Dear Friends, Pikun itu bukan karena tua.

Di perjalanan kereta menuju Bandung beberapa hari yang lalu, salah seorang sahabat saya mengirimkan sebuah pesan pendek.

“Kang Ben, tolongin. Mamah aku sudah tidak bisa ngenalin anaknya lagi. Gimana atuuh? Masih bisa disembuhkan tidak yaaa …”, -lengkap dengan emotikon-emotikon menangis yang menyertainya.

Emotikon-emotikon itu juga pernah menjadi ikon perasaan saya lebih dari satu tahun yang lalu. Sedih memang rasanya ketika orang yang dahulu adalah segala-galanya bagi kita, mulai kehilangan kemampuan untuk mengingat kata-kata, tidak ingat kapan terakhir kali makan –bahkan lupa akan nama-nama yang dahulu mereka berikan untuk kita.

Ini mungkin belum pernah terjadi pada teman-teman yang orang tuanya masih relatif muda. Bagi kami, generasi X sudah tidak bisa dikatakan muda lagi, masa-masa itu sudah datang. Sedikit-demi sedikit kami sudah merasakan zaman yang dipergantikan. Orang tua-orang tua kami yang dahulu simbol perlindungan bagi kami, sedikit-sedikit mulai menua -mengikuti fitrahnya.

“Kalau orang tua kamu mulai pikun, berarti kamu harus sabar, ya.” Begitu biasanya kita menasihati teman yang harus menghadapi kenyataan bahwa orang tuanya mulai pikun.

Nah… kalimat di atas sebenarnya ada benarnya –dan ada salahnya.

Benarnya, nih. Yes, menghadapi orang tua yang pikun itu harus ekstra sabar. Dalam arti ‘extra patient‘. There’s no argument on that.

Salahnya, nih. Menurut saya, definisi kata sabar yang mana yang kita maksud. Karena sabar tidak selalu berarti sesuatu yang pasif. Sabar, as inshobrin islamic concept, artinya melakukan sesuatu sebaik mungkin –sambil tetap siap dengan apapun hasilnya; baik yang sesuai dengan harapan ataupun tidak.

Jadi sebelum men-setting diri kita untuk patient dan pasrah, wajib hukumnya kita ikhtiar dulu.

Karena gini, bro. Kita gak boleh egois. Karena orang yang harus ‘patient‘ di situ bukan hanya kita-nya saja, lho. Kita juga sebenarnya sedang meminta orang tua kita untuk extra-patient. Bahkan melebihi kita.

Bayangkan ibu atau bapak kita, yang sedikit-sedikit salah nyebut orang, karena lupa namanya. Sedikit-sedikit, nyasar karena lupa tempat. Minum obat lupa pun lupa, karena lupa waktu dan lupa dosis. Apalagi ketika sampai mereka mulai lupa nama anak mereka sendiri. Hal itu berat bagi mereka. Mereka harus se-patient apa lagi?

Jadi mari kita ikhtiar dulu sebelum meminta mereka untuk superextra-patient. Mari kita ‘shobr’.

Saya pun dulu tidak mengerti apa-apa tentang ‘pikun’, sampai saat Iki terkena stroke dan dinyatakan menderita alzheimer-demensia post-stroke oleh dokter. Beberapa saat sesudah stroke, Iki tidak hanya sulit bangun dan berjalan –Iki pun menjadi pemarah, pelupa dan rewel.

Singkat cerita, walau dalam tiga bulan Iki sudah mulai bisa berjalan, tapi temper-nya yang berubah menjadi keras masih jadi masalah. Padahal Iki itu dulunya orangnya sangat sopan. Wah, jarang sekali lah saya melihat Iki marah sebelumnya. Hal ini menjadi makin parah karena Nini sebelumnya juga sudah mulai pelupa. Jadi pada saat itu, sering kali saya harus jadi ‘wasit-wasitan’ melerai pertengkaran-pertengkaran kecil di antara kedua orang tua yang sudah menurun ingatannya.

