Author: ombenben@gmail.com

  • Hilangnya Situ Aksan dan Banjir Pagarsih. Benarkah berhubungan?

    Baru tiga hari yang lalu saya mendapatkan kabar bahwa akhirnya di bawah koordinasi Propinsi Jawa Barat, 5 kota/kabupaten dan Lembaga Negara menandatangani kesepahaman untuk mengkoordinasikan penanganan potensi banjir secara bersama-sama, … eh muncul broadcast WA yang juga lumayan viral. Katanya ditulis oleh Pak Hardjono, mantan pejabat BPN yang mengetahui set plan Bandung.

    *routine check: saya coba googling keywords ‘Hardjono’ dan ‘BPN’ tapi tidak menemukan pejabat di BPN Bandung bernama tersebut. Walaupun ada kakanwil BPN Banten dan Bengkulu bernama Hardjono. Saya tidak tahu apakah itu orang yang sama.  Rekan-rekan mungkin ada yang kenal? salam hormat pada beliau.

    penanganan-banjir-jawa-parahyangan

     

    Berikut isi broadcast tersebut :


    Renungan sejenak .. ini tulisan pa Hardjono mantan pejabat BPN yg sangat mengetahui riwayat tanah dan set plan pembangunan di kota bandung.

    Banjir Pagarsih dan Lenyapnya Situ Aksan

    Dulu ketika terjadi letusan Merapi tahun 2010, mengakibatkan banjir lahar dingin yang memutus jalur perjalanan Jogja-Magelang. Semestinya, air banjir di Kali Putih tidak perlu naik ke jalan raya, karena tidak jauh dari tempat tersebut, sudah terdapat jalur sungai yang cukup dalam tempat air seharusnya mengalir. Kemudian, baru diketahui bahwa arah alir sungai tersebut adalah baru dan buatan manusia, merubah arah alir sungai asli yang kemudian ditutup. Maksudnya baik, aliran sungai dibuat lurus, tanpa kelokan. Realitasnya air punya logikanya sendiri, ia mengalir mengikuti jalur alamiahnya. Akhirnya, BNPB selaku pengampu penanggulangan bencana, mengalah mengeruk kembali jalur sungai yang lama, dan membangun jembatan yang sama sekali baru. Berdampingan dengan jembatan lama.

    Dalam kasus banjir Pagarsih, saya heran dengan logika masyarakat Bandung yang selalu “hanya” menyalahkan pembangunan di daerah Utara yang dianggap sebagai salah satu faktor penyebab banjir di bawahnya. Mereka lupa, bahwa air banjir di Pagarsih hanya mencari kembali wadah alamiahnya yang sekarang tinggal nama, yaitu Situ Aksan. Sebuah danau dan rawa alamiah, yang sekira hingga limapuluh tahun yang lalu masih jadi salah satu obyek wisata di Bandung. Sekarang nyaris tak berbekas, karena konon pelan2 menyusut, mengering, dan akhirnya menjadi bangunan hunian, pabrik, dan berbagai fasilitas publik lainnya. Padahal dulu orang bisa berlayar di tengah-tengah danau. Situ Aksan pun menjadi penampung air bagi wilayah di sekitarnya saat musim hujan seperti, kawasan Pasirkoja, Holis, maupun Pagarsih.

    Situ Aksan adalah jejak danau Bandung purba, yang oleh pemerintah Hindia Belanda tersebut dijadikan kawasan konservasi. Pada zaman kolonial dikenal dengan nama Westerpark. Adapun jalan yang ada diberi nama Westerparkweg (sekarang Jalan Suryani). Situ Aksan bagi kolot baheula pernah menjadi objek wisata favorit hingga era 1950-1960-an. Jadi bila, sekarang banjir terjadi demikian dahsyat, jangan mudah menyalahkan anomali cuaca, hujan yang ekstrim, atau apa pun. Karena itu hanya semakin menunjukkan kita makin kurang arif dan justru memusuhi alam lingkungan kita. Alam selalu bersikap adil, ia punya logikanya sendiri. Air yang jadi banjir itu, dan berkali2 membuat mobil2 mengapung hanyut seolah sampah jalanan itu. Hanya sebuah penanda yang mengingatkan bahwa air juga punya jalannya sendiri. Air sebagai sumber kehidupan manusia, hanya ingin menunjukkan apa dan dimana tempat yang pernah menjadi rumahnya. Dan entah apakah orang Bandung kiwari masih berani mengembalikannya lagi!


    (back to ben)

    Mohon maaf. Saya tidak meragukan niat baik penulis yang mengingatkan akan pentingnya menjaga wadah alamiah air, seperti danau alami di lingkungan kota, tapi saya agak meragukan akurasi broadcast tersebut.

    Saya kebetulan menikah dengan salah satu cicit dari H. Mas Aksan. Ibu mertua saya tinggal di lingkungan Situ Aksan sejak beliau kecil. Ada banyak cerita masa kecil dan masa muda beliau yang tampaknya ‘tidak akur’ dengan kesimpulan broadcast WA tersebut. Di antaranya:

    1. Ibu mertua saya sudah sering berjalan kaki menembus banjir di Pagarsih ketika pulang-pergi sekolah di kala hujan lebat pada tahun 1960an. Ayah mertua saya bahkan bercerita bahwa di tahun 50-an, beliau sudah memperhatikan bahwa air sungai di sisi Jalan Pagarsih pada saat hujan, sudah mulai naik setinggi level jalan.  *see my post other post here 
    2. Situ Aksan sendiri sebenarnya mulai menghilang (di-kering-kan oleh banyak pihak) pada era 70an. Sebelumnya, di awal tahun 1970, ayah mertua saya masih sempat mengajak pacarnya (cieee.. calon ibu mertua saya nih!) untuk berwisata di Situ Aksan. Tapi ditolak oleh sang cewek, karena ibu mertua saya bosan lah main di Situ Aksan. *ibu ‘kan rumahnya di situ juga. boring kali’ … dari jaman dulu deketin cewek memang butuh usaha ekstra 🙂 btw, saya dengar cerita ini dari istri tersayang. #kode

    Jadi agaknya sulit disimpulkan bahwa salah satu penyebab banjir di Pagarsih adalah hilangnya Situ Aksan. Karena banjirnya telah mulai terjadi satu-dua dekade sebelum situ-nya kering.

    Saya pribadi cenderung mencurigai masalah utamanya adalah mulai terpotong dan ter-belok-kannya aliran sungai di sana –mengikuti rencana pembangunan perumahan dan pertokoan oleh Pemerintah Kolonial Belanda.

    Coba deh lihat arah ruas sungai yang sejajar dengan Jalan Pagarsih tersebut. Alirannya mengalir dari barat ke timur. Padahal secara natural aliran sungai sebelum dan sesudah ruas tersebut mengalir dari Utara ke Selatan. Wajar kan, kalau keberadaan bangunan di sana membuat semacam ‘labirin beton’ bagi aliran air. Aliran air  akan cenderung terhambat. Terlebih setelah wilayah sebelah utaranya semakin banyak bangunan-bangunan baru. Maka makin sedikit air terserap oleh tanah dan semakin tinggi debit air di permukaan tanah. Banjir. *asuransi mobil makin laku deh 🙂

    Hal lain yang membuat saya meragukan akurasi broadcast WA di atas adalah sebuah artikel Pak  T. Bachtiar, seorang Geograf – Kelompok Riset Cekungan Bandung, yang pernah diterbitkan di Harian Pikiran Rakyat tanggal 5 Juli 2010. Kebetulan saya pada tahun itu ikut membantu Pak Bachtiar untuk mewawancarai para narasumber di lingkungan keluarga Aksan.

    Kesimpulan Pak Bachtiar, yang ditunjang lebih banyak data, lebih meyakinkan bagi saya. Somehow, data-data yang digunakan terasa lebih sahih : tinjauan peta topografi 1882, buku Gids Van Bandoeng en Midden-Priangan karya A.A. Sitsma dan W.H. Hoogland tahun 1927, Peta ‘Bandoeng Town Plan’ tahun 1933, serta wawancara dengan saksi-saksi sejarah.

    Saya sempatkan menulis ulang artikel Pak T. Bachtiar tersebut ke dalam bentuk digital, yang saya sadur di bawah ini.

    p_20161113_091222_1

     


    Situ Aksan, Bekas Galian Lio Batu Bata
    ditulis oleh T. Bachtiar
    Pikiran Rakyat, 5 Juli 2010

    Situ Aksan adalah kenangan banyak orang yang terpatri abadi dalam hati. Begitu banyak warga kota masih menyimpan kenangan tentang Situ Aksan di laci hatinya dan bila dibuka sedikit saja, akan keluar menjadi kenangan yang tiada akhir untuk dibicarakan. Tentang kenangan di Situ Aksan ini pernah dimuat dalam Pikiran Rakyat, 19 April 2010, yang mengisahkan bagaimana Situ Aksan menjadi kenangan banyak orang dan menjadi sumber inspirasi banyak penciptaan karya seni, musik, seni rupa, dan film.

    Sudah lebih dari empat buku tentang Bandung yang terbit, tetapi sangat sedikit yang membahas asal usul tempat rekreasi air yang melegenda itu. Pada umumnya hanya menyebutkan bahwa Situ Aksan merupakan sisa terakhir Situ Hyang atau Danau Bandung Purba.

    Pembaca jarang ada yang mempertanyakan, betulkah Situ Aksan adalah sisa terakhir Situ Hyang?

    Bila mengamati Peta Topografi tahun 1882 dengan skala 1:20.000, di sana tidak terdapat situ karena sebagian besar lahannya sudah menjadi sawah dan perkampungan. Dalam peta tersebut, di sekitar tempat yang kemudian menjadi Situ Aksan, sudah ada Lembur Dunguscariang yang memanjang utara-selatan mengikuti aliran sungai di Sisi baratnya dan beberapa mata air di sebelah utara perkampungan yang kemudian dibelah Jalan Raya Barat. Ke timur sedikit dari Dunguscariang, dipisahkan oleh hamparan sawah, terdapat Lembur Andir di utara jalan, dan di selatan jalan terdapat Lembur Sukahaji dan Citepus.

    Lebih ke selatan dari Lembur Dunguscariang, terdapat Babakan Sukebirus yang masih dikelilingi persawahan sangat luas yang melebar ke timur hingga Bojongloa dan Astanaanyar, ke Selatan hingga di Cibaduyut. Perkampungan di tengah-tengah persawahan mengäkuti jalan yang menghubungkan Jalan Raya Barat di utara dengan Sekebirus di selatan.

    Dalam peta tahun 1882 itu, Jalan Pagarsih belum dibangun. Jalan Kalipah Apo dari arah Jalan Astanaanyar, berakhir di ujung barat jalan, lalu berbelok ke utara menuju Jalan Raya Barat. Jadi, dalam Peta Topografi tahun 1882 belum terdapat Situ Aksan. Perencanaan dan pembangunannya baru sampai Astanaanyar-Cibadak di barat, Tegallega di selatan, dan sedikit ke utara dari rel kereta api.

