Tentang Sayap Relawan (100 hari Mendesain Kampanye Juara : Part III)

Captain’s Logbook #3

Pasukan Desain Bandung – RKbdg

by ombenben

Gerakan Relawan Warga Bandung : warga biasa yang terlalu lama ditempa oleh ketidakadilan 

————————–

“Jangankan Manusia, cacing pun akan bergerak berkeluget-keluget kalau merasakan sakit” .

~Ir. Soekarno

Sekitar satu bulan sebelum hari pencoblosan, ada seorang kader PKS berkomentar ,”Saya sudah beberapa kali terlibat Pilkada di Indonesia, tapi baru saat ini bertemu tim relawan yang kerjanya luar biasa. Benar-benar berbeda relawan Kota Bandung ini.” Semoga itu adalah sebuah pujian. Saya sendiri kadang berpikir bagaimana bisa ribuan orang di Bandung bekerjasama dalam waktu 100 hari, dengan latar belakang yang berbeda-beda, kultur kerja yang berbeda-beda, kadang tidak saling mengenal, diselingi salah paham dan perbedaan pendapat, namun tetap efektif.

Menjadi calon walikota itu ternyata sibuknya luar biasa, power draining and time consuming*silahkan tanya langsung ke Kang Emil, jangan tanya saya .. hehe. Saking sibuknya melakukan pendekatan-pendekatan langsung pada warga dan pendekatan strategis pada tokoh-tokoh yang berpengaruh, Kang Emil memutuskan untuk menyerahkan grand strategy kampanye pada beberapa simpul relawan yang dia bisa percaya.

Jumlah simpul relawan pengusung Ridwan Kamil – Oded MD atau pasangan RIDO ada banyak sekali, puluhan mungkin ratusan simpul (catatan: akronim RIDO muncul pertama kali diteriakkan seseorang saat deklarasi dukungan PKS-Gerindra, saya tidak ingat siapa orangnya). Masing-masing simpul ini memiliki karakter dan tujuan masing-masing. Kita menyebut salah satunya sebagai pasukan darat. Pasukan darat adalah ujung tombak sosialisasi. Mereka adalah relawan yang langsung bertemu, mensosialisasikan dan mengkampanyekan agar calon pemilih tidak memutuskan golput dan memilih pasangan RIDO pada hari H. Sebagian bekerja secara geografis -mereka ini biasanya simpul warga yang sepakat mendukung pasangan RIDO dan tugas utamanya adalah mensosialisasikan pasangan ini pada warga di daerahnya. Ada pula simpul-simpul yang wilayah kerjanya adalah wilayah sosiografis, biasanya berbentuk perkumpulan warga yang memiliki kesamaan hobby atau kegiatan. Mereka akan melakukan sosialisasi pada rekan-rekan di dalam lingkungan mereka sendiri. Cara kerja relawan pasukan darat adalah dengan berkampanye one on one, sebisa-bisanya ajak ngobrol calon pemilih langsung. Yakinkan orang dalam forum-forum kecil. Lalu biarkan forum-forum kecil ini saling mempengaruhi satu sama lain.

peta logistik kampanye

Sistem one on one ini jelas berbeda dengan sistem belanja suara yang biasa dilakukan oleh kebanyakan partai politik atau caleg. Dalam sistem belanja suara, biasanya parpol atau caleg akan menghubungi tokoh-tokoh yang berpengaruh (beberapa malah menitipkan sejumlah uang), lalu tokoh tersebut harus meyakinkan pengikutnya dengan caranya masing-masing. Kelemahan sistem belanja suara ini adalah asumsi bahwa para pengikut tokoh akan bersedia melakukan apapun yang dikatakan tokoh panutannya. Saya pribadi yakin tokoh-tokoh ini sebenarnya punya keterbatasan pengaruh hanya pada hal-hal yang berhubungan dengan keahlian tokoh tersebut, tapi tidak pada pilihan-pilihan lain pengikutnya.