Akhirnya saya memutuskan untuk memindahkan konsultansi Iki dan Nini ke seorang dokter ahli syaraf spesialis memori di Rumah Sakit Advent. Namanya dr. Paulus Anam Ong. Dokter Anam adalah orang yang sangat ramah dan penuh atensi. Nini dan Iki tampaknya nyaman berkonsultasi setiap bulan bersamanya.

Dimulai dengan serangkaian tes memori untuk mengukur kerja memori dan kognitif, sekarang sudah satu tahun lebih kami berkonsultasi dan berobat ke sana setiap bulan.

Saya belajar banyak dari Dokter Anam dan proses pengobatan Nini dan Iki. Ternyata pikun itu bukan karena tua. Kalau pikun itu karena tua, berarti semua orang tua akan pikun. Tapi kenyataannya gak semua kakek-kakek dan nenek-nenek jadi pikun, kan?

Pikun biasanya disebabkan oleh menurunnya kinerja organ tempat kita memproses dan menyimpan memori; otak kita. Perlu aktif diobati? Perlu, Bro. Kita pun mengobati jantung kita kalau kinerjanya menurun, kan?

Pertanyaan selanjutnya, “Memang orang pikun bisa diobati?”. Jawabannya relatif, tapi kata dokter Anam, hampir semua orang pikun perlu dan bisa diobati. Tergantung dari apa penyebabnya dan sudah seberapa parah penyakitnya itu.

Dalam kasus Nini dan Iki, ternyata penyebab alzheimer-demensia mereka berbeda. Iki menderita pikun dikarenakan Iki tahun lalu mengalami stroke hemoragik (perdarahan) di otaknya. Bagian otak yang terkena dampaknya adalah daerah yang mengatur kerja motorik ototnya, proses kognitif dan pengatur perasaannya. Itu sebabnya Iki sulit bergerak, sulit berbicara, serta rungsing (sundanese). Tambah lagi secara psikologis, sebagai orang yang senang jalan kaki, Iki juga agak tertekan ketika menyadari bahwa dia tidak bisa duduk –apalagi berjalan. Wajar kalau dia kemudian agak frustrasi dan mudah marah.

Kasus Nini berbeda. Nini sudah menunjukkan gejala-gejala pelupa sejak beberapa tahun yang lalu. Kami dulu tidak mengerti apa yang terjadi atau bagaimana pengobatannya. Yang pasti, it’s geting worse and worse. Untungnya Nini kemudian ikut konsultasi bersama Iki ke dokter Anam.

Hasil CT Scan bagian otak Nini, memperlihatkan bahwa kecurigaan dokter Anam benar adanya. Ternyata dahulu sekali, Nini pernah mengalami sejenis stroke iskemik (penyumbatan pada pembuluh darah di otak) yang sifatnya sangat halus. Bahkan pasiennya pun tidak sadar bahwa dia pernah stroke. Pada hasil CT Scan terlihat ada daerah abu-abu di bagian atas otaknya. Daerah abu-abu ini sebenarnya adalah bagian di mana pembuluh darah yang sangat halus tertutup oleh darah yang kental dan membeku. Menurut dokter Anam, itulah penyebab matinya sel-sel otak Nini yang menyimpan banyak data/memori. Itu sebabnya secara fisik, Nini alhamdulillah sehat, tapi ingatannya menurun.

Setelah melakukan diagnosa dengan melihat hasil CT Scan, dokter Anam meminta Nini dan Iki mengikuti serangkaian tes memori yang dilakukan oleh psikolog. Tesnya menarik; dari harus menjawab pertanyaan penambahan dan pengurangan sederhana, mengasosiasikan kata, mengurutkan ulang kata-kata yang disebutkan sebelumnya oleh psikolog dan sebagainya. Saya mendampingi keduanya, setelah sebelumnya diingatkan untuk tidak ikut menjawab. Maklum, namanya anak. Rasanya gemes banget pengen banget bantu menjawab 😀

Hasil tes ini ternyata untuk mengetahui kemampuan otak mana yang masih normal dan kemampuan mana yang terganggu oleh serangan stroke sebelumnya. Jadi tes ini adalah alat bantu diagnosa setelah sebelumnya secara fisik dilakukan CT Scan.

