Author: ombenben@gmail.com

  • Kisah Minoritas berwajah Mayoritas di Singapura

    Ukuran kelopak mata saya yang tanggung, kulit yang agak cerah dan nama depan saya yang kebarat-baratan, beberapa kali membawa saya di situasi spesial yang hanya bisa datang (mungkin) pada rare-breed sejenis saya ini.

    Sifat saya yang sering menempatkan diri seadanya juga, kadang-kadang memperburuk keadaan, atau sebaliknya, membawa berkah pengalaman tersendiri

    Ini fragmen kehidupan saya tahun 1998 di Singapura. Saat itu di computer center, duduk seorang teman baru tepat di samping kanan saya. Sambil menepuk paha kanan saya, dia bertanya pendek.

    Are you Chinese, Ben?
    “emm… Ya, I am Chinese“, ujar saya pendek –cari gampangnya– karena malas berdiskusi dalam Singlish.
    Padahal dalam hati saya nyebut, “Cina apaan, bos … idung yahudi begini.”
    “Yeah, I can tell. You seems like a nice dude. Where are you from? Jakarta?” 
    lanjut Chinese-Singaporean kurus berkaca mata itu, sambil terus ngulik mIRC.
    Yeah, Jakarta“. Saya iyakan saja semua asumsi dia. Soalnya kadang malas juga diskusi ketika saya lebih ingin chatting gratis di computer center-nya kampus

    Sebenarnya asumsi dia bahwa saya adalah seorang Cina dari Jakarta, bukan sebuah asumsi asal-asalan. Tahun itu, di Singapura banyak sekali ‘pengungsi dari Jakarta. Dan mereka memang berasal dari etnis Cina-Indonesia. Beberapa di antaranya adalah teman-teman baik saya yang terpaksa meninggalkan Indonesia karena orang tuanya menganggap Singapura jauh lebih aman untuk mereka setelah letusan Tragedi Mei 1998.

    Saya sendiri, setelah musim demo 1998, dapat rejeki beasiswa ke Singapura. Jadi keberadaan saya di Singapura sebenarnya tidak ada hubungannya dengan mata saya yang sipit.

    Tapi rupanya teman baru saya ini menganggap saya adalah salah satu pengungsi ini. Biarlah, let’s play along. Gak akan jadi masalah juga toh, pikir saya.

    How do you like Singapore, Ben? Do you like it here?”, tanya teman saya ini ramah –sambil terus chatting dengan entah siapa di ujung sana.
    Yeah, sure. I don’t have high-speed internet like this in Indonesia. Yea, I like Singapore“, kembali saya menjawab apa adanya. Karena memang di Indonesia, saya masih menggunakan dial-up connection internet dengan modemnya yang sangat berisik tapi sangat woles kecepatannya. Mirip dengan motor bebek yang ganti knalpot racing. Tong kosong nyaring bunyinya.

    I hope you enjoy living here. You are no longer a minority here, Ben” katanya santai.
    #Eh …
    saya agak tertegun. Ini percakapan sara, ternyata. Dan saya baru saja mengenalkan identitas diri dengan tidak terlalu akurat.
    Well…. saya yakin saya punya turunan cina 7 turunan ke atas sana. Jadi (mungkin) saya gak bener-bener bohong. Jadi saya lanjutkan saja lah obrolan ini.

    I know. It’s quite different here. I think I’ll manage fine”, kata saya agak netral karena sekarang saya malah ingin mendengar obrolan dia selanjutnya.

    Pintu ComCen terdengar terbuka di belakang. Teman saya ini, tanpa menengok ke belakang, berbisik kepada saya, “There’s a Bangla entering the room. You can tell by the smell.” Saya melihat ke belakang, ternyata benar ada seorang siswa berbadan hitam besar baru saja masuk ke ruangan.

    Teman saya ini meneruskan bisikannya, “You know, I think there’s too many Bangla in Singapore nowdays. They have became a burden to Singapore. They’re not too smart and their body odors …. mfff.

    Woh … asli, saya baru sadar teman saya ini agak rasis.

    Di Singapura memang banyak pekerja kasar ilegal dari Bangladesh. Mereka umumnya construction workers, wajar kalau mereka yang datang ke Singapura tidak se-terdidik kebanyakan anak Singapura yang disuapi fasilitas pendidikan kelas dunia. Tapi mengeralisir bahwa orang Bangladesh adalah bangsa yang bodoh adalah pernyataan sembrono, setidaknya bagi saya. Apalagi sebenarnya teman saya ini harus sadar bahwa tanpa para pekerja kasar ini, pembangunan di Singapura akan mandeg. Karena banyak orang Singapura mengaggap dirinya sudah terlalu ‘maju’ untuk pekerjaan-pekerjaan konstruksi kasar di bawah sinar matahari terik Singapura.

    Saya diam saja, malam itu saya tidak ada rencana debat kusir dengan seorang kenalan baru. Apalagi saya tamu di sini. Chatting mIRC dengan pacar saya di Bandung, lebih menarik daripada debat sosial masalah negara orang.

    Tapi teman saya ini memang ternyata punya kemampuan hebat dalam menemukan kekurangan orang yang rasnya beda dengan dia. Karena selanjutnya dia membahas bagaimana Singapura maju di bawah kepemimpinan Lee Kwan Yew. Bagaimana etos kerja Chinese-Singapore yang tinggi dan bagaimana Malay-Singapore lebih laid-back –agak pemalas, menurut dia. Jadi kalau Singapura maju, itu lebih disebabkan oleh ras kuningnya dibandingkan sumbangan keringat ras sawo matang dan ras dark chocolate-nya, …menurut dia.

    Kalau saya sedikit saja menyebutkan Indonesia, dia akan tambah panas. Ngobrol ini-itu tentang negara yang sebenarnya dia tidak kenal. Banyak sumpah serapah keluar dari mulutnya. Wajar … karena saat itu sedang ramai-ramainya pemberitaan tentang Tragedi Mei di Indonesia. Bagaimana tragisnya nasib warga Indonesia keturunan Cina yang diperlakukan tidak berprikemanusiaan oleh manusia-manusia yang kehilangan akalnya dan tertutup hatinya di Ibukota Indonesia.

    Mungkin perasaan dia saat itu, dapat dibandingkan dengan perasaan saya ketika mengetahui Muslim Rohingya dibantai di Myanmar.

    Saat itu, untuk dia, saya sudah tidak dianggap sebagai WNI. Untuk dia, saya adalah sesama Chinese yang pasti marah pada Indonesia atas perlakuan terhadap saudara se-ras-nya di Indonesia. Dia jelas tidak sadar bahwa teman diskusinya ini, sebenarnya lebih Malay daripada Chinese.

    Oh… gini mungkin rasanya nggossip rasis di Singapura. Sebenarnya mirip seperti yang biasa saya temukan di warung-warung kopi di Indonesia –bedanya– saat itu saya menggosip dari sisi ras yang lain. 

    —–

    Di waktu yang berbeda, sekitar seminggu sesudah obrolan rasis saya di ComCen, saya tidak sengaja bertemu beberapa muslimah Malay-Singapore di tangga salah satu bangunan di kampus. Mereka rupanya membuat sebuah musholla darurat di platform kecil berukuran sekitar 10 m2, di antara anak-anak tangga naik dan turun.

    Assalamulaikum” sapa saya.
    Sambil agak tercekat kaget mereka menjawab “Waalaikumsalam….
    Hi. I am Ben. How are you?“.
    Hi, Ben. We’re fine.
    Why are you praying here? Isn’t there a mushalla around here?” tanya saya.
    Excuse me. Are you a Malay, Ben?” tanya salah satu dari mereka dengan sedikit agak curiga.
    Yes. I am Malay –from Indonesia ….“.

    Karena ciri-ciri fisik saya yang gak jelas, selama di hidup di Singapura memang saya harus selalu berusaha mengklarifikasi identitas ras saya. Rupanya mereka agak bingung harus seterbuka apa pada saya.

    Obrol punya obrol, memang ternyata tidak ada mushalla di sekitar gedung itu. Masjid terdekat, tempat saya selalu sholat jumat, terletak sekitar 1 km dari sana. Saya sendiri memang tinggal di asrama tidak jauh dari fakultas. Untuk saya cukup berlari-lari kecil ke kamar saya untuk menjalankan shalat di tengah hari. Tapi rupanya bagi teman-teman muslim/ah yang tinggal agak jauh dari kampus, mereka berinisiatif untuk menggelar karpet dan membuat semacam mushalla darurat di sekitar tangga dekat student center. Lengkap dengan rak kecil dan mushaf-mushaf Al Qur’an yang ditaruh di atasnya.

    Bangsa melayu memang tidak lagi dominan di Singapura. Walaupun Lee Kuan Yew muda dengan gagah berani berorasi menggunakan bahasa Melayu dalam perjuangan kemerdekaan Singapura. Dan bahkan lagu kebangsaan mereka sendiri judulnya ‘Majulah Singapura’, tapi etnis Melayu-Singapura sudah menjadi ras minoritas yang tidak dominan di sana.

    Saya bisa merasakan perasaan termarginalisasinya etnis Melayu ketika ikut ngobrol-ngobrol di ‘mushalla bayangan‘ itu. Dan tentu saja mereka cenderung menyalahkan etnis yang berkuasa sebagai pihak yang  meng-orkestrasi semua ketidakadilan yang mereka rasakan.

    Hal ini terdengar jelas ketika mereka menjawab pertanyaan saya, perihal kenapa lebih banyak wanita Malay dibandingkan prianya di kampus ini. Tadinya ini sekedar pertanyaan basa-basi saja. Saya tanyakan karena memang di kampus nomor satu ini, saya merasa lebih sering berpapasan dengan wanita melayu daripada pria melayu.

    Tapi ternyata jawabannya panjang. Lebih dalam –dan lebih serius dari yang saya duga.

    “Ben, it is not that easy to pass the exam for men.”
    “Why not? They need to pass the same test, right?”
    “Yes. But few of them pass, though.”
    “How come?”
    “The education system in Singapore made sure there are more Malay women enter the top university than the men”
    “How so?”
    “Well, that’s the way it is”
    “Why? What’s the reason for such system?”
    “Ben, you do realize that woman usually only wants to marry a man who has better education than her, right?”
    “Yes. So?”
    “When more Malay women made it to university than the men, the chance is that these women would later choose to marry to men from other races –because most Malay men are most probably less educated than her. By that, soon there would be less Malay and less Muslims in Singapore”.
    “Oh, c’mon. You don’t really think that’s possible and really happening, do you?”
    “Well … look around, Ben. See it for yourself.”

