Author: ombenben@gmail.com

  • Adab Mendahului Ilmu

    Minggu lalu diajari sesuatu oleh seorang ustadz di Brebes yang dididik sebagai arsitek di Surabaya. Dia arsitek yang unik. Dia bilang bahwa dia tidak bakat jadi arsitek karena tidak pernah tega minta uang jasa pada kliennya.

    “Adab mendahului Ilmu”, katanya pada saya. “Itu yang selalu ditekankan dalam pendidikan islam di pesantren kami.” Jika ‘Abah’ (sebutan pada Kyai di sana) berbuat salah, bukan berarti kami akan berhenti mencium tangannya. Abah kan manusia juga. Bisa dan biasa saja kalau berbuat salah. Kami tetap muridnya. Murid tetap mencium tangan gurunya.

    “Berbeda pendapat itu bagian dari proses manusia belajar -menuntut ilmu”.

    “Tapi Ilmu tak akan memberi manfaat jika disampaikan tanpa adab”.

    ————–

  • Bapak. Diam Bukan Berarti Tidak Berharga.

    Hal ini saya tahu ketika bercermin pada bapak.

    Dulu Bapak cukup berdiri menggandeng tangan saya yang mungil. Badannya yang menjulang tinggi di antara bapak-bapak lain, cukup membuat saya punya perasaan kelas wahid. Perasaan bangga.

    Yang dia lakukan sederhana. Menemani saya menonton bioskop di Pantikarya –bioskop bergengsi di tengah Kota Bandung tahun 80-an. Dari film Ultraman sampai Godzilla, bapak adalah pengawal saya. Dulu, menonton itu padat gengsi. Menonton itu aktivitas yang harus ditemani orang spesial. Untuk saya yang belum bisa beli tiket sendiri, cukuplah bapak –yang tinggi– berdiri menggandeng saya. Ketika bapak menggandeng saya di dalam antrian –saya pun merasa setinggi bapak. Keren.

    Sayang, Bapak tidak selalu ada di dekat saya saat saya masih kecil. Bapak tinggal di hutan Tarakan, Kalimantan. Dia pemimpin cabang produksi perusahaan kayu lapis di seberang pulau. Sejak muda dia memang merantau jauh dari keluarganya. Dia agak mirip Lone Ranger. Menikmati kesendirian di lingkungan yang asing.

    Kata Mamah, bapak muda itu orang yang lempeng luar biasa. Di era kontrol perusahaan jaman dahulu yang jauh dari ketat, sebenarnya dia dengan mudah bisa mengirimkan kayu-kayu Indonesia kepada cukong-cukong negara tetangga. Pengiriman satu kapal barang gelap seperti itu, bisa membuat dirinya pensiun dini berlimpah harta. Tapi bapak adalah bapak. Menurutnya hidup itu harus sesimpel mungkin. Hidup dalam berbohong itu terlalu kompleks untuk dijalani. Not his style –not worth doing.

    Suatu hari kala saya masih SMA, dia membawa seekor anak ayam kecil yang terlihat sakit dari depan rumah.
    “Ben, tolong bantu”, katanya. “Tolong pegang anak ayam ini.”
    “Ini ayam kenapa, Pak?” tanya saya agak gemetar, karena belum pernah memegang anak ayam yang sekarat.
    “Ayam ini sepertinya salah makan”, katanya pendek.
    Dia dengan cepat mengambil pisau kecil yang dia bersihkan dengan alkohol.
    “Tangan kamu harus tenang, Ben. Jangan bergerak-gerak.”
    Tangan bapak tampak meraba-raba sepanjang leher ayam itu, lalu disayatkanlah pisau kecil itu ke lehernya.

    Tidak lama kemudian dia mengeluarkan sebutir jagung kering yang rupanya mengganjal saluran pernafasan mahluk kecil yang malang itu.
    “Pegang terus, Ben. Bapak mau ambil jarum dulu”, sambil berjalan cepat ke belakang.
    Dia kembali dengan sebuah jarum yang sudah dibakar dan seutas benang jahit. Lalu dia jahit luka sayatan di leher si ayam kecil. Sambil berbisik pelan, “Makanya jangan pernah makan sesuatu yang terlalu besar untuk kamu makan.”

    Saya ingat, ayam itu akhirnya selamat –sehat kembali. Menjalani hidup panjang –sepanjang kehidupan seekor ayam. Lumayan.
    Sampai sekarang, saya ingat juga nasihat dia pada si ayam kecil, “Jangan makan sesuatu yang terlalu besar untuk kamu makan.”

    Bapak memang tidak mendorong saya untuk mengejar hal-hal besar di dunia. Tapi dia lah yang mengajari saya untuk peduli pada hal-hal kecil dalam kehidupan. Mungkin, kemuliaan hidup memang pernah tidak diukur dari ukuran besar-kecil masalah, tapi dari ketulusan niat dan keberanian bertindak. Bapak tahu itu sejak dulu. Dia tidak pernah mengatakannya langsung pada saya. Dia memilih untuk perlihatkan langsung di depan anaknya.

    ——

    Pak ….
    Seorang ayah memang tidak mungkin sempurna. Saya sadari itu ketika saya pun akhirnya menjadi seorang ayah. Saya sekarang mengerti kenapa Bapak sering diam. Karena kadang diam-mu memang lebih mampu membawa kebaikan bagi keluargamu.

    Pak….
    Setiap pelukan saya pada anak-anak, setiap tawa yang saya hias untuk mereka, setiap ilmu yang saya turunkan pada mereka, setiap hal baik yang saya coba contohkan pada mereka  –mudah-mudahan menjadi saksi bahwa saya punya guru yang luar biasa.

    Cepat sembuh, Pak. Dunia terlalu sepi tanpa diam-mu.

    ——–

    اللّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ
    أَذهِبِ البَأسَ
    اشفِ…..!!!! أَنتَ الشَّافِيء
    لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاوءُكَ
    شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا
    “Ya Allah Tuhan dari semua manusia, hilangkan segala penyakit, sembuhkanlah, hanya Engkau yang dapat menyembuhkan, tiada kesembuhan kecuali dari padaMu, sembuh yang tidak dihinggapi penyakit lagi.”
  • RKBDG atau RKJBR ?

    February 2013

    ——————

    “Kang… Akang HARUS MAU mengajukan diri menjadi Walikota Bandung. Saat ini adalah saat paling tepat untuk mengambil alih kepemimpinan Kota Bandung dari orang-orang itu. Dada Rosada, yang sudah berkuasa dua periode, tidak mungkin mencalonkan diri lagi. Ayi Vivananda dan Edi Siswadi, sang wakil walikota dan sekda Bandung, dua petahana yang tersisa, memang mengajukan diri sebagai walikota –tapi tidak sebagai pasangan. Suara mereka akan pecah. Ada jendela jendela kecil, di mana mungkin saja akhirnya kita akan memiliki walikota yang bukan bagian dari masalah lama.”

    Mungkin di bulan itu, saya adalah orang ke 1001 yang mengatakan hal yang sama pada dosen muda arsitektur ITB yang terduduk serius mendengarkan. Mukanya menghitam, keningnya berkerut, dan bibirnya mengkerucut. Muka khasnya kalau sedang berpikir keras. Mungkin hati dan pikirannya bertabrakan di bayangan dunia masa depan yang blur -tidak jelas.

    Meminta seorang sipil yang hidupnya baik-baik saja, untuk maju sebagai calon walikota di republik nan lucu ini memang sebuah permintaan yang keterlaluan. Enggak tahu diri banget.

    Tapi walaupun permintaan itu keterlaluan. Akhirnya dia berkata ngambang, “Ben, terima kasih. Tapi saya ini bukan orang politik. Keluarga saya juga tampaknya tidak akan mengizinkan. Saya tidak bisa bilang apa-apa sekarang.”

    Entah dengan siapa saja dia kemudian berbicara –setelah obrolan bersama saya. Yang saya tahu, beberapa minggu kemudian kita terperangkap dalam sebuah kampanye politik 100 hari yang cukup bersejarah. Karena arsitek muda dengan popularitas hanya 6% itu, akhirnya menang dengan cukup telak, 45% suara.”

    Maret 2017
    ————–

    Sudah empat tahun saya memiliki walikota yang bukan bagian dari masalah lama. Jalanan Kota Bandung memang berubah, tidak lagi seperti permukaan bulan. Kota ini memang lebih cantik dan nyaman. Itu harus saya akui.

    Untuk pertama kalinya, anak-anak muda di sini punya idola pak Wali yang followers-nya mengalahkan Wali Band.

    Tadi pagi, saya mendapatkan video sebuah keluarga yang mobilnya dirusak oleh oknum supir angkot yang sedang berdemo. Warga yang mobilnya dirusak ini berkali-kali mengucapkan nama Alllah Swt. Luar biasa tegang, sekaligus membuat geram. Yang tidak saya sangka, sang korban di ujung video masih sempat mengadu, “Pak Ridwan Kamil tolong diusut, Pak Ridwan Kamil. Kami tidak salah apa-apa …”

    Padahal kalau dipikir-pikir tindakan kriminal seperti ini, jelas urusannya polisi. Bukan urusan langsung pak Wali. Tapi mungkin sebagian warga sudah kadung dekat dengan figur pak wali yang dalam pikiran warga –pasti mau menolong. Saya pun pernah beberapa kali, ketika berhadapan dengan pungli di jalanan, kontan mengancam, “Ku sayah dibejakeun ka kang Emil siah!”. Biasanya orang yang diancam langsung mundur teratur. Entah malu atau takut.

    Sempurna? …. tentu tidak. Walikota Bandung tetap manusia yang biasa. Kadang dia terlihat lelah di tengah pekerjaannya. Kerja sampai malam hari, hampir tujuh hari seminggu. Sudah begitu pun tetap harus ikhlas menerima kritik warga yang belum pecah masalahnnya. Hari ini, mungkin dia harus terima lagi dikomplain warga yang lewat jalan Pasteur hasil hujan badai semalam. Ridwan Kamil, Ahok, dan banyak pemimpin daerah lain, tampaknya belum berdaya melawan faktor alam dan kebiasan buruk warga yang menyebabkan banjir.

