Author: ombenben@gmail.com

  • Kesulitan mengenali Tuhan gara-gara Atrophy

    Saya baru disadarkan barusan bahwa ‘atrophy’ (melemahnya fungsi tubuh karena kurang dipakai) adalah sifat dasar ciptaan Allah SWT.

    Misalnya kita memutuskan untuk tiduran selama satu tahun dan tidak berjalan sedikitpun, maka satu tahun kemudian kita tidak akan mampu berjalan lagi.
    Mau lebih ekstrim? Coba tutup mata kita selama setahun, lalu lihat apa yang terjadi ketika kita akhirnya membuka tutup mata kita setahun kemudian.

    Tersadarkan hal ini saja sudah membuat merinding. Berapa banyak bakat dan kemampuan kita yang terbuang percuma karena kita putuskan tidak mau mengembangkannya. Karena malas, hoream, lagi PeWe, lagi tanggung nangkep pokemon, dsb 🙂

    Hal ini berlaku bagi semua ciptaan-Nya yang di dunia fisik atau pun dunia spiritual. Artinya … kalau kita terlalu lama tidak mengasah kemampuan mengenali kebesaran Allah di sekeliling kita, maka suatu saat kita akan kehilangan sama sekali kemampuan untuk mengenali Tuhan kita. If you don’t use it. You’ll loose it.

    Na’udzubillah.

    *)gambar pinjam dari http://neuromuscular.wustl.edu/pathol/sma.htm

  • Menjajal Jalur Prestasi PPDB Kota Bandung 2016

    Sejak minggu lalu, saya dan istri, sering dihubungi oleh sesama orang tua murid dan guru-guru Samsam dari SD Firdaus Percikan Iman. Intinya mereka menanyakan, apakah Samsam akan menggunakan kesempatan masuk SMP negeri melalui jalur prestasi.

    Jujur saja, awalnya kami tidak berencana menjajal jalur ini. Bukannya apa-apa, walau bakat storytelling Samsam telah menghasilkan beberapa piala untuknya, kami tidak pernah merencanakan dia untuk menggunakan prestasi ini sebagai salah satu cara masuk ke SMP negeri. Sehingga kita kurang banyak know-how perihal syarat, cara pendaftaran bahkan seberapa besar peluang PPDB jalur prestasi.

    Tapi kamis malam kemarin (16/6/2016) akhirnya kami putuskan untuk mencobanya setelah diyakinkan oleh salah satu guru Sam di sekolahnya. Ini kata beliau, “Saya sarankan Sam mencoba jalur prestasi ini sebagai bentuk ikhtiar sempurna. Hasilnya diterima atau tidak tetap menjadi nilai plus buat Sam.” Hmmm … bener juga. Besok paginya, hari Jum’at, saya ambil cuti satu hari untuk mencoba hal baru yang peluangnya tidak diketahui … hehehe

    Boleh ya saya share, biar pengalaman ini bisa jadi salah satu bahan pertimbangan para orang tua untuk mengukur peluang PPDB jalur prestasi di tahun-tahun ke depan. Tentu dengan catatan bahwa tidak ada perubahan yang terjadi pada Perwal PPDB Bandung di tahun depan. Here it goes …

    SYARAT-SYARAT DASAR DAN MUTLAK

    1. Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional (SKHUN)/Sementara. Ternyata tidak diminta, karena kan nilai UN-nya belum keluar. Tapi panitia akan meminta KARTU PESERTA UJIAN NASIONAL. Jadi jangan lupa dibawa.
    2. Surat Tanggung Jawab Mutlak Orang Tua. Minta saja formatnya ke sekolah. Print dan tanda tangan.
    3. Sertifikat Kejuaraan. Asli dan Fotocopy. Yang aslinya pun akan dititipkan di sekolah selama proses PPDB.
    4. Surat Tanggung Jawab Mutlak pihak yang mengeluarkan sertifikat kejuaraan.
    5. Surat Pengantar dari Sekolah.
    6. Fotocopy Akte Kelahiran.
    7. Fotocopy KTP Orang Tua.Yang aslinya harap dibawa untuk diperlihatkan.
    8. Fotocopy Kartu Keluarga. Yang aslinya harap dibawa untuk diperlihatkan.
    9. Surat Kelakuan Baik dari sekolah, bagi lulusan baru.

     

    PIALA ITU KEREN, TAPI SERTIFIKAT ITU KUNCI

    Syarat pembuktian prestasi pada proses PPDB adalah sertifikat atau piagam yang menyatakan anak anda memenangkan lomba tersebut. Jadi kalau anak anda menang lomba dan mendapatkan piala sebesar pohon natal, TETAP anda harus minta sertifikat kemenangannya. Di dalam sertifikat harus tertulis beberapa informasi yang penting ; siapa yang menang, juara berapa, lomba apa, dan tingkat kemenangan (kecamatan, kota, propinsi, nasional, benua atau dunia).

    Silahkan lihat di tabel bawah untuk memahami pembobotan juara menurut tingkat kejuaraannya.

    Tingkat kejuaraan Capaian Poin
    Kejuaraan dunia/setingkatnya Juara 1/Emas 35
    Kejuaraan dunia/setingkatnya Juara 2/Perak 34
    Kejuaraan dunia/setingkatnya Juara 3/Perunggu 33
    Kejuaraan dunia/setingkatnya Babak 32 Besar – Semifinal 32
    Kejuaraan dunia/setingkatnya Peserta 31
    Kejuaraan Asia/setingkatnya Juara 1/Emas 30
    Kejuaraan Asia/setingkatnya Juara 2/Perak 29
    Kejuaraan Asia/setingkatnya Juara 3/Perunggu 28
    Kejuaraan Asia/setingkatnya Babak 32 Besar – Semifinal 27
    Kejuaraan Asia/setingkatnya Peserta 26
    Kejuaraan Asia Tenggara/setingkatnya Juara 1/Emas 25
    Kejuaraan Asia Tenggara/setingkatnya Juara 2/Perak 24
    Kejuaraan Asia Tenggara/setingkatnya Juara 3/Perunggu 23
    Kejuaraan Asia Tenggara/setingkatnya Babak 32 Besar – Semifinal 22
    Kejuaraan Asia Tenggara/setingkatnya Peserta 21
    Kejuaraan nasional/setingkatnya Juara 1/Emas 20
    Kejuaraan nasional/setingkatnya Juara 2/Perak 19
    Kejuaraan nasional/setingkatnya Juara 3/Perunggu 18
    Kejuaraan nasional/setingkatnya Babak 32 Besar – Semifinal 17
    Kejuaraan nasional/setingkatnya Peserta 16
    Kejuaraan daerah/setingkatnya Juara 1/Emas 15
    Kejuaraan daerah/setingkatnya Juara 2/Perak 14
    Kejuaraan daerah/setingkatnya Juara 3/Perunggu 13
    Kejuaraan daerah/setingkatnya Babak 32 Besar – Semifinal 12
    Kejuaraan daerah/setingkatnya Peserta 11
    Kejuaraan kota/setingkatnya Juara 1/Emas 10
    Kejuaraan kota/setingkatnya Juara 2/Perak 9
    Kejuaraan kota/setingkatnya Juara 3/Perunggu 8
    Kejuaraan kota/setingkatnya Babak 32 Besar – Semifinal 7
    Kejuaraan kota/setingkatnya Peserta 6
    Kejuaraan kecamatan/setingkatnya Juara 1/Emas 5
    Kejuaraan kecamatan/setingkatnya Juara 2/Perak 4
    Kejuaraan kecamatan/setingkatnya Juara 3/Perunggu 3
    Kejuaraan kecamatan/setingkatnya Babak 32 Besar – Semifinal 2
    Kejuaraan kecamatan/setingkatnya Peserta 1

     

    SERTIFIKAT ITU KUNCI, TAPI STJM ITU MUTLAK

    Ternyata sertifikat pun belum cukup kuat untuk menyatakan bahwa anak anda memang menjuarai suatu perlombaan. Untuk mem-backup-nya dibutuhkan sebuah Surat Tanggung Jawab Mutlak dari organisasi yang mengeluarkan sertifikat tersebut. Kalau anak anda jagoan olahraga, biasanya STJM-nya dikeluarkan oleh KONI level sertifikat tsb (KONI tk. kota – nasional). Jika anak anda menjuarai perlombaan menari level propinsi yang diadakan oleh sebuah SD di Jakarta, berarti kepala sekolah SD tersebut yang harus mengeluarkan STJM yang memperkuat sertifikat kejuaraannya.

    JUARA ITU PENTING, TAPI LEBIH PENTING LAGI SERING BERLOMBA

    Aturan PPDB 2016, langsung dan tidak langsung, mendukung anak agar sering berlomba. Itu terlihat dari pembobotan pointnya. Lihat tabel di atas, bahkan bagi peserta lomba (yang tidak juara) akan mendapatkan 1 point utk level kecamatan, 6 point utk level kota, 11 point untuk level daerah, dan selanjutnya.

