beli barang kita? Kalau iya, kenapa kita enggak sekalian aja buat showroom di kelurahan itu

    Selain untuk membuat keputusan bisnis, data-data yg banyak, akurat, real-time dan mudah dianalisa ini juga punya manfaat lain. Misalnya sbg collateral pinjaman –pengganti sertifikat tanah atau BPKB mobil

    Jadi dalam ‘kitab bisnis digital’, webstore memang tidak wajib.
    Mungkin masuknya ‘sunnah muakkad’ deh šŸ˜‰

    #startupadvice

  • IKEA, can we learn something from you?

    Tahukah kamu bahwa pertumbuhan penjualan IKEA terjadi sangat masif di kanal e-commerce nya?

    Yes, it’s true. Di Barkaby, mereka sendiri yang menegaskan tentang hal itu.

    Bagaimana tidak? Jauh sebelum ledakan e-commerce di dunia, produk-produk IKEA sudah didesain delivery friendly.

    Kembali ke sejarahnya, memang the late Ingvar Kamprad pada awalnya memang menjual produknya sebagai produk mail order.

    Jadi ketika internet kemudian mengubah kebiasaan pembelian manusia dengan memberikan peran lebih pada ‘jari’, IKEA jauh lebih siap dari pemain lain.

    Bukan hanya IKEA saja yang tahu tentang hal itu, saya pun sangat tahu potensi raksasa di balik produk-produk yang didesain tidak hanya mempertimbangkan ease of use –tapi juga mempertimbangkan the ease of production and ease of delivery.

    After all, itu jantungnya aktivitas di Torch.id sendiri

    Jadi waktu pak Gubernur Jawa Barat @ridwankamil dan timnya meminta kami untuk bertemu IKEA di salah satu ruang kantornya di Barkaby Stockholm, alih-alih hanya meminta IKEA memastikan penyerapan tenaga kerja lokal di IKEA store barunya nanti, dan memperbanyak sourcing produknya dari Jawa Barat –kami meminta favor yang lebih jauh lagi.

    Kami minta IKEA berbagi ilmu mengenai proses desain mereka yang sangat apik kepada para startup craft dan home furnishing di Jawa Barat.

    Pola pikir mereka yang canggih; designing the end at the beginning, menurut saya adalah harta karun yang lebih berharga lagi.

    Jika kita mampu menerapkan pola pikir itu menjadi pola pikir dan pola kerja para startup home furnisahing lokal …. wogh…. Bukan hanya sebuah pasar raksasa terbuka bagi mereka –tapi sebuah model bisnis dengan percepatan pertumbuhan ratusan persen per tahun akan bisa mereka kuasai.

    Rekan-rekan dari IKEA tentu saja surprise (asli terkaget-kaget), ketika mereka mendengar usul kerja sama ini. Adalah sebuah hal besar yang kita minta dari mereka. Jarang-jarang orang Indonesia minta dikasih kail, bukan ikan. Minta ilmu, bukan proyek… Hehehe..

    But hej, buat apa terbang jauh-jauh kalau hanya mau minta yang gampangan, betul?

    Karena ada satu hal yang saya pelajari tentang perbaikan hidup; yaitu ‘to achieve better future, we have to pray and demand for the best’.

    Well, cerita masih harus bersambung nih. Lots of things to follow up here in Sweden and back in Indonesia. Bismillah. Bantu do’a terbaiknya, ya šŸ™šŸ¼

  • Sayang, Adab Kita Bernegara Belum Seindah Adab Kita Sholat Berjama’ah

    Saat shalat maghrib kemarin, kami –jama’ah yang tidak saling kenal– sepakat mempersilahkan seorang bapak berumur empat puluhan tahun untuk menjadi imam.

    Dia mengenakan baju yang rapih, terlihat sopan, tenang dan ada sedikit janggut di dagunya.

    Walau tidak ada jaminan 100%, bahwa pembawaanya ini mencerminkan kemampuannya memimpin menjadi imam. Toh dalam hitungan detik semua jama’ah mundur menjadi makmum dan mempersilahkan beliau memimpin di depan.

    Masyaallah. Di rakaat pertama beliau memperlihatkan bahwa kami tidak salah memilih dia sebagai pemimpin. Dengan suaranya yang indah, dia membacakan Al Fatihah dan surat Al Kafirun dengar sangat menyentuh.

    Nyaman sekali menjadi makmumnya.

    Setelah membaca Al Fatihah di rakaat ke-dua, beliau memilih surat yang memperingatkan kita untuk tidak bermegah-megahan di dunia; Surat At Takasur.

    Kembali. Dia membuat surat pendek ini menjadi sangat Indah. Sangat syahdu.

    al-hākumut-takāṔur
    Ḅattā zurtumul-maqābir
    kallā saufa ta’lamỄn
    į¹”umma kallā saufa ta’lamỄn

    ……… hening…..

    …. selama empat detik hening…

    Subhanallah. Rupanya beliau lupa ayat selanjutnya.