    Saya memilih diam. Teman-teman baru saya ini benar-benar percaya bahwa pemerintah Singapura sengaja membuat sistem yang sangat rapih untuk menyingkirkan ras Melayu dari Singapura. Saya yang hanya tamu, tidak tahu mau percaya atau tidak. Terlalu sedikit yang saya tahu tentang Singapura untuk menghakimi pemerintah Singapura atau justru teman-teman saya ini.

    Tapi kemudian pikiran saya terbang melayang ke Bandung. Dulu, beberapa teman-teman saya pernah bilang bahwa universitas-universitas negeri di Indonesia membatasi jatah kursi mahasiswa untuk keturunan Tionghoa. Kalau tidak dibatasi, bisa-bisa seluruh universitas negeri di Indonesia hanya menerima mahasiswa Tionghoa saja. Disebabkan karena keluarga Tionghoa umumnya lebih mampu menyekolahkan anaknya dengan lebih baik di sekolah swasta, sejak SD sampai SMA. Persaingannya tidak akan fair untuk suku yang lain, yang umumnya kemampuan ekonomi dan sosialnya di bawah suku Tionghoa.

    Ah, masa sih?” pikir saya. Apa benar Indonesia dan Singapura perlu melakukan hal-hal ini demi supremasi ras? Atau demi kemajuan? Atau demi keadilan?

    Bicara tentang keadilan, seorang teman saya bisa testimoni bahwa di negaranya ‘ketidaksamaan hak antar ras’ dilakukan secara legal –dilindungi undang-undang.

    Kev adalah teman kuliah saya juga di sana -beda fakultas. Dia mahasiswa dari Malaysia. Seorang Chinese-Malaysian. Beda dengan teman-teman Chinese-Singaporean, Kev sangat fasih bahasa Melayu. Ketika sedang ngobrol berdua saja, dia sering mengajak saya ngobrol dalam bahasa Indonesia x Melayu. Dia bilang, somehow ini membuat dia merasa lebih di rumah, karena di sekolah negeri di sana semua warga Malaysia, dari ras mana pun, harus mampu berkomunikasi dalam bahasa Melayu. Mirip dengan di Indonesia.

    Kev tahu sekali bahwa saya beragama Islam dan seorang Malay. Walau kalau di Indonesia saya lebih senang disebut sebagai orang Sunda, karena orang Melayu sih lebih tepat disematkan pada orang Riau.

    Anyway, kembali ke Kev. Dia bercerita pada saya bahwa dia tidak memiliki beberapa hak yang dimiliki oleh warga Malaysia keturunan Melayu. Dia bilang akan lebih sulit untuk dia untuk mendapatkan kredit ke Bank dibandingkan warga Melayu. Ada semacam kuota atau apa ‘lah di sana.

    Itu legal, Kev?” ujar saya agak kaget.
    “Ya, ade law yang guarantee”, kata dia ringan.
    “Kamu gak keberatan, Kev? I mean, kamu kan Cina?” tanya saya masih kaget.

    Saya kaget karena walau saya sebenarnya sadar bahwa di Indonesia juga sepertinya hal seperti ini ada sih –tapi tidak legal. Minimal tidak terbuka. Misal, hanya ada sedikit orang Tiongkok di TNI, ‘kan? Pasti ada sebabnya. Tapi semua orang diam-diam aja, ‘kan?

    No, not really. Ini untuk kebaikan semue orang. Apelagi memang Chinese di Malaysia memang sudah lebih maju ekonominya daripade Malay. I guess I’d better have such a law than having to go through a riot like the one in Jakarta“, katanya menyinggung kerusuhan ras Mei 1998 di Jakarta.
    Nada bicara dia ringan sekali. Entah karena dia sangat sadar bahwa itu peraturan yang paling baik untuk Malaysia, atau memang he’s just being Kev. Orangnya memang optimis dan ringan hati.

    —–

    Untuk seorang mahasiswa berumur 22 tahun yang baru saja pertama kali mengganti statusnya dari mayoritas menjadi minoritas di sebuah negara asing, sebenarnya fakta-fakta ini agak excessive —berlebihan. Bikin galau.

    Selama dua puluh tahun, saya hidup di lingkungan beragam –yang damai karena ditekan kediktatoran seorang Suharto. Wajah asli Indonesia yang sebenarnya penuh retak-retak baru saja memunculkan diri di hadapan saya: Tragedi Mei 1998. Kalau saya adalah seorang Sting, saya pasti akan langsung menulis lirik, “How fragile we are. How fragile we are.”

    Tiga negara tetangga Asia Tenggara akhirnya memilih jalan yang berbeda-beda untuk mengatur hubungan antar suku-suku dan ras di negaranya masing-masing. Semua keputusan ini pasti membuat luka-luka, baik pada warga minoritas –atau bahkan mayoritasnya. Negara pasti tidak akan terasa adil bagi warganya. Seperti dunia pasti juga tidak akan terasa adil bagi manusia.

    Pada akhirnya pelajaran hidup sebagai minoritas berwajah mayoritas di negara Tumasik sana, membuat saya sadar betapa sulitnya tugas yang dibebankan Allah pada kaum mayoritas di seluruh pelosok dunia.

    Ketika minoritas dituntut untuk survive –mayoritas dituntut untuk just –adil.

    ——

    “Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa…”
    [Al Maa-idah 8]

    “…. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan masjid-masjid yang di dalamnya banyak disebut nama Allah…”
    [Al Hajj 40]

    ——
    Bandung, Ramadhan 1439
    20 Tahun sejak saya jadi minoritas di Tumasik

     

  • Mengaji Sambil Menduduki Jenazah Sahabat

    [youtube https://www.youtube.com/watch?v=MWBKX7owXzU?ecver=1&w=640&h=360]

    Sebelum kita terbawa emosi dalam perebutan kekuasaan Pilpres tahun depan. Sebelum kita mencaci-maki sesama muslim –yang seharusnya kita cintai. Sebelum orang yang sedang memperbaiki agamanya –kita cap kafir di keningnya. Sebelum kita mengagung-agungkan manusia –yang sebenarnya penuh salah juga seperti kita. Saya memohon saudara-saudara muslimku menonton sedikit pelajaran dari masa lalu ini.

    ——

    Sebuah pemandangan yang tidak wajar pernah terjadi 14 abad yang lalu. Ketika itu tampak kaum Khawarij sedang membaca Al Qur’an di sebuah lapang. Mereka tampak seperti muslim-muslim yang taat, yang menenggelamkan diri dalam kalam-kalam Illahi.

    Satu hal yang sangat janggal adalah bahwa mereka membaca Al Qur’an sambil duduk di atas jenazah-jenazah muslim lain yang berbeda pendapat dengan mereka. Di antara jenazah-jenazah yang bersimbah darah di sana, terbilang beberapa sahabat-sahabat Rasulullah yang gugur mempertahankan imannya.

    Ketika sebuah apel terlihat menggelinding tak jauh dari mereka, salah satu dari mereka terlihat hendak mengambil apel tersebut, namun dilarang oleh salah satu saudaranya. “Jangan kau ambil apel tersebut! Apel itu tidak halal untuk kita. Karena kita tidak tahu siapa yang memilikinya. Sehingga tidak bisa minta izin padanya.”

    Pertunjukan sifat terpuji –sifat wa’ra— diperlihatkan dengan gemilang oleh kaum Khawarij. Namun, dilakukan di atas jenazah sesama saudara muslimnya. Astagfirullahal ‘adzim.

    —–

    Jangan sampai terjadi kembali. Tidak di bumi Indonesia. Tidak di belahan dunia yang lain, Ya Allah. Kami memohon kepada-Mu. Aamiin Ya Rabbal Alamin.

    ~Terima kasih, Ustadz Hanan Attaki atas pengingatnya.

     

  • Supir Taksi, Dokter dan Uang yang Terbang di Amerika

    Ini adalah pendapat seorang supir taksi nun jauh di Amerika. Dia berpendapat bahwa tidak ada gunanya membawa harta yang tidak halal ke dalam rumahnya.

    No… uang tersebut tidak akan betah hidup di keluarganya. Seakan-akan mencari jalan keluar dengan sendirinya. Pasti ada saja alasan yang dipakai uang ini agar bisa terbang keluar dari kandangnya; anaknya cedera ‘lah, orang tuanya sakit ‘lah, dan segala macam alasan-alasan lainnya.

    Ujung-ujungnya uangnya pindah ke rumah para dokter. “As if they are not rich enough“, katanya. Hahaha…. 😜

    Uang yang haram bagi dia –akhirnya berubah menjadi rejeki halal bagi para dokter. Dunia itu selalu menyeimbangkan dirinya. Keren!

    —–

    Disadur dari cerita Ustadz Nouman Ali Khan. Nuhun Mim Fanny Bratakusuma untuk pengingatnya

  • Tips agar mudah diterima booking di Airbnb

    Menjadi tuan rumah (host) Airbnb memberikan pengalaman yang sangat membukakan mata bagi saya. Mulai dipanggil Pak, Kang, Mas, Mang dan Say, rasanya pernah saya alami dalam lima bulan ini –terutama ketika berinteraksi dengan konsumen dari Indonesia.

    Konsumen Indonesia saja? Yes, Indonesia saja. Karena ternyata konsumen dari luar negeri, dari eropa misalnya, cenderung memiliki tata krama yang baku. Bukan hanya bahasanya yang baku, tapi etikanya juga cenderung sama. Bule eropa cenderung memiliki karakter yang sama; walau sikapnya aslinya santai, tapi tata krama berbicara dan chatting di Airbnb-nya lebih formal.

    Misalnya ketika mereka menyapa host pertama kali, mereka tidak akan melupakan kata sapaan hello atau hi. Dilanjutkan dengan memperkenalkan diri, lalu memberitahukan dengan siapa mereka traveling, memberitahu tujuan traveling-nya dan menanyakan secara sopan apakah mereka boleh menumpang di rumah kita.

    Kurang lebih dalam tata krama chatting bule, mereka akan menulis:

    Hi, Ben. I’m Jon from Germany. I will be travelling with my two sons and my wife to Bandung for two days on March 17th – 19st. May we please stay at your cabin while we’re in Bandung.

    Looking forward to see you in Bandung. Thanks.

    Dalam lima bulan ini, semua tamu asing Kabin Putih cenderung menggunakan paragraf seperti di atas. Simple, jelas dan sangat sopan.

    Tamu Indonesia? Hehehe … etikanya tergantung banyak hal; umur, pendidikan, suku, ras, dll.

    Jadi, untuk mempertinggi kesempatan kita untuk diperbolehkan menginap di salah satu properti yang listing di platform Airbnb, bolehlah kiranya mendengarkan sedikit masukan dari saya ini:

    • Perkenalkan diri kita secara jujur dengan tata krama yang baik pada host.

    Banyak yang menghubungi kami via Airbnb chat, seakan-akan mereka nanya stok barang di Tokopedia. “Barangnya ready, Gan? Bisa kirim hari ini pake free ongkir?”. Tanpa kata sapa, langsung ke tujuan. Tata krama Toped bgt, lah.

