Adakah Situasi Ketika Aturan Tidak Perlu Ditegakkan?

Kasihan ibu saya. Ketika kami mulai masuk sekolah menengah atas, ada karakter khas yang muncul di dalam diri kedua anaknya. ‘Iseng!!’ Ya, saya dan kakak sering terlibat masalah karena keisengan kami di masa remaja.

Kami tidak pernah berniat jahat. Gak ingin menyakiti siapapun. Hanya ingin mencoba sesuatu yang baru, penasaran dan bersikap spontan. Tapi kadang-kadang berakhir dengan melanggar aturan yang ada, dan sesudah itu seperti pelanggar aturan yang lain, kami kena hukum.

Kakak saya, berumur dua tahun lebih tua dari saya. Tentu dia lebih dahulu berhadapan dengan para penegak hukum di sekolah: guru-guru. Seingat saya dia pertama kali diskors karena main lempar-lemparan makanan di dalam kelas. Skorsing ke-dua dia terima karena refleksnya menyikut salah satu guru, yang konon dia sangka temannya sendiri. *terus emang kalau temannya sendiri boleh disikut? pembelaan diri yang lemah … hehehe

Penyebab skorsing pertama saya bisa dibilang lebih ringan. Hanya karena main volley, saya terkena skors. Soalnya saya main volley di mata pelajaran matematika. Mau dibilang apa? Saya seneng sekali main volley di jaman itu.

Saya bisa lebih menerima alasan kenapa guru-guru memberikan skorsing ke-dua. Pada waktu itu saya tidak sengaja membakar separuh ruang OSIS menggunakan lem Aica Aibon. Demi Allah, itu ketidaksengajaan. Saya bukan seorang pyromania.

Pagi itu, setelah upacara serah terima pengurus OSIS kepada pengurus baru, saya mendapati diri bosan menunggu pengurus-pengurus OSIS yang lain. Lalu saya menemukan sekaleng kecil lem cair Aibon tergeletak di samping saya. Entah kenapa, saya langsung membuka kaleng kecil tersebut dan tidak sengaja mencium aroma uap khas yang keluar dari dalamnya. Walaupun di luar kaleng ada tulisan ‘Flammable‘, mudah terbakar.  Entah kenapa, saya malah penasaran. “Jika lem ini mudah terbakar, apakah berarti uapnya juga mudah terbakar?” Tanpa berpikir panjang saya meminjam sebuah lighter, memegang kaleng kecil itu dengan tangan kiri dan melewat-lewatkan api lighter di atas kaleng lem Aibon yang separuh terbuka dengan tangan kanan.

Kejadian selanjutnya terjadi di luar dugaan. Saya berhasil membuktikan bahwa uap Aibon ternyata mudah terbakar. Ketika mulai terbakar dia mengeluarkan bunyi ledakan kecil ‘BLUP!!!’ yang membuat saya kaget. Refleks, tangan kiri saya langsung melempar kaleng kecil yang menyala tersebut. Kaleng berwarna kuning tersebut jatuh satu meter dari kaki kaki saya. Sebagian lemnya yang merah menyala tumpah di atas karpet yang melapisi ruang OSIS.

Api tidak mungkin menyala tanpa oksigen”, pikiran itu langsung terlintas di kepala saya. Saya langsung mengambil sebuah makalah tebal dari atas meja yang langsung ditutupkan ke atas kaleng yang menganga. Sialnya saya tidak mampu menutup kaleng tersebut dengan cukup rapat karena terganjal oleh tutup kaleng yang masih tergantung di sebagian sisi atas kaleng. Alih-alih apinya padam, yang saya dapati adalah sebuah kaleng yang tetap menyala dan sebuah makalah yang terbakar api.

Salah seorang teman baik saya kemudian datang menolong. “Minggir, Ben. Yang penting kita keluarin aja dulu kalengnya dari dalam ruang OSIS!” Masuk diakal! Seluruh ruang OSIS memang tertutup karpet murah berwarna abu-abu. Mudah sekali terbakar. Lebih baik api dijauhkan dahulu dari karpet ruang OSIS. Satu detik kemudian dia menendang kaleng panas tersebut ke arah pintu yang berjarak sekitar 5 meter. Tendangannya hampir akurat. Kaleng tersebut menyentuh daun pintu dan tergeletak hanya beberapa centimeter dari ambang pintu.