Misalkan dalam sebuah pengajian, jika pak ustadz mengatakan bahwa memakan darah padat adalah haram, maka sebagian besar jamaah akan menganggap bahwa perbuatan tersebut haram. Tentu saja, mereka pasti percaya bahwa seeorang ustadz sangat mengerti cara membedakan antara hal yang halal dan yang haram -itu bidang keahlian pak ustadz. Tapi bila pak ustadz suatu saat mengatakan bahwa mie instan paling enak adalah Indomie, maka belum tentu 50% pengikutnya akan pulang kerumah lalu membeli Indomie. Bagi yang sudah suka Mie Sedap mungkin akan tetap beli Mie Sedap. Karena dia sendiri pun tahu, kalau soal selera mie instan, dia pun sama pintarnya dengan pak ustadz. Maka dalam memilih pimpinan daerah pada masyarakat egaliter seperti Kota Bandung, pribadi-pribadi pasti punya preferensi yang lebih kuat, tanpa dipengaruhi terlalu banyak oleh preferensi pemimpin informal. Gitu kurang lebih logikanya 🙂 *maaf ini pakai contoh pak ustadz ya. Bukan berarti semua ustadz bisa dibeli ya. Masih banyak ustadz yang kebal uang. Think positif, bro!

Selain simpul-simpul pasukan darat, ada juga simpul-simpul khusus. Memang jumlahnya tidak banyak tapi posisi mereka sangat penting. Mereka yang menguasai jaringan pendukung, skill dan ilmu-ilmu tertentu yang bermanfaat pada masa kampanye, bergabung dalam simpul-simpul khusus. Simpul-simpul khusus terbentuk dan bergabung menjadi organisasi sesuai dengan spesialisasi masing-masing. Cara kerjanya cepat, efektif, penuh inisiatif -tanpa harus banyak koordinasi:  “organized, yet not stucturized“.

Suatu saat gabungan sayap-sayap relawan ini menjadi mesin kampanye yang sangat kuat, bekerja dengan pola yang tidak mudah diduga oleh tim sukses pasangan walikota lain dan pada akhirnya ikut mengubah sejarah Kota Bandung. Kumpulan warga yang sudah tidak rela Bandung dijajah kepentingan penguasa, akhirnya jadi kekuatan yang menjungkirkan rezim penguasa lama Kota Bandung.

Rela-wan (manusia yang rela) vs Rela-wang (Rela karena Wang) 

————————–

“It is easier to find men who will volunteer to die, than to find those who are willing to endure pain with patience.”

~Julius Caesar

Hari itu Kang Ipong mengundang saya untuk menghadiri syukuran ulang tahun Kang Aat Suratin.  Pertemuan itu adalah pertama kalinya saya bertemu dengan rekan-rekan simpul komunitas yang lebih senior. Mereka adalah anak-anak Bandung yang kayaknya ‘nakal’nya jaman tahun 80an. *kalau saya kan nakalnya tahun 90an, lebih mudaan sedikit. Sebagian dari mereka saya ketahui reputasinya sebagai aktivis di sana-sini, pengusaha ini-itu atau seniman itu-ieu 🙂 Nampaknya walau beda profesi, mereka disatukan oleh suatu ketertarikan : Budaya! Orang-orang yang peduli pada kebudayaan biasanya memang lebih dahulu dan lebih berani untuk melawan pemerintah yang absurd. Simpul ini rupanya sudah gerah dan sedang berkonsolidasi menjelang Pilkada Bandung 2013. Jarang ada simpul seperti ini. Mereka senang bicara politik dan tidak berhenti hanya sampai di pembicaraan saja. Mereka ternyata secara aktif terlibat dalam gerakan-gerakan politik yang ada. Sebagian besar orang-orang ini terlihat bergerak karena memiliki jiwa kesukarelaan yang tinggi, walaupun ketika ditelisik ada juga yang rupanya berafiliasi dengan partai tertentu. Namun secara umum, saya yakin bahwa hati nurani sebagian besar mereka masih bersih.