    Jika panitia PPDB konsisten menjalankan perwal-nya, maka sering-seringlah mendorong anak anda untuk berlomba, dan usahakan dia berprestasi (minimal) sampai di level kota. Karena di level kota lah point yang didapat mulai besar (6-10 point). Kalau anak anda menjadi juara 1 pertandingan level kota sebanya 3 kali maka nilainya setara dengan juara 1 tingkat Asia.Silahkan berhitung menggunakan tabel di atas, anda akan menemukan hal-hal dan skenario-skenario lain yang unik.

    Saran pada para guru dan kepala sekolah, sering-seringlah mengirimkan anak-anaknya untuk mengikuti berbagai pertandingan. Terutama di kelas 4 dan 5, ketika mereka belum terlalu sibuk persiapan UN.

    TIDAK ADA ATURAN YANG MENGATUR LOMBA PERSEORANGAN DAN KELOMPOK

    Tidak adanya peraturan yang mengatur apakah poin juara individu lebih besar nilainya daripada juara kelompok, lumayan menguntungkan bagi juara kelompok. Karena dalam prakteknya (saya cek datanya melalui situs resmi PPDB Kota Bandung hari ini), panitia PPDB akhirnya menilai semua peserta kelompok dengan nilai yang sama.

    Apa sisi negatif dari hal ini? Bisa saja terjadi sebuah SMP yang kuota jalur prestasinya hanya 18 diisi penuh oleh (misal) anggota kelompok juara paduan suara level nasional dari SD tertentu. Bagus? Ya bagus-bagus saja. Nanti mereka bisa bersama-sama lagi menjadi juara di level SMP. Sayangnya nanti SMP tersebut akan miskin potensi dari jalur prestasi lainnya.

    FOKUSLAH PADA PRESTASI TERTENTU DI LEVEL YANG BERBEDA

    Jika peserta memiliki lebih dari satu prestasi dari bidang/cabang yang sama dan berjenjang (misal juara seleksi OSN tingkat kota, lalu juara lagi pada seleksi tingkat provinsi, lalu menjadi peserta di tingkat nasional), maka skor-skor prestasi yang diperolehnya akan dijumlah. Namun jika peserta memiliki lebih dari satu prestasi dari bidang yang berbeda-beda, maka dipilih prestasi terbaik *)

    *) dicopas dari bicarapassinggrade.wordpress.com

    Saya tidak mengerti kenapa aturannya dibuat seperti ini, tapi kalau melihat aturan di atas maka aturan ini jelas lebih menguntungkan jika kita fokus pada salah satu talent saja dalam diri si anak.

    PRESTASI LEVEL TK BISA TERBAKAR

    Samsam sebenarnya memiliki sebuah piala level kota/kabupaten sejak di level TK. Kalau dihitung lumayan tuh pointnya, tambahan 10 point. Tapi ternyata panitia PPDB tidak bisa memasukannya sebagai bahan penilaian. “Terlalu jauh”, katanya.

    Kenapa dibilang terlalu jauh saya tidak mengerti. Kalau dalam logika saya, jika seseorang memiliki prestasi di bidang yang sama sejak kecil justru menjadi pembuktian bahwa prestasi tersebut bukan prestasi ‘ujug-ujug’. Seharusnya itu nilai positif.

    PANITIA AKAN MENGUKUR JARAK RUMAH ANDA MENGGUNAKAN GOOGLE MAPS

    Meja ke-dua setelah pemeriksaan kelengkapan dokumen adalah ‘meja google maps’. Di sana panitia akan mencatat google maps location coordinates dari alamat yang tertera di Kartu Keluarga anda untuk menentukan jarak rumah anda dari sekolah. Semakin dekat dari sekolah semakin baik. Oh iya, Kartu Keluarga anda harus berumur minimal 1 tahun. Aturan ini dibuat karena di tahun sebelumnya banyak keluarga yang membuat kartu keluarga abal-abal demi memperbesar peluang diterima. Bangsamu! … hehehe…

    KUOTA JALUR PRESTASI ITU SEDIKIT, DAN TIDAK MERATA PEMINATNYA

    Pendaftaran jalur prestasi waktunya bersamaan dengan jalur non-akademik lain (jalur afirmasi RMP/tidak mampu, jalur UU Guru, dll). Tahun ini jatuh pada tanggal 15-18 Juni 2016, selama 4 hari.

    Ternyata kuota jalur prestasi itu hanya sedikit. Di tiap sekolah hanya diterima 10 sampai 25 murid. Kebanyakan kuotanya sekitar belasan kursi. Peminatnya pun tidak merata.

    Data pagi ini (18/6/2016), setelah 3 hari pendaftaran (masih sisa pendaftaran sehari lagi), SMPN 2 memiliki 14 kursi yang diperebutkan 50 pendaftar, SMPN 5 memiliki 15 kursi yang diperebutkan 52 orang. Berbeda jauh dengan SMPN 6 yang memiliki 23 kursi tapi hanya memiliki 1 pendaftar atau SMPN 12 yang memiliki 16 kursi dan tidak ada pendaftar sama sekali.

    PERSAINGAN DI SEKOLAH FAVORIT LEBIH KETAT

    Jika dipantau di situs resmi PPDB Kota Bandung, diketahui kebanyakan pendaftar memilih sekolah-sekolah yang itu-itu lagi (sekolah favorit)Calon siswa yang mendaftar ke sekolah-sekolah itu pun kelas kakap sertifikatnya : Juara 1 level internasional, level Asia dan sebagainya. Sehingga Passing Grade Prestasinya pun tinggi, sekitar 21-25 points (setara satu sertifikat juara 1 Asia Tenggara).

    Sementara masih ada sekolah lain yang Passing Grade Prestasinya sekitar 11, 8, 3 bahkan 0, karena tidak ada pendaftar. Mungkin hal ini akan berubah di hari terakhir (Sabtu, 18 Juni 2016).

    Artinya untuk memperbesar kemungkinan diterima maka mendaftarlah di hari terakhir, setelah mengetahui Passing Grade Prestasi dan perbandingan jumlah pendaftar dan pendaftar jalur prestasi. Siapa tahu ada sekolah yang cukup baik tapi pendaftar jalur prestasinya sepi. Tapi kalau semua orang melakukan ini kebayang penuhnya pendaftaran di hari terakhir, sehingga mulai terjadi kegagalan daftar karena syarat yang kurang lengkap, misalnya.

    Udah dulu deh sharing cerita pengalaman pendaftaran PPDB kemarin. Terima kasih pada bapak dan ibu guru SD Firdaus Percikan Iman yang banyak membantu proses persiapan berkas syarat pendaftaran PPDB Jalur Prestasi. Diterima gak diterima mah kita serahkan saja pada yang punya sekolah semesta. Toh katanya, there’s no such thing as wasted effort.

  • Uang adalah rejeki. Rejeki adalah uang. Really?

    Sebenarnya apa sih uang itu? Kekurang uang katanya banyak membuat manusia terlibat korupsi, penggelapan, kolusi, pencurian dan segala jenis variannya. Kebanyakan uang juga kadang membawa efek yang gak kurang nista : sombong, bermewah-mewahan, kurang bersyukur dan segala jenis variannya.

    Mari kita jujur. Di alam bawah sadar kita mungkin tersirat ‘Uang adalah Rejeki’ dan  ‘Rejeki adalah uang’. Betul?

    Uang (logam) sebagai medium pembayaran mulai digunakan manusia sejak sekitar 2600 tahun yang lalu. Sebenarnya sih sudah ada jenis barang-barang lain yang digunakan manusia sebagai alat tukar selain uang. Misalnya dahulu orang Romawi menggunakan ‘garam’ sebagai alat pembayaran upah. Itu sebabnya, sampai sekarang bahasa inggris untuk ‘gaji’ adalah ‘sallary’, yang diambil dari bahasal latin untuk garam : ‘salarium’. Tapi konsep garam sebagai alat tukar tidak bertahan, karena mudah hilang dan nilainya yang kurang tinggi. Maka konsep uang (logam) lah yang terus berkembang sampai saat ini.

    Anyway, kalau rejeki adalah adalah uang, apakah berarti manusia yang hidup 3000 tahun yang lalu gak pernah dapat rejeki? Enggak juga kan?

    Sebelum uang diciptakan, manusia konon menggunakan sistem barter; menukarkan barang kebutuhannya dengan barang kebutuhan orang lain. Sistem ini tidak sesimpel yang kita kira. Timing dan kecocokan barang yang saling dibutuhkan, sering kali tidak pas. Misalnya : ada petani yang punya surplus beras, ingin menukarkan sebagian berasnya dengan daging kambing. Kemudian dia mencari peternak kambing, lalu menawarkan untuk menukarkan 4 karung berasnya dengan seekor kambing. Eh, ternyata sang peternak masih punya 2 karung beras, dia lagi gak butuh beras banyak-banyak. Kalaupun butuh dia cuman perlu 2 karung beras saja. Masa mau menukar 2 karung beras dengan separuh kambing? Kasihan amet kambingnya.

