Author: ombenben@gmail.com

  • Surat Bagi (Yang Bukan) Pedagang

    Sejak dulu salah satu tujuan saya masuk ke bisnis ritel, bukan ke jalur proyek, adalah menjauhi godaan. Spesifiknya godaan orang minta sogokan.

    Di bisnis ritel kan, kalau konsumen gak suka barang kita, maka akan kita persilahkan ke toko sebelah. Gak ada tuh konsumen yang minta disogok kickback 30% agar tidak beli di toko sebelah.

    Di dunia ritel kita punya mekanisme sendiri, namanya diskon. Tapi itu adalah bagian integral dari strategi harga dan supply. Kalau barang laku atau belinya cuman sedikit, mau jungkir balik pun, mungkin konsumen gak akan kita kasih diskon.

    Tapi ternyata godaan mah ada di mana-mana. Sudah beberapa kali, ada saja yang datang dari instansi pemerintah menggoda. Awalnya datang mau beli produk kami dengan kuantitas banyak. Lalu menanyakan apakah ada diskon untuk pembelian grosir.

    Well, tentu saja ada. Semua agen kita juga punya diskon harga grosir. Semua ada perhitungannya. Transparan dan terbukukan.

    Namun, walau gak semua sih, ada aja yang kemudian jadi utusan syaiton. Adik-adik saya di bagian sales mereka bisiki, “Mas, kuitansi nya dibedakan angkanya, ya” atau “Mbak, diskonnya tolong ditransfer ke rekening saya, ya.”

    Alhamdulillah, adik-adik saya di bagian sales masih pada lurus. Mereka biasanya datang ke saya dan bertanya, “Om, kalau orangnya minta kuitansi beda gimana?”, “Om, ada pembelian banyak, tapi orangnya minta transfer diskon ke rekening dia. Gimana, Om?”

    Jawaban saya mah simple, “Tolak, bro.”

    Saya kasih tau ‘ni ya pada para manusia khilaf yang suka menggoda. Yes, kami punya diskon. Itu bagian dari sistem bisnis. Tapi kami hanya berikan kepada para pedagang dan para pembeli.

    Kepada pembeli: maksudnya adalah jika pembeli itu adalah instansi negara, maka kembalikan uang tersebut ke negara. Biar jadi modal pembangunan jalan baru di negara ini atau jadi modal membangun MRT di kota ini.

    Kepada pedagang: karena para pedagang mah gak punya gaji. Makan anak-istrinya didapat dari margin keuntungan yang dia bisa dapatkan. Adalah kewajiban kita untuk berbagi untung dengan sesama pedagang. Sama-sama membantu ngasih makan anak-istri.

    Kalian mah abdi negara. Sudah digaji dengan segala jaminannya oleh negara ini. Harta yang halal bagi anda dan keluarga adalah yang didapat dari mengabdi pada negara ini. Berhentilah untuk bersikap seperti pedagang ketika sedang jadi abdi negara. Gak akan barokah, bro. Tidak untuk kamu dan tidak juga untuk kami.

    Kita kan satu bangsa. Kita sudah sepakat untuk menjalankan fungsi di posisi masing-masing. Saya jadi pedagang, kamu jadi abdi negara, lalu ada lagi yang lain yang jadi dokter, tentara, penyanyi, ustadz dan lain sebagainya.

    Biarkan kami tenang berdagang dan menghidupkan ekonomi negara ini. Bahasa kerennya: “ini jihad kami, bro.” Biar kami yang tanggung resiko berat dan pahala besarnya.

    Kamu mah gak usah. Kan udah dapat gaji dan pensiun. Yang fair wéh atuh.

    Tahu kunci menghancurkan bangsa ini?

    Gampang, jadikan saja semua orang yang bukan pedagang di negara ini, berpikir seperti pedagang.

    Guru, dokter, tentara, ustadz, anggota DPR dan abdi negara –kita suruh cari untung. Tenggelam sudah nusantara ini.

  • Sahabat Nabi yang ketika Sholat Selalu Membaca Surat yang Itu-itu Lagi

    Nusuk juga yang diceritakan ustadz syarief tadi pagi. Jadi ceritanya dulu ada seorang sahabat yang setiap kali menjadi imam shalat, selalu membaca surat pendek yang itu-itu lagi. Suratnya adalah Surah Al Ikhlas. ‘Qulhu’ kata orang sunda mah, salah satu surat paling pendek di dalam Al Quran. Empat ayat saja.

    Dia sendiri tampak khusyu dan nyaman membaca surat ini –dan tidak ada tanda-tanda ingin sesekali membaca surat lain. Sehingga sahabat-sahabat yang sering menjadi makmumnya pun mengadu pada Rasulullah SAW. Pada akhirnya sahabat ini dipanggil oleh Nabi.

    Rasulullah lalu bertanya, “Ya Sahabat, saya dengar kamu selalu membaca surat yang itu-itu lagi di setiap raka’at shalat kamu. Tidakkah kamu hafal surat lain?”.

    “Oh, tentu saya hafal surat-surat lain, ya Rasulullah. Tapi saya sangat mencintai surat Al Ikhlas. Saya mencintai makna yang terkandung di dalamnya. Sehingga saya selalu ingin membacanya ketika saya shalat”, ujarnya.

    Seperti kita ketahui, surat Al Ikhlas ini mengajari kita tentang ajaran-ajaran mendasar dan penting tentang keesaan Allah SWT, bahwa Dia adalah satu-satunya tempat kita bergantung, tidak beranak dan tidak diperanakan –serta tidak ada yang setara dengan-Nya.

    Intinya, sang sahabat sangat tersentuh dengan kedalaman pesan yang terkandung dalam surat Al Ikhlas. Jadi ingin mengulang-ulang terus surat ini dalam shalatnya.

    Apa yang kemudian dikatakan oleh Nabi Muhammad SAW padanya?

    “Engkau akan bersama dengan yang kau cintai.” Dan membiarkan sahabatnya itu meneruskan kebiasaan uniknya.

    Apa maksudnya ‘engkau akan bersama dengan yang engkau cintai’?

    Rupanya justru Rasulullah yang kemudian tersentuh dengan kecintaan sahabatnya ini pada Allah SWT. Sehingga beliau tidak berani mengubah kebiasaan unik sahabatnya ini. Beliau tahu bahwa hakikatnya bila seseorang mencintai sesuatu dengan amat sangat –maka (pada akhirnya) dia akan selalu bersama yang dia cintai itu– dalam bentuk dan situasi yang kadang sulit dinalarkan.

    Ketika sang sahabat memperlihatkan kecintaan yang luar biasa pada penciptanya, maka tidak ada takdir lain bagi sahabat ini selain akan selalu bersama dan ditemani oleh Tuhannya yang kekal.

    ——–

    *Jadi inget masa muda. Bisa ngomong ‘I love you’ aja, perasaan udah pencapaian banget.