    Demikian juga dalam buku Gids van Bandoeng en Midden-Priangan yang disusun oleh S.A Ritsma dan W.H. Hoogland, terbit tahun 1927. Dalam buku panduan wisata yang terperinci itu, juga belum tercantum Situ Aksan. Ini salah-satu bukti bahwa Situ Aksan belum ada sampai tahun 1927.

    Baru pada peta Bandoeng Town Plan tahun 1933, Situ Aksan ada dalam perencanaan Kota Bandung, di sisi paling barat. Pemerintah saat itu membangun fasilitas jalan mengelilingi situ untuk mendukung pengembangannya. Wester Park Weg di sisi barat situ menerus hingga Jalan Raya Barat, sekarang menjadi Jalan Suryani, jalan di sisi timur situ sekarang menjadi Jalan Pagarsih Barat, dan jalan menerus ke utara sampai ke Jalan Raya Barat, sekarang menjadi Jalan Nawawi. Di utara situ terdapat Aksan Weg, sekarang Jalan Aksan. Jalan Kalipah Apo yang semula berakhir di Jalan Astanaanyar, dalam perencanaan tahun 1933 itu diteruskan hingga menembus Sisi timur Situ Aksan, dinamai Jalan Pagarsih.

    Di antara rentang waktu 1882-1933 itulah terdapat perubahan bentuk lahan yang semula sawah menjadi situ. Apakah ada kesengajaan untuk membuat situ atau ini merupakan contoh reklamasi yang berhasil dari bekas galian tanah menjadi objek wisata air yang melegenda?

    Kalau mengamati sejarah pembangunan gedung-gedung dan perumahan di Bandung, tidak terlepas dari usulan dari seorang ilmuwan dan petualang Dr. Ir. R. van Hoevel yang mengirim surat kepada Gubernur Jenderal N.J. Duymaer van Twist di Batavia. Surat itu berisi, “Mungkin Paduka Yang Mulia tahu bahwa saya telah tergoda oleh angan-angan untuk mendirikan kota besar di dataran tinggi Bandung sebagai suatu koloni bagi bangsa Eropa. Banyak orang menentang pendapat saya, bahkan menyebutnya ilusi dan khayalan yang terlalu diidam-idamkan. Namun saya yakin, cita-cita itu akan terwujud. Adapun selama ini Yang Mulia, karunia Tuhan dalam bentuk keajaiban alam yang terjadi di Gunung Tangkubanparahu, menjadi percuma karena tiada manusia yang melihat, merasakan, dan menikmatinya, kecuali beberapa pengelana yang tersesat seperti saya. Hanya alamlah kemudian yang memiliki kekayaan dan keindahan tak terhingga di sini, akan mewujudkan angan-angan saya yang kelak akan dikenal dan dihargai orang. (Dalam Haryoto Kunto, 1996).

    Surat R. van Hoevel itu telah meyakinkan Pemerintah untuk membangun Bandung dan memindahkan ibu kota Priangan ke kota yang mulai tumbuh itu. Secara bertahap pembangunan Bandung mulai terlihat, dibangun Pusat Garnisun Militer, Pabrik Kesenjataan, Departemen Pertahanan, dan Pangkalan Udara Andir menjadi Pangkalan Udara Militer pada tahun 1914.

    Berlandaskan surat Perintah Heman Willem Daendels, 25 Mei 1810, Bupati Wiranata Kusümah Il kemudian memindahkan ibu kota Kabupaten Bandung dari Dayeuhkolot ke lokasi Alun-alun Bandung sekarang. Baru pada tahun 1854 Bandung menjadi ibu kota Priangan.

    Dalam rentang waktu 1918- 1920, pembenahan dan pembangunan Kota Bandung semakin kuat karena kota ini direncanakan menjadi ibu kota Hindia Belanda. Sedikitnya terdapat seratus gedung kolonial di Kota Bandung, seperti yang dimuat dalam buku dokumentasi Bangunan Kolonial Kota Bandung yang terbit tahun 2001 oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Jawa Barat. Kalau dikelompokkan berdasarkan tahun pembangunannya;

    antara tahun 1860-1890 dibangun 12 gedung
    antara tahun 1902- 1917 dibangun 17 gedung, dan
    puncaknya antara tahun 1920-1930 dibangun 36 gedung.

    Pembangunan terbanyak pada tahun 1920 sebanyak 13 gedung.

    Belum termasuk pembangunan perumahan, seperti di daerah Kosambi, Jln. Taman Pramuka, sekitar Lapangan Udara Andir, di Cihapit, Sukajadi, dan sepanjang Jln. Riau.

    Sebagai pengusaha, H. Mas Aksan melihat rencana pembangunan gedung-gedung dan perumahan itu sebagai peluang usaha. Maka, ia memanfaatkanlahan sawahnya menjadi lio, tempat dan sumber bahan mentah pembuatan bata merah.

    Dapat dihitung kasar, berapa kebutuhan bata merah kalau satu rumah yang dibangun membutuhkan antara 20.000-25.000 bata merah? Pastilah satu gedung besar yang dibangun dengan ukuran besar dan tinggi, kebutuhan bata merahnya semakin banyak lagi, sekurangnya membutuhkan 150.000- 200.000 bata merah. Terdapat seratus gedung kolonial di Kota Bandung, belum termasuk kompleks perumahan, serta gedung-gedung di Cimahi dan daerah-daerah di sekeliling Bandung lainnya. Inilah yang menjadi peluang usaha bagi H. H. Aksan terkenal sebagai pengusaha dari keluarga Pasarbaru berhasil yang tinggal di Jalan Raya Barat, sekarang Jalan Jenderal Sudirman. Logika usahanya berputar menangkap peluang usaha dari pembangunan itu. Karena memiliki sawah sangat luas di Dunguscariang, sebagian sawahnya diolah menjadi bata merah yang memenuhi standar untuk pembangunan perumahan dan gedung- gedung di Bandung.

    Material bangunan saat itu terdiri atas pasir, kapur bakar, dan tanah bakar yang dihaluskan. H. Aksan memasok sebagian dari tiga bahan penting, yaitu bata merah, tanah bakar halus, keduanya diolah di Dunguscariang, dan kapur bakar miliknya di Citatah- Padalarang. Pada dasarnya, sekarang pun semen batu itu terdiri atas 40-60 persen kapur giling.

    Untuk pembakaran bata merah dan pembakaran kapur, diperlukan kayu bakar. H. Aksan memanfaatkan kayu karet yang sudah tidak produktif dari perkebunan karet miliknya di Nyalindung.

    Pengambilan tanah sedalam 1-1,5 meter pada sawah seluas 4 hektare, membentuk lahan yang lebih dalam dibandingkan dengan lingkungan sekitarnya. Naluri bisnis H. Aksan muncul ketika melihat lahan tersebut. Di sebelah barat lahan itu terdapat Leuwilimus, sungai yang mengalir dari arah utara. Karena sudah menjadi bagian dari perencanaan kota tahun 1933, alirannya diizinkan untuk dibelokkan sepanjang 600 meter ke bagian lahan yang lebih dalam itu, membentuk empang, kolam yang sangat luas.

    Bila airnya sudah mencukupi, akan dialirkan kembali ke persawahan di sekitarnya. Kesadaran bahwa lingkungan yang rindang akan menjadi tempat yang disukai dan menyenangkan, mulailah menanami lahan darat seluas dua hektare dengan beragam pohon, seperti ki hujan, waru, beringin, cangkring, huni, kopo, loa, campaka endog, geredog atau javsura, kupa, sawo, namnam atau pukih, mangga, asem, dan jamblang.

    Dalam lingkungan genangan yang baru, ditanam berbagai jenis ikan seperti mujair, bogo, deleg, gabus, lele, tambakang, gurame, nilem, kancra, kamper, dan ikan emas.

    Hanya dalam beberapa tahun, lingkungan baru sudah terbentuk. Makin lama lingkungannya makin rindang. Pepohonan yang berbunga dan berbuah, telah mengundang satwa untuk singgah seperti tonggeret, turaes, kalong, burung cipeuw, ungkut-ungkut, cukahkeh atau raja udang, caladikundang, tikukur, titiran, pipit, peking, esenangka dan gelatik

    Lingkungan yang rindang dan banyak ikannya, semula terkenal dengan sebutan Balong Aksan yang dimanfaatkan sebagai kolam pemancingan.

    Kemudian berkembang dengan beberapa pembenahan dan perluasan yang akhirnya mencapai empat hektar, Situ Aksan berkembang menjadi tempat rekreasi air yang rindang dan menggembirakan.

    ———————–

    T. Bachtiar, anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung ***


    (back to ben)

    Tulisan Pak T. Bachtiar memang relatif baru dibandingkan kebanyakan tulisan lain, tapi saya belum menemukan tulisan-tulisan lain yang menyertakan bukti-bukti yang cukup kuat untuk mengatakan bahwa Situ Aksan adalah sebuah danau alami. Apalagi jika hendak menghubungkannya dengan gejala banjir di Pagarsih. Sebuah wilayah 2 kilometer di timur, bukan selatan (cenderung di pinggir -bukan di bawah bekas lokasi  Situ Aksan).
    *coba cek lokasi bekas Situ Aksan dan aliran sungai dalam peta google maps di bawah
    (*sengaja saya hi-lite aliran sungai di sekitar wilayah tsb)

    aliran-sungai-pagarsih-dan-aksan

    Saya juga ingin sekali ada danau seperti Situ Aksan di sana. *akan sangat keren dan romantis. Tapi penting agar kita tetap fokus pada masalah utama : perbaikan desain aliran sungai di atasnya, perbaikan perencanaan wilayah utara Bandung dan perbaikan budaya membuang sampah warga Priangan.

    Fokus berpikir dan bekerja yang diarahkan pada (membuat kembali) Situ Aksan, saya pikir tidak akan efektif.

    Yang namanya pemerintah, apakah pemerintah kolonial ataupun pemerintah republik, adalah manusia juga. Sama-sama bisa berbuat salah. Dan sama-sama berkewajiban memperbaiki masalah warga. Sok ah mangga, silahkan bekerja. Kalau perlu bantuan kita, para warga Bandung, tinggal call aja ya!

    Btw, kalau ada yang tidak percaya bahwa ada urang sunda yang mampu membuat pabrik dan toko bahan bangungan yang mampu menjadi salah satu supplier pembangunan di Kota Bandung tahun 1920-1930an, lalu kemudian membuat industri kreatif pariwisata dengan inisiatif sendiri –di jaman Belanda– mangga dinikmati foto di bawah ini.

