Ada gelombang empati yang besar ketika saya membaca tulisan Pandji di blog http://pandji.com/pilih/. Karena hampir empat tahun yang lalu saya didudukkan Tuhan di perempatan jalan yang sama. Di perempatan itu, kita yang benci politikus busuk, diminta menjalankan kewajiban membantu teman dan negara ini –dengan satu syarat: harus belajar bekerja sama dengan politisi dan parpol yang bagi kita adalah simbol masalah.
Perempatannya mirip. Bedanya sedikit. Di perempatan saya, berdiri Ridwan Kamil yang (dulu) juga ditinggal teman-temannya. Di perempatan kamu, sedang berdiri Anies Baswedan yang pasti kesepian di tengah keramaian. *ini memang nasib non-politician yang loncat pagar masuk gelanggang politik
Situasi selebihnya hampir sama dan sebangun: partai pendukungnya pun PKS dan Gerindra. But does it really matter? Partai adalah partai. Sama seperti di pasar. Penipu dan pahlawan bercampur sulit dibedakan dari baju dan tebal dompetnya.
So I’ll say, “I feel you, Pandji. Bantu Mas Anies!”
Kenapa?
Karena,
Tidak setiap hari anak bangsa ini dilahirkan dengan kompetensi, optimisme, keberanian dan ambisi seperti Mas Anies dan Kang Emil. Manusia-manusia seperti ini langka. Mereka-mereka ini adalah sasaran utama politisi busuk.
They’ll say, “Matikan sebelum berkembang!”
We say, “Beri ruang untuk mereka tumbuh dan membuktikan dirinya!”
They’ll say, “Jadikan mereka bagian dari kita!”
We say, “Temani mereka. Biar selamanya mereka kuat berikhtiar mencari jalan yang benar!”
Badan kamu akan kotor, Dji. Keringat halalmu akan bercampur ludah haters. Beberapa waktu ke depan akan ada yang menyebut namamu sebagai Pandji yang Pendjilat ludah. Dulu kerjaannya caci maki PKS, sekarang semobil dengan politisi demi kekuasaan. Nanti akan muncul meme Pandji dan Jonru : Sahabat Selaptop. *.. sebaiknya saya berhenti, saya tidak akan nyumbang ide untuk kalian buzzer-buzzer yang tak sayang bangsa
Insya Allah, Dji. Tuhan tidak akan termakan tipuan artikel murah di internet. Di pundak kiri-kanan mu ada dua malaikat mencatat niat dan prilaku baik-burukmu.Ingat-ingat saja itu.
Memang tidak mungkin membersihkan mobil mogok sambil berharap baju kita tidak kecipratan kotornya. Kalau memang perlu, korbankan baju itu. Kamu yang harus tetap bersih, Dji!
Saya gak punya hak memilih di Jakarta. Tapi ini bukan masalah hak pilih. Kita harus bisa menunjukkan bahwa warga itu bukan obyek politik. Politisi memang harus dibuat sadar bahwa kita, warga (propinsi, kota, kabupaten) harus punya peran yang sama besar dengan politisi. ‘I’ dan ‘you’ harusnya satu. Suara parpol seharusnya suara warga. Bahasa parpol seharusnya bahasa warga. Kamu, Pandji, punya kemampuan menunjukkan itu.
Kalau kamu masih ada waktu, sisihkan sedikit waktu untuk baca tulisan ini. Sedikit vitamin yang saya sarikan dari pengalaman kami, Relawan Kota Bandung, yang bahu membahu bersama PKS dan Gerindra berjuang di Pilkada Bandung 2013. Ya, betul. Walau enggak selalu sepaham, tapi kami dahulu ‘bahu membahu’.
Jangan Lakukan demi Uang.
Sebagai konsep, politik itu suci. Tujuannya melindungi hak warga, mensejahterakan kehidupan … *panjaaang
Tapi wujud mahluk politik di Indonesia, jangankan suci –higienis juga enggak.
Akan banyak uang seliweran di sekeliling para relawan. Sebagian kita tidak tahu asalnya, sebagian kita tidak tahu di mana muaranya. Ambil tanggung jawab pada semua hal yang kita ketahui jelas, asal dan muaranya. Jangan sentuh segala yang tidak jelas.
Agar mudah pertanggungjawaban di akhiratnya nanti —do it Pro Bono.
Semua relawan utama kami benar-benar direkrut berdasarkan faktor kenal baik dan referensi pribadi. Mereka semua sadar dengan bergabung dengan kelompok ini, berarti mereka tidak minta bayaran serupiah pun. Jika mereka butuh biaya produksi, berarti mereka menyanggupi untuk memberikan harga diskon keras kepala atau gratis sama sekali.
