Bagaimana Rasanya jadi Anak Bandung tahun 1940an

Mungkin tidak banyak orang cukup beruntung untuk bisa tinggal di wilayah Pasteur pada peralihan tahun 30an sampai 40an. Sebuah jendela waktu kecil, di antara kembangnya Gemeente (kotamadya) Bandung dan kedatangan pasukan Jepang.  Seratus tiga puluh tahun sejak Daendles mengucapkan niatnya membangun kota di pegunungan tinggi Parahyangan.

Bayangkan pagi hari yang masih membuat gigi gemeletuk dan badan menggigil. Setiap pagi, kulit kamu yang bintik-bintik kedinginan, selalu minta dijemur di bawah sinar matahari yang malu-malu keluar di balik pohon-pohon tinggi di sekitar Curieweg (baca : kyu-rie-weh), Pasteur.

Tetangga sebelah kulitnya berwarna putih, mengenakan celana cargo berwarna putih, dan topi polka meneer berwarna putih. Padahal pada saat itu, belum ditemukan yang namanya mesin cuci. Tidak terbayang capeknya kan’, kalau semua baju harus berwarna putih?

Sambil mengayuh sepeda ke arah timur –tetangga kamu menyapa, “Goedemorgen!”. Bapakmu, Pak Guryajid, yang turunan Ciamis asli, menyapa balik, “Goedemorgen, Meneer”.

Si kulit putih itu bernama Meneer Van den Berg. Dia atasan bapak. Dia pimpinan Jawatan Tera Hindia Belanda yang berpusat di Bandung. Pekerjaan bapakmu adalah Asisten Kaliberasi Timbangan atau Her Ijker (baca: her eyker). Kerjanya? Memastikan bahwa semua pedagang di Hindia Belanda tidak mencurangi pelanggannya dengan timbangan kuda.

Saat itu, kamu masih kecil. Kamu lahir 7 tahun sebelum tentara-tentara berbadan pendek dari Jepang datang, menangkap dan menahan tetangga-tetangga kamu yang berkulit putih. Sebelum tentara Jepang datang, kehidupan di kota kecil ini lebih tenang. Sesudah itu, kehidupan jadi penuh suara senjata, pekik perang dan pengungsian ke sana-sini. Mungkin, seluruh dunia seperti itu. Kata orang sih, sedang revolusi dan Perang dunia ke-dua. Padahal kamu gak tau, kapan juga perang dunia pertama-nya?

Beberapa waktu sebelum kelahiranmu, bapak dipindahkan dari kantor Jawatan Tera cabang Cirebon ke Kantor Pusat Jawatan Tera di Bandung. Keluargamu dipinjamkan sebuah rumah untuk ditinggali. Tepat di samping kantor, di Curieweg. Orang sekarang menyebutnya Jalan Curie. Tinggal belok kiri ke arah selatan, dari Pasteurweg (Jalan Pasteur) yang bergengsi.

Hampir semua tetangga kamu berkulit putih. Kecuali keluarga dokter Singawinata di sudut Jalan Ehrlicht dan Jalan Pasteur. Keluarga dr. Singawinata, seperti terlihat dari namanya, jelas urang sunda. Kulitnya putih juga, tapi putih sunda –tidak sepucat kulit Meneer Van Den Berg.

Rumah Sakit Ranca Badak, tempat kamu dilahirkan, adalah salah satu rumah sakit paling maju di negara koloni ini. Letaknya hanya 5 menit jalan kaki dari rumah. Bahkan sampai abad sekarang, rumah sakit ini masih memiliki gengsi yang lumayan tinggi. Adik kamu pun lahir di rumah sakit yang sama. Kamu dan adik kamu termasuk avantgarde, karena ketika kebanyakan orang masih takut jarum suntik, kamu sudah lahir di rumah sakit modern. Bukan karena kamu anak orang kaya, tapi karena rumah sakitnya dekat dari rumah.

Rumah Sakit Ranca Badak tahun 1920
Rumah Sakit Ranca Badak, tempat kamu dan adik kamu dilahirkan

Berbeda dengan kebanyakan suasana yang digambarkan dalam masa perjuangan kemerdekaan. Suasana saat itu relatif damai, terutama di mata kamu, anak kecil yang belum juga berumur 10 tahun. Punya seorang bapak yang nyerocos fasih berbicara Bahasa Belanda juga biasa saja. Semua pegawai berkulit coklat di kantor bapak, sudah terbiasa berbicara dalam bahasa eropa ini. Tidak terlalu spesial.

