Johann Ludwig Bruckhardt, Penemu Kota Tua Petra yang Dimakamkan Sebagai Seorang Muslim

Pernah mendengar tentang Kota Tua Petra di Jordania? Ternyata ada cerita unik tentang seorang petualang muda yang jalan hidupnya agak ke-‘Indiana2 Jones’-an <<kata yang aneh untuk menggambarkan petualang muda pemberani yang super niat dalam petualangannya.

Namanya Johann Ludwig Burckhardt, lahir tanggal 24 November 1784 di Lausanne, Switzerland. Ia berasal dari keluarga Basel, keluarga pedagang sutra yang terpandang. Semasa muda, Burckhardt sempat bersekolah di dua universitas di Jerman; Universitas Leipzig dan Universitas Gottigen.

Pada tahun 1806, pada umur 22 tahun, Burckhardt pindah ke Inggris untuk melamar sebagai pegawai negeri, namun tidak berhasil. Ia justru mendapatkan pekerjaan di Kantor African Association (Inggris) -dalam sebuah proyek ekspedisi perbaikan Sungai Niger, Afrika.

Pada saat itu tidak ada rute perjalanan langsung dari daerah Afrika Utara ke pedalaman Afrika. Sehingga untuk dapat sampai ke sana dia harus melewati perjalanan darat dari Kairo ke Timbuktu. Sebagai persiapan, dia mengambil kuliah di Universitas Cambridge -mempelajari bahasa arab, sains dan pengobatan. Agar lebih afdhol, dia juga membiasakan diri mengenakan pakaian arab muslim dalam kesehariannya. *niat bangeeet

Burckhardt meninggalkan Inggris menuju Syiria tiga tahun kemudian di tahun 1809. Dalam perjalanan melalui jalur Laut Mediterania, ia singgah di Malta, di mana dia mendengear tentang seseorang bernama Dr. Seetzen yang terbunuh dalam pencarian legenda kota yang hilang -bernama Petra.

Sesampainya di Syria, Burckhardt memulai penyamarannya dengan mengganti namanya menjadi Shiekh Ibrahim bin Abdallah. Tragisnya walau sudah menyamar sebagai orang arab, berkali-kali dia tetap dirampok oleh orang-orang yang sebenarnya dibayar untuk memberikan proteksi baginya.

Akhirnya dia memutuskan untuk hidup dan belajar menjadi seorang muslim di Aleppo selama dua tahun, agar dapat berbaur lebih baik dengan orang-orang arab. Setelah cukup fasih dalam budaya arab dan praktek ibadah islam, ia mengetes samarannya langsung di tiga tempat; Lebanon, Palestina dan Transjordan (wilayah sekitar perbatasan Yordania dengan Palestina sekarang).

Tahun 1812, pada umur 28 tahun, dengan kemampuan bahasa Arab, pengetahuan budaya arab dan dalam samaran sebagai muslim yang lebih baik, Burckhardt meninggalkan Aleppo menuju Kairo.

Tiba di Wilayah Kerak, Burckhardt meminta perlindungan gubernur setempat, Gubernur bergelar Seikh Yusuf kemudian memintanya untuk meninggalkan semua barang kepemilikannya yang berharga sebelum melanjutkan perjalanannya. Dia diberi seorang penunjuk jalan oleh Sang Gubernur. Sayangnya penunjuk jalan tersebut ternyata seorang bandit. Burckhard kembali dirampok oleh penunjuk jalannya sendiri –dan ditinggalkan di tengah padang pasir.

Untungnya Burckhardt berhasil menemukan pertolongan dari sebuah klan kaum Badui di sana. Burckhardt a.k.a Syeikh Ibrahim kemudian melanjutkan perjalanannya ke arah selatan dengan bantuan penunjuk jalan baru.

Dalam perjalanan menuju Teluk Aqaba, Burckhardt mendengar isu tentang situs yang menurut legenda adalah makam Nabi Harun, saudara Nabi Musa. Pada saat itu dia berada di daerah bernama ‘Arabia Petrea’, wilayah bekas taklukan Romawi.

Hal ini mengingatkannya pada legenda kota yang hilang, yang ia dengar waktu singgah di Malta. Namun rahasia keberadaan kota legenda ini sangat dijaga oleh kaum Badui di sekitar gurun. Tidak sembarangan orang diperbolehkan untuk masuk ke dalamnya.

Dengan bermodalkan identitas arab muslimnya, dia mengatakan pada penunjuk jalannya bahwa dia hendak mengurbankan seekor kambing bagi Nabi Harun. Akhirnya dia diantar melalui sebuah lembah batu yang panjang, dan pada tanggal 22 Agustus 1812 dia menjadi orang barat pertama yang melihat Kota Kuno Petra.

—“Sebuah mauseoleum kosong terlihat. Suasana dan keindahan yang sengaja dibangun untuk memberikan impresi yang menggetarkan bagi pejalan yang tiba sesudah menyusuri sebuah lembah yang dalam dan temaram -selama setengah jam.
Orang-orang lokal menyebut monumen ini Kaszr Faraoun atau Kastil Firaun; dan pura-pura menganggap tempat ini adalah tempat tinggal sang pangeran. Padahal sebenarnya tempat ini lebih tepat dikatakan sebagai makam sang pangeran, dan bangunan teragung di tempat ini adalah tempat menaruh harta kekayaan kota, yang berhasil menjadi monumen kehebatan penguasa-penguasanya.”
—-
Demikian tertulis dalam buku yang ia tulis kemudian: “Travels in Syria and the Holy Land.”

