Uang adalah rejeki. Rejeki adalah uang. Really?

Sebenarnya apa sih uang itu? Kekurang uang katanya banyak membuat manusia terlibat korupsi, penggelapan, kolusi, pencurian dan segala jenis variannya. Kebanyakan uang juga kadang membawa efek yang gak kurang nista : sombong, bermewah-mewahan, kurang bersyukur dan segala jenis variannya.

Mari kita jujur. Di alam bawah sadar kita mungkin tersirat ‘Uang adalah Rejeki’ dan  ‘Rejeki adalah uang’. Betul?

Uang (logam) sebagai medium pembayaran mulai digunakan manusia sejak sekitar 2600 tahun yang lalu. Sebenarnya sih sudah ada jenis barang-barang lain yang digunakan manusia sebagai alat tukar selain uang. Misalnya dahulu orang Romawi menggunakan ‘garam’ sebagai alat pembayaran upah. Itu sebabnya, sampai sekarang bahasa inggris untuk ‘gaji’ adalah ‘sallary’, yang diambil dari bahasal latin untuk garam : ‘salarium’. Tapi konsep garam sebagai alat tukar tidak bertahan, karena mudah hilang dan nilainya yang kurang tinggi. Maka konsep uang (logam) lah yang terus berkembang sampai saat ini.

Anyway, kalau rejeki adalah adalah uang, apakah berarti manusia yang hidup 3000 tahun yang lalu gak pernah dapat rejeki? Enggak juga kan?

Sebelum uang diciptakan, manusia konon menggunakan sistem barter; menukarkan barang kebutuhannya dengan barang kebutuhan orang lain. Sistem ini tidak sesimpel yang kita kira. Timing dan kecocokan barang yang saling dibutuhkan, sering kali tidak pas. Misalnya : ada petani yang punya surplus beras, ingin menukarkan sebagian berasnya dengan daging kambing. Kemudian dia mencari peternak kambing, lalu menawarkan untuk menukarkan 4 karung berasnya dengan seekor kambing. Eh, ternyata sang peternak masih punya 2 karung beras, dia lagi gak butuh beras banyak-banyak. Kalaupun butuh dia cuman perlu 2 karung beras saja. Masa mau menukar 2 karung beras dengan separuh kambing? Kasihan amet kambingnya.

Makanya kemudian beberapa bangsa di dunia berinovasi menciptakan alat tukar yang lebih fleksibel, namanya uang. Bangsa-bangsa ini mulai menggunakan uang yang digunakan sebagai media penukar barang/komoditi. Biar gak usah galau menukarkan separuh kambing dengan dua karung beras. Negara atau penguasa lah yang bertugas menerbitkan media tukar bernama uang tersebut.

Jadi pada dasarnya uang itu hanya media perantara pertukaran barang kebutuhan.

Sayangnya kemudahan yang ditawarkan konsep ‘uang’ ini kemudian menjadi jebakan batman bagi manusia modern. Konsep ‘kaya raya’ berlabel financial freedom menjadi lebih mungkin terjadi, daripada di jaman sebelumnya. Karena uang itu memiliki kelebihan yang luar biasa, yaitu INSTAN -mudah dan cepat ditukarkan dengan benda lain.

Menjadi kaya pun jadi lebih simpel dan menyenangkan. Jaman sekarang orang yang kekayaan cash totalnya 10 milyar, hanya perlu membuka beberapa rekening bank. Kekayaannya akan tercatat di beberapa buku tabungan ataupun secara digital. Dijamin oleh bank. Aman, selama tidak ada resesi. Bermalas-malasan sambil menikmati bunga atau pembagian keuntungan sangat dimungkinkan di era modern ini.