Di jalan Eijkman, berkumpul pula sebuah simpul yang lain. Mereka adalah kader-kader 23 partai non parlemen yang mendeklarasikan dukungannya pada Ridwan Kamil, bahkan sebelum PKS dan Gerindra melakukannya. Tapi sayangnya, di sana juga -di jalan Eijkman, saya belajar tentang kenyataan pahit mengenai loyalitas dalam politik.

Artikel dukungan 23 Parpol Non Parlemen pada Ridwan Kamil. Sebagian besar Parpol ini kemudian pindah kubu di awal masa kampanye.
Artikel dukungan 23 Parpol Non Parlemen pada Ridwan Kamil. Sebagian besar Parpol ini kemudian pindah kubu di awal masa kampanye.

Malam itu sebenarnya malam yang akan kami gunakan untuk berbagi tugas tim relawan -sambil makan sate, setelah mendapatkan dukungan partai politik yang cukup untuk melaju ke gelanggang Pilkada Kota. Sayangnya, di tengah jalan menuju sate Harris, saya dihubungi oleh Kang Ipong yang mengatakan bahwa meeting terpaksa diubah agendanya karena ada emergency. “Tolong balik arah dan bergabung di Jalan Eijkman”, kata Kang Ipong. *Ah .. macam mana pula emergency bisa mengganggu rencana makan sate. Aneh-aneh saja, pikir saya.

Asap pekat di sebuah ruangan sempit menyapa saya yang sebenarnya sudah mulai alergi pada asap rokok. Edasss … suasananya mirip sekali dengan adegan film G30S/PKI yang sering saya tonton jaman SD. Saking seriusnya pembicaraan di dalam ruangan, membuat saya makin yakin bahwa orang-orangnya pun mirip dengan karakter dalam film itu. Saya duduk bergabung di pinggir ruangan, berusaha mengerti darurat apa yang sedang terjadi.

Ironis, suasana tegang di dalam ternyata tidak sesuai dengan kualitas obrolannya. Yang saya dengar hanya keluhan-keluhan beberapa bapak-bapak paruh baya yang mengatakan Ridwan Kamil kurang melayani mereka. “Di markas ini masa’ tidak ada kopi dan gula sih?”, “Itu printer yang disediakan oleh Tim RK sering kali habis tintanya dan kadang malah tidak ada kertas untuk ngeprint.”, “Saya sudah beberapa kali bergabung dengan tim sukses, tapi timses RK nampaknya tidak berniat melayani kami dengan serius.” #GUBRAK

Usut punya usut, sindiran-sindiran sinis yang dilemparkan kader-kader partai non Parlemen ini disebabkan karena adanya tawaran ‘Dana Belanja Suara Partai’ oleh salah satu tim sukses pasangan lain yang pada saat itu kekurangan suara untuk mendaftarkan diri menjadi salah satu kontestan calon walikota. Saya cuman bisa mengira-ngira berapa harga yang ditawarkan untuk ‘illegal player transfer‘ seperti ini. Saya tidak mau banyak memikirkan hal ini, -mual saya dibuatnya. Bahkan penjahat perang seperti Heinrich Himmler pun lebih punya harga diri. “My honor is my loyalty“, setidaknya Himmler masih percaya itu.