    Makanya kemudian beberapa bangsa di dunia berinovasi menciptakan alat tukar yang lebih fleksibel, namanya uang. Bangsa-bangsa ini mulai menggunakan uang yang digunakan sebagai media penukar barang/komoditi. Biar gak usah galau menukarkan separuh kambing dengan dua karung beras. Negara atau penguasa lah yang bertugas menerbitkan media tukar bernama uang tersebut.

    Jadi pada dasarnya uang itu hanya media perantara pertukaran barang kebutuhan.

    Sayangnya kemudahan yang ditawarkan konsep ‘uang’ ini kemudian menjadi jebakan batman bagi manusia modern. Konsep ‘kaya raya’ berlabel financial freedom menjadi lebih mungkin terjadi, daripada di jaman sebelumnya. Karena uang itu memiliki kelebihan yang luar biasa, yaitu INSTAN -mudah dan cepat ditukarkan dengan benda lain.

    Menjadi kaya pun jadi lebih simpel dan menyenangkan. Jaman sekarang orang yang kekayaan cash totalnya 10 milyar, hanya perlu membuka beberapa rekening bank. Kekayaannya akan tercatat di beberapa buku tabungan ataupun secara digital. Dijamin oleh bank. Aman, selama tidak ada resesi. Bermalas-malasan sambil menikmati bunga atau pembagian keuntungan sangat dimungkinkan di era modern ini.

    Bayangkan (kalau ada) seorang peternak kambing 3.000 tahun yang lalu yang memiliki kekayaan senilai 10 milyar. Jika harga kambing satu juta rupiah maka dia, kasarnya, harus memiliki peternakan berisi 10.000 ekor kambing. Sebesar apa peternakannya? Kalau peternakan kambingnya terkena wabah, dalam sebulan dia bisa jatuh miskin semiskin-miskinnya. Susah jadi orang kaya jaman dahulu. Kalau mau kaya, kekayaanya harus terus digerakkan. Diinvestasikan langsung di perdagangan yang berbeda-beda, agar tetap aman. Jaman dahulu, kaya itu harus produktif. Kaya itu capek. —welltentu ini tidak berlaku untuk keluarga kerajaan dan bangsawan.

    Itu juga sebabnya perdagangan adalah bagian yang integral dalam pendidikan (informal) jaman dahulu. Di jaman sekarang, banyak orang yang sudah dewasa tapi belum pernah dagang. Belum pernah merasakan menjual sebuah pensil pada orang lain, satu kalipun!

    Maka jaman sekarang, lebih banyak juga penipu. Karena orang-orang dewasa tidak punya pengalaman berdagang sejak kecil. Dikirimi SMS hadiah mobil, langsung percaya. Orang jaman dahulu tidak akan percaya itu, mereka lebih tahu bahwa rejeki tidak bekerja dengan jalan instan seperti itu. Apalagi jaman dahulu manusia hidup sebagai masyarakat agraris. Mereka sangat paham kesabaran dalam menumbuhkan bulir demi bulir beras, membesarkan sekawanan anak kambing, dan sangat tahu capek (sekaligus asyiknya) mengumpulkan dedaunan untuk membuat lotek dan gado-gado.

    Guys, hati-hati dengan jebakan instan uang: ingin cepat kaya, ingin ganti-ganti mobil bagus, ingin terlihat keren (walau hanya di Fb dan IG) atau ingin terlihat sukses (di saat reuni SMA). Instan selalu comes with a price. Jangan sampai biaya ke-instan-an ini ditukarkan dengan harga diri, integritas bahkan kehidupan kamu di alam yang selanjutnya.

    Untuk teman-teman yang menjalani jalan hidup berbisnis, kadang uang lebih bertanduk. Karena dalam bisnis, kita selalu harus menyertakan uang sebagai salah paremeter pencapaian target. Kurang uang, bisnis mandeg. Padahal di saat yang sama kita harus tetap sadar bahwa uang itu bukan segalanya.

    Lebih enak jadi anggota DPR, karena parameter kesuksesannya adalah jumlah undang-undang yang dihasilkan — bukan uang yang dihasilkan. Tapi  kok justru banyak koruptor di sana, ya? *Ini jawabannya, kali : ‘karena mereka gak ngerti tugas mereka sendiri.’ 

    meme-rupiah_14

    Mari perbaiki persepsi kita tentang uang. Rejeki bukanlah hanya uang. Uang tidak selalu berarti rejeki. Syukurilah rejeki-rejeki kecil di dalam hidup:

    • Bersyukurlah alis mata kita masih bisa tumbuh di atas kiri dan kanan mata. Coba kalau tumbuhnya yang kiri di atas –lalu yang kanan di bawah mata.
    • Bersyukurlah kita hanya bisa melihat masa kini. Kalau bisa melihat masa depan, hidup kehilangan excitement-nya. Gak seru lagi nonton Liga Inggris. Boring. 
    • Bersyukurlah kita tidak setenar artis. Jadi kalau berbuat salah dikit gak bakal masuk infotainment dan dibuatkan meme yang gak akan hilang dari halaman satu google image search selama 2 tahun ke depan.
    • Bersyukurlah walaupun uang gak banyak, masih bisa belanja ke Factory Outlet untuk cari barang branded rijek dan KW2. Soalnya kalau sudah urusan mati, sebanyak apapun uang kita, hanya perlu beli kain kafan. Dan sebagus apapun kain kafan, gak ada yang branded. Kalau ada yang branded pun percuma, emang malaikat harus bilang wow gitu?

    ——-

    “Money will buy a bed but not sleep; books but not brains; food but not appetite; finery but not beauty; a house but not a home; medicine but not health; luxuries but not culture; amusements but not happiness; religion but not salvation; a passport to everywhere but heaven.”

    ——-

  • BISNIS RITEL ITU BUKAN TINJU, RITEL ITU MARATHON

    Banyak yang tanya, kenapa saya & Uda Hanafi selepas kampanye Ridwan Kamil 2013, agak jarang muncul ke permukaan. Bukan, Sob. Bukan alasan politik atau lagi ngelmu di dalam goa.

    Kalau kita gak sesering itu ‘wara-wiri aktipis’, sebenarnya karena kita lagi membuat fondasi produk asli Bandung yang disiapkan agar bisa bersaing dalam persaingan di Indonesia, asia dan dunia.

    Karena cita-citanya tinggi, kayak cita-cita anak SD, maka belajarnya harus super serius. Alhamdulillah kami dapat sekolah nomor wahid : Shafira Corporation (Shafco). Di sana kami dapat 3 mentor senior : Ibu Feny Mustafa, Pak Murzid Hilmi Aziz dan Pak Gilarsi Setijono. Tiga dari sedikit orang Indonsia yang menguasai ilmu pengembangan bisnis ritel dari ukuran startup sampai top brand corporation. Mereka bertiga mentor sekaligus komisaris saya.

    “Ritail is science, Ben. Semua bisa diukur”, begitu kata Pak Gil yang lulusan ITB.

    “Sales itu darah semua bisnis, Ben. Produk kamu harus beredar di seluruh saluran distribusi. Baru sebuah bisnis bisa tumbuh,” kalau ini khas Pak Murzid, mantan direktur utama Shafira dan aktivis Kadin.

    Bu Feny yang instingnya tajam, di tahun pertama langsung bilang “Kalau belum ke China, kamu gak cukup pengetahuan bisnis, Kapan kita berangkat?”

    Tiga tahun yang lalu, saya dan Hanafi, belum punya cukup ilmu untuk mengembangkan bisnis skala saat ini. Jadi selama 1,5 tahun kami harus belajar di dalam Grup Shafco, me-manage bisnis yang ukurannya sangat besar.

    Jadi kami belajar pada direktur-direktur dan manager-manager Shafco di dalam proyek bersama di dalam Grup. Mereka ini seperti Assisten Dosen praktek. Sangat pintar dalam urusan merchandising, warehousing, sales operation, dll.

    Selama fase ini, saya lebih memilih mendengar dan melakukan. Saya jarang bicara, karena saya sedang jadi murid. BIcara secukupnya dan banyak bekerja.

    Parameter lulusnya ‘cadas pisan’, Proyek kita harus mencapai ‘titik-titik titik-tikik M’ per tahun. Alhamdulillah dalam satu setengah tahun kami lulus program mentorship.

    Setelah lulus, Pak Gil kemudian menantang saya untuk mengajukan sebuah konsep bisnis baru yang akan kita garap bersama-sama. Syarat-syaratnya:
    (a) Besaran pasar nasional masa depan harus setara Zoya, salah satu leading brand Shafco.
    (b) Competitive dan Comparative Advantage harus dimiliki Bandung dan Indonesia.
    (c) Mampu bersaing dengan produk luar yang sedang siap-siap masuk Indonesia.
    (d) kanal distribusinya sudah teridentifikasi dengan baik.