    Saya yang sebenarnya tidak banyak membantu ini, bahkan masih bisa mengkritik bahwa reformasi birokrasi yang dia lakukan masih jauh dari cukup. Birokrasi Bandung masih lembam dan punya kecenderungan seperti kesebelasan dengan satu striker. Khawatir melihatnya… tapi … siapalah saya. Hanya bisa bicara. Talk is cheap!

    Mungkin itu sebabnya Bruce Wayne dan Clark Kent memutuskan berjuang dengan gaya vigilante. Bukan memutuskan nyalon jadi Walikota Gotham atau Metropolis. Di balik penyamaran vigilante, setidaknya mereka masih punya waktu dan kehidupan pribadi.

    Salah satu sisi positif jadi vigilante macam Batman dan Superman mungkin adalah minimnya tekanan dan rayuan politik. Selama puluhan tahun, Batman tetap berusaha membebaskan Gotham dari mafia dan villains Gotham. Superman, yang sehebat itu (gitu loh), tetap menjadi warga Metropolis biasa. Yang sekali-kali mengurusi masalah planet bumi. Tapi sesudah itu, ya dia kembali lagi menjadi warga dan pahlawan Metropolis. Spiderman pun tetap setia pada New York City. Belum pernah saya dengan Peter Parker nyalon jadi Gubernur atau Senator dari New York State.

    Di dunia nyata tampaknya keadaan jauh berbeda. Orang yang dulu berkata, “Saya bukan orang politik” sudah menjadi tokoh politik muda negara ini. Banyak partai yang mendekatinya. Katanya, karir politiknya harus naik ke jenjang yang lebih tinggi. Katanya, dia harus memberi manfaat untuk lebih banyak orang. Katanya Jawa Barat lebih baik dipimpin oleh Sang Arsitek daripada calon lain yang terlalu ‘klenik’.

    Beberapa wartawan berita di negara ini juga tampaknya sudah mulai agak genit. Dengan sebentar lagi pilkada DKI akan berakhir, mereka sudah menyiapkan berita baru untuk dikonsumsi warga indo-internet: Pilkada Jawa Barat. Segala macam berita tentang Ridwan Kamil didekati partai warna-warni sudah dan akan terus terbit. Tidak peduli apakah seratus persen berkadar berita atau separuhnya berkadar isyu. Yang penting klik-klik-klik. Because click is money. Siapapun tokohnya, apapun beritanya, yang penting uang mengalir melalui situs mereka. Tak peduli betapa lebar dan dalam luka yang mereka akibatkan pada tubuh bangsa ini.

    Saya khawatir dengan semakin kerasnya isyu Pilkada Jawa Barat, maka Bandung akan mulai berubah menjadi side issues —isu sampingan.

    Padahal Bandung itu bukan isu bagi kami. Transportasi massal yang belum terwujud itu masalah nyata. Sampah yang belum terkelola secara berkelanjutan itu masalah nyata. Harga rumah yang terlalu mahal itu masalah nyata. Tingkat kriminalitas yang cenderung naik dengan semakin metropolisnya Bandung itu masalah nyata. Kurang tingginya kinerja SDM pemerintahan juga masalah yang sangat nyata.

     

    Seorang teman saya yang warga Bandung Barat pernah bilang, “Kalian mah egois. Tidak mau berbagi pemimpin. Kasian atuh gua yang tinggal di kabupaten. Berbagi atuh lah.” … ah … seandainya ini hanya masalah mau berbagi atau tidak. Kami rela pemimpin kami dibagi tujuh, jika itu tetap berarti pemimpin ini masih bisa bekerja efektif.

    Di sisi lain, saya juga sadar ini kesalahan kita bersama. Kita sebagai bangsa, sangat terbelakang dalam mengkader, mendidik, dan membesarkan pemimpin yang layak. Sehingga dalam keadaan seperti ini kita kelimpungan nyari-nyari bahkan berebut pemimpin.

    Sebenarnya saya dengar bahwa beberapa warga Bandung sudah bersiap-siap mencalonkan dirinya untuk menjadi pemimpin Bandung selanjutnya. Ada orang-orang baru, ada juga orang-orang lama…. Tapi kenapa hati saya belum tenang. Kalaupun orangnya baik, rasanya perjuangan mengantarkan pemimpin yang bukan bagian dari masalah lama di pilkada Bandung selanjutnya akan lebih sulit. Saya khawatir tahun-tahun depan orang dari masalah yang lama akan kembali memimpin di sini. Pahit sekali.

    Asli dari pada mikirin hal ini, saya mendingan tenggelam memikirkan perusahaan saya yang juga butuh banyak perhatian. Tapi semalam, kekhawatiran saya sudah mulai muncul menjelma menjadi mimpi.  Sudah mulai gak bener nih.

    Jadi boleh dong bertanya pada teman-teman sesama warga Bandung. Bagi teman-teman, sebaiknya Ridwan Kamil di tahun depan maju RKBDG atau RKJWBRT –atau ada pendapat yang lain? Tolong jabarkan pemikirannya alias gak terima komentar pendek … hehehe

    ———–

    Foto: Ridwan Kamil dan Mang Oded shooting untuk iklan TVC kampanye pilkada Bandung 2013 bersama Rizky “Borne” Ramdhani, Faikar Izzani dan Klik Aboenk, dokumentasi Amphibi Studio.

  • Bagaimana Rasanya jadi Anak Bandung tahun 1940an

    Mungkin tidak banyak orang cukup beruntung untuk bisa tinggal di wilayah Pasteur pada peralihan tahun 30an sampai 40an. Sebuah jendela waktu kecil, di antara kembangnya Gemeente (kotamadya) Bandung dan kedatangan pasukan Jepang.  Seratus tiga puluh tahun sejak Daendles mengucapkan niatnya membangun kota di pegunungan tinggi Parahyangan.

    Bayangkan pagi hari yang masih membuat gigi gemeletuk dan badan menggigil. Setiap pagi, kulit kamu yang bintik-bintik kedinginan, selalu minta dijemur di bawah sinar matahari yang malu-malu keluar di balik pohon-pohon tinggi di sekitar Curieweg (baca : kyu-rie-weh), Pasteur.

    Tetangga sebelah kulitnya berwarna putih, mengenakan celana cargo berwarna putih, dan topi polka meneer berwarna putih. Padahal pada saat itu, belum ditemukan yang namanya mesin cuci. Tidak terbayang capeknya kan’, kalau semua baju harus berwarna putih?

    Sambil mengayuh sepeda ke arah timur –tetangga kamu menyapa, “Goedemorgen!”. Bapakmu, Pak Guryajid, yang turunan Ciamis asli, menyapa balik, “Goedemorgen, Meneer”.

    Si kulit putih itu bernama Meneer Van den Berg. Dia atasan bapak. Dia pimpinan Jawatan Tera Hindia Belanda yang berpusat di Bandung. Pekerjaan bapakmu adalah Asisten Kaliberasi Timbangan atau Her Ijker (baca: her eyker). Kerjanya? Memastikan bahwa semua pedagang di Hindia Belanda tidak mencurangi pelanggannya dengan timbangan kuda.

    Saat itu, kamu masih kecil. Kamu lahir 7 tahun sebelum tentara-tentara berbadan pendek dari Jepang datang, menangkap dan menahan tetangga-tetangga kamu yang berkulit putih. Sebelum tentara Jepang datang, kehidupan di kota kecil ini lebih tenang. Sesudah itu, kehidupan jadi penuh suara senjata, pekik perang dan pengungsian ke sana-sini. Mungkin, seluruh dunia seperti itu. Kata orang sih, sedang revolusi dan Perang dunia ke-dua. Padahal kamu gak tau, kapan juga perang dunia pertama-nya?

    Beberapa waktu sebelum kelahiranmu, bapak dipindahkan dari kantor Jawatan Tera cabang Cirebon ke Kantor Pusat Jawatan Tera di Bandung. Keluargamu dipinjamkan sebuah rumah untuk ditinggali. Tepat di samping kantor, di Curieweg. Orang sekarang menyebutnya Jalan Curie. Tinggal belok kiri ke arah selatan, dari Pasteurweg (Jalan Pasteur) yang bergengsi.

    Hampir semua tetangga kamu berkulit putih. Kecuali keluarga dokter Singawinata di sudut Jalan Ehrlicht dan Jalan Pasteur. Keluarga dr. Singawinata, seperti terlihat dari namanya, jelas urang sunda. Kulitnya putih juga, tapi putih sunda –tidak sepucat kulit Meneer Van Den Berg.

    Rumah Sakit Ranca Badak, tempat kamu dilahirkan, adalah salah satu rumah sakit paling maju di negara koloni ini. Letaknya hanya 5 menit jalan kaki dari rumah. Bahkan sampai abad sekarang, rumah sakit ini masih memiliki gengsi yang lumayan tinggi. Adik kamu pun lahir di rumah sakit yang sama. Kamu dan adik kamu termasuk avantgarde, karena ketika kebanyakan orang masih takut jarum suntik, kamu sudah lahir di rumah sakit modern. Bukan karena kamu anak orang kaya, tapi karena rumah sakitnya dekat dari rumah.

    Rumah Sakit Ranca Badak tahun 1920
    Rumah Sakit Ranca Badak, tempat kamu dan adik kamu dilahirkan

    Berbeda dengan kebanyakan suasana yang digambarkan dalam masa perjuangan kemerdekaan. Suasana saat itu relatif damai, terutama di mata kamu, anak kecil yang belum juga berumur 10 tahun. Punya seorang bapak yang nyerocos fasih berbicara Bahasa Belanda juga biasa saja. Semua pegawai berkulit coklat di kantor bapak, sudah terbiasa berbicara dalam bahasa eropa ini. Tidak terlalu spesial.

    Engkoh’ dan Enci’ di Toko Den Haag, dua ratus meter dari rumah, juga bisa berbahasa Belanda. Mereka melayani pelanggannya yang kebanyakan orang kulit putih dalam Bahasa Belanda. Kecuali jika mereka sedang melayani bapak kamu. Bersama bapak, mereka akan ngobrol dalam dalam Basa Sunda. Lalu mereka akan ganti bahasa Tiongkok lagi, kalau sedang ngobrol dengan anak-anaknya. Toko Den Haag adalah toko kelontong paling dekat untuk warga wilayah Pasteur. Sampai abad ke-21 toko itu masih juga dagang barang kelontong. Tapi namanya sudah berubah jadi Toko Cipaganti. Silahkan dilihat sendiri besok.

