Yang Kafir, Yang Insyaf.

Abu Bakar ra. adalah sahabat yang istimewa karena ia tidak pernah menyembah berhala, baik di masa jahiliyah –apalagi setelah islam. Pernah di hadapan sekumpulan sahabat Rasulullah, Abu Bakar berkata, “Tidak pernah sekalipun aku bersujud kepada berhala. Saat aku beranjak remaja, Abu Qahafah membawaku ke sebuah tempat ibadah yang di dalamnya ada beberapa berhala. Ia berkata kepadaku, “Inilah tuhan-tuhanmu yang agung dan mulia.” Kemudian ia pergi meninggalkanku. Aku mendekati salah satu patung itu dan kukatakan padanya, “Aku lapar, berilah aku makanan.” Patung itu diam tidak menjawab. “Aku telanjang, berilah aku pakaian.” Ia pun diam tak menjawab. Maka aku menimpakan sebuah batu kepadanya sehingga kepalanya terjatuh.

Rasanya saya pun belum pernah menyembah berhala. Saya lahir sebagai muslim karena orang tua saya muslim. Ibu dan bapak saya, secara yakin menuliskan tulisan ‘Islam’ di semua kolom agama saya, sejak saya lahir. Saya sepanjang hidup menjalani hidup sebagai seorang muslim dan belum pernah ingin meninggalkan agama ini. Jadi dari sudut pandang islam, saya belum pernah kafir. *mudah-mudahan hal ini benar adanya.

Well, tentu saja mungkin dalam pandangan pemeluk agama lain, saya bisa saja digolongan ‘infidel’, golongan yang tidak terselamatkan, atau mungkin ‘golongan teracuni agama’ –kalau menurut para atheis. Yah … itu semua kan bagaimana pandangan orang lain melihat saya. Cara pandang orang lain terhadap saya –does not necessarily define who I am, betul gak? Santai saja lah.

Eh …tapi saya bukan mau menuliskan tentang diri saya. Saat ini, saya ingin sedikit mengingat-ingat sejarah beberapa Sahabat Nabi. Karena seingat saya tidak semua sahabat begitu cepat dan yakin dalam membenarkan kenabian dan ajaran yang disampaikan Muhammad SAW, seperti Abu Bakar ra.

Sebagian dari mereka tinggal jauh dari Mekkah. Berita kedatangan Muhammad SAW membutuhkan waktu untuk mencapai telinga mereka –apalagi hati mereka. Sebaliknya ada juga beberapa sahabat yang tinggal sangat dekat dengan Nabi, tapi butuh waktu tahunan bagi mereka untuk dapat menerima agama yang disampaikan tetangga dan saudaranya ini. Sebagian sahabat, sempat hidup memerangi, bahkan berniat membunuh Nabi, sebelum mereka hidup jaya sebagai muslim sampai akhir hayatnya. Mereka sempat berdiri kukuh di sisi kaum kafir Quraisy, membela musuh-musuh Muslimin.

Seingat saya begitu.

Contoh, Sahabat Salman Al-Farisi ra., tidak lahir sebagai bayi muslim. Namanya yang Al-Farisi menunjukkan dia berasal dari Farisi (Persia), yang pada saat itu sebagian besar beragama Majusi, menyembah api. Bukan saja beragama Majusi, ayahnya adalah tetua Majusi, yang membuat dirinya menjadi petugas penjaga api peribadatan kaum Majusi.

Kehidupan Salman berubah ketika suatu hari dia memperhatikan para pendeta yang sembahyang di gereja Nasrani. “Ah, ini lebih baik daripada agama Majusi yang kuanut selama ini”, katanya dalam hati. Lalu dia utarakan pendapatnya ini pada sang ayah.

Hasilnya? Ayahnya memenjarkan dia. Singkat cerita, dia memilih melarikan diri bersama pendeta-pendeta Nasrani. Belajar agama dari satu pendeta ke pendeta lain, sampai suatu hari seorang uskup menyarankan dia untuk mencari Nabi pembawa risalah Ibrahim a.s. yang akan datang ke kota yang ditumbuhi kurma dan terletak di antara dua bebatuan hitam. Perjalanan dirinya dalam mencari islam membutuhkan waktu tahunan dan jarak ribuan kilometer. Sebagian waktu pencariannya, dia jalani sebagai seorang budak.

