Seberapa yakin kita pada niat kita sendiri, Netijen?

Dari semua yang ibu ajarkan ke saya, salah satu pelajaran paling awal yang beliau berikan adalah sebuah kalimat pendek, “Benben tidak boleh berbohong, ya”.

Walaupun tampak sederhana, tidak berbohong adalah amalan pasif yang sulit sekali untuk dilakukan. Masih segar dalam ingatan, bagaimana saya yang masih kecil, ngumpet-ngumpet pulang ke rumah, lari masuk ke kamar mandi, langsung mandi karena tidak mau ketahuan oleh ibu bahwa saya baru saja berkelahi dengan anak tetangga.

Sebenarnya saya yang menang sih, tapi hati tetap berbisik, “Jangan sampai ketahuan Mamah, Ben”. Saat yang sama ada suara kecil yang mengingatkan bahwa menang pun bukan suatu yang perlu dibanggakan, ketika jelas-jelas, untuk menang –saya harus melanggar nasihat ibu yang lain, “Jangan suka berkelahi dengan teman, Ben”.

Saat itu, akhirnya saya pun ‘terpaksa’ berbohong. Mandi, membersihkan badan, seakan-akan perkelahian itu tidak pernah ada.

—–

Sekarang saya sudah memiliki 3 anak, salah satunya sudah remaja. Semuanya pernah coba-coba berbohong kepada ibu-bapaknya, walaupun memang berbohong ala anak-anak. Menarik untuk diperhatikan, seorang anak kecil yang mencoba berbohong –pasti mudah kelihatan oleh orang tuanya. Benar, kan?

Seakan-akan kita bisa melihat little angel and little satan yang sedang berkelahi di atas kepalanya. Seperti di film-film kartun Donald Duck.

Lalu kenapa lebih sulit mengetahui kapan orang dewasa berbohong?

Jawabannya mungkin intense training over time. Untuk itu, jangan berbangga hati –bagi kita yang sudah pandai berbohong– mungkin kita sudah cukup sering latihan berbohong sepanjang hidup ini. Padahal berbohong itu, sekali saja sudah dosa. Berarti –setiap setiap sesi training-nya adalah dosa dan dosa.

Lalu bagaimana dengan berbohong ramai-ramai seperti penyebaran hoax di sosial media? Menurut saya sih itu dosa berjamaah. Siapa yang paling berdosa? Ya … imam-nya lah. Makmum-nya bagaimana? Ya … ikut berdosa massal secara rame-rame. Karena di agama kita, tidak ada dosa yang dibebankan kepada orang lain. Semua dosa ditanggung oleh diri sendiri. Yang berbeda hanya kadarnya. Menjadi pemimpin, bagaimana pun juga, adalah ladang amal atau ladang dosa yang lebih efektif.

Bagaimana cara meminta maaf jika kita terlanjur menyebarkan hoax? Kalau tanya ke saya, jawabannya sepertinya antara susah dan tidak ada. Hoax itu korbannya manusia -dalam jumlah jangkauan sosial media: banyak! Algoritmanya mengatur agar tersebar acak. Sehingga tidak mungkin kita mengirim sebuah post exactly ke orang yang sama. Intinya kita tidak pernah tahu ‘hati’ siapa yang sudah kita lukai. Jadi mustahil meminta maaf jika kita tidak tahu hati siapa yang kita langgar.

Sedikit gambaran, dalam sebuah posting hoax, jangan bayangkan bahwa HANYA orang yang berkomentar kontra lah yang tersinggung hatinya. Dalam masyarakat seperti di Indonesia, kebanyakan orang yang tersinggung memutuskan berdiam diri, menahan sakit hatinya …. dan menagih di akhirat. Ingat-ingat itu.

—–

Adapun mengenai pendapat yang mengatakan bahwa berbohong (atau paling tidak menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya) di sosial media dapat dibenarkan –dalam niat untuk memperjuangkan agama. Saya tetap tidak berani mengikutinya.