  • Ketika Cita-Cita Ibu Tidak Nyambung dengan Cita-Cita Anaknya

    Dulu Ibu mungkin agak ‘gak enak badan’ ketika mendengar kakak saya mengatakan bahwa dirinya ingin jadi pilot. Si sulung Arry, sejak duduk di SD, sudah bulat tekad ingin jadi pilot pesawat terbang. Komik Tanguy and Laverdure yang sering dibelikan oleh bapak, tampaknya punya kesan mendalam untuknya. Dia selalu merasa dirinya harus jadi Tanguy. Karakter pilok pesawat tempur Perancis yang keren dan jagoan. Tentu saja saya keberatan kalau dia nyuruh, “Kamu jadi Laverdure-nya, Ben!”. “Gak mau ah, masa cuman jadi side kick.  Lagian ngapain sih orang mau jadi pilot”, kalo menurut saya mah.

    Ibu tuh orangnya beda banget sama kakak saya. Ibu sampai sekarang pun tidak berani nyeberang jalan raya sendirian. Ibu, dari zaman muda sampai sekarang, emang kalau nyeberang jalan raya, harus ada yang bantuin. Ibu saya memang sepenakut itu. Jadi saya bisa ikut merasakan ketidaktenangan di dalam diri ibu saat itu –lebih dari tiga puluh tahun lampau.

    Di kepala ibu, pasti yang terbayang apa yang terjadi kalau pesawatnya rusak di langit, apa yang terjadi jika pesawat terbangnya masuk ke dalam awan raksasa cumulunimbus, apa yang terjadi kalau pesawatnya tertiup angin besar, dan segala macam kekhawatiran khas orang tua –seperti bagaimana caranya bayar sekolah penerbang yang ratusan juta rupiah?

    On the contrary, anak-anaknya cenderung suka tantangan. Entah dari mana kami dapat gen itu, tapi yang jelas saya dan kakak saya senang mencoba hal-hal baru. Kalau dipikir-pikir bapak kami pun punya pembawaan tenang bagai kolam renang di pagi hari. Jangan-jangan, salah satu kakek kita adalah seorang daredevil pada zamannya.

    Khusus kakak saya, pilihan hobinya agak aneh. Ketika saya lebih suka menggambar dan belajar bela diri Jiu Jitsu seperti orang normal – eh, normal gak sih? – Kakak saya memilih panjat dinding dan memelihara ular sanca di rumah. Pernah merasakan mengerjakan PR matematika di atas karpet, tahu-tahu ada ular sanca melata di atas kertas coret-coretan?Kaget tau!

    Itulah mereka; ibu dan anak yang beda pembawaan sehingga jelas beda cita-citanya.

    Tapi ibu itu orangnya fair dan supportif. Di luar ketidaksetujuannya –atau lebih tepat dibilang ‘ketakutannya’– Ibu tetap mempersiapkan kakak sebagai seorang calon pilot kecil. Dia tidak boleh lupa sikat gigi setiap pagi dan malam hari, dia selalu di-support untuk bergabung dengan tim olahraga, dan tetap dibelikan buku Tanguy and Laverdure –sebagai inspirasi.

    Padahal saya tahu sekali, kalau ketemu sama teman-teman dan saudaranya, dia sering mencurahkan kekhawatirannya atas pilihan cita-cita kakak. Uwak dan bibi saya sesekali berusaha menghibur ibu, “Gak apa-apa. Itu kan cita-cita anak kecil. Nanti juga berubah. MUNGKIN nanti dia mau jadi insinyur atau dokter.”

    Masalahnya, MUNGKIN itu tidak pernah kejadian. Si Tanguy tetap ingin jadi pilot. Karena bakat lainnya pun emang sepertinya tidak tumbuh. Sebelum sekolah pilot, dia pernah ‘ngisi waktu’ di sekolah akunting. Pada saat itulah kelihatan sekali bahwa dia gak ada bakat jadi akuntan. Sekolah akunting kok nilai akuntingnya gak bisa lebih dari empat? …. Hahahaha … ya gitu deh, bakat is bakat. Either you have it or you don’t.

    Btw, kalau bakat itu mengikuti pepatah ‘either you have it or you don’t’. Kalau takdir, akan mengikuti pepatah ‘what will be will be’. Perihal kekhawatiran ibu (dan bapak) mengenai biaya sekolah pilot yang tinggi, ternyata pecah dengan sendirinya sejalan waktu dan persiapan kakak saya. Setelah perjuangan yang lumayan panjang dan keras yang didampingi oleh ibu, singkat kata, dia dapat beasiswa dan kontrak kerja dari salah satu maskapai penerbangan BUMN sebesar setengah milyar. Beres lah masalah biaya sekolah yang mahal itu! Ibu dan bapak cuman nyiapin anaknya, baju dingin, koper dan kacamata pilot –lalu nganter ke Bandara Soekarno Hatta. Selebihnya, perjalanan dia ke New Zealand dan semua biaya sekolah di sana ditanggung oleh salah satu maskapai BUMN.

    Di buku komiknya, karekter Tanguy memang tidak pernah digambarkan sebagai seorang yang jago ilmu-ilmu mentereng, tapi jelas dia jagoan terbang dan dogfight. Ternyata di kehidupan nyata, kakak saya yang cuman C-Class student di sekolah akunting, mewujud menjadi seorang A-Class student di sekolah pilot. Dia lulus sebagai Top Accademic dan Top Two Best Flyers. Wah! Kok bisa? Mungkin jawabannya kembali ke ‘bakat is bakat, either you have it or you don’t!’ Dia pengen banget jadi pilot, dia sudah siapkan 100% dirinya untuk jadi pilot –dan ibunya, sudah 100% ikhlas.

    Sebenarnya, selama kakak saya sekolah penerbang, ibu sering curhat pada saya tentang kekhawatirannya. Ibu rupanya benar-benar khawatir akan ada hal yang buruk terjadi selama kakak saya belajar di sekolah penerbang. Di saat yang sama, ada satu hal yang saya kagumi dari ibu, yaitu waktu yang dia habiskan untuk mendoakan anaknya. Sesudah sholat isya, saya biasa melihat ibu saya berdoa panjaaaaang banget. Saya sempat nanya, “Mah, mamah nge-doain apa aja sih? Kok panjang banget.” Dia jawab, “Ngedoain kamu sama kakak kamu.” Dasar iseng, saya pun nanya lagi, “Panjangan mana doain saya atau Arry?”. Di jawab pendek, “Kakak kamu. Soalnya dia lebih nakal!”. Hahaha… saya gak tau harus tersanjung atau sedih ngedenger jawaban bercanda ibu.

    Menjadi seorang ibu memang kayaknya tidak mudah. Apalagi kalau anaknya laki-laki semua seperti ibu saya. Kebanyakan ibu dikaruniai perasaan yang halus, sementara anak laki-lakinya punya kecenderungan terlalu berani dengan ide dan cita-citanya. Kontras!

