Author: ombenben@gmail.com

  • Hubungan Merajalelanya Ke-jomblo-an dan Kualitas Public Transport

    Kang M Ridwan Kamil harus berhasil mewujudkan Bandung menjadi kota dengan public transport terbaik di Indonesia. Karena bukan hanya masalah kemacetan yang akan terpecahkan, tapi juga masalah ke-jomblo-an yang merajalela 🙂

    Harus diakui, bedanya Bandung dan kota lain adalah kelebihan kualitas mojang dan jajaka yang berlalu-lalang di dalam kendaraan umumnya. Di Bandung mah angkot juga penuh dengan pilihan calon istri kualitas wahid.

    Paling tidak itu saya alami di 20 tahun yang lalu di perempatan Sulanjana – Dago. Seorang remaja cantik (jiehhh … kita masih remaja!), calon Ibu dari anak-anaku tersayang, masuk ke dalam angkot st. hall – dago berwarna hijau di dekat perempatan Sulanjana-Dago. Detik itu juga, saya yang sedang duduk dengan hati kering di dalam angkot, berikhtiar agar ‘suatu saat cewek ini harus jadi istri saya!’

    Alhamdulillah, posisi duduk di angkot yang memang cocok utk ‘PeDeKaTe’ akhirnya membantu mewujudkan impian saya. (yang mau tau triknya, japri aja … hahaha .. masa saya buka trik di sini …)

    Teori saya nih, banyaknya anak muda yang teriak-teriak di sosial media tentang derita kejombloannya sebenarnya berhubungan dengan pilihan moda transportasi yang mereka pilih sekarang. Motor!

    Kalian sendiri sih yang salah. Kenapa juga pada naik motor ke sekolah dan kampus. Mana bisa ‘negur sayang’ seorang mojang dari atas motor. Kalaupun kamu cukup berani malu, paling ceweknya kabur -karena kamu disangka geng motor –atau disangka mau minta uang parkir …. *sedih

    Ayo, Kang Emil. Katanya peduli pada para jomblo muda. Perbaiki kualitas public transportnya. Sesudah itu biarkan cinta yang bekerja 🙂

    ————–
    PS : Happy 13th anniversary my beloved Fanny. Semoga keluarga kita sakinah mawaddah warahmah. I love you.

  • Memori Seorang Kakak Bersepatu Boots

    Pernahkah punya seseorang yang selalu datang menyapamu di wall Fb dengan sebuah sapaan yang khas? Saya punya. Pak Haji sering kali mampir menyapa posting saya dengan kalimat ‘Sukses terus my brother …’ Untaian kata yang sama, –berulang, –darinya, sering saya terima ketika saya update tentang diri saya di dinding facebook.

    Sejarah hidup kami tidak dimulai dengan mesra. Dulu pernah saya melama-lamakan sholat dzuhur di Masjid Salman gara-gara sebuah kabar bahwa sesudah waktu istirahat kakak-kakak berbadan besar itu akan datang ke studio TPB SR ITB untuk membantai kami. Adik-adik kelasnya yang nekad mencoret-coret poster intimidasi OSPEK buatan mereka. Lama saya berada di dalam masjid, demi menghindari tatapan matanya dan bisepnya yang hampir seukuran paha saya.

    Tapi itu dulu. Dua tahun setelah kejadian itu, kami banyak menghabiskan waktu bertukar kata di malam-malam panjang sambil berkarya. Saya ingat, pertama kali saya belajar merancang mobil, kami ditaruh dalam satu kelompok yang sama. ‘Waduh..’ ujar saya. Bukannya apa-apa, selera kami jelas berbeda. Gaya desain saya tidak pernah sepaham dengan gaya desainnya.

    “Ahhhh, ini fender-nya kecil amet sih. Kalo mobil itu fendernya harus lebar, Ben. Biar gagah atuh.” Begitu biasanya dia mengkritik gambar saya. Debat-debat panjang kami harus lalui sampai akhirnya ada kata sepakat untuk rancangan mobil pertama kami.

    Pada akhirnya, mobil yang kita rancang lebih mirip dengan seleranya -daripada selera saya. Tidak apa-apa. Saya cukup senang dengan debat-debat bergizi selama proses pembuatanya. Lagipula kemudian kami semua dapat nilai A. Semua happy. Case closed.

    Kami berdua kemudian mengambil jalan hidup yang sama. The path of an entrepreneur. Semakin dekatlah kita. Semakin lama kita semakin sadar bahwa ternyata kita tidak terlalu jauh berbeda. Di luar tongkrongan badan kita yang jauhnya bagai Bandung ke Siberia, apa yang ada di kepala -sering kali sama. Pak Haji punya prinsip yang sama dengan saya, bagi kami pengusaha yang lebih tua harus selalu siap menjadi mentor bagi pengusaha-pengusaha muda. Itu sebabnya pintu kantor Pak Haji selalu terbuka bagi anak-anak muda yang menempuh jalur wirausaha.

    Kami berdua juga benci pada tikus-tikus korupsi. Pernah suatu saat Pak Haji memaksa saya meeting dengan beberapa orang pemerintahan untuk urusan sebuah proyek. Pak Haji bilang bahwa orang ini bakal berusaha minta uang syetan. Pak Haji keukeuh bahwa saya harus ikut meeting menemaninya. Katanya, hanya saya yang bisa adu debat dengan orang-orang ini. Pak Haji tahu saya tidak mudah melepaskan uang pada orang macam ini. “Tenang, Ben. Nanti gue bantuin. Lu yakinkan saja pada dia bahwa budgetnya pas, gak boleh dikurangi lagi” pesan Pak Haji.

    Meeting pun berjalan panjang dan bertele-tele, tapi yang pasti berakhir dengan tidak ada uang syetan yang harus terbang ke neraka. Kami pastikan mereka cukup puas dengan voucher pijat family yang dijanjikan Pak Haji. Itu pun dikasih nanti, setelah beres acaranya.

    …… Ujian persahabatan kami terjadi dua tahun yang lalu, ketika kami memutuskan akan berada di rumah yang berbeda dalam urusan pilkada. Saya sempat khawatir, belum pernah saya berada di posisi kontra dengannya -sejak jaman saya sembunyi di dalam Masjid Salman belasan tahun lampau. Saya pun tahu bahwa dia sebenarnya berbagi rasa yang sama : ‘tidak enak pasang posisi kuda-kuda melawan saudara.’