    Empat orang makmum, tanpa komando, langsung membantu mengingatkan pemimpinnya.

    kallā lau ta’lamỄna ‘ilmal-yaqÄ«n –dengan suara jelas dan tidak berlebihan, makmum mengingatkan imamnya

    Alhamdulilah, imam langsung menyadari kekhilafannya dan meneruskan bacaannya

    kallā lau ta’lamỄna ‘ilmal-yaqÄ«n
    latarawunnal-jaḄīm
    Ṕumma latarawunnah⠑ainal-yaqīn
    į¹”umma latus`alunna yauma`iżin ‘anin-na’Ä«m

    Imam kemudian meneruskan memimpin shalat tiga raka’at kemarin. Setelah shalat. Kami saling mengucapkan assalamualaikum, saling tersenyum dan bersalaman. Gugurlah semua dosa di antara kami.

    Tidak ada kata lain. Indah. Sholat memang indah.

    Sholat mengajarkan kita untuk menjadi leader yang baik. Sholat mengajarkan kita untuk menjadi followers yang baik.

    Bayangkan jika kita semua; rakyat, umaro dan ulama, bisa menegakkan sholat kita. Menghidupkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam berkeluarga. Dalam bernegara.

    Sehebat apapun seorang pemimpin. Dia hanya manusia. Ke-manusiaan-nya pasti membuatnya memiliki cacat dan kekurangan.

    Itu sebabnya Allah SWT, jika ingin memberikan kehidupan yang barokah, syaratkan dia pengikut-pengikut yang beradab. Pengikut yang mengangkat dan mengingatkannya ketika di salah dan khilaf.

    Ini pengingat juga bagi kita sebagai pengikut.

    Ingat, kualitas pemimpin kita –hanya akan sebaik kualitas kita sebagai pengikut.

    Kita harus berhenti bermimpi akan mendapatkan pemimpin seperti Nabi Muhammad Saw kepada Abu Bakar Ra. Ketika kita memilih bersikap seperti kaum khawarij kepada Ali Ibn Abu Thalib Ra.


    Wallahua’alam bishawab

  • Anakmu Bukanlah Milikmu ~by Kahlil Gibran~

    Anakmu bukanlah milikmu,
    mereka adalah putra putri Sang Hidup,
    yang rindu akan dirinya sendiri.

    Mereka lahir lewat engkau,
    tetapi bukan dari engkau,

    Mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.

    Berikanlah mereka kasih sayangmu,
    namun jangan sodorkan pemikiranmu,
    sebab pada mereka ada alam pikirannya sendiri.

    Patut kau berikan rumah bagi raganya,
    namun tidak bagi jiwanya,
    sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
    yang tiada dapat kau kunjungi,
    sekalipun dalam mimpimu.

    Engkau boleh berusaha menyerupai mereka,
    namun jangan membuat mereka menyerupaimu,

    Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
    ataupun tenggelam ke masa lampau.

    Engkaulah busur asal anakmu,
    anak panah hidup, melesat pergi.

    Sang Pemanah membidik sasaran keabadian,
    Dia merentangkanmu dengan kuasaNya,
    hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.

    Bersukacitalah dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
    sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat,
    sebagaimana dikasihiNya pula busur yang mantap.


    ‘Anakmu Bukan Milikmu’
    by Kahlil Gibran

  • Bisnis itu Kuncinya adalah Bertanya

    Barusan di meja makan, ibu saya bilang, “Waktu kamu masih kecil, kamu tuh penakut, cengeng juga … pokoknya susah banget deh diurusnya. Kenapa kamu sekarang beranian jadi pengusaha, ya? Bukannya usaha itu stres mikirin segala sesuatu sendirian, Ben?”

    Wah, pertanyaan dewa ini. Saya terpaksa jawab dengan ajaran seorang dewa lagi. Dia mentor saya di kala saya baru mulai belajar bisnis. Pak Irwan Sjarkawi, namanya.

    ———–

    Beliau pernah bilang, “Bisnis itu sebenarnya mudah. Kuncinya adalah BERTANYA. Karena semua hal dalam bisnis itu sebenarnya mudah….. bagi orang yang punya ilmunya. Yang kamu perlu lakukan adalah bertanya pada orang yang tepat.”

    “Pelajaran sekolah apa yang menurut kamu susah, Ben?”, tanya dia.

    “Kimia, pak”.

    “Kimia susah, ya?”

    “Iya, pak. Susah banget”

    “Susah banget itu BAGI KAMU. Kamu punya ‘kan teman yang nilai kimianya bagus terus?”

    “Ada, pak. Nyebelin deh”.

    “Bagi dia –orang yang punya ilmunya– kimia itu mudah kan?”

    “Iya, pak. Bener juga.”

    “Sayangnya memang kalau sedang ujian di sekolah, kamu tidak boleh langsung nanya pada dia, kan? Padahal itu adalah cara paling mudah, kan?”

