BISNIS RITEL ITU BUKAN TINJU, RITEL ITU MARATHON

on

Banyak yang tanya, kenapa saya & Uda Hanafi selepas kampanye Ridwan Kamil 2013, agak jarang muncul ke permukaan. Bukan, Sob. Bukan alasan politik atau lagi ngelmu di dalam goa.

Kalau kita gak sesering itu ‘wara-wiri aktipis’, sebenarnya karena kita lagi membuat fondasi produk asli Bandung yang disiapkan agar bisa bersaing dalam persaingan di Indonesia, asia dan dunia.

Karena cita-citanya tinggi, kayak cita-cita anak SD, maka belajarnya harus super serius. Alhamdulillah kami dapat sekolah nomor wahid : Shafira Corporation (Shafco). Di sana kami dapat 3 mentor senior : Ibu Feny Mustafa, Pak Murzid Hilmi Aziz dan Pak Gilarsi Setijono. Tiga dari sedikit orang Indonsia yang menguasai ilmu pengembangan bisnis ritel dari ukuran startup sampai top brand corporation. Mereka bertiga mentor sekaligus komisaris saya.

“Ritail is science, Ben. Semua bisa diukur”, begitu kata Pak Gil yang lulusan ITB.

“Sales itu darah semua bisnis, Ben. Produk kamu harus beredar di seluruh saluran distribusi. Baru sebuah bisnis bisa tumbuh,” kalau ini khas Pak Murzid, mantan direktur utama Shafira dan aktivis Kadin.

Bu Feny yang instingnya tajam, di tahun pertama langsung bilang “Kalau belum ke China, kamu gak cukup pengetahuan bisnis, Kapan kita berangkat?”

Tiga tahun yang lalu, saya dan Hanafi, belum punya cukup ilmu untuk mengembangkan bisnis skala saat ini. Jadi selama 1,5 tahun kami harus belajar di dalam Grup Shafco, me-manage bisnis yang ukurannya sangat besar.

Jadi kami belajar pada direktur-direktur dan manager-manager Shafco di dalam proyek bersama di dalam Grup. Mereka ini seperti Assisten Dosen praktek. Sangat pintar dalam urusan merchandising, warehousing, sales operation, dll.

Selama fase ini, saya lebih memilih mendengar dan melakukan. Saya jarang bicara, karena saya sedang jadi murid. BIcara secukupnya dan banyak bekerja.

Parameter lulusnya ‘cadas pisan’, Proyek kita harus mencapai ‘titik-titik titik-tikik M’ per tahun. Alhamdulillah dalam satu setengah tahun kami lulus program mentorship.

Setelah lulus, Pak Gil kemudian menantang saya untuk mengajukan sebuah konsep bisnis baru yang akan kita garap bersama-sama. Syarat-syaratnya:
(a) Besaran pasar nasional masa depan harus setara Zoya, salah satu leading brand Shafco.
(b) Competitive dan Comparative Advantage harus dimiliki Bandung dan Indonesia.
(c) Mampu bersaing dengan produk luar yang sedang siap-siap masuk Indonesia.
(d) kanal distribusinya sudah teridentifikasi dengan baik.

Yang menarik adalah Pak Gil mensyaratkan untuk memilih
(e) bisnis yang harus saya sukai.

Begini berkatanya, “Saya tahu kamu dasarnya adalah seorang desainer. Pastikan kamu menyukai bisnis ini. Saya tidak ingin mood membuat kamu mental di tengah jalan.”

Pak Gil tahu sekali bahwa BIsnis Ritel itu tidak sama dengan olahraga Tinju. Jangan harap, hanya karena badan kita besar dan pukulan kita mujarab, maka kita bisa menang di ronde pertama –lalu pulang sebagai pemenang.

Lagipula mengkanvaskan pesaing di dasar ring bukanlah tujuan bisnis ritel. Jangan mengalahkan musuh dengan menciptakan musuh yang baru. Suatu saat musuh-musuh kita akan bersatu -dan kita adalah musuh bersamanya. Sejarah sudah membuktikan hal ini berkali-kali. Fear this!

PInjam dikit perumpamaan pak Anies Baswedan:
~
Lawan debat adalah teman berpikir,
Lawan badminton adalah teman berolah raga
~
berarti

Lawan dagang adalah teman berbisnis <– ini bukan kata pak Anies

Sebenarnya bisnis ritel itu lebih mirip Marathon. Tidak masalah siapa yang mulai duluan. Keberhasilan pertandingan marathon itu syarat utamanya adalah sampai ke finish. Sampai finish (mencapai tujuan) itu susah, lama, butuh stamina.

Kita harus tetap cepat -sepanjang jalan.
Kita harus punya nafas panjang -untuk perjalanan yang panjang.
Kita harus senang hati mengayunkan setiap langkah -sampai finish.

By the way, enaknya posisi ‘kuda hitam’ adalah kita bisa melihat lawan kita dengan jelas di depan. Sementara posisi leader harus selalu melihat ke belakang -padahal menengok ke belakang ini sebenarnya membuang waktu.

So, jangan takut marathon di belakang.

——-
*) teriring video bisnis TORCH hasil diliput program TV Laptop Si Unyil di TRANS7.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s