    Sebenarnya ada dua toko kelontong yang juga besar. Lokasinya di perempatan Pamoyanan dengan Pasirkaliki. Namanya toko Chin Lung dan toko Chin. Barangnya lebih banyak tapi lokasinya lebih jauh dari rumah. Sekali-sekali keluarga kamu belanja di situ juga.

    Namun tetap, kalau mau belanja baju yang bagus sih harus ke tengah kota, ke toko Chioda di dekat Braga. Pemiliknya orang Jepang. Termasuk salah satu orang kaya di Bandung. Orang-orang dewasa bilang, waktu Jepang menyerah pada sekutu, pemilik toko Chioda termasuk orang yang ditangkap oleh pemerintah kolonial. Karena selain bekerja seorang pedagang, ternyata dia juga adalah mata-mata Kerajaan Jepang. Entahlah. Kamu tidak mengerti politik di umur segitu.

    Memang kota kecil yang dandy ini, adalah Kota imigran. Kota ini termasuk kota yang baru didirikan –dan tumbuh melejit super cepat. Maka, berbondong-bondong lah para imigran datang dari pelosok nusantara dan dunia. Mereka membawa bahasa dan budaya masing-masing. Orang Belanda, Jerman, Italia biasanya tinggal di sekitar utara. Orang Arab, China atau India, disediakan wilayah di sebelah Barat. Penduduk pindahan dari dari pelosok nusantara lainnya diberikan wilayah di sebelah selatan. Di daerah dekat stasiun kereta api, banyak orang kulit coklat lain yang bahasanya lebih dar-der-dor –Boso Jowo. Mereka biasanya dagang batik atau dagang makanan di sekitar stasiun kereta dan Pasar Baru.

    Kamu dan Bapak kamu beda sendiri. Karena bapak adalah ambtenar (pegawai negeri) Jawatan Tera, maka kamu adalah priboemi yang tinggal di lingkungan Orang Belanda. Memang rasanya agak aneh. Tapi kamu sudah terbiasa. Kirain semua kampung di dunia … ya seperti ini adanya.

    Keluarga kamu beragama islam: Bapak Guryajid muslim, kamu muslim, adik kamu juga muslim. Sementara orang-orang kulit putih, tetangga kamu, biasanya beragama khatolik atau protestan. Gereja-gereja mereka ada di tengah kota, dekat kantor walikota.

    Orang-orang Tiongkok agamanya beda lagi. Kelenteng mereka ada di sekitar Pecinan, dua  kilometer ke arah selatan dari rumah. Kebanyakan dari mereka tinggal di dekat Pasar Baroe sampai Pasir Kaliki. Kalau pun ada yang tinggal di sekitar rumah, berarti mereka dapat ijin untuk membuka toko kelontong di wilayah utara sini.

    Ngomong-ngomong tentang jadi muslim, sebenernya muslimnya kamu masih agak abangan. Sehingga waktu masih kecil, kamu masih jarang sholat. Padahal kalau dipikir-pikir, kalau mau jalan sedikit ke arah utara, ada masjid yang didesain oleh arsitek Belanda, Proffesor Wolff Schoemaker.

    Ahh mungkin kamu abangan karena kebanyakan orang lain juga masih abangan -Agama Islamnya masih tercampur dengan kepercayaan dan kebijaksanaan lokal. Makanya kamu masih ingat sekali, ketika ada kejadian migrasi kura-kura dari dekat leuwi sungai, orang-orang dewasa melarang anak-anak kecil untuk mengganggu kura-kura yang keluar dari lubang-lubangnya. Pamali, katanya. Takut tertimpa petaka kalau mereka diganggu.

    Mari kita kembali ke kehidupan di Curieweg dan Pasteurweg ….. *bersambung ke tulisan selanjutnya
    —————
    ditulis berdasarkan obrolan dan cerita-cerita malam hari dengan H.G. Bratakusuma. Putra Pak Guryajid, Her Ijker Jawatan Tera Hindia Belanda, Bandung.

  • Tolak Bala dengan Sedekah Waktu

    Belakangan saya sering sengaja ‘ngopi-ngopi santay’ dengan beberapa teman masa remaja. Well …Jadi manusia berkepala empat –a.k.a separo tua–, memang ada enaknya. Jika kita melihat ke belakang, ada empat puluh tahun sejarah yang kita pernah lihat dan alami sendiri. Hidup tidak lagi teori, tidak lagi kaku.

    Saya punya banyak teman transformers; dulunya bujangan pleboy–sekarang jadi bujangan doang, dulunya susah kaya –sekarang susah miskin, dulunya susah gerak –sekarang susah diem …atlet lari .. spartan!

    Hidup adalah perubahan. Seperti batu yang ngejugrug di tikungan jalan, tidak akan kita anggap hidup, karena enggak berubah wujud dan posisinya. Memang beberapa teman yang lain tampak tidak berubah, —-karena pakai cat rambut hitam. Teu kaci ah …hehehe

    Anyway, ketika ngopi-ngopi santay ini saya sering ketiban pertanyaan yang sama dari beberapa teman-teman yang rupanya walau jauh tetap sempat saling kepo di Fb. Pertanyaannya, “Elu ngapain sih rajin amet ikut kegiatan ini-itu di Bandung?”

    Kadang saya terkesima juga ketika ditanya begitu. Gak bisa jawab karena hal-hal itu bukan sesuatu yang saya benar-benar awalnya diniatkan. Kebiasaan.

    Tapi tentang ‘ngapain aktif ini-itu di luar kerjaan‘, sekarang saya bisa bilang bahwa alasan saya adalah: Tolak Bala: nolak petaka.

    Jadi gini, Kang Mas Bro. Temen-temen tahu kan bahwa saya setelah lulus kuliah memilih jalan wirausahawan. Financially, jalan wirausaha ini bukan jalan yang mudah. Kita-kita di jalan ini, sejak awal harus belajar untuk memikirkan hajat hidup banyak orang di luar keluarga sendiri. Usaha kita susah maju kalau hanya dikerjakan sendirian. Kita harus belajar berani merekrut tenaga pembantu pewujud mimpi. Konsekuensinya kita harus mau ikut bertanggung jawab terhadap hidup orang lain: hidupnya partner, karyawan, dan anak istrinya. Intinya, ikut memikirkan keluarga orang lain.

    Di awal karir sebagai wirausahawan, saya belajar ikhlas menggaji karyawan lebih besar daripada menggaji diri sendiri. Saya juga belajar rela, membayar THR karyawan tepat waktu, padahal kita yang punya perusahaan, dapat THR justru sesudah hari raya. Itu juga kalau panen hari rayanya lancar. Kalaupun punya untung lebih, karena enggak bankable, yang kepikiran pertama adalah memasukkan lagi untung ke modal. Ujung-ujungnya duit kita mah, yah … secukupnya aja.

    Habis mau gimana lagi? Kalau kita enggak berusaha ikut menjaga kehidupan karyawan, bagaimana mereka mau ikhlas bantuin kita mengejar mimipi kita?

    Lama-lama hal ini jadi kebiasaan. Dan jadi kepercayaan. Saya jadi percaya bahwa membantu orang lain itu adalah membantu diri sendiri. Dan sebagai orang yang uangnya ‘secukupnya saja’, cara paling masuk akal untuk dapat banyak bersedekah adalah sedekah waktu -karena sedekah duit masih terbatas.

    Dari sana saya mulai meluangkan waktu saya. Selepas kantor atau di sela-sela kesibukan, saya sedekahkan waktu saya untuk orang lain. Melakukan hal yang bermanfaat untuk orang lain, yang kadang gak ada duitnya.

    Sudahlah uang cuman secukupnya, lalu dengan waktu yang tersisa malah melakukan sesuatu yang gak ada duitnya.
    ehkok gak keihatan logikanya, ya? gak menarik .. heu heu heu

    Memang. Saya pun baru sadar bahwa sebenarnya ada logika yang mendukung kelakuan saya ini. Saya temukan logikanya ketika mendengarkan Ippho Santosa di acara ulang tahun Safira Corporation. Menurut Mas Ippho, ternyata banyak penelitian yang memperlihatkan bahwa giving charities, sedekah, atau apapun istilah lainnya, meningkatkan serotonin di dalam otak kita. Serotonin, zat yang menciptakan rasa bahagia di dalam diri kita, terbukti bisa dihasilkan ketika kita bersedekah, ketika membantu orang lain dan ketika kita sharing dengan orang lain.

    Ternyata dengan membagi sebagian waktu saya untuk orang lain membuat saya menjadi orang yang lebih bahagia. Di dunia yang luar biasa semrawut ini, untuk bisa menjadi manusia yang berbahagia, adalah rejeki yang sangat-sangat pantas disyukuri.

    ——-

    Uda Hanafi, partner kerja saya, dulu pernah bilang, “Kalau lu lagi punya kesusahan. Jangan merasa spesial. Lalu mutung-mutung nyalahin keadaan. Seakan-akan hanya kepada elu lah kesusahan ini datang. ELU ENGGAK SPESIAL. Ketika lu misalnya merasakan patah hati berbarengan dengan susah duit, sebenernya di belahan dunia yang lain, mungkin ada ratusan juta orang lain yang juga sedang sakit hati dan susah duit pula. Kalau kebanyakan orang lain bisa menghadapinya lalu move on, kenapa lu tidak?”

    ——–

    Apa yang Hanafi katakan ini banyak benernya. Satu: musibah tidak terjadi pada kita saja. Dua: ngapain mutung-mutung. Tiga: Kalau orang lain bisa, kenapa kita gak bisa.

    Still, ketika melihat masalah orang lain yang kayaknya berat banget atau banyak banget atau berturut-turut banget, gentar juga hati ini. Itu sebabnya kita musti sering-sering berdoa dan berusaha agar musibah jenis ini –jenis yang berat untuk dihadapi, tidak terjadi pada kita.