    Tapi Allah memang Maha Tahu apa yang menjadi kekhawatiran hamba-Nya. Di tengah pilkada, tiba-tiba kami berdua dipaksa oleh-Nya untuk tinggal sehotel selama tiga hari untuk urusan sebuah lomba desain di jawa sana.

    Obrolan tiga hari di jawa, membuat saya makin mengerti apa arti kata ikhlas. Hidup memang unik, saya belajar arti keikhlasan dari seseorang Haji gondrong bertato yang sholatnya lebih repot daripada saya. Setelah debat panjang selama dua hari, dengan suara lembut dia berkata, “Ben, saya akan ikhlaskan apapun untuk Bandung. Tidak usah khawatir.”

    Hari ini. Tengah hari saat saya makan siang, dia menyapa saya dengan sebuah doa di dinding Fb, “Sukses terus my brother ….”. Lalu saya tuliskan kalimat pendek, “Aamiin. Terima kasih, Big Bro”. Pak Haji melanjutkan dengan sebuah ide, “Btw tar kapan2 kita colab yu… Untuk Torch dan Comrades… Untuk perlengkapan biker touring.” Saya langsung mengiyakan “Ayo Banget! Keep in Touch.” “Siap…. Respect!!!”, reply-nya.

    Kita tidak sempat berbicara lebih detil lagi. Siang tadi saya dikejar-kejar jadwal mengajar sebuah kelas di Jakarta. Rupanya Pak Haji pun ada jadwal main futsal. Tapi saya senang juga, akhirnya kita bisa kolaborasi lagi. Tidak perlu lah merancang mobil seperti belasan tahun yang lalu. Peralatan biker touring, terasa enak terdengar di telinga.

    Tujuh jam kemudian. Saat saya masih makan malam di Jakarta, kabar itu menyapa saya. Katanya, Pak Haji sudah tiada…… Kembali, Pak Haji mengingatkan sebuah pelajaran berharga: bahwa kita ini hanya mampu membuat rencana.

    Pak Haji Tegep Karyanegara Kami do’akan kubur yang lapang untukmu. Kami do’akan ampunan bagimu. Kami do’akan semoga Allah SWT menerima semua amal baikmu, imanmu dan islammu. Kami do’akan agar keluargamu selalu dijaga oleh Rabb Sang Pemelihara.

    Allahummaghfirlahu, warhamhu, wa ‘afihi wa’fuanhu
    Ya Allah ampunilah dia, berilah dia rahmat dan sejahterakan serta maafkanlah dia

    ————
    ~Tol Cipularang to Bandung, 20 Februari 2016

  • Cinta itu untuk semua. Tua dan Muda.

    Untuk teman2 saya yang masih muda,

    Saya cinta semua anak-anak saya. Mereka semua punya tempat khusus di hati.

    Yang terkecil, dia lahir di umur saya mendekati usia paruh baya. Well, tentu saja semua anak saya bagian dari rencana Allah SWT. Tapi khusus yang ini, lahir di luar rencana kami berdua. Namanya manusia, apalah rencana kita dibandingkan rencana Dia.

    Rupanya ini cara-Nya mensuplai cinta di umur yang hampir tua. Dia tahu, saya tipe manusia yang butuh 1000 dosis vitamin cinta tiap hari.

    Mudah2an gak akan putus rejeki cinta saya dari Sang Pemilik Rasa.

    Memang kalau dipikir2 dosis valentine, gak bakal cukup untuk saya. Mana bisa cinta ‘come and go’ seperti itu saja?

    Kalau kamu pikir, kamu yang muda saja yang punya cinta. Kamu salah berat. Seumur hidup saya kumpulkan cinta dari manusia2 di sekeliling saya. Semakin tua -hati saya semakin kaya akan cinta. Makin bahagialah saya.

    Gak kunjung dapat cinta dari si dia? Jangan ditunggu, paling banter nanti kamu dapat rasa benci: Cinta’s evil twin sister.

    Carilah rencana Allah yang lain yang lebih membuat kamu bahagia. Carilah manusia lain yang lebih murah cinta. Nanti kamu akan diberi cinta lain dalam bentuk makhluk2 lucu seperti yang sedang saya gendong di sini 🙂 Mariiii…

    ~Alhamdulillah

  • Sejarah dan asal kata Kebayoran (lama dan baru)

    Sebagai (mantan) anak Kebayoran Baru, saya jadi geli sendiri baca buku Pak Rachmat Ruchiyat : ‘Asal Usul Nama Tempat di Jakarta’.

    Ternyata nama Kebayoran berasal dari kata ‘kebayuran’ yang artinya tempat penimbunan batang kayu bayur. Pohon bayur adalah sejenis kayu yang baik untuk dijadikan bahan bangunan karena daya tahannya yang kuat terhadap serangan rayap.
    *anak Bandung jangan ketawa … ini bukan ‘bayur’ yang lu pikirin 🙂

    Kayu-kayu gelondongan yang dihasilkan dari tempat yang dulu masih berupa hutan ini, dikirimkan ke Batavia melalui Kali Krukut dan Kali Grogol dengan cara dihanyutkan.
    *agak susah membayangkan bahwa Kebayoran dan Batavia itu dulu adalah dua kota yang berbeda …. dan …. lebih susah lagi membayangkan Blok M adalah hutan ….

    Anyway, setelah saya google dikit ternyata Kali Krukut itu sungai yang mengalir melewati sisi jalan Prapanca, Kebalen, Plaza Semanggi lalu Tanah Abang. Kalau Kali Grogol itu yang ada di belakang PIM lalu ke Gandaria, Senayan lalu ke Grogol. Berarti jaman dulu sungai-sungai ini lebar dan dalam, sehingga bisa dialiri oleh kayu gelondongan.