    Yang menarik adalah Pak Gil mensyaratkan untuk memilih
    (e) bisnis yang harus saya sukai.

    Begini berkatanya, “Saya tahu kamu dasarnya adalah seorang desainer. Pastikan kamu menyukai bisnis ini. Saya tidak ingin mood membuat kamu mental di tengah jalan.”

    Pak Gil tahu sekali bahwa BIsnis Ritel itu tidak sama dengan olahraga Tinju. Jangan harap, hanya karena badan kita besar dan pukulan kita mujarab, maka kita bisa menang di ronde pertama –lalu pulang sebagai pemenang.

    Lagipula mengkanvaskan pesaing di dasar ring bukanlah tujuan bisnis ritel. Jangan mengalahkan musuh dengan menciptakan musuh yang baru. Suatu saat musuh-musuh kita akan bersatu -dan kita adalah musuh bersamanya. Sejarah sudah membuktikan hal ini berkali-kali. Fear this!

    PInjam dikit perumpamaan pak Anies Baswedan:
    ~
    Lawan debat adalah teman berpikir,
    Lawan badminton adalah teman berolah raga
    ~
    berarti

    Lawan dagang adalah teman berbisnis <– ini bukan kata pak Anies

    Sebenarnya bisnis ritel itu lebih mirip Marathon. Tidak masalah siapa yang mulai duluan. Keberhasilan pertandingan marathon itu syarat utamanya adalah sampai ke finish. Sampai finish (mencapai tujuan) itu susah, lama, butuh stamina.

    Kita harus tetap cepat -sepanjang jalan.
    Kita harus punya nafas panjang -untuk perjalanan yang panjang.
    Kita harus senang hati mengayunkan setiap langkah -sampai finish.

    By the way, enaknya posisi ‘kuda hitam’ adalah kita bisa melihat lawan kita dengan jelas di depan. Sementara posisi leader harus selalu melihat ke belakang -padahal menengok ke belakang ini sebenarnya membuang waktu.

    So, jangan takut marathon di belakang.

    ——-
    *) teriring video bisnis TORCH hasil diliput program TV Laptop Si Unyil di TRANS7.

  • Dan Muhammad Hanyalah Seorang Rasul

    Beberapa waktu belakangan, terasa banyak orang-orang baik di sekeliling saya pergi lebih dahulu meninggalkan dunia. Sedih, karena kita tidak akan pernah benar-benar siap ditinggalkan. Saya jadi teringat penggalan cerita umat muslim yang mendadak ditinggalkan Rasulullah, dalam buku Abu Bakar Al-Shiddiq. Bagi yang belum pernah membacanya, silahkan ambil secangkir kopi. Soalnya, walaupun sepenggal cerita, tapi lumayan panjaang …

    DAN MUHAMMAD HANYALAH SEORANG RASUL
    —– Hari-hari terakhir Rasullullah SAW

    Awal Safar tahun ke-11 Hijriah. Nabi Muhammad SAW, pergi ke Gunung Uhud dan mendirikan shalat untuk syuhada Uhud. Beliau pergi ke masjid dan berkata pada kaum muslim, “Sesungguhnya aku meninggalkan kalian dan aku menjadi saksi atas kalian. Demi Allah, saat ini aku melihat telagaku. Telah diberikan kepadaku kunci-kunci simpanan dunia. Dan demi Allah, aku tidak takut jika setelah kematianku kalian menguasai dunia, tetapi aku tekut jika kalian berlomba-lomba mengejar dunia.”

    Suatu malam, Nabi keluar menuju pemakaman Baqi, lalu memohonkan ampun untuk penghuni kubur di sana. “Assalamualikum, Wahai ahli kubur! Semoga kalian dalam keadaan baik. Aku menghadapi fitnah [kematian] yang datang seperti sepotong malam yang kelam. Akhirnya diikuti oleh awalnya, yang akhir lebih buruk dari yang awal. Sesungguhnya kami akan segera berjumpa dengan kalian, sesuai kehendak Allah. Ya Allah, ampunilah para penghuni Baqi.”

    Keluarga, para istri, dan para sahabat dekat Nabi merasakan bahwa saat perpisahaan dengan junjungan mereka itu telah makin dekat. Namun, mereka berusaha menyingkirkan perasaan itu. Mereka masih enggan berpisah dengannya.

    Senin 29 Safar, 11 HIjriyah. Dalam perjalanan pulan dari Baqi, tiba-tiba Rasulullah merasa kepalanya sakit. Tubuhnya menggigil. Para sahabat melihat keringat membasahi surban yang melilit kepala junjungan mereka itu. Tiga belas hari Rasulullah menderita sakit. Namun, selama sebelas hari, ia tetap shalat mengimami kaum muslim.

    Saat sakitnya semakin berat, Rasulullah SAW. bertanya pada istri-istrinya, “Di mana giliranku esok hari?”

    Mereka memahami maksud pertanyaan Nabi dan kemudian membawana ke rumah Aisyah. Nabi berjalan dipapah oleh al-Fadhl ibn Abbas dan Ali ibn Abu Thalib. Kepalanya dililit surban. Seminggu terakhir hidupnya, Rasul berada di rumah Aisyah.

    Rabu, lima hari sebelum wafat, Nabi merasakan demam dan sakitnya mereda. Beliau memasuki masjid, duduk di atas mimbar dan berkhutbah kepada orang-orang yang menyemut di hadapannya: “Semoga laknat Allah atas orang Yahudi dan Nasrani. Mereka menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai tempat ibadah. Jangan sampai kalian menjadikan kuburanku sebagai berhala yang disembah.” (1)

    Usai berkhutbah, Nabi menawarkan diri untuk diqisas. “Siapa yang punggungnya pernah kucambuk, inilah punggungku. Balaslah apa yang telah kulakukan. Siapa yang pernah kucaci, inilah aku, balaslah apa yang telah kulakukan.”

    Kemudian Nabi SAW. turun dari mimbar untuk shalat dzuhur. Usai shalat beliau kembali naik dan duduk di atas mimbar, lalu berwasiat mengenai kaum Anshar:
    “Aku berwasiat kepadamu mengenai kaum Anshar, karena mereka adalah keluarga dan rumahku. Telah berlalu dan telah terhapus keburukan mereka, dan telah abadi kebaikan mereka. Maka, sambutlah segala kebaikan mereka dan maafkanlah segala keburukan mereka.”

    Meski sakitnya cukup parah, Nabi tetap mengimami seluruh shalat fardhu bersama kaum muslimin hingga hari itu, Kamis, empat hari sebelum wafat. Dan pada hari itu Nabi mengimani shalat maghrib dan membaca surat al-Mursalat.

    Sabtu dan Ahad –dua atau satu hari sebelum wafat– Nabi merasa lebih sehat sehingga ia keluar dipapah oelh dua sahabat untuk shalat dzuhur. Ketika itu Abu Bakar akan mengimami orang-orang. Melihat kedatangan Nabi, Abu Bakar mundur dan mempersilahkan Rasulullah ke tempat imam. Nabi memberi isyarat agar ia tidak mundur dan berkata pada dua sahabat yang memapahnya, “Dudukkanlah aku di sisi Abu Bakar.” Keduanya mendudukkan Nabi di sebelah kiri Abu Bakar, yang melanjutkan shalatnya bersama Rasulullah SAW., dan kaum muslimin mendengar takbir yang diucapkannya.

    Senin, ketika kaum muslimin mendirikan shalat shubuh di belakang Abu Bakar, mereka terkejut melihat Rasulullah menyibakkan tirai kamar Aisyah, lalu memandangi mereka yang sudah berbaris rapi untuk shalat. Rasulullah tersenyum dan tertawa sekilas. Abu Bakar mundur dari tempat imam, karena mengira bahwa Rasulullah akan shalat bersama mereka. Hampir saja kaum muslim membatalkan shalat karena gembira melihat Rasulullah keluar dari kamarnya. Namun, Nabi memberi isyarat agar mereka menyelesaikan shalat. Rasulullah kembali memasuki kamar dan menutup tirainya.

    Waktu shalat dhuha hari yang sama telah berlalu, Rasulullah memanggil istri-istri dan keluarganya. Fatimah al-Zahra yang segera menemui Rasulullah terlihat sangat berduka melihat ayahandanya yang sangat menderita dan berusaha menahan rasa sakit yang teramat berat. Ia bertanya pada Rasulullah SAW., “Teramat sakitkah duhai Ayah?”

    Rasulullah menjawab, “Setelah hari ini, ayahmu tidak akan merasakan derita, wahai Fatimah.”

    Kemudian Rasulullah memanggil al-Hasan dan al-Husain, mencium keduanya, lalu mewasiatkan kebaikan kepada mereka. Setelah itu, Rasulullah memanggil istri-istrinya, menasehati, dan mengingatkan mereka.