Yang tidak terpikir oleh kami berdua adalah dalam perjalannya melambung ke arah pintu, sebagian lem dari dalam kaleng tsb berceceran membentuk garis putus-putus yang justru membakar karpet di bawahnya –persis seperti jejeak Napalm Bomb. Satu tendangan lagi akhirnya berhasil mengeluarkan kaleng dari dalam ruangan. Kembali, sialnya, sebagian sepatu-sepatu yang parkir di luar ruangan malah menjadi korban selanjutnya. To make it worse, kaki yang digunakan untuk menendang kaleng oleh teman saya pun terkena tumpahan lem yang membakar celana panjang dan kakinya. Wahhh … repot lah.

Setelah akhirnya kami berhasil memadamkan karpet ruang OSIS yang rusak dimakan api, saya dijewer oleh guru olahraga menuju ruang wakil kepala sekolah. Saya sebenarnya cukup kenal dengan wakil kepala sekolah, karena saya beberapa jam yang lalu masih menjabat sebagai wakil ketua OSIS. Baru beberapa jam saya meletakan jabatan dan seharusnya dengan elegan ikut menghadiri rapat serah terima jabatan di ruangan -yang sayangnya, tidak sengaja saya nyalakan dengan api. Pak Wakasek hanya bisa geleng-geleng kepala. Dia sempat berkata, “Ben, kamu ini gak rela ya turun dari jabatan OSIS?” Duhhhh …. Gak lucu pak … emangnya saya sengaja apa membakar ruang OSIS? Well, sengaja atau tidak sengaja, saya harus hadapi konsekuensinya. Dua hari di-skors dan dipanggil orang tuanya.

Tentang orang tua yang dipanggil guru, sebenarnya ‘masalah dan tidak masalah’ untuk saya. Semua anak pasti gemetar ketika harus memberikan surat panggilan dari sekolah. Tapi bapak-Ibu saya terbilang sabar menghadapi konsekuensi keisengan anaknya. Terutama karena saya memiliki track record yang masilh lebih baik dibandingkan kakak saya.

Sekitar dua tahun sebelum tragedi terbakarnya ruang OSIS, kakak saya sempat berulah yang membuatnya di-skors ke-tiga kalinya! *whatt? ke-tiga kalinya?

Penyebabnya pun bukan suatu yang membahayakan atau berdampak fatal bagi siapapun –seperti penggunaan narkoba atau tawuran –atau membakar ruang OSIS … hehehe. Mau tahu penyebabnya? Kakak saya tertangkap menggunakan payung saat upacara bendera di hari senin. *Jiahhhh … gak keren banget. Setahu saya sih sebenarnya bukan hanya dia yang sempat berpayung pada saat upacara tersebut. Jadi kayaknya payung tersebut sempat berpindah-pindah tangan selama upacara. *kejadian detailnya harus dikonfirmasi pada alumni-alumni sekolah di Bulungan tahun 92. Tapi mungkin kakak saya lah yang memang saat itu harus menanggung konsekuensi paling berat, karena dia lah yang tertangkap tangan sedang memegang payung oleh gurunya di tengah lapangan.

Mengetahui anakanya terancam dikeluarkan dari sekolah, Ibu saya tentu kalang kabut. Sekolah memang bisa sangat kejam. Sekolah tidak peduli apakah pelanggaran yang dilakukan berat atau ringan, yang pasti skors ke-tiga berarti juga skors selamanya. Aturan adalah aturan. Melanggar aturan berarti harus siap menerima konsekuensinya. Kakak saya harus menerima surat pemecatan, dan dikeluarkan satu minggu sebelum EBTANAS (UN, kalau sekarang sih).

Saya ingat sekali betapa repotnya ibu saya, ditengah sibuknya bekerja di Jakarta yang hiruk pikuk penuh macet, dia harus pula bolak-balik ke sekolah berusaha menyelamatkan anaknya dari takdir gelap.

Berdebat dengan pihak sekolah merupakan hal yang berat. Sekolah sering kali keberatan memberikan pengecualian dalam penegakan sebuah aturan. Sekolah selalu khawatir bila mereka membuat pengecualian maka nanti akan menjadi preseden buruk di mata siswa yang lain. Sekolah punya muka juga untuk diselamatkan.

Namun ibu saya kenal baik anakanya. Di luar kenakalannya, kakak saya punya banyak sekali potensi yang tidak bisa mekar di dalam kelas. Akan berakibat buruk jika kakak saya hidup terlalu lama di lingkungan yang tidak bisa memekarkan potensi-potensi itu. Untuk ibu saya, kakak saya harus lulus di tahun itu dan melanjutkan ke sekolah yang dia inginkan. Mengulang kelas tiga di sekolah lain sebagai veteran (anak yg tidak naik kelas) hanya akan merusak rasa percaya dirinya.

