Harga Sebuah Kesehatan

Sudah hampir tiga minggu sejak Iki harus masuk ICU karena infeksi bakteri di paru-parunya. Mudah-mudahan tadi malam adalah malam terakhir kita harus menginap di rumah sakit ini.

Belasan hari menginap di ruang tunggu ICU bersama keluarga-keluarga yang berjuang mendampingi bagian hidupnya yang sedang kritis, mengingatkan diri saya bahwa banyak hal yang kita kurang hargai dalam setiap detik kehidupan.

Sebuah zat bernama albumin, yang dalam keadaan sehat akan diproduksi tubuh secara alami. Rupanya adalah sebuah nikmat seharga dua juta per hari, jika kita harus membelinya dari kasir apotek.

God gives you for free.

Nafas, yang sampai tiga minggu yang lalu tidak pernah saya hitung seberapa sering saya hisap. Ternyata paling tidak bernilai 500 rupiah per menit, atau sekitar kurang lebih 25 rupiah per hisap, jika kita harus lakukan dengan bantuan mesin.

God never charge you a dime for it.

—-

Semoga kami masuk ke dalam keluarga-keluarga yang masih diberikan nikmat umur yang bermanfaat di dunia ini. Bisa pulang ke rumah dengan senyum dan perasaan bahagia di dalam hati.

Karena tidak sedikit, teman-teman kami, yang membayar sewa tempat tidur di sini sebagai tempat tidur terakhirnya di dunia.

Ternyata di ruang ICU, saya melihat sendiri bahwa ada banyak sebab dan alasan untuk check-out dari dunia ini. Tidak harus selalu berhubungan dengan umur yang tua, atau pun badan yang sehat.

Seorang kakek sehat berumur 86 tahun dari Indramayu, setelah empat hari di sini, akhirnya harus ‘pulang ke rumah selanjutnya’ akibat sebuah truk menyeruduk dari belakang ketika dia bersepeda.

Sementara takdir berbeda menjadi jalan bagi seorang kakek berumur 88 tahun yang tetap kembali pulang ke rumahnya di Bandung, lepas dari beberapa kali dia keluar masuk ruang ICU di sini.

Saya melihat sendiri kegigihan sepasang suami istri yang mendampingi bayi ke-3 nya yang lahir dengan kelainan jantung. Satu bulan di NICU, hanya untuk kemudian mengikhlaskan sebuah takdir bahwa –si kecil suatu saat akan menggandeng tangan ayah ibunya– tapi bukan di bumi ini.

Dunia ini memang bukan surga bagi pencari keadilan. Saya ikut menangis dalam hati ketika melihat seorang ayah terpaksa memindahkan anaknya –seorang calon sarjana– yang terkena radang selaput otak ke rumah sakit yang lebih kecil di dekat rumahnya, di tenggara Kota Bandung. Ayah ibunya terpaksa melakukan itu karena karena beban biaya ICU yang sudah mendekati seratus juta, padahal keluarga ini membiayai hidup hanya dari warung martabak di dekat rumahnya.

Semoga Allah SWT mendengar dan mengabulkan do’a-do’a ayah ibunya, yang saya dengar lirih setiap malam di ruang tunggu dan di masjid kecil tak jauh dari rumah sakit ini.

Kemarin Iki bertanya pada saya, “Bennnn …. Nini mana?”

“Di rumah, Ki”, jawab saya.

“Rumah mana?”, katanya seperti orang bingung

“Rumah Dangdeur”, kata saya

Muka Iki terlihat bingung

“Iki inget rumah Dangdeur, kan?” kembali saya bertanya

“Ahhh .… lupa …. Enggak inget”, jawabnya

Obrolan selanjutnya membuat saya agak terhenyak. Mungkin karena Iki sempat kehilangan kesadaran waktu di ICU, sekarang rupanya Iki tidak ingat di mana dia tinggal.

Dia lupa juga bahwa di rumah, tinggal juga si Keltie dan si Mango –kucing cantik dan kelinci gondrong penghuni halaman belakang.

Iki malah sebelumnya sempat mengucapkan terima kasih pada Bi Tetty, adik iparnya yang sudah meninggal 3 tahun yang lalu.

“Ki…. Iki inget enggak kemarin Iki ada di ruang ICU selama 2 minggu?”, akhirnya saya harus mengkonfirmasi.

“Hah? Engaaak …. “, katanya

“Jadi yang terakhir Iki ingat apa, Ki?”

Dia diam sesaat lalu menjawab, “Iki mah ingetnya tidur nyenyaaaak sekali… tidur enak”.

Saya sekarang tidak berani menggerutu pada takdir. Sudah terlalu banyak nikmat yang Allah berikan pada kami. Insyaallah hari ini kami akhirnya diizinkan pulang dan melanjutkan pengobatan Iki dengan pengobatan rawat jalan.

Mudah-mudahan lupanya Iki ini sementara saja. Mungkin juga, lebih baik Iki memang lupa hari-harinya di dalam ICU. Mungkin itu lebih baik untuknya.

Untuk saya, mungkin kebalikannya. Saya harus selalu ingat hari-hari ini. Hari-hari yang mengajarkan pada saya tentang mukjizat-mukjizat yang setiap hari Allah berikan dalam sebuah badan yang sehat.

Seperti albumin gratis dan nafas yang lapang yang Dia berikan setiap detik.

Alhamdulillah. Terima kasih atas do’a-do’a dan perhatian yang saudara-saudara dan teman-teman berikan pada keluarga kami tiga minggu belakangan ini.

Itu rezeki lain yang kami harus syukuri; keluarga dan teman baik yang penuh perhatian setiap saat.

Sun dan salim,
Benben

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.