    ‘Kan ada yang bilang bahwa kalau lagi susah saatnya perbanyak sedekah. Betul tuh. Tapi mungkin lebih baik lagi kalau susah-senang sedekah jalan terus. Punya uang, sedekahkan uangmu. Lagi gak punya uang, luangkan waktu untuk menyedekahkan pikiranmu. Jika pikiran lagi mentok, luangkan waktu untuk menyedekahkan jaringanmu. Jika jaringan kurang luas, luangkan waktu untuk menyedekahkan sekedar tulisanmu. Jika merasa tidak pandai nulis, luangkan waktu untuk menyedekahkan sedikit telingamu untuk mendengar masalah orang lain. Jika telinga pun sedang tidak siap mendengar, tanyakan pada orang lain, waktumu bisa digunakan untuk membantu apa lagi?

    Intinya, banyak hal yang kita miliki -yang bisa bermanfaat untuk orang lain. Karena di sekeliling kita: ada orang yang butuh uangmu, ada yang butuh tulisanmu, ada orang yang butuh jaringanmu, ada yang butuh senyummu, dan lain-lain dan lain-lain.

    Dengan mencoba menyedekahkan sebagian waktu kita untuk memecahkan masalah orang lain, mungkin kita akan terlalu sibuk memecahkan masalah di sekeliling kita, sehingga Yang Maha Pengasih akan berbaik hati untuk tidak lagi menambah masalah untuk dirimu dan keluargamu sendiri. Insya Allah, karena Allah tidak membebani seseorang diluar kemampuannya (lihat Al Baqarah 286, deh).

    Kita sedekahkan dengan apa pun yang miliki >> kita sibuk meringankan beban orang lain >> beban hidup kita akan dikurangi olah Yang Maha Pengasih. Sedekah itu tolak bala. Selamat mikir. Selamat sedekah.

    Wallahu a’lam bishawab.

    ————-

    benwirawan.com
    ~ditulis sambil nunggu bayar pajak motor
    ~foto pinjem dari dreamcenterpert.org

     

  • Yang Kafir, Yang Insyaf.

    Abu Bakar ra. adalah sahabat yang istimewa karena ia tidak pernah menyembah berhala, baik di masa jahiliyah –apalagi setelah islam. Pernah di hadapan sekumpulan sahabat Rasulullah, Abu Bakar berkata, “Tidak pernah sekalipun aku bersujud kepada berhala. Saat aku beranjak remaja, Abu Qahafah membawaku ke sebuah tempat ibadah yang di dalamnya ada beberapa berhala. Ia berkata kepadaku, “Inilah tuhan-tuhanmu yang agung dan mulia.” Kemudian ia pergi meninggalkanku. Aku mendekati salah satu patung itu dan kukatakan padanya, “Aku lapar, berilah aku makanan.” Patung itu diam tidak menjawab. “Aku telanjang, berilah aku pakaian.” Ia pun diam tak menjawab. Maka aku menimpakan sebuah batu kepadanya sehingga kepalanya terjatuh.

    Rasanya saya pun belum pernah menyembah berhala. Saya lahir sebagai muslim karena orang tua saya muslim. Ibu dan bapak saya, secara yakin menuliskan tulisan ‘Islam’ di semua kolom agama saya, sejak saya lahir. Saya sepanjang hidup menjalani hidup sebagai seorang muslim dan belum pernah ingin meninggalkan agama ini. Jadi dari sudut pandang islam, saya belum pernah kafir. *mudah-mudahan hal ini benar adanya.

    Well, tentu saja mungkin dalam pandangan pemeluk agama lain, saya bisa saja digolongan ‘infidel’, golongan yang tidak terselamatkan, atau mungkin ‘golongan teracuni agama’ –kalau menurut para atheis. Yah … itu semua kan bagaimana pandangan orang lain melihat saya. Cara pandang orang lain terhadap saya –does not necessarily define who I am, betul gak? Santai saja lah.

    Eh …tapi saya bukan mau menuliskan tentang diri saya. Saat ini, saya ingin sedikit mengingat-ingat sejarah beberapa Sahabat Nabi. Karena seingat saya tidak semua sahabat begitu cepat dan yakin dalam membenarkan kenabian dan ajaran yang disampaikan Muhammad SAW, seperti Abu Bakar ra.

    Sebagian dari mereka tinggal jauh dari Mekkah. Berita kedatangan Muhammad SAW membutuhkan waktu untuk mencapai telinga mereka –apalagi hati mereka. Sebaliknya ada juga beberapa sahabat yang tinggal sangat dekat dengan Nabi, tapi butuh waktu tahunan bagi mereka untuk dapat menerima agama yang disampaikan tetangga dan saudaranya ini. Sebagian sahabat, sempat hidup memerangi, bahkan berniat membunuh Nabi, sebelum mereka hidup jaya sebagai muslim sampai akhir hayatnya. Mereka sempat berdiri kukuh di sisi kaum kafir Quraisy, membela musuh-musuh Muslimin.

    Seingat saya begitu.

    Contoh, Sahabat Salman Al-Farisi ra., tidak lahir sebagai bayi muslim. Namanya yang Al-Farisi menunjukkan dia berasal dari Farisi (Persia), yang pada saat itu sebagian besar beragama Majusi, menyembah api. Bukan saja beragama Majusi, ayahnya adalah tetua Majusi, yang membuat dirinya menjadi petugas penjaga api peribadatan kaum Majusi.

    Kehidupan Salman berubah ketika suatu hari dia memperhatikan para pendeta yang sembahyang di gereja Nasrani. “Ah, ini lebih baik daripada agama Majusi yang kuanut selama ini”, katanya dalam hati. Lalu dia utarakan pendapatnya ini pada sang ayah.

    Hasilnya? Ayahnya memenjarkan dia. Singkat cerita, dia memilih melarikan diri bersama pendeta-pendeta Nasrani. Belajar agama dari satu pendeta ke pendeta lain, sampai suatu hari seorang uskup menyarankan dia untuk mencari Nabi pembawa risalah Ibrahim a.s. yang akan datang ke kota yang ditumbuhi kurma dan terletak di antara dua bebatuan hitam. Perjalanan dirinya dalam mencari islam membutuhkan waktu tahunan dan jarak ribuan kilometer. Sebagian waktu pencariannya, dia jalani sebagai seorang budak.

    Tapi rupanya ada alasan Allah SWT mentakdirkan seorang Majusi Persia, harus menjalani perjalanan panjang dan melelahkan menuju agama Allah. Di ujung dunia lain, di negeri antara dua batu hitam, seorang Nabi membutuhkan pertolongannya, membutuhkan kepandaiannya dalam menghadapi serangan kafir Quraisy di bawah pimpinan Abu Sufyan, yang terekam dalam sejarah sebagai Perang Khandaq.

    Siapa sangka tokoh kunci kemenangan kaum muslimin saat itu ada di tangan seorang mantan kafir Majusi. Sebagai manusia pandai yang tumbuh di kerajaan besar Persia, dia memiliki latar belakang kepandaian, teknologi dan strategi yang lebih baik daripada umumnya orang Arab di saat itu. Parit pertahanan (Persia) rancangannya akhirnya menghapus impian Abu Sufyan menghilangkan agama Islam dari permukaan bumi.

    Si Kafir Majusi mana bisa jadi tokoh kunci?
    ———-

    *sejarah lebih lengkap mengenai Salman Al-Farisi bisa dibaca di sini

    Lain lagi cerita kehidupan Abu Sufyan bin Harb, yang menjadi pemimpin pasukan kafir Quraisy –lawan Salman al-Farisi dan umat Islam dalam perang Khandaq.

    By the way, Abu Sufyan bin Harb berbeda dengan Abu Sufyan bin Harits, ya. Walau keduanya masih bersaudara dengan Nabi Muhammad SAW, dan keduanya memusuhi Nabi –tapi jangan sampai tertukar, ini benar-benar orang yang berbeda.

    Abu Sufyan bin Harits bersaudara lebih dekat, dengan Nabi. Dia sepupu langsung dari paman Nabi, Harits bin Abdul Muthalib. Dia bahkan saudara sepenyusuan Nabi, karena dia juga sempat disusui oleh Halimah binti Abi Dhuayb.

    Sementara Abu Sufyan bin Harb, adalah saudara satu bao (bapaknya buyut) dengan Nabi. Garis turunan mereka bertemu di Abdi Manaf bin Qusay. Abu Sufyan bin Harb adalah petinggi kafir Quraisy, suami dari Hindun binti Utbah –perempuan yang memakan jantung Hamzah bin Abdul Muthalib, paman dan sahabat Nabi yang gugur di perang Uhud.

    Abu Sufyan adalah musuh paling gigih dan bisa dibilang paling banyak akal dalam memerangi Nabi. Dia pernah menawarkan pada paman Nabi, Abu Thalib, agar mau menukar Muhammad dengan seorang pemuda Quraisy lain. Mereka bermaksud menyembelih Muhammad dengan ‘menyogok’ Abu Thalib dengan pemuda lain lain yang lebih ‘baik’.

    Abu Sufyan bin Harb adalah otak dibalik blokade ekonomi dan sosial yang dilakukan kaum Quraisy terhadap Bani Hasyim, klan Nabi Muhammad SAW. Ide Abu Sufyan ini hampir saja berhasil mematahkan perjuangan muslimin saat itu.

    Abu Sufyan juga adalah pemimpin kafilah pedagang yang menyulut perang Badar. Lalu setahun kemudian, Abu Sufyan pula yang memimpin pasukan Quraisy dalam perang Uhud. Masih kurang? Selama memerangi Nabi Muhammad SAW, sebenarnya dia juga berstatus mertua Nabi Muhammad. Karena salah satu anaknya, Ummu Habibah, adalah istri Nabi. Baik banget, kan?

    Tepat sebelum penaklukan Mekkah oleh kaum Muslimin, Abu Sufyan mengucapkan syahadat. Nabi menolak permintaan Umar bin Khattab, dan memutuskan untuk tidak membunuh Abu Sufyan. Nabi memutuskan untuk memaafkan Abu Sufyan. Sejak itu Abu Sufyan berpihak dan berperang bersama kaum muslimin. Sebelum meninggal dalam usia 88 tahun, ia kehilangan salah satu matanya dalam pengepungan Tha’if dan kehilangan mata yang lainnya dalam perang Yarmuk. Abu Sufyan bin Harb meninggal tanpa mata –tapi memegang imannya.

