Negara Nazi di Nias dan Tentara KNIL penjaga Sang Proklamator : Pengingat Bahwa Dunia Tidak Hitam-Putih

Tahukan anda bahwa pernah ada kudeta NAZI di Indonesia di tahun 1942? Tidak lama sih, hanya selama hampir satu bulan saja -itu juga hanya di Pulau Nias. Rosihan Anwar pernah menuliskannya di buku Petite Histoire Indonesia jilid I. Jadi ceritanya begini. Setelah Negeri Belanda diserang penerjun payung NAZI tanggal 10 Mei 1940, pemerintahan Hindia Belanda segera mengamankan semua orang Jerman yang diketahui tinggal di wilayah Nusantara.

Jangan salah, di wilayah Hindia Belanda memang banyak perantau Jerman mencari peruntungan. Mereka hidup berdampingan dengan orang eropa lain, dengan berprofesi sebagai dokter, pengusaha, manajer, guru sekolah, dan sebagainya. Kok bisa? Ya bisa lah. Tidak selamanya Belanda dan Jerman itu musuhan kan? Lagipula untuk para ‘perantau’ eropa ini, yang penting, mereka bisa hidup mendapatkan rejeki dengan tenang. Sebagian mencari uang, sementara sebagian lagi mencari ilham. Seperti Walter Spies, sang Pelukis yang sudah lama tinggal di Bali.

Anyway, tidak peduli apakah orang Jerman di sini adalah pendukung Adolf Hitler atau justru musuhnya, semua orang Jerman ditangkapi dan diinternir. Bisa jadi, tentara KNIL Hindia Belanda saat itu harus menahan dokter giginya sendiri atau guru sekolah anaknya. Pada saat darurat perang, tampaknya sulit membedakan kawan dan lawan. Jadi yang penting semua diinternir dahulu. Yah … Mau diapain lagi? Itulah yang namanya perang.

Poros ABCD (American, British, Chinese and Dutch) kemudian menyepakati bahwa sebagian tahanan Hindia Belanda akan dikirimkan ke koloni Inggris di India lewat jalur laut. Sayangnya, nasib kurang baik menimpa sebagian tahanan yang dikirimkan menggunakan kapal penumpang ‘Van Imhoff‘ pada tanggal 19 Maret 1942. Dalam perjalanan dari Sibolga menuju India, kapal laut ini dibom oleh pesawat pengintai Angkatan Laut Jepang. Apesnya, kapten kapal dan para penjaga tahanan malah kabur dengan hanya menitipkan kunci-kunci kamar kepada beberapa pemimpin interniran Jerman. Emangnya gampang mencocokkan kunci dan pintu kamar di dalam kapal yang sedang tenggelam? 

Alhasil beberapa hari kemudian, hanya sekitar 65 interniran Jerman yang berhasil mencapai pantai-pantai Pulau Nias. Sisanya tenggelam ke dasar laut bersama Van Imhoff. Walter Spies, sang pemusik dan pelukis dari Bali, adalah salah satu korbannya.

Seluruh interniran Jerman ini kemudian disekap di tangsi Gunung Sitoli oleh sekitar 40 orang polisi lapangan Hindia Belanda di Nias. Tapi penahanan mereka ini tidak berlangsung lama. Seminggu kemudian, dengan bekerja sama dengan para penjaga yang tidak puas, mereka berhasil meloloskan diri, menyerang balik polisi Belanda, dan memenangkan pertempuran. Giliran polisi-polisi Belanda lah yang berbalik diinternir oleh tahanannya sendiri. Kudeta telah terjadi di Nias.

Mulai saat itulah Pulau Nias secara resmi berada di bawah kekuasaan Jerman. Mereka mengangkat seorang bernama Fischer untuk menjadi “Perdana Menteri” dan seorang dokter asal Bandung bernama Heidt untuk menjadi pemimpin mereka. Fischer bahkan berinisiatif membuat sebuah insinye (lencana) Swastika NAZI di Pulau Nias -tanda bahwa pulau tersebut berada di bawah kekuasaan sang Fuhrer.