Dia tidak dapat tinggal lama di kota kuno tersebut karena takut penyamarannya terbongkar. Ia menuliskan keberadaan kota kuno ini dalam catatannya, lalu meneruskan perjalanannya melalui gurun Transjordan dan Semenanjung Sinai.

Burckhardt tiba di Kairo tanggal 4 September 1812, 8 bulan setelah dia meninggalkan Aleppo. Dia memutuskan untuk tinggal selama 4 bulan di Kairo sambil ‘menunggu’ rombongan karavan lewat yang menuju Sahara ke arah barat Afrika. Ketika tidak kunjung muncul karavan menuju ke Sahara, dia memutuskan untuk berangkat ke arah selatan menyusuri pinggiran sungai Nil menggunakan keledai ke arah Dongola, Sudan.

Dia pergi meninggalkan Kairo di bulan Januari 1813. Namun seratus mil sebelum Dongola, Burckhardt kembali dirampok. *banyak sekali perampok saat itu, yaaa!

Beruntungnya, pada bulan Maret 1813 sebelum tiba di Dongola, Burckhardt secara tidak sengaja menemukan Kuil Agung Ramses II (Kuil Abu Simbel) yang terkubur di bawah pasir . Setelah bersusah payah beberapa lama untuk menemukan pintu masuk kuil, akhirnya ia menyerah. Ia kemudian mengirimkan surat pada seorang rekannya, Giovanni Belzoni, mengenai temuannya ini. Belzoni kemudian datang dan berhasil menemukan pintu masuk ke dalam kuil pada tahun 1817. Burckhart sendiri meneruskan perjalannnya ke Dongola.

Peta Perjalanan Bruckhardt

Ketiba tiba di Shendi, Sudan. Burckhardt tidak belok ke arah barat menuju Niger sesuai dengan misinya. Dia malah mendapatkan ide untuk berhaji ke Makkah. Ia beralasan bahwa hal ini perlu dilakukan agar identitasnya sebagai seorang muslim semakin meyakinkan. Karena penduduk yang tinggal di sekitar sungai Niger adalah orang-orang beragama islam.

Alih-alih berbelok ke barat, dia malah berbelok ke timur di sekitar Ethiopia, kemudian menyeberangi Laut Merah menuju jazirah Arab.

Ia tiba di Jeddah pada tanggal 18 Juli 1814, setahun lebih setelah dia meninggalkan Abu Simbel. Di arabia Burckhardt terserang sakit disentri untuk pertama kalinya. Kabar baiknya, ia berhasil mendapatkan izin untuk memasuki Tanah Haram setelah dia berhasil membuktikan keislamannya pada penguasa setempat.

Selama beberapa bulan, ia tinggal di Mekah dan melakukan ibadah haji. Ia menuliskan tata cara ibadah haji dalam sebuah jurnal, yang kemudian menjadi acuan seorang penjelajah barat lain, Richard Burton, dalam menjelajah tanah suci di kemudian hari.

Tampaknya Burkhardt mulai tertarik kepada budaya Islam. Dia malah meneruskan perjalannya menuju Madinah, semakin menjauhi daerah Niger yang menjadi tujuan awalnya. Di Madinah ia kembali terserang disentri dan harus beristirahat menyembuhkan diri selama tiga bulan.

Sesembuhnya dari disentri, Burckhardt memutuskan untuk kembali ke utara, menuju Kairo melalui Semenanjung Sinai melalui jalan darat. Ia tiba di Sinai dalam keadaan dehidrasi berat, nyaris tidak selamat.

Tapi rupanya rejeki Burckhardt masih baik. Ia berhasil kembali ke Kairo pada tanggal 24 Juni 1815. Tiga setengah tahun setelah dia meninggalkan Aleppo.

Kemudian Ia memutuskan untuk tinggal di Kairo selama 2 tahun, sambil menuliskan jurnal perjalannya. Dia masih sempat mengunjungi Alexandria dan Gunung Sinai -sambil menunggu karavan yang akan membawanya ke tujuan semula –Sungai Niger. Sayangnya sebelum karavannya berangkat, Burckhardt kembali menderita disentri.

Kali ini rejekinya sudah habis. Ia meninggal pada tanggal 15 Oktober 1817, sebelum dia genap berumur 33 tahun. Dia dimakamkan sebagai seorang Muslim di dalam sebuah makam yang bertuliskan nama Islamnya: Syeikh Ibrahim bin Abdallah.

——
~originally written for torch.id (18/4/2016)


PS : Kalau tidak familiar dengan kota-kota dan wilayah yang diceritakan di atas, silahkan lihat peta perjalanannya di peta google maps yang saya buat di sini >> https://www.google.com/maps/d/u/1/edit?authuser=1&mid=125psD0ZFe4X74MCFYpGg_U15iIc

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s