    Muawiyah, putra Abu Sufyan, di kemudian hari mendirikan dinasti muslim pertama yang memerintah dunia islam selama satu abad (661-750 M). Dia adalah orang yang memimpin pasukan islam untuk membebaskan daerah Caesarea (dekat Tel Aviv sekarang), membuka pesisir Syam, menahan serangan Bizantium dan Persia dan pemimpin muslim pertama yang membuat angkatan laut muslimin.

    Si Penjahat Perang, mana bisa jadi Pahlawan?
    ———-

    Tapi setidaknya Salman Al-Farisi dan Abu Sufyan bin Harb adalah orang-orang yang lahir dari keluarga yang bener. Tidak seperti sahabat yang ini nih. Pernah dengar kisah Abu Dzar Al-Ghifari?

    Mirip dengan Abu Bakar ra. sahabat ini memiliki keyakinan yang kuat mengenai kenabian dan kebenaran Islam dengan hampir seketika. Ia adalah orang ke-lima yang menyatakan keislaman dan kesetiaannya pada Nabi Muhammad SAW, di saat Nabi masih melakukan dakwah secara diam-diam.

    Diceritakan oleh Khalid Muhammad Khalid dalam Rijal Haula Al Rasul:

    Hari itu Abu Dzar letih luar biasa. Untuk mencapai Makkah dia harus melalui bentangan gurun pasir yang panas dan kering. Tapi hatinya bahagia, ia tidak sabar untuk mencari orang yang bernama Muhammad, dan memintanya untuk mendendangkan syair hasil gubahannya. Tapi Sang Nabi menjawab, “Ini bukan syair yang aku dendangkan untukmu. Ini adalah Al-Quran yang mulia.” “JIka demikian, bacakanlah untukku,” mohon Abu Dzar. Rasulullah membacakan Al-Quran, yang didengarkannya dengan khusyuk. Tidak lama, Abu Dzar mengucapkan kalimat Syahadat.

    Nabi kemudian bertanya, “Dari mana asalmu, wahai saudaraku?” “Dari Ghifar,” dijawab Abu Dzar. Bibir Rasulullah SAW tersenyum lebar, sementara wajahnya diselimuti rasa takjub dan heran.

    Abu Dzar pun tertawa melihat hal ini. Ia tahu, mengapa Rasulullah SAW merasa heran saat beliau tahu orang yang baru saja memeluk islam di depannya ini adalah seorang laki-laki dari Ghifar. Mengapa? Sebab Ghifar adalah sebuah kabilah yang tiada duanya dalam urusan begal-membegal. Penduduknya sering dijadikan perumpamaan dalam penyergapan-penyergapan ilegal. Mereka adalah raja kegelapan di malam hari. Celakalah orang yang diserahkan malam kepada Bani Ghifar.

    Lalu tiba-tiba hari ini –saat Islam masih menjadi agama yang baru bersemi dan sembunyi-sembunyi –salah seorang dari mereka memeluk Islam. Abu Dazr kemudian mengisahkan keislamannya: “Kemudian, Muhammad SAW menangkat wajahku dan menatapnya penuh selidik dan takjub, setelah tahu aku dari Ghifar. Lalu beliau berkata, “Sesungguhnya Allah SWT akan memberikan hidayah kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya.”

    “Wahai Rasullulah, apa yang akan kau perintahkan kepadaku?” tanya Abu Dzar. Rasulullah SAW menjawab “Kembalilah kepada kaummu sampai ada berita dariku.” Abu Dzar berkata, “Tidak. Aku tidak akan pergi sebelum aku meneriakkan Islam di masjid.”

    Yang dilakukan selanjutnya oleh Abu Dzar adalah masuk ke Masjidil Haram, lalu berteriak sekuat tenaga, “Asyhadu alla ilaha illallah, wa asyhadu anna muhammadan rasulullah.” Teriakan yang menentang kesombongan kaum Quraisy, yang diteriakkan seorang asing yang tidak memiliki keturunan, nasab, dan perlindungan di Kota Mekkah –pasti hanya akan berbuah satu hal: near death experience 🙂 Kaum musyrikin mengepungnya, memukulinya sampai dia jatuh terkapar.

    Hari itu bisa jadi hari terakhir Abu Dzar melihat dunia, jika Abbas, paman Nabi Muhammad SAW, tidak menyampaikan sesuatu yang sangat cerdas untuk melerai mereka. Ia berkata pada kaum musyrikin, “Wahai kalian kaum Quraisy, kalian adalah pedagang, dan jalur perdagangan kalian pasti melewati perkampungan Bani Ghifar, dan orang ini salah satu penduduknya. Jika kalian membangkitkan kemarahan mereka niscaya mereka akan mencegat kafilah dagang kalian di perjalanan.”

    Gertakan Abbas berhasil mengurungkan niat kaum musyrikin untuk menghabisi Abu Dzar di siang itu.

    Esok harinya Abu Dzar nyaris kembali kehilangan nyawanya ketika dia memarahi dua orang perempuan yang bertawaf mengelilingi berhala Usaf dan Nailah. Dua wanita tadi berteriak-teriak histeris dan para lelaki Quraisy segera memukuli Abu Dzar sampai pingsan. Ketika ia sadar, lagi-lagi ia berseru, “Asyhadu alla ilaha illallah, wa asyhadu anna muhammadan rasulullah.” Nabi segera mengetahui karakter murid barunya yang datang dari luar ini. Ia memiliki kemampuan yang luar biasa dalam menghadapi kebathilan. Beliau pun mengulangi perintahnya agar ia kembali pada kaumnya sampai ia mendengar munculnya agama baru. Akhirnya Abu Dzar memutuskan untuk mengikuti nasihat Nabi dan pulang ke Ghifar.

    Hari-hari pun berlalu seiring dengan beredarnya zaman. Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Beliau dan kaum muslimin  kemudian menetap di sana. Pada suatu hari, tepian Madinah kedatangan satu barisan panjang yang terdiri atas pejalan kaki, pengendara unta, kuda dan keledai. Iring-iringan ini menimbulkan kepulan debu di belakang mereka. Seandainya bukan dengung suara takbir mereka yang terdengar bergemuruh, tentulah yang melihat akan mengira mereka itu pasukan tentara musyrik yang hendak menyerang.

    Kafilah besar ini kian mendekat dan memasuki Kota Madinah, mengarahkan pandangaannya ke masjid Rasul dan tempat tinggalnya. Kafilah besar ini tidak lain adalah kabilah Ghifar dan Aslam. Mereka dibawa oleh Abu Dzar dalam keadaan muslim; laki-laki, perempuan, orang tua, muda-mudi dan anak-anak.

    Mereka telah menganut Islam beberapa tahun sejak Allah SWT memberikan hidayah melalui tangan Abu Dzar. Ikut pula bersama mereka Bani Aslam yang juga telah muslim.

    Penyamun kawakan dan pendukung setan itu kini berubah menjadi raksasa kebajikan dan pendukung kebenaran.

    Bangsa preman, mana bisa insyaf?

    Tampaknya iman manusia; siapapun itu, relatif terhadap waktu. Bagian dari masa lalu, masa kini dan masa depan. Dan yang namanya waktu –adalah makhluk Allah SWT, yang hanya akan tunduk kepada-Nya.

    Diri saya bisa saja bukan seorang kafir, –untuk saat ini. Dirinya bisa jadi seorang kafir, untuk —saat ini. Berdo’alah agar dirimu dijaga selalu di agama yang lurus. Berdo’alah agar orang lain pun, sejauh apapun dari agama ini, akan ditunjukkan agama yang lurus.

    Seperti yang diucapkan Rasulullah Muhammad SAW kepada Abu Dzar, “Sesungguhnya Allah SWT akan memberikan hidayah kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya.”  

    —————

    Jadi, Ben. 
    Beranikah kamu menghardik kafir kepada Salman, Abu Sufyan atau Abu Dzar –bahkan ketika mereka masih kafir?
    Enggak, ah. I guess, iman is never for me to judge. I don’t have the right to judge Allah SWT.

  • Hati-hati, Tertipu Scam Panggilan Walikota

    “Om Ben, ini ada telepon. Katanya dari aspri-nya Walikota Depok. Ingin ngobrol dengan Om Ben”, kata Sovi, Customer Service Torch.id, yang bela-belain menyusul saya yang sedang makan siang dua hari yang lalu.

    “Huh? Siapa, Sov?” tanya saya agak terkesima
    “Katanya Asisten Pribadinya Walikota Depok, Om. Dari tadi nelepon terus. Mau diterima sekarang?”

    Saya memang baru beberapa minggu lalu membuka showroom Torch pertama di Depok. Tapi ya, agak kaget juga kalau sampai ditelepon Walikota Depok. Ada apa pula? Pengalaman di Bandung, kalau yang telepon sudah aspri-nya Walikota, biasanya serius nih.

    “Halo, Assalamulaikum”, saya memulai pembicaraan.
    “Waalaikumsalam. Dengan Pak Ben W. Sudarmadji?” kata suara di ujung sana menyebutkan nama depan dan nama bapak saya.
    “Betul. Saya sendiri. Ada yang bisa saya bantu?” kalimat standar itu keluar dari mulut saya.
    “Saya Aspri Walikota  Depok, Pak. Pak Wali ingin berbicara dengan Pak Ben. Sebentar …”

    Saya tidak punya ekspektasi apapun, karena memang tidak kenal Walikota Depok. Nama Pak Wali pun saya belum tahu saat itu. Jadi saya siap-siap respons sopan saja.

    “Dengan Pak Ben W. Sudarmadji?” kembali nama saya dan pak Sudarmadji disebutkan lagi.
    “Betul, Pak. Ada yang bisa saya bantu?” suara sopan saya melantun.
    “Pak Ben. Saya dengan Walikota Depok. Saya senang sekali Torch kemarin buka showroom di Depok”, kata pak Wali.
    “Alhamdulillah. Terima kasih, pak.” jawab saya agak kaget. Kok Walikota sampai tahu Torch buka di Depok?
    “Pak Ben kok tidak mengundang saya untuk pembukaan kemarin?” tanya Pak Wali.