Alhamdulillah, masih ada pelajaran positif yang saya bisa petik malam itu. Karena ternyata terdiam sopan selama satu jam dicaci-maki, duduk Kang Ipong yang sedang menyusun kata-kata. Dia mempersilahkan kader-kader parpol tersebut mengeluarkan isi hatinya. Lalu sesudah mereka semua kehabisan kata-kata, Kang Ipong berdiri dan menegaskan posisi Tim Ridwan Kamil. Sayang saya tidak punya google glass untuk merekam pernyataan Kang Ipong saat itu, yang intinya : ‘Tim Ridwan Kamil meminta maaf apabila ada kekurangan dalam melayani rekan-rekan partai pendukung awal. Sebagai tuan rumah seharusnya kami bisa melayani lebih baik’. Sampai titik itu saya masih geleng-geleng kepala, bingung. Ini partai-partai kecil manja amat. Gak ada kopi kok komplain. Beli aja sendiri knapa? .. Tapi kemudian Kang Ipong melanjutkan ,”Tapi saya yakin sebenarnya ada masalah lain yang mengganggu rekan-rekan. Khawatir masalah dana, bukan? Teman-teman harus sadar, apa yang sedang kita perjuangkan. Ridwan Kamil adalah harapan kita untuk dapat mengambil kendali kota Bandung yang sudah carut marut ditindas kepentingan-kepentingan pribadi penguasa. Banyak yang kita harapkan dari Ridwan Kamil, tapi uang bukan salah satunya. Kalau gara-gara masalah uang saja rekan-rekan sudah mulai tidak nyaman, bagaimana kita bisa berjuang bersama seratus hari ke depan. Kalau rekan-rekan ditawari uang oleh pihak lain, silahkan! Kami tidak bisa menahan saudara-saudara. Kami tidak peduli jika anda semua meninggalkan kami”.

Cadas! Kang Ipong, yang sebenarnya sudah mengetahui bahwa ada cawalkot lain yang menawari 23 ketua partai kecil ini dengan sejumlah uang agar mau bergabung ke porosnya, langsung menyerang di titik lemah mereka -integritas! Sebagai tim miskin, tidak mungkin tim RK menahan mereka. Lebih baik melepas mereka. Karena sebenarnya melepas dukungan partai-partai kecil ini juga berarti menghindari potensi konflik yang bisa terjadi di masa depan. Opsi yang ditawarkan malam itu jelas: ‘Silahkan alihkan dukungan ke calon lain’ atau ‘tetap mendukung RK tapi jangan meributkan masalah uang’. Mereka punya waktu semalam untuk menegaskan posisi mereka. Dan mudah sekali ditebak, dalam waktu semalam tim Ridwan Kamil kehilangan dukungan 20 partai kecil yang menyeberang mendukung cawalkot lain. Hanya 3 partai kecil yang kemudian tetap mengusung pencalonan Ridwan Kamil bersama PKS dan Gerindra. Pahittt. Tapi ibarat obat, ini perlu agar tim kita tetap fit dan siap bergerak efektif ke depan.

Popularitas dan Elektabilitas : 

————————–

“Orang yang tidak sadar kamera, (fotonya) tidak mungkin masuk buku sejarah”.

~Gurauan Anak Bandung

Dalam 100 hari tim ber-sel banyak ini harus bekerja keras. Targetnya adalah pasangan RIDO harus mendapatkan paling tidak 32 persen suara pemilih Kota Bandung. Padahal survey-survey awal menempatkan Ridwan Kamil hanya berada di posisi 4 dari 8 kandidat dalam persaingan pilkada Kota Bandung. Dua incumbent Bandung, pasangan mantan Wakil Walikota dan pasangan mantan Sekretaris Daerah, bersaing di posisi puncak. Sebagai petahana tentu mereka memiliki popularitas jauh di atas Ridwan Kamil yang ‘hanya’ dosen, arsitek dan aktivis komunitas. Ketika popularitas petahana bisa mencapai 70%, popularitas Ridwan Kamil hanya 6% saja. Angka yang dengan mudah membuat sebagian besar orang pesimis.

Tapi kami bukan sebagian besar orang. Kami punya harapan besar pada sebuah parameter yang disebut ‘elektabilitas’. Oke, penjelasan sedikit. Setidaknya ada dua istilah yang biasa digunakan dalam mengukur potensi keterpilihan seorang kandidat : (1) popularitas : angka yang menunjukkan berapa persen kandidat tersebut dikenal oleh calon pemilih. (2) elektabilitas : angka yang menunjukkan berapa persen orang yang mengenal/mengetahui kandidat tsb kemudian akan memilihnya pada hari pemilihan. Jadi bila popularitas kandidat A adalah 70%, artinya dari setiap 100 orang pemilih, 70 orang sudah pernah mendengar tentang kandidat A. Sementara jika elektabilitas A adalah 70%, berarti dari seratus orang yang sudah pernah mendengar/mengetahui kandidat A maka 70 orang akan memillih kandidat A. Semakin besar skor popularitas dan elektabilitas maka makin besar kemungkinan si kandidat memenangkan pilkada.