    Saya diam saja. Soalnya langsung terbayang di memori saya. Kalau udah urusan kimia, ujian gak ujian saya, biasanya nanya aja sih … hehehe.

    Pak Irwan meneruskan, “Itu bedanya dengan di bisnis, Ben. Kapan pun kamu menemukan sesuatu hal yang terlalu sulit untuk kamu pecahkan sendiri, saat itu lah kamu harus bertanya.
    Jangan kamu pecahkan sendiri. Tugasnya pengusaha itu adalah memecahkan masalah. Bukan memecahkan masalah SENDIRIAN. Ngerti, Ben?”

    Yap. Bagi saya yang sejak SMA tidak pernah memecahkan masalah sendirian, ini adalah berita bagus šŸ˜‰. I’ve just found my self a career. My dream job.

    ——

    “So… Nope, Mom. Mantan anak cengeng ini tidak perlu stres. Dia sudah mengelilingi dirinya dengan ribuan teman-teman baik –sejuta tempat bertanya. He’s just fine”.

    **hatur nuhun, Pak Irwan. Alhamdulillah saya dulu nanya pada orang yang punya ilmunya. You rock, sir.

  • Ketika Sila ke-3 Menjadi Taruhannya

    Saya dahulu pernah jadi relawan tim kampanye politik di sebuah kota. Dalam ketegangan musim kampanye, pernah suatu kali kami berdebat keras di dalam kantor salah satu DPD partai politik, karena saya mendapati di meja rapat terdapat beberapa skrip kampanye negatif bergeletakan. Siap untuk disebarkan –menyerang istri petahana yang mengajukan diri menjadi calon walikota.

    Teman-teman parpol menenangkan saya, “Punten, Kang. Skrip ini hanya akan disebarkan jika diperlukan saja, kok. Tidak akan disebarkan jika tidak perlu.”

    Namun siang itu, saya tidak beranjak dari posisi saya dan tidak keluar dari ruang rapat sebelum semua rekan berkata langsung di muka saya bahwa kami semua, relawan dan parpol, tidak akan mengeluarkan kampanye negatif –apalagi kampanye hitam– untuk menjatuhkan rival politik kami.
    Alhamdulillah, siang itu kami semua berhasil mencapai kesepakatan bahwa tidak akan ada materi kampanye negatif diproduksi oleh kami semua. Jika kami menemukan materi seperti itu, tidak sengaja keluar dari simpatisan misalnya, maka kami akan langsung menarik dan menurunkan materi tersebut. Kami tegaskan bahwa hal tersebut terlarang. Titik.

    Kala itu (mungkin sekarang pun) masih banyak partai politik yang meragukan efektifitas sosial media dalam membentuk opini positif dan menggiring suara pada kemenangan sebuah pemilu. Tapi, kami relawan muda kota, sudah sadar sekali kekuatan besar sosial media dalam politik.
    Kami sadari juga bahwa pisau ini adalah senjata bermata dua yang hanya akan tunduk pada keinginan dan niat si pemegang pisau. Malapetaka besar ketika digunakan untuk membawa pesan negatif. Sila ke-3 adalah taruhannya.

    Maka jadilah kami, tim kuda hitam yang di-bully habis-habisan oleh isu, kampanye negatif dan kampanye hitam yang dikirim oleh rival-rival lain dalam pesta demokrasi yang terasa menggerus hati.

    Selanjutnya tidak ada keajaiban yang terjadi. Calon walikota dan Calon Wakil Walikota kami bergerak dari pasangan dengan elektabilitas 6% –menjadi pemenang pilwalkot dengan mengantongi suara 46%, mengungguli 8 pasangan calon lainnya. Dalam 100 hari, dengan bersandar pada kampanye positif dan kompetensi si calon.

    Bukan sebuah keajaiban. Bukan. Tentu bukan! Dalam sirah dan dalam sejarah dunia, si kecil yang menang besar itu adalah hal yang jamak. Bertaburan di seluruh penjuru dunia. Tersebar sejak awal peradaban manusia sampai saat ini.

    Ini hal yang mungkin bagi umat manusia, dan mudah bagi Allah SWT.
    Yang sulit itu adalah tidur nyenyak dan hidup dengan damai sesudah kemenangan, ketika sepanjang jalan kemenangan DAN jalan kekalahan, banyak hati yang kita sakiti, banyak silaturahim yang kita putuskan, dan banyak larangan Allah SWT yang kita langgar.

    Bukankah takdir itu milik Allah? Sehingga Dia lah juga yang paling tahu; siapa yang harus menang dan juga yang harus kalah di titik ini.

    Saya tetap yakin, sesudah kematian datang pada kita semua. Kita tidak akan ditanya apakah kita kalah atau menang dalam kontestasi kemarin. Yang akan ditanyakan pada kita adalah DENGAN CARA APA kamu kalah –atau menang.