    Rasulullah akhirnya berwasiat kepada seluruh manusia, “Dirikanlah shalat, dirikanlah shalat, dan perlakukanlah budak-budak kalian dengan baik.” Rasulullah mengulangi wasiatnya itu berulang kali.

    Terdengar tarikan napas Rasulullah semakin pendek-pendek sehingga Aisyah segera menyandarkan kepala beliau di atas pangkuannya.

    Aisyah menuturkan saat-saat terakhir perjumpaannya dengan Rasulullah, “Nikmat terbesar sepanjan hidupku adalah, Rasulullah wafat di rumahku, di hariku, di antara waktu pagi dan siangku, dan sesungguhnya Allah menghimpun air ludahku dan air ludahnya di saat kematiannya. Abdurrahman ibn Abu Bakar memasuki kamar dengan siwak di tangannya. Rasulullah bersandar di pangkuanku dan aku melihatnya memandangi siwak yang dibawa Abdurrahman sehingga aku menduga beliau ingin bersiwak. Aku bertanya, “Maukah aku ambilkan untukmu?” Rasulullah mengangguk. Lalu kuambil siwak itu. Namun, Rasulullah tampak semakin payah. Aku bertanya lagi, “Kulembutkan untukmu?” Rasulullah mengangguk sekali lagi. Lalu aku melembutkan siwak itu —atau meminta seseorang untuk melembutkannya.”

    Dalam riwayat lain, Nabi sendiri menggosok giginya. Di depannya diletakan sebuah baskom kecil berisi air. Rasulullah memasukan tangannya ke baskom itu, lalu membasuh wajahnya seraya berkata, “la ilaha ilallah, sesungguhnya bagi setiap kematian ada sakratul maut.”

    Usai bersiwak, Rasulullah mengangkat tangannya atau jari-jarinya. Pandangnnya menembus atap rumah. Kedua bibirnya tampak bergerak-gerak. Aisyah mendengarnya berkata lirih, “Bersama orang-orang yang Engkau beri nikmat di antara para nabi, shiddiqin, suhada, dan shalihin. Ya Allah, ampunilah aku, sayangilah aku, dan pertemukan aku dengan Kekasih Yang Maha Tinggi. Ya Allah, Engkaulah Kekasih Yang Maha Tinggi.”

    Rasulullah Muhammad SAW. wafat di ujung waktu dhuha hari Senin 12 Rabiul Awal 11 Hijriyah, ketika genap berusia 63 tahun lebih empat hari menurut hitungan tahun qomariyah.

    Pengasuh Nabi, Ummu Ayman, menangis keras. Seorang bertanya, “Ummu Ayman, apakah engkau menangisi kepergian Rasulullah?”

    Ummu Ayman menjawab, “Demi Allah, aku menangis bukan karena Rasulullah pergi ke tempat yang lebih baik dari dunia. Aku menangis karena kabar dari langit telah terputus!”

    Tangis para sahabat menggemuruh. Seakan mereka tidak pernah menangis sebelumnya. Para wanita menangis sejadi-jadinya. Semua berkabung. Kota Madinah berduka, bahkan seluruh semesta berduka. Ketika itu Abu Bakar sedang berada di rumahnya dan ia bergegas menunggani Masjid Nabi. Setibanya di masjid, ia melihat orang-orang telah berkumpul. Ia melewati mereka dan tidak berkata apa-apa. Ia bergegas menuju rumah Aisyah. Ia melihat Rasulullah telah ditutupi sehelai kain. Abu Bakar menyingkapkan penutup wajahnya, kemudian mendekap dan mencium wajah Rasulullah. Ia menangis dan berkata, “Demi ayah dan ibuku, Allah akan menghimpunkan dua kematian bagimu. Kematian yang telah ditetapkan Allah atas dirimu telah engkau alami.”

    Setelah itu Abu Bakar memasuk Masjid dan ia melihat Umar sedang berteriak-teriak kepada orang-orang (2). Abu Bakar berkata padanya. “Duduklah!” Tetapi Umar tak mau duduk. Kemudian Abu Bakar mengucapkan syahadat dengan suara yang lantang sehingga orang-orang berpaling padanya dan mengabaikan Umar.

    Abu Bakar berkata, ” … amma ba’d. barang siapa yang menyembah Muhammad maka sesungguhnya Muhammad telah mati. Barang siapa menyembah Allah maka sesungguhnya Allah Maha HIdup tidak akan mati. Allah berfirman :

    “Dan Muhammad tidak lain hanyalah seorang rasul. Telah berlalu sebelumnya beberapa rasul. Apakah jika ia wafat dan dibunuh, kalian berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun juga, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur,” (Ali Imran : 144)

    Abu Bakar berhasil menenangkan dan mengokohkan kembali hati para sahabat yang berduka dan terguncang. Mereka kembali kepada keimanan yang istiqomah. Semua sahabat yang hadir di masjid seakan-akan baru mendengar ayat itu pada saat itu. Mereka seakan-akan tidak pernah mengenal ayat itu sampai Abu Bakar membacakannya. Kemudian orang-orang membaca ayat itu hingga nyaris semua orang yang ada di sana membacanya.

    Kepergian Nabi Muhammad SAW. meninggalkan kesedihan mendalam di hati umat Islam. Komunitas baru itu merasa belum siap ditinggalkan sang pemimpin, kekasih, junjungan, dan teldah hidup mereka. Mereka terguncang.

    ———–
    *) disadur dari buku “Abu Bakar Al-Shiddiq, 2007. Dr. Mustafa Murad”

    (1) Salah satu tugas Rasulullah adalah mengembalikan umat ke dalam ketauhidan. Nabi Muhammad SAW. tentu saja sangat menghindari umatnya kembali syirik –apalagi menjadikan dirinya sebagai sekutu bagi Allah SWT.

    “…dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu.” (An-Nahl 16:36)

    Penyekutuan Allah yang dihubungkan dengan rasul-rasulnya telah sering dilakukan umat-umat sebelumnya. Bahkan masih terjadi saat ini, juga di lingkungan umat muslim.

    Saya ingat sekali, ketika saya berdiri mendoakan Rasulullah dan para sahabat di makamnya. Do’a saya terputus oleh teriakan seorang Askar, “HAJIIII! Makkah is that way!”

    Saya baru sadar bahwa saya berdoa menghadap makam Nabi dan membelakangi kiblat. Si Askar mengkhawatirkan saya. Dia pikir saya sedang berdo’a meminta pada Nabi –bukan pada Allah. *anyway, makasih untuk pengingatnya, pak Askar.

    Nabi Muhammad mengingatkan kembali masalah dosa syirik di penghujung hayatnya, karena menghentikan pebuatan syirik adalah tugasnya. Legacy-nya.

    Nampaknya memang cara terbaik untuk mensikapi mangkatnya seseorang adalah dengan meneruskan perjuangannya. Jangan biarkan cita-cita baiknya terputus. Jangan biarkan hidupnya sia-sia.

    (2) Dalam buku Umar ibn Khattab, karya Dr. Musthafa Murad juga, diceritakan bahkan Ummar ibn Khattab pun kesulitan menerima kepergian Rasulullah.

    Awalnya ketika menerima kabar ini, Umar ibn Khattab ra. hanya bisa mematung. Lalu seolah tak sadar, Umar berjalan dan berkhotbah di hadapan kerumunan, “Sesungguhnya beberpa orang munafik telah menganggap bahwa Muhammad telah meninggal dunia. Tidak. Sesungguhnya beliau tidak meninggal, tetapi pergi ke hadapan Tuhannya seperti yang dilakukan Musa yang pergi selama empat puluh hari dari kaumnya, lalu kembali lagi kepada mereka. Demi Allah, sesungguhnya Rasulullah akan kembali. Barang siapa mengatakan beliau sudah mati, maka kupotong kedua kaki dan tangannya.”

    Pada saat itulah Abu Bakar ra. datang menegurnya dan menyuruhnya untuk duduk, lalu mengingatkan pada semua orang bahwa Nabi Muhammad SAW. hanya seorang rasul. Seorang manusia yang juga memiliki ajal, dengan membacakan surat Ali Imran : 144.

    Mendengar ayat tersebut, Umar diam. Kakinya bergetar. Ia terduduk di tanah. Ia temangu. Segaris air hangat meleleh di kedua wajahnya. Lirih ia berbisik, “Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.”

    Manusia sekokoh Umar ibn Khattab pun hampir kehilangan semangatnya hidupnya ketika ditinggal orang yang amat dia cintai. Kita semua hanya manusia.

    Untungnya seorang sahabatnya mengingatkan bahwa dia tidak boleh larut dalam kesedihan sampai melupakan apa yang mereka perjuangkan bersama.

    Empat belas tahun kemudian, bergantian di bawah kepemimpinan mereka, Umat Islam berhasil menyatukan Jazirah Arab, mengalahkan kekuatan Byzantium, menaklukan Palestina, Persia dan Mesir.