Hasil pemeriksaan memori ini juga memperlihatkan bahwa Nini dan Iki walaupun sama-sama pikun dalam pemahaman orang awam, tapi sebenarnya mengalami penurunan memori akibat dari stroke di daerah yang berbeda.

Sederhananya begini, kalau bicara tentang sel otak, ada bagian otak berupa sel-sel yang fungsinya menyimpan data (bayangkan sebagai harddisk sebuah komputer) dan ada juga bagian yang fungsinya memproses data (bayangkan sebagai prosessor komputer). Semua itu dihubungkan oleh jaringan syaraf yang ribetnya setengah mati.

Ketika seseorang terkena stroke/penggumpalan darah (bayangkan seperti kabel yang putus di dalam komputer), maka akan ada sel-sel otak yang gagal mendapatkan suplai nutrisi dan oksigen -lalu lama-lama selnya akan mati. Nah, tergantung dari daerah mana yang sel-selnya mati, maka penurunan kemampuannya pun akan berbeda. Bisa bagian yang menyimpan memori (data storage) atau bagian yang memproses memori (kognitif/data processing), atau kedua-duanya.

Nah, dibaca dari hasil pemeriksaan memorinya, walaupun pembekuan darah di otak Nini tidak pernah se-heboh strokenya Iki, tapi ternyata pembekuan darah gradual di otak Nini banyak terjadi di pembuluh darah yang seharusnya mensuplai nutrisi ke sel-sel yang menyimpan data/ingatan Nini. Akibatnya sel-sel ini mati dan hilanglah ingatan-ingatan Nini yang tersimpan di dalamnya. Bahkan ada kesulitan menerima informasi/data baru, karena daerah yang bertugas menyimpan ingatan jangka pendeknya sudah mulai banyak yang rusak. Maka orang lain akan melihatnya sebagai orang pikun yang lupa hari, lupa nama, atau orang yang sering nanya hal yang sama berulang-ulang. Ini akibat dari, dalam bahasa nerd-nya, banyak bad sector di hardisk-nya.

Kasus stroke pada Iki ternyata tidak terlalu banyak menyebabkan matinya sel-sel memori Iki yang menyimpan data-data atau ingatannya. Meminjam istilah komputer: hard disk-nya masih cukup baik. Tapi perdarahan yang terjadi ketika stroke, sempat membunuh sel-sel yang mengatur kerja ototnya dan sempat mengganggu kemampuan kognitifnya. Itu sebabnya walaupun ingatan Iki masih cukup bagus, tapi karena proses kognitifnya sempat terganggu, maka di bulan-bulan awal pasca-stroke dia sulit untuk berpikir logis. Dalam bahasa nerd-nya mungkin, prosessor-nya sudah tidak efisien, sering loading lama atau kode-nya banyak yang conflict.

Itu sebabnya beberapa bulan sesudah stroke, Iki cenderung membahayakan dirinya sendiri, tidak mau dinasehati dan cenderung berbeda pendapat dengan orang lain. Mirip seperti anak kecil. Bedanya anak kecil bersikap seperti itu bukan karena kemampuan kognitifnya terganggu, tapi memang kemampuan kognitifnya belum tumbuh.

Kembali ke obrolan di awal, apa yang musti kita lakukan sebagai anak?

Satu. Bawa ke dokter, Guys. Pikun itu bukan karena tua. Pikun itu penyakit yang harus ditemukan apa penyebabnya.

Dua. Obati, Guys. Walau mungkin ingatan mereka tidak akan pernah kembali seperti waktu masih muda lagi, tapi setidaknya kita bisa berusaha memperlambat proses penurunannya. Dengan itu kita dapat terus memberikan kebahagiaan bagi mereka, dengan ikut menjaga ingatan-ingatan indah yang layak mereka miliki selama mungkin.

