Saudara Se-bangsa tidak Se-mata

Belum pernah saya ketemu dokter sebaik dia.

Kejadiannya sekitar tiga tahun yang lalu. Awalnya Samsam, anak pertama saya, yang menjadi patient one, penderita radang mata yang disebabkan sejenis virus yang agak galak.

Dari hari pertama konsultasi dengan dokter, dia sudah wanti-wanti. “Virus ini sangat menular. Semua orang di rumah tidak ada yang boleh ngucek-ngucek mata, ya. Jangan lupa sering-sering cuci tangan.”

Dia juga bilang bahwa penyakit virus jenis ini akan sembuh sendiri. Katanya, “Umumnya SEBULAN akan sembuh, kok”. *sambil senyum

Tapi yang namanya keluarga muda beranak tiga; berumur 10 tahun, 5 tahun dan bayi 10 bulan –mana bisa enggak ngucek-ngucek mata? Dalam hitungan beberapa minggu, kelima anggota keluarga kami semuanya terkena radang yang merusak kornea mata.

Virus ini memang asli bandel, mereka menyebabkan kornea mata kami ‘lecek’ sehingga membuat mata pedih, gatal, silau dan buram. Setiap kali dokter mendapati kondisi kornea kami lecek/sobek, maka dia dengan telaten dan sabar akan ‘menguliti’ kornea tersebut untuk memberikan ruang agar kornea baru dapat tumbuh dengan mulus.

Fanny, Samsam dan Sakti harus menjalani ‘operasi kecil’ ini beberapa kali. Saya salut pada dokternya. Dia melakukan semua tindakan ini dengan penuh kesabaran dan ketelitian tingkat tinggi. Sepanjang tindakan dia harus sambil menenangkan pasiennya dengan berbagai cara. Maklum tidak ada orang yang akan tahan matanya dikorek-korek sepanjang 10 menit.

Saya ingat pak dokter pernah juga menenangkan saya, “Tuhan itu adil, Pak Ben. Biasanya anak yang masih bayi jarang matanya harus dikorek. Entah kenapa, ya? Tapi ya begitulah adanya. Arix sepertinya tidak akan perlu dikorek-korek seperti kakak-kakaknya.” Dan memang ternyata memang Arix tidak sekalipun harus dikorek matanya.

Begitu juga saya. Walau pun saya juga akhirnya tertular, tapi Allah SWT memberi saya kekuatan extra untuk mengurus keluarga, dengan (entah bagaimana caranya) menjadikan saya bisa sembuh hanya dalam seminggu  –bukan sebulan. Alhamdulillah.

Dokter berumur 40 tahunan ini memang kalem. Padahal saya bisa merasakan juga bahwa dia sebenarnya agak khawatir, terutama pada si bayi Arix. Saya sudah terbiasa di-whatsapp oleh dokter yang menanyakan apa kabar Bu Fanny, Samsam dan Sakti. “Matanya masih pedih tidak? Besok kontrol lagi ya.”

Suatu pagi di hari minggu, dia bahkan sengaja me-WA saya,”Pak Ben, tolong foto matanya Arix dong. Saya hari ini tidak praktek tapi ingin lihat matanya Arix. Dari beberapa sisi ya. Biar kelihatan apakah kornea-nya mulus”. Saya yang gak terlalu terbiasa diperlakukan penuh sayang oleh dokter, jadi mikir, “Ini dokter apa bapak angkat sih? Perhatian amet.”

Alhamdulillah dalam satu setengah bulan, semua anggota keluarga kami kembali sembuh seperti sediakala.

Kami sempat menghadiahi pak dokter dan istrinya kaos terbaik buatan saya. Soalnya kata dia, istrinya senang sekali pakai t-shirt. Saat itu, kami merasa perlu membayar jasa baik pak dokter yang sudah kayak saudara kami di Rumah Sakit Santosa selama satu setengah bulan terakhir, dalam bentuk yang tidak hanya uang. Something more personal.

Ehhhh …. berapa waktu yang lalu saya gak sengaja ketemu lagi sama orang baik lain.