    Nah loh … langsung ditodong pertanyaan susah gini. Emang harus ngundang Walikota untuk pembukaan semua showroom Torch, ya?

    Saya sebisa-bisanya ngeles, “Maaf, Pak Wali. Kebetulan acaranya kecil saja. Saya malu kalau ngundang Pak Wali.”
    “Ah, Pak Ben bisa saja. Saya justru senang sekali Torch buka di Depok. Ini sebuah contoh yang bagus untuk warga Depok. Produk anak bangsa sebagus Torch harus kita jadikan contoh. Saya suka sekali sendal umrah dan haji yang di desain oleh Torch.”

    jieeeee …. dipuji walikota nihhh ….

    “Alhamdulillah, Pak. Itu sendal didesain karena masalah yang pernah saya hadapi sendiri.” Lalu saya sampaikan sedikit cerita di balik pendesainan sendal umrah Torch yang memang seru.

    “Nah. Saya ingin bertemu dengan Pak Ben W. Sudarmadji ini. Kapan Pak Ben punya waktu?” kembali nama bapak saya disebut lagi
    “Insya Allah, Pak. Tapi mohon diberitahu sehari sebelumnya. Agar saya bisa kosongkan dahulu jadwal saya”, jawab saya agak diplomatis.

    Namanya juga kita ikut dagang di kota orang. Wajar saya pikir kalau saya harus juga meluangkan waktu untuk walikotanya.

    “Kalau besok bagaimana, Pak Ben? Pagi hari atau ba’da Dzuhur?” katanya langsung nodong.
    “Ba’da Dzuhur tampaknya lebih mungkin, Pak. Tapi maaf pak, saya diundang ke balaikota ini untuk apa, ya?” tanya saya beneran gak ngerti .
    “Saya ingin Pak Ben berbicara di depan pegawai negeri Depok. Pak Ben harus berbagi ilmunya. Gak keberatan kan, Pak Ben?” jawabnya dalam nada yang resmi.
    Lalu dia melanjutkan, “Pak Ben perlu undangan resmi. Atau cukup undangan lisan dari saya saja?”
    “Kalau boleh undangnnya dikirim ke nomor ini saja, Pak. Kalau memang bisa, ke email saya juga boleh”, jawab saya mencari praktisnya saja.
    “Oke. Nanti kami telepon lagi ya untuk konfirmasi…. oh, iya Pak Ben. Boleh kami minta nomor telepon pribadinya Pak Ben?”
    “Boleh, Pak. Nanti saya SMS kan ke nomor ini. Ini nomor telepon aspri bapak, kan?”
    “Oh, bukan. Ini nomor pribadi saya.” kata Pak Wali.
    “Baik, Pak.”
    “Terima kasih, Pak Ben. Assalamulaikum.”
    “Waalaikumsalam, Pak Wali”.

    Teman-teman makan siang saya langsung penasaran bertanya siapa yang telepon dan ada apa. Ketika saya jawab Pak Wali minta kita ke Depok untuk sharing, mereka semua langsung bersemangat. Memang khusus pembukaan showroom baru ini kita sampai membuat beberapa video yang di-release online. Tapi jujur, gak nyangka juga markom kita bekerja sebaik itu –sampai ditelepon oleh Pak Walikota sendiri gicu.

    Satu jam kemudian, di tengah-tengah meeting dengan tim merchandising Torch, tiba-tiba HP saya bernyanyi. Di layarnya tertulis incoming call dari ‘Walikota Depok’. Kebetulan nomor Pak Wali sudah saya simpan ke HP saya beberapa waktu sebelumnya. Wah pak Wali nelepon lagi. Terpaksa saya pamit keluar dari ruang rapat.

    Ternyata sekarang Pak Wali nelepon langsung ke nomor saya, tanpa perantara aspri-nya pula.

    “Pak Ben. Jadi ya. Besok ba’da Dzuhur. Jam satu – setengah dua-an. Bisa, kan?” kata beliau.
    “Siap. Insya Allah, Pak”.

    Kalau telepon-telepon ini sudah cukup mengagetkan bagi saya. Apa yang akan datang selanjutnya akan lebih aneh lagi.

    Pak Wali meneruskan pembicaraannya, nadanya berubah lebih serius, “Pak Ben. Saya mau minta tolong pada Pak Ben. Boleh?”
    “Apa yang bisa saya bantu, Pak?”
    “Untuk acara besok ini sebenarnya anggarannya belum turun. Kita terpaksa minta bantuan ke beberapa pengusaha di Depok. Apakah Torch bisa ikut kontribusi juga?”

    JENGG … JEEEEENGG …

    “Maksudnya  kontribusi seperti apa, pak?” tanya saya polos.
    “Yah saya minta bantuan pengusaha di Depok untuk saling membantu gitu. Sama-sama untuk Depok, Pak Ben.” kata suara di sana
    “Maaf, Pak Wali. Saya tidak mengerti maksud bapak. Kalau kontribusi itu bentuknya seperti apa?”
    “Contohnya Pi**a H*t (menyebutkan sebuah chain restoran siap saji) menyumbang 5-10 juta untuk acara besok ini. Torch bisa ikut juga?” mintanya.
    “Acara apa ini, pak?”
    “Acara di mana Pak Ben akan berbicara besok”, jawanya singkat.

    Cadas! Seumur-umur saya diundang oleh pejabat, baru kali ini diminta untuk sharing –lalu harus membayar pula. Perasaan gw mulai gak enak nih. Ada sesuatu yang salah, tampaknya. 

    “Mohon Maaf, Pak Wali. Kalau hal seperti ini saya harus bicarakan dulu dengan Tim. Saya tidak bisa mengeluarkan biaya di luar budget yang sudah disetujui sebelumnya”, jawab saya diplomatis.

    Otak saya masih berusaha memproses. Apakah Walikota Depok baru saja minta uang ke saya. Malak warga, begitu?
    Untungnya di perusahaan saya, mengeluarkan uang memang tidak semudah itu. Kami sudah menggunakan sistem ERP. Pengajuan biaya harus melalui beberapa tahap approval dari beberapa pimpinan departemen secara online. Jadi direktur pun tidak semudah itu membuat keputusan belanja perusahaan.

    “Jumlahnya tidak perlu segitu, Pak Ben. Berapapun jumlahnya sudah sangat membantu”, tawaran baru muncul.
    “Tetap, Pak Wali. Berapa pun uang yang saya keluarkan harus disetujui dari sistem dulu”, jawab saya.
    “Wah kalau begitu. Tidak usah dari perusahaan juga tidak apa-apa. Dari Pak Ben pribadi juga boleh. Bisa berapa dari Pak Ben? Pak Ben pakai bank apa? Bisa kirim vai BR*?” desaknya agresif.

    ……Weeeeeh … dari gue?  agresif amet pak Wali ini ……

    “Kami tidak pakai BRI pak Wali. Kami pakai BC*. Tapi tetap pak, di perusahaan saya keluarnya uang harus lewat persetujaun sistem” jawab saya.
    “Tidak usah dari perusahaan deh, kalau begitu. Dari ‘nak Ben juga tidak apa-apa. Kalau dari ‘nak Ben, bisa berapa?” desaknya. Kali ini dia sudah mulai memanggil saya dengan kata sandang ‘Nak’. Makin agresif nih.

    Karena sudah tidak enak hati, merasa ada yang salah, sekalian saja saya pancing dia, “Kalau satu juta saja, Pak?”
    “Tidak masalah. Ini pinjaman kok. Nanti sesudah anggarannya turun akan dikembalikan. Tapi tolong ditransfer cepat ya. Nanti saya SMS-kan rekning BC*-nya”, tanggap sekali suara dari sana.

    Tidak sampai setengah jam. HP saya menerima SMS yang berisikan nomer rekening seseorang bernama DEPI di BC*. Disusul dengan sebuah telepon, satu menit kemudian. Kembali, langsung dari Pak Wali.
    “Uangnya sudah ditransfer, nak Ben?”
    “Wah. Belum, pak. Saya lagi tanggung meeting ini. Nanti sesudah meeting ya.”

    Di tahap ini saya sudah sangat curiga. Kok rasanya terlalu agresif ya. Siapa pula DEPI ini? Dan saya langsung sadar, apa buktinya saya barusan sedang ngobrol dengan Walikota Depok. Kan saya tidak kenal dia. Suaranya juga tidak tahu. Kalau keadaanya dibalik, saya telepon seseorang dengan perantara teman saya sebagai (pura-pura) aspri –saya juga bisa jadi (pura-pura) Walikota Depok!

    Ah … awalnya saya mikir saya sedang berhadapan dengan pejabat korup. Tapi ini sih terasa seperti Scam Telepon. Ada orang nyatut nama Walikota Depok. Kurang ajarrr …

    Saya juga langsung sadar dari mana dia tahu cukup banyak hal tentang saya dan Torch. Beberapa hari sebelumnya, Torch memang masuk liputan beberapa media. Saya rasa, para penipu ini punya modus kayak begini: beli koran, cari pengusaha yang sedang di-features, cari tahu teleponnya, puji-puji layaknya pemimpin daerah yang peduli pada warganya, lalu banting –mintain duit.

    Langsung terbayang muka teman saya, Ei di ICW. Langsung terbayang muka Kang Emil minta uang sejuta ke saya. Gak mungkin bangeeeet….

    Ya sudah cuekin aja. Tong diwaro, kata orang Sunda mah. Gak usah kirim duit. Gak usah dateng ke undangan ‘Pak Wali’ besok. Kalau toh ternyata (by miracele) si Bapak barusan emang ‘Walikota Depok’, paling banter saya dimusuhin Pak Wali. No man! … saya sengaja masuk bisnis ritel agar saya gak perlu kolusi-kolusi. Hubungan terbaik musti dibuat dengan konsmen, bukan dengan penguasa.