     

    toko-material-aksan
    Iklan Toko Bangunan ‘Aksan’ yang beralamat di Jalan Kebon Jati (no telf 314) di koran Padjadjaran edisi no. 20, 17 Mei 1919. Beliau membangun terlebih dahulu bisnis material bangunan di tahun seribu sembilan ratus -belasan

     

    situaksan-jpg
    Dari rejeki yang dia peroleh dengan berdagang bahan bangunan, H. Mas Aksan, membangun danau wisata yang sempat menjadi landmark Kota Bandung. Tempat tujuan wisata ini dibangun di atas sisa galian tanah liat, yang sebelumnya ia proses menjadi batu bata yang membangun sebagian bangunan-bangunan awal di Kota Bandung.

    Salam dari keluarga!

  • BANJIR BANDANG DI BANDUNG?

    Mungkin karena rumah saya hanya satu kilometer dari BTC, jadi hari ini banyak teman yang nanya ke saya mengenai kejadian banjir parah yang mereka lihat siang kemarin di Bandung.

    “Rumah aman, Ben?”. –Alhamdulillah rumah aman, broer. Tapi Bandung kayaknya kurang nih.

    Saya kebetulan gak kena banjir, karena banjirnya mulai surut hanya dalam tempo satu jam-an. Macetnya? Ikut dong *nasip

    Salah satu sungai kecil yang menenggelamkan Jalan Pasteur, memang melewati RW saya. Hanya sekitar 200 meter dari pagar rumah. Saya tahu sekali ganasnya sungai kecil ini di kala terjadi hujan besar di daerah Lembang. Air akan mengalir turun menghancurkan aspal jalan, dinding sungai, selokan, bahkan pagar beton rumah penduduk –erosi kelas tinggi.

    Kejadian kemarin membuat saya membuka Google Maps untuk mencari tahu aliran sungai yang sangat deras ini.

     

     

    Ternyata iya, sungai kecil di dekat rumah itu mengalir langsung dari arah Jalan Sukahaji, lalu ke arah rumah saya, Jalan Dangdeur, Jalan Babakan Jeruk IV, lalu (seharusnya) melewati bawah Jalan Pasteur, lalu mengarah ke PT Dirgantara Indonesia.

    Lalu kenapa air tidak menyeberang lancar di samping BTC. Saya tidak tahu pasti. Tapi saya bisa nebak salah satu sebabnya adalah SAMPAH.

    Sudah beratus-ratus kali saya menembus jalan-jalan yang dilalui sungai ini. Setiap kali sehabis banjir, pemandangan yang paling menyolok adalah sampah nyangkut di kanan kiri jalan dan tentu saja bergeletakan sepanjang jalan.

    Pernah beberapa kali kami menemukan kasur dan sofa yang hanyut di selokan di samping Jalan Sukahaji. *cik atuh miceun runtah teh, broer. Spektakuler pisan.

    Kalau mau fair, sebenarnya memang setelah pembersihan gorong-gorong di dekat BTC oleh Pemkot Bandung, saya jarang harus menerjang banjir di depan BTC. Setahun ke belakang Jalan Pasteur terasa aman.

    Tapi kalau partisipasi terbesar warga terhadap kota masih dalam bentuk ‘sampah rumah tangga’ –mau dipasang gorong-gorong segede piring terbang pun -mampet mah mampet aja kalee.

    Kemarin sempat juga ada yang memforward twit Pak Wali, yang mengatakan bahwa bisa jadi di bawah jalan Pasteur akan dibuat Tol Air. Seperti yang cukup sukses dibuat Pemkot di Gede Bage.

    Well, solusi oke sih untuk wilayah Pasteur. Tapi masalah belum hilang untuk warga dekat pusat kota –Jalan Pagarsih.

    Kenapa? Karena waktu saya cek di Google Maps, (paling tidak) tiga anak sungai dari utara Bandung, mengalir dan bergabung sebelum jalan Pagarsih. Lalu mengalir paralel, bersebelah dengan jalan Pagarsih. Dipisahkan pagar doang. Jadi kalau terjadi banjir bandang di sungai itu, jalan Pagarsih ikut berlaku seperti sungai.

    Kok bisa? Sungai kok mengarah ke Pusat Kota? Yah .. sungai mah mengalir sesuai hukum alam saja, ke daerah yang lebih rendah. Daaaaan …. Kota Bandung duduk cantik di bawah gunung-gunung tinggi tu.

    Kenapa juga para pendiri kota membuat pusat kota di sana?

    Mungkin karena aliran air itu dulu masih sahabat kita.

    Dulu, Pak Daendles yang kolonis, meminta agar kota ini didirikan di dekat sungai. Para Dalem Bandung jaman dulu juga sadar, bahwa pusat kota harus dekat dengan mata air dan aliran sungai. Tanpa air, bagaimana sebuah kota mau tumbuh?

    Tapi toh mereka tidak bisa melihat masa depan. Mereka tidak tahu bahwa kota ini akan ‘sexy as hell’. Dangerously Beautiful 🙂

    Kebetulan di era 50-60an, Bapak dan Ibu Mertua saya sempat tinggal di pusat kota. Bapak tinggal di Astana Anyar dan Ibu tinggal di sekitar Situ Aksan, deket banget sama Jalan Pagarsih.

    Menurut bapak, dari tahun 1950an, sungai di pinggir Jalan Pagarsih itu airnya selalu naik mendekati permukaan jalan ketika terjadi hujan besar.

    Tebakan saya, walau wilayah utara Bandung saat itu belum banyak bangunan, gejala penyakitnya sudah mulai muncul nih. Kenaikan permukaan air itu mungkin disebabkan oleh jalur air yang mulai dikotak-kotak dan terpotong-potong pembangunan daerah perdagangan dan pemukiman di barat alun-alun oleh pemerintah kolonial.

    Ibu mertua saya juga bercerita bahwa di tahun 1960an, dia sudah biasa melewati banjir Pagarsih, ketika pulang dan pergi sekolah. Tentu saja banjir di kala itu tidak separah sekarang.

    (Terjawab sudah. Itu sebabnya kenapa warga Pagarsih yang terlihat di video viral Youtube kemarin terlihat santai –sebagian malah ketawa-ketawa. Mereka sih sudah veteran. Lebih berpengalaman, rupanya)

    Lima puluh tahun berlalu, menginjak tahun 2000an. Banjir pagarsih makin parah. Di tahun 2016, video sebuah Livina hanyut bak terseret tsunami jadi viral.

    Se-Indonesia tak sabar untuk bergosip. Yes. Saatnya bergosip!

    Masalah utamanya : Pembangunan Bandung utara yang gak jelas dan sampah warga yang menumpuk di dalam sungai, kayaknya bakal jadi sisipan cerita.

    Seperti biasa, Bupati Bandung dan Bupati Bandung Barat akan diam seribu bahasa. Counterpart-nya, Walikota Bandung akan sibuk setengah mati, tapi tentu saja tidak mungkin dia bisa menyelesaikan sendiri.

    Halo. Bisa bicara dengan Gubernur Jawa Barat?

    Mau gini terus? Kayaknya tahun banjir 2045, banjir bandang di Bandung bakal bisa nyeret truk molen nih.

    Para pemimpin, der atuh kalian teh diskusi bareng! Sepakati sebuah langkah. Lalu kasih tahu, bagaimana kami bisa membantu?

    ————–
    re-posted from my facebook wall : https://www.facebook.com/ben.wirawan

  • I feel you, Pandji. Bantu Mas Anies!

    Ada gelombang empati yang besar ketika saya membaca tulisan Pandji di blog http://pandji.com/pilih/. Karena hampir empat tahun yang lalu saya didudukkan Tuhan di perempatan jalan yang sama. Di perempatan itu, kita yang benci politikus busuk, diminta menjalankan kewajiban membantu teman dan negara ini –dengan satu syarat: harus belajar bekerja sama dengan politisi dan parpol yang bagi kita adalah simbol masalah.

    Perempatannya mirip. Bedanya sedikit. Di perempatan saya, berdiri Ridwan Kamil yang (dulu) juga ditinggal teman-temannya. Di perempatan kamu, sedang berdiri Anies Baswedan yang pasti kesepian di tengah keramaian. *ini memang nasib non-politician yang loncat pagar masuk gelanggang politik

    Situasi selebihnya hampir sama dan sebangun: partai pendukungnya pun PKS dan Gerindra. But does it really matter? Partai adalah partai. Sama seperti di pasar. Penipu dan pahlawan bercampur sulit dibedakan dari baju dan tebal dompetnya.

    So I’ll say, “I feel you, Pandji. Bantu Mas Anies!”

    Kenapa?

    Karena,

    Tidak setiap hari anak bangsa ini dilahirkan dengan kompetensi, optimisme, keberanian dan ambisi seperti Mas Anies dan Kang Emil. Manusia-manusia seperti ini langka. Mereka-mereka ini adalah sasaran utama politisi busuk.

    They’ll say, “Matikan sebelum berkembang!”

    We say, “Beri ruang untuk mereka tumbuh dan membuktikan dirinya!”

    They’ll say, “Jadikan mereka bagian dari kita!”

    We say, “Temani mereka. Biar selamanya mereka kuat berikhtiar mencari jalan yang benar!”

    Badan kamu akan kotor, Dji. Keringat halalmu akan bercampur ludah haters. Beberapa waktu ke depan akan ada yang menyebut namamu sebagai Pandji yang Pendjilat ludah. Dulu kerjaannya caci maki PKS, sekarang semobil dengan politisi demi kekuasaan. Nanti akan muncul meme Pandji dan Jonru : Sahabat Selaptop. *.. sebaiknya saya berhenti, saya tidak akan nyumbang ide untuk kalian buzzer-buzzer yang tak sayang bangsa

    Insya Allah, Dji. Tuhan tidak akan termakan tipuan artikel murah di internet. Di pundak kiri-kanan mu ada dua malaikat mencatat niat dan prilaku baik-burukmu.Ingat-ingat saja itu.

    Memang tidak mungkin membersihkan mobil mogok sambil berharap baju kita tidak kecipratan kotornya. Kalau memang perlu, korbankan baju itu. Kamu yang harus tetap bersih, Dji!

    Saya gak punya hak memilih di Jakarta. Tapi ini bukan masalah hak pilih. Kita harus bisa menunjukkan bahwa warga itu bukan obyek politik. Politisi memang harus dibuat sadar bahwa kita, warga (propinsi, kota, kabupaten) harus punya peran yang sama besar dengan politisi. ‘I’ dan ‘you’ harusnya satu. Suara parpol seharusnya suara warga. Bahasa parpol seharusnya bahasa warga. Kamu, Pandji, punya kemampuan menunjukkan itu.