    Nah masalahnya adalah ketika tata krama Toped dibawa ke Airbnb, gak masuuuuk. Contoh nih, ujug-ujug ‘triiiing’… “saya ingin ke lembang tanggal 12 tapi kok gak bisa booking, ya? Di kalendernya katanya sudah ada yang booking.

    Tidak pakai halo-hai-pagi-siang-sore, tahu-tahu komplain bahwa di hari itu dia ingin booking —sudah ada yang booking duluan. Yah gimana ya, sob? Kalau di kalender sudah terlihat di-booking, berarti memang malam tersebut sudah ada yang menyewa. Pengen sih nolong, seperti misalnya merefer-kan order mereka ke host Airbnb lain, tapi males juga sih merefer orang slonong boy kayak gini. Takut terjadi apa-apa. Kita gak berani tanggung jawab juga sih.

    Harus disadari, ketika mengkontak melalui chat Airbnb, kita mungkin tidak sedang chatting dengan admin atau CS –seperti di toped, bukalapak, shopee, dll. Most probably, anda sedang chatting dengan pemilik rumahnya sendiri. Jadi bayangkan anda berbicara dengan pria atau wanita menyewakan rumah/villa/apartemen milik mereka sendiri. Kemungkinan mereka adalah pria/wanita paruh baya dengan tata krama generasi X yang terbiasa sopan –walau tidak perlu terlalu formal juga sih.

    Oleh Airbnb para host diperbolehkan menolak tamu yang mereka tidak suka atau karena sekedar ada perasaan tidak sreg di dalam hati mereka –tanpa konsekuensi apapun. Artinya mereka bebas menolak booking kita hanya karena dia tidak suka cara kita menyapa. Yes, they can really do that.

    Jadi daripada menggunakan kalimat sapaan toped di atas, ada baiknya kalimatnya diubah seperti ini:

    “Halo, saya Ben. Saya berencana menginap di Bandung selama dua hari dengan istri saya. Saya suka sekali melihat villa milik ibu di Bandung dan ingin menginap di sana. Tapi sayangnya, ternyata di kalender Airbnb sudah di-booking tamu lain. Apakah ibu memiliki properti lain yang bisa kami sewa atau tahu alternatif lain yang sama baiknya?”

    Tidak hanya mungkin host ini akan mencoba mencarikan tempat lain bagi kita, dia bahkan bisa memberikan diskon khusus kepada kita, lho. Hanya karena kita terlihat baik dan terpercaya. Gak susah kan?

     

    • Selalu beritahu host berapa orang yang traveling bersama kita

    Pada aplikasi dan website Airbnb ada kolom untuk mengisi jumlah tamu yang akan menginap. Jangan dikosongin, ya. Itu penting banget.

    Cuman “klik-scroll-pilih jumlah tamu-klik”, dua detik sudah beres. Dengan mengisi jumlah tamu, para host jadi tahu, harus menyediakan berapa handuk, memastikan air mineral dan gas untuk pemanas air cukup tidak, perlu ditambah selimut atau tidak –dan hal-hal lain yang berhubungan dengan usaha menjadi tuan rumah yang baik.

    Jangan contoh salah satu tamu yang kami kasih review satu bintang saja (pengennya sih dikasih bata.. hehehe), karena booking untuk 6 orang, tiba-tiba ngotot ingin check-in 8 orang, malah kenyataannya datang belasan orang. Jangankan bisa melayani dengan baik. Yang ada baret-baretlah lantai kabin kayu kami karena over-population di dalam kabin. Hiks…

    • Selalu baca House Rules (Aturan Rumah) dari ujung ke ujung. All of them.

    Di hotel gak ada house rules, kenapa di Airbnb harus ada house rules?

    Salah, di hotel juga ada. Biasanya disimpan di atas meja nakas di dalam kamar. Biasanya isinya aturan hotel untuk tidak merokok di dalam kamar, tidak boleh bawa binatang peliharaan, kalau mau bawa pulang handuk harus bilang ke house keeping, dll. Tapi memang sih, rules di hotel umumnya sama saja antar hotel.

    Airbnb berbeda, Sob. Karena setiap properti yang disewakan bukan milik Airbnb. Pemiliknya adalah orang-orang yang berbeda dan propertinya bentuknya beda-beda. Makanya aturan setiap rumah/villa/kabin/kamar pasti berbeda-beda. Ada yang memperbolehkan merokok – ada yang tidak, ada yang boleh check in malam hari – ada yang hanya siang saja, ada yang boleh membawa anjing – ada yang tidak, ada yang boleh agak berisik – ada yang tidak. Semua tergantung situasi lingkungan, jenis properti dan siapa yang punya properti tersebut.

    Jadi pastikan kita membaca semua deskripsi, penjelasan dan house rules yang dituliskan oleh host masing-masing rumah. Soalnya kalau kita melanggar, ada konsekuensi yang lumayan berat loh:

    (Satu) Anda kemungkinan akan mendapatkan review buruk dari tuan rumah yang melekat pada profil anda (tidak bisa dihapus sampai ujung zaman). Efeknya? Akan semakin sulit bagi anda untuk membooking properti Airbnb lain di masa depan. Karena tuan rumah lain pasti melakukan pengecekan profil calon tamu sebelum menyetujui sebuah booking. Tuan rumah mana yang mau meminjamkan propertinya ke orang dengan review 1 bintang?

    (Dua) Anda mungkin akan diminta mengganti rugi, jika aturan yang anda langgar kebetulan mengakibatkan kerusakan pada properti tuan rumah. Tuan rumah memiliki ‘tombol minta ganti rugi’ di dashboard aplikasi Airbnb for host, loh.

    Di deskripsi setiap properti biasanya juga ada penjelasan tentang keterbatasan dari properti tsb. Misal biasanya host akan menuliskan bahwa ada kemungkinan berisik/noise jika kebetulan propertinya dekat dengan jalan kereta api. Jika anda keberatan dengan hal tsb, sebaiknya jangan di-booking di sana. Karena jika host sudah menuliskan kelemahan tersebut di salah satu deskripsi di halaman Airbnb-nya, maka akan dikategorikan sebagai waiver dari host. Ketika kita booking, kita akan dianggap sudah membaca dan menyetujui kelemahan tsb. Jadi gak boleh protes.

    —-

    In the end, kenapa kita harus mencoba menegakkan etika-etika komunitas ini ketika numpang menginap via platform Airbnb? Jawabannya …. agar harga di Airbnb tetap terjangkau, sob.

    Gini loh, Sob. Tahu kenapa harga penginapan Airbnb bisa terbilang murah dibandingkan harga hotel? Salah satu alasannya adalah anggota komunitas Airbnb saling menjaga agar tidak ada biaya-biaya yang tidak perlu yang harus dikeluarkan oleh host. Kalau sobat tidak memberitahu jumlah grup traveling anda, maka ada kemungkinan host jadi over atau under-prepared.

    Bahkan bisa juga terjadi properti host akan rusak karena ditinggali orang yang terlalu banyak –nagakunya booking untuk dua orang tapi datang berempat. Ujung-ujungnya host harus menaikkan harga sewa per malamnya karena harus memperbaiki propertinya yang rusak oleh tamu-tamu yang ‘menumpang’ tapi tidak ikut menjaga properti si pemilik. Gak mau, kan?

    Saya menggunakan kata menumpang karena memang di komunitas Airbnb dunia, ada budaya untuk minta izin menumpang. Karena kalau ditarik ke budaya dasarnya, Airbnb bukan hotel. Airbnb adalah komunitas yang saling menyediakan rumahnya untuk dipinjam ketika anggota komunitas lain hendak berjalan-jalan ke daerahnya. Berbayar memang, tapi tetap dalam kategori menumpang. Karena kalau tidak dikasih izin, mau bayar tiga kali lipat rate-nya pun tetap tidak akan bisa.

    Jadi kelihatan ‘kan bedanya dengan Hilton, Holliday Inn, Airy hotels, atau Red Doors. Airbnb adalah komunitas, semua aturan di sana dibuat untuk kepentingan SEMUA anggota komunitasnya. Secara natural, ikatan komunitas pasti akan mendorong keluar anggota komunitas yang tidak mau ikut aturan komunitasnya sendiri. Jadi, walau agak aneh ….. money is not king in Airbnb.

    ——

  • Torch ID : Material Startup vs Material Kakap

    Karena saya bukan orang baru di dunia tas, saya tahu pasti salah satu faktor yang membuat The North Face, Deuter, Jansport,  bahkan Kipling, sehingga akhirnya berhasil mendapatkan kepercayaan dari para konsumennya selama berdekade-dekade adalah Material Kelas Wahid!
    Jadi, tiga tahun yang lampau, ketika kami memutuskan akan ikut bersaing di dunia bisnis tas Indonesia, saya sebenarnya menyadari bahwa ada ‘lubang besar’ di rantai suplai kami. Lubang besar ini diciptakan oleh kosongnya suplai material berkualitas yang bisa kami akses untuk menjadi material utama tas kami.
    Tidak hanya startup, merk-merk ‘made in Indonesia’ yang kawakan pun, justru setengah hati ketika bicara teknologi material. Padahal rasanya tidak mungkin memproduksi produk-produk handal yang terbuat dari material asal-asalan.
    Tanpa Corning Gorilla Glass, apakah kita yakin akan muncul desain Smartphone touch screen seperti yang selalu kita tenteng-tenteng itu?
    Dan …
    tahukah kita bahwa Asus memutuskan untuk melakukan belasan proses treatment aluminium untuk menghasilkan cover Zenbook mereka yang signature-nya kuat sekali itu. Bayangkan, belasan proses rumit hanya demi sebuah citra estetika sebuah material.
    ——
    Kalau kita bercermin sedikit pada sejarah industri lokal; clothing company dan distro yang sempat merajai Indonesia di awal tahun 2000an. Kita bisa melihat contoh kelemahan kita pada bidang pengembangan teknologi material.
    Selama masa dua dekade kejayaan pengusaha-pengusaha ini, sedikit sekali material baru yang tercipta karena persaingan antar pengusaha-pengusaha muda ini. Padahal persaingan antara brand-brand saat itu sangatlah keras.
    Jawaban dari pertanyaan “Ini pake bahan apa?“. Hampir selalu “Ini katun kombet“.
    Sebuah mispronunciation dari Combed Cotton alias kapas yang disisir agar bulunya lurus dan halus. Yahtak perlu dipermasalahkan lah mispronunciation-nya. Lidah kita kan memang berbeda.
    Tapi kita harus berani mengkritik diri kita sendiri yang tidak pernah peduli pada inovasi di hulu industri: Inovasi material.
    —-
    Untungnya kami di Torch Id percaya bahwa ‘setiap amalan itu bagaimana niatnya’ dan ‘setiap produk itu bagaimana material pembentuknya’.
    Jadi, sejak tiga tahun yang lalu kami berputar-putar mengelilingi berbagai kota di Indonesia dan beberapa negara di dunia hanya untuk menemukan partner-partner yang mau dan mampu mengembangkan signature materials untuk Torch.
    Sebuah startup berani mengembangkan material sendiri? Kenapa tidak? Kami tidak mau menjadi perusahaan yang akhirnya gulung tikar –lalu menyalahkan pasar– karena kami terlalu takut membuka wawasan dan tidak berani mencoba sesuatu yang baru untuk konsumennya.
    Alhamdulillah, setelah beberapa tahun ini pengembangan material tidak hanya menjadi program-program reguler di sini, tapi sudah menjadi budaya kreatif kami. Kalimat ‘pakai material apa, ya?’ sepertinya sudah jamak di sini — di sebuah kantor di ujung timur Kota Bandung.
    Video yang saya tampilkan di sini adalah salah satu material utama tas-tas kami yang pada awalnya harus melampaui banyak cobaan; bukan hanya tes berulang-ulang dengan berbagai standar Indonesia dan Amerika, –tapi juga penolakan-penolakan dari banyak agen tas yang dulu menganggap bahwa material ini terlalu tipis.
    Ketik dulu agen berkata seperti itu, yang kita bisa lakukan adalah stick to the concept dan berbisik bahwa “Bukan material kita yang terlalu tipis, tapi material kalian yang ketebelan. Soalnya kalau traveling pakai material tebal, berat dong bro.”
    Nahhh ….  kalau soal kekuatan, silahkan lihat video ini ketika kita memotong material tas torch dan material polyester yang biasa dipakai banyak merek tas lain, menjadi pita selebar 1 cm dan ditarik ke bawah untuk mencoba kekuatannya.
    —–
    [youtube https://www.youtube.com/watch?v=_tA9CDnRZnE?rel=0&controls=0&showinfo=0&w=560&h=315]
    —–
    Kelihatan ‘kan bedanya? 😉
    ——-
  • Cerita Si Kabin Putih, Merakit Rumah Kayu Knock Down, Finishing Kayu dan Furnishing (Part III)