Sebuah tim yang semuanya bekerja bukan demi uang, akan punya daya juang sekuat pejuang 45. Hal aneh yang hanya bisa ditemukan di dunia kerelawanan.
Buat Poros Relawan yang Kuat
Kembali –partai adalah partai, Dji. Mereka ini veteran dalam pilkada. Mereka punya pengalaman metode kampanye yang terbukti/proven di beberapa tempat dan waktu yang lampau. Walau sering kali, justru hal ini yang membuat mereka tidak mau mencoba metode baru –apalagi metode yang datang dari orang luar atau anak baru.
Yang kami lakukan dahulu adalah membuat poros relawan yang setara dengan kedua partai yang lain. Ketiga poros ini setara dan mandiri. Gak perlu selalu sepaham tapi berkomunikasi secara intens. Organized but not necessarily Structured.
Poros relawan ini kendaraan yang diperlukan untuk membuktikan bahwa ‘cara alternatif’ punya relawan bisa bekerja efektif lebih cepat, lebih murah, lebih punya harga diri, serta jelas lebih indah dan cool. Buat apa kita dahulu sekolah di seni rupa kalau gak bisa berkampanye indah, toh?
Kalau partai-partai tidak mau menggunakan cara yang ‘relawan anggap lebih baik’, maka jangan pikir panjang untuk segera implementasi lewat jalur relawan. Oleh sebab itu relawan harus kayak Marines : bisa cari uang (udunan sampai akhir), bisa mendesain, punya jalur produksi alat kampanye, jagoan di sosial media, punya jaringan di perkampungan, dekat dengan simpul geografis dan non-geografis, mampu kerjasama dengan warga atau politisi, dsb.
Biasanya kalau jalur relawan sudah berhasil membuktikan efektifitas kampanyenya, maka parpol, mau tidak mau, harus mendengarkan bahkan mengadopsi (paling tidak sebagian) metode relawan.
Oh iya. Relawan bukan cuma berarti relawan sosmed (saja). Relawan kampung juga harus kuat. Tim relawan bukan berarti muda (saja). Tim relawan harus juga menaungi dan dinaungi volunteer bangkotan yang bijak.
Kenali Fungsi Partai dan Relawan sebagai Tim
Jangan nisbikan kekuatan partai politik. Se-kuno apapun mereka di mata kita, mereka adalah organisasi penuh pengalaman. Sering kali hanya partai yang mampu melawan trik kotor partai lain.
Sebagai contoh, ketika partai lain mulai main kotor dengan menyebarkan flyers kampanye hitam di angkot-angkot, hanya partai lagi lah yang segera tahu cara meng-counter-nya dengan efektif. Dahulu, kader-kader PKS bisa mengumpulkan 200 kg flyers kampanye hitam yang dibagikan tim rival hanya dalam razia satu malam –di satu wilayah. Hal yang agak sulit dilakukan tim relawan di pihak kami.
Partai secara tradisional adalah penguasa wilayah geografis. Maksudnya begini, partai tertentu biasanya menguasai wilayah tertentu. Bertahun-tahun mereka akan menang di tempat itu-itu lagi. Itu alasannya kenapa kader partai agak segan bergerak ke daerah yang historically bukan wilayah mereka. Gak mutlak seperti itu, tapi itu cukup sebagai gambaran kasarnya.
Relawan secara natural adalah gabungan orang-orang yang berbeda latar belakang. Alamat rumahnya beda-beda, sekolah dan kantornya nya nyebar se-Jakarta, gaulnya di lima wilayah yang berbeda di Jakarta, cara ngobrolnya beda-beda –itu kelebihannya. Relawan bisa mencapai wilayah-wilayah yang secara tradisional tidak bisa dicapai kader parpol.
Bagi-bagi fokus kampanye. Dorong kader partai dan relawan untuk menggarap wilayah yang paling efektif dan efisien untuk diri masing-masing. Syukur kalau bisa saling koordinasi –excellent!
Kursus Kilat Rencana dan Logistik Media Kampanye Politik
Saya yakin Pandji bukan orang baru di dunia kampanye. Your success in your career tells all about your ability.
Tapi gak ada salahnya ikut crash course tentang kampanye politik. Tidak lebih sulit daripada mata kuliah DP 381, Dji. Penasihat politik Mas Anies pasti sangat menguasai hal ini. Orang-orang partai pun sebenarnya cukup cakap soal ini.
Masalahnya ada banyak sekali alternatif media yang harus dipilih dan percayalah tidak akan ada cukup uang untuk membiayai semuanya. Petakan satu per satu media yang paling efektif untuk mengkampanyekan track record dan kemampuan pasangan kandidat ini. Lalu buat skala prioritas dan desain yang paling cocok. Semua harus massif, tapi bukan berarti kebanyakan.