    Beberapa tahun kemudian, Ibu saya dibuat kaget lagi ketika giliran saya yang kasih surprise. “Mah, Benben mau mengundurkan diri dari pekerjaan. Benben mau mencoba jadi pengusaha.” Ibu saya kontan bertanya, “Loh kenapa? Bukannya pekerjaan kamu sudah bagus?”

    Pengalaman saya sih, sulit sekali untuk menjelaskan cita-cita diri saya untuk jadi pengusaha kepada seorang ibu yang latar belakangnya adalah seorang Pegawai Negeri Sipil. Tidak mudah menjelaskan bahwa yang saya kejar dalam hidup bukanlah ‘keamanan’ –seperti yang dikejar oleh kebanyakan ‘PNS’ di jaman ibu. Dan sulit juga menggambarkan pada ibu bahwa; menjadi pengusaha itu bukan otomatis menjadi tokoh antagonis yang kerjanya mengkesploitasi buruh dan sumber daya. Tujuan jadi pengusaha itu sama saja seperti tujuan memilih profesi lain: berusaha berbuat kebaikan dan agar punya manfaat. Membuat ibu mengerti itu adalah tantangan tersendiri.

    Tapi memang, what will be will be. Tidak sengaja ketika saya sedang jalan-jalan di toko buku, saya menemukan sebuah buku yang menceritakan Nabi Muhammad sebagai seorang saudagar. Triiiing! Saya beli dan saya jadikan hadiah untuk ibu. Kebetulan pada saat itu ibu sedang getol-getolnya ikut pengajian, baru mulai menggunakan hijab dan mendalami agama. Buku ini bisa jadi tools bridging antara pikiran saya dan pikiran ibu.

    Seminggu sesudah saya hadiahi buku tsb, dia menelepon, “Ben, bukunya bagus ya. Mamah baru sadar bahwa Nabi kita itu pengusaha hebat, ya. Ternyata positif atau negatifnya bisnis itu tergantung dari niatnya. Omat (ingat baik-baik, –sundanese), kamu jadi pengusaha yang baik ya. Mamah do’akan sukses.”

    Alhamdulillah, ibu sudah ikhlas. Ridho ibu itu mahal dan berharga untuk modal saya di awal.

    Hidup berjalan, waktu terbang di dunia yang hiruk pikuk penuh intrik ini. Karir saya dan kakak, tidak bisa dikatakan mudah. Kami berdua menghadapi masalah masing-masing di lapangan pekerjaan masing-masing. Kalau orang bule bilang life is a roller coaster. Bayangkan saja naik roller coaster selama 20 tahun  –segila itu lah up and down meniti karir.

    Kami sadar bahwa mungkin hidup tetap akan menguji kami, … but well, sudah ada banyak hal yang harus disyukuri. Si Tanguy sekarang menjadi salah satu direktur dari anak perusahaan maskapai BUMN yang dulu membiayai dia sekolah. Saya tetap tidak mau jadi Laverdure. Saya memilih menjadi ayah, ibu, teman dan ‘mandor’ dari hampir 50 pegawai saya di Torch.id.

    ——

    Bulan lalu ibu tersayang, yang sekarang sudah mulai terhinggap penyakit lupa, ngajak ngobrol di meja makan. Dia bilang, “Hebat yah anak-anak mamah. Waktu SMA-nya nakal-nakal. Tapi sekarang udah pada jadi direktur.”

    Sambil ngetik ini mata saya berkaca-kaca. Seikhlas itukah dia? Sampai-sampai dia bilang bahwa anak-anaknya lah yang hebat-hebat.

    Apakah dia lupa, peran utama dia di sana? 

  • Nasihat Bapak Kos, “Jangan Salah Pilih Istri dan Pekerjaan.” – 1996 

    Bapak kos saya pernah memberi nasihat singkat pada suatu malam di tahun 1996.
    Katanya…
    “Ben, bersabarlah. Jangan sampai salah memilih dua hal ini dalam hidup kamu. Satu, pilih pekerjaan yang baik. Dua, pilih istri yang baik. Karena pekerjaan jadi nyaman karena istri yang baik. Istri pun akan nyaman karena pekerjaan yang baik. Insya Allah hidup kamu akan baik-baik.”
    Dua puluh tahun lebih saya lewati hidup sejak masa kuliah di rumah kos dulu, sekarang saya punya nasihat untuk teman-teman yang sedang mencari pekerjaan dan pasangan hidup….
    “Bro, bersabarlah. Jangan sampai salah memilih dua hal ini dalam hidup kamu. Satu, pilih pekerjaan yang baik. Dua, pilih istri yang baik. Karena pekerjaan jadi nyaman karena istri yang baik. Istri pun akan nyaman karena pekerjaan yang baik. Insya Allah hidup kamu akan baik-baik.”

  • Antara Ikhtiar, Tawakal dan Setya Novanto

    Belakangan saya suka sengaja checking-checking akun pengajian Pemuda Hijrah-nya ustadz Hanan Attaki di Instagram. Lumayan, sambil nyetir mobil pulang ke rumah, kalo kebetulan ustadz Hanan sedang live, saya suka pindahkan channel dari acara ‘Sore Bara-Harsya’ di Delta FM –ke instagram stories Ustadz Hanan.

    Topik sore itu menarik, membahas sebuah hal yang dulu saya pikir kontradiktif. Masalah ikhtiar sambil tawakal. Wajar dong, otak saya yang straigh forward agak sulit menerima dua konsep yang (rasanya) bertolak belakang ini.

    Ikhtiar pada dasarnya adalah konsep islam dalam cara berpikir dan mengatasi permasalahan. Allah memerintahkan hamba-Nya untuk berikhtiar dan melarang manusia untuk berputus asa. Kalau kita mengaku beriman, maka kita juga harus meyakini bahwa rahmat Allah ada di depan menunggu kita. That’s why there’s no quitting for a muslim.

    Sementara tawakal adalah sebuah sikap untuk bersandar dan berserah diri pada Allah. Lalu bagaimana caranya berikhtiar sekuat tenaga —sambil di saat yang sama— menyerahkan apapun yang terjadi kepada takdir Allah?

    Kenapa enggak ikhtiar aja dulu. Kalau gagal, baru tawakal? 

    Jujur, hal ini terasa bertentangan bagi saya, sampai Ustadz Hanan Attaki mengenalkan saya pada diri saya sendiri, melalui instagram.

    Katanya, “Ikhtiar itu amalnya seluruh badan kita. Ketika kita ingin mencapai sesuatu; tangan, kaki, mata, mulut, otak, jantung, dan semua organ tubuh kita harus sejalan kearah sana.”
    “Sementara, tawakal itu amalnya hati. Hati (heart, bukan liver) tetap harus terkoneksi tanpa putus kepada Allah SWT -Sang Penulis Takdir- siap menerima apapun yang akan terjadi.

    Jadi ada dua bagian diri kita yang harus menjalankan fungsinya masing-masing: raga dan hatiPenting banget juga agar kerjanya tidak tertukar. Jangan sampai badan melakukan kerja hati, atau sebaliknya hati melakukan kerja badan.