    Dalam proses perakitan rumah kayu, selain ketersediaan listrik seperti yang saya tuliskan di blog post sebelumnya, juga perlu disediakan tempat tinggal untuk para pekerja –biasanya cukup untuk sekitar 5-6 orang pekerja. Agak beda dengan membangun rumah beton yang memakan waktu agak lama, perakitan rumah kayu kecil sebenarnya hanya membutuhkan waktu 10-15 hari saja. Sehingga sebenarnya jika ada rumah atau kamar yang bisa di sewa di sekeliling proyek perakitan, lebih baik menyewa saja daripada harus membangun bedeng atau bangunan sementara untuk pekerja. Toh, sebenarnya hanya akan dipakai seminggu-dua minggu saja. Cukup beruntung, tidak jauh dari Kabin Putih Lembang, ada sebuah rumah pekebun sayur yang bisa kami sewa selama 2 minggu.

    Mari kita lanjutkan obrolan tentang pemilihan jenis kayu dan pemilihan finishing kayu. Dua hal ini berhubungan sangat erat dan justru adalah poin lebih dari sebuah bangunan kayu. Jadi pastikan jangan salah membuat keputusan.

    Ada beberapa pertimbangan penting ketika memilih jenis kayu yang akan digunakan:

    1. Harga Kayu. Yes… yes … yes… jika tidak punya budget melebihi budget membangun rumah beton, maka jangan pilih kayu kelas atas seperti Jati dan Sonokeling. Kayu jenis ini beda harganya bisa tiga kali lipat dari kayu kelas menengah seperti kayu mahoni. Tapi gak semua bangunan kayu harus pake kayu jati, kok. Semua jenis kayu ada kekuatan dan kelemahannya. Pilih yang paling pas untuk keadaan dan kebutuhan masing-masing. Estetika itu bukan anaknya harga, tapi anaknya kreativitas.
    2. Sifat Kayu; kekuatan, nilai estetika dan pemuaian bahan. Harga kayu juga berhubungan dengan tiga sifat ini; kekuatan (seberapa padat serat kayu tsb), estetika (seberapa indah kayu tsb) dan pemuaian (seberapa banyak pemuaian panjang/lebar kayu ketika terekspos suhu dan kelembaban udara yang berbeda). Penting juga untuk memilih mana kayu yang cocok sebagai struktur utama, sebagai panel dinding, lantai atau kusen. Kayu dengan kepadatan serat yang tinggi umumnya bagus untuk bagian-bagian struktur. Tapi untuk panel dinding, sebenarnya cukup mencari kayu yang motif urat kayunya indah atau memiliki warna natural yang unik.
      Beberapa jenis kayu memiliki nilai keindahan yang tinggi tapi lemah kekuatannya, seperti misalnya Jati Belanda. Jati Belanda memiliki lukisan serat kayu yang indah tapi seratnya tidak padat –sehingga selain mudah patah, dia juga tidak water proof. Kayu Jati Belanda juga contoh kayu yang pemuaiannya tinggi, sehingga kalau dipaksakan dibuat menjadi pintu, suatu saat pintunya akan miring-miring.

    Bicara tentang estetika kayu, Kabin Putih Lembang dirancang dengan sangat memperhitungkan estetika-ekonomi. Intinya saya ingin feel-nya terasa lebih mahal dari pada cost membangunnya 🙂 Untuk itu kami memutuskan untuk agak capek sedikit dalam memilih kayu tapi memaksimalkan warna alami dan teknik finishing agar hasil akhirnya lebih nendang. 

    Nah, sebenarnya tidak banyak yang sadar bahwa setiap jenis kayu memiliki tone warna yang berbeda-beda. Jadi sebenarnya tanpa menggunakan cat yang berbeda, kayu sudah memiliki warna yang berbeda. Tinggal kita pilih-pilih saja kayu apa yang paling cocok untuk tone warna ruangan yang kita inginkan.

    Kami akhirnya mendapatkan 4 jenis kayu dengan 4 tone warna yang berbeda yang cocok untuk suasana Kabin Putih. Kayu-kayu ini semuanya bisa ditemukan di Pulau Jawa, jadi tidak harus membayar terlalu mahal untuk mengirimkannya ke Lembang.
    33-e1524276450774.jpg
    Kayu-kayu tersebut adalah :
    > Kayu Mahoni yang berwarna kemerahan
    > Kayu Weru yang berwarna kecoklatan
    > Kayu Waru yang berwarna kelabu-ungu
    > Kayu Salam yang berwaran kekuningan

    Foto di samping/atas ini adalah foto kayu-kayu tersebut ketikan disusun menjadi lantai, sebelum difinishing menjadi warna lebih gelap. Foto di bawah adalah foto ketika sudah difinishing dengan tone gelap.

    34a
    Hasil finishing gelap untuk lantai yang terbuat dari 4 jenis kayu

    Untuk bagian dinding kami menggunakan kayu yang sama, namun kami menggunakan teknik finishing yang berbeda. Teknik finishing ini disebut sebagai teknik white wash. Sebuah teknik menggunakan cat putih yang diencerkan dengan banyak air lalu disemprotkan/diulas tipis-tipis. Teknik ini mempertahankan warna bawaan kayunya. Hasilnya adalah panel dinding kayu dengan tone warna-warni pastel, seperti yang terlihat di gambar di bawah ini.

    Finishing White Wash di Empat Jenis Kayu yang Berbeda
    Finishing White Wash untuk empat jenis kayu yang berbeda pada panel dinding Kabin Putih

    Kunci dari konsep ruang Kabin Putih adalah tidak membiarkan bidang dinding dan lantai menjadi cemplang dengan memberikan banyak nuansa warna dan garis-garis yang tercipta karena perbedaan warna. Hal ini juga dimanfaatkan di plafond kayu yang sengaja dicat dengan tone gelap lalu dikontraskan dengan balok struktur kayu berwarna putih pekat. Bidang yang tercipta menjadi hiasan tersendiri tanpa harus menambahkan dekorasi macam-macam, kecuali sebuah  kerangka lampu warna hitam.

    34c.jpg
    Plafon kayu berwarna gelap yang sengaja dikontraskan dengan balok putih dan tambahan lampu yang sangat modern

    Saya sempat bereksperimen dengan warna lampu, sampai pada akhirnya berkesimpulan memang warna lampu kuning tetap lebih hangat dan mengeluarkan kesan country daripada warna putih. Tapi khusus untuk lampu meja makan, kami sengaja memilih lampu LED yang dapat memijarkan pilihan warna putih maupun warna kuning.

    ombenben-1512652040686

    Tangga kayu somewhat jauh lebih feminin daripada tangga beton. Teksturnya yang lebih empuk dan urat kayunya yang cantik memang harus diekspos dengan paduan struktur kiri-kanannya yang berwarna solid white. Menambahkan sedikit kolase foto di dindingnya, rasanya pas –agar tamu-tamu tetap bisa melihat foto adventure keluarga kami sambil naik ke lantai atas.

    56c

    Kabin Putih memiliki luas bangunan yang tidak terlalu besar. Hanya sekitar 70 m2, jadi hanya ada ruang untuk satu karpet. Oleh karena itu kami agak serius mencari karpet tanpa memaksakan budget yang terlalu mahal. Akhirnya setelah melihat-lihat di beberapa toko modern yang menjual karpet, kami justru jatuh cinta pada karpet kotak-kotak bernuansa merah yang kami temukan di Pasar Gembrong – Jakarta. Tidak terlalu mahal, tapi cocok untuk Kabin Putih yang modern tapi ngampung ini.

    IMG_20180125_144842_544

    Sentuhan penting bagi Kabin Putih adalah mebel-nya. Memang bukan hal paling sulit sih, karena sebenarnya kalau bangunan sudah dirancang dengan warna putih, mebel berwarna apapun jadi cocok-cocok saja. Never the less, ini saya anggap sebagai proses yang paling asik, karena bisa dikerjakan sendiri.

    Ikea memang sebuah pilihan empuk untuk Kabin Putih, tidak hanya karena luasnya pilihan modern furniture di sana. Tapi juga karena selama masa kuliah, saya sebenarnya bermimpi menjadi desainer furniture untuk Ikea. Cita-cita tidak kesampaian, ceritanya. Hehehe…

    Jadi walau tidak 100% made in Ikea, kami menggunakan banyak sekali set mebel buatan Swedia ini, karena banyak desainnya yang cocok untuk rancangan kabin kecil yang terbuat dari kayu. Misalnya Ikea Leirvik, tempat tidur bergaya country ini cocok sekali untuk kamar utama di lantai atas. Bukan hanya karena gaya country-nya yang cocok –tapi juga karena ukuran bed-nya yang lebih kecil daripada umumnya tempat tidur yang ada di pasaran. Jadi cocok dengan ruang kayu ukuran tanggung di lantai dua.