    Sekitar tahun 1938 di kawawan Kebayoran direncanakan akan dibangun sebuah bandar udara internasional. Tapi gak jadi karena keburu pecah perang dunia II. Sesudah WW II, di tengah-tengah perang kemerdekaan, sekitar tahun 1949, Belanda masih sempat berinisiatif membuat Kota Satelit sebesar 730 hektar yang dirancang untuk dihuni 100.000 jiwa. Nah .. dibangunlah kota satelit bernama Kota Baru Kebayoran.
    *Kalau Kebayoran Baru itu kota satelit, BSD apaan ya? Galaksi lain kah? hahaha ..

    Sampai awal masa kemerdekaan, Kebayoran masih dipimpin oleh seorang wedana dengan wilayah yang luas –sampai Ciputat, bro. Bagi yang gak tau, Wedana itu adalah jabatan di bawah Bupati. Wedana Kebayoran ini bertanggung jawab langsung pada Bupati Meester Cornelis (Jatinegara).
    Oh Iya, Meester Cornelis ini juga awalnya adalah kota satelitnya Batavia. *jadi kebayoran itu … kota satelitnya kota satelit? *gak kebayang ah 🙂

    ~salam dari Bandung untuk teman-teman masa remaja di Ibu Kota

  • Nasihat Ibunda Ridwan Kamil pada anaknya (2013)

    Saya terikat sebuah janji pada salah satu pemimpin saya. Dia dahulu meminta saya untuk bisa menepuk-nepuk bahunya sebagai teman, jika ada suatu saat dirinya dirundung susah dalam mengemban jabatannya sebagai walikota.

    Saya tidak tahu apakah saat ini dia sedang susah. We haven’t talk for a while. Tapi saya tahu, ada banyak pihak yang sedang menyusahkan pikirannya. Oknum-oknum partai yang rakus sedang memaksakan kepentingan politik dan memaksanya untuk bersaing memperebutkan posisi politik yang lebih tinggi. Padahal saya pribadi sih yakin-seyakin-yakinnya bahwa tidak lain yang dikejar politisi ini hanya kuasa dan uang.

    Kang M Ridwan Kamil, saya tidak bisa menepuk-nepu bahu akang saat ini. Tapi saya punya suatu hal yang lebih baik -sebuah memori dari tahun 2013. Tepukan di bahu dan do’a dari orang paling suci untuk akang. Silahkan diresapkan lagi. Semoga bisa menjadi pengingat dan penguat hati.

    Bagi teman-teman yang lain yang juga membaca. Semoga jadi pengingat juga. Watawa saubil haq, watawa saubil sabr : Nasehat menasihati dalam kebenaran. Nasehat-menasehati dalam kesabaran.

     

     

    ================

    Ibunda (Ma’ci), 2013 :

    “Ridwan Kamil lahir di Bandung, digedekeun di Bandung, Sakola di Bandung, dan berarti harus berbakti pada masyarakat Bandung.”

    “Yang penting bersihkan hati, luruskan niat, dan niat itu semata-mata ibadah kepada Allah. Di manapun pada posisi apapun maka semua itu adalah harus merupakan sarana ibadah.”

    “Kalau sudah menetapkan suatu niat, lurus niat dan baik, buleudkeun hate, kemudian Tawakal kepada Allah.”

    “Walikota sebenarnya bukan suatu udagan atau harus diudag-udag sehingga tikokoroseh, tapi yang harus dicari adalah kemuliaan di sisi Allah. Siapapun kita, pada posisi apapun kita, yang harus kita cari adalah kemuliaan di sisi Allah.”

    “Potensi yang ada padanya, ilmu yang ada padanya, apapun yang Allah anugerahkan kepadanya -bisa dibagikan kepada yang lainnya.”

    “Emil tetap menjadi anak mamah. Insya Allah Mamah ngawidian, ngaridhoan.”

    “Emil dan saya adalah manusia biasa, bisa salah dan lupa. Dan sebaiknya kedah silih geuingkeun, wattawwa shobil haq wattawa shobil sabr. Ulah diantepkeun lamun salah. Kalau baik barangkali didukung. Bukan tidak mungkin ada kesalahan atau kekhilafan, jangan dibiarkan. Supaya tidak berlanjut kesalahan tersebut.”

    “Mudah-mudahan ia tetap anak mamah yang terbiasa beribadah. Dan suka sangat berbagi.”

    “Semoga seluruh warga Bandung ini akan masuk ke tempat yang benar dan kemudian akan masuk ke lingkungan yang lebih benar lagi.”

    “Kalaulah nanti Emil dikersakeun ku Allah menjadi walikota, semoga Allah memberikan kekuatan dari sisi Allah dan menolong untuk bisa melaksanakan tugasnya. Dan ulah ngobral janji. Tapi ngajak ka sararea warga Bandung, ‘Hayu Bandung the urang beresihan! … karena itu adalah kerja bersama’.”

    ==========
    video courtesy of Primus Pandumudita

  • Membangun Bisnis, Seperti Janin Tumbuh di Rahim Ibunya

    Minggu lalu saya terinspirasi tentang cara mengembangkan usaha, gara-gara nonton video tentang pertumbuhan janin di rahim ibunya. *videonya bisa dilihat di sini >> https://www.youtube.com/watch?v=0Vv…

    Di antara pikiran mengenai proses biologi yang romantis dan maha dahsyat itu, tiba-tiba saya tersadar kesamaan proses pertumbuhan janin dengan proses yang sedang saya jalani sendiri -proses pertumbuhan bisnis!

    Begini, untuk menjadi manusia baru maka ada beberapa beberapa tahap penting yang harus dilalui :

    1. Persatuan gen orang tuanya
    2. Terbentuk wujud awal
    3. Terbentuknya jantung dan sistem peredaran darah, otak dan tulang belakang
    4. Penyempurnaan sistem syaraf, pencernaan dan organ lain
    5. Awal kemampuan mendengar, melihat dan merasakan
    6. Munculnya kemampuan mengingat dan bermimpi

    Proses di atas adalah sebuah proses alami yang dirancang oleh Sang Pencipta yang menjadi kerangka baku persiapan sebuah organisme baru. Makanya wajar jika organisasi (bisnis) baru pun (sebaiknya) memiliki proses persiapan yang mirip.

