BANJIR BANDANG DI BANDUNG?

Mungkin karena rumah saya hanya satu kilometer dari BTC, jadi hari ini banyak teman yang nanya ke saya mengenai kejadian banjir parah yang mereka lihat siang kemarin di Bandung.

“Rumah aman, Ben?”. –Alhamdulillah rumah aman, broer. Tapi Bandung kayaknya kurang nih.

Saya kebetulan gak kena banjir, karena banjirnya mulai surut hanya dalam tempo satu jam-an. Macetnya? Ikut dong *nasip

Salah satu sungai kecil yang menenggelamkan Jalan Pasteur, memang melewati RW saya. Hanya sekitar 200 meter dari pagar rumah. Saya tahu sekali ganasnya sungai kecil ini di kala terjadi hujan besar di daerah Lembang. Air akan mengalir turun menghancurkan aspal jalan, dinding sungai, selokan, bahkan pagar beton rumah penduduk –erosi kelas tinggi.

Kejadian kemarin membuat saya membuka Google Maps untuk mencari tahu aliran sungai yang sangat deras ini.

 

 

Ternyata iya, sungai kecil di dekat rumah itu mengalir langsung dari arah Jalan Sukahaji, lalu ke arah rumah saya, Jalan Dangdeur, Jalan Babakan Jeruk IV, lalu (seharusnya) melewati bawah Jalan Pasteur, lalu mengarah ke PT Dirgantara Indonesia.

Lalu kenapa air tidak menyeberang lancar di samping BTC. Saya tidak tahu pasti. Tapi saya bisa nebak salah satu sebabnya adalah SAMPAH.

Sudah beratus-ratus kali saya menembus jalan-jalan yang dilalui sungai ini. Setiap kali sehabis banjir, pemandangan yang paling menyolok adalah sampah nyangkut di kanan kiri jalan dan tentu saja bergeletakan sepanjang jalan.

Pernah beberapa kali kami menemukan kasur dan sofa yang hanyut di selokan di samping Jalan Sukahaji. *cik atuh miceun runtah teh, broer. Spektakuler pisan.

Kalau mau fair, sebenarnya memang setelah pembersihan gorong-gorong di dekat BTC oleh Pemkot Bandung, saya jarang harus menerjang banjir di depan BTC. Setahun ke belakang Jalan Pasteur terasa aman.

Tapi kalau partisipasi terbesar warga terhadap kota masih dalam bentuk ‘sampah rumah tangga’ –mau dipasang gorong-gorong segede piring terbang pun -mampet mah mampet aja kalee.

Kemarin sempat juga ada yang memforward twit Pak Wali, yang mengatakan bahwa bisa jadi di bawah jalan Pasteur akan dibuat Tol Air. Seperti yang cukup sukses dibuat Pemkot di Gede Bage.

Well, solusi oke sih untuk wilayah Pasteur. Tapi masalah belum hilang untuk warga dekat pusat kota –Jalan Pagarsih.

Kenapa? Karena waktu saya cek di Google Maps, (paling tidak) tiga anak sungai dari utara Bandung, mengalir dan bergabung sebelum jalan Pagarsih. Lalu mengalir paralel, bersebelah dengan jalan Pagarsih. Dipisahkan pagar doang. Jadi kalau terjadi banjir bandang di sungai itu, jalan Pagarsih ikut berlaku seperti sungai.

Kok bisa? Sungai kok mengarah ke Pusat Kota? Yah .. sungai mah mengalir sesuai hukum alam saja, ke daerah yang lebih rendah. Daaaaan …. Kota Bandung duduk cantik di bawah gunung-gunung tinggi tu.

Kenapa juga para pendiri kota membuat pusat kota di sana?

Mungkin karena aliran air itu dulu masih sahabat kita.

Dulu, Pak Daendles yang kolonis, meminta agar kota ini didirikan di dekat sungai. Para Dalem Bandung jaman dulu juga sadar, bahwa pusat kota harus dekat dengan mata air dan aliran sungai. Tanpa air, bagaimana sebuah kota mau tumbuh?

Tapi toh mereka tidak bisa melihat masa depan. Mereka tidak tahu bahwa kota ini akan ‘sexy as hell’. Dangerously Beautiful 🙂

Kebetulan di era 50-60an, Bapak dan Ibu Mertua saya sempat tinggal di pusat kota. Bapak tinggal di Astana Anyar dan Ibu tinggal di sekitar Situ Aksan, deket banget sama Jalan Pagarsih.

Menurut bapak, dari tahun 1950an, sungai di pinggir Jalan Pagarsih itu airnya selalu naik mendekati permukaan jalan ketika terjadi hujan besar.

Tebakan saya, walau wilayah utara Bandung saat itu belum banyak bangunan, gejala penyakitnya sudah mulai muncul nih. Kenaikan permukaan air itu mungkin disebabkan oleh jalur air yang mulai dikotak-kotak dan terpotong-potong pembangunan daerah perdagangan dan pemukiman di barat alun-alun oleh pemerintah kolonial.

Ibu mertua saya juga bercerita bahwa di tahun 1960an, dia sudah biasa melewati banjir Pagarsih, ketika pulang dan pergi sekolah. Tentu saja banjir di kala itu tidak separah sekarang.

(Terjawab sudah. Itu sebabnya kenapa warga Pagarsih yang terlihat di video viral Youtube kemarin terlihat santai –sebagian malah ketawa-ketawa. Mereka sih sudah veteran. Lebih berpengalaman, rupanya)

Lima puluh tahun berlalu, menginjak tahun 2000an. Banjir pagarsih makin parah. Di tahun 2016, video sebuah Livina hanyut bak terseret tsunami jadi viral.

Se-Indonesia tak sabar untuk bergosip. Yes. Saatnya bergosip!

Masalah utamanya : Pembangunan Bandung utara yang gak jelas dan sampah warga yang menumpuk di dalam sungai, kayaknya bakal jadi sisipan cerita.

Seperti biasa, Bupati Bandung dan Bupati Bandung Barat akan diam seribu bahasa. Counterpart-nya, Walikota Bandung akan sibuk setengah mati, tapi tentu saja tidak mungkin dia bisa menyelesaikan sendiri.

Halo. Bisa bicara dengan Gubernur Jawa Barat?

Mau gini terus? Kayaknya tahun banjir 2045, banjir bandang di Bandung bakal bisa nyeret truk molen nih.

Para pemimpin, der atuh kalian teh diskusi bareng! Sepakati sebuah langkah. Lalu kasih tahu, bagaimana kami bisa membantu?

————–
re-posted from my facebook wall : https://www.facebook.com/ben.wirawan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s