Apakah Startup Brand e-commerce Harus Punya Website dan Jualan di Website?

Tadi di #AkademiInstagram ada peserta yang nanya, “Apakah punya website untuk jualan itu wajib?”

Saya jawab, “Tentu saja tidak. Yang wajib mah sholat 5 waktu” ğŸ˜Ž

Tapi kalau kamu tidak mau membangun dan mengaktivasi website sejak awal. Maka di mana kita akan mengumpulkan data-data feedback setiap transaksi? Ini pertanyaan raksasanya

Jadi gini, Sob. Transaksi digital itu punya kelebihan yang sangat mendasar -yang membedakannya dengan transaksi offline

Yaitu ketika transaksi terjadi maka ada dua feedback yang akan didapat oleh sebuah brand e-commerce

(satu) uang… Ini penting! –tapi biasa ini mah. Transaksi offline juga menghasilkan uang, ‘kan?

(dua) data (lots of them) …. nah ini lebih penting. Ini hanya didapat ketika kamu bertransaksi secara digital

Banyaknya data yang terkumpul sangat tergantung dari platform apa yang kamu pilih dalam bertransaksi dengan konsumen

Contoh, kalau kita dagang & closing via WhatsApp. Maka kita akan mendapatkan data; nomor telepon konsumen, nama konsumen, alamat rumah/kantor, dan mungkin nomor rekening konsumen

Kalau kita closing via Marketplace, maka kita (seller) akan mendapatkan -kurang lebih- data seperti di atas. Mirip lah

Nah.. website/webstore itu dirancang untuk mendapatkan dan menganalisa jauh lebih banyak data lagi

Kita bisa menganalisa:

Konsumen menyukai barang yang mana, kalau dia suka barang A, apakah dia juga sempat melirik produk B dan D di webstore. Berarti sebulan lagi, kenapa tidak sekalian ditawari barang B dan D lewat iklan via feed IG-nya?

Jam berapa sebenarnya kecenderungan konsumen beli barang kita? Jadi kita bisa atur, berapa orang CS shift 1 dan berapa orang CS shift 2

Kalau si Jon sering beli barang kita, apakah tetangga dia se-RT atau sekelurahan sering juga beli barang kita? Kalau iya, kenapa kita enggak sekalian aja buat showroom di kelurahan itu

Selain untuk membuat keputusan bisnis, data-data yg banyak, akurat, real-time dan mudah dianalisa ini juga punya manfaat lain. Misalnya sbg collateral pinjaman –pengganti sertifikat tanah atau BPKB mobil

Jadi dalam ‘kitab bisnis digital’, webstore memang tidak wajib.
Mungkin masuknya ‘sunnah muakkad’ deh 😉

#startupadvice

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.