Tiga. Temani, Guys. Kalau mereka masih tinggal terpisah dengan kita, ajaklah tinggal bersama lagi. Tidak ada obat yang lebih baik daripada perhatian keluarga. Tidak hanya menyembuhkan tapi juga menentramkan hati. Bahkan dokter Anam pernah bilang pada saya, “Kamu tahu obat paling mujarab untuk Ibu-Bapak kamu? Tuh anak kamu yang paling kecil. Senyum dan ketawa dia itu adalah obat yang paling mujarab.”

—–

Iklan

2 Comments Add yours

  1. daalfi berkata:

    Artielnya keren…Pak
    Dan sy juga punya pengalaman nih mnghadapi seorang nenek yang divonis dokter terkena demensia. tp saat itu saya blm tau kalau si nenek pikun hehe. Jadi ceritanya saya diminta tolong oleh teman saya untuk antar mamanya ke RS untuk ceck up, karena teman saya sedang ada tugas keluar kota dan gk bisa ditinggal.
    Pergilah saya dan nenek tersebut dengan taxi. Pas mau berangkat nenek sudah ribut ngececk berkali-kali surat2 apa saja yang hrs dibawa. Sampai di RS, seperti yang lainnya kita mengikuti sprosedur, antri-> register/mengisi data pasien-> lalu menyerahkan ke petugas, lalu menunggu untuk giliran dipanggil dokter.

    Sekitar 15 menit, nenek mulai bingung, bilang ke saya bahwa “harusnya kita tadi antri dulu, daftar dulu..” katanya. Saya menjelaskan “lho tadi sudah daftar lho, Oma! Sekarang kita tinggal nunggu nama Oma dipanggil!”
    tapi seperti tidak puas dengan jawaban saya, nenek kemudian berjalan ke arah antrian awal (bagian pengisian data), saya mengikutinya dari belakang sambil meyakinkan bahwa kita tinggal langkah akhir saja.
    Sampai di depan antrian, nenek berhenti dan mengatakan bahwa “kok kita ada disini ya? udah daftar belum sih!” seperti anak kecil yang lupa jalan pulang ke rumahnya dan dia terlihat linglung.
    Dengan maklum (saya benar2 blm tau kl beliau demensia), saya menuntun nenek ke ruang tunggu tadi, menjelaskan kembali kl kita tinggal proses akhir saja.
    10 menitan kemudian beliau berdiri lagi hehe dengan tangannya yang gemetaran nenek menuju ke tempat penyerahan data. Beliau tanya ke petugas “Kalau nunggu di sini harus antri daftar dulu di sana kan ya?!” tanyanya. Petugas itu mengangguk, karena dikira nenek belum menyerahkan dokumen pasien. Dan petugas menjelaskan alurnya. Saya tersenyum dan kembali menjelaskan kepada nenek bahwa “kita tinggal nunggu dipanggil dokter”. Karena saya curiga dengan sikap nenek akhirnya sayapun tanya ke teman saya, memastikan apa nenek ini sudah kena kepikunan atau sejenisnya, dan teman saya mengiyakan. Belum selesai saya chat dengan teman saya, eh..nenek jalan lagi ke petugas tadi, tanya lagi (kali ini nenek agak ngotot hhe). “Kan kalo belum daftar gk bisa langsung dipanggil kan?” petugas yg tampaknya diribetkan dengan pekerjaannya itu terlihat kesal dengan nenek. Lalu saya berbisik ke petugas bahwa nenek sudah mengumpulkan dokumen dan beliau mulai pikun, akhirnya petugaspun memakluminya.

    Dan selang beberapa minggu setelah kejadian di RS, teman saya cerita bahwa hampir saja rumahnya terbakar, karena nenek tadi lupa matikan kompor saat menghangatkan makanan..

    Nah dari kejadian itu saya berpikir bahwa orangtua yang sudah pikun sangat bahaya jika dibiarkan melakukan aktifitas sendirian, harus benar-benar di awasi layaknya anak kecil lagi yang baru belajar jalan.

    Suka

    1. ombenben berkata:

      Betul banget. Memang untuk menghadapi orang tua yang mulai pikun itu sama saja seperti menghadapi kelahiran anak pertama: kita harus siap-siap aktif belajar ilmu baru.

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.