SEBURUK BURUK SUARA ADALAH SUARA KELEDAI

Ada satu hal yang menarik ketika saya mendengarkan khutbah Jumat dua hari yang lalu. Khotib bersuara lembut di depan mengajak kita mengamati surat Luqman ayat 19. Sebuah nasihat dari Luqman (seorang ahli hikmah) kepada anaknya:

وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ

“Sederhanakanlah kamu dalam berjalan (rendahkan hatimu saat berjalan) dan lembutkan suaramu. Sesungguhnya, seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”

Langsung terbayang karakter si Donkey dalam film Shrek. Karakter sombong, banyak omong, tidak bisa menjaga mulut, tapi setia –yang diisi suaranya oleh Eddy Murphy. Gak tega rasanya keledai dibilang mahluk dengan suara paling jelek di surat Luqman. Saya langsung download suara keledai dengan bantuan Mbah Google, soalnya saya gak yakin seperti apa sebenarnya suara keledai beneran. Hasilnya ternyata memang benar, suara keledai itu memang agak menyeramkan. Dan bukan hanya menyeramkan, tapi juga keras. Banyak tulisan mengatakan suara ringkikan keledai dapat didengar dari jarak tiga kilometer! Bayangkan punya kandang keledai di belakang rumah, pasti cukup tidur sekeluarga. ‪#‎heh‬

Yang saya juga cermati, ayat di atas bukanlah kata-kata langsung Sang Pencipta -tapi kata-kata Luqman yang sedang menasehati anaknya. Artinya, kejadian yang digambarkan oleh ayat ini perlu dipersepsikan sesuai keadaan saat itu. Di jazirah arab dan di afrika (tempat kemungkinan Luqman berasal), memang keledai dipersepi sebagai binatang pengangkat beban yang keras kepala dan bodoh. Ada ungkapan Bangsa Pasthun Afganisthan yang berbunyi ,”Kalaupun seekor keledai sampai ke Mekkah, dia tetap saja seekor keledai.” Di Ethiopia pun ada ungkapan ”Anak sapi yang bergaul dengan seekor keledai akan belajar untuk kentut.” Jadi jelas, keledai bukan saja binatang yang sulit diatur oleh manusia, tapi juga sejak dahulu sudah menjadi SIMBOL bagi sifat keras kepala, bodoh, serta berisik pula. Mirip sama ‘Tong kosong nyaring bunyinya’ kalau di Indonesia.

Jelas sudah, bagi saya sekarang. Sepakat dengan banyak ahli tafsir yang mengatakan bahwa surat Luqman ayat 19, sebenarnya sedang berbicara tentang tata cara komunikasi. Melalui perumpamaan seekor keledai, Luqman mengajari anaknya jika berbicara harus terlebih dahulu merendahkan hati, lalu berbicaralah dengan lembut. Sebenarnya ini sejalan dengan ilmu komunikasi modern yang kita pelajari, di mana dalam berkomunikasi, bernegosiasi atau melobby –pertama-tama kita harus menghilangkan emosi, lalu merangkai kata-kata kita teratur, dengan pilihan kata yang tepat, lalu dengan cara yang baik. Cocok!

Kembali ke Khotbah Jumat, ada hal lain disampaikan Khotib yang juga mengusik akal (dan perasaan) saya. Dia menyampaikan bahwa banyak di antara kita yang sudah terjebak menjadi keledai-keledai modern era informasi. Keragaman media yang berpadu dengan keterbatasan waktu dan keragaman karakter pembaca, kongkalingkong media dengan politisi, serta maraknya pertumbuhan pengguna media online dan media sosial, telah berhasil membuat kita setara lagi dengan keledai.

Perhatikan, satu-satunya hal yang lebih buruk dari pada tulisan wartawan asal-asalan (yang headline beritanya tidak nyambung dengan beritanya) adalah komentar-komentar di bagian bawahnya. Para komentator tidak sadar bahwa pendapatnya akan terdengar lebih lebih keras dari pada ringkikan seekor keledai. Pendapatnya akan sampai di seluruh benua! >> “Anak sapi yang bergaul dengan seekor keledai akan belajar untuk kentut.”

Raksasa media yang sudah direnggut kepentingan politik, sampai kapan pun akan tetap membela pihaknya masing-masing. Tidak peduli pada kepentingan bangsa, lupa pada etika jurnalistik dan tidak sadar bahwa ketika mereka semua mati, sama dengan saya, mereka pun akan mempertanggungjawabkan semua kata-kata dan tulisannya pada Allah SWT. >> ”Kalaupun seekor keledai sampai ke Mekkah, dia tetap saja seekor keledai.”

Teman-temanku yang baik. Tahun-tahun politik telah berlalu. Sebagian besar di antara kita ini berada di umur Kuda, umur untuk berkarya. Kalau teman-teman punya kesukaan mengetikkan jemari di keyboard, jangan jadikan hanya komentar media maya –jadikan buku yang nyata! Kalau anda suka berdiskusi dan memikirkan bangsa ini, jadilah calon pemimpin kota atau pemimpin negara. Perubahan tidak akan terjadi jika hanya dibicarakan: dijelekkan, atau dipuja. Perubahan butuh dikerjakan.

~seburuk-buruknya suara adalah suara lantang yang berasal dari orang kurang ilmu yang keras kepala

———————————————————–

-mengenang Nabi Muhammad SAW,
orang yang paling banyak bersedekah dengan tutur kata yang baik
‪#‎LatePost‬ ‪#‎MaulidNabi‬

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s