Tolak Bala dengan Sedekah Waktu

Belakangan saya sering sengaja ‘ngopi-ngopi santay’ dengan beberapa teman masa remaja. Well …Jadi manusia berkepala empat –a.k.a separo tua–, memang ada enaknya. Jika kita melihat ke belakang, ada empat puluh tahun sejarah yang kita pernah lihat dan alami sendiri. Hidup tidak lagi teori, tidak lagi kaku.

Saya punya banyak teman transformers; dulunya bujangan pleboy–sekarang jadi bujangan doang, dulunya susah kaya –sekarang susah miskin, dulunya susah gerak –sekarang susah diem …atlet lari .. spartan!

Hidup adalah perubahan. Seperti batu yang ngejugrug di tikungan jalan, tidak akan kita anggap hidup, karena enggak berubah wujud dan posisinya. Memang beberapa teman yang lain tampak tidak berubah, —-karena pakai cat rambut hitam. Teu kaci ah …hehehe

Anyway, ketika ngopi-ngopi santay ini saya sering ketiban pertanyaan yang sama dari beberapa teman-teman yang rupanya walau jauh tetap sempat saling kepo di Fb. Pertanyaannya, “Elu ngapain sih rajin amet ikut kegiatan ini-itu di Bandung?”

Kadang saya terkesima juga ketika ditanya begitu. Gak bisa jawab karena hal-hal itu bukan sesuatu yang saya benar-benar awalnya diniatkan. Kebiasaan.

Tapi tentang ‘ngapain aktif ini-itu di luar kerjaan‘, sekarang saya bisa bilang bahwa alasan saya adalah: Tolak Bala: nolak petaka.

Jadi gini, Kang Mas Bro. Temen-temen tahu kan bahwa saya setelah lulus kuliah memilih jalan wirausahawan. Financially, jalan wirausaha ini bukan jalan yang mudah. Kita-kita di jalan ini, sejak awal harus belajar untuk memikirkan hajat hidup banyak orang di luar keluarga sendiri. Usaha kita susah maju kalau hanya dikerjakan sendirian. Kita harus belajar berani merekrut tenaga pembantu pewujud mimpi. Konsekuensinya kita harus mau ikut bertanggung jawab terhadap hidup orang lain: hidupnya partner, karyawan, dan anak istrinya. Intinya, ikut memikirkan keluarga orang lain.

Di awal karir sebagai wirausahawan, saya belajar ikhlas menggaji karyawan lebih besar daripada menggaji diri sendiri. Saya juga belajar rela, membayar THR karyawan tepat waktu, padahal kita yang punya perusahaan, dapat THR justru sesudah hari raya. Itu juga kalau panen hari rayanya lancar. Kalaupun punya untung lebih, karena enggak bankable, yang kepikiran pertama adalah memasukkan lagi untung ke modal. Ujung-ujungnya duit kita mah, yah … secukupnya aja.

Habis mau gimana lagi? Kalau kita enggak berusaha ikut menjaga kehidupan karyawan, bagaimana mereka mau ikhlas bantuin kita mengejar mimipi kita?

Lama-lama hal ini jadi kebiasaan. Dan jadi kepercayaan. Saya jadi percaya bahwa membantu orang lain itu adalah membantu diri sendiri. Dan sebagai orang yang uangnya ‘secukupnya saja’, cara paling masuk akal untuk dapat banyak bersedekah adalah sedekah waktu -karena sedekah duit masih terbatas.

Dari sana saya mulai meluangkan waktu saya. Selepas kantor atau di sela-sela kesibukan, saya sedekahkan waktu saya untuk orang lain. Melakukan hal yang bermanfaat untuk orang lain, yang kadang gak ada duitnya.