Dilema yang terjadi di Indonesia adalah kebanyakan orang baik ternyata memiliki popularitas rendah. Wajar sih, orang baik cenderung tidak sombong, tapi juga berarti orang baik akan susah menang pilkada (atau pileg, dll). Itu juga sebabnya banyak parpol yang kemudian mengambil jalan pintas dengan memajukan kandidat dari kalangan artis, karena artis biasanya memiliki popularitas tinggi -walau belum tentu memiliki elektabilitas yang tinggi.

Anyway, Ridwan Kamil berbeda. Walau memiliki popularitas hanya 6% (hanya dikenal oleh 6% populasi pemilih), dia memiliki angka elektabilitas yang luar biasa : 80% ! Artinya walau pada awalnya hanya dikenal oleh 6 dari 100 calon pemilih, tapi jika ada 100 orang yang mengenal dia, 80 orang di antaranya akan memilihnya di bilik suara. Jadi yang harus dilakukan oleh tim kampanye (Relawan Warga, PKS dan Gerindra) adalah menaikkan popularitasnya sampai sekitar 40% agar kita berhasil mendapatkan lebih dari 30% suara pemilih. Masalahnya adalah, menaikkan popularitas dari 6% menjadi 40% hanya dalam waktu 100 hari adalah pekerjaan luar biasa sulit. Terlebih sampai H-100 hari, sebenarnya tim relawan belum benar-benar terbentuk.

Lalu ada satu masalah lain. Berbeda dengan pemilu skala nasional di mana para kandidat biasanya memilih kampanye di tempat yang berbeda dengan kandidat lain, dalam pemilu tingkat kota para kandidat pasti akan berkampanye di tempat yang itu-itu lagi. Contoh : Pasar Ciroyom diperkirakan paling tidak akan didatangi oleh 3 kandidat. Bayangkan kalau diri kita pedagang di Pasar Ciroyom, bosen gak sih didatangi politisi? Emang kalau didatangi 3 kandidat, maka pedagang pasar tsb lalu akan memilih ketiga-tiganya? Enggak juga kan?

Nah di sinilah targeting pemilih menjadi sangat penting. Prinsip targeting produk konsumer bisa digunakan juga dalam pilkada: “the most efficient way to advertise is to only advertise to your target consumer“. Berbekal angka hasil Pileg beberapa tahun sebelumnya kita mulai menyusun strategi yang lebih fokus bagi relawan. Hitungan matematikanya begini, jika pemilih PKS dan pemilih Gerindra bisa diajak memilih Ridwan Kamil juga, maka kita sudah memiliki modal sekitar 15% suara. Oleh karenanya, sayap relawan harus bisa menyumbang lebih dari 17% agar pilkada dapat dimenangkan dalam 1 putaran. Tentu saja PKS dan Gerindra pun tidak akan diam berkampanye hanya di pemilih loyal masing-masing, kita pun tahu itu. Tapi kami agak khawatir karena di tahun 2013, banyak masyarakat yang apatis pada Partai Politik, pasca ditangkapnya LHI oleh KPK. Ridwan Kamil memang bukan kader PKS, atau Gerindra, tapi kami yakin kontestan lain pasti akan menggunakan segala cara untuk menjatuhkan kredibilitas Ridwan Kamil dengan menghubung-hubungkan dirinya dengan LHI. Pilihannya jelas, Ridwan Kamil tetap harus dicitrakan sebagai mana adanya. Bukan kader parpol, bukan politisi, tapi seorang arsitek, seorang ahli tata kota, seorang penggerak masyarakat dan seorang aktivis kreatif.