    Karena badan yang terlalu tawakal artinya pemalesan.
    Hati yang terlalu ikhtiar artinya baper.


    Perkataan Ustadz Hanan membuat saya berpikir lebih dalam. Saya gak nyangka bahwa saya selama ini tidak menyadari hal simpel itu; bahwa badan kita -termasuk otak- sebenernya hanya kendaraan duniawi kita untuk menjalankan misi kita di dunia.
    Bahwa sebenarnya supir kendaraan tersebut, setiap saat selalu (harus) terkoneksi dengan penciptanya melalui hati. Itu sebabnya hati itu selalu ghaib, tapi setiap saat selalu membisikkan guidence pada kita –yang sering kita sebut sebagai kata hati.

    Oh … mungkin itu sebabnya orang-orang yang selalu terkoneksi dengan Tuhannya, seakan-akan, lebih mudah melihat jalan terbaik yang harus ditempuhnya. Komunikasi yang dia bina dengan Allah SWT lancar. Dia bisa mendengar “suara Tuhan” dengan lebih jelas.

    Tiba-tiba saya teringat ketua dpr yang terhormat (sengaja pakai huruf kecil. sentimen!). Bukannya kangen sama dia, tapi saya tidak bisa membayangkan orang yang hatinya berperang dengan badannya seperti itu.

    Jika badan manusia terhubung dengan penciptanya melalui hati, sama seperti hp android saya terkoneksi dengan google melalui internet. Maka, apa jadinya badan manusia yang hatinya tidak mau berkomunikasi dengan penciptanya?

    Kalau HP yang tidak pernah diupdate aja lama-kelamaan makin mudah di-hack, rawan terserang virus, nge-hang, dsb. Lalu apa kabar badan Setya Novanto yang tampaknya udah memutuskan komunikasinya dengan hatinya sendiri? Berkelahi sama Tuhannya sendiri?

    Saya kasihan sama dia. Bahkan untuk sebuah DPR yang tidak produktif seperti di Indonesia, gak mungkin bapak ketua itu kerjanya santai. Pasti pulangnya malam terus!

    Dan walau saya yakin sakitnya dia kemarin memang di-pas-pas-in dengan jadwal panggilan KPK.
    Tapi kok saya rasanya yakin juga bahwa badannya dia sedang runtuh pelan-pelan.

    Mudah-mudahan pak ketua segera sadar -segera insyaf. Sebelum sakit hati.

     

  • Saudara Se-bangsa tidak Se-mata

    Belum pernah saya ketemu dokter sebaik dia.

    Kejadiannya sekitar tiga tahun yang lalu. Awalnya Samsam, anak pertama saya, yang menjadi patient one, penderita radang mata yang disebabkan sejenis virus yang agak galak.

    Dari hari pertama konsultasi dengan dokter, dia sudah wanti-wanti. “Virus ini sangat menular. Semua orang di rumah tidak ada yang boleh ngucek-ngucek mata, ya. Jangan lupa sering-sering cuci tangan.”

    Dia juga bilang bahwa penyakit virus jenis ini akan sembuh sendiri. Katanya, “Umumnya SEBULAN akan sembuh, kok”. *sambil senyum

    Tapi yang namanya keluarga muda beranak tiga; berumur 10 tahun, 5 tahun dan bayi 10 bulan –mana bisa enggak ngucek-ngucek mata? Dalam hitungan beberapa minggu, kelima anggota keluarga kami semuanya terkena radang yang merusak kornea mata.

    Virus ini memang asli bandel, mereka menyebabkan kornea mata kami ‘lecek’ sehingga membuat mata pedih, gatal, silau dan buram. Setiap kali dokter mendapati kondisi kornea kami lecek/sobek, maka dia dengan telaten dan sabar akan ‘menguliti’ kornea tersebut untuk memberikan ruang agar kornea baru dapat tumbuh dengan mulus.

    Fanny, Samsam dan Sakti harus menjalani ‘operasi kecil’ ini beberapa kali. Saya salut pada dokternya. Dia melakukan semua tindakan ini dengan penuh kesabaran dan ketelitian tingkat tinggi. Sepanjang tindakan dia harus sambil menenangkan pasiennya dengan berbagai cara. Maklum tidak ada orang yang akan tahan matanya dikorek-korek sepanjang 10 menit.

    Saya ingat pak dokter pernah juga menenangkan saya, “Tuhan itu adil, Pak Ben. Biasanya anak yang masih bayi jarang matanya harus dikorek. Entah kenapa, ya? Tapi ya begitulah adanya. Arix sepertinya tidak akan perlu dikorek-korek seperti kakak-kakaknya.” Dan memang ternyata memang Arix tidak sekalipun harus dikorek matanya.

    Begitu juga saya. Walau pun saya juga akhirnya tertular, tapi Allah SWT memberi saya kekuatan extra untuk mengurus keluarga, dengan (entah bagaimana caranya) menjadikan saya bisa sembuh hanya dalam seminggu  –bukan sebulan. Alhamdulillah.

    Dokter berumur 40 tahunan ini memang kalem. Padahal saya bisa merasakan juga bahwa dia sebenarnya agak khawatir, terutama pada si bayi Arix. Saya sudah terbiasa di-whatsapp oleh dokter yang menanyakan apa kabar Bu Fanny, Samsam dan Sakti. “Matanya masih pedih tidak? Besok kontrol lagi ya.”

    Suatu pagi di hari minggu, dia bahkan sengaja me-WA saya,”Pak Ben, tolong foto matanya Arix dong. Saya hari ini tidak praktek tapi ingin lihat matanya Arix. Dari beberapa sisi ya. Biar kelihatan apakah kornea-nya mulus”. Saya yang gak terlalu terbiasa diperlakukan penuh sayang oleh dokter, jadi mikir, “Ini dokter apa bapak angkat sih? Perhatian amet.”

    Alhamdulillah dalam satu setengah bulan, semua anggota keluarga kami kembali sembuh seperti sediakala.

    Kami sempat menghadiahi pak dokter dan istrinya kaos terbaik buatan saya. Soalnya kata dia, istrinya senang sekali pakai t-shirt. Saat itu, kami merasa perlu membayar jasa baik pak dokter yang sudah kayak saudara kami di Rumah Sakit Santosa selama satu setengah bulan terakhir, dalam bentuk yang tidak hanya uang. Something more personal.

    Ehhhh …. berapa waktu yang lalu saya gak sengaja ketemu lagi sama orang baik lain.

    Yang ini umurnya sudah 71 tahun. Badannya terlihat sehat untuk orang berkepala tujuh, dan dari tongkrongan mobilnya terlihat dia orang sangat berada.