Cari orang logistik pilkada yang die hard. Mereka yang akan jatuh bangun memastikan distribusi alat kampanye beredar di tempat-tempat yang benar. Bukan tampil di media yang tidak dibaca atau numpuk di gudang milik rival.
Rencanakan Penempatan Media yang mandiri
Untuk para PPDS (Politisi Peduli Diri Sendiri), Pilkada adalah arena numpang tenar. Ini adalah kesempatan menempatkan foto mereka bersandingan dengan calon-calon Gubernur Jakarta yang sedang tenar. Memang tidak semua politisi di parpol itu seperti ini sih, tapi sering kali yang mampu membantu menyumbang billboard atau spot TV adalah yang tipe ini.
Media luar ruang dan TV adalah media-media yang sangat berpengaruh untuk membentuk awareness, sampai pilihan akhir pemilih di bilik suara. PPDS ini tidak akan peduli pada efektifitas media yang jauh berkurang ketika muka mereka sendiri memakan setengah billboard yang sebenarnya too precious to host him too.
Sayangnya, seringnya, you just can’t argue with them.
Jauh lebih baik, miliki rencana Penempatan Media (media placement) ala relawan. Pisahkan dengan rencana penempatan media oleh Parpol. Lihat saja di tengah jalan, apakah bisa bersinergi.
Memang betul sih, bahwa grand desain harus ada dan disepakati semua poros pendukung (partai + relawan). Tapi soal penempatan media adalah hal yang terlalu penting untuk dikompromikan. Jangan sampai konsep kampanye hanya berakhir di meja, file komputer atau sosial media gratisan saja.
Btw, saya tidak tahu apakah KPU sudah membatasi jumlah billboard yang boleh dipergunakan masing-masing calon. So, be prepared, kreatiflah mencari media penempatan pesan kampanye yang tidak kepikiran tim rival.
0% Kampanye Negatif –apalagi Kampanye Hitam
Karena Pandji akan seperjuangan dengan Jonru (Sorry, ya Dji. Tapi gak ada cara yang lebih halus untuk menulis situasi ini). Ada satu hal yang sepertinya Pandji harus minta Mas Anies ngomong langsung pada para penggede partai, khususon Presiden PKS. Minta langsung pada Pak Shohibul Iman, agar Jonru diam dulu selama kampanye. *Sebenarnya lebih sering diam juga tidak apa-apa. Mari kita contoh Nabi kita. Saya pikir Jonru juga ingin lancar masuk surga sama seperti saya. Gak ada salahnya kita mempermudah hisab lisan kita nanti. Ya enggak, Pak Jon?
Alasannya logis : kalau Pasangan Anies – Sandi ini mau mendapatkan suara optimal, suaranya justru akan didapatkan dari dua jenis pemilih yang berbeda sama sekali karakternya. Yaitu pemilih dari kader dan simpatisan partai pendukung + pemilih potensial Anies dan Sandiaga yang jelas-jelas berpotongan dengan calon pemilih Pak Ahok yang muda, logis, modern, terbuka dan jelas-jelas benci isu SARA dan SARIP.
Berprasangka baiklah pada partai-partai pendukung yang lain, Dji. Gesekan pasti akan terjadi, bukan cuman antara relawan dan partai, tapi mungkin juga antara partai-partai pendukung –bahkan di dalam partai pendukung dan antar relawan.
Dulu hal seperti ini terjadi juga di Bandung. Tapi bukan berarti kita harus runcingkan setiap batang perbedaan menjadi senjata saling tusuk antara kita, kan? Sekarang saatnya kita praktekkan apa yang dengan sering dibicarakan di kelas kuliah Pancasila, belajar mencari persamaan, lalu bekerjasama dengan menghargai dan mengandalkan perbedaan.
Saya berharap teman-teman di Jakarta bisa mencontohkan Pilkada Jakarta sebagai proses politik yang pandai, penuh harga diri, santun, adil, tanpa kekerasan, bahkan bisa dinikmati oleh warganya –dengan itu teman-teman telah membantu membuktikan bahwa kita memang generasi yang layak menerima tongkat estafet dari para pendiri bangsa.
Selamat berjuang semua kandidat dan tim.
————-
Penulis bukan politisi, hanya seorang teman lama. Tidak punya hak pilih di Jakarta. Suka pada Ahok juga Anies Baswedan. Mendoakan yang terbaik untuk Jakarta dan warganya, karena penulis pun pernah hidup di sana selama 8 tahun saat masa remaja.
*gambar utama pinjam dari susancushman.com
Leave a Reply