    P_20171217_152138-01

    Ada sedikit pengalaman berharga untuk teman-teman yang bermaksud membeli Ikea yang akan dipasang di luar Jakarta:

    • Jangan belanja terlalu banyak di saat yang bersamaan, sampai kita harus mengirimkan sebagian mebel ukuran besar via jasa kiriman Ikea. Mahal, Bo! Saya pernah nyaris mengirim satu set furniture ke Bandung. Dan biaya kirimnya adalah 1 juta rupiah. *gak jadi deeeh…
    • Kalau tidak punya mobil keluarga, seperti Ertiga atau Avanza, yang memiliki ruang luas di belakang. Lebih baik menunggu agar Ikea melakukan promosi free ongkir ke Bandung. Dua tahun kemarin mereka selalu punya promosi ini bekerjasama dengan PT Pos Indonesia.
    • Bagi yang punya mobil keluarga. Ukur panjang sekaligus diagonal ruang belakang mobil anda. Beberapa mebel Ikea hanya bisa dibawa dalam posisi melintang, jadi pastikan kita tahu berapa diagonal ruang belakang mobil ketika kursi belakang dan kursi tengah dalam keadaan terlipat. *tenang, setiap mebel Ikea pasti mencantumkan ukuran panjang dan lebar di packaging-nya.
    • Kalau anda memang ingin melengkapi rumah anda dengan mebel Ikea, sebaiknya rancang sejak awal –ketika rumah masih dirancang di layar komputer. Karena hampir semua mebel Ikea (dan ukurannya) ada di dalam 3D warehouse-nya SkechUp. Daripada sudah beli mebel, taunya kegedean, kan?

    P_20171217_153552-01

    Kalau mau disimpulkan, konsep warna furnishing Kabin Putih sebenarnya simple: dinding empat warna pastel + lantai coklat gelap + struktur kayu putih solid + aksen warna terang kecil di sana-sini. Hasil akhirnya seperti gambar di atas. Not bad, right?

    Well, alhamdulillah. Kabin Putih Lembang sekarang sih sudah berdiri kokoh dan elok. Bahkan sejak akhir Desember 2017 sudah available untuk disewa via Airbnb. Hasil berkhayal dan kerja keras ini akhirnya membawa manfaat bagi keluarga kami, serta keluarga dan teman dari tamu-tamu kami.

    ——-

    Di posting selanjutnya saya akan berbagi cerita tentang Airbnb, ah. Tentang cara menggunakannya untuk mengirit biaya liburan –dan tentang mencari uang dengan menjadi host-nya. Mau?

  • Kenapa Social Media Marketing Harus Masuk Kurikulum Sekolah Desain, Komunikasi dan Manajemen di Indonesia

    Pernah belanja di marketplace, kan? Pernah menghitung berapa persen jumlah produk dalam negeri dibandingkan produk luar negeri yang dipasarkan di situs-situs tersebut?

    Ini angkanya, bro. 93% Produk Impor : 7% Produk Indonesia. Data ini dikeluarkan oleh Kementrian Koordinator Bidang Perekonominan, seperti dimuat di kompas dot com bulan Februari 2018 lalu.

    CEO Blibli.com, Kusumo Martanto, mengakui akurasi angka tersebut. Dia mengatakan bahwa dari 2,5 juta listing barang di Blibli.com, hanya 100 ribu saja yang merupakan barang buatan dalam negeri. Di kesempatan lain, CEO Bukalapak Achmad Zaky, menampik proporsi itu. Dia memperkirakan di Bukalapak proporsinya adalah 60% produk impor : 40% produk lokal.

    Seberapa akurat data yang diberikan Zaky saya kurang tahu, karena Zaky tidak memberikan angkanya secara spesifik. Tapi keduanya, Kusumo dan Zaky, mengakui bahwa produk import itu pun sebenarnya didominasi oleh produk import dari satu negara saja, RRC. Tentu saja.

    Oke, mari coba kita bandingkan angka yang keluar dari Kementrian, Blibli dan Bukalapak.
    Kementrian mengatakan produk import vs produk lokal proporsinya 93% : 7%
    Blibli mengatakan produk import vs produk lokal proporsinya 96% : 4%
    Bukalapak mengatakan produk import vs produk lokal proporsinya 60% : 40%

    Kelihatan skor sementara persaingan dagang di republik ini? Produk kita kalah jauh volume perdagangannya dibandingkan produk import di marketplace. Yang menambah parah, angka ini terjadi di marketplace lokal! Bukan di Amazon atau Taobao. Ini terjadi di tokopedia, bukalapak, shopee, dan marketplace lokal lain. Situasi ini mungkin hanya bisa disamakan dengan kejadian Persib kalah 7:0 –di hadapan bobotoh di Stadion Si Jalak Harupat! Unacceptable! Ngerakeun! Bikin Baper!

    Saya akan kembali dulu ke sifat dasar dari marketplace, yang merupakan format digital dari sebuah pasar. Marketplace, sama dengan pasar, adalah tampat kita mencari kebutuhan, membanding-bandingkan harga, lalu menukarnya dengan uang. Secara natural, di pasar online atau offline, jumlah pedagang akan lebih banyak dari pada jenis barang.

    Contoh nih. Di pasar basah Ciroyom, jumlah tukang sayurnya pasti lebih banyak daripada variasi sayur yang dijual di sana. Lalu apa yang kita lakukan sebagai konsumen ketika kita mau membeli kol di sana? Biasanya kita akan menjelajahi minimal 3 tukang sayur, melihat kualitasnya lalu mencari harga termurah. Barang jelek dan barang mahal akan kita skip. Karena kita akan mencari barang sesuai ekspektasi kualitas, dengan harga termurah. Wajar. Kita membeli komoditas di pasar. Memang itulah urutan preferensinya.

    Sekarang, mari kita ingat-ingat ketika kita berbelanja di marketplace. Katakanlah kita mau membeli jam tangan. Lalu kita ketikkan kata ‘jam tangan’ di kolom search. Hasilnya mirip bukan? Selama browsing di sana, kita akan menghadapi situasi yang kurang lebih sama dengan Pasar Ciroyom: walaupun jumlah pedagangnya banyak tapi barang yang didagangkan sebenarnya itu-itu saja. Kita akan menemukan dominasi merek Skmei, Digitec, G-Shock murahan, Quick Silver 100 ribuan, Suunto-Suunto-an, bahkan Rolex seharga magic jar.

    Standar Operating Prochedure perusahaan ritel adalah ‘selalu memajang paling depan barang yang paling laku’. Jadi tanpa perlu masuk ke backend marketplace, kita sudah tahu barang-barang apa saja yang paling laku dijual.  Kesimpulan saya sih, sama dengan kesimpulan Kementrian Koordinator Bidang Perekonomian: kita sedang diserang barang China habis-habisan.

    Ah … itu mah semua orang juga tahu, kalee Been!

    Ok, kalau begitu saya kasih perspektif baru. Tidak hanya kita diserang barang China, tapi kita juga mulai memperlakukan jam tangan (dan produk-produk lainnya) –sebagai sayur. –sebagai komoditas. Padahal jelas, ‘produk’ dan ‘komoditas’ adalah hal yang berbeda.

    Kita mulai menganggap inovasi, hak intelektual, positioning khas, dan atribut lain yang ada di dalam sebuah ‘produk’ sebagai sesuatu yang ghaib.

    Yang masih nyata tersisa di benak konsumen yang sudah ter-brain wash pola konsumsi seperti ini, biasanya hanya merek dan harga. Tepatnya merek hebat yang dibandrol harga murah.

    Makanya akan banyak orang akan beli Rolex seharga Magic Jar tadi.

    ——-

    Saya mulai menyadari kurang mendukungnya situasi berdagang produk inovasi di Indonesia, ketika saya mulai memproduksi #GetawayGear dengan merek Torch. Bagaimana ceritanya?

    Oke, saya jelaskan dahulu sedikit ya bagi rekan-rekan yang bukan industriawan atau pedagang. Saya termasuk orang yang memiliki school of thinking bahwa produk hanya memiliki nilai tinggi bagi konsumennya, jika daya komunikasinya sama kuat dengan value inovasinya. 

    Maksudnya begini, konsumen hanya akan menganggap sebuah produk memiliki nilai yang tinggi, ketika tidak hanya memang produk memiliki inovasi yang tinggi, tapi juga perusahaan berhasil menyampaikan pesan tegas dan terpercaya bahwa produk tersebut memang bernilai tinggi. Jadi agar sukses di pasaran, marketing communication harus sama hebatnya dengan product innovation-nya. Kalau dua-duanya bagus, barulah konsumen menganggap bahwa produk memiliki nilai yang tinggi.

    Salah satu pengalaman kami terkait inovasi dan komunikasi ini adalah ketika Torch mulai mengembangkan sebuah desain sendal yang sangat inovatif, latent demand-nya terindikasi tinggi, dan desain finalnya terbilang mumpuni –keren lah.

    Kami memberi nama produk tersebut sebagai ‘Torch Arrafa’. Sebuah desain sendal yang didesain khusus untuk konsumen yang hendak menunaikan ibadah, umrah, haji dan traveling.

    Sebagai sendal khusus umrah dan haji, desain produknya sangat matang. Dibuat dari bahan neoprene (bahan baju selam), grip outsole-nya ngigit banget, sendalnya ringan, kuat, dengan style-nya modern dan unik –berbeda dengan rivalnya, sendal gunung.

    Sendal ini didesain berdasarkan permasalahan yang saya alami sendiri ketika saya menunaikan ibadah umrah. Sulitnya sendal dimasukkan ke tas karena kegedean, capeknya melepas pasang sendal ketika bolak-balik wudhlu, tidak enaknya sendal jepit ketika dipakai berjalan jauh, tidak nyamannya pakai sendal jika berbasah-basahan, dst. Semua masalah ini kami pecahkan dengan desain sandal Torch Arrafa.

    Setelah proses R&D yang memakan waktu hampir setahun, akhirnya saya putuskan  untuk mulai mengangkat desain finalnya ke dalam line produksi. Tidak tanggung-tanggung, kami menggandeng Perusahaan PMA Korea untuk memproduksi sendal ini. Untuk melindungi proses komersialisasinya, kami juga mendaftarkan hak desainnya ke Dirjen HKI.

    Karena sangat yakin akan solusi yang kami tawarkan untuk pasar, saya putuskan memproduksi ribuan pasang sandal Arrafa. Dan ketika akhirnya sendal-sendal ini masuk ke gudang kami…. “Jamaah haji, here come our solution for you“, begitu pikir saya.