    ~Wallahu a’lam bishawab

  • Ajaklah Semua Orang di Rumah Kita untuk Bermimpi

    Prinsipnya sederhana. Orang tidak boleh berhenti bermimpi dan mengejar cita-citanya. Dahulu, hal itu yang terus saya katakan pada perempuan mungil yang masih remaja itu.

    Dia datang sebagai seorang ABG yang putus sekolah karena harus mendahulukan keperluan keluarga dan adik-adiknya. Oleh karena itu dia berhenti bersekolah lalu merantau ke Jakarta untuk membantu adik dan orang tuanya.

    Tapi kebaikan hati dan kepandaian seseorang tidak dapat ditutupi, bahkan oleh tabir ketidakmampuan. Waktu kami ajak dia untuk pindah ke Bandung, kami sudah melihat cahaya kecil itu. Oleh sebab itu, walau kami pun dulu masih muda dan juga masih juga mengejar cita-cita, kami tetap berusaha mendengarkan dan menumbuhkan mimpinya.

    Sebenarnya kami hanya bisa membantu menyekolahkan seadanya, tapi anak ini memang tidak mudah menanggalkan cita-citanya. Hebatnya, di saat yang sama dia tidak mau menggadaikan integritasnya.

    Suatu saat menjelang ujian penting, dia terlihat galau luar biasa. Ketika kami tanyakan padanya, dia bilang gurunya menawarkan kunci jawaban untuk semua pertanyaan ujian esok hari. Rupanya hampir semua teman sekolahnya sudah menerima dan siap menggunakannya kertas ampuh serba tahu itu : bocoran dari pak guru.

    “Saya harus bagaimana?”, tanyanya.

    “Menurut kamu sendiri bagaimana?”, saya balik bertanya.

    “Saya bingung. Kalau tidak dipakai kunci jawaban saya takut tidak lulus. Tapi saya tidak sampai hati untuk pakai kunci jawaban. Seumur hidup saya tidak pernah curang seperti itu”, jawabnya.

    “Ya, sudah. Gak perlu mulai main curang kalau begitu. Buang saja lah kunci jawabannya” kata saya. “Percaya diri saja. Insya Allah, dengan begitu jika kamu lulus, kamu tidak akan mempertanyakan kemampuan diri kamu seumur hidup. Seandainya kamu pakai kunci jawaban itu, kalaupun lulus, seumur hidup kamu akan mempertanyakan kemampuan diri kamu sendiri. Dan itu adalah beban berat yang harus kamu tanggung ke depan.”

    Ternyata semua baik-baik saja. Memang dia tidak perlu secarik kertas sakti pembunuh kepercayaan diri itu. Bahkan beberapa waktu kemudian dia cukup percaya diri untuk mengatakan bahwa dia ingin ikut ujian masuk program Pendidikan Anak Usia Dini di Universitas Pendidikan Indonesia. Dia ingin jadi guru, seperti cita-cita ibunya yang belum pernah tercapai.

    Entah kenapa, sebenarnya kami yakin bahwa dia akan mampu lulus ujian masuk universitas. Yang kami agak tidak yakin adalah : bagaimana membiayai sekolahnya. Tapi ya sudahlah, yang penting niat dulu -pikir kami. Yang penting lulus dulu lah. Soal bayaran kuliah, kita pikirkan nanti.

    Tentang bayaran kuliah … ternyata itu skenario lain. Skenario saya ‘untuk membantu menyekolahkannya’ ternyata adalah bagian dari skenario yang lebih besar. Skenario Sang Pemilik Kehidupan. Skenario Sang Pemilik Ilmu.

    Suatu pagi, Pak Ichary, tetangga depan rumah saya memanggil saya dari halamannya.

    “Mas Ben”, sapanya ramah.

    “Iya, Pak.”

    “Saya dengar, Si Mamay diterima di UPI ya, Mas?”

    “Betul Pak. Hebat dia. Sekarang kita malah sedang bingung bagaimana mengurus biayanya”, kata saya jujur.

    “Wah. Sudah lah. Bagian Mas Ben sih sudah beres. Sekarang ini jadi urusan saya” katanya ringan.

    “Maksudnya, pak?”

    “Biar saya yang carikan beasiswa untuk dia.”

    “Serius?”, ujar saya yang agak sulit percaya. Masih ada orang sebaik ini di dunia, rupanya.

    Pak Ichary yang dosen UNPAD memiliki jaringan yang mumpuni dalam urusan pencarian beasiswa dan dana kuliah. Jauh di atas jaringan yang kami miliki. Oleh sebab itu kami ikhlaskan si mahasiswi baru untuk keluar dari rumah kami -dan meneruskan perjalanannya. Seperti juga orang tuanya, kami harus memberikan ruang untuk bekerjanya takdir.

    Pak Ichary kemudian memberikan ‘modal awal’ untuk si mahasiswi baru ini: sebuah tanggung jawab, pekerjaan yang bisa menjadi dasar untuk menggantung cita-cita. Di luar itu saya tahu, dia harus tetap membanting tulang, menyeimbangkan kuliah dan bekerja. Dari mulai mengajar mengaji sampai jaga toko dia lakoni. Dia memang pandai mengaji, dan untungnya dia sudah punya jam terbang cukup tinggi untuk urusan jaga toko. Sejak remaja dia sering membantu kami menjaga toko MahaNagari di Cihampelas Walk.

    Singkat cerita, si mahasiswi berhasil mewujudkan cita-cita dirinya dan ibunya. Dimulai dari mengajari anak sulung saya mengaji di rumah, sekarang dia adalah Ibu Guru di sekolah anak saya. Dengan sebuah kelas penuh anak didik, yang menjadi tanggung jawabnya.

    Minggu lalu kami diundang sebuah acara pernikahan di Serang. Pernikahan ini spesial untuk kami. Soalnya yang berdiri di pelaminan adalah guru anak kami. Seorang guru yang kami tahu cerita hidupnya. Di sampingnya berdiri seorang dokter gigi yang kemudian menjadi pengemban tanggung jawab selanjutnya.

    Mamay Maesa Rafilah, “Semoga keluarga kalian sakinah mawadah warahmah. Semoga sejak saat ini tidak ada lagi generasi penerus di keluarga kalian yang putus sekolah.” Aamiiin.

    Mungkin ini cara kerja Takdir. Untuk bisa berbuat baik itu ternyata hanya butuh ‘niat baik’. Lalu ikhtiar. Dan yang namanya ‘ikhtiar’, sebenarnya adalah istilah ‘jamak’ alias ‘keroyokan’. Allah SWT itu ‘tangan’-Nya banyak. Kita mungkin salah satunya. Sendirian, kita mungkin tidak bisa berbuat banyak. Kesamaan niat baiklah yang akan menghubungkan tangan-tangan ini.

    Jadi, jika suatu saat ada ‘anak lain’ yang datang ke rumah kita. Jangan lupa, tanyakan apa cita-citanya.

    Dan bagi yang cita-citanya belum tercapai. Never give up. Kata John Lennon, “A dream you dream alone is only a dream. A dream you dream together is reality.”

  • Penaklukan Palestina di jaman Umar bin Khattab ra.

    Pasukan Islam telah tiba di sisi kota kuno itu dan melangsungkan pengepungan kota sepanjang musim dingin. Khalifah Umar memerintahkan Abu Ubaidah, Khalid dan Mu’awiyah, yang telah berhasil menaklukkan seluruh wilayah Suriah dan pesisir Levantina, untuk segera bertolak ke Yerusalem dan bergabung dengan pasukan Amr.

    Di balik benteng, di dalam gereja, panglima Artavon dan Patriach Sophroinus, uskup agung gereja Yerusalem, tengah berdebat sengit. Artavon bersikeras menginginkan Yerusalem tetap dipertahankan dari penaklukan pasukan Islam, sekalipun harus mengobarkan peperangan di dalam kota suci itu. Sementara Sophorinus menganggap bahwa pendudukan orang-orang Islam adalah penjelmaan dari kekuasaan yang dikirimkan untuk untuk mengakhiri kekuasaan orang-orang Bizantium. Sophorinus lebih memilih bernegosiasi dan menyerahkan Yerusalem kepada pihak Islam dengan jalan damai.

    Orang-orang yang berkumpul di gereja dan mengikuti jalannya perdebatan akhirnya lebih mengamini pendapat sang uskup. Mereka setuju jika Yerusalem diserahkan dengan jalan damai. Maka, salah seorang utusan dikirim untuk menemui pihak Islam di luar benteng. Utusan itu datang membawa syarat-syarat penyerahan kota, yaitu tidak akan ada pengangkatan senjata, diizinkan sisa-sisa pasukan Bizantium untuk berangkat ke Mesir, dan penyerahan Yerusalem diterima secara langsung oleh pemimpin tertinggi Islam, yaitu Khalifah Umar. Abu Ubaidah menerima syarat-syarat tersebut. Ia pun mengundang Khalifah Umar ke Yerusalem untuk menerima penyerahan kota tersebut.