    Kalau kamu masih ada waktu, sisihkan sedikit waktu untuk baca tulisan ini. Sedikit vitamin yang saya sarikan dari pengalaman kami, Relawan Kota Bandung, yang bahu membahu bersama PKS dan Gerindra berjuang di Pilkada Bandung 2013. Ya, betul. Walau enggak selalu sepaham, tapi kami dahulu ‘bahu membahu’.

     

    Jangan Lakukan demi Uang.

    Sebagai konsep, politik itu suci. Tujuannya melindungi hak warga, mensejahterakan kehidupan … *panjaaang
    Tapi wujud mahluk politik di Indonesia, jangankan suci –higienis juga enggak.

    Akan banyak uang seliweran di sekeliling para relawan. Sebagian kita tidak tahu asalnya, sebagian kita tidak tahu di mana muaranya. Ambil tanggung jawab pada semua hal yang kita ketahui jelas, asal dan muaranya. Jangan sentuh segala yang tidak jelas.

    Agar mudah pertanggungjawaban di akhiratnya nanti —do it Pro Bono.

    Semua relawan utama kami benar-benar direkrut berdasarkan faktor kenal baik dan referensi pribadi. Mereka semua sadar dengan bergabung dengan kelompok ini, berarti mereka tidak minta bayaran serupiah pun. Jika mereka butuh biaya produksi, berarti mereka menyanggupi untuk memberikan harga diskon keras kepala atau gratis sama sekali.

    Sebuah tim yang semuanya bekerja bukan demi uang, akan punya daya juang sekuat pejuang 45. Hal aneh yang hanya bisa ditemukan di dunia kerelawanan.

     

    Buat Poros Relawan yang Kuat

    Kembali –partai adalah partai, Dji. Mereka ini veteran dalam pilkada. Mereka punya pengalaman metode kampanye yang terbukti/proven di beberapa tempat dan waktu yang lampau. Walau sering kali, justru hal ini yang membuat mereka tidak mau mencoba metode baru –apalagi metode yang datang dari orang luar atau anak baru.

    Yang kami lakukan dahulu adalah membuat poros relawan yang setara dengan kedua partai yang lain. Ketiga poros ini setara dan mandiri. Gak perlu selalu sepaham tapi berkomunikasi secara intens. Organized but not necessarily Structured.

    Poros relawan ini kendaraan yang diperlukan untuk membuktikan bahwa ‘cara alternatif’ punya relawan bisa bekerja efektif lebih cepat, lebih murah, lebih punya harga diri, serta jelas lebih indah dan cool. Buat apa kita dahulu sekolah di seni rupa kalau gak bisa berkampanye indah, toh?

    Kalau partai-partai tidak mau menggunakan cara yang ‘relawan anggap lebih baik’, maka jangan pikir panjang untuk segera implementasi lewat jalur relawan. Oleh sebab itu relawan harus kayak Marines : bisa cari uang (udunan sampai akhir), bisa mendesain, punya jalur produksi alat kampanye, jagoan di sosial media, punya jaringan di perkampungan, dekat dengan simpul geografis dan non-geografis, mampu kerjasama dengan warga atau politisi, dsb.

    Biasanya kalau jalur relawan sudah berhasil membuktikan efektifitas kampanyenya, maka parpol, mau tidak mau, harus mendengarkan bahkan mengadopsi (paling tidak sebagian) metode relawan.

     

    Oh iya. Relawan bukan cuma berarti relawan sosmed (saja). Relawan kampung juga harus kuat. Tim relawan bukan berarti muda (saja). Tim relawan harus juga menaungi dan dinaungi volunteer bangkotan yang bijak.

     

    Kenali Fungsi Partai dan Relawan sebagai Tim

    Jangan nisbikan kekuatan partai politik. Se-kuno apapun mereka di mata kita, mereka adalah organisasi penuh pengalaman. Sering kali hanya partai yang mampu melawan trik kotor partai lain.

    Sebagai contoh, ketika partai lain mulai main kotor dengan menyebarkan flyers kampanye hitam di angkot-angkot, hanya partai lagi lah yang segera tahu cara meng-counter-nya dengan efektif. Dahulu, kader-kader PKS bisa mengumpulkan 200 kg flyers kampanye hitam yang dibagikan tim rival hanya dalam razia satu malam –di satu wilayah. Hal yang agak sulit dilakukan tim relawan di pihak kami.

    Partai secara tradisional adalah penguasa wilayah geografis. Maksudnya begini, partai tertentu biasanya menguasai wilayah tertentu. Bertahun-tahun mereka akan menang di tempat itu-itu lagi. Itu alasannya kenapa kader partai agak segan bergerak ke daerah yang historically bukan wilayah mereka. Gak mutlak seperti itu, tapi itu cukup sebagai gambaran kasarnya.

    Relawan secara natural adalah gabungan orang-orang yang berbeda latar belakang. Alamat rumahnya beda-beda, sekolah dan kantornya nya nyebar se-Jakarta, gaulnya di lima wilayah yang berbeda di Jakarta, cara ngobrolnya beda-beda  –itu kelebihannya. Relawan bisa mencapai wilayah-wilayah yang secara tradisional tidak bisa dicapai kader parpol.

    Bagi-bagi fokus kampanye. Dorong kader partai dan relawan untuk menggarap wilayah yang paling efektif dan efisien untuk diri masing-masing. Syukur kalau bisa saling koordinasi –excellent!  

     

    Kursus Kilat Rencana dan Logistik Media Kampanye Politik

    Saya yakin Pandji bukan orang baru di dunia kampanye. Your success in your career tells all about your ability. 

    Tapi gak ada salahnya ikut crash course tentang kampanye politik. Tidak lebih sulit daripada mata kuliah DP 381, Dji. Penasihat politik Mas Anies pasti sangat menguasai hal ini. Orang-orang partai pun sebenarnya cukup cakap soal ini.

    Masalahnya ada banyak sekali alternatif media yang harus dipilih dan percayalah tidak akan ada cukup uang untuk membiayai semuanya. Petakan satu per satu media yang paling efektif untuk mengkampanyekan track record dan kemampuan pasangan kandidat ini. Lalu buat skala prioritas dan desain yang paling cocok. Semua harus massif, tapi bukan berarti kebanyakan.

    Cari orang logistik pilkada yang die hard. Mereka yang akan jatuh bangun memastikan distribusi alat kampanye beredar di tempat-tempat yang benar. Bukan tampil di media yang tidak dibaca atau numpuk di gudang milik rival.

     

    Rencanakan Penempatan Media yang mandiri

    Untuk para PPDS (Politisi Peduli Diri Sendiri), Pilkada adalah arena numpang tenar. Ini adalah kesempatan menempatkan foto mereka bersandingan dengan calon-calon Gubernur Jakarta yang sedang tenar. Memang tidak semua politisi di parpol itu seperti ini sih, tapi sering kali yang mampu membantu menyumbang billboard atau spot TV adalah yang tipe ini.

    Media luar ruang dan TV adalah media-media yang sangat berpengaruh untuk membentuk awareness, sampai pilihan akhir pemilih di bilik suara. PPDS ini tidak akan peduli pada efektifitas media yang jauh berkurang ketika muka mereka sendiri memakan setengah billboard yang sebenarnya too precious to host him too.

    Sayangnya, seringnya, you just can’t argue with them.

    Jauh lebih baik, miliki rencana Penempatan Media (media placement) ala relawan. Pisahkan dengan rencana penempatan media oleh Parpol. Lihat saja di tengah jalan, apakah bisa bersinergi.

    Memang betul sih, bahwa grand desain harus ada dan disepakati semua poros pendukung (partai + relawan). Tapi soal penempatan media adalah hal yang terlalu penting untuk dikompromikan. Jangan sampai konsep kampanye hanya berakhir di meja, file komputer atau sosial media gratisan saja.

    Btw, saya tidak tahu apakah KPU sudah membatasi jumlah billboard yang boleh dipergunakan masing-masing calon. So, be prepared, kreatiflah mencari media penempatan pesan kampanye yang tidak kepikiran tim rival.

     

    0% Kampanye Negatif –apalagi Kampanye Hitam

    Karena Pandji akan seperjuangan dengan Jonru (Sorry, ya Dji. Tapi gak ada cara yang lebih halus untuk menulis situasi ini). Ada satu hal yang sepertinya Pandji harus minta Mas Anies ngomong langsung pada para penggede partai, khususon Presiden PKS. Minta langsung pada Pak Shohibul Iman, agar Jonru diam dulu selama kampanye. *Sebenarnya lebih sering diam juga tidak apa-apa. Mari kita contoh Nabi kita. Saya pikir Jonru juga ingin lancar masuk surga sama seperti saya. Gak ada salahnya kita mempermudah hisab lisan kita nanti. Ya enggak, Pak Jon?

    Alasannya logis : kalau Pasangan Anies – Sandi ini mau mendapatkan suara optimal, suaranya justru akan didapatkan dari dua jenis pemilih yang berbeda sama sekali karakternya. Yaitu pemilih dari kader dan simpatisan partai pendukung + pemilih potensial Anies dan Sandiaga yang jelas-jelas berpotongan dengan calon pemilih Pak Ahok yang muda, logis, modern, terbuka dan jelas-jelas benci isu SARA dan SARIP.

    Berprasangka baiklah pada partai-partai pendukung yang lain, Dji. Gesekan pasti akan terjadi, bukan cuman antara relawan dan partai, tapi mungkin juga antara partai-partai pendukung –bahkan di dalam partai pendukung dan antar relawan.

    Dulu hal seperti ini terjadi juga di Bandung. Tapi bukan berarti kita harus runcingkan setiap batang perbedaan menjadi senjata saling tusuk antara kita, kan? Sekarang saatnya kita praktekkan apa yang dengan sering dibicarakan di kelas kuliah Pancasila, belajar mencari persamaan, lalu bekerjasama dengan menghargai dan mengandalkan perbedaan.

    Saya berharap teman-teman di Jakarta bisa mencontohkan Pilkada Jakarta sebagai proses politik yang pandai, penuh harga diri, santun, adil, tanpa kekerasan, bahkan bisa dinikmati oleh warganya  –dengan itu teman-teman telah membantu membuktikan bahwa kita memang generasi yang layak menerima tongkat estafet dari para pendiri bangsa.

    Selamat berjuang semua kandidat dan tim.

    ————-

    Penulis bukan politisi, hanya seorang teman lama. Tidak punya hak pilih di Jakarta. Suka pada Ahok juga Anies Baswedan. Mendoakan yang terbaik untuk Jakarta dan warganya, karena penulis pun pernah hidup di sana selama 8 tahun saat masa remaja.

