To Read is To Listen

Sebulan terakhir ini ada tiga ‘buku’ yang sedang saya coba baca sampai selesai.

Yang satu, The Great of Two Umars, adalah sebuah buku fisik karangan seorang penulis dari Bandung, kelahiran Cianjur –lulusan IAIN Sunan Gunung Jati; Kang Fuad Abdurrahman. Dibaca sedikit-sedikit sebelum tidur. Sekarang tinggal sedikit lagi, satu bab terakhir; meninggalnya Khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Yang kedua sebenernya bukan buku, tapi 40 video Sirah Nabawiyah di Youtube yang dibawakan oleh Dr Khalid Basalamah. Ustadz sekaligus pengusaha kuliner dari Makassar yang sempat sekolah di Universitas Islam Madinah. Ini ‘buku’ Sirah Nabawiyah ke-tiga yang saya baca –dan bisa dibilang terpanjang. Agak gila juga sih, 40 x 2 jam. Jadi dengan segala kesibukan duniawi sebagai ‘tukang tas’, saya hanya bisa mendengarkan dari YouTube selama perjalanan pulang-pergi rumah-kantor. Sudah sampai video terakhir; Penaklukan Kota Mekah.

Yang ketiga, beda sendiri. Sapiens: a Brief History of Human Kind. Karangan Yuval Noah Harari, seorang profesor sejarah di Hebrew University of Jerusalem. Yes, tentu saja dia seorang turunan Yahudi. A secular one to be pricise. And did I mention that he’s also a gay? Buku ini tampaknya lebih enak dibaca dalam edisi bahasa Inggrisnya, karena diksi yang digunakan agak terlalu ‘advance’ untuk saya yang tidak bisa membedakan arti ‘humdrum’ dan ‘mundane’. Untung aja tertolong dengan munculnya tawaran kindle fire murah, yang tiba-tiba saja muncul di iklan tokopedia pada HP saya. Tinggal disorot kata-nya, terjemahannya muncul. Hebat, teknologi jaman ayeuna mah. Btw, bukunya agak tebel, jadi baru kelar 50% saja. Pas di bagian penulis mengkategorikan komunisme itu sama aja dengan christianity dan islam: a religion with a holy script

—-

Sore ini saya baru tersadar betapa opsi ‘iqro’ itu sudah sangat meluas. Di bulan Oktober ini rupanya saya sedang ‘membaca’, sekaligus menggunakan 3 tools yang berbeda; buku kertas, e-book dan video streaming. Semua dengan kelebihan dan kekurangannya. Semua dengan sensasinya masing-masing.

Tiga media ini juga kemudian membuka jendela pemikiran-pemikiran yang lebih luas, lebih lengkap, lebih detail, -more elaborate- untuk generasi yang baru. Oleh karena itu sangatlah sayang jika generasi baru ini tumbuh sebagai penyuka artikel pendek. Kadang-kadang saking pendeknya, lebih keren judulnya daripada isinya.

Padahal kalau kita perhatikan, para penulis canggih itu hampir pasti adalah pembaca/pendengar ulung. Jadi, kalau kita saat ini masih menjadi pembaca dan pendengar yang angin-anginan. Berarti kita sedang membangun bangsa dan umat yang kualitas pemikirannya sepoi-sepoi, bukan?

—-

Well… di luar kajaiban dunia interaktif di sosial media yang riuh dengan aksi dan drama, ada satu hal yang saya cintai dari dunia buku. Yaitu ketidakberadaan satu fitur canggih: ‘kolom komentar’!

Ketidakadaan ‘kolom komentar’ memaksa kita untuk membaca dan mendengar buku tersebut, menahan diri untuk tidak berkomentar –baik setuju atau tidak setuju– dengan ide di dalamnya.

Realitas memang terasa lebih sopan, lebih tenang dan lebih beradab di dalam dunia buku.

—–

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.