Karena saya seorang muslim yang percaya sekali sebuah hadist yang berbunyi “Innamal A’malu Binniyat“. Sebuah hadist shohih Bukhari, Muslim dan empat Imam Ahli Hadist, yang artinya “Sesungguhnya amal itu tergantung niat”.

Niat, tempatnya di hati -bukan di lisan. Sehingga tidak ada yang bisa menghakimi niat seseorang kecuali Allah SWT. Bahkan seorang manusia pun ada kalanya meragukan niatnya sendiri.

Meragukan niat sendiri? Yes.
Meragukan hati sendiri, dong? Iya!
Cemen banget atuh. Enggak juga! …. Itu manusiawi banget.

Pernah mendengar fragmen kisah Ali bin Abu Thalib ketika perang Khandaq?

Mengawali Perang Khandaq, seorang kafir Quraisy yang sangat ditakuti -Amr bin Abd Wad al-Amiri, maju ke medan duel menantang kaum Muslimin. Dari pihak Muslimin, maju seorang anak muda yang tak lain adalah Ali bin Abu Thalib ra.

Sebenarnya duel ini adalah duel yang berat sebelah. Amr bin Wad adalah petarung veteran dengan jam perang yang jauh lebih tinggi daripada Ali. Namun takdir berbicara lain hari itu. Setelah sebuah permainan pedang yang menegangkan, anak muda itu akhirnya berhasil menjatuhkan Amr dengan sebuah sabetan pedang ke kakinya. Dalam keadaan terluka dan tidak mampu melindungi dirinya lagi, Amr bin Wad meludahi wajah Ali bin Abu Thalib yang sedang mendekat untuk menghabisinya.

Kaget dengan prilaku tidak ksatria yang dilakukan oleh Amr. Ali menyeka wajahnya, tapi alih-alih menyelesaikan duel itu –Ali memutuskan mundur. Pedangnya urung ditebaskan pada lawannya. Dia berbalik meninggalkan medan duel dan kembali kepada barisan kaum muslimin.

Beberapa sahabat kebingungan dengan tindakan Ali dan bertanya, “Kenapa tidak kamu tebaskan pedangmu pada Amr?
Aku diludahi“, jawab Ali.
Ya? Lalu kenapa tidak kamu selesaikan saja duelmu?” tanya para sahabat yang agak kebingungan.
Aku diludahi. Sehingga aku benci dan marah padanya. Aku akan menunggu sampai amarahku ini lenyap. Aku hanya akan membunuh musuh –semata-mata karena Allah Ta’ala“, katanya sambil mundur untuk menenangkan hati.

Dengan satu tebasan, sebenarnya Ali bisa menyelesaikan duel itu. Toh situasi saat itu adalah sebuah perang. Sebuah duel. Amr sejak awal menantangnya. Menyerangnya. Mau menghabisi nyawa Ali. Tapi ternyata Amr kalah. Jatuh tersungkur. Akhir nyawanya sudah hak untuk dihabisi di tangan Ali –menurut hukum perang.

Tapi Ali memutuskan mundur. Karena Ali bin Abu Thalib sangat percaya kesia-siaan yang akan dia dapat jika dia membunuh Amr karena emosinya –bukan karena Allah Ta’ala. Akankah menjadi amal ma’ruf atau pembunuhan karena benci semata? Sayidina Ali tidak yakin dengan niatnya. Dia memilih untuk mundur. Menenangkan diri. Membersihkan niatnya lagi.

—–

Bercermin pada sahabat Ali bin Abu Thalib, saya jadi sering mempertanyakan diri sendiri. Ketika saya hendak menuliskan kritik (apalagi serangan pada seseorang) di sosial media –apa niat saya? Karena pembeda antara kesia-siaan dan amal yang saya harapkan, bisa jadi, —hati saya pun tidak bisa membedakannya.

Wallahu’alam bishawab.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.