    *gambar utama pinjam dari susancushman.com

     

  • Cara Mengingatkan Pemimpin yang Salah

    Rasulullah bersabda, dalam salah satu hadist shahih riwayat al Hakim dalam kitab Mustadrak, “Nanti akan datang pemimpin-pemimpin yang kalian tidak suka beberapa keputusan mereka (karena bertolak belakang dengan hukum Allah) dan kalian suka dengan keputusan yang lainnya. Siapa yang memungkiri dengan hatinya (tidak suka dengan keputusan itu karena Allah melarang keputusan seperti itu), maka dia telah selamat (di akhirat hisabnya sudah tidak ada). Siapa yang memungkiri dengan lisannya dengan cara yang baik maka dia telah mendapatkan pahala. Dan hukuman akan datang kepada orang yang mendukung keputusan (salah) itu.”
    Cara menasehati yang baik kepada pemimpin juga disebutkan dalam hadist lain, yaitu dengan ‘memegang tangannya dan berbicara secara empat mata.
    Sahabat-sahabat Rasulullah kemudian bertanya, “Bolehkah kami memberontak pada pemimpin-pemimpin seperti ini?” Rasulullah menjawab, “Tidak boleh. Selama mereka tidak melarang kalian shalat.”
    Dalam hadist lain disebutkan, “Nanti akan datang pemimpin yang kalian tidak suka, tapi kalian harus patuh dengannya. Yang kalian sudah dapat merupakan hak kalian maka bersyukurlah kepada Allah. Yang kalian belum dapat, mintalah kepada Allah (bukan kepada pemimpin itu).”
    Bukankah telah dicontohkan dalam sejarah bahwa pemimpin-pemimpin dzalim masa lalu seperti Firaun, Namrud, dan lainnya, juga dimusnahkan oleh Allah SWT? Tidak usah khawatir. Jangan ragu pada Allah SWT.
    —————————
    Tulisan ini adalah penggalan ceramah Dr. Khalid Basalamah, MA. dalam Rangkaian ceramah Sirah Nabawiyah #17
    Kitab Mustadrak adalah salah satu kitab yang ditulis oleh Al Hakim Naisaburi di tahun 405 H. Al Hakim menyatakan bahwa seluruh hadits didalamnya adalah shahih menurut syarat Imam Bukhari dan atau Imam Muslim. Namun banyak ulama juga yang menganggap bahwa Al Hakim sudah terlalu tua ketika dia menulis Kitab Mustadrak.
    Silahkan berbeda keyakinan, tapi dari sedikit ilmu yang tertulis di atas saya jadi sadar mengenai betapa pentingnya shalat dalam agama ini–dan betapa lengkapnya ajaran islam, yang bahkan mengatur cara yang baik (humane) dalam menegur pemimpin.
    Wallahu a’lam bishawab
  • 12 Tahun Mengajak Anak-anak Hiking. Tips #3 : Membiasakan anak jalan-jalan di Taman Kota dan Taman Hutan Raya.

    Sebenernya menurut pengalaman saya sih, 99% anak kecil punya potensi untuk jadi jagoan hiking. Kuncinya, apakah orang tuanya mau menemani dia belajar di alam? Kalau orang tuanya mau, anakanya pasti bisa.

    Dari mana saya dapat kesimpulan ini? Karena kalau ada acara hiking bareng, rupanya justru anak kecil yang jarang komplain. Well, bapak ibunya juga jarang komplain … tapi ketinggalan jauh di belakang …. hehehe … Pengalaman pribadi nih, saya pernah ketinggalan 30 anak tangga oleh Samsam kecil ketika mendaki Gunung Padang. Beneran 🙂

    2010-gunung-padang-3-medium
    Anak kecil berumur 6 tahun ini lebih dahulu sampai di puncak Gunung Padang daripada peserta orang dewasa. Anak kecil bisa luar biasa kuat, kan?

    Serius, nih. Siapa yang bilang anak kecil tenaganya kecil? Di rumah sendiri saja mereka tidak pernah kekurangan tenaga untuk ngacak-ngacak semua hal yang sudah kita rapihkan. Ngacak-ngacaknya pun konstan. Sepanjang hari. Gak bisa berhenti. Betul gak?

    Jadi sebenarnya anak kecil itu batere alkaline yang  siap naik-turun bukit. Kalaupun ada orang tua yang bilang “Anak saya mah sedikit-sedikit minta di gendong. Gimana dong?” Itu sih masalah pembiasaan. Pembiasaan bagi si anak dan pembiasaan bagi orang tua.

    Bagi anak yang sehari-hari melihat lansekap kota; jalan datar lebar & diaspal, jarang pohon, banyak tukang dagang dan manusia lain –lansekap alam bisa jadi (awalnya) terlihat intimidatif. Di kepalanya terbersit, “Apaan ini? Jalan kok licin? banyak pohon berarti ada banyak ular, ya? Kok gak ada orang … sepi …”

    Ini hal yang wajar. Kebanyakan anak-anak kita memang tidak terbiasa melihat sesuatu yang ‘liar’. Beri sedikit waktu dan jam terbang. Nanti juga mereka sedikit demi sedikit akan jadi ‘liar’ 🙂

    Tipsnya adalah dengan mulai sering-sering mengajak anak menjelajah sekeliling rumah dulu. Ya, sebelum menjelajahi tempat-tempat lain, jauh lebih baik jelajahi dulu sekeliling rumah. Minimal lingkungan satu RW harus pernah dijelajahi oleh anda sekeluarga. Tinggal pilih hari libur weekend. Tentukan sebuah warung, pujasera, atau restoran sebagai spot finish (*anak kecil mudah disogok makanan). Lalu silahkan nyasar-nyasar di kampung sekeliling rumah kita.

    2007 jalan-jalan pagi 7.JPG
    Jelajahi dulu wilayah RW. Lebih seru lagi sebenarnya menyelusuri wilayah kelurahan. Jangan pakai Google Maps -kecuali udah nyasar banget.

    Menjelajahi sekeliling rumah ini penting untuk pengalaman ‘nyasar sekeluarga’. Suatu saat ketika berpetualang sekeluarga, pasti anda akan mengalami yang namanya kesasar. Kesasar di lingkungan rumah cukup aman sebagai latihan awal. Kalau kesasar lalu kelaparan di kampung ‘kan tinggal cari warung. Ini juga penting untuk melatih sifat kalem sang Ayah yang biasanya dipersalahkan kalau seluruh keluarganya kesasar .. hehehe

    Setelah biasa menjelajah lingkungan rumah, maka kita bisa mulai dengan bermain di taman kota. Di Bandung saat ini sudah cukup banyak taman-taman kota, dengan bermacam-macam desain dan tema. Setiap keluarga pasti punya taman-taman favorit. Silahkan pilih sendiri sesuai kesenangan masing-masing.

    Sebagian taman-taman tersebut sudah dibuat sejak jaman pemerintah kolonial Belanda. Tahu kan? Awalnya mereka merancang Bandung sebagai Kota Taman (yang penuh taman kota). Taman-taman ini terletak di sebuah daerah yang dulu dikenal sebagai wilayah Insulinde. ‘Insulinde’ sendiri sebenarnya kata lain untuk ‘Indonesia’. Itu sebabnya taman-taman ini terletak di jalan-jalan yang diberi nama dengan nama pulau-pulau di Indonesia : Jalan Jawa, Jalan Sumatra, Jalan Aceh, Jalan Saparua, Jalan Ambon, dll.

    Sekarang di sana terletak Taman Lalu Lintas, Taman Maluku, dan Taman Saparua. Sekali-kali, ketika anda dan keluarga sudah cukup kuat jalan-jalan agak jauh, cobalah tour de park -pindah dari satu taman ke taman lain.  Dengan jalan kaki, ya. Mobil atau motor diparkirkan saja di tempat lain, kalau perlu pakai saja bis atau angkot.

    Kebetulan tidak jauh dari dari sana masih ada tiga taman yang juga menarik dikunjungi; Taman Gedung Sate, Taman Lansia dan Taman Balai Kota. Wilayah Insulinde ini punya satu kelebihan, yaitu sejak jaman Belanda daerah ini dirancang sebagai ‘etalase‘ Kota Bandung, sehingga di pinggiran jalannya dinaungi pohon-pohon besar yang teduh. Nyaman dan dingin jika dijalani sampai siang hari pun.

    2008 Taman Balai Kota 1 (Medium).JPG
    Taman Balaikota, sekalian pakai kostum Spiderman. Jangan tanggung-tanggung 😀

    Sayangnya belum semua trotoar mulus di Bandung, jadi sering jadi masalah untuk keluarga yang mendorong anaknya menggunakan stroll (kereta dorong). Well, angap saja tambahan olah raga untuk orang tua. Kalau boleh kasih saran, ketika menyeberangkan batita di dalam stroll melewati jalan yang lalu lintasnya ramai, sebaiknya batita diangkat dari dalam stroll, digendong oleh ibu –sementara ayahlah yang medorong stroll menyeberang jalan. Biar yakin aman.

    2010 kereta dorong.JPG
    Gunakan stroll ringan jenis ini jika jalan-jalan di Bandung. Karena kemungkinan kita harus angkat-angkat stroll jika bertemu trotoar yang rusak

    Waktu Samsam dan Sakti masih kecil (juga Arix), kami selalu membawa mereka jalan-jalan ke beberapa tempat yang berbau alam bebas, walau sebenarnya hanya ‘imitasi’ alam -yang city dwellers friendly. Di sekitar Bandung banyak, kok. Misal, Kebun Binatang Bandung, The Ranch, Dusun Bambu, dan sejenisnya. Memang berbayar sih, tapi tempat-tempat ini menyajikan pengalaman yang berbeda.  *)tentang tempat-tempat spesial berbayar ini akan saya buat satu ulasan khusus deh

    Oh, iya. Ada satu ‘taman’ yang juga sangat disarankan. Namanya Kampus ITB. Ya, memang kampus ITB di hari Sabtu dan Minggu sangat enak dipakai mengajak anak jalan -jalan dan sebenarnya terbuka untuk umum. Di hari minggu pagi, sampai jam 12 pagi *kalau gak salah,  ada area dalam kampus yang ‘car free day‘. Mobil gak boleh lewat, sehingga sempurna untuk mengajari anak (yang agak besar) untuk belajar naik sepeda. *tidak banyak yang tahu, ya?

    2007 itb (Medium).JPG
    ITB : salah satu ‘taman’ paling tua, paling aman + paling gratis

    Ketika anak mulai belajar jalan, saatnya meng-upgrade lokasi jalan-jalan ke tempat yang lebih ‘liar’ sedikit. Pada saat ini, kami biasanya mengajak anak-anak main ke Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda (Tahura). Di sini treknya lebih banyak pilihan: ada jalan aspal yang landai menuju Goa Belanda atau jalan naik-turun ke arah Goa Jepang. Suasana hutan dengan beberapa penghuninya, di antaranya burung-burung dan monyet, juga bisa ditemukan di sini –di pagi hari, ya.

    2005 Sam di Tahura (Medium).JPG
    Tahura Ir. H Djuanda : Tidak disarankan datang ke sini hari Minggu, karena terlalu banyak manusia dan ojek. Main ke sini hari Sabtu pagi. Nyaman!