    Menariknya, dia bilang bahwa kunci agar sehat itu adalah tidak perlu banyak pikiran ketika tua. “Kita kan sudah banyak bekerja ketika muda. Capek sekali jaman dulu itu. Jaman seumuran Pak Ben.
    Sekarang sih lepaskan segala pikiran bisnis dan keuangan. Berikan kesempatan pada yang muda-muda. Banyak-banyak berbuat baik sajalah di umur segini sih”, ujar si bapak berapi-api.

    Dia kemudian curhat. Dia kesal karena ada anak-anaknya yang meninggal di desa.

    “Empat anak saya meninggal. Salah satunya gara-gara bapaknya menjual ginjal anaknya seharga lima juta demi biaya hidup. Haduuuh… Kemarin saya sudah nasehati semua orang di sana, kalau ada masalah keuangan jangan sampai menjual organ tubuh seperti itu. Ngobrol saja sama saya. Nanti sama-sama kita cari jalan keluarnya”, katanya.

    “Oh, jadi yang meninggal bukan anak bapak beneran?” tanya saya.
    “Ooo… bukan. Mereka anak-anak angkat saya di desa. Saya punya madrasah di desa. Muridnya 400 orang. Biaya sekolah dan makannya gratis. Saya yang bayarin. Kebetulan saya punya rejekinya.”
    “Madrasah ini maksudnya sekolah islam, Pak Ali?” korek saya.
    “Iya. Di desa kan banyak ustadz yang mampu mengajar. Saya sih cuman bantu biayain”
    “Punten, Pak Ali. Kalau Pak Ali ini muslim?” tanya saya penasaran. Soalnya dia sipit.
    “Bukan sih. Tapi boleh kan ya saya buat madrasah? Soalnya memang kata warga di sana, kebutuhan mereka adalah sekolah Islam, pak Ben”  …

    Saya mikiiiir panjaaaang ….

    Tidak ada orang yang minta lahir sebagai keturunan Cina di negeri Indonesia. Seperti juga tidak ada yang minta lahir sebagai keturunan Arab di negaranya Donald Trump. Jiwa seorang Dokter Abraham akan sama baiknya kalaupun dia lahir di dalam balutan kulit sawo matang seperti saya. Begitu juga mungkin dengan jiwa pak Ali.

    “Cina kok baik begini?”, sempat terlintas di pikiran saya. Sebenarnya itu pikiran sombong yang harus saya buang dari kepala. Kemampuan indera mata saya membedakan warna kulit dan bentuk mata ternyata bisa membuat saya terjebak pada sebuah pikiran merendahkan makhluk Allah SWT yang lain. Kadang karunia Allah SWT itu bisa jadi barokah -bisa jadi ujian.

    Yes, memang ada sebagian saudara-saudara suku Cina, yang kalau lagi dagang suka kebablasan. Saya pun pernah ngegedor rumah sebelah dan memarahi tetangga saya, yang kebetulan Cina –gara-gara dia bongkar muat galon air mineral dagangannya sampai lupa waktu. Sampai jam dua malam tiap hari. Bayangkan! Nyari uang kok gitu-gitu amet. Tapi ya ..kalau pun perlu, digedor aja! Ingatkan dia. Kasih tahu etika yang bener itu seperti apa. Jangan dimusuhin.

    Lagian di tahun lalu dan tahun ini, saya baru saja saya ditipu sama tiga orang. Warna kulit mereka? Ya sama aja sama kulit saya. Mata mereka? Lebih belo daripada mata saya.

    Kadang saya suka lupa:
    Datangnya hidayah, belum pernah dan tidak akan pernah, pilih-pilih luasan mata.
    Godaan Syetan, belum pernah dan tidak akan pernah, pilih-pilih warna kulit.

    Wallahu’alam bissawab.

  • Islam Mazhab Sosmed

    Pernah merasa bingung dengan hukum-hukum fiqh yang beredar di media sosial? Galau karena ustadz ini bilang hukumnya ‘begini’ di Fb, lalu besoknya ustadz lain bilang ‘begitu’ di YouTube? 

    Niat sholat harus pakai bahasa arab atau bahasa Indonesia saja?
    Waktu baca Al-Fatihah, ‘bismillah’-nya dibaca pelan-pelan, lantang atau gak dibaca sekalian?
    Benerkah hakim itu tidak boleh perempuan?
    Batal enggak wudhlu saya, kalau nyentuh tangan istri?
    —–

    Pernah? Galau seperti ini? ……… Saya pernah. *dan mungkin masih.

    Wajar dengan pendidikan saya yg hampir semua dihabiskan di sekolah negeri, saya tidak mendapatkan porsi pendidikan agama islam yang cukup. Plus, sebagai generasi yang dibesarkan orde baru pak Harto, memang ada jarak yang sengaja dibuat antara saya dan islam oleh penguasa saat itu.

    Dulu, mau aktif mencari tahu tentang agama sendiri agak susah. Karena seperti informasi lainnya di zaman itu, segala info harus disaring dulu sama pemerintah. Dibuat baku dulu, baru boleh dikonsumsi rakyat.

    Makanya saya sempat berpikir, jangan-jangan dulu saya menganut Mazhab Orde Baru —bukan Syafiiyah. *Wong saya emang gak pernah baca langsung kitab-kitab karya Imam Syafii, toh.

    Tapi zaman itu sudah lewat. Pak Harto sudah beristirahat sekarang. Era reformasi telah membuka banyak kesempatan untuk saya, termasuk kesempatan untuk lebih dekat dengan agama.

    Sayangnya, lahirnya era reformasi yang pas banget dengan ‘masa akil baliq’-nya media sosial‘ di Indonesia, gak terlalu membantu juga untuk saya yang ingin bener-bener ‘belajar agama’.

    Belajar agama via media sosial ini seperti belajar agama pada guru yang serba tahu –tapi tidak mengerti tujuan pendidikan.

    Hasilnya adalah makhluk-makhluk yang merasa pintar, tapi kurang manusiawi –ada yang cenderung hewani. *Jangan-jangan ada yang nabati 🙂

    Kurikulum dan silabus pendidikan agama di media sosial juga berantakan. Super cakadut! (*karena memang tidak ada kurikulum dan silabusnya).

    Materi fiqh (ilmu yang menerangkan tentang hukum-hukum syara’ yang berkenaan dengan amal perbuatan manusia) diberi di awal, karena peminat kelas fiqh sepertinya paling banyak. Beda dengan ahli-ahli fiqh jaman dulu yang harus hafal ribuan hadist sebelum menyusun kitab. Santri-santri medsos, paling rajin berbagi tapi jarang mengkaji hadist-hadist yang mereka dengar. Hasilnya saya, salah satu (mantan) santrinya, malah jadi bingung. Mau takbiratul ihram aja jadi ragu; ‘ngangkat tangannya ketinggian enggak ya?’
    Takut salah dan malu sama teman di sebelah kanan dan kiri –yang juga santri medsos.