     

    1. Persatuan Gen

    Tahukah kenapa manusia membutuhkan sepasang orang tua? Alasannya sederhana: untuk memperkaya gen di dalam diri keturunannya. Makhluk yang berkembang biak dengan metode sexual (kawin) lebih mampu bertahan hidup bandingkan makhluk yang berkembang biak asexual (tanpa kawin), karena selalu menghasilkan turunan yang beragam. Buktinya tumbuhan berbiji (seksual/kawin) seperti mangga, jambu, durian, jeruk, kurma dll –lebih menguasai dunia jika dibandingkan tumbuhan berspora (suplir, paku-pakuan). Turunan yang beragam mampu hidup di dalam kondisi alam yang berbeda-beda.

    Dalam bisnis pun sama. Persatuan orang-orang yang memiliki sifat dan background yang berbeda sangatlah penting, agar usaha kita mampu survive dan adaptasi terhadap perubahan kondisi di dunia bisnis. Jika anda miskin, janganlah terpaku membuat bisnis dengan orang miskin lagi. Buatlah tim yang di antaranya diisi oleh orang kaya.

    Ingat: (Miskin) + (miskin) + (miskin) tidak menghasilkan (kaya).

    This is more likely ==> (Miskin) + (miskin) + (miskin) = (kemiskinan)

    Kalau anda pemberani, coba cari crew yang banyak pertimbangan. Biar selain bisa ngebut di tanjakan, bisnis anda juga bisa ngerem di turunan. Begitu kira-kira

     

    1. Terbentuknya wujud awal

    Seperti juga wujud awal janin, konsep awal bisnis sangat penting. Tapi selalu ingat, bahwa yang kita buat di depan adalah konsep awal. Tidak pernah ada konsep awal yang sama dengan konsep akhir. Biarkan bisnis kita berevolusi menjadi wujudnya yang canggih, serta mampu bertahan dalam masa dan dunianya. Jangan terlalu kaku dengan konsep awal. Ketika lingkungan berubah, maka konsep bisnis pun harus mampu berubah. Bukankah anjing yang hidup di alaska otomatis menumbuhkan bulu lebih tebal?

    Para pembuat konsep yang tergabung dalam departemen R&D dan Merchandising harus mengerti sekali bahwa apapun konsep produk awal yang mereka buat, sebenarnya hanya ‘konsep awal’. Sepanjang perjalanan mereka harus mampu terus berinovasi menyesuaikan produknya untuk konsumen dan lingkungan yang terus berubah. Ingat bahwa departemen pengembangan produk adalah ‘leluhurnya’ departemen marketing dan penjualan. Leluhurnya salah arah, jangan harap turunannya hidup mudah.

     

    1. Terbentuknya jantung dan sistem peredaran darah, otak dan tulang belakang

    Sebelum semua organ lain terbentuk, desain Sang Pencipta akan memastikan bahwa ‘motor’ utamanya sudah mulai bekerja. Jantung akan memompa darah yang menjadi bahan bakar pertumbuhan anggota tubuh lain, melalui sistem peredaran darah. The heart is the key.

    Di dalam bisnis, padanan organ jantung dan sistem peredaran darah adalah sales marketing department dan saluran distribusi. Yes, guys. Pastikan bisnis kamu punya darah dulu sebelum banyak bermimpi! Seorang janin kecil saja mendahulukan kerja jantungnya sebelum kemampuan inderanya

    Jantung tidak banyak gunanya tanpa sistem peredaran darah. Begitu juga perusahaanmu. Pastikan ketika departemen marketing mengeluarkan segala macam ide kreatif untuk mendorong pemasaran, departemen sales juga memastikan produk bisa didistribusi ke banyak tempat. Sehingga produk yang bagus dapat memberi manfaat ke banyak konsumen melalui titik distribusi yang menyebar –lalu ditukar menjadi laba. Laba inilah darah kita.

    Begitu pentingnya penjualan dan branding, salah satu mentor saya menyarankan untuk selalu menggabungkan departemen sales dan marketing di wadah satu payung dan satu pimpinan, terutama di awal membangun bisnis. Agar mayoritas program marketing adalah program yang langsung menghasilkan penjualan.

    Bersamaan dengan berfungsinya jantung, sebenarnya otak, tulang belakang dan sistem syaraf juga mulai bekerja meregulasi semuanya. Tentu dalam bentuk yang masih sederhana -yang penting cukup untuk mengatur kerja seluruh organ lain yang masih muda.

    Jadi penting sekali memiliki sistem dan prosedur yang mengatur proses yang terjadi di dalam organisasi perusahaan. Tentu saja tidak perlu membuat sistem yang terlalu kompleks untuk organisasi yang masih sederhana. Yang penting ada otak, yaitu pemimpinnya.

     

    1. Penyempurnaan sistem syaraf, pencernaan dan organ lain

    Ketika organ-organ dengan fungsi utama telah berjalan, baru organ-organ lain tumbuh menyempurnakan fungsinya masing2. Organ-organ ini harus menyempurnakan diri karena tugasnya semakin lama semakin kompleks. Paru-paru yang awalnya ‘beristirahat’ selama di dalam rahim ibu, harus kerja keras mensuplai oksigen satu detik setelah bayi dilahirkan.

    Hal ini berlaku pula dalam organisasi perusahaan juga. Semua departemen harus bisa mengimbangi pertumbuhan depertemen lain. Tidak ada pelari sprint dengan kaki kuat yang mampu berlari cepat -tanpa paru-paru yang kuat. Tidak ada penjualan yang hebat jika tim R&D-nya woles. Tidak ada tim R&D yang hebat tanpa bantuan Tim Merchansing & Purchasing yang resourceful dan efisien.

     

    1. Awal kemampuan mendengar, melihat dan merasakan

    Rasanya baru satu dekade belakangan dunia medis sadar bahwa interaksi awal orang tua dengan bayi di dalam kandungan ibu ternyata sangat berpengaruh pada kualitas karakter sang anak nantinya.

    Walaupun belum sempurna, ternyata sejak masih di dalam kandungan janin sudah dibekali kemampuan mendengar, melihat dan merasakan. Semua yang kita perdengarkan, yang kita makan dan kita pikirkan adalah rangsangan yang akan membentuk persepsi awal janin terhadap dunia. Semacam latihan awal yang sangat menentukan.