    Saat itu, Umar berada di Jabiyah, di selatan Damaskus untuk sebuah pengaturan administratif. Perutusan Abu Ubaidah dari Yerusalem datang menghadap Umar, menyampaikan undangan dan pesan-pesan, untuk kemudian segera kembali dengan membawa surat dari Sang Khalifah. Dalam surat itu Umar menulis:


    Bismillahirrahmannirrahim.

    Ini adalah jaminan yan telah diberikan oleh hamba Allah, Umar, pemimpin umat beriman, kepada penduduk Yerusalem. Bahwa ia telah memberi jaminan mengenai keamanan untuk jiwa mereka, untuk harta mereka, untuk gereja-gereja dan salib mereka, untuk sakit dan sehatnya kota, serta untuk ibadah mereka. Gereja tidak akan ditempati oleh orang-orang Muslim, juga tidak akan pernah dirusak, tidak boleh ada satu pun yang dikurangi dari dalam gereja itu atau dari lingkungan sekitarnya, baik salib, harta benda, dan semua harta milik mereka. Mereka tidak akan dipaksa untuk beralih memeluk agama Islam, dan tidak akan ada pula orang Yahudi yang hidup bersama mereka di Yerusalem*(1).

    Penduduk Yerusalem harus membayar jizyah*(2) sebagaimana penduduk kota lainnya. Mereka juga harus mengeluarkan orang-orang Bizantium dan para perampok. Para penduduk Yerusalem yang ingin pergi keluar kota dengan membawa serta harta mereka, meninggalkan gereja dan salib mereka, maka keselamatan mereka akan dijamin sampai tempat tujuan. Para pendududk desa boleh tinggal di kota jika mereka menginginkannya, dengan ketentuan harus membayar jizyah sebagaimana warga lainnya. Mereka yang mau pergi, silahkan pergi bersama orang-orang Bizantium, dan mereka yang ingin kembali, silahkan kembali ke keluarga masing-masing. Jizyah mereka tidak boleh ditarik sebelum masa panen.

    Jika mereka membayar pajak menurut ketentuannya, maka apa yang sesungguhnya tertera di dalam surat ini adalah perjanjian Allah, di bawah tanggung jawab Nabi, sang khalifah, dan juga orang-orang mukmin.

    Surat tersebut ditandatangani Umar ibn al-Khattab sendiri dengan tiga orang saksi, yaitu Khalid ibn al-Walid, Amr ibn al-Ash dan Muawiyah ibn Abu Sufyan.

    Kabar kedatangan Khalifah Umar ke Yerusalem telah tersebar ke seluruh pelosok kota itu. Semua menantinya dengan sukacita. Umar berangkat dari Jabiyah dengan menunggang unta. Saat Umar datang , semua khalayak terkejut -terutama para penduduk kota. Mereka tak dapat berkata apa-apa. Hati mereka hanya bergumam. Uskup agung Sophronius menyambut kedatangan sang khalifah itu dengan salam penuh takzim. Lalu, kepada penduduk, ia berkata dengan mata bergetar, dengan suara yang parau, “Lihatlah sungguh ini adalah kesahajaan dan kegetiran yang telah dikabarkan oleh Danial sang Nabi*(3) ketika ia datang ke tempat ini.”

    Semua sejarawan mencatat peristiwa ini. Pemimpin terbesar umat Islam itu datang ke Yerusalem tanpa iring-iringan pasukan atau ajudan. Ia datang dengan menuntun seekor unta dan hanya ditemani Aslam, mawla-nya yang setia dan telah dibebaskan. Umar juga tidak mengenakan pakaian kebesaran dan kemegahan layaknya para kaisar penakluk. Umar hanya memakai jubah yang sudah lusuh dan banyak jahitan. Ia juga hanya membawa perbekalan makanan ala kadarnya; sekantong gandum, sekantong kurma, sebuah piring kayu, sebuah kantong air dari kulit, dan selembar tikar untuk beribadah.

    Khalifah Umar lalu diajak Uskup Sophronius berkeliling ke temat-tempat suci di sepanjang kota. Saat waktu zuhur tiba, Uskup Sophronius membukakan Gereja Makam Suci, kiblat dan tempat tersuci umat Kristen, lalu mempersilahkan Khalifah Umar melaksanakan shalat di dalam gereja. Tawaran kehormatan itu disambut dengan baik oleh Umar, tapi ia menolak, “Jika saya mendirikan shalat di dalam gereja ini, saya khawatir orang-orang Islam nantinya akan menduduki gereja ini dan menjadikannya masjid.”

    Khalifah Umar lalu keluar dari gereja, meminta ditunjukkan tempat reruntuhan Kuil Sulaiman. Uskup Sophronius menunjukkkan tempat itu, yang ternyata kotor tertimbun sampah. Bersama beberapa sahabat lainnya, Khalifah Umar membersihkan sendiri tempat tersebut, lalu menggariskan sebuah tapak untuk dijadikan tempat Shalat. Di tempat itu pulalah Khalifah Umar memerintahkan agar dibangun masjid yang kelak dikenal dengan Masjid Umar.

    Penaklukan Yerusalem menandai selesainya serangkaian penaklukan Islam atas seluruh wilayah Suriah dan Palestina, di samping Yordania dan pesisir Levantina. Penaklukan tersebut mengakhiri kekuasaan Yunani-Romawi yang telah bercokol di wilayah tersebut selama beberapa abad. Sejak saat itu pula, seluruh wilayah tersebut berada di bawah kekuasaan Islam.

    —***—

    * Saya kutip dari buku yang sedang saya baca: ‘Umar Ibn Khattab’. Penerbit Zaman, 2014. Karya Dr. Mustafa Murad, Guru Besar Universitas Al-Azhar, Kairo. Silahkan dibeli bukunya. Tapi jangan beli ke saya, saya mah enggak dagang buku, cuman dagang tas dan kaos … hehehe
    Dikutip tanpa minta izin ke penerbit, tapi kembali saya sarankan beli bukunya sesudah ini, ya. Di Togamas Bandung diskon 10% … *ahaha .. Baek banget gue … promosi toko orang. Sundul, Gan 🙂

    *foto diambil dari weheartit.com


    Saya berikan keterangan sedikit tentang beberapa hal yang sebelumnya juga menjadi pertanyaan di dalam benak saya:

    *(1) Tentang klausul: “… dan tidak akan ada pula orang Yahudi yang hidup bersama mereka di Yerusalem.”
    Kalimat ini adalah respon Khalifah Umar atas permintaan penduduk Jerusalem. Saat itu penduduk Jerusalem sangat membenci orang-orang Yahudi. Orang-orang Yahudi sebelumnya membunuhi tawanan Kristen di wilayah Persia. Sampai ada riwayat yang menyebutkan, Umar menjamin tidak ada Yahudi yang lewat dan bermalam di Jerusalem.
    Dalam tinjauan sejarah, wilayah Galileia (Hebron, Tiberias, Nazaret) memang banyak ditempati orang Samiria, keturunan Yahudi yang telah bercampur dengan bangsa-bangsa pendatang (Suriah, Persia, Yunani dan Romawi). Orang-orang Yahudi murni, Judea, menganggap orang Samiria itu najis serta dihinggapi roh dan penyakit buruk. Itulah penyebab utama prasangka buruk Judea kepada al-Masih, seorang nabi dari Nazaret. Konflik Kristen-Yahudi sedikit banyak tumbuh dari prasangka ini.

    *(2) Jizyah: adalah jaminan khusus yang dibayarkan oleh penduduk yang tidak beragama Islam tetapi hidup dalam wilayah Islam. Jizyah hanya mengikat kepada laki-laki baligh (dewasa), berakal dan mampu secara ekonomoi. Tidak boleh dikenakan kepada perempuan, anak-anak, orang miskin dan orang gila. Yang tidak mampu justru akan mendapatkan nafkah dari negara –beragama apapun dia.
    Jizyah ada kadar dan ukurannya. Di setiap wilayah Islam besarnya berbeda tergantung kemampuan ekonomi wilayah tersebut. Secara umum, untuk kategori kaya (kelas atas) ditetapkan sebasar 4 dinar (4 x 4,25 gram emas) atau 17 gram emas, atau senilai Rp 8.500.000 (jika 1 gram=Rp 500.000). Yang masuk kategori sedang (kelas menengah) ditetapkan 2 Dinar atau 8,50 gram emas, atau senilai Rp 4.250.000. Yang masuk kategori mampu, tetapi di bawah kelas menengah, ditetapkan 1 Dinar atau 4,25 gram emas, atau senilai Rp. 2.125.000. Juga harus dicatat, bahwa jizyah hanya dipungut sekali dalam setahun. Itu pun tidak boleh dipungut lebih dari kadar yang telah ditetapkan di atas.
    Ini tidak berarti bahwa tidak ada pungutan negara pada penduduk yang beragama Islam. Penduduk muslim terikat dengan semua jenis zakat yang berlaku dalam ajaran Islam.