    Kelas sirah (sejarah) Nabi sepertinya juga kurang banyak peminat. Kelihatan dari prilaku santri-santrinya yang makin tidak mirip dengan Nabi: marahan, takfiri, sumbu pendek, berkata kasar, senang gosip dan susah memberi maaf. Belajar sejarah Rasulullah Saw., tapi kemudian berkarakter seperti Abu Jahal. Aneh!

    Kelas ‘perbandingan mazhab’ kayaknya paling sepi. Padahal untuk ukuran santri yang rajin dakwah soal fiqh, harusnya sudah lulus kelas perbandingan Mazhab dengan nilai A+. Produk akhirnya … ya kayak saya dulu, bingung sendiri karena tidak familiar dengan manhaj (metode) setiap mazhab, biografi para pendiri Mazhab, sejarah perkembangan mazhab-mazhab ini, dan tidak punya wawasan mengenai dinamika beragama dan ber-mazhab dalam sejarah umat muslim yang sudah lebih dari 1000 tahun umurnya.

    Padahal kalau kita tahu betapa para pendiri Mazhab ini sejatinya saling belajar antara mereka, dan betapa rendah hatinya mereka-mereka ini –timeline facebook pasti akan adeeeem.

    Perlukah ber-mazhab? Bolehkah mengambil pendapat beberapa mazhab untuk masalah yang berbeda? Atau mau sendiri saja mentafsirkan hukum-hukum agama?

    Saya bahkan belum berani menjawab ini -bahkan untuk keperluan diri sendiri pun. Tapi saya jelas menganggap sangat berbahaya jika mempelajari agama mengandalkan pendidikan agama tanpa kurikulum -di sosial media saja. Asal ada ilmu baru, tanpa cek dan ricek, langsung, “woow … share! share! share!”.

    Baca! Baca! Baca! Ada banyak buku tebal yang kita harus baca agar menjadi muslim yang bertanggung jawab. Berhenti beragama mengandalkan posting orang dan pesan yang di-share di WA grup. Biasakan menjadikan posting dan share di media sosial sebagai pemicu keingintahuan, bukan standar kebenaran.
    Islam tidak diturunkan untuk dipotong-potong ajarannya di media sosial.

    ——
    “Sesungguhnya berdusta atas (nama)ku tidak sama dengan berdusta atas (nama) orang lain, barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaknya dia menempati tempat duduknya di neraka”

    HR al-Bukhari (no. 1229) dan Muslim (no. 4).


    ——-

  • Korupsi Sesudah dan Sebelum Kemerdekaan. Kok sama saja? 

    Agak telat sebenarnya untuk menulis tentang kemerdekaan. Tapi gatel juga setelah melihat sebuah tulisan lama ini. 

    —–

    “Sekarang mengenai kemerdekaan orang Indonesia. Perjuangan kemerdekaan ini adalah  perjuangan kelas atasan yang mengambang, bukan perjuangan rakyat yang sebenarnya.

    Rakyat tidak akan beroleh giliran untuk waktu yang lama lagi …… Kalaupun nanti di sini nantinya ada pemerintahan sendiri, tak satu pun akan berubah bagi orang kecil.

    Bakal ada nantinya oligarki pribumi -dan sangat boleh jadi oligarki orang malas -dan buruh biasa (koeli) akan buruk nasibnya, sama saja seperti sekarang. Si Inlander tidak punya belas kasihan terhadap siapa pun, termasuk pada bangsanya sendiri. (ditulis oleh Willem Walraven, Wartawan Hindia Belanda, pada 19 Januari 1940)

    Walraven ini adalah orang Belanda yang menikah dengan seorang wanita Sunda bernama Itih, waktu dia jadi tentara KNIL di Cimahi. Kemudian dia lama tinggal di Malang karena dia hanya merasa cocok tinggal di daerah yang dingin.

    Selama menjadi wartawan di Hindia Belanda, dia disebut sebagai orang dengan ‘split personality’ -karena sering nyerang pihak-pihak yang berbeda ( tak pandang bulu pihak Kolonial ataupun Nasionalis, atau siapa pun) dengan tulisannya.

    Saya akui bahwa pendiri bangsa ini adalah orang-orang idealis yang telah rela mengorbankan jiwa dan raganya, tapi saya juga mengakui bahwa terlalu banyak orang lain yang membonceng perjuangan ini untuk kepentingan pribadinya.

    Korupsi itu adalah hal jamak yang sudah dilakukan sejak tanah ini masih dalam cengkraman VOC. Lupa? Nah, reminder nih, VOC itu bangkrutnya karena korupsi mereka sendiri, baru sesudah itu kerajaan Belanda mengambil alih ‘pengelolaan’ Hindia Belanda. Bangsa ini sempat menjadi ‘double victim‘, sudahlah sumber dayanya dibeli di bawah todongan senjata, lalu keuntungannya dikorupsi pula.

    Menariknya dulu AD pun turun tangan untuk memberantas korupsi, hal ini dilakukan karena negara masih dalam darurat. Cuplikan ini saya ambil dari portal apakabar:

    “JAKARTA – TNI-AD adalah pelopor gerakan pemberantasan korupsi di
    Indonesia. Exercise ini diawali oleh Panglima Siliwangi ketika di
    bulan Agustus 1956 menangkap seorang menteri dan seorang mantan
    menteri atas dugaan korupsi.

    Di tahun 1957, walau pun negara sedang
    menghadapi krisis politik, konstitusional dan pembangkangan oleh
    daerah-daerah, KSAD selaku pelaksana Penguasa Perang Pusat
    menerbitkan peraturan demi peraturan untuk mencegah korupsi atau
    menjerat koruptor.

    Peraturan-peraturan tentang pemeriksaan kekayaan pribadi, pengusutan dan penuntutan itu — karena pasal pasal KUHP tak cukup ampuh menindak korupsi — kemudian dikuatkan menjadi Perpu 24/1960. KSAD Jenderal
    Nasution yang juga adalah Menteri Keamanan Nasional (MKN)
    memimpin “Operasi Budhi”.

    Sasarannya justru perwira perwira AD yang sedang memimpin perusahaan perusahaan negara dan warlordism di daerah-daerah.

    Gerakan Nasution ini memang bermula untuk menjaga citra AD
    yang baru saja diterima menjadi junior partner dalam pemerintahan.
    Panglima Siliwangi (Tentara dan Teritorium Jawa Barat yang
    membawahkan Ibu Kota Jakarta), Kolonel Kawilarang, 12 Agustus 1956
    menangkap mantan Menteri Penerangan Syamsudin Sutan Makmur. Keesokan
    harinya, Roeslan Abdulgani, mantan Sekjen Kementerian Penerangan yang
    sudah diangkat menjadi Menteri Luar Negeri, juga ditangkap. Keduanya
    diduga menerima uang sogok dari seorang pengusaha untuk mendapatkan
    order cetak surat suara Pemilu 1955. ”

    Nah kalau ini saya ambil dari antikorupsi.org http://antikorupsi.org/indo/content/view/11117/2/ :

    Perang melawan korupsi gencar dilakukan pada masa demokrasi liberal. Salah satu yang diadili adalah Menteri Kehakiman Djodi Gondokusumo.