    Maka segera setelah sebuah bisnis mulai berjalan, maka ‘indera perusahaan’ berupa feedback pemasran, feedback kualitas produk dll harus segera mulai bekerja. Konsep usaha/produk/marketing harus segera di-challenge dengan kenyataan pasar. Input positif ataupun negatif adalah masukan awal bagi produk kita. Ketika ada kesalahan, jangan takut untuk membuat perbaikan atau bahkan revisi dari konsep awal. Bagaimanpun juga, kita kan hanya pembuat konsep usaha –yang membeli sih orang lain. Be helpful to guys who are giving you their money.

     

    6.Munculnya kemampuan mengingat dan bermimpi

    Percaya atau tidak, janin yang sudah cukup umur sudah mampu mengingat dan bermimpi. Sampai saat ini, ilmuwan hanya bisa menerka apa yang dimimpikan oleh janin. Kemungkinan besar berputar pada rangsangan di sekelilingnya, seperti bunyi air ketuban, detak jantung ibu, dst. Kesimpulannya ketika semua organ tubuh sudah mulai berjalan, bayi siap memproses input menjadi sesuatu yang baru -bermimpi.

    Sebuah perusahaan pasti dimulai dengan mimpi, tapi tahap paling pas untuk bermimpi adalah ketika semua sistem dasar sudah siap diajak bermimpi. Ketika penjualan mulai terlihat tumbuh, ketika supply bahan baku sudah stabil, ketika SDM mulai lengkap, dll.

    Jadi jangan terperangkap dalam dunia mimpi ketika perusahaan terlalu muda. Mimpinya jadi percuma, sulit direalisasi karena tidak punya sistem dan SDM untuk mewujudkannya. Mimpilah setinggi-tingginya ketika perusahaan sudah mulai punya ‘tenaga’ untuk bermimpi.

    Last but not least, coba cek Surat Al Mukminun ayat ke-13: “Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim)”. Sesuatu yang masih lemah, seperti janin atau start up company, harus disimpan di dalam tempat yang kokoh agar bisa tumbuh. Cari partner yang kuat. Pendiri perusahaan tidak boleh terlalu nyaman terkurung mengulik urusan teknis saja (produksi, purchasing, marketing, dll). Luangkan waktu untuk bergaul mencari tempat yang kokoh. Ikutlah program-program pengembangan usaha, pitching investor, ikut organisasi pengusaha, dll. Intinya : Lindungi janinmu!

    Semoga usahamu barokah, Sob.

    ============

    ~ombenben

    www.torch.id

     

  • Penyiaran Berita Bohong : Ketika “Sharing is Swearing and Scaring”

    *sebaiknya saya mulai dengan mengucapkan Wallahu A’lam Bishawab, terlebih karena ilmu agama saya mah cetek banget.

    Barusan baca surat An Nur. Saya baru sadar. Ternyata surat An Nur itu dari ayat 2, sudah to the point membahas hukuman -tepatnya hukuman bagi pezina. Menariknya, untuk melindungi perempuan, di Ayat 4-7, Allah SWT menegaskan perlunya syarat yang berat jika mau menuduhkan perzinaan: perlu memiliki 4 saksi -atau alternatifnya, bersumpah 4 kali, plus satu tambahan sumpah melaknat diri sendiri jika berbohong.

    Syaratnya berat, ya? Ya, berat lah. Soalnya menuduh itu memang perkara berat, bro.

    Sebagai muslim yang miskin ilmu, saya sekarang berusaha ngaji ditemani sebuah situs tafsir online (silahkan cobain www.tafsirq.com). Dari situ dan beberapa situs lain, saya jadi tahu bahwa ayat-ayat awal surat An Nur ini diturunkan pada Rasul terkait peristiwa tuduhan perzinahan yang dituduhkan oleh Hilal bin Ummayah dan sebuah peristiwa lain yang dituduhkan kepada Aisyah.

    Dua kejadian ini rupanya sempat membuat heboh masyarakat Madinah. Bukan hanya karena salah satu kejadian ‘fitnah besar’ ini menimpa salah seorang istri Nabi, tapi juga karena skala penyiaran berita bohong ini sangat massif untuk ukuran kejadian 1400 tahun yang lalu.

    Nah, justru yang membuat saya agak merinding adalah ayat ke-11 dan selanjutnya. Yaitu peringatan bagi penyebar berita bohong:

    11. “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.”
    12. “Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang Mukminin dan Mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.”
    14. “Sekiranya tidak ada kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu.”
    15. “(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.”
    16. “Dan mengapa kamu tidak berkata, diwaktu mendengar berita bohong itu: “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini, Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar”.
    17. “Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman.”
    19. “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.”

    Well, saya bukan seorang ahli agama, tapi ada yang punya perasaan sama dengan saya enggak? Bahwa ayat-ayat ini terlalu dekat dengan kehidupan on-line kita? Gaya berita ‘yang penting banyak diklik’, atau hobby ‘share tanpa re-check’ dan ‘copas dari kamar sebelah’. Yang ternyata lebih banyak hoax daripada kenyataannya.

    *IMHO, kamar sebelah sampai kapan pun tidak bisa dijadikan referensi yang bisa diandalkan. Pernah ngebayangin gak ngebaca catatan kaki skripsi : ‘Sebelah, Kamar. 2015. Balai Pustaka, Jakarta’ …. hahaha .. gak akan lulus sidang, dijamin.

    *Yakin mau share?

    ==========

    *kejadian yang menimpa Hilal bisa dibaca di sini >>http://www.syahida.com/…/asbabun-nuzul-sebab-turunnya-aya…/…

    *kejadian yang menimpa Aisyah’ bisa dibaca di sini >>http://www.syahida.com/…/asbabun-nuzul-sebab-turunnya-aya…/…
    atau
    http://tafsirq.com/24-an-nur/ayat-11#tafsir-jalalayn

  • Adakah Situasi Ketika Aturan Tidak Perlu Ditegakkan?

    Kasihan ibu saya. Ketika kami mulai masuk sekolah menengah atas, ada karakter khas yang muncul di dalam diri kedua anaknya. ‘Iseng!!’ Ya, saya dan kakak sering terlibat masalah karena keisengan kami di masa remaja.