Untunglah di dalam tim kita ada Kang Ajun, anak muda keras kepala yang selalu minta pematangan strategi. Suatu malam di salah satu simpul relawan di Jalan Rakata, Kang Ajun ngotot kalau malam itu kita harus berhasil membuat diferensiasi kampanye dan profil Ridwan Kamil yang kita akan perkenalkan ke masyarakat. Dua hal tersebut harus disepakati,  agar bisa segera dijadikan panduan kerja bagi tim relawan yang lain. Maka bersama aktivis senior lain, Kang Ajun memaparkan metode sederhana yang pernah dia pelajari dari pilkada di tempat lain. Caranya mudah, cukup dengan memetakan apa keinginan pemilih, apa kelebihan kandidat kita, lalu di-iris-kan dengan kelebihan dan kekurangan rival. Lalu disimpulkan menjadi beberapa untaian kalimat yang mudah dimengerti.

Karakter, Definisi dan Positioning Kampanye Ridwan Kamil Untuk Bandung
Karakter, Definisi dan Positioning Kampanye Ridwan Kamil Untuk Bandung

RKbdg : Relawan Kota Bandung

————————–

“Young people need to vote. They need to go out there. Every vote counts. Educate yourself too. Don’t just vote. Know what you’re voting for, and stay by that.” 

 ~Nikki Reed

Pernah main sepak bola kan? Salah satu kunci sukses sebuah tim adalah disiplin pemain dalam menjaga area, bekerja dalam posisi dan fungsi masing-masing. Begitu juga dalam tim kampanye. Ridwan Kamil beruntung diusung menggunakan tiket milik PKS. Walau tidak selalu sepaham dengan mereka, saya angkat topi untuk kader-kader PKS. Mereka hardcore kalau urusan bergerak di lapangan. Dilengkapi kader Gerindra memang cocok. Karena di wilayah di mana PKS lemah, kader Gerindra justru bisa diandalkan. Simpul relawan lapangan non partai juga ada cukup banyak dan harus bekerja seefektif sayap parpol. Salah satu simpul yang saya kagumi adalah simpul yang dipimpin Kang Rochmanto. Beliau membuat sebuah metode unik, di mana setiap orang yang bersedia memilih pasangan RIDO, akan diminta bantuannya untuk mengenalkan pasangan RIDO dengan cara yang sama ke orang lain. Mirip dengan cara MLM, tapi gak pake duit -cuman semangat. Dalam hitungan beberapa hari Pak Rocmanto pribadi dapat ‘merekrut’ lebih dari 500 orang. Luar biasa!

Patut dicatat, Pasukan lapangan/darat yang kuat memang syarat mutlak kemenangan. Bukannya apa-apa, salah satu rival kita berasal dari PDIP , yang dikenal sebagai jagoan lapangan juga.

Kembali ke tim sepakbola, ibarat tim yang baru dibentuk, tim RIDO memang masih kekurangan personel di sana sini. Walaupun sudah cukup kuat di lapangan, tim ini masih lemah sekali di udara (istilah yang digunakan relawan untuk menyebutkan media sosialisasi/kampanye luar ruang seperti billboard, spanduk, banner, dll). Belum lagi tim yang mengkhususkan kampanye ke pemilih pemula dan pemilih muda. Naaaah … ini niiiiih! Pemilih Muda!

Pemilih pemula, atau pemilih yang baru (mau) mencoblos satu kali seumur hidupnya, adalah wilayah pemilih yang tidak mudah disentuh oleh para petahana. Sebagai anak muda berumur 17-22 tahun, mereka tidak mudah kena bujuk rayu politik uang. Mereka pun biasanya anti status quo. Dan yang lebih menarik lagi, jumlah mereka tidak kurang dari 19% total pemilih Kota Bandung. Bila ditambahkan dengan pemilih muda berumur sampai dengan 35 tahun (yang memiliki karakter dan jiwa muda), jumlah mereka sebenarnya sudah cukup untuk memenangkan pilkada satu putaran. Bagaimanapun caranya, pemilih muda ini harus menjadi target urama kami. Kami yakin hanya Ridwan Kamil yang mampu mengambil suara mayoritas di segmen pemilih ini. Untuk itu kita harus membuat sebuah pasukan yang mengkhususkan diri untuk mendekati, menemani dan mengajak mereka untuk menyalurkan suaranya pada Ridwan Kamil. Tim ini harus gesit, pintar, diisi oleh anak-anak muda dan sesegera mungkin dibentuk.