    Sebagai alternatif, bagi yang mau susah sedikit ke luar kota, cobalah Taman Hutan Raya Cibodas-di Puncak. Di sana suasananya lebih dingin, treknya juga beragam, ada air terjun yang mudah dicapai, plus ada lapangan rumput luas berkontur landai yang sangat cocok untuk berlarian, bermain frisbee, layang-layang atau membuat kapal-kapalan.

    Terakhir nih, selama perjalanan-perjalanan ini biarkan anak -anak agak jorok sedikit. Main pasir, main air, guling-guling di tanah, ngejar-ngejar ayam kampung dan kelakuan anak yang kalau di rumah sering kita larang. Selama tidak berbahaya bagi mereka, biarkan saja. Intinya, biasakan anak untuk berkotor-kotoran dan mengeksplorasi hal baru. Tunjukkan pada mereka bahwa tidak ada yang salah dengan hal itu. Lebih baik kita yang cape sedikit: membawa baju ganti, sabun antiseptik tangan -kalau perlu sabun dan shampo.

    Sip?


    *) bersambung di Tips #4 (kayaknya) tentang melatih fisik anak di trek yang lebih berat

  • 12 Tahun Mengajak Anak-anak Hiking. Tips #2 : Ayam Berkokok berarti Mulai Bersiap

    “Jangan bangun siang, nanti rejekinya dipatuk ayam,” begitu kata orang tua. Bersaing sama ayam berlaku untuk mencari rejeki, dan berlaku juga ketika hiking bersama anak-anak. Betul. Kalau ingin hiking yang menyenangkan, maka sekeluarga harus bangun pagi. Sehabis sholat shubuh jangan tidur lagi. Karena kata istri saya, yang paling membuat malas dalam perjalanan bareng anak-anak adalah menyiapkan baju dan peralatan orang sekeluarga. Betul ya, Mim? Jadi mulailah persiapan sejak dini hari.

    Bersiap mulai sejak dini hari juga membuat kita terhindar dari macetnya jalan menuju titik awal hiking. Bandung adalah surga macet di saat weekend. Kena macet sebelum hiking dimulai adalah bencana bagi anak dan siapapun yang duduk di kursi supir. Jalan raya bisa jadi pembunuh mood yang efektif. Hindari macet, berangkatlah sejak pagi.

    Mandi pagi bisa menjadi mood booster —badan lebih segar. Tapi kadang-kadang prosesi mandi sekeluarga juga bisa menjadi pemicu kita terlambat berangkat. Terutama jika salah satu anak masih senang berlama-lama di kamar mandi atau karena ibu merasa harus dandan maksimal 🙂 Kalau seperti itu kasusnya, maka lebih baik kompak tidak mandi sekeluarga saja. Atau minimal mandi koboy lah. Cuci muka, nyisir dan ganti pakaian hiking. Toh nanti, begitu menghirup udara segar di atas pegunungan, segala penat yang masih ada akan hilang dibawa kabur oleh segarnya udara pagi. Jika anda (begitu) takutnya terlihat kucel di foto perjalanan, mungkin ini bisa membantu : pakai baju warna terang sekeluarga. It does help …

    RoL pagi hari di Pangalengan
    RoL pagi hari di Pangalengan

    Bicara tentang foto, ini juga adalah alasan utama kenapa harus selalu memulai hiking di pagi hari. Cahaya matahari terbaik untuk di foto biasanya hadir di pagi hari. Pada waktu ini, sekitar pukul 6-8 pagi, cahaya matahari jatuh miring menembus pepohonan membuat garis cahaya yang dikenal dalam dunia fotografi sebagai Ray of Light (RoL). Jangan sampai kesiangan dan melewatkan dekorasi alam ini. RoL akan menghilang di atas jam 9 dan baru akan muncul lagi sore hari sekitar jam 3 atau jam 4 –jika pepohonan cukup rimbun dan temperatur cukup dingin. Bedanya mengambil foto dengan RoL pagi dan sore adalah pada objeknya –keluarga kita. Walaupun foto keluarga sama-sama akan terlihat kekuningan (natural tanpa effect), tapi di pagi hari anak-anak, akan terlihat lebih segar, bersemangat, juga terlihat lebih ganteng dan cantik. Mau dong? *Kalau tidak telihat lebih ganteng, itu berarti masalah anda sama dengan saya : masa ganteng maksimalnya sudah lewat. Jangan salahkan cahaya matahari 😀

    Kalau ingin mengambil foto dengan kualitas kontras yang baik juga lebih mudah di pagi hari. Pada pagi hari cahaya matahari bersinar lebih lembut, sehingga kualitas obyek dan latar belakang foto akan terlihat lebih detil dan berwarna. Mendekati siang hari, maka cahaya matahari akan terlalu kuat sehingga sulit mendapatkan detil dan warna yang indah dari latar belakang alam. Plus, pada siang hari juga biasanya kita cenderung akan memicingkan mata karena silau. *masalah besar untuk keluarga kami yang memang sipit-sipit heheheh ..

    foto dengan cahaya matahari siang yang terlalu kuat
    foto dengan cahaya matahari siang yang terlalu kuat
    foto yang memanfaatkan cahaya pagi
    foto yang memanfaatkan cahaya pagi yang lembut

    Memulai hiking di pagi hari juga berarti memperpanjang jarak dan waktu tempuh efektif keluarga. Udara pagi yang segar akan memberikan ekstra tenaga pada setiap anggota keluarga. Waktu jalan-jalan jadi lebih panjang, karena umumnya ketika matahari makin tinggi, semangat justru menurun. Kalau teman-teman baru mau memulai hiking bersama keluarga, saya sarankan mulai hikinglah dari pukul 6 sampai pukul 9. Tiga jam cukup. Kalau cuman kuat dua jam pun tidak apa-apa. Yang penting di pagi hari.

    Matahari yang masih jinak sangat sehat untuk kulit, bahkan menurut penelitian mampu menurunkan level stress. Suara burung-burung di pagi hari juga menambah semangat anak mengeksplorasi alam. Kalau mau lebih seru, coba pinjam teropong atau gunakan kamera dengan lensa zoom, untuk bird watching bersama. This could be a lot of fun.

    monyet tahura pagi hari
    monyet tahura pagi hari

    Di beberapa spot di sekeliling Bandung Utara, kami masih sering menemukan monyet yang berayunan di pohon ketika pagi hari. Beberapa di antaranya (terlalu) jinak, sehingga berani mendekati manusia untuk meminta makanan. Ini waktunya mengajari anak mengenai keberanian. Tunjukkan bahwa binatang bisa merasakan rasa takut makhluk lain dan sebaliknya. Jika kita tunjukkan gestur berani, seperti berdiri tegak bersama-sama, maka hewan tertentu akan menjauh dengan sendirinya. *jangan dipraktekkan pada macan tutul, ya.

    Jadi memang agak beda kalau membandingkan kehidupan kota Bandung dan hutan-hutan di sekeliling kota Bandung di pagi hari. Jika pagi hari di jalanan kota adalah saat paling hectic, yang kalau bisa dihindari saja. Di atas perbukitan dan pegunungan, justru adalah saat-saat yang tidak boleh terlewatkan.

    Bisa ya bangun pagi?  🙂


    *) bersambung ke Tips #3

  • Satu Tahun Lagi Ganti Walikota, Bandung!

    Saya tidak akan menyalahkan warga sih kalau mereka tidak sadar bahwa (mungkin) kita harus cari walikota baru sebentar lagi. Saya juga hampir tidak sadar, kalau tidak karena salah satu kawan baik saya tiba-tiba teriak-teriak sambil ngibar-ngibar bendera semapur SOS. 

    Saya pikir teman saya ini ada benarnya. Pilkada Jabar akan berlangsung di bulan Februari 2018. Berarti pendaftaran kandidatnya sekitar September 2017. Sekarang sudah September 2016. Tinggal setahun lagi kompetisi level propinsi akan dimulai.

    Di sisi lain, walikota kita yang punya cukup banyak prestasi, terlalu ‘seksi’ di mata partai-partai politik: level propinsi –bahkan level nasional. Belajar dari sejarah Pilkada di Indonesia sebelum-sebelumnya, saya nebak, saat ini kemunginan besar Walikota Bandung sedang dipaksa berpikir keras melayani tawaran-tawaran untuk naik ke panggung yang lebih tinggi. Partai Politik mana yang tidak tertarik pada follower Twitter, Instagram dan Facebook Kang Emil yang berjuta-juta?

    Walau dalam urusan prestasi, Kang Emil masih setengah jalan: banyak janjinya yang sudah terwujud -tapi banyak juga yang belum terlihat ujungnya. Tetap, dalam hitungan politik, walikota kita ini adalah kartu as plus kartu raja. Black Jack!

    Akan seperti apakah respon dosen ITB kita ini terhadap tawaran, dorongan, tarikan dari orang-orang di sekelilingnya ? Saya tidak tahu. Hanya Kang Emil yang tahu dan berhak menjawab. Sebagai warga biasa, sebenarnya saya berharap Kang Emil akan melanjutkan periode ke-2 di Bandung terlebih dahulu. Dua periode di Kota Bandung bagaikan berguru dua kali pada seorang seorang guru kimia yang killer tapi juara. Kota Bandung memang kawah candradimuka yang bagus untuk membentuk seorang pemimpin yang kita tunggu-tunggu di masa depan, bahkan mungkin untuk level yang lebih tinggi.

    Ingin rasanya cuek dan bersikap tidak peduli. Sayangnya walau ini keputusan orang lain, tapi efeknya ke mana-mana. Pilihan dia nanti, akan berpengaruh pada hidup saya : kualitas jalan raya yang saya lewati ke kantor, jumlah pohon hijau yang tumbuh di dalam Kota Bandung, kualitas dan gaji guru-guru sekolah negeri anak sulung saya, tingkat kolusi di kelurahan dekat rumah saya, mimpi saya tentang monorel melintas Bandung dan lainnya.

    Enam bulan yang lalu, ketika Kang Emil menegaskan bahwa dia tidak akan masuk ke dalam persaingan Pilkada DKI Jakarta, ada beberapa alasan yang dia kemukakan. Ini katanya :

    ————–

    “Pertimbangan tugas saya belum selesai pada periode pertama.

    “Saat ini dirinya hanya ingin fokus mewujudkan mimpi-mimpinya untuk kota kelahirannya.”

    “Saya sudah mendengarkan masukan, melakukan survei internal, termasuk meminta pendapat keluarga. Akhirnya, saya memutuskan untuk fokus mengurus Bandung,” tutupnya.