    Pesta itu berlangsung meriah. Diselenggarakan di kediaman Wakil Presiden Mohamad Hatta, Jakarta, Jumat, 12 Agustus 1955, keriaan itu digelar untuk menyambut kabinet baru Perdana Menteri Burhanuddin Harahap. Semua menteri baru dan lama hadir dalam resepsi itu.

    Tapi seorang tak datang: Mr Djodi Gondokusumo, Menteri Kehakiman pada kabinet sebelumnya. Dalam pesta itu, Djodi hanya mengirim karangan bunga ucapan selamat. Djodi memang tidak bisa hadir malam itu. Beberapa jam sebelumnya, sekitar pukul empat seperempat, Ketua Umum Partai Rakyat Nasional (PRN)—pecahan Partai Nasional Indonesia—itu dijemput truk Powerwagon berlambang Korps Polisi Militer di rumahnya, Jalan Teuku Umar 44, Menteng, Jakarta Pusat.

    Djodi ditangkap dengan tuduhan korupsi. Dalam penangkapan itu Djodi mengenakan jas wol dan berdasi. Kejaksaan Agung bergerak cepat. Beberapa jam setelah penangkapan itu, kejaksaan menggeledah sebuah rumah di Jalan Kenari 22, Jakarta, yang sering dikunjungi Djodi. Dalam brankas di rumah itu, ditemukan uang kertas Rp 135 ribu—jumlah yang tak sedikit kala itu.

    Keesokan harinya, penangkapan dilanjutkan. Satu demi satu, kaki-tangan Djodi di kantor Jawatan Imigrasi, Partai Rakyat Nasional, dan Kementerian Kehakiman dicokok jaksa. Tak kurang dari sepuluh orang ditangkap di hari kedua, termasuk dua jaksa yang bekerja di Biro Pengawasan Orang Asing Jawatan Imigrasi.

    Dua pekan kemudian, rekening bank Djodi dibekukan. ”Tersangka sudah lama kami ikuti,” kata Jaksa Agung Soeprapto dalam konferensi pers sehari setelah penangkapan. Dia membantah kasus ini bermuatan politis. Penangkapan baru bisa dilakukan beberapa jam setelah pelantikan kabinet baru karena, ”Secara psikologis, kurang tepat jika penangkapan dilakukan pada saat dia masih menteri,” kata Soeprapto. ”Ini bukan soal berani atau tidak.”

    Jadi kita harus menerima fakta ini, nampaknya korupsi memang sudah marak sejak dulu, dan dari dulu pula sudah dilakukan berjamaah.

    Yang tidak boleh itu; menerima bahwa korupsi harus jadi masa depan anak-anak kita –apalagi masa depan mereka dalam berjamaah. Amit-amit. Naudzubillah! 

  • WELCOME BACK TO Ciwalk! 

    Pertama kali datang ke Cihampelas Walk, saya masih pengusaha muda culun (dan miskin) yang ngotot ingin punya sebuah toko di mall. Berbekal uang tidak seberapa dan berton-ton ide, kami berusaha membuktikan bahwa ‘a good design is a good business’.

    Sebuah toko kecil non-permanen membuka jalan kita di sana. Toko kecil itu, bersamaan dengan waktu, berkembang menjadi salah satu ikon Cihampelas Walk. Banyak pelajaran dan rejeki kami diturunkan Allah melewati mall yang juga ikon bagi Kota Bandung ini.

    Tapi bukan kehidupan dunia, kalau tidak ada skenario naik dan turun yang kadang meremas-remas hati. Bisnis kaos oleh-oleh di Bandung telah berubah. Wisatawan yang dulu mencari ‘kaos keren’, kemudian hari dimanjakan oleh ‘kaos murah’ di pinggiran jalan Cihampelas. Kami tidak bisa mengimbanginya. Akhirnya kami harus menutup toko Mahanagari di sana.

    Seorang guru saya, Pak Gilarsi Setijono, sempat berkata pada saya bahwa ini adalah saat yang tepat untuk ‘move on’. Dia berkata, “Dengarkan saya. Kemampuan kamu melepas nostalgia kesuksesan pertama kamu, akan menjadi milestone kamu untuk mencapai kesuksesan yang lebih besar. Mari belajar menjadi lebih besar. Mari masuk ke liga yang lebih besar. Nanti akan ada saatnya, ketika kamu dapat melakukan lebih banyak hal yang kamu ingin lakukan –dengan kemampuan diri kamu yang lebih hebat dari sebelumnya.” 

    Bismillahirahmanirahim. Tiga tahun meng-upgrade diri dan tim bersama keluarga, sahabat dan rekan di Shafira Corporation, akhirnya membawa kami untuk kembali menapak jalan rejeki di Cihampelas Walk. Kami akan kembali dengan membawa bendera offline www.torch.id yang sebenarnya sudah dua tahun menemani konsumen di berbagai sudut Indonesia.

    Doa’kan semoga Torch terus menjadi jalan rejeki yang barokah bagi kita semua. Sampai bertemu di Cihampelas Walk pertengahan bulan Agustus 2017. Semangat!

  • Kata mereka, Walikota Kita Habis Kontrakan-nya

    Kita ngumpul yuk! Hari minggu depan tanggal 23 Juli. Sambil ngobrol-ngobrol tentang Bandung. Soalnya telinga saya agak panas nih. Salah seorang kawan berbisik, “Banyak oknum-oknum nakal yang selama ini tiarap,  berbisik-bisik bahwa Pak Wali sebentar lagi bakal habis kontrakan-nya. Nanti juga yang punya rumah bakal balik lagi.

    Mungkin orang-orang ini adalah pihak paling bahagia dengan kenyataan bahwa Kang Emil memang berencana akan meninggalkan Pendopo. Entah ke Gedung Sate atau kembali ke kantornya di Cigadung.

    Saya? Dua bulan yang lalu saya termasuk orang  yang sangat kecewa mendengar keputusan Kang Emil. Apalagi Kang Emil mengatakan hal ini dengan sangat lugas, tanpa ditutup-tutupi, langsung ke telinga kami -para relawan. * Jleb-jleb-jleb. Salah satu teman yang juga mendengar langsung, sempat curhat, “Rasanya seperti diputusin pacar di tengah jalan”.

    Sebelumnya, saya berpikir bahwa skenario terbaik bagi Bandung adalah skenario di mana walikota yang sekarang akan meneruskan kepemimpinannya selama dua periode –dengan benar-benar memprioritaskan perbaikan birokrasi di periode dua. Tapi kenyataannya tidak. Skenario itu bubar karena sang pemeran utama tidak mau lagi mengambil slot pemeran utama di film yang sama. Gara-gara hal ini, selama dua bulan lebih, saya tidak mau mendengar polatak-politik. Politik sucks, pikir saya.