Yang ini umurnya sudah 71 tahun. Badannya terlihat sehat untuk orang berkepala tujuh, dan dari tongkrongan mobilnya terlihat dia orang sangat berada.

Menariknya, dia bilang bahwa kunci agar sehat itu adalah tidak perlu banyak pikiran ketika tua. “Kita kan sudah banyak bekerja ketika muda. Capek sekali jaman dulu itu. Jaman seumuran Pak Ben.
Sekarang sih lepaskan segala pikiran bisnis dan keuangan. Berikan kesempatan pada yang muda-muda. Banyak-banyak berbuat baik sajalah di umur segini sih”, ujar si bapak berapi-api.

Dia kemudian curhat. Dia kesal karena ada anak-anaknya yang meninggal di desa.

“Empat anak saya meninggal. Salah satunya gara-gara bapaknya menjual ginjal anaknya seharga lima juta demi biaya hidup. Haduuuh… Kemarin saya sudah nasehati semua orang di sana, kalau ada masalah keuangan jangan sampai menjual organ tubuh seperti itu. Ngobrol saja sama saya. Nanti sama-sama kita cari jalan keluarnya”, katanya.

“Oh, jadi yang meninggal bukan anak bapak beneran?” tanya saya.
“Ooo… bukan. Mereka anak-anak angkat saya di desa. Saya punya madrasah di desa. Muridnya 400 orang. Biaya sekolah dan makannya gratis. Saya yang bayarin. Kebetulan saya punya rejekinya.”
“Madrasah ini maksudnya sekolah islam, Pak Ali?” korek saya.
“Iya. Di desa kan banyak ustadz yang mampu mengajar. Saya sih cuman bantu biayain”
“Punten, Pak Ali. Kalau Pak Ali ini muslim?” tanya saya penasaran. Soalnya dia sipit.
“Bukan sih. Tapi boleh kan ya saya buat madrasah? Soalnya memang kata warga di sana, kebutuhan mereka adalah sekolah Islam, pak Ben”  …

Saya mikiiiir panjaaaang ….

Tidak ada orang yang minta lahir sebagai keturunan Cina di negeri Indonesia. Seperti juga tidak ada yang minta lahir sebagai keturunan Arab di negaranya Donald Trump. Jiwa seorang Dokter Abraham akan sama baiknya kalaupun dia lahir di dalam balutan kulit sawo matang seperti saya. Begitu juga mungkin dengan jiwa pak Ali.

“Cina kok baik begini?”, sempat terlintas di pikiran saya. Sebenarnya itu pikiran sombong yang harus saya buang dari kepala. Kemampuan indera mata saya membedakan warna kulit dan bentuk mata ternyata bisa membuat saya terjebak pada sebuah pikiran merendahkan makhluk Allah SWT yang lain. Kadang karunia Allah SWT itu bisa jadi barokah -bisa jadi ujian.

Yes, memang ada sebagian saudara-saudara suku Cina, yang kalau lagi dagang suka kebablasan. Saya pun pernah ngegedor rumah sebelah dan memarahi tetangga saya, yang kebetulan Cina –gara-gara dia bongkar muat galon air mineral dagangannya sampai lupa waktu. Sampai jam dua malam tiap hari. Bayangkan! Nyari uang kok gitu-gitu amet. Tapi ya ..kalau pun perlu, digedor aja! Ingatkan dia. Kasih tahu etika yang bener itu seperti apa. Jangan dimusuhin.

Lagian di tahun lalu dan tahun ini, saya baru saja saya ditipu sama tiga orang. Warna kulit mereka? Ya sama aja sama kulit saya. Mata mereka? Lebih belo daripada mata saya.

Kadang saya suka lupa:
Datangnya hidayah, belum pernah dan tidak akan pernah, pilih-pilih luasan mata.
Godaan Syetan, belum pernah dan tidak akan pernah, pilih-pilih warna kulit.

Wallahu’alam bissawab.

Iklan

One Comment Add yours

  1. Di.Karani berkata:

    Like this, Kang Ben. Semoga kita (baca: saya) diberi “kelebihan” untuk dapat melihat orang lain lebih dalam dari cangkang atau baju kelahirannya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s