Barulah dua puluh hari kemudian, tanggal 17 April 1942, tentara Jepang datang untuk mengambil alih kekuasaan dari pemerintahan NAZI ‘dadakan’ tersebut -kemudian mengamankan sebagian orang Jerman ke tanah Jepang. Pasukan Jepang ini disambut dengan bendera-bendera, gerebang kehormatan dan lagu Indonesia Raya. Rakyat bersuka ria dengan datangnya bangsa penolong dari timur.

Really??? Hanya butuh waktu beberapa bulan saja bagi rakyat Nias untuk menyadari bahwa ternyata sang penolong akan menjelma menjadi horror terburuk dalam sejarah Bangsa Indonesia. Belanda dan Jepang ternyata sama saja. Mereka masing-masing punya agenda sendiri, dan rakyat Nias adalah obyeknya -bukan pemeran utama.

Anyway, Saya sangat tertarik dengan karakter dr. Heidt. Sehingga saya paksain cari tahu sedikit tentang si pemimpin interim NAZI di Nias tersebut. Soalnya kok aneh, ada dokter bisa jadi pemimpin kudeta NAZI? Sebuah kebetulan kah? Betulkah jaman doeloe ada seorang bernama dokter Heidt di Bandoeng?

Tidak lama mencari, saya menemukan jawabannya di buku telepon Bandoeng (Telefoongids Bandoeng) terbitan tahun 1936. Ternyata memang ada seorang dokter yang tinggal di Bandung bernama Heidt. Nama lengkapnya Dr. K. Heidt. Dia rupanya dokter ahli THT yang tinggal di Burgemeester Kehrweg No 15, dekat tempat tinggal walikota. Dan menurut almarhum Rosihan Anwar, dia memang anggota partai NAZI Jerman. Bisa jadi dokter THT terpandang di Bandung tersebut, sejak lama merangkap sebagai mata-mata NAZI. Oh, keren banget kalau dijadikan film. Apalagi sejarah mencatat, dokter Heidt membunuh dirinya sendiri empat bulan setelah kudeta NAZI di Nias. Dalam pesan terakhirnya, dia mengatakan bahwa ‘dia tidak kuat lagi menahan rasa kesepian.’ Wah ….Tragis Banget! Kalau kejadian ini terjadi di tahun 2015, bisa kita bayangkan hebohnya headline di Vi** News, Piyu****, RM*L, Tole**n dan media-media gosip setara. 😀

Sepenggal sejarah Nazi di Nias ini sering megingatkan saya akan sulitnya melihat kehidupan sebagai sesuatu yang hitam-putih. Manusia tidak pernah hitam-putih. Sehingga sejarah yang ditinggalkannya juga jarang berwarna hitam putih. Dalam kehidupan nyata, jagoan tidak pernah tampan sempurna, penjahat tidak selalu terlihat bengis. Menyimpulkan sesuatu secara kontas: black and white, sering kali akhirnya membuat kita gigit jari belakangan.

Kejadian ini juga pernah terjadi pada seorang tentara KNIL muda yang ditempatkan di Bandung pada dekade terakhir kekuasaaan Koloni Belanda di Indonesia. Saya kenal dia secara tidak sengaja. Saat itu saya sedang jadi kuncen pameran foto dan pemutaran video Bandoeng Tempo Doeloe. Sesudah menonton film dokumenter bersama pengunjung lain, seorang kakek-kakek bule tiba-tiba mendekati saya sambil berkata “I probably killed your grand father, I was a dutch soldier back then.” Kaget saya dibuatnya. Ada kakek-kakek mengaku bahwa dia membunuh Aki Emon almarhum. “Ah ngaco nih bule. Kakek saya memang seorang TNI di jaman revolusi, tapi beliau meninggal waktu saya kelas 4 SD. Kakek saya yang mungkin membunuh komandan kamu“, gumam saya di dalam hati yang agak tersinggung.