Ibu saya bercerita pada saya, malam hari setelah keputusan dari sekolah akhirnya dikeluarkan. Saat itu ibu saya harus berhadapan dengan guru BP (Bimbingan dan Konseling) sekaligus Kepala Sekolah. Sekolah tetap bersikeras bahwa kakak saya tidak bisa diberikan pengecualian. Walaupun berjarak hanya seminggu dari hari terakhir sekolah, kakak saya harus menerima surat pemecatan, pindah sekolah dan mengulang kelas tiga di sekolah lain.

Untungnya ibu saya bukan tipe mudah menyerah di hadapan kesulitan. Walaupun sulit dia harus memberikan usaha terakhirnya demi anaknya yang memang agak nakal. Dia dihadapkan pada dua pilihan: (satu) ajari anaknya tentang jiwa ksatria dengan menyuruh anaknya untuk siap menerima konsekuensi hukum dari tindakannya; atau (dua) selamatkan anaknya saat ini, lalu ajari dia tentang jiwa ksatria, dengan memperlihatkan bahwa hukum harus ditegakkan dalam usaha mewujudkan kebaikan.

Bagi ibu saya pilihannya jelas, kebaikan harus menjadi alasan setiap hukuman. Mungkin bagi ibu saya, yang seluruh pendidikan menengah, S1 dan S2-nya dihabiskan mempelajari dunia pendidikan, aturan dan hukum hanyalah salah satu alat untuk mendidik –bukan satu-satunya. Masih banyak alat pendidikan efektif yang lain yang bisa digunakan sesuai situasi dan kondisi. Misalnya penghargaaan (reward), panutan (role modeling), refleksi, dan sebagainya.

Kata-kata terakhir ibu saya pada pihak sekolah kurang lebih seperti ini “Anak kami bersalah dan tidak boleh diperlakukan spesial. Tapi bapak dan ibu guru duduk di sini karena tugas mulia untuk mendidik setiap anak -termasuk anak kami. Jika anak kami dipecat satu minggu sebelum ujian akhir dan harus merasakan pahitnya mengulang masa kelas tiga di sekolah lain sebagai anak baru, kira-kira pendidikan seperti apa yang kita ajarkan kepada dia? Bahwa hidup itu kejam? Tidak kah itu hanya akan membuat cermin dirinya pecah? Bisakah kita memberikan hukuman yang akan berdampak baik bagi dirinya? Bukan karena dia spesial, tapi karena tugas utama kita adalah mendidik -bukan menghukum.”

Alhamdulilah, sekolah akhirnya menemukan hukuman yang lebih baik bagi masa depan kakak saya. Dia akhirnya mendapatkan hukuman skors satu minggu penuh. Dia tidak boleh menghadiri kegiatan belajar sampai waktu ujian EBTANAS tiba. Dia lulus dengan nilai biasa saja. Satu tahun kemudian dia terbang ke luar negeri dengan mendapatkan beasiswa ratusan juta rupiah dari sebuah maskapai penerbangan -dan pulang kembali ke negara ini dengan sebuah titel bergengsi “Top Academic”. Setahu saya, sejak itu kakak saya belum pernah di-skors lagi, oleh siapapun, di manapun. Dia sekarang salah satu orang paling disiplin yang saya kenal. Hidup memang aneh. Terima kasih, ibu-bapak guru. Thanks a lot, Mom.

———-

foto diambil dari : www.moroccoworldnews.com

Iklan

3 Comments Add yours

  1. musimbunga berkata:

    Ini keren ceritanya.. ky dipelem remaja hihi.. coba yg ky gini dibuat pelem ya bukan pelem cinta2an doang

    Suka

  2. lilyardas berkata:

    Salam baktos untuk ibunda…. Jadi mikir, apa gw perlu ambil S2 pendidikan juga ya? Wkwkwkwkk … *puyeng punya anak tiga*

    Suka

    1. ombenben berkata:

      wahahaha … S2 Pendidikan ibu saya sebenarnay pendidikan jarak jauh. Gak nyambung sama pendidikan anak di rumah. Tapi emang ibu saya pendidik yang ‘pakai hati’. Mungkin itu kuncinya.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.