    Lalu selama tiga bulan, staf-staf marketing kami menawarkan produk-produk ini pada puluhan agen yang kami kenal. Tidak lupa kami pajang produk-produk ini di toko-toko kami dengan banduan display khusus agar menggenjot penjualannya. Marketplace pun kami coba gunakan untuk menjual produk inovatif ini.

    Hasilnya? Tidak lebih dari 10% stok keluar dari gudang. Umumnya agen-agen kami bertanya, “Ini sendal apaan sih? Sendal gunung bukan, sendal jepit bukan. Gimana cara jualnya?” Kalau agen saja bingung, bagaimana dengan end consumer?

    Akhirnya, komisaris saya yang sudah mulai tidak sabar pun nyolek, “Ben, kok itu sendalnya masih numpuk di gudang?

    Hiyaaaaa ….. keringet dingin dah….
    Apa yang salah? Produknya bagus, toh?  Kok susah jualan?

    Ini kasus yang saya bilang sebagai marketing komunikasi yang kalah kuat dengan inovasi produk. Tanpa gema yang kuat di pasar, maka kekuatan inovasi yang kuat pun hanya akan bertiup sepoi-sepoi ke telinga konsumen.

    Permasalahannya, sebagai perusahaan menengah, kami belum punya budget cukup besar untuk membesarkan gema komunikasi melalui media dengan jangkauan sekuat dan seluas TV. Padahal –mau tidak mau, kuat tidak kuat– inovasi itu harus disampaikan. Konsumen harus mendengar, teryakinkan dan akhirnya percaya bahwa produk tersebut memang baik untuknya.

    Bagaimana dengan marketplace? Bukankah jangkauannya sangat luas?

    Ya, data pada bulan Januari 2017 mengatakan bahwa nilai transaksi di Tokopedia adalah 1 triliun per bulan dengan jumlah pengguna aktif sebanyak 12 juta pengguna. Tapi kenapa 12 juta pengguna ini bukan market yang empuk bagi produk inovasi?

    Saya pikir masalahnya bukan ada pada jumlah pengguna atau total nilai transaksinya, tapi ada pada 30 juta produk aktif siap beli di sana. Bayangkan! Tiga puluh juta produk! Bahkan dengan sistem pencarian yang canggih yang dimiliki oleh marketplace-marketplace ini, tetap saja ini menjadi sebuah persaingan yang keras untuk memasarkan produk-produk inovasi. Bukan hal yang mudah untuk mendapatkan spotlight di tengah puluhan juta produk lain yang juga minta dibeli.

    Apalagi seperti kita sudah bahas di bagian awal, prilaku pembeli di sana mirip sekali dengan pasar tradisional. Yang laku adalah barang (agak) bagus yang dibandrol murah. Bukan untuk produk lokal dengan konsep yang kuat dan pemasaran yang kreatif. Maka wajar jika produk diskon masal dan produk China lah yang akan jadi raja.

    Saya tidak mengatakan bahwa marketplace ini tidak bagus untuk menjual produk inovatif lokal. Tapi memang dengan prilaku pembeli seperti di atas, maka marketplace bukan sebuah entry point yang efektif.

    Walau ini adalah tempat yang cukup efektif untuk berdagang bagi reseller dan agen-agen produk tertentu, saya akhirnya berkesimpulan bahwa ini bukan titik terbaik untuk memulai pemasaran bagi produk-produk inovasi lokal.

    Kembali ke Torch Arrafa – si sendal umrah, untung saja kami menemukan sebuah cara pemasaran digital yang lebih efektif untuk memasarkan produk bermerek dan inovatif. Bukan melalui marketplace –tapi via webstore.

    Jika kita menganggap bahwa marketplace, dengan banyak lapak digital di dalamnya, adalah bentuk online dari sebuah pasar offline. Maka webstore adalah perwujudan online dari showroom offline —yang umumnya menjual satu merek saja di dalamnya.

    Letak perbedaan versi online-nya pun, mirip dengan perbedaan versi offline-nya. Jika pasar adalah kumpulan lapak yang bersatu sehingga menarik pembeli untuk datang, maka showroom adalah toko satu brand yang dengan kemampuan marketingnya menarik sendiri pembeli untuk datang.

    Perbedaan utamanya ada di effort marketing. Sebuah showroom, berbeda dengan sebuah pasar, perlu effort marketing dan promosi konsisten yang unik. Sehingga bisa mendatangkan orang yang pas dengan profil pembeli potensial brand tersebut. Tidak perlu bisa mendatangkan konsumen sebanyak konsumen pasar, yang penting cukup banyak pembeli dengan konversi penjualan yang tinggi.

    Berbeda dengan marketplace di mana sistem promosi umumnya difasilitasi oleh marketplace-nya sendiri, pada sebuah webstore fasilitas promosi bergantung pada ekosistem di sekelilingnya. Semua webstore bebas memilih metode marketing dan tools-nya masing-masing. Bahkan platform di belakang webstore-nya sendiri sebenarnya berbeda-beda, dan konsumen sering kali tidak tahu perbedaannya. Ada yang menggunakan Shopify, Prestashop, WooCommerce atau bahkan ada yang membangun sistem sendiri.

    Berbicara tentang metode marketing untuk mendatangkan calon pembeli potensial, webstore-webstore ini memilih cara dan tools yang berbeda. Ada yang mengutamakan Search Engine Optimization (SEO), Paid Ads (Facebook, Instagram, Google) dan sebagainya. Atau mengkombinasikan tools-tools tsb,

    Umumnya perusahaan dengan pemasaran melalui webstore memiliki personil dengan skill set yang lebih beragam dibandingkan perusahaan dengan kanal utama via marketplace. Tidak hanya personil di lingkup operasi penjualan seperti packing, customer service, content writer, –tetapi dibutuhkan juga personil dengan skill set kreatif seperti videographer, script writer, photographer, director, dst.

    Intinya, berdagang via webstore adalah sebuah metode yang jauh lebih kompleks dibandingkan melapak di marketplace.
    Tapi saya melihat setidaknya ada beberapa keunggulan utama webstore dibandingkan marketplace, yaitu:
    1. Kemampuan marketing yang lebih tertarget.
    2. Kemampuan branding dan menyampaikan pesan-pesan yang kuat.
    3. Kemampuan data collecting yang hampir tidak terbatas.
    4.
    Kemampuan pertumbuhan yang jauh lebih tinggi bagi brand tsb.

    Kami sendiri memilih Facebook dan Instagram sebagai tools marketing awal kami. Ribuan konten sudah kami produksi, ratusan di antaranya mungkin sudah menyapa konsumen dan calon konsumen kami. Sendal Umrah Arrafa adalah salah satu desain yang terselamatkan, bahkan tumbuh menjadi besar karena karena memanfaatkan fasilitas marketing yang inovatif dari Facebook.

    Kembali ke ribuan pasang sendal yang terdiam di gudang kami selama tiga bulan. Keadaan itu segera berubah ketika kita mulai memanfaatkan Facebook dan IG marketing. Konten-konten berupa video, foto, graphic work, dan tulisan –kami lesatkan ke hadapan para calon konsumen dengan sistem targeting yang jauh lebih akurat dibandingkan metode yang disediakan oleh media konvensional. Sehingga pada saat itu penjualan webstore kami melesat belasan kali lipat hanya dalam kurun waktu 6 bulan.

    Apa yang terjadi kemudian dengan tumpukan sendal umrah Arrafa di gudang kami? It is now one of the fastest selling items in our line of products. Amazing. Kita bahkan sudah mulai membuat versi women series dari desain ini

    Kenapa ini bisa terjadi? Jawabannya sederhana, karena inovasi yang kuat yang ada pada sendal umrah Torch Arrafa (pada akhirnya) bisa diimbangi oleh pesan-pesan marketing yang sama kuatnya –yang dilesatkan melalui jaringan social media made in america ini. Akhirnya pesan yang sampai ke telinga potensial konsumen kami tidak lagi sepoi-sepoi tapi tegas dan menarik hati.

    Ini yang membuat saya yakin bahwa kampus-kampus yang mendidik calon pengusaha di bidang industri kreatif di Indonesia harus segera mengadaptasi metode pemasaran media sosial ke dalam kurikulumnya. Karena, at least for now, pemasaran sosial media lah yang menawarkan kemampuan menyampaikan pesan-pesan kreatif dan branding yang paling mumpuni dan terjangkau untuk para inovator muda.

    Di zaman now, sudah bukan saatnya kampus-kampus  hanya mengajari mahasiswa cara membuat prouk yang inovatif.

    Di zaman now, adalah tugas kampus juga untuk memberikan wawasan dan pengetahuan tentang  bagaimana cara menyampaikan pesan-pesan inovasi dan pesan-pesan branding tersebut dengan metode yang paling efektif dan paling terjangkau oleh calon lulusannya.

    Karena bagaimana pun juga adalah salah satu tugas kampus untuk mengubah proporsi penjualan barang pada transaksi online yang masih dimenangkan China dengan skor 93 : 7 di babak pertama ini.

    Beranikah kampus mengubah pola permainannya agar Indonesia menang di babak ke dua?


    ~bws~

  • Cerita Si Kabin Putih, Membangun Rumah Kayu Dari Desain, Pondasi sampai Perakitan Awal (Part II)

    Kalau anda seorang arsitek, harap dilewat saja tulisan ini. Karena ini ‘tulisan berbagi pengalaman’ bagi non-arsitek yang ingin mencoba membuat rumah kayu rancangan sendiri. Ilmunya ringan-ringan aja sih … ditulis dari pengalaman seru membangun Kabin Putih Lembang; Kabin Airbnb kami di Lembang.

    Pertama-tama, soal harga. Rumah kayu bukan langsung berarti lebih murah dari rumah beton, ya. Harga per meter persegi rumah kayu yang terbuat dari kayu kelas menengah, seperti mahoni, bisa dibilang mirip dengan rumah beton menengah/standar. Kalau rumah kayu yang terbuat dari kayu kelas atas, seperti kayu jati, bahkan lebih mahal daripada rumah beton lux. Yah begitulah gambarannya.

    *Berapa harga bangunan beton? Silahkan googling dengan keywords ‘harga bangunan per m2’

    Kalau harganya sama saja dengan rumah beton, kenapa juga mau membangun rumah dari kayu?

    Nah, ada banyak alasan sebenarnya; udara lebih sejuk, suasana lebih alami, nilai estetika yang unik dan sebagainya.

    Tapi untuk saya dan istri, alasan paling utama adalah karena kami membangun di Lembang, Bandung Utara. Kawasan ini adalah daerah penyerapan air untuk Bandung Raya. Membangun rumah panggung kayu (elevated)  menimbulkan dampak negatif yang minimal terhadap serapan air. Perasaan tidak terlalu menggangu fungsi alam yang sangat penting di sana, membuat tidur lebih nyenyak.