    Sampai besoknya saya tidak transfer uang dan juga tidak datang ke Balaikota. Dan … Tentu Saja … tidak ada yang marah-marah nelepon saya. Karena memang yang nelepon itu bukan Pak Wali. Tapi Pak Tipu-Tipu.

    Gile, berarti saya baru saja jadi target SCAM … Penipuan per telepon dari seseorang yang mencatut nama ‘WALIKOTA’. Gitu-gitu amet sih cara nyari duit teh’.

    Bagi pengusaha di manapun (tidak hanya di Depok), hati-hatilah jika anda ditelepon orang yang mengaku penguasa lalu meminta uang ke perusahaan anda. Bilang saja tidak punya uang. Titik. Karena arahnya cuman dua : satu [anda digiring kolusi] ; dua [anda sedang ditipu]

    Waspadalah … Waspadalah … Jangan lupa berdo’a sebelum memulai hari anda.

    ———–
    @ombenben for
    benwirawan.com

  • Chewong, Manusia yang tidak punya kosakata untuk Perang

    Daripada jadi orang pinter keblinger, mendingan kita sedikit lebih Chewong. Suku bangsa asli Semenanjung Malaya yang kepercayaannya dapat disimpulkan dalam satu kalimat saja : “kita harus jadi orang baik”.

    Mereka tinggal di pedalaman hutan Malaya. Saking dalamnya, mereka jarang bertemu dengan para (pendatang) Melayu dan China. Orang Eropa pertama kali bersentuhan dengan ‘Orang Asli’ Chewong di tahun 1930an. Dan saat itu juga mereka sontak terkejut. Mereka menemukan 350 jiwa suku pedalaman yang terisolasi dan memiliki bahasa sendiri –bahasa Chewong.

    Orang Asli Chewong adalah suku yang anti-kekerasan dan anti-persaingan. Dalam bahasa mereka tidak ada kosakata untuk perang, perkelahian, kejahatan dan hukuman.

    Mereka percaya bahwa manusia pertama diajari untuk hidup dengan jalan yang benar oleh Yinlugen Bud –roh hutan yang ada sebelum manusia pertama. Yinlugen Bud mengajari orang Chewong hukum yang disebut Maro. Yang isinya:

    Makanan harus selalu dibagikan bersama. Makan sendirian dianggap salah dan berbahaya. Mereka percaya bahwa hanya dengan menjaga semangat keadilan dan berbagi, mereka bisa bertahan hidup. Orang Chewong percaya bahwa jika mereka melanggar kode etik ini –tidak berbagi makanan, marah-marah terhadap kesusahan, terlalu banyak berharap, dan memelihara hasrat yang tidak terpuaskan — akan berefek gaib seperti penyakit dan bencana-bencana yang disebabkan serangan harimau, ular, kelabang atau bahkan serangan ruwai –binatang jajadian.

    Suku Chewong adalah suku bangsa tua, berasal dari era prasejarah, tapi mereka sudah tahu bahwa kebaikan membawa kebaikan –kejahatan berbuah kejahatan. Apa kabar kita yang katanya sudah ‘modern’ dan ‘maju’? Masih mau menyebarkan kemarahan kepada tetangga di layar tetangga daring/online sebelah? Sudah lupa ya, bahwa seperti bangsa pendatang Melayu di Malaya, kita pun hanya pendatang di dunia.


    PS: gak usah juga sih pindah agama jadi Chewong. Agama kamu udah bagus,  –lebih sering aja amalkan ajarannya.

    @ombenben
    www.benwirawan.com

  • CHINA BUKAN ISLAM? | Part One

    ~ Hidayah, belum pernah dan tidak akan pernah, pilih-pilih luasan mata ~
    #kata ombenben, Urang Bandung bermata sipit

    Sudah beberapa kali, saya membaca status panas terkait China yang saya tidak berani membayangkan ujung dan akibatnya. Entah, si penulis sendiri sadar atau tidak bahaya akibat pendapat panas yang dia sebarkan terhadap bangsa Indonesia yang masih muda dan panasan ini. Untuk saya pribadi, rasanya tidak fair jika kita menyederhanakan ‘kecinaaan’ sebagai kutub seberang dari ‘keislaman’. Rasanya kok tidak benar menempatkan sebuah bangsa di luar bingkai sebuah agama rahmatan lil alamin.

    Karena kalau kita mau avonturir sedikit, berjalan-jalan ke negeri China, di sana kita akan menemukan puluhan juta saudara muslim berkulit kuning bermata sipit. Tapi mungkin karena kita sudah terdogma bahwa China itu komunis, China itu pendukung PKI, China itu pemakan babi, dll –maka kita mudah menyimpulkan bahwa ‘China bukan Islam’.

    Hal ini membuat saya mulai membaca-baca sejarah Islam di Negeri Cina.

    ———————

    Ternyata sejarah muslim di China itu sudah menghiasi rantai sejarah hampir seumur dengan agama Islam sendiri. Nenek moyang mereka mulai berinteraksi dengan muslim arab sejak diutusnya Sa’d bin Abi Waqash ke negeri China oleh Khalifah Umar pada tahun 651 Masehi. Tidak sampai dua puluh tahun sesudah wafatnya Nabi Muhammad SAW.

    Sejak itu, sejak era Dinasti Tang (618-907), sejarah muslim mulai terkait dengan sejarah Negeri China. Kaisar Gaozong, kaisar yang menerima delegasi Sa’d bin Abi Waqash, bahkan memerintahkan pembangunan Memorial Mosque untuk menghormati Nabi di Kanton (Guangdong).

    ——————

    Di tahun 758 M, penduduk muslim Guangzhou sudah membangun Masjid Besar Huaisheng. Gaya arsitektur tradisional China jauh berbeda dengan kebanyakan masjid yang kita kenal di dunia Islam yang lain. Pengalaman sholat di dalamnya akan berbeda dengan umumnya masjid berkubah. Sampai sekarang, di kota perdagangan besar ini, mencari makanan halal tidak sesulit yang kita bayangkan. Dari mie tarik muslim Lanzhou, roti bakar tungku ala Xinjian yang mirip pizza keras, sampai dim sum halal tersedia di pojok-pojok kota perdagangan tua ini.

    ——————-

    Muslim-muslim pertama di China adalah muslim keturunan Arab dan Persia. Orang China saat itu menyebut orang arab sebagai orang Da Shi/Ta Shi. Adaptasi pelafalan orang China terhadap sebutan orang Persia untuk orang Arab, Tazi.

    Dalam 150 tahun pertama, hubungan dua dinasti besar, Dinasti Abbasiyah dan Dinasti Tang, sudah mulai penuh warna. Di antara mereka terjadi Perang Talas tahun 751 M, sampai persekutuan Dinasti Tang dengan Dinasti Abbasiyah untuk melawan serangan Tibet di Asia Tengah.

    Orang-orang Arab dan Persia awal yang tinggal di China kemudian berbaur menjadi leluhur bagi populasi muslim China sekarang dan suku Hui (salah satu suku China yang mayoritas beragama Islam). Orang China sampai sekarang masih sering menyebut agama Islam sebagai Huihui Jiao (agama orang Hui).

    —————————–

    Bagi yang belum pernah ke China, anda mungkin akan kaget dengan betapa miripnya beberapa orang Kanton dengan beberapa orang Indonesia sipit seperti saya. Berbeda dengan penduduk China utara yang lebih putih –penduduk China selatan (seperti Kanton) banyak yang berkulit agak sawo matang seperti orang Indonesia.

    Walau silsilah keluarga saya jelas menunjukkan bahwa saya adalah keturunan Sumedang. Orang-orang di Guangzhou, selalu menyangka saya adalah orang China (selatan). Tidak jarang mereka akan mengoceh satu menit di hadapan saya, hanya untuk saya jawab, “I don’t understand. I am ‘Ini’ (orang Indonesia)”.

    ———————–

    Pada era dinasti Yuan, penguasa Mongol, menggunakan strategi yang unik dengan menempatkan pemimpin asing di tanah-tanah petaklukannya. Muslim Arab dan Persia, Kristen Turki, Yahudi, Budhis Tibet dan Uyghur ditempatkan di jabatan-jabatan kelas atas dalam pemerintahan. Di bawah kekuasaan Kubelai Khan, 8 dari 12 distrik di China, dipimpin oleh Gubernur Muslim. Di saat inilah terjadi perpindahan penduduk Asia Tengah besar-besaran ke wilayah China. Penduduk muslim di China saat itu sudah mencapat 4 juta jiwa.

    Kebalikannya, suku China Han dan Khitan justru ditempatkan sebagai pemimpin wilayah di Bukhara, Asia Tengah. Sistem pemimpin silang seperti ini dibentuk penguasa Mongol untuk membatasi kekuasaan para Gubernur. Namun justru berdampak positif bagi penyebaran Islam ke wilayah China.

    Ini adalah masa harmonis hubungan muslim dengan kaisar Mongol. Jamal Ad-Dien, astronom Persia, sempat memberikan 7 instrumen astronomi kepada kaisar Kublai Khan sebagai hadiah. Sementara Amir Al-Din, seorang arsitek Persia, turut membangun ibukota Dinasti Yuan, Khanbhaliq.

    Di pertengahan abad ke-14, terjadi Pemberontakan Ispah terhadap pemerintahan Mongol yang dipimpin oleh seorang Muslim China keturunan Persia di Fujian Selatan. Pemimpin Mongol selanjutnya, Genghis Khan, menyikapinya dengan sangat keras. Pemerintahan Genhis Khan kemudian melarang cara menyembelih dengan metode halal dan juga melarang laki-laki untuk disunat. Tidak hanya muslim, Yahudi yang tinggal di China juga dilarang memakan makanan Kosher.

    Setelah lama berada dalam pemerintahan Mongol yang opresif dan penuh korupsi, jenderal-jenderal muslim China kemudian bergabung dengan pasukan suku Han untuk melakukan perlawanan terhadap kaisar.

    Zhu Yuanzhang, pendiri dinasti Ming, memiliki jenderal-jenderal muslim yang cakap dalam peperangan seperti Lan Yu dan Chan Yuchun. Jenderal-jenderal ini yang kemudian mengalahkan pasukan Mongol dan menaklukan ibukota Dinasti Yuan, Khanbhaliq, di tahun 1368.