Jadi ketika kader PKS dan Gerindra beramai-ramai mendaftarkan pasangan RIDO ke KPUD, saya memutuskan untuk meneruskan mencari markas untuk sebuah tim kreatif yang diisi anak-anak muda dengan special skill. Waktu itu saya dan Kang Ajun sepakat bahwa tim kreatif ini harus dicarikan markas yang berbeda dengan markas pemenangan Parpol atau markas relawan umum di jalan Eijkman. Anak-anak muda non-partisan ini akan sangat bete kalau harus bernafas dalam atmosfir politik yang terlalu kental. Alhamdulilah, rejeki kami tidak jauh dari jangkauan. Ketika sedang sibuk tanya sana sini mengenai rumah yang bisa disewa dengan harga murah, tiba-tiba saya mendapatkan kabar dari kakak kandung Ridwan Kamil bahwa ada salah satu alumni ITB yang mau meminjamkan sebuah rumah yang baru dia beli di Dago. Rumahnya tidak terlalu besar, agak tua dengan kondisi ruangan yang lembab. Syukurlah, sang pemilik sangat baik hati. Dia bersedia merenovasi agar layak pakai dan bersedia melengkapi rumah tersebut dengan kursi dan meja yang kita butuhkan. Memang bukan istana, tapi Steve Jobs pun memulai langkahnya menguasai dunia dari sebuah garasi toh? Well, satu masalah selesai. Sekarang tinggal memikirkan personel yang mau bergabung dengan tim kreatif ini.

Tim kecil yang dulu sempat mengadakan deklarasi pencalonan Ridwan Kamil di CFD Dago sudah harus berpisah jalan. Masing-masing harus meneruskan tugasnya di posisi yang berbeda-beda. Ada yang harus nempel parpol, ada yang harus mengelola media cetak, ada yang harus mendampingi kandidat, dll. Sehingga tugas menggerakan relawan muda kreatif jatuh ke tangan saya dan Kang Ajun.

Setelah patunjuk-tunjuk (*saling menunjuk, sundanese), kita sepakat (for the time being) untuk membagi tim kreatif muda menjadi 3 tim kecil. Satu tim dipimpin Kang Ajun, tugasnya mengelola mengelola semua strategi dan pekerjaan kampanye via internet, melalui beragam media online, termasuk merespon black campaign. Satu tim lain yang tugasnya menyiapkan strategi dan pelaksanaan event kreatif dalam berbagai bentuk yang aneh-aneh -dipimpin oleh Kang Eja: seorang mahasiswa ITB yang sudah terbawa-bawa aktif sejak deklarasi Ridwan Kamil di CFD. Lalu saya sendiri harus memimpin tim yang bertangggung jawab menyiapkan amunisi desain bagi relawan lapangan, media online, media cetak, media elektronik, layar lebar dan media luar ruang. Setiap pemimpin tim harus merekrut pasukannya masing-masing dalam waktu kurang dari satu minggu. Tim anak muda ini kemudian menyebut dirinya sebagai RKbdg: Relawan Kota Bandung.

——————————————————-

Tulisan ini dibuat untuk menularkan semangat kerelawanan warga Bandung pada saudara-saudara kami di kota lain. ‘Rumah Indonesia hanya bisa diubah dari batu batanya”, kata Ridwan Kamil, seorang warga biasa yang terpaksa jadi walikota. Jika Indonesia adalah rumah kita, Kota kita adalah batu batanya. Kita adalah tanah liatnya. Mari berhenti mencaci maki, mari berhenti berharap ada Satria Piningit akan menyelamatkan kita. This is no politic, this is about our city, this is about our country.

——————————————————-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s