    Kami tidak pernah berniat jahat. Gak ingin menyakiti siapapun. Hanya ingin mencoba sesuatu yang baru, penasaran dan bersikap spontan. Tapi kadang-kadang berakhir dengan melanggar aturan yang ada, dan sesudah itu seperti pelanggar aturan yang lain, kami kena hukum.

    Kakak saya, berumur dua tahun lebih tua dari saya. Tentu dia lebih dahulu berhadapan dengan para penegak hukum di sekolah: guru-guru. Seingat saya dia pertama kali diskors karena main lempar-lemparan makanan di dalam kelas. Skorsing ke-dua dia terima karena refleksnya menyikut salah satu guru, yang konon dia sangka temannya sendiri. *terus emang kalau temannya sendiri boleh disikut? pembelaan diri yang lemah … hehehe

    Penyebab skorsing pertama saya bisa dibilang lebih ringan. Hanya karena main volley, saya terkena skors. Soalnya saya main volley di mata pelajaran matematika. Mau dibilang apa? Saya seneng sekali main volley di jaman itu.

    Saya bisa lebih menerima alasan kenapa guru-guru memberikan skorsing ke-dua. Pada waktu itu saya tidak sengaja membakar separuh ruang OSIS menggunakan lem Aica Aibon. Demi Allah, itu ketidaksengajaan. Saya bukan seorang pyromania.

    Pagi itu, setelah upacara serah terima pengurus OSIS kepada pengurus baru, saya mendapati diri bosan menunggu pengurus-pengurus OSIS yang lain. Lalu saya menemukan sekaleng kecil lem cair Aibon tergeletak di samping saya. Entah kenapa, saya langsung membuka kaleng kecil tersebut dan tidak sengaja mencium aroma uap khas yang keluar dari dalamnya. Walaupun di luar kaleng ada tulisan ‘Flammable‘, mudah terbakar.  Entah kenapa, saya malah penasaran. “Jika lem ini mudah terbakar, apakah berarti uapnya juga mudah terbakar?” Tanpa berpikir panjang saya meminjam sebuah lighter, memegang kaleng kecil itu dengan tangan kiri dan melewat-lewatkan api lighter di atas kaleng lem Aibon yang separuh terbuka dengan tangan kanan.

    Kejadian selanjutnya terjadi di luar dugaan. Saya berhasil membuktikan bahwa uap Aibon ternyata mudah terbakar. Ketika mulai terbakar dia mengeluarkan bunyi ledakan kecil ‘BLUP!!!’ yang membuat saya kaget. Refleks, tangan kiri saya langsung melempar kaleng kecil yang menyala tersebut. Kaleng berwarna kuning tersebut jatuh satu meter dari kaki kaki saya. Sebagian lemnya yang merah menyala tumpah di atas karpet yang melapisi ruang OSIS.

    Api tidak mungkin menyala tanpa oksigen”, pikiran itu langsung terlintas di kepala saya. Saya langsung mengambil sebuah makalah tebal dari atas meja yang langsung ditutupkan ke atas kaleng yang menganga. Sialnya saya tidak mampu menutup kaleng tersebut dengan cukup rapat karena terganjal oleh tutup kaleng yang masih tergantung di sebagian sisi atas kaleng. Alih-alih apinya padam, yang saya dapati adalah sebuah kaleng yang tetap menyala dan sebuah makalah yang terbakar api.

    Salah seorang teman baik saya kemudian datang menolong. “Minggir, Ben. Yang penting kita keluarin aja dulu kalengnya dari dalam ruang OSIS!” Masuk diakal! Seluruh ruang OSIS memang tertutup karpet murah berwarna abu-abu. Mudah sekali terbakar. Lebih baik api dijauhkan dahulu dari karpet ruang OSIS. Satu detik kemudian dia menendang kaleng panas tersebut ke arah pintu yang berjarak sekitar 5 meter. Tendangannya hampir akurat. Kaleng tersebut menyentuh daun pintu dan tergeletak hanya beberapa centimeter dari ambang pintu.

    Yang tidak terpikir oleh kami berdua adalah dalam perjalannya melambung ke arah pintu, sebagian lem dari dalam kaleng tsb berceceran membentuk garis putus-putus yang justru membakar karpet di bawahnya –persis seperti jejeak Napalm Bomb. Satu tendangan lagi akhirnya berhasil mengeluarkan kaleng dari dalam ruangan. Kembali, sialnya, sebagian sepatu-sepatu yang parkir di luar ruangan malah menjadi korban selanjutnya. To make it worse, kaki yang digunakan untuk menendang kaleng oleh teman saya pun terkena tumpahan lem yang membakar celana panjang dan kakinya. Wahhh … repot lah.

    Setelah akhirnya kami berhasil memadamkan karpet ruang OSIS yang rusak dimakan api, saya dijewer oleh guru olahraga menuju ruang wakil kepala sekolah. Saya sebenarnya cukup kenal dengan wakil kepala sekolah, karena saya beberapa jam yang lalu masih menjabat sebagai wakil ketua OSIS. Baru beberapa jam saya meletakan jabatan dan seharusnya dengan elegan ikut menghadiri rapat serah terima jabatan di ruangan -yang sayangnya, tidak sengaja saya nyalakan dengan api. Pak Wakasek hanya bisa geleng-geleng kepala. Dia sempat berkata, “Ben, kamu ini gak rela ya turun dari jabatan OSIS?” Duhhhh …. Gak lucu pak … emangnya saya sengaja apa membakar ruang OSIS? Well, sengaja atau tidak sengaja, saya harus hadapi konsekuensinya. Dua hari di-skors dan dipanggil orang tuanya.

    Tentang orang tua yang dipanggil guru, sebenarnya ‘masalah dan tidak masalah’ untuk saya. Semua anak pasti gemetar ketika harus memberikan surat panggilan dari sekolah. Tapi bapak-Ibu saya terbilang sabar menghadapi konsekuensi keisengan anaknya. Terutama karena saya memiliki track record yang masilh lebih baik dibandingkan kakak saya.

    Sekitar dua tahun sebelum tragedi terbakarnya ruang OSIS, kakak saya sempat berulah yang membuatnya di-skors ke-tiga kalinya! *whatt? ke-tiga kalinya?