    Saling bermaafan lah sejak sekarang. Sebelum saat itu datang. Karena di alam sana, kita memerlukan sebanyak-banyaknya pembela dan sesedikit-dikitnya penggugat.
    —–
    Wallahu ‘alam bishawab.

  • Business Pivot. Kalau perlu, kenapa harus takut? Part (I)

    Kemarin-kemarin saya sempat ingin juga ikut-ikutan posting foto saya sekarang dan sepuluh tahun yang lalu untuk meramaikan 10 Years Challange yang sedang ramai di feed dan timeline. Tapi ternyata kalau dilihat-lihat, dalam kurun waktu sepuluh tahun, gak banyak juga yang berubah selain tambahan rata-rata satu kilogram berat badan dan lima lembar uban per tahun.

    Ada sih perubahan yang signifikan. Dulu, waktu masih kepala tiga, begadang tiga hari, tinggal dibayar istirahat sehari. Sekarang, begadang sehari, gak enak badannya tiga hari šŸ™‚
    Tapi yah semua itu gak kelihatan dari foto sih. Itu mah bagian daleman mesin.

    Nah, saat browsing-browsing foto tahun 2009 di google photos, saya menemukan foto ‘kejayaan masa lalu’. Waktu itu saya dan Hanafi masuk tabloid Nova. Kita dimuat dalam satu halaman penuh atas ‘kesuksesan’ kita membesarkan MAHANAGARI –brand kampanye budaya Bandung via desain kaos oblong, dan kegiatan-kegiatan kreatif lain.

    Di jamannya, masuk tabloid Nova itu berasa seperti ulang tahun. Hampir semua temen yang membaca langsung kirim pesan, nelepon, ngasih selamat dan sebagainya. Bisa jadi karena pembaca tabloid Nova itu mayoritasnya ibu-ibu muda. Mereka mah sudah jadi viral news
    carrier, jauh sebelum internet ditemukan.

    Saat membaca artikel itu, saya baru sadar bahwa perubahan yang paling nampak antara sekarang dibandingkan sepuluh tahun yang lalu bukanlah pada orangnya –tapi pada brand-nya.

    Mahanagari, paling tidak untuk saat ini, masih menjadi nama resmi Perseroan Terbatas kami, tapi tidak lagi menjadi brand utama yang kami kembangkan. Karena sejak 5 tahun yang lalu, toko terakhir Mahanagari sudah kami tutup –dan sejak 4 tahun yang lalu kami fokus mengembangkan sebuah brand baru bernama Torch.

    Saat tulisan ini dibuat, kalau iseng-iseng mengetikkan nama ‘ben wirawan’ di google, maka yang akan muncul bukan lagi foto saya bersanding dengan merek Mahanagari. Kemungkinan besar salah satu yang muncul adalah foto di bawah ini:

    Ini cover video saya di BukaAcademy

    Bukan foto terbaik saya sih .. hehehe … tapi mari kita fokus pada tulisan di bawah nama saya: co-founder & director TORCH. Well, bagaimana ceritanya co-founder Mahanagari berubah menjadi co-founder Torch?

    Jadi gini, Guys. Saat itu, sekitar 5 tahun yang lalu, saya merasa bahwa Mahanagari sedang berjalan seperti pemain sepak bola yang terjebak dalam liga yang terlalu kecil. Agak mirip dengan nasib seorang Messi jika ia memutuskan untuk merumput di Liga Indonesia. Alih-alih liganya akan tambah maju mengikuti kaliber sang Messi, tampaknya justru seorang Messi akan turun performanya jika membiasakan main di Liga 1 kita.

    Hal yang sama sebenarnya terjadi di Mahanagari. Jika mengukur kualifikasi SDM orang-orang di Mahanagari, lalu melihat pergerakan dunia bisnis di sekeliling, saya sebagai pemimpinnya dapat mengatakan jelas bahwa kami terperangkap di bisnis yang tidak memberikan tantangan dan peluang yang cukup besar di masa depan.

    Padahal, anak-anak saya akan bertambah besar. Anak-anak karyawan lain pun akan tumbuh besar dan membutuhkan biaya pendidikan dan biaya-biaya lain yang semakin lama akan semakin tinggi. Mampukah kami menggaji mereka di masa depan. Akankah tim ini akan tetap ada, jika pertumbuhannya hanya secukupnya?

    Sebagian dari kita mungkin berkata, “Tapi perusahaan saya masih tumbuh di angka yang bagus. Sepuluh persen per tahun! Dua kali pertumbuhan ekonomi negara ini.”

    Alhamdulillah kalau memang masih tumbuh. Tapi jangan sampai salah mengukur, ya. Kita harus selalu mempertimbangkan inflasi, kenaikan harga bahan baku, kenaikan biaya distribusi, dst. Sehingga harga jual produk kita punya kecenderungan harganya naik, paling tidak 5%-10% per tahun. Pencatatan omzet yang naik di bawah 10%, bisa saja hanya karena kenaikan harga jual. Sejatinya perusahaan kita tidak bergerak ke mana-mana.