    Yang saya lupa adalah —politik dari jaman dulunya memang sudah sucks; apalagi bagi keluarga yang rumahnya masih kebanjiran, bagi seorang bapak muda yang masih belum juga punya pekerjaan, bagi pengusaha kecil yang dipersulit izin usahanya, bagi pegawai negeri jujur yang terjebak dalam sistem yang korup, dan banyak orang Bandung lainnya.

    Kalau begini, jadi malu sendiri, masih pantaskah saya, warga golongan menengah yang masih dikaruniai makan kenyang, tempat tinggal nyaman, teman yang banyak, waktu yang cukup dan pikiran yang normal –bilang sucks-sucks-sucks –lalu menutup mata?

    ———-

    Tidak lama sesudah mengantar Kang Emil ke kursi Walikota, saya –seperti seorang tentara yang baik, balik kanan dan kembali ke barak. Kalau ada yang meminta bantuan dalam proyek-proyek kota ini, saya lebih banyak menolak.

    Tapi ternyata keputusan kembali ke barak, bukan cerminan keputusan yang 100% bertanggung jawab. Dalam analogi ‘si akang dan birokrasinya’ –yang mirip ‘pembalap formula narik angkot keor’, saya malah memutuskan untuk nonton di tribun. Padahal sang pembalap membutuhkan semua ahli yang ada untuk membantu di pit stop. Mengisi bahan bakar, mengganti ban yang gundul, penyetelan mekanik, sampai memperbaiki mesin.

    Tanpa kru pit stop, nothing gets far.

    ———

    Sekarang rasanya mulai tergambar sesuatu yang ‘luput’ dari perjuangan di tahun 2013: mendudukan warga terbaik sebagai Walikota Bandung ternyata tidak cukup. Tanpa membantu walikota untuk memperbaiki sistem dan menggerakan birokrasi kota, sama saja dengan menyuruh dia balap grand prix tanpa kru pit stop.

    Masalahnya, Bandung tampak tidak banyak belajar dari pengalaman ini. Belakangan, kita tetap dibuat terperangah melihat begitu banyaknya baligo dan spanduk bakal calon walikota Bandung yang sedang mengukur popularitas di pinggiran jalan. Seakan-akan wajah ganteng mereka dapat memecahkan masalah Kota Bandung. *yaa itu juga kalo mukanya ganteng

    Tahukah bahwa ternyata kemenangan pilkada, sebenarnya bukan gambaran keberhasilan kepemimpinan mereka di masa depan?

    Yang jauh lebih penting, tahukah mereka cara menggerakkan aparatur pemerintahannya untuk bekerja melayani publik secara profesional? <== dengan mengatakan ini, bukan berarti saya berpendapat bahwa calon walikota terbaik adalah calon dari birokrat. Karena walau berasal dari kalangan birokrasi, sementara portfolio birokrasi terbaik yang dia bina adalah birokrasi yang ada sekarang …. ya manggaa … sekolah dulu lagi, kali’.

    Kalau mau jujur, kekurangan pilkada dengan sistem pemilihan langsung di antaranya adalah terlalu intens-nya budaya kompetisi yang tercipta di antara para calon pada masa kampanye –yang tidak nyambung dengan budaya evaluasi, analisa, koreksi di dalam birokrasi.

    Lihat saja nanti, dalam debat calon walikota tahun depan, bakal banyak calon yang menyampaikan kritik pada walikota sebelumnya, tapi dirinya sendiri miskin pendapat dan solusi inovatif yang dapat diterapkan –untuk memperbaiki birokrasi.

    Padahal tanpa perbaikan birokrasi yang efektif, akan terbuang percuma inisiatif berbagai komunitas di Bandung yang jumlahnya sulit ditera. Sebagian besar inisiatif ini bisa jadi tidak akan terakomodasi, mangkrak, merayap bagai keor, atau -menunggu dipanggil ajal setelah pergantian kepemimpinan.

    ——————–

    Saya sudah putuskan bahwa diri saya tidak akan ada dalam tim balap ke Jawa Barat. Saya tidak punya hati meninggalkan mimpi Kota Bandung yang masih level Juara Harapan #eh. Dan rasanya saat ini saya juga tidak akan mengambil posisi bergabung dalam tim pemenangan calon-calon walikota selanjutnya. Belum saatnya lah. Kita cari tahu dulu siapa sebenarnya pemimpin selanjutnya yang layak untuk Kota Bandung.

    Saya salut pada teman-teman yang sudah bulat tekad mencalonkan diri sebagai bakal calon Walikota Bandung 2018-2023. May God be with you, guys. Jangan lupa baca bismilah dan resapkan arti kata-kata ‘dengan nama Allah’ itu ke dalam hati dan langkah teman-teman. Mohon maaf kalau saya juga belum bisa bergabung dalam tim teman-teman.

    Bukan tidak setia kawan. Tapi prediksi saya, selama 6 bulan ke depan akan muncul belasan tim sukses yang akan bekerja keras memenangkan kandidatnya masing-masing (on whatever it cost). Tapi saya tidak yakin akan ada cukup banyak orang yang meluangkan waktu untuk mendidik masyarakat mengenai proses demokrasi itu sendiri. Mengenai; apa itu pilkada, posisi mereka sebagai pemilih, seadil mungkin membuka profil-kapasitas-program para bakal calon, mengajak masyarakat berpikir dingin dan pandai dalam memutuskan pilihan, berusaha secara obyektif mempelajari kelemahan-kelemahan administrasi sebelumnya, mencari solusi-solusi bersama birokrasi –dan berusaha agar pemilihan walikota tahun depan tidak berubah menjadi bencana sosial.

    Bencana sosial? … Lur, kita belum lama melihat pilkada DKI kemarin. Luka yang ditimbulkan sebuah pilkada untuk 10 juta penduduk DKI itu, telah membuat luka parutan yang dalam pada diri 250 juta penduduk Indonesia. Sendi-sendi dan perekat bangsa ini kering dan nyeri. Bandung harus bisa membuktikan bahwa kita bukan obyek trik politik busuk mereka. Kita yang punya rumah ini! Koruptor dan politisi urakan lah yang kontrakan-nya sebentar lagi habis.

    Maukah hari minggu depan, tanggal 23 Juli 2017 –sambil ngupi-ngupi, bandrekan, ngemil awug, sambil bermaaf-maafan, –kita ngumpul berbicara tentang Bandung 2018?

    Kalau mau, silahkan ngacung di bawah ya, lur. Ada pendapat? silahkan tulis di bawah. Punya ide tempat di mana ngumpul yang enak? silahkan usulkan di bawah. Mau ngajak teman? silahkan di-tag temannya di bawah.

    Karena di Bandung hidup adalah udunan –bayar masing-masing, ya 😀

    ***blog ini ditulis sebagai sebuah status di Facebook dengan link https://www.facebook.com/ben.wirawan/posts/10155531666159776?comment_id=10155531936514776&notif_t=feed_comment&notif_id=1500198800781786