    Penyebabnya pun bukan suatu yang membahayakan atau berdampak fatal bagi siapapun –seperti penggunaan narkoba atau tawuran –atau membakar ruang OSIS … hehehe. Mau tahu penyebabnya? Kakak saya tertangkap menggunakan payung saat upacara bendera di hari senin. *Jiahhhh … gak keren banget. Setahu saya sih sebenarnya bukan hanya dia yang sempat berpayung pada saat upacara tersebut. Jadi kayaknya payung tersebut sempat berpindah-pindah tangan selama upacara. *kejadian detailnya harus dikonfirmasi pada alumni-alumni sekolah di Bulungan tahun 92. Tapi mungkin kakak saya lah yang memang saat itu harus menanggung konsekuensi paling berat, karena dia lah yang tertangkap tangan sedang memegang payung oleh gurunya di tengah lapangan.

    Mengetahui anakanya terancam dikeluarkan dari sekolah, Ibu saya tentu kalang kabut. Sekolah memang bisa sangat kejam. Sekolah tidak peduli apakah pelanggaran yang dilakukan berat atau ringan, yang pasti skors ke-tiga berarti juga skors selamanya. Aturan adalah aturan. Melanggar aturan berarti harus siap menerima konsekuensinya. Kakak saya harus menerima surat pemecatan, dan dikeluarkan satu minggu sebelum EBTANAS (UN, kalau sekarang sih).

    Saya ingat sekali betapa repotnya ibu saya, ditengah sibuknya bekerja di Jakarta yang hiruk pikuk penuh macet, dia harus pula bolak-balik ke sekolah berusaha menyelamatkan anaknya dari takdir gelap.

    Berdebat dengan pihak sekolah merupakan hal yang berat. Sekolah sering kali keberatan memberikan pengecualian dalam penegakan sebuah aturan. Sekolah selalu khawatir bila mereka membuat pengecualian maka nanti akan menjadi preseden buruk di mata siswa yang lain. Sekolah punya muka juga untuk diselamatkan.

    Namun ibu saya kenal baik anakanya. Di luar kenakalannya, kakak saya punya banyak sekali potensi yang tidak bisa mekar di dalam kelas. Akan berakibat buruk jika kakak saya hidup terlalu lama di lingkungan yang tidak bisa memekarkan potensi-potensi itu. Untuk ibu saya, kakak saya harus lulus di tahun itu dan melanjutkan ke sekolah yang dia inginkan. Mengulang kelas tiga di sekolah lain sebagai veteran (anak yg tidak naik kelas) hanya akan merusak rasa percaya dirinya.

    Ibu saya bercerita pada saya, malam hari setelah keputusan dari sekolah akhirnya dikeluarkan. Saat itu ibu saya harus berhadapan dengan guru BP (Bimbingan dan Konseling) sekaligus Kepala Sekolah. Sekolah tetap bersikeras bahwa kakak saya tidak bisa diberikan pengecualian. Walaupun berjarak hanya seminggu dari hari terakhir sekolah, kakak saya harus menerima surat pemecatan, pindah sekolah dan mengulang kelas tiga di sekolah lain.

    Untungnya ibu saya bukan tipe mudah menyerah di hadapan kesulitan. Walaupun sulit dia harus memberikan usaha terakhirnya demi anaknya yang memang agak nakal. Dia dihadapkan pada dua pilihan: (satu) ajari anaknya tentang jiwa ksatria dengan menyuruh anaknya untuk siap menerima konsekuensi hukum dari tindakannya; atau (dua) selamatkan anaknya saat ini, lalu ajari dia tentang jiwa ksatria, dengan memperlihatkan bahwa hukum harus ditegakkan dalam usaha mewujudkan kebaikan.

    Bagi ibu saya pilihannya jelas, kebaikan harus menjadi alasan setiap hukuman. Mungkin bagi ibu saya, yang seluruh pendidikan menengah, S1 dan S2-nya dihabiskan mempelajari dunia pendidikan, aturan dan hukum hanyalah salah satu alat untuk mendidik –bukan satu-satunya. Masih banyak alat pendidikan efektif yang lain yang bisa digunakan sesuai situasi dan kondisi. Misalnya penghargaaan (reward), panutan (role modeling), refleksi, dan sebagainya.

    Kata-kata terakhir ibu saya pada pihak sekolah kurang lebih seperti ini “Anak kami bersalah dan tidak boleh diperlakukan spesial. Tapi bapak dan ibu guru duduk di sini karena tugas mulia untuk mendidik setiap anak -termasuk anak kami. Jika anak kami dipecat satu minggu sebelum ujian akhir dan harus merasakan pahitnya mengulang masa kelas tiga di sekolah lain sebagai anak baru, kira-kira pendidikan seperti apa yang kita ajarkan kepada dia? Bahwa hidup itu kejam? Tidak kah itu hanya akan membuat cermin dirinya pecah? Bisakah kita memberikan hukuman yang akan berdampak baik bagi dirinya? Bukan karena dia spesial, tapi karena tugas utama kita adalah mendidik -bukan menghukum.”

    Alhamdulilah, sekolah akhirnya menemukan hukuman yang lebih baik bagi masa depan kakak saya. Dia akhirnya mendapatkan hukuman skors satu minggu penuh. Dia tidak boleh menghadiri kegiatan belajar sampai waktu ujian EBTANAS tiba. Dia lulus dengan nilai biasa saja. Satu tahun kemudian dia terbang ke luar negeri dengan mendapatkan beasiswa ratusan juta rupiah dari sebuah maskapai penerbangan -dan pulang kembali ke negara ini dengan sebuah titel bergengsi “Top Academic”. Setahu saya, sejak itu kakak saya belum pernah di-skors lagi, oleh siapapun, di manapun. Dia sekarang salah satu orang paling disiplin yang saya kenal. Hidup memang aneh. Terima kasih, ibu-bapak guru. Thanks a lot, Mom.