    Apalagi banyak di antara kita adalah otak dan otot dari perusahaan-perusahaan rintisan, yang diharapkan memiliki pertumbuhan dalam lima tahun pertama bukan lagi dalam hitungan puluhan persen atau ratusan persen –tapi ribuan persen. Bagaimana caranya kalau kita, pemimpinnya, merasa cepat puas dan takut mencoba sesuatu yang baru?

    ——-

    Kemarin, saya berkenalan dengan sorang teman baru. Usahanya sudah berumur 5 tahun, tapi dia bilang pertumbuhannya pelannnn sekali. “Naik sih, tapi sedikit-sedikit. Bantuin saya memecahkan masalah pemasaran produk saya, kang.”

    Dari nada bicara dan raut mukanya, saya bisa merasakan bahwa sebenarnya usahanya tidak dalam keadaan yang baik. Dia terlihat ragu dengan kemapuan timnya untuk menjual produk yang mereka produksi –apalagi di zaman digital marketing yang menurutnya ‘kompleks’ dan ‘mengawang’. Satu hal yang dia yakin adalah ‘ada masalah dengan marketing di perusahannya’.

    Nah ini dia. Sering kali ‘marketing’ dijadikan menjadi kambing hitam sekaligus juru selamat yang diharap-harap datang untuk memecahakan masalah tidak sehatnya perputaran produk di pasaran. Tanpa pernah melakukan general check up terhadap semua komponen bisnis –termasuk business modelnya.

    Padahal, benarkah penyebab macetnya produk kita adalah kinerja marketing yang buruk?

    Kadang iya. Kadang tidak. Tapi setidaknya, kita memiliki tanggung jawab untuk memastikan dahulu apa penyebabnya. Jangan sampai kita salah memberi obat. Karena obat paten termahal untuk sakit jantung pun, tidak akan mampu menyembuhkan sakit maag. Betul, kan?

    Banyak cara untuk mendiagnosa masalah yang terjadi di dalam sebuah perusahaan. Semuanya membutuhkan data-data untuk dianalisa. Data valid. Data primer. Historical data.

    Itu sebabnya, usaha kecil yang tidak melakukan pencatatan (supply, desain, sales, keuangan, sdm, dst) dengan baik, sebenarnya sedang menapaki jalur lambat menuju pengkerdilan diri.

    Dalam perjalanan sebuah perusahaan, jalur lambat menuju pengkerdilan diri ini lebih buruk dari pada jalur cepat menuju bunuh diri. Karena si pengusaha tidak akan merasakan urgency untuk berubah.

    Tanpa terasa sumber daya dan waktu terus terbuang –sementara perusahaan sedang berputar-putar tanpa arah di tempat yang sama. Pencatatan penjualan terasa tumbuh stabil –tapi di nilai yang kecil. Terlalu kecil.

    Lama-kelamaan perusahaan tidak bisa membayar kewajibannya. Mungkin sebagian merasa terbebani hutang yang sudah terlalu banyak, sudah terlalu letih untuk berinovasi atau sudah terlalu tua untuk memulai lagi.

    Should we say good bye to business?

    Maybe not! Karena mungkin kita baru saja lulus kelas 1 dalam bisnis. Teruskan ke kelas 2. Jangan dibuang pengalaman dan pengetahuan kumulatif yang sudah susah payah kita kumpulkan.

    Tapi akan lebih berbahaya lagi jika memaksa naik kelas tanpa melihat jejak data dan jejak-jejak keputusan yang lalu. Itu beneran artinya business suicide.

    Lebih baik, pertimbangkan untuk melakukan pivot.

    Dalam olah raga basket, pivot akan dilakukan oleh seorang pemain ketika dia merasa posisinya mentok – terkunci – tidak lagi mungkin untuk meneruskan bola ke posisi yang lebih memungkinkan untuk mencetak score.

    Dari pada bola mati di tangannya, dia akan berhenti, pertahankan bola di tangannya, menjadikan salah satu kakinya sebagai poros di titik terakhir yang dia pijak, berputar mencari arah yang lebih terbuka –lalu mencari pemain lain yang lebih memungkinkan untuk mencetak score.

    Bahkan tidak peduli jika pemain yang posisinya lebih terbuka, berada jauh di belakangnya. Operkan pada pemain tersebut. Ciptakan score dari arah, dengan pola, dan pemain yang berbeda. Yang penting score!

    Seperti melakukan pivot dalam olah raga bola basket, sebagai pengusaha kita boleh menjadikan salah satu kaki kita (pengalaman-pengalaman sebelumnya) menjadi poros. Sementara kaki yang lain bergerak mencari arah baru agar bisa mengoper bola –mencari arah lain yang lebih baik berdasarkan pengalaman atau data yang sudah kita miliki sebelumnya.