    Lanjut, ya. Seperti saya tuliskan di blog post sebelumnya, saya tidak memiliki latar belakang pendidikan arsitek, sehingga proses perancangan dan pembangunan Kabin Putih bisa dikatakan ‘otodidak’. Tapi tentu bukan berarti tanpa guru dan alat bantu.

    Guru saya adalah rekan saya yang ahli bangunan kayu di Jepara dan sebuah situs bernama houzz.com. Sementara, alat bantu saya adalah aplikasi bernama SketchUp Make –aplikasi modeling 3D dengan UI/UX yang sangat intuitif dan mudah digunakan. Silahkan download di sini. Gratis kok 🙂

    Sebelum mulai merancang, wawasan saya tentang arsitektur saya upgrade dulu di houzz.com. Situs ini memang bikin betah banget. Di dalamnya berbagai macam manusia menceritakan cara membangun rumah, mendesain taman, berbagi tips, saling berinteraksi, bahkan berjualan jasa dan barang. Tapi untuk saya, fitur mengkoleksi foto sebagai bahan inspirasi sudah cukup memadai. Yang  penting saya punya banyak referensi arsitektural dan desain interior yang memadai untuk membuat bangunan yang saya inginkan.

    Begitu gambaran di kepala tentang rumah yang saya inginkan sudah mulai jelas, saya mulai merancang dengan menggunakan SketchUp Make. Catatan dikit, walaupun saya bukan arsitek, tetap saya adalah ‘mantan’ desainer. Jadi logika menggunakan aplikasi perancangan ternyata masih nempel di kepala. Bagi teman-teman yang memang tidak punya basis perancangan sama sekali, gak ada salahnya minta tolong arsitek atau teman yang memang punya basis ilmu merancang. Agar hasil akhirnya tidak terlalu jauh dari imajinasi yang ada di dalam kepala.

    Gambar Awal SketchUp Kabin Putih

    Sebenarnya saya sempat membuat tiga rancangan rumah. Tapi ternyata karena saya, sangat awam dalam menaksir harga bangunan, maka dua rancangan saya terbukti terlalu mahal untuk saya bangun. Pada akhirnya saya meminta teman saya di Jepara untuk memberikan rancangan dasar (ukuran dasar bangunan dan spesifikasi kayu) sebagai patokan saya mendesain. Dari rancangan dasar itulah, Kabin Putih saya mulai rancang. Dengan begini, harga akhir bangunan kayu yang saya rancang, tidak terlalu jauh dari perkiraan harga seharusnya.

    Setelah rancangan SketchUp saya mewujud cukup meyakinkan, saya lalu mengirimkan berkas rancangan tersebut via internet ke teman saya yang ahli bangunan kayu di Jepara. Proses menghitung kebutuhan kayu, perbaikan struktur bangunan, perhitungan kebutuhan bahan, tanya jawab mengenai teknik finishing yang diinginkan, serta perkiraan waktu pembangunan, dsb –menghabisakan waktu sekitar seminggu.

    Ketika semua perhitungan terkait teknis dan biaya sudah disepakati antara saya di Bandung dan teman saya yang kontraktor di Jepara, maka kontrak segera kami tanda tangani. Alhamdulillah, waktu itu berselang seminggu saja , teman saya langsung menemukan lahan kayu produktif di sana yang siap dibeli, dipotong dan diproses sesuai kebutuhan rancangan Kabin Putih.

    Pemotongan Kayu untuk Bahan Kabin Putih

    Setelah pohon-pohon kayu ini dipotong, selanjutnya masuk ke proses pembahanan, atau proses mengubah kayu menjadi ‘bahan’ atau material terpotong yang sudah siap pakai. Proses pembahanan ini sebenarnya bisa selesai dalam waktu di bawah seminggu. Tapi ini sangat tergantung dari kosong atau tidaknya bengkel pembahanan yang ada di sana.

    Kembali, kami cukup beruntung, karena antrian bengkel pembahanan saat itu sedang tidak terlalu panjang. Sehingga kayu-kayu gelondongan itu bisa segera dipotong menjadi balok dan papan sesuai kebutuhan rancangan Kabin Putih.

    Loading kayu-kayu yang telah melalui proses pemotongan

    Kabin Putih dirancang sebagai bangunan knock down –mirip sebuah mainan Tamiya raksasa. Bedanya bangunan ini tidak diproduksi masal, walau tetap mampu dipindahkan lokasinya jika diperlukan. Sehingga proses selanjutnya setelah proses pembahanan adalah pembuatan bagian-bagian bangunan.

    Rangkai Dasar Bangunan

    Semua struktur bangunan diukur, dipotong lalu ‘fitting‘ dengan seakurat mungkin. Sebisa-bisanya ketika bangunan sudah sampai di Lembang nanti, tidak ada lagi perubahan mendasar atau revisi ukuran –yang tentu akan sangat menyusahkan jika terjadi di Lembang.

    Fitting struktur di Jepara

    Selain struktur, panel-panel dinding juga diproduksi di Jepara. Panel-panel nanti tinggal dipasangkan untuk mengisi ruang antara struktur. Ukurannya tidak terlalu besar, diberi kode posisi pemasangan dan sudah dirancang agar water-proof.

    Panel-panel Dinding

    Sejak awal saya memang menginginkan agar finishing panel dinding kabin putih tidak menggunakan pelitur gelap seperti kebanyakan rumah kayu tradisional. Seperti namanya ‘Kabin Putih’, saya menginginkan finishing warna putih agar atmosfir di dalam kabin terasa lebih ringan, lebih lega dan lebih modern.

    Tantangannya adalah finishing warna putih yang terlalu pekat justru akan menghilangkan lukisan khas urat kayu yang harusnya jadi keunggulan rumah kayu.

    Alhamdulillah, pada saat memulai proses pembahanan kami mendapatkan lahan kayu yang memiliki warna bawaan yang berbeda-beda. Ini akan kami jadikan point of strenght si Kabin Putih. Sehingga kami lalu sepakat untuk mencobakan teknik white wash finish sebagai teknik finishing keseluruhan dinding kabin.

    Kayu-kayu yang sudah di-finishi dengan teknik white wash di Jepara

    Keseluruhan proses –dari pencarian pohon kayu, pembahanan kayu, finishing dan fitting– alhamdulillah terhitung cepat. Hampir semua proses berjalan lancar dan komponen-komponen Kabin Putih sudah siap dibawa ke Lembang dalam waktu 45 hari saja. Berarti saatnya mempersiapkan pekerjaan utama di Lembang: Pondasi.

    Gambar Rancangan Pondasi
    Posisi Titik Peletakan Pondasi

    Rumah knock-down ini menggunakan 24 pondasi cakar ayam. Pondasinya terhitung boros untuk standar bangunan kecil. Hal ini disebabkan karena kondisi tanah Lembang yang sangat gembur. Untuk kami, rasanya lebih baik banyak mengeluarkan effort di depan daripada nanti jadi punya rumah miring seperti di Dufan.

    Pondasi yang sudah tertanam

    Pondasi-pondasi ini ditanam sekitar satu meter ke dalam tanah, dan sebaiknya dibiarkan selama paling tidak satu minggu agar terjadi pemadatan tanah secara alami. Di beberapa titik pondasi sengaja diberikan hook besi beton untuk mengikatkan pondasi dengan struktur landasan bangunan kayu.

    Kayu-kayu mulai loading ke dalam truk untuk dibawa ke Lembang

    Ketika pekerjaan pondasi di situs sudah selesi, maka seluruh komponen kayu dibawa dari Jepera ke Lembang. Proses ini memakan waktu sekitar sehari penuh karena truk yang membawa kayu-kayu ini  ‘merayap’ cukup jauh ke dataran tinggi Parahyangan.

    Proses Pra-Perangkaian Kabin Kayu

    Sesampainya di Lembang, kayu-kayu diturunkan dari truk. Setiap komponen dipisah-pisah dan disusun di sisi kiri-kanan dan depan-belakang lahan, untuk memudahkan proses merangkai beberapa hari ke depan. Prosesnya mirip dengan merangkai model mainan Tamiya, bapak-bapak mantan Tamiya Modelers, besar kemungkinan akan senang pekerjaan ini 🙂

    Peletakan Dasar Konstuksi Kayu

    Berbeda dengan bangunan beton yang memiliki konstruksi menyambung dari dasar pondasi sampai ke bangunan, rumah kayu knock down seperti ini sebenarnya hanya ‘diletakkan’ di atas fondasi.  ‘Konstruksi lepas’ seperti ini merupakan kunci kemampuan tahan gempa dari rumah kayu.

    Jangan terlalu khawatir juga, walau cuman diletakan di atas pondasi-pondasinya, rumah kayu ini tidak akan ada yang mencuri kok. Karena beratnya sepuluh ton! Sejauh ini, si Kabin putih sudah survive, dua badai angin besar dan sebuah gempa bumi di Lembang. Alhamdulillah.

    Proses Perangkaian Struktur

    Target proses perangkaian struktur terhitung cepat. Hanya dua belas hari. Dan memang eksekusinya sangat cepat. Foto di atas ini adalah foto hari ke-dua. Ini bisa dilakukan karena sebenarnya semua struktur kayu ini ukurannya sudah pas –‘kan sudah fitting sebelumnya di Jepara.  Prinsipnya sama dengan Tamiya, jangan sampai pasang komponen di tempat yang salah. *Kalau salah, repot banget. Karena komponen terbesar, panjangnya 8 meter, bro 🙂

    Penggunaan pasak kayu pada sambungan

    Untuk meminimalisir rengkahan kayu, kebanyakan sambungan struktur Kabin Putih menggunakan pasak kayu (dowel) sebagai pengganti paku. Kecuali, sambungan-sambungan utama yang menggunakan drat besi. 

    Kayu-kayu ini juga sebenarnya sudah melalui proses treatment anti-rayap dan sudah di-oven di Jepara agar kayu tahan lama dan lebih kuat jika menghadapi perubahan cuaca dan suhu. Tapi tetap sih, yang namanya rumah kayu jangan disamakan dengan rumah beton dan semen. Setiap ada perubahan cuaca ekstrim, ada saja kemungkinan jendela atau pintu yang berubah jadi agak seret.

    Kalau menurut teman saya di Jepara, rumah-rumah di kampung yang terbuat dari kayu mahoni dan kayu weru biasanya bisa bertahan lebih dari seratus tahun. Mungkin ini berhubungan dengan densitas serat kayunya yang cukup padat dan kebetulan kayu weru adalah kayu kelas menangah yang punya sifat mirip kayu jati –tahan rayap!