Tapi rupanya ada alasan Allah SWT mentakdirkan seorang Majusi Persia, harus menjalani perjalanan panjang dan melelahkan menuju agama Allah. Di ujung dunia lain, di negeri antara dua batu hitam, seorang Nabi membutuhkan pertolongannya, membutuhkan kepandaiannya dalam menghadapi serangan kafir Quraisy di bawah pimpinan Abu Sufyan, yang terekam dalam sejarah sebagai Perang Khandaq.

Siapa sangka tokoh kunci kemenangan kaum muslimin saat itu ada di tangan seorang mantan kafir Majusi. Sebagai manusia pandai yang tumbuh di kerajaan besar Persia, dia memiliki latar belakang kepandaian, teknologi dan strategi yang lebih baik daripada umumnya orang Arab di saat itu. Parit pertahanan (Persia) rancangannya akhirnya menghapus impian Abu Sufyan menghilangkan agama Islam dari permukaan bumi.

Si Kafir Majusi mana bisa jadi tokoh kunci?
———-

*sejarah lebih lengkap mengenai Salman Al-Farisi bisa dibaca di sini

Lain lagi cerita kehidupan Abu Sufyan bin Harb, yang menjadi pemimpin pasukan kafir Quraisy –lawan Salman al-Farisi dan umat Islam dalam perang Khandaq.

By the way, Abu Sufyan bin Harb berbeda dengan Abu Sufyan bin Harits, ya. Walau keduanya masih bersaudara dengan Nabi Muhammad SAW, dan keduanya memusuhi Nabi –tapi jangan sampai tertukar, ini benar-benar orang yang berbeda.

Abu Sufyan bin Harits bersaudara lebih dekat, dengan Nabi. Dia sepupu langsung dari paman Nabi, Harits bin Abdul Muthalib. Dia bahkan saudara sepenyusuan Nabi, karena dia juga sempat disusui oleh Halimah binti Abi Dhuayb.

Sementara Abu Sufyan bin Harb, adalah saudara satu bao (bapaknya buyut) dengan Nabi. Garis turunan mereka bertemu di Abdi Manaf bin Qusay. Abu Sufyan bin Harb adalah petinggi kafir Quraisy, suami dari Hindun binti Utbah –perempuan yang memakan jantung Hamzah bin Abdul Muthalib, paman dan sahabat Nabi yang gugur di perang Uhud.

Abu Sufyan adalah musuh paling gigih dan bisa dibilang paling banyak akal dalam memerangi Nabi. Dia pernah menawarkan pada paman Nabi, Abu Thalib, agar mau menukar Muhammad dengan seorang pemuda Quraisy lain. Mereka bermaksud menyembelih Muhammad dengan ‘menyogok’ Abu Thalib dengan pemuda lain lain yang lebih ‘baik’.

Abu Sufyan bin Harb adalah otak dibalik blokade ekonomi dan sosial yang dilakukan kaum Quraisy terhadap Bani Hasyim, klan Nabi Muhammad SAW. Ide Abu Sufyan ini hampir saja berhasil mematahkan perjuangan muslimin saat itu.

Abu Sufyan juga adalah pemimpin kafilah pedagang yang menyulut perang Badar. Lalu setahun kemudian, Abu Sufyan pula yang memimpin pasukan Quraisy dalam perang Uhud. Masih kurang? Selama memerangi Nabi Muhammad SAW, sebenarnya dia juga berstatus mertua Nabi Muhammad. Karena salah satu anaknya, Ummu Habibah, adalah istri Nabi. Baik banget, kan?

Tepat sebelum penaklukan Mekkah oleh kaum Muslimin, Abu Sufyan mengucapkan syahadat. Nabi menolak permintaan Umar bin Khattab, dan memutuskan untuk tidak membunuh Abu Sufyan. Nabi memutuskan untuk memaafkan Abu Sufyan. Sejak itu Abu Sufyan berpihak dan berperang bersama kaum muslimin. Sebelum meninggal dalam usia 88 tahun, ia kehilangan salah satu matanya dalam pengepungan Tha’if dan kehilangan mata yang lainnya dalam perang Yarmuk. Abu Sufyan bin Harb meninggal tanpa mata –tapi memegang imannya.