    Saya sangat menyarankan melakukan pivot dalam bisnis jika:

    • Produk/market fit atau kesesuaian penawaran produk dengan market rendah. Tanda-tandanya, penjualan cenderung flat; penjualan naik tapi landai –walaupun marketing digencarkan.
    • Model produksi sudah diperbaiki, tapi permasalahan di supply selalu jadi masalah utama: produksi yang selalu ikut menjadi mahal atau selalu tidak bisa mengimbangi kecepatan permintaan.
    • Penjualan selalu naik, tapi tidak terlihat perbaikan di bottom line keuntungan. Struktur harga sudah diperbaiki, tapi tetap sulit mendapatkan keuntungan –berapa pun penjualannya.

    Gejala di atas tidak selalu berarti perusahaan dalam masalah parah, tapi kalau masalah di atas ini terjadi berulang-ulang, mungkin saatnya untuk pivot. Ngapain juga kita teruskan berbisnis kalau hasilnya hanya capek?

    ———

    Di tulisan selanjutnya saya ingin berbagi pengalaman melakukan pivot demi pivot ini. Yes, it’s a series of pivots. Doa’kan ada waktu untuk menuliskannya.

  • Arrafa untuk Resi Raksasa

    ‘Mas Yang Terbelakang’ adalah salah satu julukan yang diberikan kepada saya oleh salah seorang guru fisika di masa SMA dulu. Kalimat ini benar-benar bersayap. Memiliki dua arti –yang kalau dipikir-pikir– keduanya ada benarnya.

    Benar, saya memang duduk di baris paling belakang di kelas. Benar juga, saya sering termangu tidak tahu harus menuliskan apa ketika diminta memecahkan soal menggunakan kapur di papan tulis kelas.

    Saya sering memutuskan untuk berdiri saja di depan kelas, sampai guru saya lelah melihat saya tidak mau menjawab soal, dan akhirnya menyuruh saya untuk kembali ke tempat duduk saya di belakang.

    Maka, muncullah julukan ‘Mas Yang Terbelakang’ itu.

    Apakah saya keberatan? “Oh…. Sangat!”. Tapi mungkin saya tidak cukup sensitif untuk menangis, dan tidak terlalu pemarah untuk menuntut guru saya ke pengadilan. Lagi pula, tahu diri saja lah. “Ranking ke-38 itu salah kamu, bukan salah guru kamu”, pikir saya membatin.

    ——–

    Never the less, beberapa tahun kemudian saya duduk di salah satu ruang kelas berundak di tengah-tegah kampus ITB. Mengikuti sebuah kuliah pertama yang bertajuk ‘Pengantar Studi Seni Rupa’.

    Ya, Mas Yang Terbelakang ini rupanya masih cukup terdepan untuk bisa lulus seleksi ketat untuk masuk Fakultas Seni Rupa dan Desain di jantung Kota Bandung, tahun 1994 lampau.

    Walau kalau dalam perspektif salah satu saudara saya, rupanya ini hanya pencapaian mediocre. Untuk dia masuk sekolah seni bukan sesuatu yang pantas dibanggakan. Dalam bahasa dia, “Oh, masuk seni rupa. Kirain masuk tehnik“.

    Jangan didengarkan, Ben. Jangan juga dijawab. Ini hidup kamu. Bukan hidup dia. Berbahagialah untuk pilihan-pilahanmu. Kamu tidak membutuhkan dia berbahagia untukmu“, kalimat itu saya ulang-ulang di hati saya.

    Tapi pagi itu rupanya banyak hal akan berubah. Ke dalam kelas masuk seorang dosen yang tidak lagi muda. Jenggotnya panjang. Mukanya tirus. Sorot matanya yang tajam agak kontras dengan aura sejuk yang memancar dari dalam dirinya.

    Dia membuka kelas dengan mengatakan, “Selamat datang para mahasiswa baru yang berhasil selamat dari sistem pendidikan di Indonesia“.

    Dengan mengatakan, “….. yang selamat dari sistem pendidikan di Indonesia” –dia seakan-akan mengerti what kind of hell we had been through in each of our school.

    Hanya anak-anak muda kreatif yang mengerti pujian yang baru saja dia sampaikan. Hanya anak-anak muda kreatif yang langsung bisa menghargai empati yang baru saja dilemparkan sang dosen.

    Homo Creativitus Nyusahinikus. Orang kreatif yang nyusahin. Disuruh mengerjakan soal matematika halaman 4, kami malah menggambari halaman tengah. Ketika disuruh mengerjakan soal kimia halaman 46, kami melanjutkan gambar mulai halaman belakang. Itulah kami.

    Kebanyakan guru kami sebelumnya, yakin bahwa kami hadir di kelas untuk menyusahkan hidupnya.

    Tapi tidak dengan bapak ini; Primadi Tabrani. Untuk pertama kalinya ada seorang guru yang mengatakan bahwa kami memiliki kemampuan potensial yang unik, yang akan sangat berarti bagi masyarakat.