    ——– *sumber : kompas.com (link di bawah)

    Berarti :

    1. Kang Emil akan berusaha menyelesaikan masa jabatan periode pertamanya (tidak disebut-sebut tentang periode ke-dua)
    2. Di periode pertama dia akan fokus mewujudikan mimpi-mimpinya untuk Kota Bandung.
    3. Dia mendengarkan masukan, di antaranya melalui survey internal dan pendapat keluarganya.

    Ah …. sudahlah, saya bukan pengamat politik. Saya tidak bisa membaca hati orang, apalagi meramal takdir Kota Bandung.

    Bandung harus mulai berpikir dan bersiap-siap. Dalam satu tahun ke depan salah satu dari kenyataan ini akan terjadi :
    (1) Ridwan Kamil mungkin akan tetap di Bandung dua periode.
    (2) Ridwan Kamil akan melaju ke Jawa Barat (atau Indonesia?)
    (3) Ridwan Kamil akan kembali menjadi arsitek.

    Jika memang yang terjadi adalah kemungkinan ke (2) dan (3). Maka …

    Siapakah yang akan menjadi Walikota Bandung selanjutnya?
    Maukah (dan mampukah) kita mencari (lagi) calon Walikota lain yang (juga) layak untuk kota Bandung?
    Atau kita mau berikan lagi haknya kepada calon-calon reguler dari partai-partai politik Kota Bandung?

    Jujur, yang saya khawatirkan adalah —jika orangnya akan itu-itu lagi.  *berita angin memang mengatakan bahwa beberapa kandidat parpol yang kalah dalam pilkada 2013 sudah bersiap-siap kembali untuk mecalonkan diri di pilkada depan. 

    *ada pendapat? 

    http://regional.kompas.com/read/2016/02/29/10551161/Alasan.Ridwan.Kamil.Tak.Akan.Ikut.Pilkada.DKI.2017?utm_source=RD&utm_medium=inart&utm_campaign=khiprd

  • 12 Tahun Mengajak Anak-anak Hiking. Tips #1 : Dress for the Outdoor

    Untuk saya dan istri, Bandung adalah satu kota yang pas dengan cara kami menikmati hidup dan membesarkan anak. Sebuah kota modern yang dikelilingi tempat bermain favorit kami -perbukitan dan pegunungan. Setiap kali kita kelebihan dosis kehidupan kota, kita minggir sedikit lalu menyembuhkan diri dengan melimpahnya udara segar dan jernihnya alam berwarna hijau yang hanya berjarak satu jam-an dari rumah.

    Ketika kami masih hidup berdua saja, beberapa kali kita melakukan perjalanan spontan yang kadang kurang jelas alasan dan tujuannya. Seperti misalnya, naik turun Kawah Domas Gunung Tangkuban Parahu -di tengah bulan puasa. Romantis sih …. tapi … haus, meeen!

    Ketika akhirnya kami punya anak pertama, hobby jalan-jalan terpaksa di-pause. Sampai akhirnya bayi Samsam mulai besar. Tapi ternyata jalan-jalan bertiga (bersama balita) sama sekali berbeda dengan jalan-jalan berdua saja. Ada faktor anak yang harus jadi pertimbangan.

    Jadi mulailah kita mencari cara hiking bersama anak. Dan gak kerasa, sekarang sudah hampir 12 tahun saya menjalani hobi ini bersama istri : ngajak anak-anak hiking saat akhir minggu –walau tidak setiap minggu. *kita pun keluarga biasa yang harus hadir di nikahan sanak kerabat, menengok bayi yang baru lahir, kadang ingin berenang dan tetap ingin jalan-jalan ke mall.

    Setelah dilalui sekian lama, kami jadi sadar bahwa jalan-jalan di alam bebas adalah sesuatu yang sangat bermanfaat. Badan sehat dan suasana keluarga yang kompak dan happy adalah beberapa manfaat utamanya. Manfaat sekundernya? It looks good on your Facebook and Instagram. Kan keren kalau suatu saat cucu-cucu kita ngecek timeline kita. “You’re such a cool grandpa!” Yes, terlalu bermanfaat untuk tidak dilakukan. Dan kebetulan aja, ini rekreasi yang jauh lebih murah daripada nonton bioskop sekeluarga —yang makin lama makin terasa mahal setelah punya anak 3 orang 🙂

    Tapi gak mudah menggerakkan keluarga untuk rajin hiking. “Bawa anak kecil mah cape. Anak saya mah gak akan kuat jalan sejauh itu. Pengen sih, tapi ke mana?” Ini adalah beberapa alasan yang sering terlintas pertama kali di kepala. Tapi ini semua bisa diakali, kami sudah bertahun-tahun mencoba menaklukkan masalah ini dan (bisa dibilang) berhasil. Mungkin baiknya pengalaman ini kami bagi di blog ini. Siapa tahu ada manfaatnya untuk orang tua yang lain. Btw, ini tips untuk dayhike ya. Artinya hiking tanpa menginap. Pulang hari gitu deh. Here goes! 

    ——————–

    Tips #1 : Dress for the Outdoor

    Anak-anak suka kostum. Pakaian dan perlengkapan outdoor selain memiliki fungsi melindungi dan mempermudah perjalanan, punya fungsi psikis yang besar untuk anak-anak kecil. Ini membuat mereka merasa diri seperti tokoh-tokoh eksplorer khayalan mereka di film-film yang mereka suka tonton. Itu membuat mereka excited dan enggak rewel di jalan.

    Jangan berdandan sama dengan pergi ke mall. Pakai topi, pakai sepatu dengan grip yang dalam -atau paling tidak pakai sendal gunung atau sendal travel. Kalau punya budget, beli hiking pole. Kalau tidak, carikan mereka dahan kayu dari pohon yang sudah mati. Untuk mereka itu bukan hanya alat bantu hiking –itu M16 –itu bedil!

    Pakaian hiking itu tidak perlu kemahalan. Yang penting pilihlah baju yang melindungi tubuh dari matahari sekaligus menyerap keringat dan ‘bernafas’. Saya jarang memilih pakaian polyester, matahari di Indonesia terlalu panas, dan bahan polyester murni membuat udara panas terperangkap di dalam baju. Pilihlah bahan katun atau campuran katun dan polyester. Sehingga udara panas dapat keluar dari dalam baju dan angin dingin dapat mendinginkan tubuh yang kepanasan. Oh iya, do not wear black even when it’s 100% cotton. Warna hitam menyerap panas matahari dengan hampir sempurna. Gak mau badan kita jadi pressure cooker kan?

    Pakai baju lengan panjang dan celana panjang jika trek yang akan dilalui penuh semak belukar  atau pepohonan. Amannya kalau itu trek baru, pakai celana panjang aja deh. Tapi jangan pakai celana jeans karena bahan denim terlalu berat dan susah kering kalau kita kehujanan di jalan. Bolehkah pakai celana pendek? Boleh, selama kita tahu jalannya tidak berduri atau penuh dahan pepohonan yang rendah. Kalau mau trekking di dekat sungai, saya kadang memilih celana pendek juga.

    p_20160116_074140_bf-medium

    Kalau bawa batita, pakaikan topi yang melindungi muka dan tengkuk, baju lengan panjang tipis, celana panjang tipis dan sepatu. Jangan lupa ulaskan sun block yang cocok dengan kulit anak kecil. Kulit mereka masih tipis dan mudah terbakar matahari. Kami pernah membawa si Arix yang belum genap berumur satu tahun hiking dan lupa bawa topi. Walau cuman 3 jam, kulitnya langsung berubah seperti udang rebus. Tapi ternyata kembali ke warna putih dalam 1-2 harian. Jadi tidak perlu panik juga sih. Kulit anak yang dasarnya putih tidak akan berubah jadi hitam seumur hidup, hanya gara-gara kepanasan satu hari. Kalau dasarnya berkulit hitam, gak akan jadi putih juga gara-gara hiking 🙂

     


    *)bersambung. Nulisnya dicicil, ya.

    Tas dan pakaian pada foto utama di-endorse oleh www.torch.id

     

     

     

  • Johann Ludwig Bruckhardt, Penemu Kota Tua Petra yang Dimakamkan Sebagai Seorang Muslim

    Pernah mendengar tentang Kota Tua Petra di Jordania? Ternyata ada cerita unik tentang seorang petualang muda yang jalan hidupnya agak ke-‘Indiana2 Jones’-an <<kata yang aneh untuk menggambarkan petualang muda pemberani yang super niat dalam petualangannya.

    Namanya Johann Ludwig Burckhardt, lahir tanggal 24 November 1784 di Lausanne, Switzerland. Ia berasal dari keluarga Basel, keluarga pedagang sutra yang terpandang. Semasa muda, Burckhardt sempat bersekolah di dua universitas di Jerman; Universitas Leipzig dan Universitas Gottigen.

    Pada tahun 1806, pada umur 22 tahun, Burckhardt pindah ke Inggris untuk melamar sebagai pegawai negeri, namun tidak berhasil. Ia justru mendapatkan pekerjaan di Kantor African Association (Inggris) -dalam sebuah proyek ekspedisi perbaikan Sungai Niger, Afrika.

    Pada saat itu tidak ada rute perjalanan langsung dari daerah Afrika Utara ke pedalaman Afrika. Sehingga untuk dapat sampai ke sana dia harus melewati perjalanan darat dari Kairo ke Timbuktu. Sebagai persiapan, dia mengambil kuliah di Universitas Cambridge -mempelajari bahasa arab, sains dan pengobatan. Agar lebih afdhol, dia juga membiasakan diri mengenakan pakaian arab muslim dalam kesehariannya. *niat bangeeet

    Burckhardt meninggalkan Inggris menuju Syiria tiga tahun kemudian di tahun 1809. Dalam perjalanan melalui jalur Laut Mediterania, ia singgah di Malta, di mana dia mendengear tentang seseorang bernama Dr. Seetzen yang terbunuh dalam pencarian legenda kota yang hilang -bernama Petra.

    Sesampainya di Syria, Burckhardt memulai penyamarannya dengan mengganti namanya menjadi Shiekh Ibrahim bin Abdallah. Tragisnya walau sudah menyamar sebagai orang arab, berkali-kali dia tetap dirampok oleh orang-orang yang sebenarnya dibayar untuk memberikan proteksi baginya.

    Akhirnya dia memutuskan untuk hidup dan belajar menjadi seorang muslim di Aleppo selama dua tahun, agar dapat berbaur lebih baik dengan orang-orang arab. Setelah cukup fasih dalam budaya arab dan praktek ibadah islam, ia mengetes samarannya langsung di tiga tempat; Lebanon, Palestina dan Transjordan (wilayah sekitar perbatasan Yordania dengan Palestina sekarang).

    Tahun 1812, pada umur 28 tahun, dengan kemampuan bahasa Arab, pengetahuan budaya arab dan dalam samaran sebagai muslim yang lebih baik, Burckhardt meninggalkan Aleppo menuju Kairo.