Muawiyah, putra Abu Sufyan, di kemudian hari mendirikan dinasti muslim pertama yang memerintah dunia islam selama satu abad (661-750 M). Dia adalah orang yang memimpin pasukan islam untuk membebaskan daerah Caesarea (dekat Tel Aviv sekarang), membuka pesisir Syam, menahan serangan Bizantium dan Persia dan pemimpin muslim pertama yang membuat angkatan laut muslimin.

Si Penjahat Perang, mana bisa jadi Pahlawan?
———-

Tapi setidaknya Salman Al-Farisi dan Abu Sufyan bin Harb adalah orang-orang yang lahir dari keluarga yang bener. Tidak seperti sahabat yang ini nih. Pernah dengar kisah Abu Dzar Al-Ghifari?

Mirip dengan Abu Bakar ra. sahabat ini memiliki keyakinan yang kuat mengenai kenabian dan kebenaran Islam dengan hampir seketika. Ia adalah orang ke-lima yang menyatakan keislaman dan kesetiaannya pada Nabi Muhammad SAW, di saat Nabi masih melakukan dakwah secara diam-diam.

Diceritakan oleh Khalid Muhammad Khalid dalam Rijal Haula Al Rasul:

Hari itu Abu Dzar letih luar biasa. Untuk mencapai Makkah dia harus melalui bentangan gurun pasir yang panas dan kering. Tapi hatinya bahagia, ia tidak sabar untuk mencari orang yang bernama Muhammad, dan memintanya untuk mendendangkan syair hasil gubahannya. Tapi Sang Nabi menjawab, “Ini bukan syair yang aku dendangkan untukmu. Ini adalah Al-Quran yang mulia.” “JIka demikian, bacakanlah untukku,” mohon Abu Dzar. Rasulullah membacakan Al-Quran, yang didengarkannya dengan khusyuk. Tidak lama, Abu Dzar mengucapkan kalimat Syahadat.

Nabi kemudian bertanya, “Dari mana asalmu, wahai saudaraku?” “Dari Ghifar,” dijawab Abu Dzar. Bibir Rasulullah SAW tersenyum lebar, sementara wajahnya diselimuti rasa takjub dan heran.

Abu Dzar pun tertawa melihat hal ini. Ia tahu, mengapa Rasulullah SAW merasa heran saat beliau tahu orang yang baru saja memeluk islam di depannya ini adalah seorang laki-laki dari Ghifar. Mengapa? Sebab Ghifar adalah sebuah kabilah yang tiada duanya dalam urusan begal-membegal. Penduduknya sering dijadikan perumpamaan dalam penyergapan-penyergapan ilegal. Mereka adalah raja kegelapan di malam hari. Celakalah orang yang diserahkan malam kepada Bani Ghifar.

Lalu tiba-tiba hari ini –saat Islam masih menjadi agama yang baru bersemi dan sembunyi-sembunyi –salah seorang dari mereka memeluk Islam. Abu Dazr kemudian mengisahkan keislamannya: “Kemudian, Muhammad SAW menangkat wajahku dan menatapnya penuh selidik dan takjub, setelah tahu aku dari Ghifar. Lalu beliau berkata, “Sesungguhnya Allah SWT akan memberikan hidayah kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya.”

“Wahai Rasullulah, apa yang akan kau perintahkan kepadaku?” tanya Abu Dzar. Rasulullah SAW menjawab “Kembalilah kepada kaummu sampai ada berita dariku.” Abu Dzar berkata, “Tidak. Aku tidak akan pergi sebelum aku meneriakkan Islam di masjid.”

Yang dilakukan selanjutnya oleh Abu Dzar adalah masuk ke Masjidil Haram, lalu berteriak sekuat tenaga, “Asyhadu alla ilaha illallah, wa asyhadu anna muhammadan rasulullah.” Teriakan yang menentang kesombongan kaum Quraisy, yang diteriakkan seorang asing yang tidak memiliki keturunan, nasab, dan perlindungan di Kota Mekkah –pasti hanya akan berbuah satu hal: near death experience 🙂 Kaum musyrikin mengepungnya, memukulinya sampai dia jatuh terkapar.