Engkoh’ dan Enci’ di Toko Den Haag, dua ratus meter dari rumah, juga bisa berbahasa Belanda. Mereka melayani pelanggannya yang kebanyakan orang kulit putih dalam Bahasa Belanda. Kecuali jika mereka sedang melayani bapak kamu. Bersama bapak, mereka akan ngobrol dalam dalam Basa Sunda. Lalu mereka akan ganti bahasa Tiongkok lagi, kalau sedang ngobrol dengan anak-anaknya. Toko Den Haag adalah toko kelontong paling dekat untuk warga wilayah Pasteur. Sampai abad ke-21 toko itu masih juga dagang barang kelontong. Tapi namanya sudah berubah jadi Toko Cipaganti. Silahkan dilihat sendiri besok.

Sebenarnya ada dua toko kelontong yang juga besar. Lokasinya di perempatan Pamoyanan dengan Pasirkaliki. Namanya toko Chin Lung dan toko Chin. Barangnya lebih banyak tapi lokasinya lebih jauh dari rumah. Sekali-sekali keluarga kamu belanja di situ juga.

Namun tetap, kalau mau belanja baju yang bagus sih harus ke tengah kota, ke toko Chioda di dekat Braga. Pemiliknya orang Jepang. Termasuk salah satu orang kaya di Bandung. Orang-orang dewasa bilang, waktu Jepang menyerah pada sekutu, pemilik toko Chioda termasuk orang yang ditangkap oleh pemerintah kolonial. Karena selain bekerja seorang pedagang, ternyata dia juga adalah mata-mata Kerajaan Jepang. Entahlah. Kamu tidak mengerti politik di umur segitu.

Memang kota kecil yang dandy ini, adalah Kota imigran. Kota ini termasuk kota yang baru didirikan –dan tumbuh melejit super cepat. Maka, berbondong-bondong lah para imigran datang dari pelosok nusantara dan dunia. Mereka membawa bahasa dan budaya masing-masing. Orang Belanda, Jerman, Italia biasanya tinggal di sekitar utara. Orang Arab, China atau India, disediakan wilayah di sebelah Barat. Penduduk pindahan dari dari pelosok nusantara lainnya diberikan wilayah di sebelah selatan. Di daerah dekat stasiun kereta api, banyak orang kulit coklat lain yang bahasanya lebih dar-der-dor –Boso Jowo. Mereka biasanya dagang batik atau dagang makanan di sekitar stasiun kereta dan Pasar Baru.

Kamu dan Bapak kamu beda sendiri. Karena bapak adalah ambtenar (pegawai negeri) Jawatan Tera, maka kamu adalah priboemi yang tinggal di lingkungan Orang Belanda. Memang rasanya agak aneh. Tapi kamu sudah terbiasa. Kirain semua kampung di dunia … ya seperti ini adanya.

Keluarga kamu beragama islam: Bapak Guryajid muslim, kamu muslim, adik kamu juga muslim. Sementara orang-orang kulit putih, tetangga kamu, biasanya beragama khatolik atau protestan. Gereja-gereja mereka ada di tengah kota, dekat kantor walikota.

Orang-orang Tiongkok agamanya beda lagi. Kelenteng mereka ada di sekitar Pecinan, dua  kilometer ke arah selatan dari rumah. Kebanyakan dari mereka tinggal di dekat Pasar Baroe sampai Pasir Kaliki. Kalau pun ada yang tinggal di sekitar rumah, berarti mereka dapat ijin untuk membuka toko kelontong di wilayah utara sini.

Ngomong-ngomong tentang jadi muslim, sebenernya muslimnya kamu masih agak abangan. Sehingga waktu masih kecil, kamu masih jarang sholat. Padahal kalau dipikir-pikir, kalau mau jalan sedikit ke arah utara, ada masjid yang didesain oleh arsitek Belanda, Proffesor Wolff Schoemaker.

Ahh mungkin kamu abangan karena kebanyakan orang lain juga masih abangan -Agama Islamnya masih tercampur dengan kepercayaan dan kebijaksanaan lokal. Makanya kamu masih ingat sekali, ketika ada kejadian migrasi kura-kura dari dekat leuwi sungai, orang-orang dewasa melarang anak-anak kecil untuk mengganggu kura-kura yang keluar dari lubang-lubangnya. Pamali, katanya. Takut tertimpa petaka kalau mereka diganggu.

Mari kita kembali ke kehidupan di Curieweg dan Pasteurweg ….. *bersambung ke tulisan selanjutnya
—————
ditulis berdasarkan obrolan dan cerita-cerita malam hari dengan H.G. Bratakusuma. Putra Pak Guryajid, Her Ijker Jawatan Tera Hindia Belanda, Bandung.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.