Bayangkan (kalau ada) seorang peternak kambing 3.000 tahun yang lalu yang memiliki kekayaan senilai 10 milyar. Jika harga kambing satu juta rupiah maka dia, kasarnya, harus memiliki peternakan berisi 10.000 ekor kambing. Sebesar apa peternakannya? Kalau peternakan kambingnya terkena wabah, dalam sebulan dia bisa jatuh miskin semiskin-miskinnya. Susah jadi orang kaya jaman dahulu. Kalau mau kaya, kekayaanya harus terus digerakkan. Diinvestasikan langsung di perdagangan yang berbeda-beda, agar tetap aman. Jaman dahulu, kaya itu harus produktif. Kaya itu capek. —welltentu ini tidak berlaku untuk keluarga kerajaan dan bangsawan.

Itu juga sebabnya perdagangan adalah bagian yang integral dalam pendidikan (informal) jaman dahulu. Di jaman sekarang, banyak orang yang sudah dewasa tapi belum pernah dagang. Belum pernah merasakan menjual sebuah pensil pada orang lain, satu kalipun!

Maka jaman sekarang, lebih banyak juga penipu. Karena orang-orang dewasa tidak punya pengalaman berdagang sejak kecil. Dikirimi SMS hadiah mobil, langsung percaya. Orang jaman dahulu tidak akan percaya itu, mereka lebih tahu bahwa rejeki tidak bekerja dengan jalan instan seperti itu. Apalagi jaman dahulu manusia hidup sebagai masyarakat agraris. Mereka sangat paham kesabaran dalam menumbuhkan bulir demi bulir beras, membesarkan sekawanan anak kambing, dan sangat tahu capek (sekaligus asyiknya) mengumpulkan dedaunan untuk membuat lotek dan gado-gado.

Guys, hati-hati dengan jebakan instan uang: ingin cepat kaya, ingin ganti-ganti mobil bagus, ingin terlihat keren (walau hanya di Fb dan IG) atau ingin terlihat sukses (di saat reuni SMA). Instan selalu comes with a price. Jangan sampai biaya ke-instan-an ini ditukarkan dengan harga diri, integritas bahkan kehidupan kamu di alam yang selanjutnya.

Untuk teman-teman yang menjalani jalan hidup berbisnis, kadang uang lebih bertanduk. Karena dalam bisnis, kita selalu harus menyertakan uang sebagai salah paremeter pencapaian target. Kurang uang, bisnis mandeg. Padahal di saat yang sama kita harus tetap sadar bahwa uang itu bukan segalanya.

Lebih enak jadi anggota DPR, karena parameter kesuksesannya adalah jumlah undang-undang yang dihasilkan — bukan uang yang dihasilkan. Tapi  kok justru banyak koruptor di sana, ya? *Ini jawabannya, kali : ‘karena mereka gak ngerti tugas mereka sendiri.’ 

meme-rupiah_14

Mari perbaiki persepsi kita tentang uang. Rejeki bukanlah hanya uang. Uang tidak selalu berarti rejeki. Syukurilah rejeki-rejeki kecil di dalam hidup:

  • Bersyukurlah alis mata kita masih bisa tumbuh di atas kiri dan kanan mata. Coba kalau tumbuhnya yang kiri di atas –lalu yang kanan di bawah mata.
  • Bersyukurlah kita hanya bisa melihat masa kini. Kalau bisa melihat masa depan, hidup kehilangan excitement-nya. Gak seru lagi nonton Liga Inggris. Boring. 
  • Bersyukurlah kita tidak setenar artis. Jadi kalau berbuat salah dikit gak bakal masuk infotainment dan dibuatkan meme yang gak akan hilang dari halaman satu google image search selama 2 tahun ke depan.
  • Bersyukurlah walaupun uang gak banyak, masih bisa belanja ke Factory Outlet untuk cari barang branded rijek dan KW2. Soalnya kalau sudah urusan mati, sebanyak apapun uang kita, hanya perlu beli kain kafan. Dan sebagus apapun kain kafan, gak ada yang branded. Kalau ada yang branded pun percuma, emang malaikat harus bilang wow gitu?

——-

“Money will buy a bed but not sleep; books but not brains; food but not appetite; finery but not beauty; a house but not a home; medicine but not health; luxuries but not culture; amusements but not happiness; religion but not salvation; a passport to everywhere but heaven.”

——-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s