    *(3) Uskup agung Sophronius pada saat itu mengacu pada ayat ramalan penghancuran Yerusalem : “Ketika kamu, oleh karena itu, akan melihat kekejian pemusnahan, yang diucapkan oleh Daniel sang Nabi, mengenai penghancuran Yerusalem, pada waktu itu kamu akan berdiri di tempat kudus, barang siapa membaca biarlah dia mengerti.”


    Wallahu A’lam Bishawab. Dan hanya Allah yang mengetahui sebenar-benarnya.

  • Hidup itu Nikmati Prosesnya. Nikmati Ikannya.

    nikmati-prosesnya

    Beberapa hari yang lalu, makan siang dengan Hanafi Salman dan Nindin M Moersid. Sempat menyinggung obrolan tentang masa muda kami, yang dihabiskan bersusah payah belajar membangun usaha.

    Kita bertiga sepakat bahwa membangun usaha itu berat, bung. Jatuh-bangun, untung-rugi yang menguras energi dan kesabaran.

    Tapi toh ternyata kami bertiga sampai saat ini masih ikhtiar di jalan yang sama. Jadi kami saling mempertanyakan kenapa juga masing-masing mau saja bersusah-susah seperti itu. Rupanya tiap orang punya pendapat dan cara berpikir yang berbeda-beda. Semua orang punya trik –atau bahkan pembenarannya 🙂

    Pada obrolan itu kita sempat membicarakan proses yang berbeda yang dilalui setiap pengusaha. Ada yang tahun pertama langsung sukses (lalu sesudah itu tetap sukses atau langsung terjun bebas), ada yang butuh belasan tahun untuk sukses, bahkan kalau dipikir-pikir ada yang ganti generasi baru sukses.

    Tidak disangka, semalam saya mendengarkan sebuah nasihat dari Dr Khalid Basalamah, MA. Nasihat ini membuat saya lebih mengerti bahwa ternyata apapun pilihan hidup masing-masing, pengusaha atau atlet, atlet sukses atau tidak, –yang penting adalah bagaimana kita menjalani prosesnya. Target dunia kita mungkin beda-beda, tapi kita akan kembali ke tempat asal kita dengan ditimbang berdasarkan seberapa baik kita menjalani prosesnya.

    Ini nasehat pendeknya:

    ———
    “Nikmatilah proses hidup anda. Karena setiap proses, dalam ajaran Islam, -ada pahalanya.
    Bahkan ketika do’a kita belum dijawab oleh pada Allah SWT, tetap nikmati prosesnya. Semua proses dan do’a ini membuahkan pahala bagi anda.
    Jika anda sedang makan ikan, jangan sambil mengkhayal makan ayam.
    Nanti jadi tidak enak rasa ikannya.”
    ———

    Bener juga, pak. “Nikmati prosesnya. Nikmati ikannya.”

  • Kenaikan Passing Grade yang tidak masuk akal dalam PPDB Kota Bandung

    Bener kata seorang temen, katanya saya akan lebih peduli sama sistem pendidikan nasional ketika anak tertua saya mulai bersinggungan dengan sistem PPDB.

    Terlepas dari sebenernya anak saya sudah kami daftarkan duluan di sekolah swasta, tetap saja PPDB ini membuat otak saya bekerja lebih keras untuk mengerti logikanya. Maklum, hampir tiga dekade saya gak pernah memikirkan urusan daftar mendaftar sekolah tingkat menengah. Begitu kembali berurusan dengan hal ini, ternyata banyak yang sudah berubah.

    Satu hal yang membuat saya kaget adalah ‘standar nilai bagus’ alias ‘passing grade’.

    Ada dua situs yang saya kunjungi untuk mengetahui passing grade untuk masuk ke SMP negeri di Kota Bandung :
    (1) https://bicarapassinggrade.wordpress.com/…/passing-grade-s…/
    (2) http://www.fauzanalfi.com/…/passing-grade-smp-di-ppdb-kota…/

    Saya makin terkaget-kaget setelah data-data dari dua situs tsb saya entry manual ke microsoft excel.
    *catatan : sesuai kebutuhan anak, saya hanya mengentry nilai-nilai dari SMPN 1 s/d SMPN 15 –dan SMPN 26, karena lokasinya dekat dengan rumah saya.

    Hasilnya saya terkagum-kagum bercampur bingung begitu melihat passing grade SMP 2, 5, 8 dan 14 yang semuanya di atas nilai rata2 nilai 9,25. Dalam skala 0-10, statistically speaking, orang-orang bernilai 9,25 berarti jenius toh? Gimana rasanya bersekolah di sekolah yang isinya orang jenius semua?

    Sebaran jumlah siswa per nilai

    Tahu berapa nilai rata-rata passing grade ke-16 sekolah di Bandung yang saya entry datanya? Fantastik sekali >> 8,90. Whoaaa … Saya langsung mengambil folder dokumen tua saya, lalu melihat apakah NEM saya jaman dulu cukup untuk bersekolah di Bandung masa kini.

    Ternyata tidak cukup. Rata-rata Nilai Ebtanas Murni saya hanya 8,37. Padahal 29 tahun yang lalu saya berjuang super keras untuk mendapatkan nilai sebesar itu. Sepanjang kelas 6 saya harus bersekolah mulai jam 7 pagi sampai larut malam. Saya masih ingat, jaman dulu mendapat nilai rata-rata 8,00 sudahpencapaian luar biasa. Kita tidak pernah bermimpi mendapat nilai rata-rata 9. Kita pikir nilai segitu hanya untuk dewa dan orang jenius saja.

    Saya jadi curiga, sebenarnya apa yang terjadi dengan standar nilai anak-anak SD ini. Apakah generasi saya memang gak terlalu pintar? Benarkah anak-anak ini memang jenius-jenius muda? Kalau memang iya, berarti Bandung setiap tahun meluluskan ribuan orang jenius ke jenjang pendidikan menengah. Itukah faktanya?Tabel Passing Grade 2008 2015

    Kecurigaan saya bukan tanpa data. Ternyata nilai rata-rata passing grade sekolah di Bandung tidak selalu setinggi ini. Delapan tahun yang lalu (2008), rata-rata passing grade sekolah-sekolah ini hanya 7,74. Anehnya di tahun 2009 terjadi loncatan ke angka 8,43. Lalu sesudah itu passing grade rata-rata ini cenderung naik dan tiba di angka 8,90 di tahun 2015. Kalau tren kenaikan ini terjadi terus, mungkin sepuluh tahun lagi passing grade per mata pelajaran sekolah-sekolah di Bandung akan berada di 9,90.Passing Grade per Nilai Mata Kuliah

    Ah … gak normal .. pasti ada yang salah. Ada yang tahu apa salahnya?

  • Melawan Bully dengan Keajaiban Bercerita

    https://www.facebook.com/ben.wirawan/videos/10153960499169776/

     

    Dulu dia adalah korban bully di sekolahnya. Ada kalanya dia tidak mau sekolah karena takut menghadapi seorang anak lain yang … let’s just say … sulit mengontrol dirinya sendiri. Tahu apa dampak yang sangat menyedihkan dari di-bully? … Si anak kehilangan kepercayaan dirinya. Tanpa kepercayaan diri, mau dibawa ke mana anak kita?

    Beruntung guru-guru TK Taman Firdaus Percikan Iman menemukan bakat terpendam di dalam diri Samsam: bakat bercerita. Kemudian dipercayakanlah pada Samsam sebuah sesi ‘storytelling’ pada acara akhir tahun di sekolahnya. Tema-nya: Kemerdekaan Indonesia. *silahkan tonton videonya

    Masalah selanjutnya adalah bagaimana pula cara mengajari anak kecil yang belum bisa membaca –menghafalkan sebuah skrip cerita? Akhirnya saya dan ibunya membuatkan ‘wayang-wayangan kardus’ untuk mempermudah dirinya untuk menghafalkan alur cerita. Sisanya biar dia yang improvisasi saja.

    Ternyata tidak hanya dia memiliki kemampuan lebih dalam bercerita –diapun menikmatinya. Sehingga beberapa tahun selanjutnya dia beberapa kali berhasil menjuarai perlombaan bercerita dalam Bahasa Indonesia, bahkan dalam Basa Sunda yang hanya separuh dikuasainya.

    Hari minggu lalu saya menyaksikan dia berjuang untuk sekolahnya dalam sebuah story telling contest dalam bahasa Inggris. Alhamdulillah, usahanya terbayar dengan kembali mendapatkan gelar juara.

    Menakjubkan rasanya, mendampingi seorang anak berjuang mencari kepercayaan dirinya melalui kegiatan bernama ‘bercerita’.

    ——-

    *teriring rasa terima kasih pada guru-guru TK dan SD Firdaus, –khususon Pak Aan, guru TK Samsam yang sangat sabar mendampingi Sam menemukan bakatnya. Juga Mas Andi Yudha yang meyakinkan saya akan keajaiban cerita