    Pertumbuhan penduduk muslim di dinasti Ming terus berlanjut. Ibukota dinasti Ming, Nanjing, adalah salah satu pusat pendidikan agama Islam. Jenderal muslim lain, Mu Ying, yang melakukan menaklukkan Yunnan dan Shandong Tengah, turut menjadikan kedua wilayah tersebut menjadi pusat pendidikan agama Islam.

    Kaisar Zhu Yuanzhang, termasuk pemimpin yang sangat toleran terhadap pertumbuhan Islam di China. Muslim China di era dinasti Ming, hidup sebagai warga negara biasa yang memiliki hak penuh dalam menjalankan ibadahnya. Berbeda dengan penganut agama Budha Tibet dan Katolik, yang dilarang untuk menjalankan ibadah.

    Sebagian pemimpim militer muslim bahkan dipercaya sebagai panglima-panglima angkatan bersenjata seperti Hu Dahai, Mu Ying, Feng Sheng, dan Ding Dexing. Di zaman dinasti Ming juga muncul seorang Admiral dan penjelajah China yang termashyur, bernama Cheng Ho.

    Ketika imigrasi muslim Arab dan Persia melambat, Muslim China mulai terisolasi dari hubungan dengan dunia islam di luar. Muslim China mulai terasimilasi dan menyerap banyak budaya lokal. Mereka mulai menggunakan nama keluarga (surname) China atau mencari karakter China yang mirip dengan nama keluarga arab. Misalnya: Ma untuk Muhammad, Mai untuk Mustafa, Mu untuk Masoud, Ha untuk Hasan, Hu untuk Hussain, Sa’i untuk Said.

    Di saat yang sama makanan muslim dan pakaian muslim yang sopan juga mulai berasimilasi dengan budaya China. Keturunan imigran dari Arab dan Persia juga mulai berbicara dalam dialek lokal dan membaca aksara China.

    ———————

    Memang kalau kita makan bakmi dan nasi di restoran China Lanzhou, kita akan menemukan makanan muslim asia daratan yang tidak terlalu ‘padat menu domba’. Makanan Muslim Lanzhou banyak terdiri dari ayam, sapi, domba –dan sayur-sayuran ala makanan China umumnya.

    Chef dan pelayannya umumnya berpakaian muslim China. Laki-laki dengan baju kaftan/gamis dan topi haji, lalu perempuannya dengan baju China dengan kerudung yang penuh renda. Jangan lupa sapa mereka dengan ‘Assalamulaikum’—mereka akan senang bertemu muslim lain dari ujung tenggara Asia. Minimal untuk mencairkan suasana, karena umumnya orang China daratan memang tidak seramah orang Indonesia (Melayu ataupun China).

    Udah segitu dulu ah, part one-nya. Mau ngantor dulu sambil cari waktu lagi untuk nulis ‘China Bukan Islam? | Part Two’

    image courtesy of http://www.sysu-network.com/

  • Kepala Tetap Harus Lebih Cepat Daripada Jari Kita

    Bayangkan ini terjadi pada dirimu.

    Pegawai kamu yang kemarin tidak masuk kerja tanpa surat izin, berkata bahwa “Pak, saya kan kemarin sudah beri tahu. Saya kemarin update status di Facebook bahwa saya gak enak badan.” 

    Harus jawab apa coba?

    Ini beneran. Ini pengakuan salah satu teman saya yang harus menghadapi salah satu karyawannya yang menganggap status facebook setara dengan surat dokter. *dokter mark zuckerberg 🙂

    Di waktu yang lain saya ketiban curhat salah satu manager bank yang cabangnya tersebar sampai pelosok desa-desa di Indonesia.

    Katanya, “Gue sampe pusing, Ben. Saat ini gue kebingungan menempatkan kepala unit bank di desa-desa. Masalahnya adalah untuk mengisi posisi ini, seseorang harus memiliki pendidikan yang cukup tinggi. Tetapi pendidikan tinggi jaman sekarang ternyata tidak menjamin adab, prilaku, sopan santun yang bisa diterima oleh orang desa.  Lu tau ‘kan, mana mungkin prilaku di sosial media dibawa ke desa. Kalau gue paksain menaruh mereka sebagai kepala unit di desa, jumlah kredit yang tersalurkan bisa turun. Perbedaan kultur, bro. Mana mau petani dan pedagang pasar berurusan sama orang yang tidak mau paham adab daerah setempat.”

    Baru lewat empat hari yang lalu, seorang dosen di sekolah bisnis ternama di kota ini curhat juga pada saya. “Kalau mahasiswa saya ketemu saya di lift. Enggak ada tuh yang senyum basa-basi seperti jaman dulu. Apa emang bawaanya seperti itu sekarang, ya?”

    Kejadian di atas masih mending. Tidak ada efek langsung pada orangnya. Dosennya baik hati.

    Kejadian lain yang saya pernah dengar dari salah satu teman adalah sebuah ‘kecelakaan lift‘ juga. Tapi lebih fatal. Saat itu teman saya dan boss besarnya berada di lift. Teman saya adalah orang yang sangat paham tata krama, dia posisikan dirinya berdiri di samping-belakang bosnya.

    Menuju lantai atas, masuklah seseorang muda. Pegawai baru. Tanpa basa-basi, senyum pun tidak, anak muda ini berdiri dengan ‘gestur penting’nya. Ketika anak muda ini kemudian keluar lebih dahulu dari lift, teman saya dan bosnya meneruskan ke lantai atas.
    Sambil memiringkan badannya, Sang Bos berbisik pada teman saya, “Buat apa kamu rekrut anak seperti itu? Sudah dilepas saja.”

    Terlalu banyak berkicau juga masalah jaman sekarang. Cerita ini diceritakan oleh seorang teman yang menjadi saksi mata berakhirnya karir seseorang karena twitting. Kejadian ini benar-benar terjadi di sebuah agency di ibukota.

    Kejadian bermula ketika salah seorang pegawai agency tersebut merasa bahwa kliennya terlalu banyak permintaan tidak jelas pada sebuah meeting. Lalu apa yang dia lakukan? Dia twit betapa bajin**n kliennya itu.

    Halooo … sadar tidak sih semua orang bisa baca twit dia? Termasuk bos-nya dong –yang kemudian memecat dia, satu jam sesudah meeting tersebut.

    Saya tidak menulis ini untuk menjelekkan sebuah generasi. Generasi Milenial adalah sesama anak bangsa. Ada masanya, generasi kami pun dulu dianggap aneh. Liberal. Penggemar Musik Setan. Tukang Tawuran. Andis – Anak Disko. Wah … banyak lah titel-titel kami.

    Tapi berjalan dengan waktu, sebagian dari si Liberal itu bermetamorfosis menjadi pemimpin yang bijak. Pemusik Setan itu ada yang sekarang ngajinya lebih merdu dari bapaknya. Tukang Tawuran itu udah jadi Inspektur Polisi. Si Andis itu sudah berubah … sekarang hobinya Clubbing. 😀

    Saya tipe manusia yang masih percaya pada kebaikan yang dibawa oleh Sang Waktu. Pasti ada alasan kenapa Baby Boomers behave like Baby Boomers, kenapa generasi saya kepincut musik Metal, atau kenapa mata generasi adik-adik dan anak saya nempel di layar Hape. Pasti ada alasan kenapa generasi kita harus melalui jalan yang berbeda. In the end, itu semua jalan yang musti dilalui generasi masing-masing untuk bersiap-siap menghadapi jaman yang berbeda.

    Tapi bro, sedikit nasihat dari abang lu nih:

    (satu) Jangan gantikan obrolan lisan dengan obrolan jari-ke-jari. Obrolan jari-ke-jari adalah sebuah replika  obrolan lisan yang terhambat teknologi. Emotionless. Jangan sampai suatu saat kita menyesal, ketika akhirnya kita dewasa, kita baru sadar emosi kita masih fragile, sensitif, touchy –karena kita terbiasa (dan hanya bisa) berkomunikasi di ranah teks pendek.

    (dua) Jangan sampai copy-paste dan blind forwarding menjadi identitas lu. Sama saja tidak punya identitas atuh. Belajarlah menuliskan dan menuturkan isi kepala sendiri. Belajarlah berbicara langsung dengan orang yang tidak sama dengan dirimu. Mungkin dengan itu kamu akan lebih mampu mendengar, dan lebih pandai memilih obrolan yang bermanfaat.

    (tiga)  Gak ada salahnya belajar budaya orang lain, atau budaya generasi lain. Walaupun katanya kita sekarang hidup di ‘budaya dunia’ yang makin mirip satu sama lain. Walaupun nanti google translate akan semakin canggih —Percaya deh, jangan perlakukan dan pandang orang lain dengan cara yang sama, seperti cara kita memperlakukan/memandang orang lain di thread umum Fb, WA Groups, dst.
    Karena kalau kamu saja ingin diperlakukan spesial oleh orang lain, kenapa harus berpikir bahwa orang lain ingin diperlakukan sama oleh kamu. Go out. Make some friends that is not easily connected to the internet. They will teach you something you could not ‘google’. 

    (empat) Bersabarlah. Choose your battles and fights for what actually matters. Jangan terjebak di dalam perkelahian-perkelahian sosial media tanpa ujung dan berakhir unfriend. Kemampuan kamu memilih peperangan yang bermanfaat akan menentukan setinggi apa karir kamu, bagaimana kamu akan diingat oleh orang lain, bahkan mungkin akan jadi apa bangsa ini 20 tahun lagi.

    (lima) Stop menari di atas keyboard. Beraksilah. Pertarungan sebenarnya ada di luar sana.  Bangsa kita ini masih banyak yang belum pandai. Mulailah mengajar, mulai menulis, mulailah memancarkan energi positif. Jangan malah berkomentar di sosmed: ‘bangsa terbelakang’, ‘kapan bisa maju?’, ‘dasar Indon’.

    Sejak kapan orang bodo dikomentari ‘dungu!’ –lalu jadi pintar?


    Salam dari abang lu,
    ~ombenben
    Stop menari di atas keyboard. Beraksilah. Karena kamu tidak bisa melamar pujaan hati kamu dengan ng-email bapaknya … 😀