Surat Bagi (Yang Bukan) Pedagang

Sejak dulu salah satu tujuan saya masuk ke bisnis ritel, bukan ke jalur proyek, adalah menjauhi godaan. Spesifiknya godaan orang minta sogokan.

Di bisnis ritel kan, kalau konsumen gak suka barang kita, maka akan kita persilahkan ke toko sebelah. Gak ada tuh konsumen yang minta disogok kickback 30% agar tidak beli di toko sebelah.

Di dunia ritel kita punya mekanisme sendiri, namanya diskon. Tapi itu adalah bagian integral dari strategi harga dan supply. Kalau barang laku atau belinya cuman sedikit, mau jungkir balik pun, mungkin konsumen gak akan kita kasih diskon.

Tapi ternyata godaan mah ada di mana-mana. Sudah beberapa kali, ada saja yang datang dari instansi pemerintah menggoda. Awalnya datang mau beli produk kami dengan kuantitas banyak. Lalu menanyakan apakah ada diskon untuk pembelian grosir.

Well, tentu saja ada. Semua agen kita juga punya diskon harga grosir. Semua ada perhitungannya. Transparan dan terbukukan.

Namun, walau gak semua sih, ada aja yang kemudian jadi utusan syaiton. Adik-adik saya di bagian sales mereka bisiki, “Mas, kuitansi nya dibedakan angkanya, ya” atau “Mbak, diskonnya tolong ditransfer ke rekening saya, ya.”

Alhamdulillah, adik-adik saya di bagian sales masih pada lurus. Mereka biasanya datang ke saya dan bertanya, “Om, kalau orangnya minta kuitansi beda gimana?”, “Om, ada pembelian banyak, tapi orangnya minta transfer diskon ke rekening dia. Gimana, Om?”

Jawaban saya mah simple, “Tolak, bro.”

Saya kasih tau ‘ni ya pada para manusia khilaf yang suka menggoda. Yes, kami punya diskon. Itu bagian dari sistem bisnis. Tapi kami hanya berikan kepada para pedagang dan para pembeli.

Kepada pembeli: maksudnya adalah jika pembeli itu adalah instansi negara, maka kembalikan uang tersebut ke negara. Biar jadi modal pembangunan jalan baru di negara ini atau jadi modal membangun MRT di kota ini.

Kepada pedagang: karena para pedagang mah gak punya gaji. Makan anak-istrinya didapat dari margin keuntungan yang dia bisa dapatkan. Adalah kewajiban kita untuk berbagi untung dengan sesama pedagang. Sama-sama membantu ngasih makan anak-istri.

Kalian mah abdi negara. Sudah digaji dengan segala jaminannya oleh negara ini. Harta yang halal bagi anda dan keluarga adalah yang didapat dari mengabdi pada negara ini. Berhentilah untuk bersikap seperti pedagang ketika sedang jadi abdi negara. Gak akan barokah, bro. Tidak untuk kamu dan tidak juga untuk kami.

Kita kan satu bangsa. Kita sudah sepakat untuk menjalankan fungsi di posisi masing-masing. Saya jadi pedagang, kamu jadi abdi negara, lalu ada lagi yang lain yang jadi dokter, tentara, penyanyi, ustadz dan lain sebagainya.

Biarkan kami tenang berdagang dan menghidupkan ekonomi negara ini. Bahasa kerennya: “ini jihad kami, bro.” Biar kami yang tanggung resiko berat dan pahala besarnya.

Kamu mah gak usah. Kan udah dapat gaji dan pensiun. Yang fair wéh atuh.

Tahu kunci menghancurkan bangsa ini?

Gampang, jadikan saja semua orang yang bukan pedagang di negara ini, berpikir seperti pedagang.

Guru, dokter, tentara, ustadz, anggota DPR dan abdi negara –kita suruh cari untung. Tenggelam sudah nusantara ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.