Sudahlah uang cuman secukupnya, lalu dengan waktu yang tersisa malah melakukan sesuatu yang gak ada duitnya.
ehkok gak keihatan logikanya, ya? gak menarik .. heu heu heu

Memang. Saya pun baru sadar bahwa sebenarnya ada logika yang mendukung kelakuan saya ini. Saya temukan logikanya ketika mendengarkan Ippho Santosa di acara ulang tahun Safira Corporation. Menurut Mas Ippho, ternyata banyak penelitian yang memperlihatkan bahwa giving charities, sedekah, atau apapun istilah lainnya, meningkatkan serotonin di dalam otak kita. Serotonin, zat yang menciptakan rasa bahagia di dalam diri kita, terbukti bisa dihasilkan ketika kita bersedekah, ketika membantu orang lain dan ketika kita sharing dengan orang lain.

Ternyata dengan membagi sebagian waktu saya untuk orang lain membuat saya menjadi orang yang lebih bahagia. Di dunia yang luar biasa semrawut ini, untuk bisa menjadi manusia yang berbahagia, adalah rejeki yang sangat-sangat pantas disyukuri.

——-

Uda Hanafi, partner kerja saya, dulu pernah bilang, “Kalau lu lagi punya kesusahan. Jangan merasa spesial. Lalu mutung-mutung nyalahin keadaan. Seakan-akan hanya kepada elu lah kesusahan ini datang. ELU ENGGAK SPESIAL. Ketika lu misalnya merasakan patah hati berbarengan dengan susah duit, sebenernya di belahan dunia yang lain, mungkin ada ratusan juta orang lain yang juga sedang sakit hati dan susah duit pula. Kalau kebanyakan orang lain bisa menghadapinya lalu move on, kenapa lu tidak?”

——–

Apa yang Hanafi katakan ini banyak benernya. Satu: musibah tidak terjadi pada kita saja. Dua: ngapain mutung-mutung. Tiga: Kalau orang lain bisa, kenapa kita gak bisa.

Still, ketika melihat masalah orang lain yang kayaknya berat banget atau banyak banget atau berturut-turut banget, gentar juga hati ini. Itu sebabnya kita musti sering-sering berdoa dan berusaha agar musibah jenis ini –jenis yang berat untuk dihadapi, tidak terjadi pada kita.

‘Kan ada yang bilang bahwa kalau lagi susah saatnya perbanyak sedekah. Betul tuh. Tapi mungkin lebih baik lagi kalau susah-senang sedekah jalan terus. Punya uang, sedekahkan uangmu. Lagi gak punya uang, luangkan waktu untuk menyedekahkan pikiranmu. Jika pikiran lagi mentok, luangkan waktu untuk menyedekahkan jaringanmu. Jika jaringan kurang luas, luangkan waktu untuk menyedekahkan sekedar tulisanmu. Jika merasa tidak pandai nulis, luangkan waktu untuk menyedekahkan sedikit telingamu untuk mendengar masalah orang lain. Jika telinga pun sedang tidak siap mendengar, tanyakan pada orang lain, waktumu bisa digunakan untuk membantu apa lagi?

Intinya, banyak hal yang kita miliki -yang bisa bermanfaat untuk orang lain. Karena di sekeliling kita: ada orang yang butuh uangmu, ada yang butuh tulisanmu, ada orang yang butuh jaringanmu, ada yang butuh senyummu, dan lain-lain dan lain-lain.

Dengan mencoba menyedekahkan sebagian waktu kita untuk memecahkan masalah orang lain, mungkin kita akan terlalu sibuk memecahkan masalah di sekeliling kita, sehingga Yang Maha Pengasih akan berbaik hati untuk tidak lagi menambah masalah untuk dirimu dan keluargamu sendiri. Insya Allah, karena Allah tidak membebani seseorang diluar kemampuannya (lihat Al Baqarah 286, deh).

Kita sedekahkan dengan apa pun yang miliki >> kita sibuk meringankan beban orang lain >> beban hidup kita akan dikurangi olah Yang Maha Pengasih. Sedekah itu tolak bala. Selamat mikir. Selamat sedekah.

Wallahu a’lam bishawab.

————-

benwirawan.com
~ditulis sambil nunggu bayar pajak motor
~foto pinjem dari dreamcenterpert.org

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s