    Mirip seperti professor X mengayomi mutan-mutan di sekolahnya, begitu juga Pak Primadi. Dia memberi tahu kenapa kadang kreativitas kami mandeg (and what to do about it). Dia pun memberikan perspektif ilmiah tentang mood yang selalu membayangi kemampuan kami berkarya.

    Katanya, “Kalau kamu masih butuh minuman keras untuk menjadi kreatif, berarti kamu masih tidak kreatif. Kuasai mood kamu. Hanya dengan menguasai mood kamu sendiri –maka kamu dapat maju”.

    Satu tahun di kelas beliau, telah mengubah cara pandang saya terhadap diri saya sendiri. Saya mulai mengerti bagaimana mengoptimalkan kemampuan aneh bernama kreativitas di dalam diri saya. Saya pun mulai mengerti bahwa perbedaan adalah salah satu gift terbaik dari Sang Maha Pencipta.

    Ada efek positif lain sebenarnya. Cara pandang saya terhadap diri sendiri yang semakin positif, dengan cepat mengubah prestasi akademik saya. Mantan siswa SMA dengan ranking 38 ini, dalam 1 semester berubah menjadi seorang mahasiswa semester I dengan IPK 3,8. Not bad, ya?

    ——–

    Kemarin sore saya memaksakan menembus macetnya Bandung untuk menjenguk pahlawan berjanggut dari kampus ITB ini. Beliau terbaring bersama istrinya, bersebelahan di dalam ruang perawatan. Kedua wonderful people ini terserang stroke di hari yang sama.

    Dua buah karangan bunga menyambut tamu-tamu yang masuk. Salah satu karangan bunga di sana berubah menjadi obyek selfie para suster karena dikirimkan oleh orang nomor satu di Jawa Barat. *Memang sehebat itu pahlawan kami yang sedang sakit ini.

    Saya masuk, menyium tangan keduanya, dan memberanikan diri memberikan sebuah karya kreatif yang telah banyak mengubah hidup kami. Dua pasang sendal Torch Arrafa, yang lahir dari kreatifitas 3 orang muridnya –yang saat ini menjadi salah satu sendal best selling di perusahaan kami.

    “Pak Prim, di hari pertama kuliah dulu, bapak telah mengubah hidup saya ketika bapak mengatakan bahwa saya adalah salah satu anak yang selamat dari sistem pendidikan di Indonesia. Kalimat pendek itu mengubah cara saya memandang diri saya dan benar-benar mengubah hidup saya.”

    “Mohon dapat diterima sendal best seller karya mahasiswa-mahasiswa bapak dulu di ITB. Semoga bapak dan ibu segera sembuh, ya. Jalan-jalan lagi pakai sendal buatan kami ini.”

    Saya memang bukan orang yang pandai menyusun kata-kata saat suasana duka. Tapi saat itu saya melihat mata pahlawan kami berkaca-kaca. Saya bisa melihat kebahagiaan di sana. Kebahagiaan seorang guru yang telah berhasil mengubah hidup murid-muridnya.

    ——

    Kadang-kadang untuk mengubah hidup kita, yang perlu kita lakukan sebenarnya sederhana saja. Temukan sebuah kelas luar biasa yang diisi oleh ‘seorang resi raksasa’. Diam di dalamnya –dan dengarkan baik-baik apa katanya.

    —–


    Update: Pak Primadi terus berjuang bersama penyakit alzheimer dan penyakit lain yang diderita di masa tuanya. Dua bulan sesudah saya menulis blog ini, beliau wafat. Meninggalkan istri, anak-anak dan ribuan murid yang telah dia ubah pemikiran dan kehidupannya ke arah yang lebih baik. Dia menitipkan Indonesia yang lebih bahagia dan kreatif di tangan keturunan dan murid-muridnya ini.
    Selamat jalan, Pak Prim. Semoga semua ilmu yang bapak berikan pada kami akan membawa bapak ke surga yang paling tinggi. Aamin Ya Rabbalalamin.

  • I chose not to leave my friend then, I won’t leave my leader today

    Dearest Kang Tisna Sanjaya,

    Tenang, kang. Saya bisa menegaskan bahwa jawabannya adalah ‘No’. Saya tidak meninggalkan Kang Emil, atau kebalikannya. Lepas dari perbedaan pendapat atau pilihan-pilihan hidup, bagi saya, dia tetap seorang sahabat sekaligus pemimpin. I chose not to leave my friend alone in 2013, and I won’t leave my leader today. Insya Allah.

    Jadi sebenarnya sudah hampir 5 bulan, saya dan banyak rekan-rekan dalam ekosistem ekonomi kreatif di beberapa kota dan kabupaten se-Jawa Barat menghabiskan puluhan -kalau tidak ratusan- jam kerja, untuk membantu pengembangan Ekonomi Kreatif Jawa Barat.