    Bicara tentang rayap, salah satu tetangga saya di Lembang adalah ahli tanaman. Dia memberi kabar baik waktu saya sedang sedang mengawasi proses perakitan Kabin Putih. Dia bilang ternyata di Lembang tidak ditemukan koloni rayap. Sebagai wilayah yang terletak cukup tinggi di atas permukaan laut dan memiliki temperatur rata-rata  yang lebih dingin dari Kota Bandung, Lembang ternyata terlalu dingin untuk menunjang kehidupan koloni rayap. Jadi ternyata Lembang itu termites free –bebas rayap.

    Setengah Jalan Perakitan Kabin Putih

    Oh iya. Semua pekerjaan perakitan ini akan lebih cepat jika tersedia alat-alat pertukangan elektrik seperti grinder, sender, gergaji elektrik, dsb.  Oleh karena itu, sebelum pekerja-pekerja dari Jepara datang ke situs, sebaiknya kita memastikan bahwa mereka bisa mendapatkan akses ke colokan listrik. Saya akhirnya membeli kabel puluhan meter, untuk menumpang nyolok ke sebuah rumah lain yang lokasinya agak jauh di utara Kabin Putih.

    Jika tidak ada colokan listrik sama sekali di sekitar situs? … Saya akan menyarankan untuk menyewa generator listrik. Karena perbedaan waktu pengerjaan tanpa alat bantu listrik akan lumayan lama. Ujung-ujungnya biaya pembangunan akan jauh lebih mahal. Enggak mau, kan? cring-cring…

    ————-

    By the way, ternyata tulisan ini panjang banget ya. Saya bagi jadi tiga bagian aja, deh. Capek juga nulisnya … hehehe.
    Dengan ini bagian ke-2 saya sudahi sampai di sini, ya. Sampai ketemu di bagian ke-3, tentang perakitan akhir, cerita tentang pemilihan jenis kayu dan finishingnya sampai furnishing. Salam kayu! 

  • Cerita Si Kabin Putih, Rumah Peristirahatan Kayu di Jantung Wisata Lembang (Part I)

    Jalan-jalan sudah menjadi tradisi keluarga kami. Sejak anak-anak kami berumur setahun, saya dan istri biasanya mulai mengajak setiap anak untuk hiking ke pegunungan sekitar Bandung.

    Biasanya, setelah lelah day-hike, kami menyempatkan mencari tempat beristirahat dan makan di sekitar area hiking untuk recharge tenaga anak-anak yang habis tergerus selama jalan kaki. Kadang-kadang, kalau terlalu lelah untuk hiking, kami pun biasanya -sama seperti wisatawan dari luar kota- mencari tempat-tempat wisata yang selalu ada saja yang baru di sekitar Bandung. Urang Bandung memang ada saja idenya kalau berurusan dengan santai dan bersenang-senang.

    Area favorit kami ada dua: Pangalengan di selatan Bandung dan Lembang di utara Bandung. Secara bergantian, dua pinggiran Bandung itu kami jelajahi; dalam pencarian kebun teh, kebun sayur, sungai, kampung, trek hiking, gunung, lembah atau tempat-tempat wisatanya yang sedang happening. Yang penting anak-anak jangan selalu dibawa main ke mall. Itu tujuan kami, sih.

    Ini anak pertama kami di Kawah Ratu – Gunung Tangkuban Parahu, belasan tahun yang lalu

    Di akhir tahun 2016, akhirnya kita punya cukup rejeki untuk membangun sebuah rumah peristirahatan kecil yang bisa kami gunakan untuk meluruskan kaki di dekat wilayah hiking kami. Awalnya memang agak bingung juga; “Bangun rumah di Lembang atau di Pangalengan, ya?”. Tapi akhirnya, dengan pertimbangan jarak yang lebih dekat dengan rumah kami di Bandung, agar lebih mudah diurus, maka kami memilih Lembang.

    Selama dua bulan, setiap akhir minggu, saya dan istri kembali menjelajahi Lembang. Kali ini berdua menggunakan motor untuk menemukan sebidang lahan yang cocok untuk ‘meluruskan kaki’ nanti.

    Alhamdulillah, dasar rejeki. Kami ditawari sebuah lahan tidak jauh dari Peneropongan Bintang Bosscha, di antara kebun sayur yang masih sangat aktif produksi. Lahan ini benar-benar terletak di jantung kawasan wisata Lembang, hanya 500 meter dari Jalan Raya Lembang. Namun tetap sejuk, segar, nyaman dan cukup tenang untuk beristirahat di siang dan malam hari. Plus, kita dapat pemandangan ke arah Gunung Tangkuban Parahu, dong.

    Ini anak ke-dua saya di lahan yang nantinya jadi Kabin Putih

    Tapi membeli lahan di Lembang juga ada tantangannya. Tapak bangunan yang boleh dibangun di Lembang hanya 20% dari luas lahan yang dimiliki. Kecil sekali!

    Aturan ini dibuat agar fungsi wilayah Lembang sebagai wilayah serapan air bagi Bandung Raya tetap terjaga. Dan kami tidak berani melanggar aturan ini –terlepas kebanyakan orang sih rupanya cuek dengan aturan ini.

    Tapi jawaban dari larangan ini sebenarnya tidak terlalu sulit. Setelah ngobrol dengan notaris kami, akhirnya kita ketahui bahwa bangunan kayu tidak masuk kategori bangunan permanen. Oleh sebab itu, bangunan kayu tidak terikat oleh larangan tersebut. Dan memang jika bangunan kayu dirancang berbentuk panggung (elevated) maka bisa dikatakan rumah panggung kayu tersebut memiliki dampak negatif yang minimal terhadap penyerapan air tanah.

    Tantangan selanjutnya adalah ‘siapa arsitek yang bisa mendesain rumah kayu, ya?’

    Saya memang dididik sebagai seorang desainer –20 tahun yang lalu, sih– tapi itu juga desainer produk industri. Tentu kalau dasar estetika saya punya banget, tapi untuk coba-coba belajar mendesain bangunan … hmmm … itu hal yang berbeda.

    Untungnya di zaman now ini banyak sekali tools yang bisa membantu merancang rumah kayu. Sehingga proses perancangan tidak sesulit bayangan saya sebelumnya.

    Saya akhirnya pakai dua tools utama ini:

    1. SketchUp Make, untuk merancang dan modeling 3D. Sketchup adalah program modeling 3 dimensi dengan antar muka paling mudah –dan asiknya dia memiliki versi tidak berbayar. Terakhir kali saya pakai program ini untuk merancang 3 dimensi, mungkin 15 tahun yang lalu. Tapi ternyata cukup satu jam adaptasi di depan layar sketchup, kemampuan sketchup dasar saya mulai kembali.
    2. Houzz.com atau Houzz App, untuk meluaskan wawasan arsitektur yang agak ketinggalan. Houzz adalah ‘facebook + bukalapak-nya’ para perancang rumah, kontraktor dan supplier bahan bangunan. Developernya dari California. Isinya surga inspirasi arsitektur dunia.

    Dalam sebulan, bekerja malam hari sesudah ngantor, saya akhirnya berhasil merancang 3 buah rancangan rumah. Di mana dua di antaranya terbukti terlalu mahal untuk dibangun.

    Akhirnya saya putuskan untuk mencari kontraktor rumah kayu dahulu, agar saya bisa berkonsultansi mengenai jenis kayu, harganya dan struktur bangunan kayu. Tapi ini pun tidak bisa dibilang mudah, karena tidak banyak ahli bangunan kayu di Indonesia. Terpikir oleh saya dua daerah yang secara tradisional banyak memiliki ahli-ahli bangunan kayu; Tomohon dan Jepara. Plus, saya pun mencoba cari ahli di Bandung, yang jaraknya lebih dekat dengan lahan.

    Tapi rupanya saya lebih jodoh dengan seorang ahli, yang sekarang menjadi teman, dari Jepara. Dia memberikan saya banyak sekali masukan dalam hal pilihan bahan, ukuran dan struktur bangunan kayu yang membuat rancangan lebih feasible secara teknis dan ekonomi.

    Alhamdulillah. Akhirnya Konsep Kabin Putih punya hampir semua sumber daya yang dibutuhkan untuk dibangun.

    Saya akan ceritakan proses pembangunan si Kabin, dalam posting selanjutnya. Karena ternyata membangun kabin dari kayu itu sangat menantang dan menyenangkan 🙂

  • Cara Paling Mudah (dan murah) Belajar Bahasa Inggris

    Sejak Si Sulung Samsam kecil, ada kebiasaan khas yang kita lakukan di rumah. Yaitu melarang anak-anak nonton acara TV berbahasa Indonesia. Acara TV pertama yang mereka kenal harus program pendidikan berbahasa Inggris.

    Teletubbies, Pocoyo, In the Night Garden dan Magic English adalah acara favorit Samsam kecil.

    Sakti mah penonton Channel CeeBeeBies dan Disney Junior; Dibo the Gift Dragon, Pororo, Chuggington, dsb.

    Kalau Arix sekarang senengnya Channel Baby First TV; Friendly Jack, Ookiis World, dan teman-temannya.

    Yes, kadang orang tuanya bisa kena penyakit bosen akut. Karena Acara-acara itu sebenarnya muter-muter aja -diulang-ulang sampai musiknya terngiang-ngiang terbawa tidur. Jadi ‘ear worm’, kalo kata SpongeBob mah.

    Apalagi di jaman Samsam, kita masih pakai CD/DVD, belum pakai TV Kabel. Jadi harus manual gonta-ganti keping dan manual rewind/fast forward.

    Tapi sebenarnya semuanya terbayar dengan kondisi sekarang di mana anak-anak biasa ngobrol bahasa Inggris di rumah. Jadi gak perlu ngeluarin budget extra untuk kursus bahasa éggrés.

    Ada ‘side effect’-nya sih. Sakti waktu masuk TK lebih lancar bahasa Inggrisnya dari pada bahasa Indonesia 😅. Well, sekarang mah sudah bagusan Bahasa Indonesianya, sih.

    Tapi side effect segitu masih bisa ditoleransi lah. Karena Samsam beberapa kali jadi juara Story Telling sejak SD. Dan sejak kelas 7 sudah empat kali diminta gurunya jadi asisten guru dalam mengajar bahasa Inggris di SMP.

    Sakti sering melakukan riset kecil-kecilan di YouTube untuk menamakan karakter gambarnya, yang entah kenapa, selalu harus dalam bahasa Inggris. Mungkin menurut dia terdengar cool.

    Arix kayaknya bakalan punya masalah yang sama dengan Sakti, karena sekarang belepotan nyampur-nyampur bahasa. “Wah, ada machine!”… “Where’s Nini pergi, Papah?”

    Bagusnya belajar via TV adalah mereka ‘less worry about grammar’ dan lebih lepas ketika berbicara.

    Duh, seandainya ada banyak program TV kartun berbahasa sunda. Kayaknya saya bakalan sukses juga ngajarin mereka jadi trilingual.