Siapa yang masih ingat? Waktu kita masih Egois dan Jujur

Begitu Wali Kelas menyinggung topik sakral itu, semua teman sekelas langsung diam, kebanyakan murid menunduk ke bawah, tidak ada yang mau melihat langsung ke mata Sang Wali Kelas. Tentu saja di antara teman sekelas, tidak ada yang mau ketiban tanggung jawab menjadi ketua kelas. Saya pun sama, langsung ambil buku dan corat-coret di halaman tengah, pokoknya gak mau kelihatan menonjol dan berharap tidak akan dikutuk sebagai pemimpin satu tahun ke depan. Akhirnya seperti biasa, Wali Kelas terpaksa menunjuk seorang insan terpilih yang (kurang) beruntung.

Itu drama yang terjadi waktu saya masih SD. Waktu itu kita semua masih egois -tapi jujur. Cukup egois untuk tidak mau direpotkan sama urusan orang lain. Tapi juga cukup jujur untuk mengakui bahwa kita tidak cukup baik untuk menjadi pemimpin orang lain.

Drama yang terjadi hari ini berbeda sama sekali. Anak-anak SD itu sudah dewasa. Mulai dari yang umur 20an sampai yang 50an, ramai-ramai ingin menjadi pemimpin. Anak-anak yang dulu tidak mau memimpin kelasnya ini, sekarang ingin menjadi pemimpin rakyat. Mereka bahkan akan terlegitimasi sebagai orang yang dipilih melalui pemilihan umum. Dipilih oleh rakyat. Kemajuan!

Mungkin kita sudah berubah. Mungkin kita tidak lagi egois : kita sudah mau direpotkan urusan orang lain. Mungkin juga karena kita sudah tidak jujur : pantas gak pantas memimpin, bukan lagi masalah. Yang penting memimpin. Karena memimpin … ada bayarannya.

Selamat datang 2017. Oh, asiknya jaman SD dahulu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s