    Teman-teman mungkin sudah tahu dari Instagram pak Gubernur, bahwa kota dan kabupaten di Jawa Barat akan dihubungkan dengan jejaring Creative Hub level provinsi pertama di Indonesia. Teman-teman juga mungkin sudah membaca berita di koran-koran bahwa sebuah Lembaga Ekonomi Kreatif level Provinsi (yang pertama juga) akan didirikan di Jawa Barat.

    Yang salah satu tujuan sederhananya adalah menghubungkan dan mengefektifkan rantai nilai penciptaan kreativitas, produk kreatif dan industri kreatif yang tersebar di Jawa Barat. Sehingga ekosistem ekonomi kreatif Jabar akan tumbuh besar dan memberikan manfaat sebaik-baiknya bagi rakyat. Manfaat bagi siapapun; kehidupan seorang content maker yang hidup di tengah hiruk pikuk kota –atau kehidupan seorang nelayan di pesisir pantai Jabar.

    Jujur ini bukan hal yang mudah, kang. Kepentingan rakyat berbagai daerah, beragam kepentingan politik, penentuan tujuan serta arah, kapasitas SDM Jabar, panjangnya rantai perundang-undangan yang harus mendukung, kompleksitas penganggaran pemerintah daerah –semua harus dituangkan menjadi strategi pengembangan Ekraf Jabar lima tahun ke depan. Lieur? Pisaaan… šŸ˜‰

    Sejak awal kita tahu bahwa kondisi Indonesia tidak ideal, sehingga strateginya pun dibuat sebagai strategi mengakali keterbatasan. Untungnya, kami sudah puluhan tahun hidup sebagai orang Indonesia: keterbatasan mah makan pagi, siang dan malam kita. Alhamdulillah toh kita masih hidup dan tetap progressing, sampai sekarang.

    Never the less, kita hanya punya waktu lima tahun untuk menjawab tantangan-tantangannya. Jika diibaratkan squad Persib yang turun gelanggang dalam kondisi tidak ideal, target paling realistik bukan bermain menyerang sepanjang pertandingan. Lebih baik mengagetkan lawan setiap ada kesempatan, dan tanpa terasa di menit 90 ternyata kita sudah menang besar.

    Do’akan, kang!

  • Niat Sederhana Yang Dibayar Cash oleh Yang Maha Mendengar

    Hari ini kantor saya kedatangan teman-teman baru yang dikenalkan oleh sahabat lama saya, Helmy. Teman-teman ini, Ari dan Dena, rupanya dosen dan mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB yang seminggu lagi akan berangkat ke Lombok untuk memberikan art therapy pada anak-anak korban gempa di sana.

    Awalnya, semua sederhana saja. Mereka mengajak Torch untuk memberikan endorsement produk-produk kami bagi para mahasiswa yang berangkat ke sana. Tapi begitu mendengar bahwa ternyata mereka hanya bisa tinggal untuk jangka waktu yang relatif pendek, saya bilang kenapa tidak sekalian menggalang dana saja. Biar programnya nanti bisa di-extend lebih lama. Kebetulan Torch sekarang sudah memiliki followers IG, likers Fb dan list email –yang kalau dijumlah-jumlah ternyata sudah ratusan ribu banyaknya. Mungkin kalau cerita perjalanan art therapy mereka di sana bisa kita jadikan content di kanal-kanal komunikasi kita, siapa tahu akan lebih banyak orang yang mau membantu mereka. Dengan begitu program ini bisa berjalan lebih lama, dan lebih banyak warga Lombok yang merasakan benefit-nya.

    “Nanti kita bantu deh, di sini kan lumayan banyak yang bisa digital marketing. Sella dan teman-teman markom Torch akan bantu membuat strategi organik dan paid ads-nya. Budget ads-nya kita akan carikan”, kata saya simple. Maybe, over-simplifying sih. Belum kebayang juga budgetnya akan disisihkan dari mana. Akhir tahun gitooh.

    Tapi memang hari ini rupanya saya harus belajar sesuatu lagi tentang hidup. Bahwa dalam kehidupan kadang penting untuk berani berniat baik, tanpa harus terlalu khawatir tentang bagaimana menjalankannya.

    Karena satu jam kemudian saya kedatangan seorang kurir FedEx. Katanya ada paket untuk saya. Hmmm … perasaan saya sedang enggak nunggu paket dari luar negeri deh. Tapi ya sud, namanya paket mah terima aja dengan bahagia. Apalagi packagingnya lucu. Dikirim dari facebook, rupanya.

    Di dalam kotak lucu ini ternyata ada kartu voucher berwarna biru dengan tulisan: ‘Give this card to your favourite charity‘. Wah? Really? That fast? Begitu dibalik ternyata beneran, ini adalah voucher iklan facebook dan instagram senilai 7,5 juta rupiah yang harus diberikan ke ‘your favourite charity’.

    Alhamdulillah … Neng Helmy, Neng Ari dan Neng Dena … Belum sempat mikir, doanya sudah langsung dikabulkan tuh. The voucher is yours. Semoga sukses dengan niat baik di Lombok-nya!