    ———-

    foto diambil dari : www.moroccoworldnews.com

  • Menggunakan HP Lola Sebagai Alat Anti Sogok

    Mau bagi pengalaman nih. Kejadiannya sekitar dua tahun yang lalu, ketika saya ngurus surat keterangan domisili perusahaan di kecamatan. Awalnya, rekan saya dari bagian legal bilang bahwa saya harus menyiapakan uang sekitar 1,5 juta untuk pembuatan surat tersebut. Saya ingat komentar saya waktu itu, “Mahal amet pak, selembar doang?” Yang kemudian dijawab oleh rekan saya, “Emang biasanya dari pengalaman memang diminta segitu, Kang Ben.” Namun ketika saya tanya apakah itu biaya resmi, rekan saya langsung berkata bahwa itu bayaran tanpa kuitansinya … waaah ….duit siluman dong.

    Kebetulan saya punya dendam kecil pada salah satu staf kecamatan di sana. Dulu saya pernah membuat Kartu Keluarga dan ‘dikerjain’ dengan disuruh bayar uang pelicin agar selesai dengan cepat. Kecil sih, tapi dongkol juga.

    Berbekal semangat gak mau dikerjain lagi, saya volunteer pada bagian legal agar saya saja sendiri yang mengurusnya. Targetnya adalah bayar nol rupiah untuk tarif ‘jurig’-nya.

    Setelah browsing-browsing internet dan tanya sana-sini, minta izin tetangga, tanda tangan Pak RT dan RW di lokasi, lalu berkas pun dimasukan, terakhir proses pun naik dari kelurahan ke kecamatan. Di sini mulai dapat ‘sinyal-sinyal’ gak enak dari salah satu staf, seperti ‘titip ke saya aja mas, biar saya yang urus’. Semacam gitu deh. Tapi saya acuhkan karena saya harus ngurus sendiri sampai sampai tuntas di kecamatan. Kembali ke target nol rupiah tadi lah.

    Ternyata proses berjalan cukup lancar. Gak sesusah itu juga. Yang penting kuat iman. Kalau ada yang ngasih sinyal gak bener, yaaa … acuhkan saja.

    Sampai terakhir saya ditelepon untuk datang lagi ke kecamatan. Katanya suratnya sudah siap. Tinggal ditandatangan dan diambil. Tapi entah kenapa saya merasa gak enak dengan janji pengambilan tersebut. Rasanya ada yang salah. Jadi saya pikir saya harus punya rencana matang bagaimana kalau diminta biaya siluman oleh oknum yang nakal.

    Cara yang kepikiran oleh saya adalah dengan merekam percakapan dengan HP. Saya pikir kalau ada yang ngajakin gak bener, saya akan kirmkan saja rekaman percakapannya ke Walikota yang dulu baru naik jabatan, Kang M Ridwan Kamil.

    Sayangnya, pas di hari H ternyata gak selancar jaya yang saya harapkan. Belum sempat saya setting HP untuk merekam, saya sudah diminta masuk ke sebuah ruangan terpisah. Waduh gak enak perasaan nih, kenapa harus masuk ruang terpisah? Parahnya HP saya malah ‘Lola’ (Loading Lama) di waktu yang genting.

    Terpaksa saya improvisasi. Saya membuat beberapa gestur corat-coret di layar HP saya (yang sebenernya gelap), lalu saya taruh di tengah meja antara saya dan Bapak Staf. Mirip seperti wartawan yang sedang merekam wawancara dengan narasumbernya. Si Bapak Staf, langsung melototin HP saya, tapi gak berani tanya sebenernya apa yang sedang saya lakukan. Melihat si Bapak berhasil termakan akting saya, maka saya makin panas. Setiap kali Bapak Staf berbicara tentang sesuatu, saya melirik pendek ke arah HP di tengah meja. Obrolan yang awalnya tentang jenis usaha saya, kemudian jadi melebar kemana-mana dan kurang jelas arahnya. Tapi yang penting gak ada obrolan apapun tentang biaya 1,5 juta.

    Akhirnya setelah 20 menit-an. Si Bapak bilang, “Ok deh pak. Cukup. Saya ambil dulu suratnya ya. Sudah ditandatangan kok sama Pak Camat.” Wahahah … bahagianya … bermodalkan HP Lola saya berhasil menangkis ajakan korupsi … Beneran deh … Bahagianya setara dengan menang lotre, bro!

    Harus dibiasakan nih. Lain kali kalau buat KTP atau SIM atau surat apa lah, kayaknya kita musti berani bilang ” Bikin KTP-nya ‪#‎GakPakeKorupsi‬ya, Paaak!” ‪#‎Prung‬

  • Cara mendownload semua data pribadi, post, aktifitas, foto dan video di FB

    Friendly Reminder : JAGA BAIK-BAIK KEAMANAN AKUN FACEBOOK MASING-MASING, yaaa! Karena ternyata di Fb ada fasilitas untuk men-download semua (ya, SEMUA!) data facebook pribadi kita. Saya nyobain mendownload data saya pribadi pagi ini, ternyata semua data termasuk info pribadi, wallpost, aktivitas, tulisan, foto-foto, video dari jaman saya mulai pakai facebook dapat didownload dalam bentuk *.zip yang besarnya cuman puluhan MegaBytes.

    Mau coba? Silahkan masuk ke sini dulu >>https://www.facebook.com/note.php?note_id=10150118571353989

    Sebelumnya Facebook akan menanyakan password akun anda, lalu menyuruh anda menunggu email konfirmasi dan email download link pribadi anda. Link ini juga hanya aktif dalam hitungan hari -demi keamanan.

    Data kita akan didownload  dalam bentuk file terkompresi (*.zip). Gunakan Winzip, WinRar atau 7zip untuk uncompress file tersebut, maka kita akan mendapatkan arsip data akun facebook dalam berbagai format yang yang berbeda:

    • Posting status, reply, setting, meseges, friends dan lain2 akan disimpan dalam bentuk file HTML
    • Foto akan dipisahkan menjadi file-file dalam folder sesuai album dan waktu posting
    • Video juga akan dipisahkan dalam folder yang berbeda
    facebook wallpost
    Tampilan file *.html lokal wall facebook saya
    facebook data photo 2
    kumpulan folder-folder foto dari facebook

    Menarik juga sih. Sekarang saya bisa lihat baik-buruk kelakuan saya di facebook. Tapi kebayang kan akibatnya kalau yg download adalah orang lain yang meretas akun anda? *Jangan sampeeee..