    Tiba di Wilayah Kerak, Burckhardt meminta perlindungan gubernur setempat, Gubernur bergelar Seikh Yusuf kemudian memintanya untuk meninggalkan semua barang kepemilikannya yang berharga sebelum melanjutkan perjalanannya. Dia diberi seorang penunjuk jalan oleh Sang Gubernur. Sayangnya penunjuk jalan tersebut ternyata seorang bandit. Burckhard kembali dirampok oleh penunjuk jalannya sendiri –dan ditinggalkan di tengah padang pasir.

    Untungnya Burckhardt berhasil menemukan pertolongan dari sebuah klan kaum Badui di sana. Burckhardt a.k.a Syeikh Ibrahim kemudian melanjutkan perjalanannya ke arah selatan dengan bantuan penunjuk jalan baru.

    Dalam perjalanan menuju Teluk Aqaba, Burckhardt mendengar isu tentang situs yang menurut legenda adalah makam Nabi Harun, saudara Nabi Musa. Pada saat itu dia berada di daerah bernama ‘Arabia Petrea’, wilayah bekas taklukan Romawi.

    Hal ini mengingatkannya pada legenda kota yang hilang, yang ia dengar waktu singgah di Malta. Namun rahasia keberadaan kota legenda ini sangat dijaga oleh kaum Badui di sekitar gurun. Tidak sembarangan orang diperbolehkan untuk masuk ke dalamnya.

    Dengan bermodalkan identitas arab muslimnya, dia mengatakan pada penunjuk jalannya bahwa dia hendak mengurbankan seekor kambing bagi Nabi Harun. Akhirnya dia diantar melalui sebuah lembah batu yang panjang, dan pada tanggal 22 Agustus 1812 dia menjadi orang barat pertama yang melihat Kota Kuno Petra.

    —“Sebuah mauseoleum kosong terlihat. Suasana dan keindahan yang sengaja dibangun untuk memberikan impresi yang menggetarkan bagi pejalan yang tiba sesudah menyusuri sebuah lembah yang dalam dan temaram -selama setengah jam.
    Orang-orang lokal menyebut monumen ini Kaszr Faraoun atau Kastil Firaun; dan pura-pura menganggap tempat ini adalah tempat tinggal sang pangeran. Padahal sebenarnya tempat ini lebih tepat dikatakan sebagai makam sang pangeran, dan bangunan teragung di tempat ini adalah tempat menaruh harta kekayaan kota, yang berhasil menjadi monumen kehebatan penguasa-penguasanya.”
    —-
    Demikian tertulis dalam buku yang ia tulis kemudian: “Travels in Syria and the Holy Land.”

    Dia tidak dapat tinggal lama di kota kuno tersebut karena takut penyamarannya terbongkar. Ia menuliskan keberadaan kota kuno ini dalam catatannya, lalu meneruskan perjalanannya melalui gurun Transjordan dan Semenanjung Sinai.

    Burckhardt tiba di Kairo tanggal 4 September 1812, 8 bulan setelah dia meninggalkan Aleppo. Dia memutuskan untuk tinggal selama 4 bulan di Kairo sambil ‘menunggu’ rombongan karavan lewat yang menuju Sahara ke arah barat Afrika. Ketika tidak kunjung muncul karavan menuju ke Sahara, dia memutuskan untuk berangkat ke arah selatan menyusuri pinggiran sungai Nil menggunakan keledai ke arah Dongola, Sudan.

    Dia pergi meninggalkan Kairo di bulan Januari 1813. Namun seratus mil sebelum Dongola, Burckhardt kembali dirampok. *banyak sekali perampok saat itu, yaaa!

    Beruntungnya, pada bulan Maret 1813 sebelum tiba di Dongola, Burckhardt secara tidak sengaja menemukan Kuil Agung Ramses II (Kuil Abu Simbel) yang terkubur di bawah pasir . Setelah bersusah payah beberapa lama untuk menemukan pintu masuk kuil, akhirnya ia menyerah. Ia kemudian mengirimkan surat pada seorang rekannya, Giovanni Belzoni, mengenai temuannya ini. Belzoni kemudian datang dan berhasil menemukan pintu masuk ke dalam kuil pada tahun 1817. Burckhart sendiri meneruskan perjalannnya ke Dongola.

    Peta Perjalanan Bruckhardt

    Ketiba tiba di Shendi, Sudan. Burckhardt tidak belok ke arah barat menuju Niger sesuai dengan misinya. Dia malah mendapatkan ide untuk berhaji ke Makkah. Ia beralasan bahwa hal ini perlu dilakukan agar identitasnya sebagai seorang muslim semakin meyakinkan. Karena penduduk yang tinggal di sekitar sungai Niger adalah orang-orang beragama islam.

    Alih-alih berbelok ke barat, dia malah berbelok ke timur di sekitar Ethiopia, kemudian menyeberangi Laut Merah menuju jazirah Arab.

    Ia tiba di Jeddah pada tanggal 18 Juli 1814, setahun lebih setelah dia meninggalkan Abu Simbel. Di arabia Burckhardt terserang sakit disentri untuk pertama kalinya. Kabar baiknya, ia berhasil mendapatkan izin untuk memasuki Tanah Haram setelah dia berhasil membuktikan keislamannya pada penguasa setempat.

    Selama beberapa bulan, ia tinggal di Mekah dan melakukan ibadah haji. Ia menuliskan tata cara ibadah haji dalam sebuah jurnal, yang kemudian menjadi acuan seorang penjelajah barat lain, Richard Burton, dalam menjelajah tanah suci di kemudian hari.

    Tampaknya Burkhardt mulai tertarik kepada budaya Islam. Dia malah meneruskan perjalannya menuju Madinah, semakin menjauhi daerah Niger yang menjadi tujuan awalnya. Di Madinah ia kembali terserang disentri dan harus beristirahat menyembuhkan diri selama tiga bulan.

    Sesembuhnya dari disentri, Burckhardt memutuskan untuk kembali ke utara, menuju Kairo melalui Semenanjung Sinai melalui jalan darat. Ia tiba di Sinai dalam keadaan dehidrasi berat, nyaris tidak selamat.

    Tapi rupanya rejeki Burckhardt masih baik. Ia berhasil kembali ke Kairo pada tanggal 24 Juni 1815. Tiga setengah tahun setelah dia meninggalkan Aleppo.

    Kemudian Ia memutuskan untuk tinggal di Kairo selama 2 tahun, sambil menuliskan jurnal perjalannya. Dia masih sempat mengunjungi Alexandria dan Gunung Sinai -sambil menunggu karavan yang akan membawanya ke tujuan semula –Sungai Niger. Sayangnya sebelum karavannya berangkat, Burckhardt kembali menderita disentri.

    Kali ini rejekinya sudah habis. Ia meninggal pada tanggal 15 Oktober 1817, sebelum dia genap berumur 33 tahun. Dia dimakamkan sebagai seorang Muslim di dalam sebuah makam yang bertuliskan nama Islamnya: Syeikh Ibrahim bin Abdallah.

    ——
    ~originally written for torch.id (18/4/2016)


    PS : Kalau tidak familiar dengan kota-kota dan wilayah yang diceritakan di atas, silahkan lihat peta perjalanannya di peta google maps yang saya buat di sini >> https://www.google.com/maps/d/u/1/edit?authuser=1&mid=125psD0ZFe4X74MCFYpGg_U15iIc

     

  • Tidak Boleh Sholat di Toko Berdewa

    ~catatan kecil negeri Tiongkok (I)
    Jam menunjukkan pukul 5 sore. Saya dan Hanafi celingak-celinguk berusaha mencari ruangan kecil untuk menunaikan sholat Dzuhur dan Ashar di dalam salah satu kompleks perdagangan bahan kulit terbesar di propinsi Kanton.

    Akhirnya kita sadar, walau mencari makanan halal di Tiongkok tidak terlalu sulit –mencari mushala sih lain cerita. Yang pasti di kompleks perdagangan ini tidak ada ruang khusus untuk sholat. Sementara hotel kami jauh, sekitar 1 jam perjalanan dari sana.

    Akhirnya setelah menuntaskan bisnis di salah satu toko di sana, saya memberanikan diri bertanya pada sang pegawai toko.

    Excuse me. Do you know where I can pray? (sambil mengangkat dua tangan saya ke atas, mencontohkan takbiratul ihram). You see, I’m a muslim. I need to pray before the sun sets”.

    “…….”, jawabnya melongo

    I am a muslim. I need room to pray. Only 5 minutes”, ulang saya dalam grammar yang lebih sederhana.

    “….. ooooh … muslim pray ah“, dalam dialek mandarin yang lebih kental dari kopi teman saya si Dewo

    Bangsa Tiongkok itu bukan bangsa yang asing dengan budaya Islam. Sebagian dari mereka bahkan lebih dahulu memeluk agama Islam dibandingkan orang Sunda seperti saya. Jadi sholat-sholat doang mah (seharusnya) mereka ngerti lah.

    Pegawai toko itu kemudian memandang berkeliling tokonya, seperti berpikir agak ragu.

    So, is there a room where I can use?“, kata saya

    Ahhh … you … cannot pray here“, katanya agak terbata-bata

    Agak kecewa saya mendengarnya. Karena biasanya mereka sangat membantu kalau ikatan bisnis sudah berjalan.

    Do you know somewhere else I can pray. I really need to pray“, kata saya keukeuh.

    No No. You cannot pray here” katanya juga keukeuh.

    Di dalam hati saya mulai berpikir, jangan-jangan ini tipe orang yang anti-agama. ….. well …. eh tapi ternyata saya salah. Karena dia lalu meneruskan jawabannya.

    You cannot pray IN THIS ROOM. Because my Boss, he HAS A GOD in this room”. Sambil menunjuk pada patung idol kecil seukuran teko yang dikelilingi hio di dinding.

    “You want to pray. No problem. In the warehouse, ok? Just not in this room.” lanjutnya ramah.

    Kemudian dia mengajak saya berjalan ke gudang di belakang sambil bercerita bahwa dia sendiri tidak punya agama, tapi bos-nya sangat religius. Jadi dia tidak berani memberikan izin saya untuk sholat di ruangan yang ada Dewa-nya. Mungkin dia khawatir ‘Dewa’ saya akan gelut dengan ‘Dewa’ Boss-nya.

    Hahaha .. oke deh. Sama seperti kamu. Saya juga akan menghargai kepercayaan kamu (dan boss kamu), jika kamu (dan boss kamu) menghargai kepercayaan saya.

    Asia memang keren dan penuh warna. Asia Rocks! Titip salam kompak pada Walikota Nice dan walikota kota lain di Perancis yang melarang pemakaian burkini. Kalian harus datang ke Asia untuk belajar bagaimana orang komunis dan orang muslim berdagang, ibadah dan ngobrolin kehidupan 🙂