Hari itu bisa jadi hari terakhir Abu Dzar melihat dunia, jika Abbas, paman Nabi Muhammad SAW, tidak menyampaikan sesuatu yang sangat cerdas untuk melerai mereka. Ia berkata pada kaum musyrikin, “Wahai kalian kaum Quraisy, kalian adalah pedagang, dan jalur perdagangan kalian pasti melewati perkampungan Bani Ghifar, dan orang ini salah satu penduduknya. Jika kalian membangkitkan kemarahan mereka niscaya mereka akan mencegat kafilah dagang kalian di perjalanan.”

Gertakan Abbas berhasil mengurungkan niat kaum musyrikin untuk menghabisi Abu Dzar di siang itu.

Esok harinya Abu Dzar nyaris kembali kehilangan nyawanya ketika dia memarahi dua orang perempuan yang bertawaf mengelilingi berhala Usaf dan Nailah. Dua wanita tadi berteriak-teriak histeris dan para lelaki Quraisy segera memukuli Abu Dzar sampai pingsan. Ketika ia sadar, lagi-lagi ia berseru, “Asyhadu alla ilaha illallah, wa asyhadu anna muhammadan rasulullah.” Nabi segera mengetahui karakter murid barunya yang datang dari luar ini. Ia memiliki kemampuan yang luar biasa dalam menghadapi kebathilan. Beliau pun mengulangi perintahnya agar ia kembali pada kaumnya sampai ia mendengar munculnya agama baru. Akhirnya Abu Dzar memutuskan untuk mengikuti nasihat Nabi dan pulang ke Ghifar.

Hari-hari pun berlalu seiring dengan beredarnya zaman. Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Beliau dan kaum muslimin  kemudian menetap di sana. Pada suatu hari, tepian Madinah kedatangan satu barisan panjang yang terdiri atas pejalan kaki, pengendara unta, kuda dan keledai. Iring-iringan ini menimbulkan kepulan debu di belakang mereka. Seandainya bukan dengung suara takbir mereka yang terdengar bergemuruh, tentulah yang melihat akan mengira mereka itu pasukan tentara musyrik yang hendak menyerang.

Kafilah besar ini kian mendekat dan memasuki Kota Madinah, mengarahkan pandangaannya ke masjid Rasul dan tempat tinggalnya. Kafilah besar ini tidak lain adalah kabilah Ghifar dan Aslam. Mereka dibawa oleh Abu Dzar dalam keadaan muslim; laki-laki, perempuan, orang tua, muda-mudi dan anak-anak.

Mereka telah menganut Islam beberapa tahun sejak Allah SWT memberikan hidayah melalui tangan Abu Dzar. Ikut pula bersama mereka Bani Aslam yang juga telah muslim.

Penyamun kawakan dan pendukung setan itu kini berubah menjadi raksasa kebajikan dan pendukung kebenaran.

Bangsa preman, mana bisa insyaf?

Tampaknya iman manusia; siapapun itu, relatif terhadap waktu. Bagian dari masa lalu, masa kini dan masa depan. Dan yang namanya waktu –adalah makhluk Allah SWT, yang hanya akan tunduk kepada-Nya.

Diri saya bisa saja bukan seorang kafir, –untuk saat ini. Dirinya bisa jadi seorang kafir, untuk —saat ini. Berdo’alah agar dirimu dijaga selalu di agama yang lurus. Berdo’alah agar orang lain pun, sejauh apapun dari agama ini, akan ditunjukkan agama yang lurus.

Seperti yang diucapkan Rasulullah Muhammad SAW kepada Abu Dzar, “Sesungguhnya Allah SWT akan memberikan hidayah kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya.”  

—————

Jadi, Ben. 
Beranikah kamu menghardik kafir kepada Salman, Abu Sufyan atau Abu Dzar –bahkan ketika mereka masih kafir?
Enggak, ah. I guess, iman is never for me to judge. I don’t have the right to judge Allah SWT.

Iklan

One Comment Add yours

  1. Bayu Amus berkata:

    Luar biasa mencerahkan. Nuhun ah.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.