Tapi rasa tersinggung di hati saya tidak bertahan lama. Kakek ini memang terlihat tua, tapi masih cukup sehat untuk jalan sendiri dan bercerita sambil sesekali berkelakar. Dia kemudian nyerocos dalam bahasa Inggris. Dia bilang bahwa dia termasuk tentara asli dari Nederland yang dikirimakan ke Hindia Belanda. Berbeda dengan Belanda Indies, yang kulitnya putih tapi lahir di nusantara, bule asli Belanda cenderung lebih sombong dan merendahkan Inlander. Mereka menganggap bahwa semua Inlander adalah bodoh dan tidak berpendidikan. Jadi tidak mungkin lah mereka membiarkan sebuah negara bernama Indonesia merdeka. Siapa, orang bodoh, yang sanggup mengelola pemerintahan sebuah negara seluas ini?

Kakek ganteng ini pada akhirnya mengaku bahwa dia mungkin salah. Ada satu orang Inlander yang berhasil mengubah persepsinya tentang kemampuan Bangsa Indonesia untuk mengelola negaranya sendiri. Waktu masih muda, dia kebetulan ditugaskan di Bandung untuk menjaga seorang tahanan politik. Tapol yang satu ini langganan masuk penjara, sekaligus langganan minta diantarkan buku ke dalam sel tahanan. Orangnya masih muda dan bisa berbicara beberapa bahasa dunia. Awalnya dia bingung, “Kok ada Inlader bisa sangat lancar berbahasa Belanda sekaligus lebih lancar berbahasa Inggris daripada dirinya yang orang eropa?

Ternyata sebabnya adalah, berbeda dengan tentara muda yang jarang baca buku, Si Inlander kayaknya sudah pernah baca segala macam buku dengan berbagai topik yang pernah dituliskan manusia. Orang ini kutu buku merangkap singa podium. Walau sama-sama ganteng, secara intelektual, si kulit putih merasa lebih inferior dibandingkan si kulit coklat. Di dalam lingkungan sel penjara itu, dunia sudah terbalik.

Soekarno is something“, dia bilang. Mereka berdua akhirnya sering berbicara di kala senggang. Soekarno yang umurnya lebih tua dan juga lebih berpengalaman, akhirnya sering ‘mengajari’ tentara muda ini tentang kehidupan dan dunia. Sebagai orang yang jarang membaca buku, tentara muda ini akhirnya menganggap sang tapol menjadi teman belajarnya. Tapol ganteng inilah yang kemudian meyakinkan si tentara muda bahwa Bangsa Indonesia layak diberikan kesempatan untuk merdeka. …. ckckckck …..Saya kagum, begitulah cara Soekarno meyakinkan lawannya -begitulah cara Soekarno memerdekakan Indonesia.

Di akhir pembicaraan, kakek penjaga Soekarno ini bilang sesuatu yang menggelikan, “You know what? What I admire most about Soekarno is his taste of women. You HAVE TO listen to a man with a good taste of women.” *Pengen guling-guling saya mendengarnya. Dua bangsa ini lagi perang, sementara dua orang ini malah berbagi selera kecengan. Dunia memang tidak hitam putih. Orang yang ‘melihat’ dunia dengan kaca mata hitam-putih, mungkin ‘merasakan’ rasa ‘hitam-putih’ juga di hatinya. Gak mau ah.

———————————————

*) Tulisan ini ditulis untuk anak-anak saya; Samudra (yang suka curi-curi baca blog saya), Sakti yang baru mulai belajar membaca, dan Arix yang kayaknya baru lima tahun lagi bisa baca. Santai aja, boys! The world is full of colors! Be Good, Enjoy it!

*) Gambar becandaan “I was thinking of making the world black and white, then I thought ….. naaah” dipinjam dari http://www.quotespictures.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s